POLA PENANAMAN, PEMANFAATAN DAN PENAMPILAN TEGAKAN GANITRI PADA BERBAGAI HABITAT TEMPAT TUMBUH DI JAWA BARAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, May 9, 2017

POLA PENANAMAN, PEMANFAATAN DAN PENAMPILAN TEGAKAN GANITRI PADA BERBAGAI HABITAT TEMPAT TUMBUH DI JAWA BARAT

 Oleh :
Asep Rohandi, Gunawan dan Levina Augusta G. Pieter
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email : seps.grt@gmail.com
(Makalah ini telah di Terbitkan pada Prosing Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)


ABSTRAK



Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) merupakan jenis tanaman multiguna yang cukup potensial dan sudah mulai dibudidayakan oleh masyarakat khususnya  di wilayah Jawa Barat. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran, pemanfatan, pola tanam dan penampilan tegakan ganitri pada berbagai kondisi tempat tumbuh di Jawa Barat. Metoda yang dilakukan meliputi studi literatur dan komunikasi langsung dengan pihak terkait dan masyarakat serta survey lapang dengan teknik snowball samplings untuk mengidentifikasi sebaran dan kondisi tanaman di seluruh lokasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman ganitri di wilayah Jawa Barat tersebar di hutan alam dan hutan tanaman dengan ketinggian 0-1500 mdpl. Hutan tanaman ganitri pada berbagai lokasi dikelola dengan sistem/pola penanaman yang berbeda dan sebagian besar menerapkan pola campuran dalam bentuk hutan rakyat ataupun agroforestri dalam bentuk kebun campur/talun, tegalan dan  pekarangan. Pemanfaatan/tujuan penanaman ganitri  di dataran rendah untuk dimanfaatkan biji/buahnya (HHBK), sedangkan di dataran tinggi banyak dimanfaatkan kayunya, selain sebagai perindang jalan dan tanaman konservasi. Terdapat kecenderungan hubungan yang searah/positif antara penampilan tegakan dengan ketinggian lokasi dimana diameter dan tinggi pohon semakin besar dengan semakin tingginya lokasi tempat tumbuh yang disebabkan oleh perbedaan umur dan tujuan penanaman.  Kondisi tersebut dapat memberikan gambaran tentang potensi tanaman ganitri di wilayah Jawa Barat sebagai informasi awal apabila jenis ini akan dikembangkan secara intensif.

Kata kunci :   Ganitri, pola tanam, pemanfaatan, penampilan tegakan, Jawa Barat


I.    PENDAHULUAN

Ganitri (Elaeocarpus ganitrus Roxb) merupakan salah satu jenis potensial untuk dikembangkan di hutan rakyat, khususnya di Jawa Barat dan Jawa Tengah.  Jenis ini merupakan jenis cepat tumbuh yang secara alam mudah ditemukan serta tidak membutuhkan tempat hidup yang spesifik (Rachman et al., 2010b). Selain untuk kayu pertukangan (Heyne, 1987), pohon pelindung (wind break) dan pembatas lahan milik (Safitri, 2011), salah satu bagian/produk yang dapat dimanfaatkan adalah bijinya sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK).  Biji ganitri  yang unik dapat menghasilkan berbagai produk perhiasan (gelang, kalung, tasbih) dan bahkan di India digunakan sebagai bahan sesajen untuk upacara pemba¬karan mayat (Heyne, 1987). Selain itu, digunakan pula sebagai bahan baku obat-obatan khususnya di Hindustan (Rachman et al., 2010b;  Safitri, 2011).
Meskipun tanaman ganitri memiliki potensi yang cukup besar, tetapi karena jenis ini merupakan komoditas hutan rakyat yang relatif baru sehingga masih banyak hambatan dalam pemanfaatan dan pengembangannya. Hal tersebut disebakan oleh kurangnya informasi tentang kesesuaian tumbuh, pemanfaatan dan teknik budidaya, selain aspek sosial, ekonomi dan kelembagaan. Mile (2007) menjelaskan bahwa untuk mengembangkan hutan rakyat menjadi unit usaha agribisnis diperlukan pengelolaan usaha  yang menyeluruh dan konprehensif antara lain pemilihan jenis, pola tanam dan teknik produksi (penyiapan lahan, penanaman, pemanenan dan pasca panen). Hal tersebut dapat dilakukan melalui menerapkan teknologi tepat guna dan manajemen pengelolaan yang sesuai.
Sebagai langkah awal, informasi tentang kesesuaian tempat tumbuh ganitri merupakan hal yang sangat penting. Yudho (1996) menjelaskan bahwa keberhasilan pembangunan hutan sangat dipengaruhi oleh ketepatan  pemilihan jenis yang akan digunakan meliputi tujuan peruntukkan serta kesesuaian tempat tumbuh. Selanjutnya Wiradisastra (1996) menjelaskan bahwa setiap  jenis  memiliki perbedaan tingkat kesesuaian terhadap lingkungan fisik, sehingga dapat dipilah-pilah berdasarkan perbedaan wilayah sebaran dengan ciri-ciri tertentu.
Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran, pemanfataan, sistem pengelolaan dan produktivitas tanaman ganitri pada berbagai kondisi tempat tumbuh sebagai informasi awal dan dasar untuk mengembangkan jenis ini secara intensif khususnya di wilayah Jawa Barat.

