Si “BAU MISTIS“ KEMENYAN : SEBAGAI TANAMAN ALTERNATIF DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI JAWA - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Monday, September 25, 2017

Si “BAU MISTIS“ KEMENYAN : SEBAGAI TANAMAN ALTERNATIF DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI JAWA

Oleh :
Anas Badrunasar
(Makalah ini telah di terbitkan pada Al basia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)

ABSTRAK

Kemenyan merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berasal dari proses patogenis pada kegiatan penyadapan pohon dari keluarga  Styracaceae. Getah kemenyan sudah dimanfaatkan sejak abad ke 18 untuk keperluan kegiatan ritual keagamaan. Dalam perkembangannya ekstrasi dari getah kemenyai dapat juga dimanfaatkan untuk kegunaan lain, seperti untuk obat-obatan, bahan pengawet makanan, parfum, dan lain-lain. Kayu dari pohon kemenyan yang sudah tidak produktif lagi dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan mebel maupun konstruksi bangunan. Pohon kemenyan ini dapat juga dimasukkan sebagai salah satu jenis tanaman konservasi di tanah masyarakat yang merupakan hutan hak yang terletak di daerah penyangga, karena produk utamanya bukan kayu tapi HHBK nya.

Kata kunci : Si bau mistik, keluarga Styracaceae, patogenis

I.  LATAR BELAKANG

Penanaman pohon kayu-kayuan ditanah milik oleh masyarakat merupakan penomena yang menarik karena jangka waktu yang diperlukan sampai memperoleh hasil terhitung lama dengan resiko kegagalan sangat besar namun tidak menyurutkan petani untuk menanam pohon kayu-kayuan ditanah miliknya. Di berbagai daerah terdapat sentra-sentra hutan rakyat yang spesifik, seperti kulit manis (Cinnamomum sp.) di Kerinci Jambi, kemenyan (Styrax spp.) di Sumatera Utara, damar mata kucing (Shorea spp) di Krui Lampung (Anonim, 2006) dan tanaman Mangrove di Sinjai Sulawesi selatan. Sentra-sentra hutan rakyat tersebut produk utamanya adalah berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti kulit (Cinnamomum sp.), getah (Styrax spp. dan Shorea spp.) dan juga berfungsi sebagai penahan angin (wind-break), abrasi seperti tanaman mangrove. 
Kemenyan adalah termasuk HHBK dari hutan rakyat yang tidak kalah pentingnya sejak jaman dahulu kala dan banyak beredar di Pulau Jawa sejak abad ke 18 (Prosea, 2001). Menurut catatan Korders dan Valeton (1894-1914) dalam Heyne (1987) kemenyan pernah ditemukan juga di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Banten (Provinsi Banten), tumbuh pada ketinggian 200-300 m dari permukaan laut walau jarang ditemukan. Umumnya kemenyan tumbuh di Pulau Sumatera, yaitu di daerah Palembang dan Tapanuli (Sumatera Utara).
Berdasarkan catatan sejarah tersebut maka tujuan dari tulisan ini memberikan alternatif mengenai kemungkinan tanaman kemenyan dapat ditanam secara massal di tanah milik rakyat di Pulau Jawa. Hal ini dimungkinkan karena tanaman kemenyan dapat tumbuh hampir disetiap assosiasi  jenis tanah. Terlebih lagi, nilai yang dihasilkan cukup menjanjikan, baik dari segi finansial maupun nilai jasa lingkungan, karena produk utamanya bukan kayu tapi getahnya.

