MENJAGA KEANEKARAGAMAN JENIS HUTAN RAKYAT : MENJAGA KELESTARIAN HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, September 29, 2017

MENJAGA KEANEKARAGAMAN JENIS HUTAN RAKYAT : MENJAGA KELESTARIAN HUTAN RAKYAT

Oleh:
Aditya Hani
(Makalah ini telah di terbitkan pada Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)


ABSTRAK
Besarnya kebutuhan kayu bagi industri di Jawa Barat ini merupakan peluang bagi masyarakat yang mempunyai tanaman kayu-kayuan maupun untuk memulai menanamnya. Kondisi ini juga dapat menjadi ancaman bagi kelestarian hutan rakyat. Hal ini dapat dibuktikan dengan 1) semakin tingginya tingkat penebangan dihutan rakyat 2) semakin kecilnya ukuran diameter pohon yang ditebang, 3) jenis-jenis yang sebelumnya tidak dimanfaatkan oleh industri kayu, saat ini sudah mulai banyak dimanfaatkan seperti jenis kayu randu, jenis buah-buahan (rambutan, mangga dan nangka).  Ancaman terhadap keanekaragman jenis maupun beberapa jenis di hutan rayat terjadi karena beberapa sebab antara lain 1) kebutuhan akan satu jenis kayu tertentu yang tidak diimbangi dengan upaya penanaman kembali. 2) teknik budidaya belum dikuasai dengan baik. Peluang menjaga keanekaragaman hutan rakyat saat ini cukup terbuka karena semakin besarnya peluang setiap jenis penyusun hutan rakyat menjadi jenis yang bernilai ekonomi tinggi. Apabila ditunjang dengan penelitian mengenai teknik budidaya dan pemuliaan maka diharapkan kendala dari jenis-jenis lokal yang sebelumnya mempunyai umur panjang dapat diperpendek daurnya, sehingga masyarakat semakin ternarik untuk membudidayakan