II.    METODE PENELITIAN

A.    Waktu dan Lokasi
Penelitian ini  dilaksanakan pada bulan April sampai Nopember 2011. Lokasi penelitian dilakukan di wilayah/propinsi Jawa Barat.

B.    Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan meliputi populasi tanaman ganitri yang ada di wilayah Jawa Tengah, Alat yang digunakan meliputi alat survey lapangan dan laboratorium berupa  teropong, hagameter, altimeter, alat ukur (meteran), tambang, alat tulis dan lain-lain.

C.    Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Kegiatan penelitian yang dilakukan meliputi identifikasi sebaran dan kondisi populasi tanaman ganitri pada beberapa lokasi di Jawa Tengah. Pengumpulan data sebaran populasi dan preferensi ekologi tanaman ganitri meliputi data primer dan sekunder. Data sekunder diperoleh dari studi literatur dan komunikasi langsung dengan beberapa pakar yang mengetahui mengenai jenis yang dimaksud. Data primer dikumpulkan melalui survey lapangan dengan metode snowball samplings (sampel bola salju) yang dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi dan sebaran populasi jenis ganitri yang tersebar di beberapa lokasi wilayah Jawa Barat  meliputi : letak geografis, ketinggian tempat, pola tanam dan produktivitas tegakan (tinggi dan diameter). Sementara itu, data sekunder diperoleh dari berbagai instansi terkait.

III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Sistem Penanaman dan Pengelolaan Tegakan
Hutan tanaman ganitri (E. ganitrus) pada wilayah Jawa Barat dikelola  secara monokultur ataupun campuran yang terdiri dari beberapa bentuk/sistem pengelolaan yaitu : hutan rakyat campuran dan agroforestri  (tanaman pekarangan, kebun talun dan tegalan). Selain itu, tanaman ganitri ditemukan juga pada habitat aslinya yang berada pada beberapa daerah pegunungan. (Tabel 1).

Tabel 1.   Bentuk dan pola penanaman ganitri pada berbagai lokasi dan ketinggian  tempat di wilayah Jawa Barat
No.    Lokasi    Ketinggian    Pola Tanam    Jarak Tanam    Bentuk Tanaman    Asosiasi
1.    Ciamis    1000-1300    Campuran    Tidak teratur    Hutan alam    Rotan, Pakis, Mahoni, Liana, Saninten, Rasamala, Puspa, Quercus
        0 - 650        4 x 4 m    Pekarangan, kebun talun, hutan rakyat    Jati, Jabon, Mahoni, Sengon, Tisuk
        25 - 30    Monokultur    4 x 4 m       
2.    Banjar    50 - 70    Campuran    4 x 4 m    Pekarangan,
Agroforestri    Kelapa, Mangga
3.    Tasikmalaya    673    Monokultur    1 x 1 m    Pekarangan, tanaman pagar, kebun, hutan rakyat,   
        200 - 1000    Campuran    tidak teratur        Jabon, Mahoni, Sengon, Suren, Manglid
4.    Garut    1250    Monokultur    2 x 2 m    Hutan rakyat, kebun, tegalan, tanaman pagar, agroforestri   
        600 - 1300    Campuran    tidak teratur        Sengon, Suren, Mahoni, Manglid, Damar, Gmelina, Gayam, Alpukat, Nangka, Durian
5.    Majalengka    1250 - 1450    Campuran    tidak teratur    Hutan alam    Jamuju, Saninten, Puspa, Kastanopsis, Quercus
6.    Bandung    700 – 1000    Monokultur    tidak teratur    Pelindung jalan   
7.    Purwakarta    600 - 800    Campuran    Tidak teratur    Hutan rakyat    Sengon, Suren, Mahoni, Manglid, Durian
8.    Cianjur    1000 - 1400    Campuran    Tidak teratur    Hutan alam    Jamuju, Saninten, Puspa, Rasamala, Kastanopsis, Quercus Spp, Mahoni
9    Sukabumi    1000 - 1400    Campuran    Tidak teratur    Hutan alam    Jamuju, Saninten, Puspa, Kastanopsis, Quercus, Manglid
Sumber : Data primer (diolah))

