PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) TUMBUHAN OBAT KOLEKSI UNGGULAN ARBORETUM SEMPAJA SAMARINDA - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Thursday, May 4, 2017

PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) TUMBUHAN OBAT KOLEKSI UNGGULAN ARBORETUM SEMPAJA SAMARINDA

PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack) TUMBUHAN OBAT  KOLEKSI UNGGULAN ARBORETUM SEMPAJA SAMARINDA

Oleh :
Edi dan Ali Rustam
1Teknisi Litkayasa Balai Besar Litbang Ekosistem Dipterokarpa  
Jl. A. Wahab Syahrani Sempaja PO Box 1206 Samarinda
e-mail: edy_jabug@gmail.com dan ali_opo@gmail.com
(Makalah ini telah di terbitkan pada Prosiding LOKAKARYA NASIONAL TEKNISI LITKAYASA, Litbang HHBK Mataram)


ABSTRAK
Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack) merupakan jenis tumbuhan yang berkhasiat obat. Kelestarian jenis tanaman pasak bumi ini perlu dikembangkan melalui teknik budidaya. Upaya konservasi jenis pasak bumi telah dilakukan di Arboretum Sempaja melalui pengembangan taman herbal. Budidaya tanaman pasak bumi tentunya membutuhkan sumber benih/bibit dalam jumlah yang cukup dan kontinyu. Tanaman koleksi jenis pasak bumi yang ada di Arboretum Sempaja dapat dijadikan sebagai sumber benih dalam rangka upaya budidaya tersebut. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai prospek pengembangan pohon induk pasak bumi sebagai koleksi unggulan Arboretum Sempaja, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa sebagai sumber benih untuk menunjang budidaya jenis tumbuhan obat potensial dari Kalimantan. Tanaman pasak bumi koleksi Arboretum Sempaja telah dijadikan sumber benih dalam rangka upaya budidaya tanaman berkhasiat obat. Proses perbanyakan tanaman dilakukan secara generatif dari biji dan benih yang dihasilkan oleh tanaman koleksi tersebut. 

Kata kunci : Pasak Bumi, Koleksi Jenis, Sumber Benih


I. PENDAHULUAN

Hutan merupakan sumberdaya alam yang tidak hanya menghasilkan kayu sebagai hasil utama, tetapi juga hasil non kayu yang telah lama menjadi komoditi perdagangan, antara lain termasuk tumbuhan penghasil obat-obatan. Perubahan fungsi kawasan hutan menyebabkan keberadaan jenis pasak bumi di ekosistem hutan dipterocarpaceae mulai terancam dan dikhawatirkan akan menjadi tumbuhan langka dan akhirnya menjadi punah.
Kelestarian jenis pasak bumi ini perlu dikembangkan melalui budidaya pasak bumi. Upaya konservasi jenis pasak bumi telah dilakukan di Arboretum Sempaja melalui pengembangan taman herbal.
Budidaya pasak bumi tentunya membutuhkan sumber benih/bibit dalam jumlah yang cukup dan kontinyu. Tanaman koleksi jenis pasak bumi yang ada di Arboretum Sempaja dapat dijadikan sebagai sumber benih dalam rangka upaya budidaya tersebut.
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan informasi mengenai prospek pengembangan pohon induk pasak bumi sebagai koleksi unggulan Arboretum Sempaja, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa sebagai sumber benih untuk menunjang budidaya jenis tumbuhan obat potensial dari Kalimantan.


II. TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi IlmiahTanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)
Tanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack) termasuk dalam famili Simaroubaceae. Jenis ini merupakan salah satu jenis yang cukup dikenal sebagai jenis tanaman tropis yang berkhasiat obat. Menurut Angiosperm Phylogeny Group (2003) dalam Susilowati (2008), kedudukan taksonomi pasak bumi adalah sebagai berikut :
Dunia : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliophyta
Ordo : Sapindales
Famili : Simaroubaceae
Genus : Eurycoma
Jenis : Eurycoma longifolia Jack.