II.  KEMENYAN YANG BEREDAR DI INDONESIA
Di Indonesia telah teridentifikasi paling tidak ada 3 jenis kemenyan asli, yaitu kemenyan bulu (Styrax benzoine var hiliferum), durame (Styrax benzoin Dryan) dan toba (Styrax sumatrana JJSM atau Styrax paralleloerum Perk). Ketiga jenis kemenyan ini tumbuh secara alami di sepanjang Bukit Barisan mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara sampai dengan Lampung. Dua jenis kemenyan yang disebut terakhir adalah kemenyan yang sudah dikenal di pasaran. Propinsi Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan sekaligus daerah penyebaran tertinggi dan terluas dalam pengelolaan kedua jenis kemenyan tersebut (Sasmuko, 2001). Budidaya kemenyan di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli sudah cukup lama berlangsung, yaitu sekitar tahun 1800 an (Waluyo, dkk., 2001).
Hampir 100 % kemenyan yang beredar di Pulau Jawa di pasok dari Pulau Sumatera, 80% diantaranya di pasok oleh Sumatera Utara, khususnya dari daerah Tapanuli (Sasmuko, 2001). Di Pulau Jawa getah kemenyan tersebut beredar dipasaran, khususnya pasar-pasar tradisional sudah dalam bentuk bongkahan berbentuk dadu, ataupun serbuk dalam kemasan. Produk ini biasa dijumpai ditukang “rampe” (jual bunga-bungaan khusus untuk ziarah kuburan atau acara ritual lainnya). 

III. MANFAAT KEMENYAN
Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa kemenyan penggunaannya  sebatas hanya untuk kegiatan ritual, praktek perdukunan atau kegiatan lainnya yang berbau mistis, padahal berdasarkan penelitian getah kemenyan itu mengandung senyawa yang disebut dengan benzoin. Selain itu ekstraksi kemenyan menghasilkan juga asam sinamat tidak kurang dari 36,5%.  Senyawa ini merupakan bahan baku utama industri parfum, farmasi dan kosmetika. Dengan kehadiran asam sinamat dalam parfum dapat membuat aroma asli dari parfum tersebut lebih tahan lama, lembut dan tidak berisiko terhadap kesehatan (Jayusman,1998 dan Sasmuko, 2001). Bahkan turunan lainnya seperti asam benzoin merupakan bahan pengawet untuk makanan. Di daerah Jawa Tengah (Banyumas dan sekitarnya) kemenyan merupakan bahan racikan tembakau yang dimasukkan kedalam rokok kelembak sebagai penambah aroma yang khas.
Di negeri ini juga ada kearifan tradisonal yang memanfaatkan bagian pohon maupun getah pohon kemenyan sebagai ramuan obat tradisional secara tunggal maupun campuran berbagai jenis tumbuhan lainnya, seperti etnis suku anak dalam atau yang lebih dikenal orang rimbo di Jambi, memanfaatkan getah kemenyan sebagai obat untuk cacingan pada anaknya. Demikian halnya pada etnis Bolaanmongondow Gorontolo memanfatkan daun kemenyan sebagai obat berak darah (Harini, dkk. 2000) 
Beberapa industri farmasi nasional secara khusus menggunakan kemenyan asal Sumatera dan Laos dalam larutan obat untuk mengurangi rasa sakit radang selaput lendir di dalam hidung, radang tenggorokan, radang cabang tenggorokan (bronchitis), sesak napas (asma), mengobati kutil (dalam bentuk balsam, salep), menjaga kelembaban kulit agar tidak kering dan mengobati alergi pada kulit, bahkan di daerah Barat digunakan juga sebagai bahan aroma terapi (Prosea, 1999)
Berdasarkan hasil penelitian Waluyo, dkk (2001) selain getah, kayunya juga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan maupun furniture. Kayu kemenyan dari pohon yang disadap mempunyai corak dekoratif tinggi yang ditimbulkan oleh kegiatan penyadapan. Di Vietnam kemenyan (Styrax torkinensis) dikembangkan untuk program reboisasi dan kayunya sebagai bahan baku industri pulp (Pinyopusarerk. 1994 dalam Jayusman 1998). Lebih lanjut dalam buku Prosea dijelaskan bahwa kayu S. torkinensis dimanfaatkan juga sebagai bahan baku industri  korek api dan sumber bahan baku bangunan karena tahan terhadap serangga.