Secara umum tanaman ganitri tersebar mulai daerah dataran rendah sampai dataran  tinggi dalam bentuk dan kondisi yang cukup beragam. Populasi ganitri di wilayah Jawa Barat tersebar di hutan tanaman dan hutan alam pada ketinggian 0-1500 mdpl.  Tegakan ganitri yang tumbuh secara alami ditemukan pada beberapa daerah pegunungan seperti di hutan alam Gunung Cakrabuana, Taman Nasional Gunung Halimun Salak dan Taman Nasional Gede Pangrango pada ketinggian 1000-1500 mdpl. Secara umum, tanaman ganitri di wilayah Jawa Barat. Hasil penelitian Rahayu et al. (2012) juga menunjukkan menunjukkan bahwa jenis ini ditemukan di hutan dataran rendah Bodogol, Taman Nasional Gede Pangrango, Sukabumi, Jawa Barat
Pola penanaman ganitri yang dilakukan secara monokultur pada beberapa lokasi di Jawa Barat lebih sedikit  dibandingkan dengan pola campuran. Pola penanaman secara monokultur lebih banyak dilakukan pada tanaman ganitri yang ditujukan untuk pemanfaatan bijinya (HHBK) ataupun tanaman pelindung jalan. Pola penanaman seperti itu ditemukan pada daerah dataran rendah yaitu di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis. Selain itu, ditemukan pula di daerah Cikajang, Kabupaten Garut serta daerah Nagreg, Kabupaten Bandung. Sememtara itu, secara umum pola yang banyak dilakukan masyarakat  adalah sistem penanaman campuran, baik berupa hutan rakyat campuran ataupun agroforestri. Mindawati et al. (2006), hutan rakyat campuran memiliki daya tahan hama dan penyakit serta gangguan angin, secara ekonomi mempunyai ketahanan dan kelenturan (flexible) lebih tinggi karena adanya diversifikasi komoditi dan hasil bertahap yang berkesinambungan serta menyerap tenaga kerja yang lebih banyak. Rachman et al. (2010a), pengembangan hutan rakyat diperlukan jenis cadangan (back-up spesies) yang berfungsi sebagai tanaman pokok maupun tanaman pencampur yang dapat menambah nilai ekonomi kayu yang diusahakan.
Selain pola hutan rakyat campuran, agroforestri juga banyak diterapkan masyarakat sebagai usaha untuk mengoptimalkan produktivitas lahan melalui diversifikasi produk yang dihasilkan. Wijayanto (2002)  menyebutkan bahwa agroforestri merupakan suatu sistem usaha tani atau penggunaan lahan yang mengintegrasikan secara spatial, temporal tanaman pohon dan tanaman semusim pada sebidang lahan yang sama. Agroforestri juga merupakan bentuk penggunaan lahan yang dapat mempertahankan dan meningkatkan produktivitas lahan secara keseluruhan yang merupakan kegiatan campuran antara kegiatan kehutanan dan pertanian baik secara bersama-sama atau secara bergilir dengan menggunakan manajemen praktis yang disesuaikan dengan pola budaya masyarakat setempat. Sementara itu, Neupane dan Thapa (2001) menjelaskan bahwa agroforestri memiliki potensi untuk meningkatkan produksi pangan dan kondisi ekonomi petani secara berkelanjutan. Hal tersebut dapat dicapai melalui kontribusi positif terhadap kesuburan tanah serta pendapatan rumah tangga.  Berbagai jenis komoditas yang dikombinasikan dalam agroforestri ganitri cukup bervariasi di berbagai lokasi seperti dicantumkan pada Tabel 2.