Kata kunci : Hutan rakyat, kelestarian, jenis-jenis lokal

PENDAHULUAN
Hutan rakyat saat ini sudah menjadi primadona bagi pemenuhan kebutuhan kayu nasional khususnya di Jawa Barat. Produksi kayu yang berasal dari kawasan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani baru memnuhi kebutuhan kayu sebesar 250.000 m3/tahun. Sementara itu kebutuhan industri kayu di Jawa Barat mencapai 5,3 juta m3/tahun. Untuk memenuhi kekurangan tersebut maka dipasok kayu yang berasal dari hutan milik/hutan rakyat sebesar 3 juta m3/tahun, sedangkan sisa kekurangannya berasal dari luar Jawa (Sudarna, 2007). Besarnya kebutuhan kayu bagi industri di Jawa Barat ini merupakan peluang bagi masyarakat yang mempunyai tanaman kayu-kayuan maupun untuk memulai menanamnya. Kondisi ini juga dapat menjadi ancaman bagi kelestarian hutan rakyat. Hal ini dapat dibuktikan dengan 1) semakin tingginya tingkat penebangan dihutan rakyat 2) semakin kecilnya ukuran diameter pohon yang ditebang, 3) jenis-jenis yang sebelumnya tidak dimanfaatkan oleh industri kayu, saat ini sudah mulai banyak dimanfaatkan seperti jenis kayu randu, jenis buah-buahan (rambutan, mangga dan nangka).  Sementara itu luasan hutan rakyat di Jawa Barat semakin tahun semakin berkurang karena dialih fungsikan untuk kepentingan lain seperti untuk industri, perumahan, pertanian dan sarana umum. 
Ancaman kelestarian pada hutan rakyat tidak hanya pada luasan lahan dan tegakan pohonnya tetapi sudah mengarah pada kelestarian jenis-jenis pohon yang tentu saja merupakan ancaman kepada sumberdaya genetik hutan. Cepatnya laju penebangan hutan telah berakibat pada kerusakan sumber daya hutan baik dihutan negara maupun di hutan rakyat. kerusakan terbesar tidak hanya pada hilangnya tegakan pohon tapi yang lebih penting adalah hilangnya sumberdaya genetik karena tak ternilai harganya (hadiyan, 2005). Degradasi potensi hutan ini mengganggu program pemuliaan pohon untuk menghasilkan bibit unggul dengan sifat yang diinginkan sulit dicapai apabila variasi genetik yang luas tidak tersedia, atau bahkan jenis target telah punah (Hakim, Lukman, 2006). 
Ancaman terhadap keanekaragman jenis maupun beberapa jenis di hutan rayat terjadi karena beberapa sebab antara lain 1) kebutuhan akan satu jenis kayu tertentu yang tidak diimbangi dengan upaya penanaman kembali. Pada umumnya masyarakat masih mengandalkan permudaan alam sementara itu  permudaan alam sudah tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan penebangan serta perubahan kondisi lingkungan tempat tumbuh sehingga permudaan alam mulai menuru. Di Sukabumi jenis surian (Toona sinensis), merupakan jenis yang mulai sulit dicari. Padahal sebelumnya Sukabumi diketahui mempunyai potensi pohon surian yang baik. Adanya perusahaan kayu di daerah Bogor yang mengkhususkan pada jenis surian sebagai bahan bakunya menyebabkan penebangan jenis surian semakin cepat. Sementara itu masyarakat belum banyak melakukan usaha penanaman surian secara swadaya. Pada umumnya masyarakat lebih menyukai menanam kembali dengan jenis-jenis yang cepat tumbuh seperti sengon (Paraserianthes falcataria) yang dapat dipanen pada umur 4 tahun sementara surian mencapai 30 tahun. Bibit surian biasaya diperoleh dari bantuan kegiatan gerakan rehabilitasi lahan (Gerhan) maupun dari anakan alam yang dibiarkan tumbuh maupun dicabut untuk dipindahkan. Demikian juga dengan tanaman sungkai (Peronema canescens) yang merupakan salah satu jenis kayu indah yang mulai sulit diperoleh karena adanya eksploitasi yang berlebihan serta keengganan masyarakat menanam secara swadaya karena alasan waktu tunggu untuk memanen. 2) teknik budidaya belum dikuasai dengan baik. Pohon  Ganitri (Elaeocarpus sphaericarpus dan E. ganitri) merupakan jenis yang kayunya dimanfaatkan untuk pembuatan gitar dan piano, sementara bijinya mempunyai harga yang cukup mahal untuk perlengkapan ibadah di India saat ini mulai sulit dicari. Sehingga industri gitar dan piano mulai mencari alternatif bahan pengganti ganitri. Mulai langkanya ganitri salah satunya disebabkan teknik pembibitan belum berkembang dengan baik. Selama ini kegiatan pengadaan bibit masih mengandalakan dari anakan alam karena pembibitan dengan menggunakan biji masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Kosasih dan S. Bustomi melaporkan bahwa perkecambahan biji secara konvensional baru menunjukkan tingkat keberhasilan 30%-40% dalam waktu 8-12 bulan. 3) sulitnya mendapatkan bibit jenis-jenis tanaman lokal. Berbeda dengan tanaman sengon yang mudah diperoleh bibitnya serta dengan harga yang terjangkau (Rp 250,00 – Rp 500,00). Hampir setiap persemaian pengusaha bibit tanaman kehutanan menyediakan jenis sengon karena kemudahan dalam memperoleh benih maupun pembibitannya. Sehingga dapat dikatakan jenis sengon merupakan jenis yang mulai menginvansi jenis-jenis lain di hutan rakyat Jawa barat.
Kepunahan suatu spesies juga merupakan suatu proses alami, karena sebagai sebuah proses alami, kepunahan berada dibelakang evolusi. Dengan kata lain : evolusi menghasilkan lebih banyak bentuk-bentuk baru dari pada bentuk-bentuk lama yang punah. Dan seluruh proses itu berlangsung lambat, sehingga cukup waktu untuk keseimbangan alam menyesuaikan diri setahap demi setahap. Manusia telah mempercapat kepunahan berbagai spesies tanpa mampu mempercepat evolusi (C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006).

KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA HUTAN RAKYAT

Hasil inventarisasi pada hutan rakyat di daerah Rancah kabupaten Ciamis yang dilaksanakan tahun 2007, mencatat jenis-jenis antara lain: heras (Vitex sp.), kihauan, cangcaratan, tisuk, rasamala, kanyere, ganitri, brenuk, kibesi, cisegel, kihujan, putat, kicengkeh, pulai, simpur, waru, disamping juga tanaman penghasil buah-buahan (duku, petai, rambutan, mangga, manggis, langsat, kokosan dan lain-lain). Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis, diketahui jenis kayu perdagangan hutan rakyat yang utama ditanam di adalah sengon, mahoni, puspa dan huru. Sedangkan jenis perkebunan dan buah-buahan yang banyak ditanam adalah kelapa, cengkeh, pete dan jengkol. Sedangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu bambu dan jenis empon-emponan (Rachman et. al, 2007). 
Adanya berbagai jenis di hutan rakyat menunjukkan bahwa hutan rakyat seringkali lebih mirip kondisi suatu hutan dibandingkan dengan hutan produksi yang dikelola secara monokultur. Keanekaragaman tersebut tentu saja perlu dilindungi agar hutan rakyat tetap dapat berfungsi baik secara ekologis, ekonomis dan lingkungan. (Noerdjianto et all., 2005), bentuk pelestarian yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat  mencakup :
a. Melindungi setiap jenis hayati supaya tidak punah sehingga tetap daat mendukung kehidupan manusia.
b. Melindungi setiap jenis hayati supaya tidak punah dan tetap dapat hidup di alam sebagaimana mestinya.
c. Melindungi seluruh jenis hayati supaya tetap dapat berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan dan kelestaria ekosistem.
d. Melindungi jenis hayati yang memiliki potensi menghasilkan devisa yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
e. Mengatur supaya setiap jenis hayati yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakt dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan melalui pemanenan secara lestari dan berkelanjutan. 
f. Melindungi setiap jeis hayati supaya tidak punah mengingat setiap jenis hayati memiliki kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan kemudian hari.

Kelestarian keanekaragaman jenis merupakan salah satu sarat bagi kelestarian jenis. Karena dalam satu ekosistem hutan terjadi hubungan saling terkait dan ketergantungan baik langsung maupun tidak langsug. Bentuk interaksi langsung misalnya jenis-jenis tanaman toleran membutuhkan jenis tanaman intoleran karena jenis tanaman toleran tidak tahan terhadap sinar matahari langsung atau dengan intensitas tinggi terutama pada saat permudaannya. Bentuk interaksi tidak langsung dapat berupa adanya  serangga penyerbuk salah satu tanaman tersebut bersarang pada jenis tanaman yang satunya. Keanekaragaman jenis bermanfaat pada terciptanya kondisi hutan yang sehat. Menurut Soekotjo (2004) hutan yang sehat memiliki ciri-ciri dari sudut pandang lingkungan adalah 1) hutan dalam kondisi puncak suksesi (climaks), 2) tajuknya berstrata banyak, memiliki gap yang relatif luas, dan berkelas umur tidak sama, 3) jenis langka dan specialist merupakan indikator bagi hutan yang sehat. 
Penanaman hutan rakyat yang mulai mengarah kondisi monokultur mulai dirasakan dampaknya yaitu munculnya hama dan penyakit yang telah menimbulkan kerugian secara ekonomis disamping juga mengancam kelestarian hutan rakyat tersebut. Berkurangnya jenis-jenis penyusung hutan rakyat dapat berakibat sebagai berikut : 1) hilangnya diversitas genetik pada level populasi maupun spesies sehingga semakin rentan jenis tersebut terhadap perubahan gradien ekologi yang tajam. 2) berubahnya struktur genetik intra-interpopulasi yang berdampak kepada keberadaan atau eksistensi populasi atau jenis tersebut. 3) meningkatnya kawin kerabat (inbreeding) yang menghasilkan keturunan yang relatif lebih lemah (Anonim, 2007). 
Pada jenis primadona hutan rakyat di Jawa Barat yaitu sengon dan jati, Mile et al. (2006) melaporkan bahwa Sengon di wilayah Ciamis dan Banjar ada serangan hama sengon seperti Eurema (Eurema spp.), Ulat kantong (Pterome plagiophelps), Penggerek pucuk (Zeuzera coffeae), Kutu dompol (Ferisia firgata). Tingkat serangan akan semakin meningkat pada saat musim kemarau dan telah menimbulkan kerugian berupa terhambatnya pertumbuhan tanaman sengon muda serta penurunan kualitas tegakan karena bentuk batang yang tidak baik. di Kediri dan sebagian besar Jawa Timur dan Jawa Tengah dilaporkan tanaman sengon telah diserang upas kayu yang menimbulkan kematian dalam jumlah sangat besar. Penanganan dari masalah tersebut untuk wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah disarankan untuk moratorium penanaman sengon. Pada tanaman jati sudah mulai mengalami masalah yang cukup serius dengan adanya serangan hama dan penyakit salah satunya yang paling menonjol di wilayah Jawa Barat adalah hama daun dari jenis Pyrausta machaeralis (Lepidoptera, Pyralidae) dan Hyblaea puera (Lepidoptera, Hyblaedae) (T.W. Teguh Hardi, 2004).
Peluang menjaga keanekaragaman hutan rakyat saat ini cukup terbuka karena semakin besarnya peluang setiap jenis penyusun hutan rakyat menjadi jenis yang bernilai ekonomi tinggi. Apabila ditunjang dengan penelitian mengenai teknik budidaya dan pemuliaan maka diharapkan kendala dari jenis-jenis lokal yang sebelumnya mempunyai umur panjang dapat diperpendek daurnya, sehingga masyarakat semakin ternarik untuk membudidayakan. 


