KAJIAN SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, October 3, 2017

KAJIAN SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAKYAT

Oleh :
Aris Sudomo
(Makalah ini telah di terbitkan di Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan, Ciamis)


ABSTRAK
Kontribusi hutan rakyat dalam pembangunan kehutanan tidak bisa dikesampingkan terlepas dari permasalahan produktivitasnya yang masih rendah sehingga belum bisa secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keterbatasan pengetahuan petani dalam Sistem dan teknik silvikultur hutan rakyat menyebabkan pengelolaan hutan rakyat belum terencana dan dilaksanakan secara profesional. Sistem silvikultur hutan rakyat yang merupakan Satandard Operational Procedure (SOP) dari awal penanaman sampai pemanenan diperlukan agar produktivitas hutan rakyat dapat optimal. Satandard Operational Procedure yang diberikan hendaknya murah dan mudah diaplikasikan oleh petani hutan rakyat tetapi tetap dapat meningkatkan produktifitas hutan rakyat secara signifikan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Permudaan Campuran (TPPC) merupakan alternatif yang dapat diaplikasikan dalam kondisi hutan rakyat campuran yang spesifik pada setiap daerah. Penebangan hendaknya merupakan bagian dari Sistem silvikultur yang memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan teknik permudaaan. Permudaan campuran merupakan metode memanfaatkan anakan alam dengan pendistribusian secara merata diperkaya dengan permudaan buatan dengan benih unggul yang diikuti dengan pemeliharaan terhadap permudaan alam dan buatan tersebut.

Kata kunci : Hutan rakyat, Sistem silvikultur, Tebang Pilih Permudaan Campuran.

