PERTUMBUHAN TANAMAN PENGHASIL GAHARU BUDIDAYA DI PROVINSI LAMPUNG - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Thursday, November 17, 2016

PERTUMBUHAN TANAMAN PENGHASIL GAHARU BUDIDAYA DI PROVINSI LAMPUNG

Oleh;
Syaiful Islam
Teknisi Litkayasa Balitbang Lingkungan Hidup dan Kehutanan Palembang
Jl. Kol. H. Burlian Km 6,5 Kotak Pos 179 Puntikayu, Palembang
(MAKALAH INI TELAH DI TERBITKAN PADA PROSIDING LOKAKARYA NASIONAL TEKNISI LITKAYASA, BALAI LITBANG HHBK, MATARAM) 

ABSTRAK
Pertumbuhan tanaman penghasil gaharu biasanya dipengaruhi oleh berbagai pola tanam dan lokasi. Untuk mengetahui pertumbuhan tanaman yang baik, maka perlu kajian pertumbuhan tanaman penghasil gaharu budidaya di Provinsi Lampung.  Metode yang dilakukan adalah berupa pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman secara langsung dengan membuat plot-plot pengatmatan berupa petak ukur dengan ukuran 30m x 30 m dan 40m x 20 m. Perbedaan ukuran plot disesuaiakn dengan kondisi luas dan bentuk lahan di lapangan. Hasil kajian ini membuktikan bahwa budidaya tanaman penghasil gaharu di Provinsi Lampung dilakukan dalam 2 pola yaitu campuran dan monokultur. Plot tanaman pola campuran menunjukan pertumbuhan yang lebih baik dibanding pola monokultur.

Kata kunci: pertumbuhan tanaman, gaharu budidaya, campuran, monokultur


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Gaharu yang dalam perdagangan internasional dikenal dengan sebutan agarwood, eaglewood, atau aloewood  adalah produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dalam bentuk gumpalan, serpihan atau bubuk yang memiliki aroma keharuman khas bersumber dari kandungan bahan kimia berupa resin (alpha-betha oleoresin). Sesuai dengan Permenhut Nomor P.35/Menhut-II/2007, gaharu termasuk dalam daftar 490 jenis Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) nabati yang potensial untuk dikembangkan. Selain itu, gaharu termasuk dalam 5 jenis HHBK yang mendapat prioritas pengembangannya selain Rotan, Bambu, Madu Lebah dan Sutera (Santoso, 2012 dalam Agus Sofyan dkk., 2015).
Pemanfaatan gaharu oleh masyarakat sudah berlangsung sejak lama, bahkan Indonesia telah melakukan ekspor gaharu dalam jumlah besar dengan pengguna yang paling banyak adalah negara-negara Timur tengah, Taiwan, Jepang serta Cina. Data volume ekspor gaharu Indonesia adalah: (http://www.sumber-gaharu.com).
a. Kurun waktu 1918-1925, Indonesia mengekspor gaharu ke Cina kurang lebih 11 ton per tahun.
b. Periode 1983-1987, ekspor mencapai 103 ton per tahun.
c. Periode 1990-1998, mencapai 165 ton per tahun.
d. Periode 1999-2000, ekspor meningkat menjadi 456 ton.
e. Sejak tahun 2000, ekspor mengalami penurunan hingga hanya 30 ton karena kesulitan bahan baku.
Sedangkan  menurut Asosiasi Gaharu Indonesia (ASGARIN), pada tahun 2010 ekspor gaharu sudah mencapai 700 ton dengan nilai ekspor US$ 80 juta (http://asgarin.blogspot.co.id). Dari data ekspor gaharu Indonesia tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan akan gaharu sangat tinggi. 
Permasalahannya adalah selama ini pemenuhan kebutuhan ekspor tersebut masih mengandalkan gaharu dari hutan alam (gaharu alam). Sementara potensi dan keberadaan tanaman penghasil gaharu di alam sudah semakin menurun dan sangat sedikit. Oleh karena itu untuk meningkatkan potensinya, perlu dilakukan upaya budidaya dan pengembangan tanaman penghasil gaharu, untuk memenuhi kebutuhan ekspor serta untuk menopang semakin menurunnya produksi gaharu alam. Oleh karena itu menurut Sofyan dkk., (2015) upaya konservasi in-situ maupun ex-situ serta budidaya tanaman penghasilgaharu terutama dari genus Aquilaria spp dan Gyrinops sp. menjadi hal yang sangat mendesak, guna mendukung pengembangan tanaman penghasil gaharu dalam skala yang lebih luas dan produktif.
Budidaya tanaman penghasil gaharu baru dimulai sekitar tahun 1990-an, dan hingga akhir tahun 1990-an belum banyak orang yang melakukan penanaman pohon penghasil gaharu. Kurangnya minat budidaya gaharu bisa jadi dikarenakan ketidakpahaman masyarakat akan teknik budidayanya, dimulai kesulitan memperoleh bibit, cara pembibitan sampai teknik penanamannya serta informasi tentang prospek gaharu juga belum sampai ke masyarakat secara lengkap. Baru pada pertengahan tahun 2000-an minat masyarakat menanam pohon penghasil gaharu mulai meningkat di berbagai daerah. Dengan semakin banyaknya informasi dan hasil riset tentang gaharu dan dukungan pemerintah serta semakin mudahnya akses informasi diharapkan akan semakin mendorong minat masyarakat dalam membudidayakan tanaman penghasil gaharu. 
Di Sumatera, khususnya Sumatera Selatan dan Lampung, pada saat ini masyarakat yang melakukan budidaya tanaman penghasil gaharu sudah semakin banyak. Oleh karena itu, pendampingan dan bimbingan harus terus dilakukan agar minat masyarakat dapat tersalurkan sampai tahap pemanenan dan pemasaran. Teknik budidaya dan pola tanam yang benar harus disampaikan kepada masyarakat. Makalah ini menyajikan informasi tentang budidaya tanaman penghasil gaharu serta pertumbuhan tanaman penghasil gaharu dalam berbagai pola tanam dan lokasi di Provinsi Lampung.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui pertumbuhan tanaman penghasil gaharu yang ditanam  dalam berbagai pola tanam campuran di Provinsi Lampung.