UPAYA MENGKONSERVASI POHON INDUK

Berdasar hasil pengamatan di Desa Pasir Batang, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, diketahui bahwa pada masa pemerintahan Belanda sampai dengan tahun 1942 ketika jepang masuk ke Indonesia, di daerah tersebut diberlakukan aturan mengenai larangan menebang pohon induk. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan. Sehingga pada saat itu sangat mudah dijumpai pohon-pohon dengan diameter yang sangat besar. Selain bertujuan menjaga kelestarian hutannya perlindungan terhadap pohon induk juga bertujan menjaga kelestarian jenis dari kepunahan. Harapannya dengan adanya pohon induk maka nantinya secara alami hutan akan mampu melakukan permudaan sendiri. Anakan alam dari pohon induk tidak hanya dijumpai disekitar pohon induknya tetapi seringkali dijumpai dalam jarak yang cukup jauh tergantung pada jenis buah/biji serta media pemencarannya. Sementara anakan alam yang ada dipohon induk selain dimanfaatkan oleh pemilik lahan juga oleh orang lain dengan cara dicabut ataupun biji dari pohon induk tersebut yang menyebar terbawa angin atau hewan dan tumbuh secara alami diluar batas kepemilikan lahan dimana pohon induk tersebut berada. 
Namun saat ini untuk menemukan pohon dengan ukuran besar sangat sulit, dari hasil inventarisasi hutan rakyat yang dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan ciamis tahun 2007, ditemukan pohon induk sengon yang berdiameter lebih dari 1 m, yang hanya dapat dipeluk oleh tiga orang dan dapat diperkirakan usia pohon tersebut sudah cukup tua. Disekitar pohon tersebut kita dapat dengan mudah menemukan anakan alam sengon sampai radius beberapa ratus meter. Hanya dengan membiarkan anakan alam dapat tumbuh dengan baik maka daerah tersebut banyak dijumpai pohon sengon yang tumbuh secara alami. perlakuan yang diberikan oleh masyarkaat juga cukup sederhana yaitu dengan menjarangi jumlah anakan dengan cara dicabut kemudian ditanam di lahan yang masih kosong. Di Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ditemukan 2 pohon surian berukuran diameter diatas 65 cm, yang merupakan pohon induk. Di sekitar pohon induk tersebut dengan mudah kita menemukan anakan alamnya dari mulai tingkat semai sampai pohon. Masyarakat di sekitar desa tersebut terdapat kelompok tani hutan rakyat yang mengusahakan bibit tanaman kehutanan sehingga setiap tahunnya memanfaatkan biji dari pohon tersebut untuk disemaikan. Namun saat ini keberadaan pohon induk tersebut terancam karena pemiliknya mempunyai maksud untuk menebangnya untuk membangun rumah. Bentuk ancaman lain yaitu berasal dari para pengusaha kayu yang selalu datang kepemili pohon induk agar pohonnya dapat dibeli untuk ditebang. Bagi pemilik yang mempunyai kebutuhan mendesak tawaran tersebut tentu saja dengan mudah diterima, namun bagi pemilik yang walaupun tidak mendesak kebutuhannya seringkali pada akhirnya memilih menujual pohon tersebut karena sudah bosan didatangai para pengusaha kayu. Oleh karena itu upaya konservasi jenis melalui kegiatan konservasi ohon induk mutlak harus dilakukan. 