I. PENDAHULUAN
Pembangunan hutan rakyat dan rehabilitasi lahan terdegradasi  mempunyai beberapa aspek tujuan yaitu aspek peningkatan ekonomi, ekologi dan sosial. Aspek ekonomi diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sedangkan aspek ekologi diharapkan dengan terbangunnya hutan rakyat dapat meningkatkan kelestarian lingkungan. Ketertarikan masyarakat terhadap usaha hutan rakyat yang dapat memberi keuntungan ekonomi dan ekologi tersebut di harapkan dapat menimbulkan tindakan sosial untuk membangun hutan rakyat.
Keberadaan hutan rakyat pada lahan terdegradasi selama ini kebanyakan dibiarkan saja tanpa pengelolaan intensif atau kaidah-kaidah silvikultur sehingga produktivitasnya masih rendah. Dengan tanpa penerapan kaidah-kaidah silvikultur mengakibatkan kualitas kayu yang dihasilkan lebih rendah bila dibandingkan kayu dari perum perhutani atau hutan tanaman Indonesia. Hal ini berujung pada nilai jual kayu lebih rendah dibandingkan kayu dari hutan tanaman perhutani. Kurangnya penguasaan teknologi oleh petani menjadikan salah satu sebab Sistem pengelolaan hutan rakyat lestari dengan produk berkualitas belum berjalan dengan baik.
Sistem dan teknik silvikultur yang mencakup cara-cara permudaan, pemeliharaan dan pemanenan sangat diperlukan untuk mewujudkan hutan rakyat lestari. Sistem silvikultur yang banyak diaplikasikan di hutan alam, perhutani dan HTI dapat diadopsi dengan melakukan beberapa modifikasi menyesuaikan dengan struktur dan komposisi hutan rakyat yang spesifik. Pola tanam hutan rakyat campuran hampir sama dengan hutan alam tetapi mempunyai beberapa perbedaan dalam hal  kerapatan tegakan, jumlah anakan alamnya, luasan, struktur dan komposisi tegakan dan pola tanam tumpangsari. Begitu pula dengan pola tanam hutan rakyat murni mirip dengan HTI tetapi mempunyai perbedaan dalam hal pola tumpangsari dengan tanaman semusim dan kerapatan tegakan.
Teknologi alternatif ini tentunya menyesuaikan dengan kondisi hutan rakyat dan kearifan lokal masing-masing daerah dan merupakan usaha perbaikan dari teknologi yang telah ada dengan cara mengkombinasikannya. Sistem silvikultur dirancang sejak awal pembangunan sampai pemanenan sehingga merupakan suatu satandard operational procedure untuk mewujudkan produksi hutan rakyat yang berkelanjutan. Untuk menjamin kelestarian hutan, harus ditentukan Sistem silvikultur yang mengatur cara menebang dan permudaan yang tepat untuk setiap areal berdasarkan pertimbangan ekonomis dan ekologis yang seimbang.
Pemanenan hasil hutan rakyat berupa kayu selama ini dilakukan berdasarkan tebang butuh yang merupakan kegiatan berdasarkan kebutuhan ekonomi pada suatu waktu dan belum merupakan kegiatan atas pertimbangan keseluruhan Sistem silvikultur hutan rakyat. Perencanaan serta pelaksanaan pemanenan kayu belum dipergunakan dengan baik dan benar mengakibatkan belum terintegasinya antara kegiatan pemanenan kayu dengan Sistem silvikutur secara keseluruhan. Pengelolaan hutan rakyat belum dilakukan secara professional dengan belum diaplikasikannya kaidah-kaidah silvikultur secara baik dan benar sehingga Sistem silvikultur pada hutan rakyat belum menghasilkan produktivitas yang optimal.  Menurut Mindawati dkk (2007) produktivitas hutan rakyat yang masih rendah atau belum optimal salah satunya disebabkan oleh keterbatasan masyarakat dalam pengetahuan teknik silvikultur seperti pemilihan jenis pohon, penggunaan bibit unggul, pengaturan jarak tanam dan pemeliharaan tanaman, sehingga pertumbuhan pohon dan mutu tegakan yang dihasilkan kurang baik serta luas pemilikan lahan yang relative sempit dan lokasi yang  terpencar menyulitkan pengelolaan dalam satu kesatuan manajemen.
Semakin marjinal suatu lahan maka semakin berpeluang dijadikan lokasi pengembangan hutan rakyat. Dengan lokasi lahan yang kebanyakan telah terdegradasi maka pada areal tersebut kurang terdapat permudaan oleh karena itu diperlukan tindakan silvikultur untuk rehabilitasi berupa penanaman pengkayaan (enrichment planting). Tujuan tanam pengkayaan hutan rakyat yang kebanyakan terdapat di lahan terdegradasi adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan nilai produksi kayu komersial, produksi non kayu, fungsi hutan, kesuburan tanah dan lain-lain.
Meskipun demikian tidak semua hutan rakyat tidak terdapat anakan alam berdasarkan pengamatan di Hutan rakyat Manonjaya Kabupaten Ciamis ditemukan sebaran anakan alam melimpah dengan distribusi tidak merata sehingga tidak semua areal tercover oleh tanaman. Pada hutan rakyat dengan keberadaan anakan alam melimpah tumbuh tersebar di bawah tegakan tentunya potensi bagi pembangunan hutan rakyat dengan teknik cabutan sebagai materi pengkayaan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang masih kosong. Jika materi pengkayaan dari anakan alam kurang atau tidak ada maka dapat menggunakan permudaan buatan dengan mendatangkan benih unggul.
Pengaturan anakan alam dan permudaan buatan tersebut dapat mengoptimalkan areal hutan rakyat yang rata-rata sempit yaitu kurang dari 1 ha sehingga dapat tercapai tegakan yang relatif teratur. Pemeliharaan terhadap permudaan alam tersebut dapat dilakukan petani agar anakan alam dapat tumbuh dengan baik. Sistem silvikultur hutan rakyat dengan memanfaatkan anakan alam yang telah tumbuh di sekitar lokasi pengembangan merupakan metode yang murah  dan relatif mudah diaplikasikan oleh petani.
Teknik cabutan untuk pengkayaan dan diikuti dengan pemeliharaan permudaan alam merupakan teknologi alternatif bagi pembangunan hutan rakyat, khususnya daerah yang penyebaran anakan alamnya melimpah. Kajian Sistem silvikultur hutan rakyat campuran ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi pengelolaan yang murah dan mudah menyesuaikan dengan setiap kondisi hutan rakyat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas hutan rakyat.

