OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN AGROFORESTRY MILIK MASYARAKAT DI WILAYAH DAS CIMUNTUR - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, April 28, 2017

OPTIMALISASI PEMANFAATAN LAHAN AGROFORESTRY MILIK MASYARAKAT DI WILAYAH DAS CIMUNTUR

OPTIMALISASI PEMANFAATAN  LAHAN AGROFORESTRY MILIK MASYARAKAT DI WILAYAH DAS CIMUNTUR

Idin Saepudin Ruhimat dan Devy Priambodo Kuswantoro
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email : idintea@yahoo.co.id
(Makalah ini Telah Diterbitkan Pada Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)


ABSTRAK

Pola agroforestry merupakan pola usahatani yang diyakini dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan tingkat erosi di wilayah DAS Cimuntur.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola agroforestry yang berpotensi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pola agroforestry pada lahan masyarakat (meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan tingkat erosi) di wilayah DAS Cimuntur. Data dianalisis menggunakan Program Tujuan Berganda (Multiple Goal Programming) dengan bantuan program komputer    QM for Windows Versi 3.2. Hasil penelitian menunjukkan pola agroforestry yang disusun dari  tanaman  kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman bawah semusim merupakan pola agroforestry yang secara optimal dapat menurunkan tingkat erosi lahan agroforestry milik petani dibawah atau sama dengan erosi yang ditolerir dan meningkatkan pendapatan bersih usahatani agroforestry lebih besar atau sama dengan Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) petani di wilayah DAS Cimuntur.

Kata kunci : optimalisasi, pola agroforestry, lahan masyarakat


I.    PENDAHULUAN

Daerah Aliran Sungai Cimuntur adalah salah satu sub DAS yang termasuk ke dalam wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS) Citanduy yang merupakan salah satu DAS kritis yang berada di Pulau Jawa. Hal ini dikarenakan tingkat erosi yang terjadi di wilayah DAS Citanduy sangat tinggi yaitu 230 ton/ha/tahun sehingga merupakan salah satu penyebab utama terjadinya pendangkalan sungai dan sedimentasi di wilayah Sagara Anakan (Dwiprabowo, 2001).
 Penyebab tingginya tingkat erosi di wilayah DAS Citanduy (termasuk Sub DAS Cimuntur) adalah tekanan terhadap tataguna lahan oleh semakin bertambahnya jumlah penduduk serta penggunaan pola tanam yang tidak memperhatikan aspek ekologi dan sosial ekonomi masyarakat di wilayah DAS.
Pemanfaatan lahan secara berkelanjutan merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur baik dalam meningkatkan pendapatan petani maupun menurunkan tingkat erosi. Pola agroforestry merupakan pola usahatani berkelanjutan yang dipercaya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan menurunkan tingkat erosi secara lestari.
Akan tetapi,  berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan Puspitojati dkk (2013) menyebutkan  penggunaan pola agroforestry yang dilakukan sebagian besar masyarakat di wilayah DAS Cimuntur masih belum optimal dalam meningkatkan pendapatan petani dan menurunkan tingkat erosi di lahan agroforestry yang dimilikinya. Hal ini disebabkan oleh belum optimalnya kombinasi jenis tanaman penyusun pola agroforestry yang dilakukan oleh masyarakat (Puspitojati, 2013).
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola agroforestry yang berpotensi untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan pola agroforestry pada lahan masyarakat (meningkatkan pendapatan petani dan menurunkan tingkat erosi lahan agroforestry) di wilayah DAS Cimuntur. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua stakeholder dalam menerapkan pola agroforestry optimal di wilayah DAS Cimuntur.

II.    METODE PENELITIAN

A.    Waktu dan Lokasi Penelitian
 Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Januari - Desember 2013 bertempat di wilayah DAS Cimuntur. Terdapat tiga kecamatan di wilayah DAS Cimuntur yang dijadikan sebagai lokasi penelitian, yaitu Kecamatan Rancah, Kecamatan Lumbung, dan Kecamatan Sadananya. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara purposive sampling dengan pertimbangan sebagai berikut (a) kecamatan terpilih merupakan daerah yang dilewati aliran salah satu sungai utama DAS Cimuntur yang terdiri dari Sungai Cimuntur, Sungai Cileueur, dan Sungai Ciliung. (Kecamatan Lumbung dilaliri oleh Sungai Ciliung, Kecamatan Sadananya dialiri oleh Sungai Cileueur, dan Kecamatan Lumbung dialiri oleh Sungai Cimuntur), (b) seluruh atau sebagian besar wilayah kecamatan terpilih berada  dalam wilayah DAS Cimuntur, dan (c) kecamatan terpilih memiliki petani yang menerapkan pola agroforestry di seluruh/sebagian lahan miliknya.