II. METODOLOGI

Metode yang dilakukan adalah berupa pengamatan dan pengukuran pertumbuhan tanaman secara langsung dengan membuat plot-plot pengatmatan berupa petak ukur dengan ukuran 30m x 30 m dan 40m x 20 m. Perbedaan ukuran plot disesuaiakn dengan kondisi luas dan bentuk lahan di lapangan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Budidaya Tanaman Penghasil Gaharu
Menurut Sumarna (2012) ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila akan mengembangkan atau membudidayakan tanaman penghasil gaharu, yaitu: 1) Pemilihan jenis; 2) Pemilihan lahan; 3). Teknik pengadaan bibit; 4). Teknik pemeliharaan bibit; 5). Pola budidaya/pola tanam; dan 6). Teknik budidaya.
Memilih jenis merupakan aspek utama dalam budidaya pohon penghasil gaharu, kepentingan jenis erat hubungannya dengan permintaan pasar, kualitas, nilai jual dan nilai guna produk gaharu yang dihasilkan serta produk barang jadi yang dihasilkan (parfum, kosmetika, obat herbal). Pada sisi lain kepentingan lain adalah status kondisi sumberdaya pohon penghasil serta kualitas gaharu yang dihasilkan dan kenyataan lapang menunjukan bahwa genus Aquilaria spp dan Gyrinops sp yang telah masuk Appendix II CITES dapat dibebaskan dari kuota bila produk gaharu bersumber dari hasil budidaya (penangkaran) (Sumarna, 2012). Sementara aspek lainnya mulai dari pemilihan lahan sampai teknik budidaya tanaman penghasil gaharu merupakan standar yang harus diperhatikan dalam budidaya tanaman. 
Salah satu poin penting dari budidaya tanaman penghasil gaharu adalah bahwa tanaman ini merupakan tanaman yang toleran terhadap naungan dalam pertumbuhan dan perkembangan awalnya (Sofyan dkk, 2015). Menurut Sumarna (2008) dalam Sofyan dkk., (2015) bahwa pertumbuhan tanaman gaharu akan ideal pada tempat tumbuh dengan intensitas cahaya 56-75%. Berdasarkan hal tersebut, budidaya tanaman penghasil gaharu yang dilakukan selama ini umumnya ditanam dalam bentuk pola campuran, biasanya masyarakat menanam di antara jalur tanaman pokok seperti karet, sawit ataupun kakao ataupun tanaman pokok lainnya. Selain sebagai syarat mencapai pertumbuhan optimal, dengan pola campuran diharapkan akan diperoleh keuntungan ganda dalam pemanfaatan lahannya.
Menurut Sofyan dan Imam (2013) beberapa keuntungan dari budidaya tanaman gaharu dengan pola tanam campuran adalah:
1. Tanaman gaharu tumbuh dengan normal sebagaimana tanaman gaharu yang tumbuh pada kondisi alaminya. 
2. Dapat meningkatkan produktifitas lahan melalui pemanfaatan ruang tumbuh (spasial) yang maksimal.
3. Walaupun bukan merupakan tanaman utama, karena berfungsi sebagai tanaman sela, namun mempunyai kontribusi nilai ekonomi tinggi.
4. Karena berfungsi sebagai tanaman sela, maka elemen biaya pembuatan tanaman gaharu relatif rendah. 
5. Keuntungan yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa pola tanam campur (lebih dari satu pohon) berfungsi menjaga stabilitas ekosistem serta menghasilkan variasi produk dalam suatu lahan pengelolaan, sehingga dapat mengantisipasi adanya perubahan pasar.

