PEMILIHAN JENIS POHON MENENTUKAN PENDAPATAN PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT (STUDI KASUS KABUPATEN TASIKMALAYA) - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Thursday, April 27, 2017

PEMILIHAN JENIS POHON MENENTUKAN PENDAPATAN PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT (STUDI KASUS KABUPATEN TASIKMALAYA)

PEMILIHAN JENIS POHON MENENTUKAN PENDAPATAN PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT (STUDI KASUS KABUPATEN TASIKMALAYA)

Oleh :
Soleh Mulyana
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email: solehmulyana@yahoo.co.id
(Makalah ini telah di terbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5,  
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)


ABSTRAK

Pengelolaan hutan rakyat merupakan sumber perekonomian bagi masyarakat di pedesaan, kekeliruan dalam mempersepsikan jenis pohon pendapatan para petani berkurang. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang peredaran jenis-jenis pohon serta pendapatan para petani setelah membudidayakan beragai jenis pohon sebagai vegetasii hutan rakyat di Kabupaten Tasikmalaya. Metode yang digunakan adalah wawancara untuk mengetahui karakteristik para petani dalam memilih bibit jenis pohon yang beredar dipasaran. Identifikasi jenis pohon yang telah dibudidayakan pada lahan garapan masyarakat. Hasil penelitiaan membuktikan bahwaterdapat beberapa bibit jenis pohon (albasia, kamper, merbau,jabon dan gaharu) secara periode populer (trand)di masyarakat dan keterbatasan pengetahuan para petani mudah diperdaya oleh para penjual bibit keliling (mobile). Jenis “kamper” dipersepsikan “kamper borneo (kapur)”, setelah kayunya dipasarkan para petani kehilangan pendapatan sebesar 72,22 %, karena jenis kamper yang dibudidayakan sebenarnya  “gemelina”. 

Kata kunci : Hutan rakyat, kesalahan persepsi nama jenis pohon, pendapatan berkurang


