PEMANFAATAN LIMBAH KARDUS DALAM REKAYASA PENANAMAN PADA LAHAN KRITIS BEKAS LETUSAN GUNUNG MERAPI - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, May 2, 2017

PEMANFAATAN LIMBAH KARDUS DALAM REKAYASA PENANAMAN PADA LAHAN KRITIS BEKAS LETUSAN GUNUNG MERAPI

PEMANFAATAN LIMBAH KARDUS DALAM REKAYASA PENANAMAN PADA LAHAN KRITIS BEKAS LETUSAN GUNUNG MERAPI

Oleh :
Siswo, Kusrin dan Santi F.
Teknisi Litkayasa Balaitbangtek Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Jl. Jendral Ahmad Yani, Pabelan PO Box 295 Solo 57102
(Makalah ini Telah di Terbitkan pada Prosiding LOKAKARYA NASIONAL TEKNISI LITKAYASA, Balai Litbang HHBK Mataram)


ABSTRAK
Rekayasa penanaman diperlukan untuk mempercepat proses pengembalian kelembaban tanah yang telah mengalami letusan gunung. Selain harus memperhatikan aspek konservasi dan ramah lingkungan, teknik rekayasa penanaman diupayakan dapat diadopsi oleh masyarakat dengan biaya ringan. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui pertumbuhan tanaman yang menggunakan pot kardus. Pemanfaatan limbah kardus sebagai pot pelindung media tanam berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman maupun perkembangan kesuburan tanah. Dari sisi pertumbuhan ditunjukan dengan lebih tingginya prosentase pertumbuhan tanaman sengon yang menggunakan pot kardus yaitu 37.96 % untuk tinggi dan 37,91 untuk diameter. Sedangkan sengon tanpa pot kardus pertumbuhannya hanya 35,35 % untuk tinggi dan 33,8 untuk diameter. Adapun perkembangan kesuburan tanah/lahan ditunjukan dengan meningkatnya PH, BO, dan NPK. Nilai pH meningkat dari kondisi awal dibawah 6 kemudian pada tahun pertama menjadi 6,52 dan pada akhir tahun kedua menjadi 6,53. Bahan organik juga meningkat dari 1,35% menjadi 1,88%. Kandungan P tersedia bertambah dari 0,44 menjadi 5,95 ppm, K tersedia meningkat 0,06 menjadi 0,13 me/100 g dan N tersedia meningkat dari semula dibawah 71 menjadi 75,10 ppm.