Penyebaran Alami Tanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)
Pasak bumi merupakan tanaman asli yang berasal dari negara-negara di kawasan  Asia Tenggara. Persebarannya mencakup Myanmar, Indo-China (Kamboja, Laos dan Vietnam), Thailand, Peninsular Malaysia, Sumatera, Kalimantan dan Filipina (de Padua et al., 1999; Rifai, 1975 dalam Heriyanto et al., 2006). Khusus di Indonesia, persebaran pasak bumi mencakup bagian barat Nusantara, sementara itu di Pulau Jawa jenis tersebut tidak ditemukan (Heyne, 1987). Untuk kawasan Sumatera, hanya beberapa daerah yang diduga masih ditemui tumbuhan pasak bumi yaitu kawasan Leuser, sebagian Propinsi Riau dan kawasan Kerinci Seblat (Susilowati, 2008).
Habitat pasak bumi merupakan hutan tropis dengan curah hujan yang cukup tinggi dan tanahnya tidak pernah tergenang air, datar tetapi lebih disukai kondisi tanah miring, aerasi baik atau banyak mengandung pasir. Pada tingkat semai, tumbuhan ini banyak dijumpai mengelompok di bawah tajuk hutan. Tumbuhan muda tidak menyukai cahaya langsung yang terlalu banyak, tetapi memerlukan cahaya langsung sejak tumbuhan memasuki tingkat pohon. 

Karakteristik Botani Tanaman pasak bumi (Eurycoma longifolia Jack)
Pasak bumi berbentuk pohon yang tingginya dilaporkan cukup bervariasi. Tinggi tanaman pasak bumi mencapai 6 m (Heyne, 1987), tinggi dapat mencapai 10 m (de Padua et al., 1999), tinggi tanaman berkisar antara 15-18 m (Bhat dan Karim, 2010), namun dilaporkan ada juga yang tingginya lebih dari 15 m dengan diameter batang mencapai 15 cm (Indonesia Botanic Garden, 1998 dalam Susilowati, 2008). 
Tanaman pasak bumi koleksi Arboretum Sempaja telah mencapai umur 22 tahun dengan tinggi saat ini rata-rata 4-5 m dan diameter berkisar antara 9-12 cm.Bagian-bagian tanaman pasak bumi adalah sebagai berikut:

Batang Pasak Bumi
Batang umumnya tidak bercabang atau sedikit bercabang menyerupai payung dengan kedudukan daun melingkar (rosette) pada batang. Batangnya tampak kokoh berwarna coklat keabu-abuan dengan kesan raba licin. Ketika tanaman pasak bumi masih muda, batang akan sedikit mengeluarkan getah yang berwarna merah apabila dilukai. Getah tidak menimbulkan gatal apabila mengenai kulit.


Gambar 1. Batang dan Daun Tanaman Pasak Bumi

Daun Pasak Bumi
Daun tanaman pasak bumi termasuk majemuk menyirip, letak daun berhadapan, jumlahnya ganjil dengan panjang 0,3-1 m dan anak daun berjumlah 20-30 pasang. Helaian daun berbentuk oblong, tepi daun halus tidak bergerigi, berukuran 5-25 cm x 1,25-3 cm dan tangkai daunnya berwarna coklat kehitaman.
Permukaan daun bagian atas berwarna hijau tua sedangkan bagian bawah berwarna hijau muda. Namun, daun muda yang masih kuncup berwarna merah. Jika dilihat permukaan daun bagian atas tampak mengkilap sedangkan bagian bawah tidak. Permukaan daun bagian atas dan bawah halus dan memiliki kesan raba licin. Apabila diremas, daun tidak mudah pecah/rusak dan daun tidak bergetah. Luka dari daun yang diremas/dipotong akan terlihat berserabut. Pangkal dan ujung daun berbentuk runcing serta tulang daun terlihat menyirip.


Gambar 2. Bunga dan Buah Tanaman Pasak Bumi


Bunga Pasak Bumi
Bunga tanaman pasak bumi bersifat monoceous atau dioceous, tetapi biasanya dijumpai sebagai dioceous. Jenis dioceous terdiri dari pohon jantan dan pohon betina. Bunga berwarna merah jingga, lebar bunga 0,6 cm, berbulu halus dengan benjolan kelenjar di ujungnya (Indonesia Botanic Garden, 1998 dalam Susilowati, 2008). Bunga betina memiliki benang sari yang besar sedangkan bunga jantan tipis dan kecil. Proses penyerbukan kemungkinan dibantu serangga atau penyerbukan silang

Buah Pasak Bumi
Pada saat muda, buah pasak bumi ada yang berwarna hijau maupun merah, dengan panjang 2-3 cm. Warna akan berubah menjadi merah gelap ketika buah masak (Bhat dan Karim, 2010). Buah pasak bumi tergolong rekalsitran, perkecambahan pasak bumi yang terjadi di habitat alamnya sangat rendah serta membutuhkan waktu yang cukup lama, hal ini disebabkan adanya embrio yang belum cukup masak pada saat pemencaran (Hussein et al.,2005 dalam Susilowati, 2008).