I. PENDAHULUAN

Hutan rakyat merupakan salah satu alternatif sebagai sumber pendapatan yang sangat penting bagi masyarakat, sebagaimana pengelolaan hutan rakyat yang terjadi di Kabupaten Tasikmalaya umumnya dengan pola agroforestri. Perkembangan hutan rakyat khususnya di Kabupaten Tasikmalaya terus meningkat, keadaan ini tidak terlepas dari keberadaan beberapa industri pengoalahan kayu dimana bahan baku yang diperlukan berasal dari hutan rakyat. Sejak keberadaan industri pengolahan kayu;  PT. Warung Batok di Kabupaten Cilacap, PT. Albasi di Kota Banjar dan PT. BKL di Kabupaten Tasikmalaya menjadi salah satu motivasi para petani untuk mengelola hutan rakyat. Keberhasilan para petani dalam pengelolaan hutan rakyat selain telah meningkatkan pendapatan, telah ciptakan perekonomian secara mikro maupun makro. Keadaan ini juga dimanfaatkan oleh para penjual bibit keliling (mobile) sampai ke pelosok pedesaan, walaupun dalam menyebarkan tidak dilengkapi dengan dokumen (sertifikat) yang menjamin kualitas bibit. Sebaliknya dalam menyampaikan informasi nama jenis pohon yang dijual tidak sesuai dengan nama akyu perdagangan yang berlaku secara nasional.
Karakteristik para petani Kabupaten Tasikmalaya dalam memilih atau menentukan jenis pohon yang dibudidayakan selalu termotivasi reka-rekan sesama petani. Keadaan ini sangat erathubungannya dengan keinginan adanya pengakuan status sosial (prestise) di lingkungannya. Komoditi dan produk yang dihasilkan dari hutan rakyat sebagaisumber kehidupan sehari-hari baik itu jangka menengah maupun jangka panjang (saving). SebagaimanaKartasubrata (2003) bahwa pohon serbaguna memiliki kemampuan untuk mencukupi keperluan dalam jangka pendek (sehari-hari) seperti; pakan ternak, kayu bakar, sayuran dan buah-buahan dan jangka panjang seperti cukup untuk waktu tertentu atau waktu yang telah ditentukan seperti keperluan pembuatan rumah. 
Lahan daratan / kering (kebon, ladang, pasir dan huma) digunakan sebagai pengelolaan hutan rakyat pola agroforestry sistim campuran mulai tanaman semusim dan tahunan. Seiring dengan pernyataan Sabarudin S. (2011) bercocok tanam pada lahan kering/daratan yang dilakukan petani seiring dengan bergulirnya waktu dan perkembangan teknologi dikatakan sebagai kegiatan; wanatani, wanafarma, wanasilvafastory dan wanasilvafishery seacara keseluruhan dinamakan agroforestry. Sedangkan Awang SA. et al (2002) hutan rakyat tersusun dari satuan ekosistim kehidupan mulai dari tanaman keras, non kayu, satwa, buah-buahan, satuan usaha tani semusim, peternakan, barang dan jasa serta rekreasi baik pada lahan individu, komunal (bersama), lahan adat maupun lahan yang dikuasai Negara. 
Peredaran dan penjualan bibit-bibit jenis pohon hutan rakyat di Kabupaten Tasikmalaya dimulai tahun 2005, setelah harga kayu ditingkat petani meningkattajam. Keadaan ini menjadi motivasi bagi para petani untuk mengelola hutan rakyat serta berusahamembudidayakan jenis-jenis pohon yang beredaar dipasaran.  Kepopuleran (trand) suatu jenis pohon di masyarakat terutamajenispohonbarusetiap periode selalu muncul, keadaan ini tergantung kepiawaianparapenangkarataupenjualbibitkeliling (mobile) dalammenyampaikaninformasi danpromosi. Jenis pohon yang pernah populer (trand) di masyarakat diantaranya; Sengon, kamper, merbau, dan saat ini jabon. Para petani pemilik lahan sempit sekalipundengan modal kecil akan berusaha untuk memiliki jenis pohon yang sedang trandcukupbeberapapohonuntuk di tanamsebagai tanda kepemilikan lahan. Sebagaimana  Mulyana (2010) penanaman suatu jenis pohon di lahan milik petani, baik itu jenis pohon penghasil kayu atau buah-buahan adalah merupakan ciri kepemilikan lahan, tanda batas lahan milik garapannya dengan lahan milik orang lain. Pemilihan serta penentuan jenis pohon yang dilakukan para petani tentu berkeinginan untuk mendapatkan nilai ekonomi yang lebih tinggi dalam jangka waktu tertentu. Sebagaimana dikatakan Achmad, et al. (2008) pemilihan jenis pohon yang tepat akan mendapatkan hasil susuai yang diharapkan. Kegiatan penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang peredaran jenis-jenis pohon yang beredar dimasyarakat serta pendapatan para petani setelah dibudidayakan sebagai komoditi hutan rakyat.

II. MOTEDE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan diDesa Cisarua – Kecamatan Cineam – Kabupaten Tasikmalaya mulai Bulan Maret 2013.  Pemilihan lokasi berdasarkan informasi dimanamasyarakatnya selalu membudidayakan jenis – jenis pohon baru yang bawa dan dijual pedagang bibit keliling (mobile).

B. Pengumpulan Data
1. Koordinasi dengan Kantor Kecamatan Cineam, kepala Desa Cisarua diperoleh data  gambaran umum keadaan wilayah serta profil Desa, selain itu bantuan kepala Dusun Cikamuning mendampingi kegiatan.
2. Koordinasi dengan BP4K Kecamatan Cineam diperoleh data kelompok tani serta pendampingan petugas penyuluh lapangan. 
3. Para petani pengelola hutan rakyat sebagai responden terpilih sebanyak 20 orang dari dari jumlah 35 orang anggota kelompok tani Saluyu IV dan diperoleh data karakteristik petani (identitas, usia, pengalaman bertani, luas lahan garapan, pemasaran).
4. Observasi dan inventarissasi pada lahan garapan petani diperoleh data  berbagai jenis pohon kayu dan non kayu.
5. Informasi data harga kayu  pohon masih berdiri di kebun maupun yang dipinggir jalan angkutan hasil penelusuran dan wawancara dengan para pelaku pasar atau lembaga pemasaran (industri dan pedagang kayu), selain itu harga bibit berasal dari para penagkar dan bibit keeliling.

