AGROFORESTRY UNTUK PENGAHASIL OBAT-OBATAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, September 6, 2017

AGROFORESTRY UNTUK PENGAHASIL OBAT-OBATAN

Balai Penelitian Teknologi Agroforestry - Kementerian Kehutanan
Jl. Raya Ciamis-Banjar Km. 4 Pamalayan, Po. Box 5 Ciamis 46201.

Indonesia sebagai salah satu negara dengan biodiversitas terbesar di dunia mempunyai potensi berbagai jenis tanaman obat yang belum dikelola dengan optimal. Pengembangan dan pembudidayaan tanaman obat selama ini hanya dikerjakan oleh sektor pertanian, dan itupun masih terbatas pada lahan-lahan yang kurang produktif. Sementara lahan pertanian semakin lama semakin sempit, di sisi lain lahan kehutanan banyak yang kritis dan belum dimanfaatkan secara optimal. Salah satu kawasan hutan negara yang belum dimanfaatkan pengelolaannya secara optimal adalah kawasan hutan diwilayah Jawa yang pengelolaannya dibawah Perum Perhutani. Penggunaan pola agroforestry kombinasi tanaman pertukangan dengan tanaman obat-obatan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas lahan serta meningkatkan produksi tanaman obat-obatan guna memenuhi kebutuhan tanaman obat baik dalam negeri maupun ekspor



Tanaman obat sangat berpotensi untuk dikembangkan karena adanya tren back to nature mengakibatkan melonjaknya permintaan akan obat tradisional. Perkembangan penggunaan tanaman obat dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada era tahun 70an pengunaan tanaman obat didorong oleh para pengguna obat tradisonal, mulai tahun 90an sampai sekarang penggunaan obat didorong oleh kombinasi pegguna tradisional, scientific researche dan komunikasi media (Januwati, 2010). Nilai perdagangan tanaman obat (herbal) pada tahun 2000 mencapai US$ 40 miliar. Pada tahun 2002 meningkat menjadi US$ 60 miliar, dan tahun 2050 diperkirakan menjadi US$ 5 triliun dengan peningkatan 15% pertahun, lebih tinggi jika dibandingkan dengan peningkatan nilai perdagangan obat konvensional modern yang hanya 3% pertahun (Anonim, 2007).

Budidaya tanaman tanaman obat jenis kunyit, jahe, dan kencur sudah dilakukan di lahan monokultur, polikultur maupun di bawah tegakan. Budidaya tanaman obat selama ini lebih banyak dilakukan di lahan usaha pertanian primer dengan pola monokultur. Luas lahan pertanian tanaman obat di Indonesia pada tahun 2003 mencapai 14.333ha, dan luas tanaman temulawak, kunyit, kencur dan jahe mencapai 48,35% dari luas total areal tersebut. Lokasinya menyebar di seluruh propinsi Indonesia, dengan sentra produksi utama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.  Pemilihan lokasi pengembangan sentra tanaman obat tersebut didasarkan pada kedekatan industri obat tradisional berkembang, hal ini akan mempermudah dalam akses untuk pemasaran. Berdasarkan besarnya permintaan akan kebutuhan tanaman obat dan keterbatasan lahan pertanian untuk dijadikan areal pengembangan budidaya tanaman obat maka diperlukan intensifikasi lahan dengan menerapkan pola agroforestry.

Post Top Ad

Your Ad Spot