Tabel 2.      Beberapa komoditas yang dikombinasikan pada pola agroforestri ganitri pada beberapa lokasi di Jawa Barat.
No.    Lokasi    Ketinggian (mdpl)    Komoditas    Keterangan
1.    Banjar    50-70    Cabai (Capsicum spp.), singkong (Manihot sp.), ubi (Ipomoea batatas), dan kacang (Arachis hypogaea).    Pemanfaatan utama ganitri adalah buahnya dengan umur tanaman 1 tahun. Jarak tanam ganitri adalah 4 x 4 m
2.    Ciamis    0-650    Cabai, terong (Solanum melongena), padi (Oryza sativa), singkong dan kacang panjang (Phaseolus vulgaris),  kelapa (Cocos nucifera), rambutan dan pisang    Pemanfaatan utama ganitri adalah buahnya
3.    Tasikmalaya    200-1000    Jahe (Zingiberis officinale), singkong, kapulaga (Amomum compactum), pisang dan teh (Camellia sinensis).     Pemanfaatan utama ganitri adalah kayunya (pertukangan)
4.    Garut    600-1300    Padi, sereh (Cymbopogon citratus), jagung (Zea mays), labu (Cucurbita maxima), tomat (Solanum lycopersicum) kacang merah (Vigna angularis), dan cabai. alpukat (Persea americana), nangka dan durian (Durio zibethinus)    Pemanfaatan utama ganitri adalah kayunya (pertukangan)
Sumber : Data primer (diolah))
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, komoditas yang dipilih dalam pola agroforestri ganitri selain sangat tergantung pada nilai ekonomi produk, juga didasarkan pada kesesuaian terhadap kondisi agroklimat setempat. Terdapat jenis komoditas khas suatu wilayah seperti teh, tomat dan labu untuk dataran tinggi serta padi dan kelapa untuk daerah dataran rendah sampai sedang. Pranoto (2011) menyebutkan bahwa pemilihan jenis tanaman sangat menentukan produktivitas tanaman pada sistem agroforestri. Arsyad (2000) dan Sitorus (2001) menjelaskan bahwa dalam  menentukan jenis tanaman yang akan ditanam pada sebidang lahan haruslah diketahui sifat-sifat jenis tanaman dalam hubungannya dengan faktor iklim, tanah dan kecepatan tumbuhnya.

B.    Pemanfaatan/Tujuan Penanaman
Pemanfaatan/tujuan penanaman ganitri memiliki perbedaan untuk setiap wilayah. Secara umum, pada dataran rendah tanaman ganitri banyak dimanfaatkan biji/buahnya (HHBK) sedangkan di daerah dataran tinggi banyak dimanfaatkan kayunya (pertukangan dan kayu lapis). Di Kabupaten Banjar dan Ciamis, tanaman ganitri secara umum dimanfaatkan buahnya dan sebagian kecil digunakan kayunya.Tanaman dengan diameter besar kebanyakan yang ditemukan pada habitat aslinya di Gunung Sawal.
Di Kabupaten Tasikmalaya, Sumedang dan Garut  pemanfaatan utama tanaman ganitri adalah kayunya. Selain itu, juga dimanfaatkan bijinya sebagai bahan perbanyakan (pembibitan) sehingga terdapat beberapa tanaman yang berumur tua dengan diameter besar sebagai tanaman induk (mother tree). Di Kecamatan Salawu, Tasikmalaya banyak ditemukan persemaian ganitri sebagai sentra penjualan bibit ke berbagai daerah. Sementara itu, pemanfaatan ganitri di wilayah Purwakarta sebagian besar digunakan sebagai bahan campuran pembuatan kayu lapis. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya tanaman muda yang sudah dipanen/ditebang sehingga jarang ditemukan tanaman dengan diameter besar. Pemanfaatan ganitri di Kabupaten dan Kota Bandung lebih banyak digunakan sebagai tanaman pelindung jalan dan hutan kota. Sedangkan di hutan alam seperti TNGHS, TNGP, Gunung Cakrabuana dan Gunung Sawal, tanaman ganitri lebih berfungsi sebagai tanaman konservasi/hutan lindung. 