C. Analisa Data
Data hasil wawancara dianalisis secara deskriptif kualitatif kemudian identifikasi jenis pohon menggunakan kunci dikotomus serta medeskripsikan dengan referensi yang relevan dan berkompoten.




III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum
Kecamatan Cineam memiliki luas wilayah 7.900,33 ha, terletak pada ketinggian antara 200 – 720 m dari permukaan laut, dengan jenis tanah podsolik dengan PH 4,5 – 6 sedangkan suhu 20o – 30o C. Secara administrative sebelah barat berbatasan dengan 3 Kecamatan yaitu; Manonjaya, Gunung Tanjung dan Salopa, sebelah timur Kecamatan Karangjaya, sebelah utara, timur danselatan wilayah Kabupaten Ciamis. Peta wilayah Kecamatan Cineam sebagaimana disajikan pada Gambar 1.





Gambar I. Peta Wilayah Kecamatan Cineam
Sumber: Kantor Kecamatan Cineam tahun 2013

Gambar 1 menunjukan Kecamatan Cineam terbagi menjadi 10 Desa, sedangkan kegiatan penelitian dilaksanakan di Desa Cisarua yang memiliki wilayah daratan terluas yaitu 1.894,81 ha dengan ketinggian rata 600 m dpl.  Curah hujan 2500 mm dengan suhu rata-rata 270 C.  Terletak pada koordinat  S. 070 27’ 26,0” ; E  1080  22’ 53,2” dengan ketinggian rata-rata 600 m dengan topografi antara 30% s/d 60% wilayah tersebut merupakan perbukitan. Jumlah penduduk 2.633 jiwa dengan mata pencaharian petani sebanyak (60%) = 1.554 jiwa (sumber: profil Desa). 

B. Karakteristik Petani Pengelola Hutan Rakyat
Berdasarkan hasil wawancara bersama responden terpilih sebanyak 20 orang dari 35 orang anggota kelompok tani, karakteristik para petani pengelola hutan rakyat khususnya pada kelompok tani “Saluyu IV” disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.  Karakteristik Responden Petani Hutan Rakyat Desa Cisarua
No. Umur (th) Jmlh (Org) Lama Usaha HR (th) Jmlh (Org) Luas HR (Bata) Jmlh (Org) Pendi-dikan Jmlh (Org)
1 30-35 - 0-5 1 100-250 2 - 4
2 36-40 1 6-10 2 251-300 3 SD 14
3 41-45 2 11-15 1 301- 350 2 SMP 2
4 46-50 3 16-20 2 351-400 3
5 51-55 2 21-25 2 401-450 1
6 56-60 1 26-30 3 451-500 2
7 61-65 3 31-35 2 501-550 2
8 66-70 1 36-40 2 551-600 1
9 71-75 4 41-45 3 601-650 2
10 76-80 3 46-50 2 651 > Up 2
20 20 397,95 20 20
Sumber : hasil olah data 2013

Tabeal 1 menunjukan bahwa pendidikan terbanyak sampai tingkat Sekolah Dasar bahkan sebahagian tidak tamat. Berdasarkan usia  petani (responden) kebanyakan telah berumur ≥ 50 tahun sebagai pengelola hutan rakyat, sedang yang usia (produktif) < 50 th  umumnya bekerja diperkotaan bahkan dan atau ke luar Pulau Jawa sebagai penambang emas tradisional (gurandil). Luas lahan miliki petani antara100 bata – 1.200 bata (0.14 – 1,68 ha) dengan luas garapan setiap hamparan (blok) 50 bata –250 ata (0.07 – 0,35 ha). Satuan luas yang digunakan masyarakat yaitu “Bata” dimana 700 bata setara  1 ha (1 Bata = 14,2857 m2).