Kata Kunci: rekayasa penanaman, pertumbuhan tanaman, lahan kritis


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Letusan gunung dapat mengakibatkan terjadinya kerusakan lahan sehingga timbul lahan-lahan kritis. Lahan di sekitar lereng gunung yang terkena letusan gunung (erupsi), akan rusak dan tertutup oleh material-material kasar seperti pasir, kerikil dan batu. Lahan-lahan tersebut juga akan terisi oleh material primer seperti kuarsa (SiO2), apatit (Ca5CPO4)3(OH,F), pirit (FeS2), magnetit (Fe2O3), zirkon (ZrSiO4) dan lain-lain yang belum bisa diserap oleh tanaman (Ayunin, 2014). Selain itu, lahan berupa timbunan abu volkan (pasir, debu, kerikil dan batu) struktur  tanahnya buruk dan air tersedianya rendah serta memiliki unsur hara tersedia yang juga rendah sehingga menyulitkan vegetasi untuk beradaptasi. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya rehabilitasi lahan agar lahan dapat segera berfungsi kembali.  
Berdasarkan pengamatan pascaerupsi Gunung Merapi tahun 2010, upaya rehabilitasi lahan berupa penanaman pohon yang dilakukan secara-besar-besaran oleh berbagai pihak tidak menunjukan hasil yang baik. Tingkat keberhasilan tanamannya sangat rendah karena banyaknya tanaman yang mati setelah dilakukan penanaman. Menurut Harjadi et al (2014), penyebab kegagalan tersebut dikarenakan tidak ada kegiatan pemeliharaan setelah penanaman. Disamping itu, kondisi tanah belum siap ditanami karena mengandung material-material vulkanik yang belum terlapuk sehingga unsur hara belum tersedia bagi tanaman.
Salah satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh baik adalah ketersediaan unsur hara yang cukup di dalam tanah (Lingga, 2005). Oleh karena itu, diperlukan upaya agar mineral-mineral primer hasil erupsi secepatnya mengalami tranformasi menjadi mineral sekunder yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Tranformasi mineral primer menjadi mineral sekunder tersebut terjadi melalui proses pelapukan yang membutuhkan waktu lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Diantaranya keberadaan bahan organik, makro dan mikro faunauaya. Agar faktor tersebut tersedia, maka rehabilitasi lahan bekas letusan gunung berapi dapat dimulai dengan menutup lahan kritis menggunakan jenis pioner untuk mengembalikan kelembaban tanah dan mendukung pertumbuhan tanaman (Harjadi et al, 2013). 
Untuk mempercepat proses pengembalian kelembaban tanah, diperlukan pengaturan komposisi jenis tanaman yang tepat. Disamping itu, diperlukan pula rekayasa penanaman pada tanaman besar (pohon) agar dapat segera tumbuh dengan baik sehingga mendukung pertumbuhan tanaman lainnya. Rekayasa penanaman tersebut juga dimaksudkan agar petani dapat segera memperoleh hasil dari tanaman yang ditanamnya. Oleh karena itu, pemilihan jenis tanaman harus memperhatikan nilai-nilai konservasi maupun ekonominya dengan memilih jenis-jenis yang cepat tumbuh dan menghasilkan. Teknik rekayasa penanaman juga harus diupayakan agar berbiaya murah sehingga dapat dilaksanakan oleh petani.
Salah satu teknik rekayasa yang murah adalah dengan sistem pot karena hanya memerlukan tambahan media tanam pada setiap lobang tanam saja (Hidayat et al, 2009). Namun demikian, banyak rekayasa dengan sistem pot yang telah dilakukan selama ini sulit diikuti oleh petani karena kesulitan bahan yang diperlukan dan juga proses pengerjannya. Oleh karena itu diperlukan bahan-bahan yang murah dan mudah didapat serta mudah dalam pengerjaannya. Salah satu bahan yang murah dan mudah didapat adalah karton/kardus bekas. Selain itu katron/kardus bekas sangat sederhana dalam penggunaannya sehingga dapat menjadi pilihan untuk dimanfaatkan dalam rekayasa penanaman pada lahan bekas erupsi oleh masyarakat. 

B. Tujuan
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi teknik rekayasa penanaman pada lahan kritis bekas erupsi yang murah dan mudah dilaksanakan oleh masyarakat (petani).

II. METODOLOGI

A. Bahan dan Alat
Bahan dan alat yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan diantaranya :
1) Perlengkapan lapangan (cangkul, linggis, bor modifikasi, parang, ajir, dll)
2) Penguat teras atau guludan dari batu pada setempat
3) Bibit tanaman pokok (sengon) dan tanaman pengisi (buah-buahan)
4) Bibit tanaman penguat teras (rumput vetiver)
5) Bibit tanaman sela (gamal)
6) Kardus/karton bekas
7) Media tanam (tanah dan pupuk kompos / kandang)
8) Alat penyiraman (gombor)