B.    Teknik Pengambilan Sampel
Responden dalam penelitian ini terdiri dari dua kelompok responden, yaitu responden yang berfungsi untuk menentukan bobot tujuan penggunaan pola agroforestry menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan responden petani untuk analisis Goal Programming.  Responden untuk penentuan bobot tujuan penggunaan pola agroforestry adalah 10 orang yang ditentukan secara purposive sampling  yaitu para pihak yang memiliki pengetahuan tentang pemanfaatan lahan pola agroforestry di DAS Cimuntur, sedangkan responden petani untuk analisis goal programming berjumlah 87 orang petani yang dipilih dengan menggunakan metode pengambilan sampel bertahap (multistage sampling) kepada petani yang melakukan pola agroforestry pada sebagian atau seluruh lahan miliknya.

C.     Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah analisis optimasi pemanfaatan lahan dengan menggunakan Program Tujuan Berganda (Multiple Goal Programming). Sasaran penggunaan Program Goal Programing ditujukan untuk memaksimumkan tingkat pendapatan petani dan meminimalkan tingkat erosi dengan memperhatikan kendala ketersediaan lahan, ketersediaan tenaga kerja, dan  ketersediaan modal yang disediakan petani. Pembobotan terhadap sasaran yang telah dirumuskan dalam penelitian ini menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bantuan Program Expert Choice Versi 7.
Analisis optimasi dengan menggunakan Program Goal Programming merupakan bentuk perluasan model pemograman linier (linear programming) sehingga seluruh asumsi, notasi, formulasi model matematis, prosedur perumusan model, dan penyelesaiannya tidak berbeda. Perbedaan hanya terletak  kepada kehadiran variabel deviasional (Siswanto, 2006). Program komputer yang dipergunakan untuk melakukan analisis goal programming adalah Program QM for Windows Versi 3.2.
              
III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Pola Agroforestry di Lokasi Penelitian
Secara umum, pola agroforestry di lahan milik responden merupakan pola agroforestry kompleks yaitu pola agroforestry yang disusun dari kombinasi berbagai jenis tanaman kayu-kayuan, tanaman perkebunan, tanaman buah-buahan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman bawah semusim dengan jarak tanam yang tidak teratur. Adapun pola agroforestry milik petani di lokasi penelitian dapat dikelompokkan menjadi :   
1.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman bawah semusim
2.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman bawah tahunan
3.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman bawah tahunan dan tanaman bawah semusim
4.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman perkebunan
5.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman perkebunan dan tanaman bawah tahunan
6.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan  dan  tanaman perkebunan dan tanaman bawah semusim
7.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, dan  tanaman perkebunan
8.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, dan tanaman bawah semusim
9.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, dan tanaman bawah tahunan
10.    Pola  agroforestry  yang  terdiri dari tanaman   kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman bawah tahunan , dan tanaman bawah semusim
Pola agroforestry yang digunakan petani di lokasi penelitian, selanjutnya disebut sebagai skenario 1 sampai dengan  skenario 10 pada proses analisis goal programming  dalam penelitian ini.
 
B.    Tujuan Penggunaan Pola Agroforestry dalam Pemanfaatan Lahan  di Wilayah DAS Cimuntur
Bobot tujuan penggunaan pola agroforestry merupakan hasil rata-rata pembobotan yang diberikan oleh stakeholder  terhadap optimalisasi penggunaan pola agroforestry dalam pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur. Analisis yang digunakan untuk menentukan bobot tujuan optimalisasi tersebut adalah Analytical Hierarchy Process  (AHP) dengan bantuan Software Expert Choice Versi 7.0. Hasil rata-rata bobot tujuan penggunaan pola agroforestry dalam pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1.  Rata-rata bobot tujuan penggunaan pola agroforestry dalam optimalisasi pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur menurut  pendapat stakeholder
Tujuan Penggunaan Pola Agroforestry     Rata-rata Bobot Kepentingan
Meminimalkan erosi    0,54
Meningkatkan pendapatan petani    0,46
Sumber : hasil analisis data, 2013
       
Hasil pembobotan tujuan penggunaan pola agroforestry dalam optimalisasi pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur menunjukkan bahwa tujuan meminimalkan erosi memiliki bobot kepentingan yang lebih besar dibandingkan dengan tujuan memaksimalkan pendapatan petani.

