PERBANYAKAN JABON (Anthocephalus spp) MENGGUNAKAN STEK PUCUK - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, November 18, 2016

PERBANYAKAN JABON (Anthocephalus spp) MENGGUNAKAN STEK PUCUK

Oleh :
Dwi Siwi Yuliastuti dan Surip
Teknisi Litkayasa Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Jl. PalaganTentara Pelajar Km. 15 Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta 55582
Telp. 0274 895954, Fax. 0274 896080
(MAKALAH INI TELAH DITERBITKAN PROSIDING LOKAKARYA NASIONAL TEKNISI LITKAYASA, BALAI LITBANG HHBK MATARAM) 

ABSTRAK
Jabon (Anthocepahlus spp) merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang cepat tumbuh (fast growing species). Pada saat ini jenis tersebut mulai banyak dikembangkan sebagai materi untuk pembangunan hutan tanaman di Indonesia, baik untuk hutan tanaman industri (HTI) maupun untuk pengembangan hutan rakyat. Pada umumnya pengembangan Jabon diperuntukan sebagai bahan baku pulp dan kertas, kayu lapis, mebeler, bahan bangunan dan konstruksi ringan. Beberapa tahun belakangan ini laju perkembangan industri perkayuan terhambat terkait dengan berbagai masalah yang dihadapi saat ini, salah satu permasalahan utamanya adalah pasokan kayu. Untuk menghadapi hal tersebut pembangunan kehutanan semakin ditingkatkan dan salah satu materi genetik terbaik untuk pembangunan kehutanan adalah melalui perbanyakan vegetatif. Perbanyakan vegetatif mempunyai beberapa keunggulan, diantaranya adalah tidak bergantung pada musim buah, efektif dalam perbanyakan secara masal dan mempunyai keturunan yang sifat genetiknya sama dengan induknya. Perbanyakan vegetatif mempunyai teknik yang sederhana namun dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan dalam pengerjaannya. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan bibit unggul untuk pembangunan kehutanan, maka diharapkan perbanyakan vegetatif dengan stek pucuk mampu menjadi solusi terbaik dalam pemenuhan bibit secara masal.

Kata kunci :bibit, vegetatif, stek, jabon


I. PENDAHULUAN

Jabon (Anthocepahlus sp) merupakan salah satu jenis tanaman hutan yang cepat tumbuh (fast growing species). Pada saat ini jenis tersebut mulai banyak dikembangkan sebagai materi untuk pembangunan hutan tanaman di Indonesia, baik untuk hutan tanaman industri (HTI) maupun untuk pengembangan hutan rakyat. Tananaman jabon sangat baik sebagai bahan baku pulp dan kertas, kayu lapis, mebeler, bahan bangunan dan konstruksi ringan. Jabon merupakan jenis kayu yang mempunyai berat jenis rata-rata 0,42 (0,92–0,56) dengan kekuatan pohon yang menempati kelas III – IV, serta kelas keawetannya berada pada kelas V (Martawijaya et al, 2005). 
Untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan tersebut dibutuhkan pasokan benih dalam skala besar dimana pemenuhannya dapat dilakukan dengan menggunakan perbanyakan generatif maupun vegetatif. Dalam perbanyakan generatif terkadang terkendala dengan ketersediaan benih atau musim buah, sehingga perbanyakan secara vegetatif menjadi alternatif dalam pemecahan permasalahan tersebut. 
Salah satu keunggulan dari perbanyakan vegetatif adalah keturunan yang didapatkan akan mempunyai sifat genetik yang sama dengan induknya (Na’iem, 2000) dan cocok untuk perbanyakan secara masal serta tidak terpengaruh dengan musim. Selain itu, dalam metode ini pohon induk dapat dipertahankan sebagai sumber genetik dan dapat dibuat kopinya sebagai bahan tanaman (sumber eksplan). Perbanyakan vegetatif mempunyai banyak cara/metode, salah satunya adalah dengan stek pucuk. Pada dasarnya teknik stek pucuk merupakan perkembangan dari stek batang yang telah dimanfaatkan untuk perbanyakan masal beberapa jenis tanaman tertentu dimana stek pucuk memungkinkan dilakukan perbanyakan vegetatif dari jenis-jenis yang sulit diperbanyak dengan stek batang (Subiakto, 2006). 
Meskipun demikian, pembuatan stek pucuk ini mempunyai perlakuan yang berbeda-beda untuk jenis yang berbeda. Mengingat hal tersebut maka sebelum dilakukannya pembuatan stek pucuk perlu dipelajari karakteristik dari tanaman yang akan diperbanyak dengan stek pucuk, sehingga akan mengurangi kesalahan dalam pembuatan stek pucuk. Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan petunjuk teknis yang akan memberikan gambaran tentang pembuatan stek pucuk.  Petunjuk teknis ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan gambaran secara umum dalam pembuatan stek pucuk jenis Jabon (Anthocepahlus spp). 