B. Cara/prosedur kerja
1. Pemilihan Lokasi
Lokasi demplot penanaman berada di Desa Kepuharjo Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Propinsi DIY. Desa Kepuharjo dipilih karena merupakan daerah yang mengalami kerusakan lahan cukup parah dan berada pada zona yang masih diijinkan untuk dikelola dan ditempati sebagai pemukiman yaitu pada radius 10 km. Kemudian, pemilihan lokasi dilanjutkan dengan konsultasi dan ijin lokasi ke kantor Desa Kepuh Harjo.
2. Menentukan komposisi jenis tanaman
Penanaman pada lahan bekas erupsi diperlukan komposisi jenis tanaman yang mampu mengebalikan kesuburan tanah lebih cepat. Oleh karena itu, disamping pemilihan tanaman pokok juga perlu tanaman lain untuk mengendalikan erosi, meningkatkan kelembaban tanah, mengendalikan penyebaran hama dan lain-lain. Tanaman pokok dipilih tanaman sengon dengan tanaman pengisi mangga, petai, kelapa dan pisang. Tanaman sela dipilih rumput vetiver (akarwangi) dan gamal atau kliriside.
3. Pengukuran lahan dan penyusunan lay out penanaman
Pada lokasi terpilih selanjutnya dilakukan pengukuran lahan dan menentukan lay out penanaman. Penanaman tanaman pokok dan pengisi diatur secara “nguntu walang” dengan jarak tanam 5 x 5 m dengan tanaman sela kliriside dan tanaman penguat teras rumput vetiver (akar wangi).
4. Pembuatan pot  kardus
Berdasarkan lay out penanaman yang telah disusun, dibuat pot dari kardus sejumlah lobang tanam untuk tanaman pokok yang akan menggunakan pot.
5. Persiapan lahan dan media
Kegiatan dimulai dengan pemasangan acir sesuai lay out yang telah disusun kemudian dilanjutkan dengan pembuatan lubang tanam. Seiring dengan itu, disiapkan pula media yang dibutuhkan untuk mengisi lobang tanam sebagai media pertumbuhan awal bagi tanaman berupa campuran top soil dan pupuk kompos. Selanjutnya dilakukan pengisian media pada lobang tanam maupun pot kardus yang sudah terpasang.
6. Penanaman
Tahapan selanjutnya adalah penanaman sesuai lubang tanam yang telah disediakan. Khusus untuk tanaman pokok (sengon), terdiri dari lubang tanam dengan pot kardus dan lobang tanam tanpa pot kardus. Disamping itu juga dilakukan penaburan benih gamal sebagai tanaman sela dan penanaman rumput vetiver sebagai penguat teras.
7. Pemeliharaan
Pemeliharaan yang dilakukan meliputi penyiangan dan pendangiran, pemangkasan cabang, pemupukan dan pengobatan
8. Pengamatan.
Pengamatan dilakukan terhadap kondisi lahan dan pertumbuhan tanaman yang meliputi pengukuran diameter dan tinggi tanaman serta prosentase pertumbuhannya.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pertumbuhan Tanaman
Pengamatan tanaman pokok dengan pot kardus dan tanpa pot kardus pada akhir tahun kedua menunjukan pertumbuhan dan kondisi tanaman pada gambar 1,2, dan 3.

Gambar 1. Rata-rata tinggi tanaman sengon tahun I sampai akhir tahun ke 2

Berdasarkan gambar 1 dan gambar 2, tinggi dan diameter sengon dengan pot kardus pada akhir tahun kedua tampak lebih baik daripada sengon tanpa pot kardus dengan tinggi rata-rata mencapai 631,15 cm dan diameter rata-rata 75,25 mm. Pertumbuhan tingginya sebesar 37,96 % dan pertumbuhan diameternya sebesar 37,91 % dari ukuran pada tahun pertama (gambar 3). Sedangkan pertumbuhan sengon tanpa pot kardus hanya 35,5 % untuk tinggi dan 33,8 untuk diameternya. Hal tersebut menunjukan bahwa penggunaan pot kardus sebagai pelindung media tanam dapat mendukung dan menjaga keberadaan hara pada media tanam yang diberikan. Selain itu, tanaman sengon dengan pot kardus mendapatkan tambahan hara dari kardus yang digunakan. Kandungan dalam kardus bekas sebenarnya mirip dengan kandungan yang terdapat dalam merang atau jerami yaitu selulosa. Jerami juga mengandung 0,5-0,8%, N 0,07- 0,12% P dan 1,2-1,7% K yang diperlukan untuk pertumbuhan tanaman (Junaedi, 2008). Menurut Lingga (2005), pertumbuhan dan hasil tanaman dipengaruhi oleh unsur hara yang tersedia.


Gambar 2. Rata-rata diameter tanaman sengon tahun I sampai akhir tahun ke 2


Gambar 3. Rata-rata pertumbuhan tanaman sengon tahun pertama sampai
akhir tahun ke 2

Pada tahap awal pertumbuhan tanaman, akar tanaman hanya menyerap unsur hara dari media dalam pot kardus. Penggunaan kardus tersebut dapat melindungi akar tanaman dari pengaruh suhu panas dan padatnya material bekas erupsi serta mineral-mineral primer yang belum siap digunakan oleh tanaman. Ketika akar tanaman mulai tumbuh memanjang, keberadaannya tidak menghalangi pergerakan akar untuk menembus lapisan tanah asli yang tertimbun karena pot kardus sudah mulai mengalami pelapukan. Disamping itu, pot berbahan kardus memiliki tekstur yang lembut sehingga mudah ditembus oleh akar. Menurut Mask’ud (2014), kertas memiliki tekstur yang lembut sehingga memudahkan penetrasi akar. Kardus juga mampu menyerap dan memegang air dengan baik sehingga dapat membantu mengendalikan suhu dan kelembaban media serta mengikat air disekelillingnya. 