C.    Optimalisasi Tujuan Penggunaan Pola Agroforestry dalam  Pemanfaatan Lahan
1.    Tujuan Penggunaan Pola Agroforestry dalam Pemanfaatan Lahan
Terdapat dua tujuan utama penggunaan pola agroforestry dalam model operasional penelitian ini, yaitu meminimalkan erosi dan  meningkatkan pendapatan petani.
Target meminimalkan erosi didapatkan dari perkalian antara nilai erosi yang ditolerir dengan luas lahan rata-rata yang dimiliki petani. Adapun besaran nilai erosi yang ditolerir di lokasi penelitian didasarkan kepada hasil simulasi tingkat erosi yang ditolerir dengan menggunakan Motode Hammer  yang telah dilakukan Puspitodjati, dkk (2013) yaitu sebesar  34,56 ton/ha/tahun, sehingga target meminimalkan erosi untuk penggunaan pola agroforestry dalam pemanfaatan lahan di lokasi penelitian adalah sebesar 15,21 ton/tahun dengan rata-rata luas lahan agroforestry setiap petani sebesar 0,44 hektar.
Target pendapatan bersih pola agroforestry dihitung berdasarkan pendekatan nilai Kebutuhan Hidup Minimum (KHM) petani dari Sajogyo. Sajogyo dalam Marwah (2008) menyebutkan nilai ambang kebutuhan hidup minimum untuk rumah tangga di pedesaan setara dengan 320 kg beras/orang/tahun. Oleh karena itu, target pendapatan bersih petani dari penggunaan pola agroforestry di lokasi penelitian adalah  Rp 8.960.000,00 dengan harga beras 7000/kg dan rata-rata anggota keluarga 4 orang per KK.

2.    Pencapaian Target Penggunaan Pola Agroforestry dalam Pemanfaatan Lahan
Pencapaian target meminimalkan erosi dan memaksimalkan pendapatan petani dengan analisis goal programming pada masing-masing skenario disajikan dalam Tabel 2.

Tabel. 2  Pencapaian target meminimalkan erosi dan memaksimalkan  pendapatan
Skenario Pemanfaatan Lahan    Meminimalkan Erosi    Meningkatkan Pendapatan
    Target (ton/tahun)    Ketercapaian Target    Target (Rp/tahun)    Ketercapaian Target
I    15,21    Optimal    8.960.000    5.477.225
II    15,21    Optimal    8.960.000    5.128.717
III    15,21    Optimal    8.960.000    5.315.022
IV    15,21    Optimal    8.960.000    6.945.434
V    15,21    Optimal    8.960.000    5.693.081
VI    15,21    Optimal    8.960.000    6.768.415
VII    15,21    Optimal    8.960.000    5.748.902
VIII    15,21    Optimal    8.960.000    6.989.820
IX    15,21    Optimal    8.960.000    6.409.804
X    15,21    Optimal    8.960.000    Optimal
       