II. DESKRIPSI HUTAN RAKYAT
Pola tanam hutan rakyat dapat digolongkan kedalam tiga bentuk yaitu : Pola tanam hutan rakyat murni, pola tanam campuran dan pola tanam dengan Sistem agroforestry. Pada pola tanam hutan rakyat murni lahan hanya ditanami dengan satu jenis tanaman berkayu (monokultur). Pola tanam monokultur mempunyai keuntungan dalam hal pengelolaannya lebih mudah  karena homogen dan setiap individu pohon  perlakuannya relative sama. Menurut Suryo (1999) keuntungan tegakan murni adalah bahwa keseluruhan kawasan hutan dapat diperuntukan bagi jenis yang paling bernilai sesuai dengan kondisi tempat tumbuh, pengelolaannya relative sederhana dan murah, biaya pemanenan hasil dan pemasarannya juga lebih murah dan cara pemeliharaan juga lebih sederhana. Sedangkan kelemahannya antara lain adalah bahwa tegakan murni kurang fleksibel dalam memenuhi perubahan permintaan pasar, nilai estetis dan rekreasi umumnya kurang menarik, kurang mendukung kehidupan satwa liar yang beragam, dan peka terhadap berbagai jenis gangguan seperti hama dan penyakit (Suryo, 1999). Pola tanam monokultur juga menyebabkan terjadinya degradasi status hara yang terlalu ekstrim akibat penggunaan salah satu unsure lebih tinggi oleh tanaman yang sejenis. Monokultur juga menghasilkan produk tunggal sehingga mengakibatkan tidak ada diversifikasi produk. Hal ini dapat diatasi dengan pemilihan satu komoditi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk akhir, misalnya pemilihan jenis dengan produk kayu yang dihasilkan bisa digunakan untuk kayu pertukangan dan kayu sebagai bahan baku pulp. Tegakan hutan rakyat ada yang seumur dan tidak seumur, keuntungan tegakan seumur adalah dalam pelaksanaan kegiatan penanaman, pemeliharaan dan pemungutan hasilnya yang sederhana, sehingga memungkinkan untuk penggunaan alat-alat besar dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi dan biaya yang lebih murah, pemendekan daur dengan melalui pemeliharaan yang intensif dan penggunaan jenis unggul, tingkat pertumbuhannya lebih seragam, dan tebang antara lebih mudah dilaksanakan. Beberapa kelemahan tegakan seumur antara lain adalah perlunya dilakukan tebangan antara/ penjarangan dan pemeliharaan yang terus menerus untuk mendapatkan tegakan ahkir yang baik, sehingga perlu ada pengeluaran dana yang kontinyu, serta nilai estetis dan rekreasi yang umumnya lebih rendah (Suryo, 1999).  
Hutan tanaman campuran adalah suatu tegakan hutan tanaman dimana tanaman pokoknya terdiri dari dua atau lebih jenis pohon komersial baik berdaur sama maupun beda daur yang ditanam pada satu hamparan dengan luasan tertentu berfungsi sebagai hutan produksi (Kosasih, 2007). Hutan campuran dengan keanekaragaman genetik yang lebih tinggi menyebabkan tanaman relatif lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Pertimbangan ekonomis hutan rakyat campuran mempunyai ketahanan dan kelenturan lebih tinggi terhadap pasar karena adanya diversifikasi komoditi dan hasil bertahap yang berkesinambungan (Mindawati dkk, 2007). Pola tanam hutan rakyat di kabupaten Ciamis kebanyakan campuran, hal ini tentunya memerlukan Sistem silvikultur khusus agar dapat terjaga kelestariannya. Optimalisasi lahan untuk mendatangkan keuntungan secara ekologi dan ekonomi dapat dilakukan petani dengan pola tanam agroforestry. Pola tanam ini sangat cocok untuk wilayah-wilayah berpenduduk padat, baik ditinjau dari fungsi ekonomi (pendapatan masyarakat), fungsi sosial maupun fungsi lingkungan (Mindawati dkk,  2007).  
Setiap pola tanam tentunya mempunyai Sistem silvikulur yang berbeda, beberapa hasil penelitian (Widiarti, 2000; Prabowo, 2000; Attar 2000; Suryandari dkk.,2003 dalam Mindawati 2007) praktek Sistem silvikultur yang dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia dalam rangka pengelolaan hutan rakyat adalah : Sistem Tebang Habis Trubusan (THT), Sistem Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), Sistem Tebang Pilih dengan Permudaan Alam (TPPA) dan Sistem Tebang Pilih dengan Permudaan Buatan (TPPB).
Penelitian Prabowo (2000) Sistem silvikultur hutan rakyat di Desa Sumberejo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dikategorikan ke dalam Sistem Tebang Pilih Permudaan Alam (TPPA). Petani hutan rakyat hanya akan menebang tanaman di lahan hutannya bila tanaman benar-benar telah siap tebang dengan beberapa kriteria (tebang pilih) , antara lain adalah pohon yang akan ditebang batangnya diperkirakan diameternya sekitar 30 cm. Setelah penebangan petani hutan rakyat tidak melakukan penanaman dengan bibit buatan melainkan dengan permudaan alam yang jumlahnya cukup melimpah (Prabowo, 2000). Penelitian Waskito (2000) Sistem silvikultur hutan rakyat di Desa Gunungsari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah adalah Sistem Tebang Pilih Permudaan Alam (TPPA). Masyarakat membiarkan areal bekas tebangan dengan harapan akan tumbuh anakan secara alami dan trubusan yang muncul dari tunggak bekas tebangan (Mindawati dkk, 2007)

III. SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAKYAT LESTARI
Permudaan merupakan suatu proses peremajaan kembali dari pohon-pohon penyusun tegakan yang telah mati secara alami atau dipanen oleh manusia. Ada dua jenis permudaan yaitu permudaan alam dan permudaan buatan. Jenis permudaan pada hutan rakyat campuran merupakan perpaduan dari permudaan alami dan buatan atau permudaan campuran. Permudaan alam adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan hutan yang terjadi secara alami. Sedangkan permudaan buatan adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan yang dilakukan oleh manusia. Keuntungan dari permudaan buatan adalah kemungkinan untuk mengatur kerapatan, jarak tanam komposisi jenis dan penggunaan bibit unggul secara lebih tepat dibandingkan dengan metode permudaan lain (Suryo, 1999). Daniel dkk (1992) mengemukakan bahwa dalam setiap kasus maka strategi penghutanan kembali mencakup 4 unsur, yaitu : identifikasi tujuan pengelolaan, identifikasi kendala umum, analisis kondisi tegakan dan pengaturan perlakuan.
Sistem silvikultur semestinya telah direncanakan sebelum pembangunan hutan rakyat terwujud sehingga merupakan rejim sejak penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Kenyataannya dengan  kondisi hutan rakyat yang spesifik maka penentuan Sistem silvikultur ditentukan pada saat hutan rakyat telah terbangun dan akan menyesuaikan dengan kondisi hutan rakyat di masing-masing daerah. Oleh karena itu diperlukan analisis  komprehensif terhadap kondisi hutan rakyat yang ada sebelum keputusan Sistem silvikultur ditentukan. Kesalahan dalam penentuan Sistem silvikultur akan mengakibatkan kegagalan dalam pembangunan hutan rakyat lestari. Diperlukan beberapa pertimbangan yang dapat diambil untuk menentukan Sistem silvikultur yang tepat pada setiap usaha pembangunan hutan rakyat sehingga produktivitas dapat berkelanjutan. Beberapa pertimbangan dalam penentuan Sistem silvikultur dalam pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah (a) Pola tanam hutan rakyat, (b) Jumlah sebaran anakan alam di bawah tegakan dan kemampuan membentuk trubusan, (c) Struktur dan komposisi tegakan, (d) Kerapatan tegakan hutan rakyat.
A. Hutan Rakyat Monokultur
Pada hutan rakyat monokultur seumur dapat diaplikasikan Sistem tebang habis permudaan buatan dan bila anakan alam cukup melimpah dapat dimanfaatkan dengan teknik cabutan dan pemeliharaan permudaan alam. Anakan alam tidak semuanya dalam keadaan yang baik karena rusak pada saat penebangan induknya dan anakan alam kebanyakan mengumpul rapat dengan distribusi tidak merata, oleh karena itu cabutan terhadap anakan alam tersebut dilakukan sebelum penebangan agar dapat digunakan sebagai materi permudaan setelah penebangan. Pemeliharaan permudaan alam dilakukan agar pertumbuhan lebih cepat dan biaya yang dikeluarkan dari Sistem permudaan ini lebih murah dan relative lebih aplikatif. Keberadaan anakan alam tergantung pada kerapatan tegakan dan jenis tanaman, bila kerapatan tegakan tidak memungkinkan masuknya cahaya ke lantai hutan maka kemungkinan tidak terdapat banyak anakan alam yang tumbuh kecuali beberapa jenis pohon yang tolerant dan semi tolerant sehingga dapat tumbuh dibawah tegakan. Oleh karena itu dalam pembangunan hutan rakyat semestinya sudah direncanakan sejak awal dalam pemilihan jenis, pengaturan jarak tanam/ kerapatan tegakan, pemeliharaan dan Sistem silvikultur yang akan diaplikasikan. Sistem permudaan campuran yang merupakan perpaduaan permudaan alam dan permudaan buatan dapat dilakukan jika anakan alam yang ada tidak mencukupi sehingga diperlukan tanam pengkayaan dengan bibit unggul dari luar.
Pada hutan rakyat monokultur yang tidak seumur dapat diaplikasikan tebang pilih dengan permudaan alam, buatan atau campuran menyesuaikan dengan jumlah anakan alam dan kerapatan tegakan. Penebangan dilakukan terhadap pohon berdiameter minimal 30 cm sehingga telah mempunyai nilai ekonomi tinggi. Kerusakan terhadap pohon-pohon dan permukaan sekitarnya dapat dihindarkan, meskipun bila dilakukan dengan hati-hati dapat diperkecil. Permudaan campuran adalah memadukan permudaan alam dan pengkayaan areal kosong dengan materi  permudaan buatan. Anakan alam yang melimpah dan tidak terdistribusi merata dapat diatur dengan teknik cabutan lalu di kembalikan keareal sebagai materi pengkayaan. Apabila jumlah anakan alam tidak cukup untuk materi permudaan, dapat diperkaya dari permudaan buatan dengan mendatangkan bibit unggul dari luar. Kerapatan tegakan juga mempengaruhi untuk menentukan perlunya materi pengkayaan bibit dari luar, apabila tegakan sudah cukup rapat dengan jumlah anakan cukup banyak maka diperlukan penjarangan dan pengaturan ruang, sehingga memungkinkan untuk pertumbuhan anakan alam. Penjarangan diterapkan pada pohon yang telah bernilai ekonomi minimal kayu bakar atau pohon yang secara fisiologi tidak bisa tumbuh dengan baik kedepannya.
B. Hutan Rakyat Campuran
Pola tanam hutan rakyat campuran dengan beberapa kelas umur merupakan tipe yang paling sering ditemui, terutama di daerah Kab. Ciamis. Pertimbangan jumlah anakan dan kerapatan tegakan yang berbeda-beda menyebabkan Sistem silvikultur juga berbeda. Sistem silvikultur tebang pilih dengan permudaan buatan, permudaan alam atau permudaan campuran merupakan alternatif yang sesuai untuk diterapkan. Permudaan buatan diaplikasikan apabila jumlah anakan alam terbatas sehingga diperlukan pembuatan bibit unggul dari luar. Penanaman dapat dilakukan pada spot-spot yang masih kosong dan memungkinkan bibit dapat tumbuh dengan baik. Pemeliharaan terhadap permudaan buatan ini diperlukan agar pertumbuhan tidak terhambat. Pembebasan cabang-cabang pohon disekitarnya yang menaungi dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu pertumbuhan tegakan yang telah ada. Pertimbangan untuk menentukan Sistem permudaan berdasarkan ketersediaan anakan alam dan kerapatan tegakan tinggal. Areal yang masih kosong dengan keterbatasan anakan alam maka perlu tanam pengkayaan dengan permudaan buatan. Jika terdapat anakan alam yang banyak maka dapat dilakukan pengaturan kerapatan anakan alam dengan teknik cabutan untuk tanam pengkayaan pada spot-spot yang masih kosong sehingga dapat mengoptimalkan lahan hutan rakyat. Permudaan campuran merupakan perpaduan dari permudaan alam dan permudaan buatan sehingga terdapat tegakan yang dapat mengoptimalkan lahan hutan rakyat yang relative sempit (kurang dari 1 Ha) 
Pada hutan alam bekas tebangan Sistem silvikultur dilakukan dengan tanaman pengkayaan teknik tanam jalur dengan lebar 3 m dan jarak antar jalur 25 m (Setiadi, 2003). Hal ini tentunya tidak dapat sepenuhnya diterapkan pada hutan rakyat karena kerapatan dan luasan yang berbeda. Modifikasi terhadap teknik pengkayaan tanam jalur dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi hutan rakyat campuran yang akan ditentukan Sistem silvikulturnya. Pembuatan jalur menyesuiakan dengan kerapatan tegakan yang ada sehingga hanya pada areal-areal yang memang kerapatan rendah dapat dibuat jalur untuk tanam pengkayaan. Pembuatan jalur pada areal yang kerapatan tegakannnya tinggi akan merusak pohon-pohon yang telah survive sehingga banyak merugikan karena tegakan yang hilang. Pembuatan jalur untuk tanam pengkayaan juga tidak harus lurus tetapi bisa menyesuaikan dengan kerapatan tegakan tersebut. Pembuatan jalur berbelok tentunya lebih menyulitkan, oleh karena itu pembukaan lahan pada spot-spot yang kosong untuk tanam pengkayaan akan lebih efektif dan dapat dilakukan karena luasan hutan rakyat yang rata-rata kurang dari 1 ha. Pembukaan lahan secara melingkar pada spot-spot yang relative terbuka dapat dilakukan untuk lokasi tanam pengkayaan. Lebar jalur untuk penanaman yang paling sesuai untuk hutan rakyat juga menyesuaikan dengan kerapatan tegakan hutan rakyat dan perlu dilakukan penelitian tentang lebar jalur optimal dalam pengkayaan teknik tanam jalur. Oleh karena itu diperlukan lebar jalur optimal bagi tanam pengkayaan Sistem jalur. Pada hutan alam/ hutan produksi terbatas menurut Mohtaruddin dkk (2001) menemukan bahwa tanaman Diterocarp yang ditanam pada jalur tanam selebar 3 m lebih baik dibandingkan dengan jalur tanam selebar 5 dan 10 m dan line planting respon tanamannya lebih baik dibandingkan dengan gap planting. Berdasarkan hasil pengukuran produktivitas dan tingkat survival tanaman sampai umur 1 tahun, Maswar dkk (2001) menyimpulkan bahwa tanaman yang ditanam dengan teknik line planting memberikan respon lebih baik dibandingan dengan gap planting. Adjers dkk (1995) menemukan respon tanaman terbaik pada lebar jalur tanam 2 m, dibandingkan dengan 0, 1 dan 3 m yang dilanjutkan dengan pemeliharaan horizontal dan mengabaikan pemeliharaan vertical. Kondisi hutan rakyat yang spesifik memang mengakibatkan metodenya bersifat spesifik pula, tetapi paling tidak ada pendekatan terhadap suatu model hutan rakyat tertentu dengan pendekatan sistem silvikultur yang aplikatif, murah dan mudah dilakukan oleh masyarakat petani hutan rakyat.
Beberapa jenis pohon seperti sengon, jati dan suren mempunyai kemampuan membentuk materi trubusan dari tunggul sisa tebangan, hal ini dapat dijadikan materi permudaan. Oleh karena itu pada jenis-jenis yang bisa menghasilkan trubusan tersebut Sistem silvikultur tebang habis permudaan trubusan dapat diaplikasikan. Hasil penelitian di Desa Pabentengan Kec. Banteng Sulawesi Selatan , tunggul tanaman jati cukup baik untuk menghasilkan trubusan sampai 2-4 kali dengan riap 168,53 m3/ha. Sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Trubusan Penelitian di Desa Peloso, Kabupaten Klaten dan Desa Puncuk, Kabupaten Kediri tanaman sengon monokultur telah dikembangkan dengan pola kemitraan (Mindawati dkk, 2007).