C. Inventarisasi dan Identifikasi Jenis Pohon
Hasil inventarisasi dan identifikasi padalahan garapan milik para petani dalam satu hamparan dijumpai beragam jenispohon yang dibudidayakan sebagaimana disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Jenis PohonYang Terdapat Pada Lahan Garapan Para Petani.
No Nama Lokal Produk No Nama Lokal Produk
1 Sengon Kayu 12 Dukuh Buah/Kyu
2 Jabon Kayu 13 Limus Buah/Kayu
3 Mahoni Afrika Kayu 14 Ki Hiyang Kayu
4 Gmelina Kayu 15 Kokosan Buah/Kayu
5 Karet Getah/Kayu 16 Pisitan Buah/Kayu
6 Manglid Kayu 17 Durian Buah/Kayu
7 Tisuk Kayu 18 Nangka Buah/Kayu
8 Afrika Kayu 19 Cengkeh Buah/Kayu
9 Alpuket Buah/Kayu 20 Manggu Buah/Kayu
10 Rambutan Buah/Kayu 21 Kecapi Buah/Kayu
11 Salam Daun/Kayu 22 Mahoni Kayu
Sumber : hasil inventarisasi 2013

Tabel 2 menunjukan jenis-jenis pohon hasil identifikasi yang dibudidayakanpara petani terdiri dari penghasil kayu dan HHBK (buah, getah). Bibit pohon didapatkan petani bersal dari cabutan atau membumbung (menyemaikan) dan sebahagian membeli dari penjual bibit keliling (mobile).  Beberapa jenis pohon telah disebarkan oleh para penangkar dan penjual bibit keliling (mobile) sempat populer (trand) di masyarakat diantaranya: 1) sengon, 2) kamper, 3) Merbau, 4) jabon, dan 5) gaharu. Harga setiap bibit jenis pohon perbatang wilayah Kabupaaten Tasikmalaya diperoleh data berdasarkan informasi disajikanpada Tabel  3.

Tabel 3. Harga Setiap Jenis Bibit Pohon dan Tahun Populer (Trand) di Masyarakat
No. Nama Jenis Pohon Populer (Th.) Harga Bibit Perbatang (Rp.) Tinggi Bibit Ket.
2005-2007 2008-2010 2011-2013
1 Sengon 1.000 – 1.500 650 –1500 500–1.000 30 cm – 100 cm
2 Kamper - 2.500 – 3.000 500 – 1.000 20 cm – 40 cm
3 Merbau - 4.000 –5.000 1.500 – 5.000 20 cm –  40 cm
4 Jabon - - 3.000 – 4.000 20 cm – 50 cm
5 Gaharu - - 25.000 – 30.000 20 cm – 50 cm Mulai beredar
Sumber : hasil wawancara dengan responden 2013.

Tabel 3 menunjukan jenis pohon sertaharga perbatang yang dijajakan oleh penjual bibit keliling setiap periode ;  1) Sengon  tahun 2005-2010 harga Rp. 1.500,-/btg, 2) Kamper tahun 2008-2010 harga Rp. 3.000,-/btg, 3) Merbau tahun 2008 – 2010 harga Rp. 5.000,-/btg, 4) Jabon tahun 2011-2013 harga Rp. 4.000/btg, dan 5) Gaharu akhir tahun 2013 harga Rp. 30.000/btg. Kepiawaian para penjual bibit keliling (mobile) dalam menyampaikan informasi dan promosi setiap pohon baru selalu populer (trand) di masyarakat. 