Berdasarkan hasil optimalisasi penggunaan pola agroforestry dengan analisis goal programming seperti pada Tabel 2 menunjukkan target meminimalkan erosi pada seluruh skenario penggunaan pola agroforestry dalam pemanfaatan lahan (skenario 1 sampai dengan skenario 10) menghasilkan nilai optimal. Hal ini disebabkan target meminimalkan erosi memiliki bobot prioritas yang pertama (hasil analisis bobot dengan AHP) dalam analisis optimalisasi dengan goal programming sehingga target meminimalkan erosi pada semua skenario menjadi target prioritas untuk dioptimalkan.
Hasil  analisis goal programming yang dilakukan untuk tujuan memaksimalkan pendapatan bersih petani seperti pada Tabel 2 menunjukkan bahwa hanya skenario 10 yang memiliki tingkat ketercapaian target optimal dalam meningkatkan pendapatan petani. Hal ini berarti penggunaan skenario 10 yang disusun dari tanaman kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman bawah semusim dalam satu luasan lahan akan menghasilkan pendapatan optimal yaitu lebih besar atau sama dengan nilai KHM di lokasi penelitian (≥ Rp 8.960.000,00).
Berdasarkan pencapaian target optimalisasi penggunaan pola agroforestry (meminimalkan tingkat erosi dan memaksimalkan pendapatan bersih petani) dan pemenuhan kendala/syarat model optimalisasi maka skenario 10 merupakan skenario penggunaan pola agroforestry optimal untuk pemanfaatan lahan di wilayah DAS Cimuntur.
Kemampuan pola agroforestry pada skenario 10 untuk meminimalkan tingkat erosi lebih kecil atau sama dengan nilai erosi yang ditolerir dikarenakan pola agroforestry pada skenario 10 disusun oleh berbagai jenis tanaman dengan strata tajuk yang berbeda sehingga jatuhnya air hujan tidak secara langsung menyentuh tanah. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian  Rauf (2004) dan Arunglanggi (2005) yang menyebutkan penggunaan pola agroforestry dalam pemanfaatan lahan dengan tajuk  multistrata yang mengisi ruang ke arah vertikal dapat melindungi tanah dari erosi akibat hempasan air hujan sehingga erosi yang terjadi di lahan tersebut memiliki nilai lebih kecil atau sama dengan erosi yang dapat ditolerir.
Berdasarkan hasil penelitian ini dan hasil penelitian yang dilakukan oleh Rauf (2004), Rianse, dkk (2010), dan Arunglanggi (2005) membuktikan bahwa pola agroforestry yang mengkombinasikan tanaman kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman bawah semusim yang terdapat pada semua skenario dalam penelitian ini memiliki kemampuan untuk meminimalkan erosi sama atau di bawah tingkat erosi yang ditolerir.
Selain kemampuan untuk meminimalkan tingkat erosi lahan, penggunaan pola agroforestry yang disusun dari kombinasi tanaman kayu-kayuan, buah-buahan, perkebunan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman buah semusim dapat meningkatkan pendapatan petani dari lahan agroforestry. Hal ini disebabkan karena penggunaan berbagai jenis tanaman pada pola agroforestry akan menghasilkan pendapatan yang beragam, stabil dan berkesinambungan untuk petani. Hasil penelitian ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh    Rianse et al. (2010) yang menyebutkan penggunaan pola agroforestry dengan mengkombinasikan berbagai jenis tanaman kayu-kayuan dan tanaman pertanian/perkebunan akan mendapatkan beberapa keunggulan nilai ekonomi, diantaranya : keunggulan dalam produktivitas tanaman, keunggulan nilai diversitas nilai/waktu baik dalam hal produk maupun jasa, dan keunggulan dalam stabilitas serta kesinambungan pendapatan petani dalam menjamin kehidupan petani yang lebih baik.
Tercapainya tujuan meminimalkan erosi dan meningkatkan pendapatan petani pada penggunaan pola agroforestry dengan luas lahan agroforestry  rata-rata 0,44 hektar per petani dapat diketahui dengan membandingkan tingkat erosi lahan dan pendapatan petani sebelum dengan sesudah menggunakan pola agroforestry optimal, seperti dapat dilihat pada  Tabel 3.

Tabel 3. Tingkat erosi dan pendapatan bersih petani sebelum dan sesudah  penggunaan pola agroforestry optimal pada lahan agroforestry seluas 0,44 hektar
Tujuan Pemanfaatan Lahan    Sebelum Penggunaan Pola Agroforestry Optimal     Setelah Penggunaan Pola Agroforestry Optimal
Tingkat Erosi    27,73 ton/tahun    ≤  15,21 ton/tahun
Pendapatan Bersih    Rp 6.474.644,00/tahun    ≥  Rp 8.960.000,00/tahun

