HUTAN RAKYAT YANG TERUS MERAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, September 27, 2017

HUTAN RAKYAT YANG TERUS MERAKYAT

Oleh:
Dian Diniyati
(Makalah ini telah di terbitkan pada Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan, Ciamis)


ABSTRAK
Permintaan kayu rakyat yang semakin meningkat tidak berbanding lurus  dengan kesejahteraan petaninya, banyak hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi, diantaranya yaitu tehnik budidaya yang dilakukan oleh petani merupakan teknologi warisan, pemanenan dan penjualan dilakukan karena adanya kebutuhan sehingga di isitilahkan dengan daur butuh. Hal ini tercermin dari alur pemasaran kayu rakyat sangat sederhana, akan tetapi keuntungan yang diperoleh petani sangat kecil dibandingkan lembaga-lembaga pemasaran lainnya. Dengan demikian nilai ekonomi yang dihasilkan dari hutan rakyat belum dapat dijadikan sebagai mata pencaharian utama bagi pemiliknya.

Kata kunci: kayu rakyat, kesejahteraan, petani.

I. PENDAHULUAN
Pembangunan hutan rakyat dewasa ini semakin berkembang, ini terbukti dengan banyaknya program pembangunan hutan rakyat yang melibatkan banyak pihak, seperti pembangunan hutan rakyat bekerja sama dengan Perum Perhutani, Kodim, pemerintah dll (Anonim, 8 November 2003). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kayu yang berasal dari hutan rakyat sangat signifikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kayu, seperti diketahui kebutuhan kayu untuk industri meubel dan kayu saat ini sekitar 4,5 juta meter kubik, sedangkan bahan baku yang tersedia hanya sekitar 2,5 juta meter kubik. ( Anonim,  16 Maret 2005).
Namun sayangnya hingar bingar tentang kayu rakyat ini belum dapat mendongkrak kesejahteraan petaninya, masih banyak petani yang belum dapat menikmati keuntungan dari hasil hutan rakyatnya.  Ini disebabkan karena petani umumnya berada pada posisi yang lemah, karena keterbatasan modal, teknologi, sumberdaya manusia dan informasi pasar tentang kayu rakyat, akhirnya keuntungan dinikmati oleh pihak lain, dan petani tetap berada pada pihak yang tidak diuntungkan. Dengan situasi yang demikian maka tidaklah heran kalau banyak hutan rakyat yang berubah fungsinya menjadi tanaman yang jauh lebih komersial, untuk mencegah hal ini terjadi maka perlu adanya kebijakan dari pemerintah yang mendukung posisi petani.  Tulisan ini tidak membahas tentang kebijakan yang bagaimana  dapat meningkatkan kesejahteraan petani hutan rakyat, akan tetapi memberikan gambaran tentang kondisi hutan rakyat  yang dikelola oleh rakyat dengan tujuan agar kebijakan yang akan dihasilkan nantinya benar-benar dibutuhkan oleh rakyat. 


II. KONDISI HUTAN RAKYAT
1. Budidaya  yang masih merakyat.
Budidaya hutan rakyat yang dilaksanakan masih dalam taraf sederhana yaitu  secara tradisional menurut teknologi yang diketahuinya secara turun temurun. Sehingga tidaklah mengherankan kalau hasilnya belum mencapai maksimal, ini terbukti dengan diameter dan umur tanaman hutan sangat bervariasi dan rendah. Kondisi ini terjadi karena petani melalukan perkembangbiakan tanaman kehutanan seperti : sengon, mahoni, afrika masih secara sederhana  dengan menggunakan  trubusan, bibit dan anakan. Perkembangbiakan tanaman ini biasanya berasal dari tanaman induk yang ada di lahannya, dimana tanaman induk ini tidak melewati seleksi kualitas, sehingga tanaman yang dihasilkannya pun tidak jelas kualitasnya. Seperti perkembangan biakan tanaman sengon yaitu melalui biji, yang berterbangan dari pohon induknya kemudian tumbuh menjadi bibit, selanjutnya karena seleksi alam akan menjadi tanaman sengon, adakalanya proses tersebut berlangsung secara natural tanpa adanya bantuan dari petani. Perkembanganbiakan tanaman sengon yang berasal dari biji yang dilakukan oleh petani seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini: 
Demiki juga dari segi penanaman tidak dilakukan serentak sehingga umur tanaman sangat bervariasi. Petani sangat jarang sekali melakukan perawatan baik itu pemupukan, penjarangan dan pemeliharaan lainnya, kalaupun tanaman akan dijarangkan yaitu tanaman yang sudah besar diameternya karena untuk dijual. Pola tanaman yang dilakukan umumnya adalah campuran: tanaman pangan, buah, obat dengan jenis tanaman lokal spesifik.  Selain itu jenis tanaman yang ditanaman sangat tergantung kepada informasi pasar yang diterima oleh petani, sehingga tidaklah heran apabila dalam satu hamparan terdapat beberapa jenis tanaman kayunya.