D. Pemilihan Jenis Pohon
Para petani pengelola hutan rakyat dalam membudidayakan serta memilih dan menentukan jenis pohon antara lain :
1. Secara Turun Temurun
Membudidayakan tanaman mengikuti kebiasaan secara turun temurun dari pendahulunya dimana hanya mersa cukup untuk melanjutkan saja. Keadaan ini dikarenakan lahan garapan yang dikelola merupakan warisan yang dipenuhi oleh berbagai jenis tanaman (sampakan). Para petani demikian umumnya tingkat pengetahuan dan perekonomian terbatas, sulit menerima informasi dan atau mempertahankan keyakinan para pendahulunya. 
2. Serangan Hama dan Penyakit
Pada awal tahun 2008 tanaman hutan rakyat khususnya jenis sengon di wilayah Kabupaten Tasikmalaya terkena serangan hama dan penyakit. Penyebarannya sangat cepat pada akhir tahun 2008 hampir seluruh wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan sekitarnya terkena yang dampak sangat merugikan hampir semua petani pengelola hutan rakyat. Keadaan ini dimanfaatkan oleh para penangkar dan penjual bibit keliling (mobile) dengan mengenalkan sekaligus mempromosikan janis pohon baru yang tahan terhadap penyakit dengan pertumbuhan cepat mulai tahun 2008 yaitu jenis “Kamper”, kemudian muncul jenis baru pada akhir tahun 2009 – 2010 jenis “Merbau”. Para petani tidak meragukan telah mengetahui kualitas maupun nilai ekonomi dari kedua jenis tersebut secara umum dipasaran. Persepsi para petani terhadap jenis “Kamper” yang beredar identik dengan kayu “Kamper Borneo” begitu juga dengan “ Merbau” sehingga berlomba membudidayakan. 
3. Pengakuan Norma Status Sosial
Norma status sosial dilingkungan pedesaan masih berlaku, terbukti sebagaimana telah terjadi pada semua lapisan masyarakat manakala membudidayakan jenis pohon yang menjadi buah bibir dengan kata lain populer (trand) di masyarakat dan tentu menjadi motivasi untuk berlomba membudidayakan walaupun cukup dengan hanya beberapa batang. Sebagai ilustrasi seorang petani belum memiliki serta membudidayakan jenis tanaman yang menjadi buah bibir akan merasa tersisihkan dalam lingkungannya. Hal ini karena setiap dalam pertemuan baik secara formal maupun tidak formal pasti dan selalu akan dibicarakan sesuatu yang telah menjadi buah bibir di masyarakat.   
4. Informasi dan Prestasi
Keberhasilan para petani pengelola huatan rakyat berdasarkan informasi serta melihat secara langsung yang berada disekitarnya atau daerah lain tentu merupakan motivasi bagi peetani lainnya. Sebagai ilustrasi pada awal tahun 2011-2013 telah beredar informasi dimana seseorang telah membudidayakan “jabon” dalam waktu (daur) 5 tahun pada luasan lahan 2 ha dijual sebesar 2 milyar. Kemudian diperkuat dengan mengatas namakan suatu coorporation mengajak serta menyebarkan brosur dengan mendatangi rumah-rumah tertentu bahkan mengadakan suatu pertemuan menawarkan untuk menanamkan saham dalam membudidayakan pohon jabon. Menanamkan sahan minimal sebesar Rp. 5.000.000,- (Rp.10.000,-/pohon x  500 batang pohon) dalam jangka watu 5 tahun akan kembali sebesar Rp. 125.000.000,-  (Rp. 250.000,-/pohon x 500 batang pohon). Selain itu beredar informasi pada akhir tahun 2013 mengenai jenis pohon “Gaharu” dimana keterlibatan para pejabat pemerintah dalam panen perdana serta besar nilai ekonomi yang raihnya bahkan diekspos di media. Sehingga masyarakat kelas menengah keatas cenderung membudidayakan jenis gaharu.
Kejadian serta memomen- momen tersebut merupakan peluang usaha terutama para penangkar dan penjual bibit keliling (mobile), namun demikian dalam mempromosikan ke masyarakat tentu terdapat unsur positif dan negatif. Positifnya para penjual bibit telah membantu Pemerintah dalam menyebarluaskan berbagai jenis tanaman kehutanan sampai ke pelosok pedesaan tentu akan berkurang lahan kritis. Negatifnya manakala jenis tanaman kehutanan yang tersebar di masyarakat memerlukan teknolgi dan penangan secara khusus yang kemungkinan susah dipahami atau memerlukan peralatan serta bahan yang sulit ditemukan secara bebas di pasaran. Keadaan ini mengingat sebagaimana pada Tabel 1 para petani pengelola hutan rakyat dengan tingkat pendidikan rendah dan usia, akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan kemampuan. Hal ini terbukti sebagaimana dalam mempersepsikan jenis pohon walaupun belum pernah mengetahui secara fisik langsung saja percaya terhadap informasi dan promosi yang beredar di masyarakat. Seperti telah terjadi jenis pohon “ kamper” mempersepsikannya “kapur atau kamper borneo” sebenarnya adalah “gmelina”, kemudian muncul lagi jenis “Merbau” dipersepsikan “merbau irian” dan ternyata “Khaya antoteca atau Mahoni Afrika”

