AGROFORESTRI : PENGERTIAN, BENTUK DAN KEUNGGULANNYA - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, September 6, 2017

AGROFORESTRI : PENGERTIAN, BENTUK DAN KEUNGGULANNYA

Balai Penelitian Teknologi Agroforestry - Kementerian Kehutanan
Jl. Raya Ciamis-Banjar Km. 4 Pamalayan, Po. Box 5 Ciamis 46201


Agroforestri  secara umum  dapat diartikan sebagai sistem dan praktik penggunaan lahan dimana tanaman berkayu (pohon, semak, palma, bambu, dll.) dibudidayakan secara sengaja dalam satu unit pengelolaan lahan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak dengan pengaturan ruang dan waktu tertentu (Nair, 1993). Oleh karena dalam agroforestri terdapat lebih dari satu komoditas mengakibatkan pengelolaannya lebih kompleks baik dari segi ekologis maupun ekonomis.  Konsekuensinya ketika tanaman berkayu ditanam pada lahan yang sama dengan  tanaman pertanian dan atau ternak  akan terjadi interaksi baik positif, netral ataupun negatif (Hairiah, 1999). 
Nair (1993) mengutarakan bahwa terdapat beberapa bentuk agroforestri yaitu : 
1. Agrisilviculture, yaitu penggunaan lahan secara sadar dan dengan pertimbangan yang masak untuk       memproduksi sekaligus hasil-hasil pertanian dan kehutanan.
2. Sylvopastoral system, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan kayu dan padang penggembalaan untuk memelihara ternak.
3. Agrosylvo-pastoral system, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk memproduksi hasil pertanian dan kehutanan secara bersamaan, dan sekaligus padang penggembalaan untuk memelihara hewan ternak.
4. Multipurpose forest tree production systems, yaitu sistem pengelolaan dan penanaman berbagai jenis kayu, yang tidak hanya hasil kayunya, akan tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan manusia, ataupun pakan ternak.
5. Sylvofishery, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan kayu dan perikanan.
6. Apiculture, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan pohon-pohon yang merupakan sumber pakan lebah sekaligus dilakukan pemeliharaan lebah madu. 
7. Sericulture, yaitu sistem pengelolaan lahan hutan untuk menghasilkan pohon-pohon dan pemeliharaan ulat sutera.



Perbedaan pola tanam agroforestri dengan pola tanam yang lain adalah jumlah komoditi dan jenis kombinasi dalam suatu unit pengelolaan lahan. Budidaya monokultur pertanian dan kehutanan terdiri dari 1 jenis komoditi. Dan pada dasarnya agrofrestri adalah kombinasi budidaya pertanian, peternakan dengan budidaya kehutanan. Hal ini jika diaplikasikan di lahan hutan maka menjadi budidaya agroforestri kehutanan atau silvikultur agroforestri. Dan apabila diaplikasikan pada lahan pertanian maka disebut budidaya agroforestri pertanian. Perbedaan ini disebabkan juga oleh jumlah pohon minimum yang menjadi komponen agrofrestri. Jumlah pohon di lahan hutan akan berbeda dengan jumlah pohon di lahan pertanian. Untuk mengidentifikasi suatu budidaya agroforestri bisa mengacu pada ciri-ciri penting agroforestri yang diperkenalkan oleh Lundgren dan Raintree, (1982) yaitu (1) tersusun dari 2 jenis tanaman atau lebih, salah satu adalah tumbuhan berkayu, (2) siklus sistem agroforestri lebih dari satu tahun, (3) ada interaksi ekologi dan ekonomi antara tananaman kayu dan tidak berkayu, (4) multi produk: pakan ternak, kayu bakar, buah, obat-obatan, (5) minimal memiliki satu fungsi pelayanan jasa (pelindung angin, penaung), (6) input rendah (terutama di daerah tropis), tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa, misalnya sisa panen, dan (7) sistem agroforestri yang paling sederhana pun lebih kompleks dari sistem budidaya monokultur. 
Agroforestri merupakan suatu pilihan strategis pengelolaan lahan yang selain memperhatikan faktor ekonomi, sosial tetapi juga berwawasan lingkungan. Hal ini menjadikan sistem agroforestri berpotensi lebih berkelanjutan dibandingkan sistem monokultur. Agroforestri menjembatani antara kepentingan sosial ekonomi (produksi kayu dan tanaman pangan) dan kepentingan lingkungan (menjaga iklim mikro, kesuburan tanah, tata air, penyerap karbon, dan sumber plasma nutfah). Penelitian Magcale-Macandog et al., (2010) bahwa peningkatan pendapatan masyarakat melalui praktek agroforestri di daerah-daerah atas di Mindano, Filipina memberikan peningkatan keuntungan sekitar 42% s.d. 137%.  Agroforestri akan mengurangi aliran permukaan sebesar 9,2% serta mengurangi kehilangan NO3-N menjadi 16-48 kg.ha-1.a-1 dibandingkan dengan sistem monokultur yang mempuyai kehilangan NO3-N sebesar 45-64 kg.ha-1.a-1 (Wang et al., 2011).   
Menurut Darusman (2002) agroforestri memiliki keunggulan baik dari segi ekologis, ekonomi, lingkungan, sosial budaya dan politik. Agroforestri memiliki keunggulan ekologis sebab multi jenis, multi strata tajuk dan kesinambungan vegetasi. Agrofrestri memiliki keunggulan ekonomi karena jenis yang ditanam bernilai komersial dan dengan keragaman maka memiliki ketahanan terhadap fluktuasi harga dan jumlah permintaan pasar, jenis-jenis hasil/output yang beragam dan berkesinambungan dan investasi dapat dilakukan bertahap. Agroforestri memiliki keunggulan sosial budaya karena teknologi yang fleksibel, familiar, efisien. Keunggulan politis, yakni agroforestri dapat memenuhi hasrat politik masyarakat luas dan kepentingan bangsa secara keseluruhan. Agroforestri juga merupakan bentuk sinergi antara sektor kehutanan, pertanian, peternakan dan perikanan. Sinergitas antar sektor tersebut potensial menjadi alternatif untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.
Berdasarkan uraian tersebut diatas agroforestri potensial berkontribusi dalam mewujudkan ketahanan pangan nasional. Semua bentuk-bentuk agroforestri (agrisilviculture, silvopasture, sericulture, apikultur dan silvofisheri) selalu menghasilkan pangan. Hal ini dipertegas oleh Van Meydell, (1986) sasaran dan manfaat agroforestri di daerah tropis adalah (1) menjamin dan memperbaiki kebutuhan bahan pangan, (2) memperbaiki penyediaan energi lokal, misalnya kayu bakar, (3) meningkatkan/memperbaiki produksi bahan mentah hasil hutan dan pertanian, (4) memperbaiki kualitas hidup pedesaan, dan (5) memelihara dan memperbaiki jasa lingkungan. 

Post Top Ad

Your Ad Spot