C. Hutan Rakyat Agroforestry 
 Pola tanam agroforestry yang merupakan perpaduan penanaman pepohonan dan tanaman semusim mengakibatkan Sistem silvikultur menyesuaikan dengan keberadaan tanaman semusim. Pada Sistem agroforestry sebenarnya merupakan pola tanam yang lebih terencana, oleh karena itu Sistem silvikulturnya dapat direncanakan sebelum pola tanam hutan rakyat agroforestry terbentuk. Pemanenan dan permudaan tanaman kayu dilakukan setelah pemanenan tanaman pertanian sehingga dapat dilakukan leluasa tanpa menimbulkan kerugian. Pada kasus agroforestry sengon dan nilam, tanaman pertanian/nilam hanya bisa ditanam sampai umur 2 tahun dikarenakan tajuk tanaman sengon telah rapat dengan jarak tanam 3 x 3 m (Sudomo dkk, 2007). Pengaturan jarak tanam yang lebih lebar diperlukan agar tanaman pertanian dapat ditanam sampai akhir daur pohon. Pemilihan jenis pohon yang bertajuk ramping juga diperlukan agar tetap memberikan ruang tumbuh bagi tanaman pertanian. Manglid dan afrika  dapat dijadikan alternatif komoditi agroforestry sebagai jenis pohon yang bertajuk ramping dan kayunya bernilai ekonomi tinggi. 

