KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN PADA POLA AGROFORESTRY DI DESA JELEGONG, KECAMATAN CIDOLOG, KABUPATEN CIAMIS - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, February 10, 2017

KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN PADA POLA AGROFORESTRY DI DESA JELEGONG, KECAMATAN CIDOLOG, KABUPATEN CIAMIS

KOMPOSISI JENIS TUMBUHAN PADA POLA AGROFORESTRY DI DESA JELEGONG, KECAMATAN CIDOLOG, KABUPATEN CIAMIS

Oleh :
Sri Purwaningsih
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email : sripurwa1985@gmail.com
(Makalah Ini Telah di Terbitkan Pada Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)


ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis tumbuhan pada pola agroforestri di Desa Jelegong, Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan teknik stratified random sampling berdasarkan luas kepemilikan hutan rakyat sehingga diperoleh 77 buah sampel. Pengukuran dilakukan pada petak tunggal pada masing-masing lahan terpilih yang meliputi pengambilan data kategori semai, pancang, tiang, pohon. Parameter yang diukur adalah nama jenis, jumlah jenis, tinggi dan diameter (tiang dan pancang). Analisis data dilakukan secara matematis untuk mendapatkan nilai kerapatan (K), frekuensi (F), dominansi (C) dan tingkat dominansi (INP).
Hasil penelitian menunjukan bahwa komposisi jenis tumbuhan agroforestri di Desa Jelegong didominasi oleh jenis kayu komersil dan buah-buahan yang direpresentasikan oleh besarnya nilai INP. Kelapa merupakan tumbuhan yang dominan pada pola agroforestri ini karena memiliki INP terbesar (132,26%), diikuti mahoni (60,21%), Aren (25,90%), Pete (19,81%), sengon (12,81), tisuk (10,80%), jengkol (6,56%), durian (6,21%), jati (5,29%) dan cengkeh (3,77%).

Kata kunci: Distribusi jenis, keanekaragaman jenis, agroforestri, Desa Jelegong


I.    PENDAHULUAN

Agroforestri atau lebih dikenal dengan istilah wanatani merupakan salah satu bentuk pengelolaan lahan yang banyak diaplikasikan pada hutan rakyat di Kabupaten Ciamis (Diniyati dkk., 2010). Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi, yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan (Hairiah dkk, 2002).
Agroforestri mempunyai komponen penyusun yang bervariasi sehingga secara fisik susunan kanopi tajuknya berjenjang (kompleks) dengan karakteristik dan kedalaman perakaran yang beragam. Agroforestri merupakan teknik yang ditawarkan untuk adaptasi terhadap pemanasan global melalui perannya dalam mengurangi longsor, mengurangi limpasan permukaan dan erosi, mengurangi kehilangan hara lewat pencucian dan mempertahankan biodiversitas flora dan fauna tanah (Hairiah, dkk; 2008). Oleh karena itu, pengetahuan mengenai komposisi jenis penyusun agroforestri menjadi penting untuk tercapainya tujuan tersebut.
Komposisi jenis adalah susunan dan jumlah jenis pada suatu komunitas tumbuhan (Mahendra, 2009). Untuk mempelajari komposisi jenis maka dilakukan analisis komunitas tumbuhan yang bersifat kuantitatif. Parameter tersebut diantaranya mencakup kerapatan/densitas, frekuensi, dan dominansi (Gopal Dan Bhardwaj dalam Indriyanto, 2006) serta indeks nilai penting/tingkat dominansi (Kusmana, 1997 dalam Indriyanto, 2006). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi jenis pada pola agroforestry di Desa Jelegong, Kecamatan Cidolog, Kabupaten Ciamis.

II.    METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Nopember 2013. Penelitian dilaksanakan di Desa Jelegong Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis Propinsi Jawa Barat. 
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling berdasarkan luas kepemilikan hutan rakyat yang dibagi dalam 4 kelas yaitu (1) Kelas I : 0,25-1 ha (n = 44 KK ), (2) Kelas II: 1-2 ha (n= 25 KK ), (3) Kelas III: 2-3 ha (n= 5 KK), (4) Kelas IV: > 3 ha (n= 3 KK). Total sampel adalah 77 plot. Metode pengambilan sampel adalah metode petak tunggal ukuran 20 m x 20 m yang ditempatkan pada lahan agroforestri yang terpilih. Ukuran plot ini dipakai untuk menganalisa kelas tegakan pohon . Di dalam plot 20 x 20 m dibuat sub plot yang berukuran 10 x10 m untuk menganalisa kelas tegakan tiang , 5 x 5 m untuk menganalisa tingkat pancang  dan 1 x 1 m untuk menganalisa semai . Nilai penting dari setiap kelas tegakan pohon, tiang, pancang, dan semai dianalisa dengan menggunakan persamaan 1 s/d 8 (Indriyanto, 2006).

