PERBANDINGAN PERTUMBUHAN JATI PUTIH (Gmelina arborea) PADA POLA MONOKULTUR DAN POLA TUMPANGSARI DENGAN KACANG TANAH DI HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, August 9, 2017

PERBANDINGAN PERTUMBUHAN JATI PUTIH (Gmelina arborea) PADA POLA MONOKULTUR DAN POLA TUMPANGSARI DENGAN KACANG TANAH DI HUTAN RAKYAT

PERBANDINGAN PERTUMBUHAN JATI PUTIH

Oleh :
Suyarno


I.Pendahuluan

Budidaya hutan rakyat dalam perkembangannya sudah menjadi budaya yang bersifat turun menurun  dan bahkan sudah menjadi primadona bagi sebagian masyarat karena hasil dan prospek pasar yang menjanjikan. Budaya menanam tanaman kayu pada lahan milik tidak dapat  dipungkiri bahwa aspek  sejarah tentang gerakan penanaman kayu yang sudah berjalan sangat lama dan berbagai program dari pemerintah sangat mendukung terhadap kegiatan penanaman kayu, sehingga pada saat sekarang masyarakat sudah sadar dan mandiri dalam budidaya tanaman kayu dalam bentuk hutan rakyat.
Kurun waktu yang sudah sangat lama dalam membudidayakan hutan rakyat, menjadikan masyarakat mempunyai banyak pengetahuan baik dari segi budidayanya maupun dari segi pemilihan jenis tanaman pokoknya. Pemilihan jenis tanaman pokok tidak hanya berkutat pada jenis sengon, mahoni dan jati tetapi masyarakat sudah mengembangkan jenis tanaman lain diantaranya yaitu jati putih/gemelina, jambon, acasia, suren dan masih banyak jenis lain yang menjadi pilihan dan dikembangkan oleh masyarakat pada saat sekarang dalam membudidayakan lahannya. Pemilihan jenis tanaman sudah sangat beragam karena pada umumnya jenis sengon, jati dan mahoni menjadi jenis penyusun utama hutan rakyat. Pengembangan jenis-jenis selain ketiga jenis (sengon, jati, mahoni) sebagai primadona hutan rakyat Jawa Barat terutama jenis jenis local maupun endemic harus dimulai karena beberapa alasan antara lain:1) tanaman sengon sebagai tanaman utama hutan rakyat di Jawa Barat saat ini telah mengalami permasalahan akibat penanaman dalam skala luas yang mengarah pada kondisi monokultur mengakibatkan rentannya sengon terhadap ancaman hama penyakit, 2). Semakin banyak jenis-jenis local/endemic yang terancam punah sebagai akibat tidak ada usaha budidaya meskipun kegiatan penebangan terus dilakukan, 3). Harga jenis kayu-kayuan yang sbelumnya tidak bernilai ekonomis, kini semakin baik, sebagai akibat meningkatnya kebutuhan kayu dan semakin fleksibelnya industry dalam memanfaatkan jenis kayu, 4). Untuk menjaga keanekaragaman hayati hutan rakyat, hutan rakyat saat ini dianggap lebih menyerupai kondisi hutan alam dibandingkan hutan tanaman yang dikelola Perhutani (Ahmad B. dkk. 2008).
    Pengembangan jenis tanaman pokok pada hutan rakyat banyak jenisnya salah satunya yaitu jati putih (Gmelina  arborea). Jati putih menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat karena termasuk jenis tanaman cepat tumbuh dan relatif tahan terhadap serangan hama penyakit. Kayu Gmelina/Jati Putih mempunyai prospek pasar yang bagus karena meningkatkan kebutuhan kayu industri membuat produsen kayu melirik potensi tanaman yang memiliki pertumbuhan cepat dengan kualitas kayu yang bagus.. Hal ini salah satunya dipicu oleh rendahnya produksi kayu sengon karena di beberapa sentra produksi kayu sengon banyak diserang penyakit karat puru. 
    Jati putih sebagai tanaman pokok dalam hutan rakyat dalam perkembangannya dibudidayakan dengan dua pola secara umum yaitu pola monokultur maupun pola campuran/tumpangsari. Menurut Windawati (2000) dalam Diniyati. (2010) berbagai jenis tanaman pokok dalam pengembangan hutan rakyat secara umum dibudidayakan oleh masyarakat dikelompokan menjadi 2 pola yaitu :
1.    Hutan rakyat monokultur (murni)
Hutan rakyat yang terdiri dari satu jenis tanaman pokok yang ditanam dan diusahakan secara homogen (Monokultur)
2.    Hutan rakyat campuran
a.    Hutan rakyat campuran dengan 2 – 5 jenis tanaman kehutanan yang dikembangkan dan diusahakan seperti sengon, mahoni dan suren yang dikombinasikan berbeda pada setiap daerah.
b.    Hutan rakyat campuran dengan system agroforestry/wanatani
Pola ini  merupakan bentuk usaha kombinasi kehutanan dengan cabang usaha lainnya seperti pekebunan, pertanian, peternakan dan lainnya secara terpadu.
Budidaya hutan rakyat pola campuran dengan jenis tanaman pokok jati putih yang ditumpangsarikan dengan komoditi pertanian menjadi pilihan petani pada umumnya guna memaksimalkan kepemilikan lahan yang sempit.  Sistem campuran/tumpangsari dengan tanaman pertanian dapat dilaksanakan pada awal awal tanaman jati putih yaitu sampai umur 2 tahun, namun tidak sedikit juga masyarakat yang membudidayakan jati putih dengan sistem monokultur dengan berbagai alasan yang melatarbelakanginya. Dua pola yang dilaksanakan oleh petani hutan rakyat dalam membudidayakan jati putih membawa dampak pada tingkat pertumbuhan jati putih. Oleh karena itu perbandingan pertumbuhan jati putih yang dibudayakan secara monokultur dan tumpangsari pada hutan rakyat kiranya dapat dijadikan sebagai alternatif data awal untuk menentukan pilihan dalam memilih pola yang akan diterapkan dalam pengembangan budidaya hutan rakyat khususnya jenis jati putih.