Tabel 3 memperlihatkan penggunaan pola agroforestry optimal pada lahan agroforestry petani seluas 0,44 hektar akan mampu menurunkan tingkat erosi lahan dari 27,73 ton/tahun menjadi lebih kecil atau sama dengan 15,21 ton/tahun atau berkurang ≤ 45,15 % dari kondisi erosi aktual pada lahan agroforestry milik petani saat ini. Selain itu, penggunaan pola agroforestry optimal pada lahan agroforestry petani akan mampu meningkatkan pendapatan bersih petani dari Rp 6.474.644,00 menjadi lebih besar atau sama dengan Rp 8.960.000,00 atau bertambah ≥ 28,00 % dari rata-rata pendapatan bersih petani pada penggunaan pola agroforestry saat ini.
Pola tanam agroforestry pada skenario 10 menunjukkan adanya perbedaaan waktu tanam antar kelompok jenis tanaman. Perbedaan waktu tanam yang disebabkan perbedaan karakteristik tanaman memiliki pengaruh positif untuk petani agroforestry dalam menjamin keberagaman, kesinambungan, dan stabilitas pendapatan yang diperoleh petani agroforestry. 
Keberadaan tanaman bawah semusim dalam subskenario optimal memberikan pendapatan kepada petani pada tahun pertama dan tahun kedua pengusahaan sedangkan tanaman bawah tahunan dipergunakan untuk menutupi kebutuhan hidup petani mulai tahun ketiga dan seterusnya.
Tanaman buah-buahan dan tanaman perkebunan yang dipergunakan petani pada subskenario optimal akan memberikan tambahan pendapatan untuk petani mulai tahun ketiga dan seterusnya. Keberadaan tanaman buah-buahan dan perkebunan pada subskenario optimal memberikan sumbangan pendapatan yang cukup penting dan berkesinambungan untuk petani sampai tanaman kayu-kayuan ditebang.



IV.    KESIMPULAN DAN SARAN
A.    Kesimpulan
Pola agroforestry di wilayah DAS Cimuntur (pada luasan lahan agroforestry rata-rata sebesar 0,44 ha/petani) yang secara optimal dapat menurunkan tingkat erosi lahan agroforestry lebih kecil atau sama dengan erosi yang dapat ditolerir (≤ 15,72 ton/tahun) dan meningkatkan pendapatan bersih usahatani agroforestry lebih besar atau sama dengan KHM ( ≥ Rp 8.960.000,00 /tahun) adalah pola agroforestry yang disusun dari  tanaman   kayu-kayuan, tanaman buah-buahan, tanaman perkebunan, tanaman bawah tahunan, dan tanaman bawah semusim.

B.    Saran
Pola agroforestry optimal yang dihasilkan pada penelitian ini disarankan untuk diterapkan sebagai pola tanam di lahan agroforestry milik petani di wilayah DAS Cimuntur dengan tetap memperhatikan kendala-kendala model, kesesuaian jenis dan kondisi biofisik yang terdapat di masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA

Arunglanggi. W. 2005. Optimalisasi Pemanfataan Lahan Pola Agroforestry: Kasus di Kecamatan Tondon 

Nanggala, Kabupaten Tana Toraja. Tesis (Tidak diterbitkan). Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Dwiprabowo, Basuki, Purnomo, dan Haryono. 2001. Penentuan Luas Optimal Hutan di Daerah Aliran Sungai dengan Goal Programming dan AHP: Suatu Pendekatan Model. Jurnal Penelitian Sosial Ekonomi 
Kehutanan Vol.2 No.1. Pusat Penelitian Perubahan Iklim dan Kebijakan Kehutanan. Bogor.

Marwah, S. 2008. Optimalisasi Pengelolaan Sistem Agroforestry untuk Pembangunan Berkelanjutan di DAS Konaweha Sulawesi Tenggara. Disertasi (Tidak diterbitkan). Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Puspitojati, Junaedi, Ruhimat. 2013. Kajian Lanskap Agroforestry pada DAS Prioritas. Laporan Hasil Penelitian (Tidak diterbitkan). Balai Penelitian Teknologi Agroforestry. Ciamis.

Rauf A. 2004. Kajian dan optimalisasi penggunaan lahan agroforestry di kawasan penyangga Taman Nasional Leuser (Studi Kasus di Kabupaten Langkat Sumatera Utara). Tesis (Tidak diterbitkan). Sekolah Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Rianse, U dan Abdi. 2010. Agroforestry: Solusi Sosial dan Ekonomi Pengelolaan Sumber Daya Hutan. Penerbit Alfabeta. Bandung

Siswanto. 2006. Operation Research. Penerbit Airlangga. Jakarta.

Post Top Ad

Your Ad Spot