Kerapatan (K-i) = Jumlah individu suatu jenis (N/Ha)      (1)
Luas plot

Kerapatan Relatif (KR-i) = Kerapatan suatu jenis (K) x 100 %      (2)
Kerapatan seluruh jenis

Frekuensi (F-i) = Jumlah plot ditemukan suatu jenis        (3)
Jumlah seluruh plot

Frekuensi Relatif (FR-i) = Frekuensi suatu jenis x 100 %      (4)
Frekuensi seluruh jenis

Dominansi (C-i) = Jumlah bidang dasar suatu jenis (LBDS)      (5)
Luas plot

    LBDS = 1/4∏d2
∏ : 3,14 dan d : diameter pohon setinggi dada (dbh)

Dominansi Relatif (CR-i) = Dominansi suatu jenis x 100 %      (6)
Dominansi seluruh jenis

Indeks Nilai Penting (INP-i) = KR-i + FR-i     (7)
(Indeks Nilai Penting) INP-i = KR-i + FR-i + CR-i     (8)

Keterangan:
Persamaan 7 untuk semai dan pancang
Persamaan 8  untuk pancang dan pohon

III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil analisis data menunjukan bahwa vegetasi penyusun hutan rakyat di Desa Jelegong terdiri atas 60 jenis tumbuhan (Lampiran 1). Sepuluh besar spesies yang dominan mengacu pada jenis-jenis kayu komersil dan buah-buahan. Tingkat dominansi dinyatakan dalam nilai Indeks Nilai Penting (INP). Spesies – spesies yang dominan (berkuasa) dalam suatu komunitas tumbuhan akan memiliki nilai INP yang tinggi (Indriyanto, 2006). Pada tingkat pohon, kelapa merupakan spesies yang dominan karena mempunyai nilai INP paling besar (132,26%), diikuti mahoni (60,21%), Aren (25,90%), Pete (19,81%), sengon (12,81), tisuk (10,80%), jengkol (6,56%), durian (6,21%), jati (5,29%) dan cengkeh (3,77%). Sedangkan spesies lainnya mempunyai INP lebih kecil dari 2%.
    Kelapa sebagai spesies dominan dianggap sumber penghasilan utama bagi sebagian petani pemilik hutan. Kelapa memberi penghasilan tetap dalam setiap bulannya melalui penjualan buah per butir. Penghasilan tersebut dianggap sebagai gaji bagi mereka. Pemilihan kelapa selain sebagai sumber pendapatan juga karena budidayanya tidak membutuhkan pemeliharan yang intensif serta lebih tahan terhadap serangan penyakit. Komoditas kelapa Desa Jelegong mencapai 48.500 butir pada tahun 2013 (Programa Kabupaten, 2013).
    Mahoni merupakan jenis tanaman kayu yang mempunyai INP tinggi kedua. Jenis ini diperkirakan ditanam ± 15 tahun yang lalu ketika program penghijauan dicanangkan. Sebagian diantaranya merupakan pohon yang telah ada sebelumnya (sampakan). Dominasi mahoni pada semua tingkatan (semai, pancang, tiang, pohon) menunjukan bahwa petani masih mempertahankan anakan mahoni yang ada karena mahoni masih menjadi komoditas kayu yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi walaupun tergolong kayu umur menengah.
Tanaman kayu selanjutnya yang banyak dibudidayakan adalah sengon. Jenis ini pertumbuhannya sangat cepat (berumur pendek), dapat beradaptasi pada berbagai jenis tanah dan kualitas kayunya dapat diterima industri kayu pertukangan (Krisnawati dkk, 2011). Penanaman swadaya untuk jenis sengon dimotivasi oleh pasar kayu sengon yang baik. Petani beranggapan bahwa menanam sengon akan mendapatkan keuntungan yang lebih baik dibandingkan jika lahan mereka ditanami dengan tanaman pertanian semusim (Awang, 2004). Namun, serangan penyakit pada sengon berupa ulat kantong dan karat puru menyebabkan penebangan pohon sebelum waktunya sehingga jumlah tanaman sengon semakim menurun. Belum efektifnya pencegahan serangan penyakit pada sengon ini menyebabkan minat petani untuk menanam sengon menurun. Mereka mulai beralih pada tisuk yang dianggap mempunyai umur dan harga jual mirip dengan sengon namun lebih murah dalam penanaman dan pemeliharaan.