Manfaat Pasak Bumi
Hampir semua bagian tanaman pasak bumi dapat dimanfaatkan sebagai bahan obat. Selama ini tumbuhan pasak bumi telah dimanfaatkan masyarakat tradisional sebagai bahan untuk penyembuhan berbagai penyakit seperti anti malaria, aphrodisiac, anti diabetes, antimikroba dan anti-pyretic, dimana saat ini kesemuanya telah dibuktikan secara ilmiah. Berbagai penelitian menyebutkan bahwa tanaman pasak bumi kaya akan senyawa bioaktif (seperti eurycomaoside, eurycolactone, eurycomalactone, eurycomanone dan pasakbumin-B) dimana alkaloids dan quassinoids merupakan yang dominan (Bhat dan Karim, 2010). 
Tinjauan beberapa penelitian farmakologis menunjukkan banyak manfaat dari tanaman pasak bumi, diantaranya :

Tabel 1. Manfaat tanaman pasak bumi
Bagian tanaman yang digunakan Manfaat Sumber
Akar, batang dan kulit Antiplasmodial Kuo et al., 2003; Kuo et al., 2004
Kardono et al., 1991; Chan et al., 1989; Chan et al., 2004; Ang et al., 1995; Hout et al., 2006; Ridzuan et al., 2007
Sampel tanaman (tidak jelas bagian yang digunakan) Antihyperglycaemic Husen et al., 2004
Akar Cytotoxic Kuo et al., 2003; Kuo et al., 2004;
Kardono et al., 1991; Itokawa et al., 1991; Chan et al., 1992;
Nurhanan et al., 2005
Akar Seksual/Aphrodisiac Gimlette dan Thomson, 1977
Ang et al., 2002; Ang dan Sim, 1997; Ang dan Lee, 2002; Ang et al., 2004; Lin et al., 2001; Chan et al., 2009
Daun Anti tumor Jiwajinda et al., 2002
Akar Antiulcer Tada et al., 1991
Daun, batang dan akar Anti mikroba Farouk dan Benafri, 2007
Sumber : Bhat dan Karim (2010)

III. PENGEMBANGAN TANAMAN PASAK BUMI (Eurycoma longifolia Jack)   DI ARBORETUM SEMPAJA

Koleksi tanaman jenis pasak bumi di Arboretum Sempaja sebanyak 19 pohon.Penanaman dilakukan pada tahun 1994 menggunakan benih yang berasal dari Stasiun Penelitian Hutan Mentoko, Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur. Pengamatan terhadap tanaman pasak bumi dilakukan secara periodik dan diketahui bahwa tanaman mulai berbunga pada umur tanaman 3 tahun dan tinggi 185 cm. Pembungaan dan pembuahan terjadi sekitar bulan Maret-April dan September-Oktober. Dari koleksi yang ada dilakukan upaya budidaya menggunakan metode generatif.
Masa pembungaan dari kuncup hingga mekar memerlukan waktu 1 bulan, begitu juga dari bunga mekar hingga membentuk buah muda.Kemudian dari buah muda sampai menjadi buah masak memerlukan waktu 1-2 bulan. Hambatan dalam pembungaan hingga pembuahan adalah terjadinya serangan hama berupa ulat. Jika dibiarkan ulat ini nantinya yang akan menjadi kupu-kupu yang berwarna kuning. Serangan hama ulat tersebut dapat menghabiskan bunga, buah dan daun-daun sampai gundul. Meskipun tidak sampai menjadikan tanaman mati, tetapi tetap merugikan karena dapat menghambat regenerasi baik secara alami maupun adanya campur tangan manusia.