E. Pemasaran Kayu Hasil Hutan Rakyat
Pemasaran yang dilakukan para petani secara umum masih berupa pohon berdiri di kebun kemudian jumlah pohon yang dijual sesuai dengan kebutuhan artinya hanya cukup menjual satu atau beberapa pohon hasil seleksi terutama yang berdiameter besar. Kemungkinan diborongkan semua pohon yang terdapat pada satu hamparan manakala memerlukan kebutuhan yang cukup tinggi atau telah terkena hama penyakit. Dengan demikian dapat diasumsikan petani dalam menjual kayu tidak berdasarkan kelas umur (daur) melainkan besar dimensi pohon dan kebutuhan. Hasil  wawancara data informasi mengenai harga kayu untuk setiap jenis pohon masih dalam keadaan berdiri di kebun disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Harga Berupa Pohon Masih Berdiri di Kebun Petani
Kelas Diameter (Cm) Jenis Kayu Harga (Rp./m3)*
Sengon Mahoni Gunung Racuk
10-19 150-200 100-150 100-150 50-100
20 - 24 250-450 200-400 350-500 100-150
25 - 29 500-700 550- 800 550-1.000 150-250
30 - Up 750-1.500
Sumber : hasil olah data 2013 *)x Rp. 1.000,-

Kayu Gunung :Manglid, Jengjing, Ki Hiyang, Salam, Akpuket, Nagka, Manggu, Durian, alpuket dan tisuk. Kayu Racuk: Maesopsis (aprika), kedondong, limus, pisitan, kokosan, dukuh, rambutan, karet, cengkeh dan gemelina
Tabel 4. menunjukan harga setiap jenis pohon masih berdiri dikebun terbagi menjadi 4  golongan yaitu; sengon, mahoni, gunung dan racuk. Harga yang tercatum kisaran antara minimal dan maksimal, hal ini dikarenakan masih dipengaruhi oleh keadaan tofografi, tingkat kesulitan serta jauh dekat lokasi penebangan ke pinggir jalan angkutan roda empat. Golongan jenis kayu sengon menempati posisi nilaai ekonomi tertinggi sekalipun pada demensi Ø ≥ 10 cm dibandingkaan dengan jenis golongan kayu lainnya. Harga setiap golongan jenis kayu setelah berupa kayu bulat (log) di pinggir jalan angkutan roda empat disajikan  pada Tabel 5.




Tabel 5. Harga Setiap Golongan Jenis Kayu Berdasarkan Kelas Diameter dan Panjang Log Setelah di
              Pinggir Jalan Angkutan Roda Empat.
Kelas Diameter (Cm) Jenis Kayu, Panjang Log  (m) dan Harga (Rp./m3)*
Sengon Mahoni
1 m 1,3 m 2 – 3 m 1 m 1,3 m 2 – 3 m
10 - 14 - 250-350 350-450 30 30-50 50-100
15 - 19 200-350 300-400 450-500 200-350 400-500 650-750
20 - 25 250-400 350-500 600-750
26 - 29 250-400 500-650 750-900 350 -400 500-650 750- 9.00
30 - Up 250-400 550-850 750-1.000
Gunung Racuk
10 - 14 - 250-350 350-450 - - -
15 - 19 250-350 300-400 450-500 50-100 50-100 50-100
20 - 25 350-500 450-700 750-900 50-100 200-250 250-300
26 - 29 450-600 650-750 900-1.000 150-200 300-400 350-500
30 - Up 450-750 650-900 900-1.200 100-250 300-500 350-600
Sumber : hasil olah data 2013*)Rp. 1.000,-