IV. PENYEBARAN TEMPAT TUMBUH
Pohon kemenyan menyebar pada berbagai negara meliputi Malaysia, Thailand, Indonesia dan Laos. Jenis ini menyebar pada elevasi 60 – 1200 m dpl. Pohon kemenyan tidak memerlukan persyaratan yang istimewa terhadap jenis tanah dan mampu tumbuh pada Andosol, Podsolik, Latosol, Regosol dan berbagai asosiasi jenis tanah mulai tanah betekstur berat sampai ringan, serta tanah subur hingga kurang subur. Secara umum pohon kemenyan menghendaki tanah yang memiliki kesuburan yang baik. Pohon kemenyan tidak tahan terhadap genangan air, sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan tanah yang porositasnya tinggi (mudah meneruskan/meresapkan air). Tumbuh baik pada solum tanah yang dalam dengan pH tanah berkisar 4-7, menghendaki bulan basah tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B (Schmidt & Ferguson).
Pohon kemenyan dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter 100 cm (Waluyo, dkk, 2001). Batang lurus dengan percabangan sedikit, dengan warna kulit merah anggur. Daun kemenyan awal bulat hingga bulat memanjang (ellips). Buah berbentuk bulat gepeng dan lonjong, diameter buah berukuran 2,5-3 cm dan diameter biji berukuran 15-21,5 cm. Rupa daun, bunga dan buah kemenyan disajikan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Rupa daun, bunga dan buah kemenyan (Sumber : Indonesian Heritage, 2002)

Di Palembang pohon kemenyan terdapat diberbagai tipe tapak hutan mulai dari hulu dan hilir sungai Musi hingga pada ketinggian ± 200 m dari permukaan laut. Sementara untuk budidaya kemenyan itu sendiri yang ideal hanya pada dataran tinggi dengan tanah berpasir, ditanah berlempung bisa tumbuh tapi pertumbuhannya tidak optimal. Jenis kemenyan yang tumbuh paling dominan di Palembang adalah kemenyan durame (Styrax benzoin Dryan).
Pada waktu itu petani Palembang sudah mengenal pola bercocok tanam secara tumpangsari. Penanaman kemenyan dilakukan bersamaan dengan penanaman padi gogo (huma). Ada dua pola penanaman kemenyan, yang pertama biji kemenyan yang sudah dipisahkah dari kulitnya ditugal (ditanam) sebelum padi, hal ini mengingat awal pertumbuhan kemenyan memerlukan naungan dan untuk itu tanaman padilah yang mengambil peran sebagai naungan.  Pola tanam kedua ketika padi berumur 1-2 bulan baru kemenyan ditanam. Pada pola tanam kedua ini biji disemaikan terlebih dahulu dipersemaian. Jarak tanam yang digunakan 3 x 4 m.
Pola bercocok tanam padi hanya berlangsung satu kali, sehingga setelah padi dipanen, maka fungsi naungan digantikan oleh semak-belukar atau bahkan alang-alang yang tumbuh dengan cepat. Karena tidak ada pemeliharaan lanjutan yang intensif maka pertumbuhan diserahkan pada alam, jadi wajar kalau tinggkat keberhasilannya kecil.
Lain Palembang lain Tapanuli. Di daerah Tapanuli kemenyan tidak ditemukan tumbuh di bawah 300 m dari permukaan laut, kalaupun tumbuh maka tidak akan menghasilkan getah. Pohon kemenyan yang pertumbuhannya bagus dengan produksi getah yang banyak tumbuh antara 600 – 1000 m dari permukaan laut, itu yang banyak ditemukan di daerah Tapanuli, seperti daerah Silindung, Naipospos, dataran tinggi Toba sebelah Utara.
Budidaya kemenyan di daerah Tapanuli memang merupakan tujuan utama,  maka persiapan lahannya betul-betul diperhatikan, petani biasanya memilih tapak yang memang masih ada hutannya (hutan sekunder). Hutan sekuder tersebut kemudian dibabat sampai bersih. Pertama kali yang ditanam adalah  tebu dan ubi jalar dan setelah itu seluruh areal ditanami padi. Sementara itu biji kemenyan sudah dipersiapkan hasil pungutan dari pohon kemenyan yang tumbuh disekitar areal yang akan digarap. Biasanya biji kemenyan sebelum ditanam direndam dulu dengan air panas sampai dingin, setelah itu di tabur di persemaian. Bibit kemenyan yang sudah berumur 6-12 bulan sudah siap tanam di lapangan. Kadang petani menanam langsung biji tersebut  di lahan yang sudah dipersiapkan dengan jarak tanam 2 x 2 m dan sebagai tanda maka pemasangan ajir dilakukan. Setelah panen padi huma maka tampaklah anakan kemenyan, yang mati biasanya dilakukan penyulaman dengan bibit yang berasal dari persemaian. Jika lahannya subur maka selain jagung dan ubi jalar tahun berikutnya penanaman padi dilakukan. Setelah panen kedua anakan kemenyan sudah mencapai tinggi antara 50 – 180 cm. Setiap dua tahun sekali petani mengadakan perawatan berupa pembebasan dari pohon atau semak yang terlalu menaungi tanaman kemenyan. Pada umur 5 tahun tanaman kemenyan tersebut sudah mencapai tinggi 10 m dengan diameter setinggi dada (130 cm) sebesar 12 cm.