C.    Produktifitas Tegakan
Produktifitas tegakan ganitri dapat dilihat berdasarkan hasil pengukuran tinggi dan diameter tegakan. Hasil diperoleh secara umum menunjukkan bahwa produktivitas tegakan ganitri untuk setiap lokasi sangat bervariasi untuk setiap lokasi (Gambar 1). Tanaman dengan diameter kecil banyak ditemukan di daerah Ciamis, Banjar dan Tasikmalaya yang berada di dataran rendah. Tegakan ganitri berukuran besar selain ditemukan di hutan alam (TNGHS, TNGP, Gunung Cakrabuana dan Gunung Sawal), juga ditemukan pada hutan rakyat di Kabupaten Garut untuk pemanfaatan kayu pertukangan. Hutan rakyat ganitri tersebut ditemukan di Kecamatan Leles, Banyuresmi, Karangpawitan, Pangatikan, Wanaraja. Tanaman ganitri pada kabupaten Garut memiliki rata-rata diameter 32,64 cm dengan diameter tebesar 66,24 cm dan terkecil 1,27cm. Pemanfaatan utama adalah kayunya sehingga kebanyakan ditemukan dalam umur yang cukup tua dengan kenampakan batang yang lurus dan diameter besar.




Gambar 2.  Produktifitas tegakan ganitri berdasarkan lokasi sebaran di wilayah Jawa Barat

Berdasarkan data produktivitas tegakan yang diperoleh, terdapat hubungan yang searah/positif antara diameter dan tinggi pohon  dengan ketinggian lokasi sebaran tempat tumbuh dimana diameter dan  tinggi pohon akan semakin besar dengan semakin tingginya lokasi tempat tumbuh (Tabel 3).

Tabel 3.     Korelasi sederhana antara parameter tinggi total dan diameter batang tegakan yang tersebar pada beberapa lokasi di Jawa Barat.
  No.    Parameter    Korelasi Sederhana (Pearson)
        Ketinggian Tempat
1.    Tinggi Total    0,535**
2.    Diameter Batang    0,581**
Keterangan : ** Nyata pada tingkat p<0,01

Hal tersebut selain disebabkan oleh umur tanaman, juga disebabkan oleh aspek pemanfaatan atau tujuan penanaman.  Pemanfaatan pada dataran rendah berbeda dari dataran tinggi dimana penanaman ganitri yang berada di dataran rendah sebagian besar dimanfaatkan buahnya. Hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan perlakuan dengan tanaman untuk tujuan lainnya seperti pengeratan (teres) dan pengurangan unsur hara, untuk menghasilkan buah yang kecil. Bibit tanaman yang digunakan merupakan hasil okulasi (sambungan). Di dataran tinggi, penampilan tegakan ganitri di hutan rakyat memiliki  tinggi total dan diameter yang lebih besar serta berbatang lurus karena pemanfaatan utama kayunya.  Pada tegakan tersebut biasanya diberikan berbagai perlakuan untuk memacu pertumbuhan seperti pemberian unsur hara dan pemangkasan cabang (prunning). Sementara itu, tanaman konservasi memiliki produktifitas tinggi karena t memiliki umur yang cukup tua (puluhan tahun).







Gambar 1.     Penampilan tegakan  ganitri pada beberapa sistem penanaman : a) hutan rakyat untuk HHBK, b) hutan rakyat untuk kayu pertukangan, c) Pelindung jalan dan d) hutan lindung (konservasi)

Ganitri yang terdapat pada habitat aslinya memiliki kisaran diameter yang cukup besar yaitu antara 6,36 cm sampai 107,32 cm dengan rata–rata diameter 36,38 cm. Hutan rakyat ganitri memiliki kecenderungan penampilan tegakan yang berbeda dari hutan alam. Rata-rata diameter batang lebih kecil yaitu 23,26 cm dengan kisaran antara 0,64-105,1 cm. Selain di hutan alam, ganitri yang ditemukan sebagai tanaman perindang jalan ada yang  mencapai ukuran diameter di atas 100 cm (Gambar 2).