B.  Budidaya Tanaman Penghasil Gaharu di Lampung
Budidaya tanaman penghasil gaharu di berbagai daerah di Indonesia mulai marak di pertengahan tahun 2000-an, sementara di Provinsi Lampung, dari hasil penelusuran dan data diperoleh menunjukkan bahwa penanaman/budidaya tanaman penghasil gaharu dimulai sekitar tahun 2009. Penanaman pohon penghasil gaharu di Lampung berawal dari konsep pola kemitraan. Pola kemitraan yang dilakukan adalah dengan menawarkan kepada petani/masyarakat pemilik lahan untuk menanam pohon penghasil gaharu di lahan mereka minimal sebanyak 100 tanaman dengan mengganti harga bibit senilai Rp. 20.000,- per bibit. Sehingga petani yang mengambil paket 100 bibit, mengeluarkan biaya sebesar Rp. 2.000.000,-. Bagi yang mengambil 2 paket (200 bibit) mereka mengeluarkan biaya sebesar Rp. 4.000.000,- dan seterusnya.
Selanjutnya petani secara mandiri memelihara tanaman tersebut sampai pada umur 5 atau 6 tahun, kemudian akan dilakukan inokulasi dan hasilnya akan dibeli oleh pemodal. Lokasi penanaman tersebar di beberapa kabupaten yaitu Lampung Tengah, Lampung Timur, Pesawaran, Lampung Selatan, Tulang Bawang, Way Kanan dan Mesuji. Pola tanam yang dilakukan ada 2 pola yaitu pola tanam campuran dengan kakao dan sawit, dan pola tanam monokultur. Pada pola tanam monokultur, penanaman dilakukan di tempat terbuka sebagaima pada Gambar 1.

 
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa jumlah tanaman yang tersebar di Lampung berjumlah ribuan, namun dalam kegiatan penelitian ini diambil beberapa sampel yang dianggap mewakili dari aspek lokasi tempat tumbuh serta umur tanaman.  
Lokasi pengamatan dilakukan di kabupaten Lampung Tengah, Lampung timur dan Tulang bawang. Survei dan penentuan/penetapan lokasi sebagai plot pengamatan dilakukan berdasarkan data tanaman yang telah ada. Dari data tersebut, dipilih beberapa lokasi dengan kriteria/berdasarkan pada umur tegakan dan kondisi tanaman.  
Dari beberapa lokasi yang disurvei ditetapkan 10 lokasi tanaman yang dibuat sebagai plot petak ukur yaitu:
1. Tanaman umur 6 tahun di Notoharjo Kabupaten Lampung Tengah
2. Tanaman umur 6 tahun di Pekalongan Kabupaten Lampung Timur
3. Tanaman umur 2 tahun di Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur
4. Tanaman umur 12 tahun di Batanghari Nuban Kabupaten Lampung Timur
5. Tanaman umur 6 tahun di Pekalongan Kabupaten Lampung Timur
6. Tanaman umur 3 tahun di Probolinggo Kabupaten Lampung Timur
7. Tanaman umur 2 tahun di Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah
8. Tanaman umur 6 tahun di Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah
9. Tanaman umur 6 tahun di Trimurjo Kabupaten Lampung Tengah
10. Tanaman umur 6 tahun di Tulang Bawang Kabupaten Tulang Bawang

B.1. Pembuatan Plot dan Pengukuran Tanaman
Setelah ditetapkan lokasi tanaman yang akan dijadikan sebagai sampel pengamatan, kemudian dibuat plot pengamatan sementara dengan ukuran 30m x 30m dan 40m x 20m sebagai petak ukur. Perbedaan ukuran plot disesuaikan dengan kondisi luas dan bentuk lahan di lapangan. Jumlah tanaman yang diukur pada tiap plot berbeda-beda karena perbedaan pola tanam ada yang monokultur dan campuran. Parameter yang diukur dan diamati adalah tinggi tanaman, diameter setinggi dada dan lebar tajuk. Hasil Pengukuran selanjutnya diolah dan dianalisis untuk mengetahui pertumbuhan tanaman tahun berjalan.