2. Pemanenan dan Penjualan yang dilakukan oleh Rakyat
Kegiatan pemanenan pada kayu rakyat diistilah dengan daur butuh, ini terjadi karena kayu-kayu tersebut diperlakukan oleh petani sebagai tabungan, yang dapat dipergunakan bilamana dibutuhkan dan  jarang sekali kayu rakyat dipanen karena  masa tebangnya.  Selain itu banyak juga kayu rakyat yang ditebang karena diserang hama penyakit, pada kondisi ini biasanya petani tidak merasa sayang terhadap tanamannya apabila terserang maka akan ditebang seluruhnya. Sistem penebangan yang biasa dilakukan oleh petani terbagi atas: (1). Sistem tebang habis, yaitu semua jenis dan diameter tanaman kayu ditebang habis. (2) Sistem seleksi, yaitu hanya tanaman yang berdiameter besar yang ditebang. Sedangkan sistem penjualannya yaitu: (1).  Petani yang melakukan penebangan kayu lalu diangkut ke pinggir jalan dan siap untuk dijual. (2). Pembeli yang melakukan penebangan terhadap kayu-kayu yang dijual. 
Sedangkan sistem pembayaran yang sering dilakukan diantaranya (1).  dibayar secara kontan, yaitu petani menjual kayunya dan langsung dibayar pada saat dilakukan transaksi; dan (2). Meminjam uang dahulu (dibayar terlebih dahulu), yaitu pembeli membayar terlebih dahulu kepada petani sedangkan kayunya belum ditebang.  Petani menjual hasil hutan rakyat kepada pedang yang ada di desa yang sudah dikenalnya, sehingga memudahkan untuk bertransaksi, adakalanya sistem penjualan yang dilakukan karena ada ikatan persaudaraan.

3. Pemasaran yang merakyat
Alur pemasaran kayu rakyat pada umumnya cukup sederhana yaitu dimulai dari tingkat petani sebagai produsen selanjutnya ditampung oleh pengepul tingkat desa yang kemudian dijual ke industri (meubel) dan terakhir yaitu konsumen. Dari hasil penelitian Achmad B di Kab Garut (2005) membuktikan bahwa margin keuntungan terbesar bukan dimiliki petani tetapi oleh pengepul, penggergajian dan industri (meubel).  Hasil kajian tsb mengindikasikan bahwa penerimaan margin keuntungan terbesar diperoleh industri (meubel) yakni antara 20 – 30 %, sedangkan petani hanya menerima 6 – 12 %. Selanjutnya, dari sistem tataniaga yang berjalan industri memperoleh bagian terbesar dari harga yakni 37.5 % untuk jati dan 57.33 % untuk sengon.  Dari alur pemasaran tersebut ternyata petani tidak mendapat keuntungan yang paling banyak dan ini tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan oleh petani, dimana untuk mendapatkan keuntungan tersebut petani harus menunggu 4 – 6 tahun sedangkan pengumpul dalam hitungan hari bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Dengan kondisi yang demikian maka perlu adanya intervensi dari pemerintah untuk memperbaiki alur pemasaran ini, yang dapat meningkatkan posisi petani sehingga sejajar dengan para pengepul.