Agar pertumbuhannya optimum, maka penanaman kemenyan sebaiknya dilakukan pada ketinggian diatas 600 m dpl., pH tanah berkisar antara 4-7, bulan basah tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Lahan milik rakyat yang berada diketinggian dan persyaratan tersebut banyak tersebar di Pulau Jawa dan pada umumnya berbatasan langsung dengan kawasan hutan, seperti daerah penyangga Suaka Marga Satwa Gunung Sawal di Ciamis, Gunung Papandayan di Garut, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (Sukabumi, Bogor dan Banten), Taman Nasional Gunung Pangrango (Cianjur, Sukabumi dan Bogor), Dieng (Wonosobo), Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Taman Nasional Merapi-Merbabu (Daerah Istimewa Yogyakarta).

V. TEKNIK SILVIKULTUR DAN NILAI EKONOMI
Teknik silvikultur tanaman kemenyan hampir sama dengan tanaman kehutanan lainnya, berikut ini cara penyemaian tanaman kemenyan yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Sumatera (Jayusman, dkk. 2006)

A. Perkecambahan
1. Seleksi benih
Dilakukan dengan terlebih dahulu merendam dalam air dingin, benih yang terapung dibuang. Benih kemenyan memiliki karakter dormansi benih (2-3 bulan). Pengaruh kulit biji yang keras menjadi pembatas dalam kecepatan perkecambahan sehingga memerlukan praperlakuan awal benih sebelum disemai. Teknik skarifikasi dengan menipiskan sebagian kulit benih (dikikir-diamplas dengan batu asahan) maupun stratifikasi dengan perendaman dan pemanasan benih pada berbagai suhu tertentu dapat memecahkan dormansi benih. Kombinasi stratifikasi dan skarifikasi di atas mampu menghasilkan persen kecambah 50-75%.
2. Tahapan perkecambahan
a. Menyiapkan bedeng semai atau bak kecambah dengan media pasir halus setebal 25-30 cm. Sebelum digunakan media disterilisasi dengan fungisida Benlate 2 gram/liter. 
b. Benih hasil seleksi diskarifikasi cara di atas dan strafikasi dengan perendaman air panas (100˚C) hingga dingin dan dilanjutkan perendaman air dingin selama 24 jam
c. Benih disemai sedalam 2-3 cm dengan jarak 5 x 5 cm, didalam media kecambah kemudian ditimbun dengan pasir halus 1-2 cm. 
Cara lain benih disemai langsung kedalam polybag yang telah diisi media campuran tanah dan kompos (7:3). Bak kecambah dan polybag tersebut diletakkan di bawah naungan yang sebelumnya telah disiapkan. Lakukan penyiraman 2 kali sehari (pagi-sore) dan proteksi hama penyakit dengan penyemprotan insektisida dan fungisida sekali dalam seminggu. Benih berkecambah pada minggu ketiga setelah penyemaian.

B. Penyiapan Lahan
1. Lahan bervegetasi dibabat secara jalur. Jika menggunakan pola tanam monokultur dengan jarak tanam 4m (antar jalur) x 3 m (dalam jalur), maka dibutuhkan 833 bibit kemenyan/ha. Pada pola tanam campuran, tanaman kemenyan dapat dikombinasikan dengan kopi, kulit manis dan beberapa jenis buah-buahan, sehingga kerapatannya harus disesuaikan.
2.. Pada lokasi terbuka sebaiknya prakondisi dengan didahului penanaman pohon naungan seperti jenis kaliandra atau berbagai jenis cepat tumbuh lainnya.
3.. Tanah diolah secara cemplongan dengan membuat lubang tanam (berukuran lebar 40 cm x panjang 40 cm x kedalaman 50 cm) dan penggemburan tanah disekitar lubang tanam.
4.. Pemberian pupuk kandang/kompos 1-2 kg setiap lubang tanam. Jika pH terlalu masam tambahkan kapur dolomit 100 gram/lubang tanam.
5.. Untuk tanah yang kurang subur dapat ditambahkan pupuk NPK 20 gram/lubang tanam. Penyiapan lubang tanam dan pemberian  pupuk maupun dolomit tersebut diberikan 2-3 minggu sebelum tanam.