IV.    KESIMPULAN DAN SARAN

Tanaman ganitri di wilayah Jawa Barat tersebar di hutan alam dan hutan tanaman dengan ketinggian 0-1500 mdpl. Hutan tanaman ganitri pada berbagai lokasi dikelola dengan sistem/pola penanaman yang berbeda dan sebagian besar menerapkan pola tanam campuran dalam bentuk hutan rakyat campuran ataupun agroforestri dalam bentuk kebun talun, tegalan dan  pekarangan. Terdapat perbedaan pemanfaatan ganitri  di dataran rendah dan dataran tinggi dimana di dataran rendah banyak dimanfaatkan bijinya (HHBK), sedangkan di dataran tinggi banyak dimanfaatkan kayunya, disamping sebagai perindang jalan dan tanaman konservasi. Sementara itu, adanya kecenderungan hubungan yang searah/positif antara penampilan tegakan dengan ketinggian lokasi dimana diameter dan tinggi pohon semakin besar dengan semakin tingginya lokasi tempat tumbuh yang disebabkan oleh perbedaan umur dan tujuan penanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad S.  2000.  Konservasi tanah dan air.  Penerbit Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Fitriani. 2010. Jenis dan harga buah ganitri/jenitri. www.portalgue.com/2010. Diakses Tanggl 20 Nopember 2011. Jakarta.

Heyne K. 1987. Tumbuhan berguna indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Cetakan I, Jakarta.

Mile, M.Y. 2007. Prinsip-prinsip dasar dalam pemilihan jenis, pola tanam  dan  teknik produksi  agribisnis hutan rakyat.  Info Teknis Vol. 5 No. 2, September 2007. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.\

Mindawati, N., A. Widiarti dan B. Rustaman. 2006. Review hasil penelitian hutan rakyat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Badan Litbang Kehutanan. Bogor.

Neupane, R. P. dan G. B. Thapa, 2001. Impact of agroforestry intervention on soil fertility and Farm in come under the subsistence farming system of the middle hills, Nepal. Agriculture, Ecosystems and Environment 84 (2001) 157-167.

Rachman E, Rohandi A dan Hani A. 2010a. Evaluasi penerapan pola tanam jenis pohon potensial pada hutan rakyat. Prosiding Seminar Peningkatan Produktivitas Hutan Rakyat untuk Kesejahteraan Masyarakat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Bogor dan Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. p: 27 - 41.

Rachman E, Rostiwati T dan Bustomi S. 2010b. Ganitri (Elaocarpus sphaericus Schum And E. Ganitri) pohon serbaguna yang potensial di hutan rakyat. www.forplan.or.id. Diakses tanggal 26 Oktober 2011.

Rahayu M, Susiarti S.dan Sihotang VBL. 2012. A Preliminary  ethnobotanical study on useful plant by local communities on Bodogol lowland forest, Sukabumi, West Java. Journal of Tropical Biology  and Consevation 9 (1), 2012 : 115-125.

Safitri. 2011. Jenis komersial yang belum banyak dilirik usahawan. http://yuniarsafitri.blogspot.com/2011/06/l. Jakarta.

Sitorus S. 2001. Pengembangan sumberdaya lahan berkelanjutan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian IPB.  Bogor.

Taqyudin. 2010. Geo Info : Ganitri (Elaeocarpus sphaericus) Di indonesai. http://staff.blog.ui.ac.id/taqyudin/index.php/2009/01/10. Bio Info. Jakarta

Wijayanto N.  2002.  Agroforestry (Secara umum).  Makalah pada TOT Entrepreneurship in Agroforestri Education.  Bogor, 19 – 24 Nopember 2002.

Wiradisastra US. 1996. Delineasi agro-ecological zone. Bahan Kuliah Pelatihan Apresiasi Metodologi Delineasi Agroekologi. Bogor, 8-17 Januari 1996. Kerjasama Proyek Pembinaan Kelembagaan Penelitian dan Pengembangan Pertanian/AMRP dengan Fakultas Pertanian-IPB. Bogor.

Yudho SP. 1996. Pengelolaan tegakan benih hutan alam dalam rangka mendukung pembangunan hutan di masa datang. Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Penelitian Perbenihan Kehutanan Cipayung, 4-5 Januari 1996. Bogor : Dephut. Hlm 21-24.

Post Top Ad

Your Ad Spot