IV. PARAMETER KEBERHASILAN SISTEM SILVIKULTUR
Parameter tingkat keberhasilan suatu Sistem pengelolaan hutan rakyat adalah dilihat dari tujuan yang ingin dicapai yaitu peningkatan nilai ekonomi, ekologis dan sosial budaya. Sesuai dengan strategi manajemen untuk hutan sekunder dan terdegradasi yakni harus mencakup aspek ekologi, aspek sosial budaya dan aspek ekonomi kelembagaan (ITTO, 2000). Menurut Muhdi (2005) tujuan dari Sistem silvikultur adalah mengatur pemanfatan hutan serta meningkatkan nilai hutan baik kualitas maupun kuantitas untuk rotasi tebang berikutnya agar terbentuk tegakan hutan yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu dan pemasok industri secara lestari. Untuk mencapai tujuan ini,  maka tindakan silvikultur dalam hal permudaan hutannya diarahkan pada :
1.    Pengaruh komposisi jenis pohon dalam hutan diharapkan dapat lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekonomi dan ekologi
2.    Pengaturan silvikultur atau kerapatan tegakan yang optimal diharapkan dapat memberikan peningkatan potensi produksi kayu bulat dari keadaan sebelumnya
3.    Terjaminnya fungsi hutan dalam pengawetan tanah dan air
4.    Terjaminnya fungsi perlindungan hutan
Sistem silvikultur hutan rakyat yang tepat adalah bagaimana meminimalkan biaya yang keluar dari kegiatan penanaman, pemeliharaan  tetapi didapatkan produktivitas hasil yang maksimal tanpa mengurangi fungsi ekologis dari hutan tersebut. Aplikasi Sistem silvikultur minimal dapat meningkatkan keuntungan ekonomi jika dibandingkan tidak dilakukan pengkayaan, dan terdapat batas minimal nilai keuntungan ekonomi harus dicapai sebagai satandard kelayakan usaha. Beberapa hasil dari kegiatan silvikultur dapat dilihat dari variable pertumbuhan riap (tinggi, diameter dan volume), ketahanan terhadap hama dan penyakit dan kualitas kayu yang dihasilkan.
Tujuan kelestarian lingkungan/ekologi tercapai dapat dilihat dari perkembangan hutan tersebut mengarah pada kondisi yang lebih baik dibanding semula sehingga dapat berfungsi ekologis secara optimal. Parameter yang dapat diamati adalah kondisi tegakan, tanah, satwa, ikim mikro dan lain-lain sehingga perkembangannya bisa diketahui dan dinilai (Onrizal, 2005). Aspek sosial budaya dapat tercapai dilihat dari sejuah mana kontribusi kegiatan rehabilitasi terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan sejauh mana peningkatan akses mereka terhadap sumberdaya hutan (Onrizal, 2005).