Proses Pengumpulan dan Perlakuan Benih
Pengumpulan dilakukan dengan cara pemanenan pada pohon induk pasak bumi yang telah berbuah, bertangkai panjang, buahnya berjuntai termasuk buah tunggal (satu buah satu biji) dan buah yang diambil adalah buah yang telah masak secara fisiologi. Ciri-ciri buah yang masak secara fisiologi diantara adalah warna kulit buah merah kehitaman, daging buah sudah mulai lembek dan terdapat buah yang mulai rontok dari tangkainya.
Pengunduhan dilakukan bertahap karena buah pasak bumi masaknya tidak serentak. Jika buah yang diunduh belum masak, maka benih menjadi tidak akan tumbuh ketika dikecambahkan.Cuaca cerah dan kering merupakan kondisi paling ideal untuk pengunduhan dan pengumpulan buah.Buah terkumpul kemudian dipisahkan dari daun, ranting dan bagian lain yang tidak digunakan untuk menghindarkan dari kerusakan buah.
Selanjutnya dilakukan seleksi dan penyortiran buah.Cara yang paling sederhana adalah dengan merendam buah dalam air. Pertama-tama buah buah akan mengapung, namun buah yang masak akan menyerap air dan tenggelam setelah beberapa saat. Buah kosong, buah tidak masak maupun bahan ringan lain akan tetap mengapung. Buah yang terapung tersebut dibuang karena buah tersebut kotiledonnya tidak penuh atau kosong.Buah yang tenggelam hasil seleksi kemudian dibersihkan kulit dan daging buahnya.


Gambar 3. Seleksi Biji

Pada prinsipnya pembersihan buah ini adalah untuk memperoleh bagian biji yang terbebas dari kulit dan daging buahnya. Secara sederhana, pembersihan kulit dan daging buah dapat dilakukan manual dengan cara meremas-remas buah yang telah masak kemudian disiram air berulang-ulang sampai biji/benih benar-benar bersih dari kulit dan daging buah.Pengeringan yang berlebih sangat tidak dianjurkan dan buah jangan diletakkan dibawah sinar matahari langsung. Disisi lain kelembaban yang terlalu tinggi dapat menyebabkan benih berkecambah. 

Proses Pembibitan
Benih yang telah siap kemudian dikecambahkan baik secara langsung maupun tidak langsung.Pengecambahan secara langsung yaitu ditanam langsung dalam polybag yang berisi media dan pengecambahan secara tidak langsung yaitu benih dikecambahkan di bedeng tabur terlebih dahulu, baru kemudian disapih ke polybag.
Media yang digunakan dalam bedeng tabur adalah pasir, sedangkan jika langsung ditanam pada polybag dapat menggunakan campuran media top soil : pasir (v/v) = 2 : 1. Polybag yang digunakan minimal berukuran 8 x 12 cm. Penggunaan polybag dengan ukuran yang lebih besar akan membuat penanganan semakin mahal. Teknis penanaman yaitu benih ditanam hingga ⅔ bagiannya masuk ke dalam media dengan posisi vertikal dimana calon keluar akar berada di posisi bawah. Taburan benih kemudian disiram secara rutin untuk menjaga kelembaban sebagai salah satu syarat terjadinya perkecambahan. Benih akan berkecambah mulai minggu ke 3.
Proses perkecambahan sampai benih berkecambah semua memerlukan waktu kurang lebih 3 minggu. Periode minggu ke 2 merupakan waktu yang paling banyak terjadinya perkecambahan benih.Apabila buah yang didapat langsung diproses, diseleksi dan dikecambahkan, maka kemungkinan benih berkecambah dapat mencapai kisaran 95-100%.
Benih yang telah berkecambah dan memiliki setidaknya 2 pasang daun telah siap untuk disapih, sementara itu bibit yang ditanam langsung dalam polybag dilakukan pemeliharaan. Tahapan penyapihan dapat disampaikan sebagai berikut :
a. Menyiapkan polybag minimal ukuran 8 x 12 cm yang telah disusun dalam bedengan dibawah paranet 60%. 
b. Media yang digunakan adalah top soil dan pasir dengan perbandingan 2:1. Media dilembabkan dengan disiram air, kemudian dibuat lubang di tengah-tengah polybag.
c. Menyiram bedeng tabur untuk memudahkan pencabutan. Mencabut bibit secara vertikal atau dapat juga dengan mengambil kecambah berikut media dalam satu genggaman tangan untuk meminimalkan kerusakan akar. 
d. Merapikan dan memotong akar jika terlalu panjang dibandingkan dengan tinggi polybag yang digunakan.
e. Masukkan bibit pada lubang yang telah dibuat kemudian media dipadatkan ke arah akar sedemikian rupa sehingga bibit dapat kokoh berdiri tegak. Yang harus diperhatikan adalah memastikan akar tidak tertekuk atau patah.
f. Hasil sapihan yang telah selesai untuk 1 bedeng kemudian disiram untuk menjaga kelembaban dan agar terjadi kontak antara akar dengan media.
g. Bedeng kemudian disungkup menggunakan sungkup plastik untuk menjaga kelembaban. Pemeliharaan selama dalam bedeng dilakukan secara rutin. Jika cuaca kering dilakukan penyiraman untuk tetap menjaga kelembaban.