II. BAHAN DAN ALAT

A. Bahan
Bahan yang dipergunakan dalam pembuatan stek pucuk Jabon adalah pucuk atau tunas – tunas juvenile yang diambil dari kebun pangkas, media stek yang terdiri atas cocopeat, kompos dan sekam bakar dengan perbandingan 1 : 1 : 1 dan Zat Pengatur Tumbuh berupa hormon IBA. 

B. Alat
Alat – alat yang dipergunakan dalam pembuatan stek pucuk diantaranya adalah: gunting stek, pisau/cutter, kertas label, spidol permanen, ember plastik, mangkok plastik, talenan kayu/plastik. Selain peralatan tersebut diperlukan juga ruang pengabutan (misting house) dengan system pengairan yang terjamin kualitas dan kontinyuitasnya untuk menjaga kelembaban.

III. PELAKSANAAN KEGIATAN

Teknik stek pucuk memanfaatkan potongan bagian pucuk juvenil dengan menyertakan bagian daunnya. Daun diperlukan untuk melangsungkan proses fotosintesa yang menghasilkan karbohidrat untuk pembentukan akar (Leakey et al., 1982). Tahap – tahap dalam pembuatan stek pucuk adalah sebagai berikut :

A. Pembuatan media
1) Media yang dipergunakan dalam pembuatan stek pucuk merupakan campuran media yang terdiri dari cocopeat, sekam dan kompos dengan perbandingan1 : 1 : 1.
2) Media yang sudah tercampur disterilkan dengan menggunakan fungisida kemudian dimasukkan kedalam potray dimana pada lapisan paling atas adalah cocopeat dengan ketebalan ± 1 cm. Untuk tetap menjaga kelembaban media, maka media disimpan di dalam ruang pengkabutan. 


Gambar 1. Media stek yang telah siap dalam rak potray

B. Pembuatanstekpucuk
Bahan utama dalam pembuatan stek pucuk adalah pucuk atau tunas tanaman. Pucuk yang diambil adalah pucuk – pucuk yang masih dalam keadaan juvenile. Adapun teknik pengambilan pucuk adalah sebagai berikut :

1) Pemotongan pucuk sebagai bahan stek pucuk dilakukan pada pucuk –pucuk juvenile dengan panjang 2-4  internodus, pucuk-pucuk yang telah di pangkas dimasukkan kedalam ember yang berisi air dan hormon IBA dengan dosis 1 cc/liter. Pemberian Hormon IBA dimaksudkan untuk menjaga agar jaringan sel – sel tidak rusak dan mengurangi tingkat stress pada stek. 
2) Pengurangan daun dilakukan pada pucuk – pucuk yang telah dipotong/dipanen. Pengurangan daun dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi penguapan. Setelah dilakukan pengurangan daun, selanjutnya adalah pemotongan pangkal batang stek secara melintang (miring) dengan tujuan agar penyerapan hormone/ZPT dapat merata. Dalam pemotongan secara melintang ini digunakan cutter yang tajam agar pada saat pemotongan pangkal batang stek tidak pecah karena apabila terjadi pecah maka akan menyebabkan kegagalan stek.

   
a b c
Gambar 2. Pemotongan melintang pada pangkal stek (a), 
Perendaman stek pada larutan IBA (b) dan Pelabelan stek (c)

3) Tahapan selanjutnya dalam penanganan stek pucuk ini adalah pemberian Zat Pengatur Tumbuh (ZPT) dengan tujuan untuk merangsang pertumbuhan akar/mempercepat proses induksi akar pada stek. Pemberian ZPT dapat dilakukan dengan merendam stek pucuk pada larutan ZPT selama ± 5-10 menit dengan dosis 5 gram/liter. Selain itu pemberian ZPT dapat juga dilakukan secara langsung, yaitu dengan mengoleskan ZPT langsung pada pangkal stek.


Gambar 3. Pemberian ZPT secara langsung pada stek pucuk

4) Penanaman stek pucuk pada media perakaran dapat dilakukan setelah pemberian ZPT. Stek pucuk ditanam pada media perakaran yang sebelumnya telah diberi lubang tanam. Pemberian lubang tanam dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi pelukaan stek pucuk pada saat penanaman hal ini karena pelukaan stek akan menyebabkan kegagalan stek.

   
a b
Gambar 4. Pembuatan lubang tanam (a) dan 
penanaman stek pada potray (b)

5) Hal yang harus diperhatikan adalah pemberian label pada stek pucuk yang telah ditanam. Pemberian label ini bertujuan untuk memberikan identitas pada stek yang telah ditanam sehingga tidak akan terjadi kesalahan/tertukar antara klon 1 dengan yang lainnya.