C. Penanaman dan Pemeliharaan

Plastik polybag dipisahkan dari media secara hati-hati agar media tidak pecah. Selanjutnya bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan pangkal batangnya sejajar permukaan tanah. Tekan secara perlahan tanah timbunan agar bibit dapat berdiri tegak dan kuat.
1. Pemeliharaan tanaman tahun pertama
a. Pembersihan tumbuhan bawah (gulma alang-alang, rumput), mencabut dan membuang serta membakar tanaman yang sakit maupun yang tumbuh terlalu kerdil dan merana).
b. Pendangiran-penggemburan serta pembumbunan tanah di sekitar lubang tanam (0.5-1 meter disekeliling batang tanaman).
c. Untuk mendapatkan keseragaman pertumbuhan maka penyulaman tanaman mati maupun tanaman yang merana pertumbuhannya karena hama-penyakit maupun sebab lain maka harus dilakukan dengan menanam bibit dengan kriteria dan umur yang sama dengan bibit yang telah ditanam.
d. Apabila terdapat indikasi serangan hama ulat daun maupun ulat penggerek batang maka dilakukan pengendalian dengan pestisida Thiodan 2,5%. Untuk serangan jamur atau cendawan maka dilakukan pengendalian dengan fungisida Benlate 2% atau disesuaikan dosis anjuran. Untuk pengendalian skala kecil akibat serangan hama penyakit tertentu dapat dilakukan dengan memotong dan membuang bagian tanaman (cabang, ranting atau daun yang terserang). Pengendalian secara preventif sangat dianjurkan.
e. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik sebaiknya dilakukan pemupukan NPK 150 gram/lubang tanam serta penambahan pupuk kandang 1-2 kg/lubang tanam yang pemberiannya disesuaikan jadwal waktu penggemburan-pembumbunan tanaman.

2. Pemeliharaan lanjutan
a. Penyiangan gulma, penggemburan-pembumbunan, proteksi hama dan penyakit dilakukan sebagaimana pemeliharaan pertama
b. Pemupukan lanjutan dosisnya dapat ditingkatkan. Idealnya pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi penampakan tanaman di lapangan dan hasil analisis tanah sebelum penanaman. Pemupukan tanaman dewasa dilakukan dengan membuat parit selebar mata cangkul disekeliling tajuk tanaman, pupuk diberikan merata dan ditimbun ulang dengan tanah.
c. Pemberantasan gulma benalu harus rutin dilakukan untuk menghindari kerusakan pohon kemenyan di lapangan.
d. Pengaturan naungan dilakukan bertahap, sehingga tajuk tanaman dewasa optimal mendapatkan cahaya penuh sedangkan bagian batang kemenyan relatif lebih sedikit.

D. Penyadapan dan Pemanenan Getah
Pohon kemenyan sudah bisa disadap pada umur 7 Tahun dan dalam satu tahun bisa dilakukan penyadapan 1 sampai 2 kali, yaitu di bulan Juni sampai September, menurut pengalaman petani kemenyan di Tapanuli (Sumatera Utara) ciri-ciri pohon kemenyan yang sudah siap disadap adalah ketika mencukil kulit batangnya akan terbuka dengan mudah dan sebaliknya. Hal ini diduga berkaitan erat dengan musim berbuah dari pohon kemenyan. Proses penyadapan dan pemanenan getah sebagai berikut :

1. Penggurisan
Sebelum dilakukan penyadapan kulit batang pohon dibersihkan dari kotoran lumut atau kulit tua yang mengelupas menggunakan pisau khusus yang dinamakan pengguris (Tapanuli).