Kriteria seleksi pohon induk untuk sumber benih mengecu cara simpson (1998) dalam Jayusman & W.S. Manik (2005), yaitu memilih pohon dengan fenotipe baik, memiliki tinggi total dan tinggi bebas cabang optimal, batang lurus-silindris dengan diameter besar, pohon sehat (tidak terserang hama penyakit). Keberadaan pohon induk dari setiap jenis khususnya jenis endemik perlu mendapat perhatian khusus. Bentuk perhatian tersebut dapat dilakukan dengan membuat sebuah aturan mengenai perlindungan pohon induk. Perlindungan tersebut dapat berisi larangan menebang, aturan mengenai pengambilan buah/biji atau anakannya, penerapan teknik silvikultur dengan cara pemeliharaan, serta adanya insentif bagi pemilik pohon induk tersebut sehingga dapat memperoleh manfaat materi tanpa harus menebang. 
Keberadaan pohon induk selain berfungsi menjaga kelestarian hutan rakyat juga untuk menjaga kualitas anakan pohon yang dihasilkan. Karena masyarakat menjadi tahu asal-usul anakan yang digunakan serta kualitas dari pohon induknya. Menanam pohon dengan menggunakan benih yang tidak jelas asal-usulnya akan memiliki resiko tinggi terhadap kegagalan tanaman. Benih dengan sifat yang kurang baik walaupun ditanam dilahan yang baik dengan teknik penanaman yang tepat, pemeliharaan dan perlindungan yang cukup, biasanya akan selalu menghasilkan pertanaman hutan yang kurang memuaskan (Naiem, 1996 dalam Hadiyan 2005).
Untuk lebih menjaga kelestarian hutan rakyat maka jumlah pohon induk dapat disesuaikan dengan jenis dan luasan hutannya. Kesesuaian jenis dikaitkan dengan karakter buah/biji jenis tersebut apakah dapat berpindah jauh karena ukurannya yang kecil maupun bersayap sehingga mudah dibawa angin atau jenis-jenis yang karena ukuran buah/bijinya tidak dapat berpindah ketempat yang jauh. Apabila pada hutan alam maka jumlah pohon induk yang harus ditingalkan minimal 25 pohon, sebagai usaha menjamin keberhasilan permudaan alamnya karena campur tangan manusia sangat kecil. Untuk hutan rakyat jumlah pohon induk dapat lebih sedikit dari pada hutan alam karena di hutan rakyat campur tangan manusia sangat tinggi. Seperti halnya pada hutan alaminya antara individu dari spesies yang sama selalu ada jarak. Salah satu alasannya adalah kesempatan yang memungkinkan biji dapat berkecambah serta adanya tempat tumbuh yang cocok. Jarak tiap individu dikaitkan dengan masing-masing jenis sesuai dengan tipe buah dan sarana untuk memencarkan buah/bijinya (C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006).
Penunjukkan pohon induk tidak hanya terhadap jenis-jenis komersial padaa saat ini, namun terhadap semua jenis yang ada terutama jenis-jenis lokal/endemik. Setelah dilakukan penunjukkan terhadap pohon induk tersebut maka selanjutnya dilakukan kegiatan pemeliharaaan. Bentuk kegiatan pemeliharaan pohon induk dapat dilakukan sebagaimana pemeliharaan sumber benih pada umumnya meliputi (Leksono, 2003) : 
1. Pemeliharaan dilakukan untuk memacu pertumbuhan pohon, bunga dan buah serta menjaga kesehatan tegakan dari serangan hama dan penyakit. Pemeliharaan meliputi : penyiangan, pemupukan, penaggulangan hama penyakit serta stimulais pembungaan.
2. Penyiangan dilakukan secara teratur dengan membersihkan semak dan belukar untuk mengurangi persaingan hara dan air.
3. Pemupukan dilakuakn dengan pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan nutrisi bagi pohon dimana tumbuh. 
4. Stimulasi pembungaan jga dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti : pemberian hormon, pelukaan dan pemangkasan cabang.
5. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan pada saat terjadi tanda-tanda serangan hama penyakit.
6. Pencegahan terhadap bahaya kebakaran. 