    Aren, jengkol, dan pete merupakan jenis sub dominan selanjutnya yang banyak terdapat di Desa Jelegong. Aren dianggap mampu memberikan penghasilan harian dalam bentuk gula yang diolah dari nira. Tidak semua petani memberdayakan sendiri nira pada hutannya, sebagian besar melakukan sistem bagi hasil dengan penyadap lainnya. Sebenarnya hampir semua bagian aren dapat dimanfaatkan (Iswanto, 2009). Misalnya : akar (obat dan peralatan), pohon (bahan bangunan dan peralatan), daun (pembungkus/kertas rokok), dan buah (makanan). Jengkol dan pete masih dipertahankan keberadaanya karena dianggap memberikan hasil tahunan dengan harga yang bersaing.
    Pada tingkat tiang, mahoni mempunyai niai INP terbesar (100,42%), kemudian sengon (48,72%), tisuk (28,44%), dan afrika (11,63), dan pete (11,42). Pada tingkat pancang dan semai, empat jenis tanaman kayu komersil tersebut (mahoni, sengon, tisuk, dan afrika) menempati empat nilai INP terbesar. Petani di Desa Jelegong beranggapan bahwa empat jenis kayu tersebut merupakan jenis mudah diterima oleh industri kayu dengan harga yang cukup bersaing, murah dalam pemeliharaan, dan umur tebang pohon rata – rata 8 tahun. Berbeda dengan jati, walaupun termasuk kayu bernilai jual paling tinggi tetapi dianggap lebih lama panen karena umur tebangnya mencapai 20 tahun (Martono, 2008). Mengingat alasan pemilihan jenis yang diorientasikan sesuai dengan penerimaan pasar, maka hutan rakyat di Desa Jelegong merupakan jenis hutan rakyat komersil. Ciri hutan rakyat ini karena sudah tersedianya pasar struktural dari jenis yang ditanam (Awang, 2004).
    Persebaran tingkat permudaan yang tidak merata pada semua jenis menunjukan adanya faktor – faktor pembatas dalam proses regenerasi tumbuhan. Gejala ini terlihat pada banyaknya semai dan pancang yang tidak berkembang sampai tingkat tiang serta dominasi jenis – jenis bermanfaat pada tingkat pohon. Hutan rakyat merupakan hutan milik sehingga intervensi manusia akan lebih besar dibandingkan hutan alam. Petani sebagai pemilik mempunyai keleluasaan dalam pengelolaan baik hanya dalam bentuk penanaman maupun langkah intensif dari mulai penanaman, pemeliharaan, sampai dengan pemanenan. Banyaknya regenerasi pada semai yang tidak dapat mencapai tiang disebabkan adanya intervensi manusia pada ekosistem tersebut (Hossain, et al., 2004).
Salah tanaman sela penciri agroforestri di desa jelegong adalah tanaman kapol. Petani umumnya membudidayakan kapol di bawah tegakan sengon karena dianggap tidak terlalu rimbun sehingga cahaya masih dapat masuk dengan baik. Penelitian memang menunjukan bahwa pertumbuhan kapol lebih baik di bawah naungan dibandingkan tanpa naungan (Prasetyo, 2004). Pertumbuhan dan hasil yang menguntungkan diperoleh jika kapol ditanam di bawah tegakan sengon berumur 6 tahun (naungan 70%).
Budidaya kapol dimulai pada tahun 2000-an karena adanya bantuan bibit pemerintah pada kelompok tani. Prospek kapol yang cukup menjanjikan dari aspek ekonomi mendorong masyarakat sekitar ikut membudidayakannya. Kapol memberikan penghasilan berkala setahun 2 kali, dimana pada waktu musimnya mampu dipanen setiap hari.  Kapol memberikan keuntungan dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan berupa meningkatnya pendapatan petani, menambah kesempatan kerja, serta kapol tidak menyebabkan kerusakan pada lingkungan (Selisiyah, 2001).