V.    PENUTUP
Keberadaan hutan rakyat di setiap daerah  mempunyai karakteristik yang spesifik, oleh karena itu Sistem silvikultur yang diterapkan juga menyesuaikan karakteristik setiap hutan rakyat. Meskipun demikian dalam  rangka mewujudkan hutan rakyat lestari diperlukan pendekatan Sistem silvikultur yang murah dan mudah diaplikasikan petani dalam berbagai type hutan rakyat yang spesifik dengan pertimbangan ekonomis dan ekologis yang seimbang. Sistem silvikultur diharapkan dapat menjadi satandard operational procedure yang mudah dipahami bagi petani hutan rakyat sehingga dapat meningkatkan nilai hutan secara ekonomi, ekologi dan sosial. Penelitian lebih lanjut tentang Sistem silvikultur yang sesuai pada berbagai type hutan rakyat diperlukan untuk dapat membentuk SOP yang lebih akurat. Beberapa Sistem silvikultur pada HTI, Perhutani dan Hutan alam dapat dimodifikasi menyesuaikan karakteristik hutan rakyat. Teknik dan Sistem silvikultur baru semestinya tidak bertentangan dengan kearifan lokal di masing-masing daerah dan merupakan perpaduan yang sinergi saling melengkapi untuk mewujudkan hutan rakyat lestari. Usaha penyuluhan terhadap teknik dan Sistem silvikultur baru hendaknya terus dilakukan sehingga masyarakat petani hutan rakyat mempunyai respon untuk mengaplikasikannya di lapangan.  