B. Perkembangan Kesuburan Lahan
Lahan yang dijadikan lokasi penanaman pada awalnya merupakan lahan yang belum dikelola untuk usaha pertanian akibat kondisinya masih rusak oleh timbunan pasir bekas letusan Gunung Merapi. Penampakan lokasi penanaman tidak berbeda dengan kondisi daerah sekitarnya yang memperlihatkan belum berhasilnya usaha penanaman. 
Pengaturan kombinasi jenis tanaman disertai dengan rekayasa penggunaan pot kardus pada tanaman pokok telah mampu mendukung percepatan proses pemulihan kondisi lahan. Kondisi lahan pada akhir tahun kedua menunjukan keadaan yang berbeda dengan lahan disekitarnya yaitu tampak lebih hijau dan rimbun dengan pertumbuhan tanaman yang cukup bagus baik tanaman pokok, pengisi maupun sela.  Areal penanaman juga sudah mulai ditumbuhi banyak tumbuhan bawah dan dapat ditanami beberapa tanaman pertanian seperti talas,ketela, jahe, kencur dan lain-lain. Hasil analisis tanah juga menunjukan adanya perbaikan kesuburan tanah (Tabel 1.).

Tabel 1. Kandungan unsur hara tanah
No Parameter Satuan Kandungan Th 1 Kandungan pada akhir Th 2
Area dg Pot Kardus Area sekitarnya
1 pH 6,52 6,53 6,41
3 BO % 1,35 1,88 1,61
4 N tsd ppm 49 75,10 46,84
5 P tsd ppm 0,44 5,95 5,38
6 K tsd Me/100g 0,06 0,13 0,09
 Sumber: Analisis data primer, 2013 dan 2014.

Pada awal kegiatan penanaman, PH tanah masih cenderung masam yaitu dibawah 6. Pada akhir tahun pertama atau awal tahun kedua PH tanah sudah meningkat menjadi 6,52 dan pada akhir tahun kedua meningkat menjadi 6,53. kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengaturan komposisi jenis tanaman disertai perlakuan pot kardus mampu meningkatkan pertumbuhan tanaman. Adanya tanaman dan tindakan pemeliharaan serta pengelolaan tanah dapat meningkatkan nilai pH kearah netral (Harjadi dkk, 2013). Menurut Wahyudi (2012), umumnya unsur hara akan mudah diserap tanaman pada pH 6-7, karena pada pH tersebut sebagian besar unsur hara akan mudah larut dalam air.  
Peningkatan kandungan bahan organik juga terihat dengan adanya perubahan dari akhir tahun pertama yang hanya 1,35% menjadi 1,88% pada akhir tahun kedua.  Hal ini tidak lepas dari pertumbuhan tanaman sehingga banyak serasah serta tumbuhan bawah. Menurut Sutedja dan Kartasapoetra (2010) bahwa bahan utama bahan organik berasal dari serasah atau dari sisa-sisa tanaman yang terdekomposisi dan terintegrasi.  Senada dengan itu, Hanafiah (2012) juga mengungkapkan bahwa sumber primer bahan organik tanah adalah jaringan organik tanaman, baik daun, batang, ranting, buah, bahkan akar tanaman.
Unsur hara Nitrogen (N), Posfor (P) dan Kalium (K) juga menunjukan adanya peningkatan. Pada awal kegiatan kandungan posfor hanya 0,44 ppm, Kalium hanya 0,06 me/100 g. Demikian pula dengan unsur nitrogen (N) yang merupakan unsur utama bagi pertumbuhan tanaman, ketersedianaanya masih sangat rendah yaitu dibawah 71 ppm. Namun pada akhir tahun kedua penanaman, sudah nampak adanya peningkatan meskipun masih dalam kategori rendah yaitu P menjadi 5.95 ppm, K menjadi 0,13 me /100 g, dan N menjadi 75,10 ppm. Kondisi pada tahap awal merupakan hal yang logis mengingat  lahan bekas letusan gunung berapi  yang membawa material kasar sampai halus belum melepas unsur hara (Harjadi dkk, 2013). Pada akhir tahun kedua menunjukan pengaruh baik dari keberhasilan penanaman dimana tersedia bahan organik tanaman berupa serasah, ranting maupun tumbuhan bawah yang tumbuh dibawah tanaman pokok, tanaman sela maupun tanaman pengisi. Menurut Suriadikarta et al (2013), lahan bekas erupsi yang sudah bercampur dengan abu hasil erupsi, akan meningkatkan kesuburan tanah yang pelapukannya dapat dipercepat dengan pengolahan tanah serta pemberian bahan organik. 


IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Pemanfaatan limbah kardus sebagai pot pelindung media tanam berdampak positif terhadap pertumbuhan tanaman maupun perkembangan kesuburan tanah. Dari sisi pertumbuhan ditunjukan dengan lebih tingginya prosentase pertumbuhan tanaman sengon yang menggunakan pot kardus yaitu 37.96 % untuk tinggi dan 37,91 untuk diameter. Sedangkan sengon tanpa pot kardus pertumbuhannya hanya 35,35 % untuk tinggi dan 33,8 untuk diameter. Adapun perkembangan kesuburan tanah/lahan ditunjukan dengan meningkatnya PH, BO, dan NPK. Nilai pH meningkat dari kondisi awal dibawah 6 kemudian di tahun pertama menjadi 6,52 dan pada akhir tahun kedua menjadi 6,53. Bahan organik juga meningkat dari 1,35% menjadi 1,88%. Kandungan P tersedia bertambah dari 0,44 menjadi 5,95 ppm, K tersedia meningkat 0,06 menjadi 0,13 me/100 g dan N tersedia meningkat dari semula dibawah 71 menjadi 75,10 ppm.
B. Saran
Komposisi jenis tanaman yang bernilai ekonomi dan konservasi sangat penting dilakukan. Teknologi yang dibuat harus diusahakan teknologi yang sederhana, praktis, dan aplikatif sehingga  dapat diikuti oleh masyarakat.


DAFTAR PUSTAKA

Ayunin, Q. 2014. Gunung Berapi dan Kesuburan Tanah. http://ayuninforconservation. blogspot.co.id/2014/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html. 

Hanafiah K.A., 2012.  Dasar-dasar Ilmu Tanah. PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. Jl. Pelepah Hijau IV TNI No.14-15 Kelapa Gading Permai , Jakarta.14249.P 166/360

Harjadi, B., Pranatasari, D.S., Siswo, Santi F. 2013. Laporan Kegiatan Plot Model Rehabilitasi Lahan Pasca Erupsi Gunung Merapi Tahun 2013. BPTKPDAS. Surakarta

Harjadi, B., Pranatasari, D.S., Siswo, Santi F. 2013. Laporan Kegiatan Plot Model Rehabilitasi Lahan Pasca Erupsi Gunung Merapi Tahun 2014. BPTKPDAS. Surakarta

Hidayat, R., M. Indriastuti, F. Syafrina, SD. Arismawati, Bobo S., 2009. Model Reklamasi Lahan Kritis pada Area Bekas Penggalian Batu Bata. Jurnal Bestari No 42/Th. XXII/September-Desember 2009. Malang

Junaedi H. 2008. Pemanfaatan Jerami Padi dan Kapur Guna Memperbaiki Permeabilitas Tanah dan Hasil Kedelai Musim Tanah II. Prosidaing Seminar Nasional Sains dan Teknologi II. Universitas Lampung. Lampung

Lingga, 2005. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta

Mask’ud R. 2015. Pemanfaatan Limbah Kertas Sebagai Media Tanam Pengganti Tanah – (Media Tanam Kertas).  http://rismayantimediatanamkertas. blogspot.co.id/2015/07/pemanfaatan-limbah-kertas-sebagai-media.html.

Suriadikarta, Kasno dan Angria. 2013. Rehabilitasi Lahan Pertanian Aspek Kesuburan Lahan Pascaerupsi Gunung Merapi. Balitbang Pertanian. Jakarta.

Sutedja, M.M., dan Kartasapoetra, A.G., 2010. Pengantar Ilmu Tanah; Terbentuknya Tanah Dan Tanah Pertanian. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Wahyudi R. 2012. PH Tanah. http://rony-agriculture.blogspot.co.id/2012/11/ph-tanah.html

Post Top Ad

Your Ad Spot