4. Nilai ekonomi yang benar-benar rakyat
Pola tanaman hutan rakyat yang dilakukan oleh petani adalah pola campuran, dengan harapan perolehan hasilnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan seperti pendapatan mingguan, bulanan dan tahunan.  Walaupun dengan kondisi yang demikian hasilnya  belum dapat dijadikan sebagai pendapatan yang utama bagi perekonomian keluarga petani. Dari beberapa hasil kajian Diniyati D, dkk (2003 dan 2004) diketahui kontribusi pendapatan hasil hutan rakyat untuk Kabupaten Cilacap di Desa Boja Rp. 273.400/bln (28,88%) dengan total pengeluarannya sebesar Rp. 550.530/bln., sedangkan di Desa Hanum sebesar Rp. 232.020/bln (39,91%) dengan total pengeluaran sebanyak Rp. 472.560/bln. Kontribusi ekonomi hasil hutan rakyat di Kabupaten Kuningan adalah sebagai berikut: di Desa Dukuh Dalam sebesar 37,0 % (Rp. 301.000) sisanya berasal dari sumber pendapatan lain sebesar 63% dengan total pengeluaran Rp. 599.035 dan di Desa Sukarasa sebesar 44 % (Rp. 163.700) dan sisanya berasal dari sumber pendapatan lain sebesar 56% dan total pengeluarannya Rp. 372.030. 
Walaupun sumbangan ekonomi dari kegiatan hutan rakyat cukup tinggi akan tetapi masih belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan petani.  Namun demikian kegiatan ini masih menjadi pilihan utama petani subsisten, karena kegiatan ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya: dapat dijadikan sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan jika diperlukan.

III. PENUTUP

Petani dan hutan rakyat dapat diibaratkan sebagai satu buah uang logam yang memiliki dua sisi berlainan, akan tetapi saling berhubungan dan membutuhkan sehingga uang logam tersebut bernilai. Demikian juga dengan kondisi petani dan hutan rakyat, kedua aspek tersebut saling berhubungan dan membutuhkan (simbiosis mutualisme). Apabila yang diperhatikan hanya sisi kesejahteraan petani maka kemungkinan besar lahan-lahan hutan rakyat yang ada akan lambat laut menjadi punah dan sebaliknya jika yang diperhatikan hanya perkembangan hutan rakyat maka pemiliknya (rakyat) akan merana. Untuk itulah biar selaras maka perhatian harus ditujukan kepada dua sisi tersebut, diharapkan kesejahteraan rakyat dapat tercapai dan hutan rakyat tetap hijau.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  2003.  Bukti TNI Peduli Terhadap Penghijauan.  Kodam Dirikan PT. BSL Garap Pohon Albasia.  Harian Pikiran Rakyat. Tanggal 8 November 2003. 

Anonim.  2005.  Pemerintah Harus Beri Insentif Hutan Rakyat.  Harian Kompas, tanggal 16 Maret 2005, Hlm. 13.  PT Kompas Media Nusantara.  Jakarta. 

Achmad Budiman.  2006.  Adakah Perda yang berpihak pada petani ?.  Belum diterbitkan.

Diniyati D, Srie Ely Yuliani dan Budiman Achmad.  2003.  Pola Tanam Hutan Rakyat Di Desa Dukuh Dalam, Kecamatan Japara, kuningan.  Hlm 133-145.  Prosiding Ekspose Terpadu hasil penelitian.  Menuju Pembangunan Hutan Tanaman Produkivitas Tinggi dan Ramah lingkungan.  Departemen Kehutanan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kahutanan.  Yogyakarta. 

Diniyati D, Sri Eli Yuliani, Tjetjep Sutisna, Anas Badrunasar dan Suyarno.  2004.  Kajian Sosial Ekonomi Hutan Rakyat Di Jawa (Lanjutan).  Laporan Akhir Hasil Penelitian.  Loka Penelitian dan Pengembangan Hutan Monsoon.  Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.  Departemen Kehutanan.  Belum diterbitkan.


Post Top Ad

Your Ad Spot