2. Pencungkilan Kulit
Pembuatan takik sadap tidak sama seperti pada kegiatan penyadapan Pinus, Damar Mata Kucing ataupun Karet, maka pada kegiatan penyadapan kemenyan disebutnya ”pencungkilan kulit”. Hal ini didasarkan pada proses terbentuknya ”getah kemenyan” bukan pada jaringan kayu (Xylem) melainkan antara kulit dan xylem. Kegiatan pencungkilan ini menggunakan ”panukul” (pisau mirip obeng). Ukuran kulit yang dicungkil lebar 2 cm dan panjang 2-4 cm. Setelah kulit terkuak kemudian ditutupkan kembali dengan cara dipukul-pukul menggunakan panukul.

3. Pemanenan Getah.
Dalam satu kali musim penyadapan dapat dilakukan minimal 2 kali pemanenan getah. Getah sudah dapat dipanen setelah 3 bulan dari pencungkilan kulit dengan cara mengerat (mencungkil) kulit dari batang pohon. Getah hasil proses patogenis ini berada dibagian dalam kulit berbentuk lempengan berwarna putih. Proses terbentuknya getah yang tidak terekspos ke udara (di balik kulit) ini akan menghasilkan getah kemenyan kualitas I (komoditi ekspor). Menurut laporan Edison dkk. (1983) dalam Totok Kartono Waluyo, dkk. (2006) kemenyan seperti itu di eksport ke Prancis, Taiwan, Jepang dan Singapura. Pemanenan berikutnya dilakukan 3 bulan setelah pemanenan pertama, yaitu mengumpulan sisa-sisa getah yang meleleh sepanjang batang pohon ataupun dibekas kowakan yang telah diambil getahnya 3 bulan sebelumnya. Tentunya kemenyan yang dihasilkan dari pemanenan kedua ini kualitasnya lebih rendah dari kemenyan pemanenan pertama, karena baik besaran lempengan maupun warnanya sudah berubah karena terjadi interaksi dengan udara bebas. Untuk lebih jelasnya mengenai kualitas, karakteristik dan harga kemenyan ditingkat eksportir di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel berikut:


VI. PENUTUP

1. Kemenyan ternyata penggunaannya tidak hanya sebatas untuk kegiatan ritual keagamaan, perdukunan  atau  yang berbau mistis lainnya, tapi juga bisa untuk kepentingan yang lebih luas lagi seperti untuk bahan baku obat-obatan, bahan pengawet makanan sampai untuk bahan kosmetika dan harganya cukup menjanjikan.
 2. Melihat nilai ekonomi yang dihasilkan dan kesesuaian tempat tumbuh, kemenyan bisa dijadikan sebagai salah satu tanaman alternatif pengembangan hutan rakyat di Pulau Jawa.
3. Mengingat banyaknya lokasi hutan rakyat, tanaman kemenyan sesuai untuk ditanam di daerah penyangga yang merupakan daerah tangkapan air, maka tanaman ini selain dapat berfungsi sebagai tanaman produksi hutan rakyat yang lestari sekaligus juga sebagai tanaman konservasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Mata Kucing yang Diekspor. Forest Culture. Vol. 1. Nomor 3. Oktober 2006.

Anonim, 2002. Indonesian Heritage. Tetumbuhan. p. 70-71

Hoesen DSH. 2001. PROSEA. Plant Resources of South-East Asia 18. Plants Producing Exudates. P. 113-119.

Jayusman, 2006. Peran Media Dasar dan Konsentrasi Hormon Pertumbuhan Terhadap Induksi dan Multiplikasi Tunas Pucuk Kemenyan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol.3. No. 1. Maret 2006 p.1-10. 

Jayusman, S. Hidayat. dan IGN.O. Suparta. 2006. Mengenal dan Membudidayakan Pohon Kemenyan (Styrax  spp.). Leaflet Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera.

Sangat.MH, EAM. Zuhud dan EK. Damayanti. 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia (Etnofitomedika). Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Waluyo TK., A. Badrunasar dan Nuryana. 2001. Kemungkinan Pemanfaatan Kayu Kemenyan Sadapan. Prosiding Optimalisasi Nilai Sumberdaya Hutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

Waluyo TK., P.Hastoeti dan T. Prihatingsih,2006. Karakteristik Dan Sifat Fisiko-Kimia Berbagai Kualitas Kemenyan di Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 24 No. 1, Februari 2006.

Post Top Ad

Your Ad Spot