II. Pertumbuhan Jati Putih Pada Pola Monokultur
Jati putih dalam bahasa latinnya adalah Gmelina arborea Roxb termasuk dalam famili Verbenaceae dengan nama daerah yang lain : Gmelina, Gamalina, Jati Putih, Jati Bodas. Jati putih merupakan jenis tanaman yang tidak rewel yaitu dengan perawatan yang minimal  tanaman jati putih bisa tumbuh.
Budidaya jati putih dengan pola monokultur berdasarkan pengamatan dan pengukuran terhadap tinggi dan keliling pohon pada umur 2 tahun yang dilaksanakan pada 4 lokasi yang berbeda dengan jumlah sampel sebanyak 15 pohon pada setiap lokasinya, hasilnya disajikan dalam tabel berikut;
Tabel 1 : Rata Rata Tinggi dan Keliling Jati Putih Pola Monokultur


No
Sampel
Lokasi
Tinggi (m)
Keliling (cm)
1.
Lokasi 1
Desa Baregbeg
1,57
9,47
2.
Lokasi 2
Desa Baregbeg
1,73
8,27
3.
Lokasi 3
Desa Kertabumi
1,43
8,13
4.
Lokasi 4
Desa Kertabumi
1,37
6,93

Jumlah
6,10
32,80

Rata-rata
1,53
8,20


    Berdasarkan tabel 1 tersebut hasil pengukuran dari 60 pohon pada 4 lokasi yang berbeda diperoleh rata rata tinggi 1,53 m dan keliling pohon 8,20 cm. Data pertumbuhan tersebut mengindikasikan bahwa pertumbuhan jati putih kurang maksimal. Banyak faktor yang mempengaruhi salah satunya kegiatan pemeliharaan yang kurang maksimal. Data ukur sebagaimana yang disajikan dalam tabel 1 dapat diolah untuk mengetahui rata – rata volume dari tegakan jati putih dari pola monokultur.


Tabel 2 : Rata-rata Diameter dan Volume Jati Putih.


No
Sampel
Lokasi
Diameter (m)
Volume (m3)
1.
Lokasi 1
Desa Baregbeg
0,030149
0,001633
2.
Lokasi 2
Desa Baregbeg
0,026327
0,001037
3.
Lokasi 3
Desa Kertabumi
0,025902
0,000796
4.
Lokasi 4
Desa Kertabumi
0,022081
0,000569

Jumlah
0,104459
0,004034

Rata-rata
0,026115
0,001009



Dari tabel 2 tersebut mengindikasikan bahwa dengan tingkat pertumbuhan yang rendah maka  volume yang dihasikan juga sangat rendah yaitu sebesar rata rata 0,001009 m3/pohon dari hasil pengukuran sebanyak 60 pohon dari 4 lokasi yang berbeda.