C. Induksi Akar
Induksi akar merupakan proses perangsangan/menumbuhkan akar pada tanaman. Induksi akar ini dilakukan dengan memasukan stek-stek yang sudah ditanam kedalam ruang pengkabutan (misting room). Pengkabutan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga kelembaban stek. Setiap jenis mempunyai karakteristik yang berbeda-beda sehingga dalam proses pengkabutanpun akan mempunyai intensitas pengkabutan yang berbeda pula. Pengaturan intensitas pengkabutan secara otomatis dan dapat disesuaikan berdasarkan musim ataupun suhu ruangan pada saat itu. 
   
a b
Gambar 5. Induksi akar pada ruang pengkabutan (a) dan  stek yang telah berakar (b)

D. Aklimatisasi
Untuk musim kemarau dapat dengan menggunakan itensitas penyiraman otomatis yaitu 15 menit jeda off dan 2 menit penyemprotan dan untuk musim penghujan yaitu 30 menit jeda off dan 2 menit. Penyimpanan stek pada ruang pengkabutan dilakukan selama 2 – 4 minggu atau sampai stek – stek tersebut berakar.


Gambar 6. Stek pucuk yang berhasil dan siap tanam setelah perakarannya tumbuh kompak

Aklimatisasi merupakan penyesuaian 2 (dua) kondisi lingkungan yang berbeda sehingga perubahan kondisi tersebut akan menimbulkan stress pada stek. Aklimatisasi dilakukan agar stek pucuk dapat beradaptasi sebelum di pindahkan ke area terbuka. Dalam pembuatan stek pucuk aklimatisasi dapat disebut sebagai proses transisi stek pucuk setelah dari ruang pengkabutan sebelum dipindah ke area terbuka, sehingga stek pucuk tersebut tidak mengalami stres yang dapat mengakibatkan kematian. Proses aklimatisasi ini dilakukan selama ± 2 bulan, atau sampai perakaran stek pucuk tersebut kompak. Selama dalam proses aklimatisasi, stek pucuk tersebut disungkup dengan menggunakan paranet dan dibuka secara bertahap. Pemeliharaan pada aklimatisasi meliputi penyiraman dan pengendalian hama penyakit (fungisida/ insektisida). Penyiraman dilakukan 2 x sehari yaitu pada pagi dan sore hari sedangkan untuk pengendalian hama penyakit dilakukan dengan penyemprotan fungisida/insektisida.

E. Areal Terbuka
Pemindahan stek pucuk ke areal terbuka dilakukan sebelum stek – stek tersebut ditanam di lapangan. Setelah stek pucuk mempunyai perakaran yang kompak, maka stek pucuk tersebut dipindah ke dalam polybag dan dipindah ke areal terbuka. Pemeliharaan pada areal terbuka meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan dan pengendalian hama penyakit. Penyiraman dilakukan setiap pagi dan sore hari, pemupukan dilakukan seminggu 2 x dengan menggunakan pupuk NPK. Sedangkan untuk pengendalian hama penyakit dilakukan penyemprotan dengan fungisida atau insektisida.


Gambar 7. Pemindahan stek pucuk dari ruang aklimatisasi ke areal terbuka


IV. PENUTUP

Perbanyakan vegetatif Jabon (Anthocepahlusspp) mempunyai  beberapa keunggulan, diantaranya adalah tidak bergantung pada musim buah, efektif dalam perbanyakan secara masal dan mempunyai keturunan yang sifat genetiknya sama dengan induknya. Perbanyakan vegetatif  mempunyai teknik yang sederhana namun dibutuhkan ketelitian dan ketelatenan dalam pengerjaannya. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan bibit unggul untuk pembangunan kehutanan, maka diharapkan perbanyakan vegetatif  dengan stek pucuk mampu menjadi solusi terbaik dalam pemenuhan bibit secara masal.

Ucapan terimakasih
Penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada Teguh Setyaji, S.Hut, MSc, sebagai penanggung jawab kegiatan jabon, Dr. Sri Sunarti, S.Hut, MP sebagai koordinator penelitian dan anggota tim Acacia, Eucalyptus dan Jabon yang telah memberikan saran dan kritik dalam penyusunan makalah sederhana ini.


DAFTAR PUSTAKA
Departeman Kehutanan. 1987. Pola Umum Unit Tanaman Industri. Penerbitan No : 2. SekretariatPengendalian Pembangunan HTI. Jakarta.

Leakey, RRB., V.R. Chapman, and K.A. Longman. 1982. Physiological Study forTropical Tree Improvement and Conservation. Factors Affecting Root Initiation in Cuttings of Triplochiton Scleroxylon K Schum. For. Ecol. Manage4:43-52.

Martawijaya, A., I. Kartasudjana, Y.I. Mandang, S.A.Prawira dan K. Kadir, (2005). Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Na’iem, M. 2000. Prospek Perhutanan Klon Jati di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Status Silvikultur di Indonesia Saat Ini. Wanagama I, 1-2 Desember 2000. Fakultas Kehutanan UGM. Yogyakarta.

Subiakto, A. 2006. Teknologi Perbanyakan Vegetatif Bibit Pohon Hutan Secara Masal. EksposeHasil – Hasil Penelitian : Konservasi dan Sumber Daya Hutan. 20 September 2006. Padang


Post Top Ad

Your Ad Spot