Tabel 5 menunjukan harga setiap jenis kayu berdasarkan kelas diameter dan ukuran panjang log di pinggir jalan angkutan roda empat. Harga kisaran antara minimal dan maksimal karena masih dipengaruhi jauh dekat ke lokasi industri.
Karakteristik para petani dalam memasarkan kayu berdasarkan besar diameter dan kebutuhan. Sebagai ilustrasi para petani mempersepsi jenis “Kamper” dalah “kapur atau kamper borneo” yang telah dibudidayakan, saat ini telah mencapai diameter ≥ 30 cm dan dianggap sudah cukup dijual dengan harapan tentu akan mendapatkan nilai ekonomi yang cukup tinggi.  Masyarakat secara umum mengetahui harga berupa sawtimber kamper borneo Rp. 7.000.000,-/m3 di toko material. Namun yang dihadapi para petani terhadap jenis “kamper” ternyata jenis kayunya masuk dalamgolongan racuk atau ladig dengan harga tertinggi sebagaimana pada Tabel 4 sebesar Rp. 250.000,-/m3. Perbandingan harga dengan diameter sengon yang sama dengan terendah saja tetinggi Rp. 750.000,- /m3 setara dengan perbandingan (3:1).  Harga 3 m3 gmelina sama dengan harga 1 m3 sengon dengan demikianm petani telah kehilangan pendapatan sebesar 72,22 % setelah demikian membudiyakan jenis gemelina. Bagaimana nasib para petani dikemudian hari yang telah membudidayakan jenis pohon Merbau dan Jabon, sedangkan lain halnya dengan jenis Gaharu yang memerlukan penangan khusus (inokulasi) serta masih sulit mendapatkan “jamur” dimana belum beredar secara umum dan bebas di pasaran.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Keterbatasan pengetahuan para petani merupakan kendala sehingga mudah terpedaya oleh informasi,  promosi para penjual bibit keliling (mobile), serta kekeliruan dalam mempersepsikan nama jenis pohon.  Pemilihan jenis pohon untuk dibudidayakan masih kuat dipengaruhi adanya pengakuan norma status sosial (prestise) selain itu memilih jenis pohon dikarenakan kepopuleran (trand) di masyarakat. 
2. Kesalahan persepsi dalam menafsirkan nama jenis pohon para petani seperti pada jenis pohon  gmelina dianggap jenis pohon kamper borneo sehingga pada saat dipasarkan kehilangan pendapatan sebesar 72,222 %, 
3. Para penengakar dan penjual bibit keliling(mobile) sangat berperan dalam menyebarkan bibit tanaman kehutanan sampai ke pelosok pedesaan namun kenakalan para penjual bibit dalam menyampaikan informasi dan promosi dapat merugikan para petani.

B. Saran
1) Peranan instansi terkait sangat diperlukan sebagai sumber informasi melalui petugas penyuluh lapangan yang senantiasa memberikan pembinaan dan bimbingan secara intensif kepada para petani dan kelompoknya. Pengawasan (karantina) terhadaap keluar masuknya bibit-bibit kehutanan dari daerah lain serta pembinaan terhadap para penangkar dan penjual bibit keliling (mobile).

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohim S, Mandang Y.I,  Sutisna U. 2004.  Atlas Kayu Indonesia. Jilid III. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan. Bogor.

Anonumus. 1974.  East Borneo Bulungan dan Berau.  Bagian Botani Huta Lembaga Penelitian Hutan Bogor.
Budiman A, Soleh M, Nana S, Suyarno. 2008. Petunjuk teknis. Cara Cepat Memilih Jenis Pohon Untuk Hutan Rakyat. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis.

Hyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia Jilid I,II,III dan IV. Terjemahan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kehutanan. Yayasan Sarana Wana Jaya. Jakarta.

Kartasubrata J. 2003. Social Forestry dan Agroforestry di asia. Buku I. Lab Politik Ekonomi dan Sosial Kehutanan. Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor. 

Martawijaya A, Kartasujana I, Kadir K, Among AP. 2005.  Atlas Kayu Indonesia. Jilid I. Badan Penelitian dan Pengebangan Kehutanan. Bogor.

Sambarudin S. 2011.  Keeynotipe Agroforestry.  Workshop Status Riset Teknologi Agroforestry di Botani Square  -  Bogor tanggal 12 Nopember 2011

Samingan, M.T. 1974 Catatan Jenis Pohon Penghasil Kayu Eksport di Indonesia. Proyek Peningkatan / Pengembangan Perguruan Tinggi Bogor.

Samingan, M.T. 1982. Dendrologi. Kerjasama Bagian Ekologi Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Penerbit Gramedia.

Soleh M. 2010. Kontribusi “Pais poho” Sangat Berperan Dalam Mengatasi Kesulitan Perekonomian Petani di Jawa Barat. Al-Basia. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Vol. 7 No. 1 Juni 2010. 

Post Top Ad

Your Ad Spot