Proses Pemeliharaan
Ketika sungkup telah dibuka secara penuh, kegiatan berikutnya adalah pemeliharaan. Kegiatan pemeliharaan meliputi penyiraman, pemupukan, pembersihan gulma dan seleksi.Penyiraman dilakukan secara rutin 2 kali sehari atau sesuai kondisi cuaca.Pemupukan dimaksudkan untuk memberikan unsur tambahan dan memacu pertumbuhan bibit.Jenis pupuk yang digunakan sebaiknya memiliki kandungan unsur utama yang dibutuhkan tanaman seperti pupuk NPK. Dosis khusus untuk jenis pasak bumi belum diketahui. Pada dasarnya semakin bertambah umur bibit maka dosis pupuk semakin bertambah.
Pembersihan gulma yaitu membersihkan bedengan maupun dalam polybag dari tanaman/rumput pengganggu. Kegiatan ini dapat dilakukan secara manual menggunakan cangkul atau secara kimiawi dengan disemprot herbisida. Pengendalian gulma ini bertujuan untuk menghindari persaingan tanaman dalam pengambilan unsur hara serta mencegah dari tempat bersarangnya hama penyakit.
Kegiatan seleksi bibit merupakan akhir dari proses produksi bibit. Seleksi bibit untuk memisahkan bibit yang memenuhi syarat untuk ditanam di lapangan. Dipilih bibit yang kondisinya sehat (bebas dari hama penyakit), batang  lurus, tampak kokoh (proporsi batang dengan diameter proporsional) serta memiliki kekompakan akar dengan media. Bibit siap tanam ketika berumur ±1 tahun dengan tinggi 30-40 cm.

IV. PENUTUP

Dengan semakin berkurangnya potensi tanaman pasak bumi di alam, maka upaya budidaya dan perbanyakan tanaman pasak bumi menjadi sebuah keharusan.Untuk itu perlu dilakukan pembangunan sumber benih jenis tanaman pasak bumi.Koleksi tanaman jenis pasak bumi di Arboretum Sempaja dapat dijadikan salah satu sumber benih dalam upaya perbanyakan tanaman tersebut.

SUMBER BACAAN
Bhat, R. dan A.A. Karim. 2010. Tongkat Ali (Eurycoma longifolia Jack) : A. Review on its Ethnobotany and Pharmacological Importance. Fitoterapia 81

Heyne, 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia II. Diterbitkan oleh Badan Litbang Kehutanan, Depertemen Kehutanan Jakarta.

Hriyanto, N.M., R. Sawitri dan E. Subiandono. 2006. Kajian Ekologi dan Populasi Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack.) di Kelompok Hutan Sungai Manna-Sungai Nasal, Bengkulu. Buletin Plasma Nutfah Vol. 12 No. 2

Rayan, 2015. Penanaman Jenis Pasak Bumi (Eurycoma sp.) di Arboretum Sempajadan Potensinya Sebagai Sumber Benih dalam Prosiding Seminar Tumbuhan Obat dari Hutan: Konservasi, Budidaya, dan Pemanfaatan. BPTKSDA.

Susilowati, A. 2008. Teknik Perbanyakan dan Kekerabatan Genetik Pasak Bumi (Eurycoma longifolia Jack). Institut Pertanian Bogor (Tesis)

Post Top Ad

Your Ad Spot