III. Pertumbuhan Jati Putih Pola Campuran/Tumpangsari Dengan Kacang Tanah
Budidaya jati putih  pola campuran/tumpangsari dengan tanaman kacang tanah berdasarkan pengamatan dan pengukuran terhadap tinggi dan keliling pohon pada umur 2 tahun yang dilaksanakan pada 4 lokasi yang berbeda dengan jumlah sampel sebanyak 15 pohon pada setiap lokasinya, hasilnya disajikan dalam tabel berikut;
Tabel 3 : Rata Rata Tinggi dan Keliling Jati Putih Pola Campuran/Tumpangsari


No
Sampel
Lokasi
Tinggi (m)
Keliling (cm)
1.
Lokasi 1
Desa Baregbeg
2,93
22,70
2.
Lokasi 2
Desa Baregbeg
2,77
22,07
3.
Lokasi 3
Desa Kertabumi
2,93
20,60
4.
Lokasi 4
Desa Kertabumi
2,70
12,47

Jumlah
11,33
77,83

Rata-rata
2,83
19,46



 Tabel 3 menyajikan data bahwa pertumbuhan jati putih pada pola campuran dengan kacang tanah menghasilkan rata rata tinggi 2,83 m/pohon dan rata rata keliling sebesar 19,46 cm/pohon. Tinggi dan keliling yag dicapai dengan pola campuran jauh lebih besar jika di bandingkan dengan pola monokultur. Adapun volume rata –rata dari pola campuran disajikan dalam tabel 4 berikut,

Tabel 4 : Rata Rata Diameter dan Volume Jati Putih Pola Campuran/Tumpangsari


No
Sampel
Lokasi
Diameter (m)
Volume (m3)
1.
Lokasi 1
Desa Baregbeg
0,072293
0,012863
2.
Lokasi 2
Desa Baregbeg
0,070276
0,011387
3.
Lokasi 3
Desa Kertabumi
0,065605
0,010116
4.
Lokasi 4
Desa Kertabumi
0,039703
0,003423

Jumlah
0,247877
0,037788

Rata-rata
0,061969
0,009447



    Tabel 4 tersebut menunjukkan bahwa jati putih dengan pola tumpangsari mempunyai rata rata volume pohon yang lebih besar yaitu 0,009447 m3/pohon dari hasil pengukuran terhadap 60 pohon.

IV. Perbandingan Pertumbuhan Jati Putih Pola Monokultur dan Pola Tumpangsari
    Pertumbuhan jati putih pada dua pola yang berbeda yaitu pola monokultur dan pola tumpangsari dengan kacang tanah berdasarkan pengamatan dan pengukuran  di 4 lokasi yang berbeda  yaitu setiap lokasi dipilih dua pola yang berdekatan diperoleh data tinggi dan keliling rata rata sebagaimana disajikan dalam tabel 1 dan 3. Adapun data perbedaan diameter dan volume dari jati putih disajikan dalam tabel 2 dan 4. Perbedaan pertumbuhan jati putih pada dua pola tersebut untuk lebih jelasnya disajikan dalam gambar berikut;