\
PENUTUP
Pembangunan hutan rakyat tidak hanya pada peningkatan produktivitas namun juga upaya konservasi pada tingkat populasi maupun tingkat jenis sehingga sumberdaya genetik hutan dapat terjaga. Karena pada dasarnya nilai ekonomi suatu jenis pohon yang pada saat ini belum diketahu dimungkinkan suatu saat dapat bernilai ekonomi tinggi. Aturan mengenai perlindungan terhadap kelestarian tersebut sebaiknya berasal dari pemerintah terutama pada tingkat desa karena yang lebih mengetahui mengenai potensi sumberdaya hutannya.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Degradasi Sumberdaya Genetik Jenis Ramin dan Upaya Penyelamatannya. NewsLetter APFORGEN. Edisi 4 Tahun 2007. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor.

C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006. Flora Pegunungan Jawa. Puslit Biologi LIPI. Bogor. 

Sudarna, Anang. 2007. Membangun Kehutanan Jawa Barat Untuk Kemakmuran dan Penyangga Kehidupan. Makalah Disampaikan dalam Pekan Hutan Rakyat II Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Ciamis.

Hadiyan, Yayan. 2005. Sumber Benih Milik Masyarakat : Perlukah Kita Pikirkan?. Warta P3BPTH. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta. 

Hakim, lukman. 2006. Pembangunan Plot konservasi In-Situ Shorea penghasil Tengkawang Kerjasama Puslitbang Hutan Tanaman dan PT. Suka jawa Makmur, kalimantan Barat. Warta P3HT. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor. 

Jayusman & W.S. Manik. 2005. Pengujian Nilai Perkecambahan Surian Berdasarkan Daerah Sumber Benih. Wana Benih. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor. 

Kosasih, A., Syaffari & S. Bustomi. 2004. Ganitri. Elaecocarpus sphaericarpus Schum & E. Ganitri. Warta Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Leksono, Budi. 2003. Teknik Penunjukan dan Pembangunan Sumber Benih. Informasi Teknis. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Mile, Y., A. Hani, E. Suhaendah dan B. Dendang. 2006. Laporan Penelitian Pengembangan Pengendalian Hama Penyakit Sengon. Tidak Dipublikasikan. Loka Litbang Hutan Monsoon. Ciamis.

Noerdjito, Mas, I. Maryanto, S.N. Prijono, E.B. Waluyo, R. Ubaidillah, Mumpuni, A.H. Tjakrawidjaja, R.M.Marwoto, Heryanto, W. A. Noerdjto, H. Wiriadinata. 2005. Kriteria Jenis Hayati Yang Harus Dilindungi Oleh dan Untuk Masyarakat Indonesia. Pusat Penelitian Biologi LIPI & World Agroforestry Centre-ICRAF. Bogor. 

Rachman, Encep, A. Hani, A. Sudomo, B. Dendang dan Rusdy. 2007. Teknik Inventarisasi Jenis Kayu  Pada Hutan Rakyat. Makalah Disampaikan pada Seminar Pekan Hutan Rakyat II. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Tanggal 30-31 Oktober 2007. Ciamis.

T.W, Hardi Teguh. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman jati. Buletin Surili. Volume 30. Halaman 67. Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Bandung.



Post Top Ad

Your Ad Spot