 
2.3. Pembahasan
Hasil pengamatan pertumbuhan tanaman penghasil gaharu di beberapa lokasi di  Provinsi Lampung selengkapnya disajikan pada  Tabel 1.
Data hasil pengukuran menunjukkan bahwa pertumbuhan tanaman penghasil gaharu pada umur yang sama yaitu 6 tahun, dengan pola tanam yang sama yaitu campuran (plot 1, 8, 9) memiliki pertumbuhan yang berbeda antar lokasi. Rata-rata diameter dan tinggi tanaman pada plot 1 lebih tinggi yaitu sebesar 11,20 cm (dbh) dan 7,70 m (tinggi) dibanding 2 plot lainnya. Perbedaan pertumbuhan tersebut bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor lingkungan dan faktor genetik, sebagaimana dikemukakan oleh Forth and Turk (1972) dalam Sofyan dkk., (2015) bahwa faktor lingkungan yaitu berupa kondisi dan kesuburan tanah serta intensitas pemeliharaan m sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.

Tabel 1. Hasil pengukuran pertumbuhan tanaman penghasil gaharu di Lampung
No. Lokasi Umur Pola Tanam Dbh (cm) Tinggi (m)
1. Notoharjo-Trimurjo, Lampung Tengah 6 Campuran (kakao) 11.20 7.70
2. Pekalongan, Lampung Timur 6 Monokultur 9.49 6.25
3. Batanghari Nuban, Lampung Timur 2 Monokultur 3.78 4.37
4. Batanghari Nuban, Lampung Timur 12 Monokultur 17.08 9.96
5. Pekalongan, Lampung Timur 6 Monokultur 6.50 5.29
6. Probolinggo, Lampung Timur 3 Campuran (karet) 4.14 4.40
7. Trimurjo, Lampung Tengah 2 Campuran (kakao) 2.54 4.35
8. Trimurjo, Lampung Tengah 6 Campuran (kakao) 8.44 6.52
9. Trimurjo, Lampung Tengah 6 Campuran (kakao) 5.60 5.60
10. Unit II, Tulang Bawang 6 Monokultur

Dari hasil pengamatan dan diskusi dengan pemilik lahan, diketahui bahwa intensitas pemeliharaan yang berbeda pada tanaman penghasil gaharu khususnya contoh kasus pada plot 1, 8, dan 9 memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap pertumbuhan tanaman, dimana dengan pemeliharaan yang lebih intensif akan menghasilkan pertumbuhantanaman tanaman yang maksimal sebagaimana yang terlihat pada pertumbuhan tanaman yang terdapat pada plot 1.
Sebagaimana halnya pengaruh lokasi dan intensitas pemeliharaan, pola tanam (campuran dan monokultur) juga menunjukkan pengaruh yang berbeda-beda terhadap pertumbuhan tanaman. Hal tersebut dapat dilihat pada pertumbuhan tanaman umur 6 tahun dengan pola campuran menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibanding monokultur. Hal ini dapat disebabkan karena pada pola tanam campuran terdapat aktivitas pemeliharaan (penyiangan, pemupukan, pendangiran) yang lebih intensif karena adanya aktivitas pemeliharaan tanaman pokoknya dibanding pada monokultur. Namun, apabila pada pola monokultur dilakukan pemeliharaan yang intensif, dimungkinkan juga pertumbuhanya akan dapat lebih optimal.


IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Budidaya tanaman penghasil gaharu di Provinsi Lampung dilakukan dalam 2 pola yaitu campuran dan monokultur.
2. Plot tanaman pola campuran menunjukan pertumbuhan yang lebih baik dibanding pola monokultur.

B. Saran
Disarankan kepada masyarakat agar mengembangkan tanaman gaharu dengan pola campuran.

DAFTAR PUSTAKA

Sofyan, A., I. Muslimin. 2015. Laporan Kegiatan Penelitian Pengembangan Gaharu di KPH. 2015.

Sumarna, Y. 2012. Budidaya Tanaman Gaharu. Puslitbang Produktivitas Hutan. Badan Litbang Kehutanan. Departemen Kehutanan. 2012.

http://www.sumber-gaharu.com.
http://asgarin.blogspot.co.id

Post Top Ad

Your Ad Spot