IV.    KESIMPULAN

Komposisi jenis pada pola agroforestri di Desa Jelegong Kecamatan Cidolog Kabupaten Ciamis di dominasi oleh kayu komersil dan buah-buahan. Jenis dominan adalah kelapa dengan nilai INP terbesar (132,26%), diikuti mahoni (60,21%), Aren (25,90%), Pete (19,81%), sengon (12,81), tisuk (10,80%), jengkol (6,56%), durian (6,21%), jati (5,29%) dan cengkeh (3,77%). Sedangkan spesies lainnya mempunyai INP lebih kecil dari 2%.

DAFTAR PUSTAKA

Awang.2004. Dekonstruksi Sosial Forestri: Reposisi Masyarakat dan Keadilan Lingkungan. Yogyakarta : Bigraf Publishing

Diniyati, D., E. Fauziyah, T. Sulistyati W., Suyarno dan E Mulyati. 2010. Agroforestri di Hutan Rakyat Penghasil Kayu Pertukangan (sengon). Laporan Hasil Penelitian Tahun 2010. Pengelolaan Hutan Tanaman Penghasi Kayu Pertukangan. Badan Penelitian Kehutanan Ciamis. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutananan. Kementerian Kehutanan

Hairiah, K; Widianto; S Rahayu; B. Lusiana. 2002. Wanulcas : Model Simulasi Untuk Sistem Agroforestri. Bogor : ICRAF

Hairiah, K; Widianto; & D. Suprayogo. 2008. Adaptasi dan Mitigasi Pemanasan Global: Bisakah Agroforestry mengurangi Resiko Longsor Dan Gas Rumah Kaca. Kumpulan makalah (bunga rampai) INAFE. Pendidikan Agroforestri sebagai Strategi Menghadapi Perubahan Iklim Global. UNS, Surakarta, 3-5 Maret 2008. Hal 42-62. Melalui http://pertanianberlanjut.lecture.ub.ac.id [6/11/2014]

Hossain, M.K; M. L. Rahman; and A.T.M. Rafiul Hoque. 2004. Comparative regeneration status in a natural forest and enrichment plantations of Chittagong (south) forest division, Bangladesh. Journal of Forestry Research . December 2004, Volume 15, Issue 4, pp 255-260. Melalui http://link.springer.com [22/12/13]

Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. Jakarta : Bumi Aksara

Iswanto. 2009. Aren (Arenga pinnata). Melalui http://repository.usu.ac.id [22/12/13]

Krisnawati, H., Varis, E., Kallio, M. dan Kanninen, M. 2011 Paraserienthes falcataria (L.) Nielsen: ekologi, silvikultur dan produktivitas.CIFOR, Bogor, Indonesia. Melalui http://worldagroforestry.org [22/12/13]

Mahendra, F. 2009. Sistem Agrforestri dan Aplikasinya. Yogyakarta: Graha Ilmu

Martono, 2008. Kontribusi Pendapatan dari Kayu Hutan Rakyat terhadap Pendapatan Rumah Tangga Pengelolanya (Studi Kasus di Desa Karangrejo Kecamatan Arjosari Kabupaten Pacitan). Jurnal Agritek Edisi Khusus Agustus 2008. Melalui http://www.unmermadiun.ac.id/ [25/12/13]

Prasetyo. 2004. Budidaya Kapolaga sebagai Tanaman Sela pada Tegakan Sengon. Jurnal ilmu – ilmu pertanian indonesia. Vol 6. No 1 2004 hal : 22-31

Selisiyah, 2011. Kelayakan Usaha Kapulaga (Amomum cardamom) di Desa Sedayu Kecamatan Loano Kabupaten Purworejo Wilayah KPH Kedu Selatan Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah. Skripsi. Departemen MAnajemen HUtan Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Melalui http://repository.ipb.ac.id [27/12/13].

Post Top Ad

Your Ad Spot