DAFTAR PUSTAKA

Daniel, T.W., J.A. Helms dan F.S Baker, 1992. Prinsip-prinsip Silvikultur . Terjemahan Joko Marsono dan Oemi Hani’in. Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

ITTO, 2000. Management Strategis For Degraded and secondary Forest. Di dalam Guidelines For The Restoration Management and Rehabilitation Of Degraded and SecondaryTropical Forest.

Maswar, A.M. Mokhtaruddin, N.M. Majid, I.F. Hanum, M.K Yusoff, A.M. Azani, dan S. Kobayashi. 2001. Evaluation on Methods For Rehabilitation Of Logged-Over Lowland Forest in Pasoh, Negeri Sembilan, Malaysia. Di Dalam: Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara

Mindawati, N. Asmanah Widiarti dan Budi Rustaman 2007. Review Hasil Penelitian Hutan Rakyat. Depatemen Kehutanan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Hutan Tanaman, Puslit Hutan Tanaman. Bogor.

Mokhtarudin, A.M., Maswar, N.M Majid,M.K Yusoff, I.F.Hanum, A.M.Azani dan S.Kobayashi.2001. Soil Factors Affecting Growth Of Seedling In Logged-Over Tropical Lowland Forest In Pasoh, Negeri Sembilan, Malaysia. Di Dalam :  Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara.

Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara.

Prabowo, S.A. 2000. Hutan Rakyat: Sistem Pengelolaan Dan Manfaat Ekonomi Kasus di Desa Sumberejo, Kabupaten Wonogiri, JawaTengah. Perannya Dalam Perekonomian Desa. P3KM. Hal 13-30. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Suryo, H 1999. Permudaan Hutan. Bahan Ajar Kuliah Silvikultur Hutan Tanaman. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.

Sudomo, A. dan M. Y. Mile. 2007. Pengaruh Teknik Pemanenan Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Nilam Dalam Sistem Agroforestry Sengon +Nilam. Info Hutan. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor

Kosasih. S.A, B. Rina Bogidarmanti, Budi Rustaman 2007. Silvikultur Hutan Tanaman Campuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.

Muhdi. 2005. Pemanenan Kayu Dalam Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan

Waskito.B 2000. Studi Kemungkinan Pengembangan Kasus di Desa Gunungsari Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. P3KM. Hal 67-83. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor


Post Top Ad

Your Ad Spot