Gambar 1 : Grafik Perbedaan Pertumbuhan Jati Putih
                                                          




d.Perbedaan Volume

    Pada gambar 1 tersebut menunjukkan bahwa dari semua aspek pertumbuhan yaitu tinggi, keliling dan volume jati putih pola campuran jauh lebih cepat besar jika dibandingkan dengan pola monokultur. Gambar (a) memperlihatkan bahwa tinggi jati putih pola monokultur hanya mencapai setengah dari tinggi jati putih yang dibudidayakan dengan pola tumpangsari kacang tanah. Gambar (b) menunjukkan bahwa pertumbuhan keliling jati putih pola monokultur pada 3 lokasi hanya mencapai 1/3 dari pertumbuhan yang ditunjukkan dengan pola tumpangsari dengan kacang tanah. Pertumbuhan keliling berbanding lurus dengan pertumbuhannya diameternya sebagaimana gambar (c), yaitu diameter jati putih pola tumpangsari jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pola monokultur. Perbedaan pertumbuhan pada tinggi dan keliling pohon jati putih maka volume yang dihasilkan jati putih pola campuran jauh lebih besar jika dibandingkan dengan jati putih pola monokultur sebagaimana yang ditunjukkan pada gambar (d). Perbedaan rata – rata volume pada gambar (d) menunjukkan bahwa pola monokultur menghasilkan volume hanya 1/3 dari volume jati putih pada pola campuran.
Pertumbuhan jati putih pada pola campuran dengan kacangtanah jauh lebih cepat besar jika dibandingkan dengan jati putih pola monokultur  dipegaruhi oleh beberapa hal yaitu;
1.    Faktor Kegiatan pemeliharaan
Jati putih pada pola campuran dengan kacang tanah kegiatan pemeliharaan akan lebih intensif dan optimal karena pemeliharaan yang dilaksanakan terhadap tanaman kacang tanah. Kegiatan pemeliharaan berupa pemupukan terhadap kacang tanah sekaligus akan diserap oleh tanaman kayunya. Kegiatan pemupukan dengan pupuk kandang  sebelum penanaman kacang tanah dan kegiatan pemupukan dengan pupuk buatan secara tidak langsung juga akan dimanfaatkan oleh tanaman kayu.
Kegiatan penanaman, pemeliharaan dan pemanenan kacang tanah juga menyebabkan tanah menjadi gembur sehingga  akan mempengaruhi terhadap pertumbuhan jati putih jika dibanding dengan pola monokultur.
2.    Faktor Kacang tanah
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) adalah termasuk tanaman polong-polongan atau legum sehingga bintil akarnya mengandung unsur N yang dapat menyuburkan tanah, sehingga tanaman pokok berupa jati putih akan tumbuh lebih cepat besar jika dibandingkan dengan tanaman jati putih yang dibudidayakan secara monokultur.

V.Kesimpulan
Budidaya hutan rakyat terus berkembang baik dari segi variasi jenis tanaman maupun pola budidayanya.   Pengembangan jenis tanaman pokok pada hutan rakyat banyak jenisnya salah satunya yaitu jati putih (Gmelina  arborea). Jati putih menjadi pilihan alternatif bagi masyarakat dalam pengembangan hutan rakyat karena termasuk jenis tanaman cepat tumbuh dan relatif tahan terhadap serangan hama penyakit.
Hutan rakyat dengan tanaman pokok jati putih secara umum  dibudidayakan dengan dua pola yaitu monokultur dan campuran/tumpangsari. Dua pola budidaya tersebut sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan jati putih sebagai tanaman pokok.
Berdasarkan pengamatan dan pengukuran  pertumbuhan jati putih yang dibudidayakan secara monokultur dan campuran pada umur 2 tahun pada 4 lokasi yang berbeda memperlihatkan bahwa pola campuran dengan kacang tanah jauh lebih cepat besar jika dibandingkan dengan jati putih pada pola monokultur. Beberapa aspek pertumbuhan dari jati putih berupa tinggi dan keliling pola campuran jauh lebih besar yaitu untuk pertumbuhan tinggi dengan rata-rata……… jika dibandingkan dengan pola monokultur yang hanya ………….. dan demikian juga pertumbuhan keliling pola campuran jauh lebih besar yaitu ………. Jika dibandingkan dengan pola monokultur yang hanya. Dari dua aspek pertumbuhan tersebut berbanding lurus dengan volume yang dicapai yaitu pola campuran jauh lebih besar berada di rata rata………../pohon dan pola monokultur hanya mencapai …………/pohon.


Daftar Pustaka
1.    Achmad B., Wuri Handayani, Dian Diniyati, Eva Fauziyah, Aditya Hani, Tri Sulistyati W., Tuti Herawati.  2008. Hutan Rakyat Jawa Barat, Status Riset dan Strategi Pengembangannya. Balai Penelitian Kehutanan. Ciamis.

2.    Diniyati D., Eva Fauziyah, Tri Sulistyati W., Suyarno, Eyet Mulyati. 2010. Laporan Hasil Penelitian “ Pola Agroforestry di Hutan Rakyat Pengahasil Kayu Pertukangan Sengon”.  Balai Penelitian Kehutanan. Ciamis.

3.    Anonim. 2015. Pasar Kayu Gemelina Masih Terbuka. http://indonesiawood.net/kayu-gmelina-jati-putih-mempunyai-prospek-bisnis-cerah/. Diakses tgl. 7 April 2015





































Post Top Ad

Your Ad Spot