PERAN AGROFORESTRY DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN PENANAMAN SENGON - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, November 18, 2016

PERAN AGROFORESTRY DALAM MENINGKATKAN KEBERHASILAN PENANAMAN SENGON

Oleh :
Aditya Hani 
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email: adityahani@gmail.com
(MAKALAH INI TELAH DI TERBITKAN PADA Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, BPPTA Ciamis)


ABSTRAK

Keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi lahan melalui kegiatan reboisasi selain dipengaruhi faktor teknis juga dipengaruhi oleh faktor sosial. Salah satu teknik penanaman yang dianggap mampu mengakomodir kepentingan lingkungan dan sosial ekonomi adalah dengan mengembangkan teknik agroforestri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola tanam terhadap keberhasilan dan produktivitas tanaman sengon. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak berblok (RCBD) dengan. Setiap perlakuan terdiri dari 36 tanaman berbentuk square dengan jarak tanam 2 m x 3 m, sebanyak 3 ulangan. Pola tanam yang diujicobakan adalah: Agroforestry sengon, Sengon monokultur dan Sengon campuran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sengon umur 2,5 tahun yang ditanam secara agroforestri memberikan produktivitas paling tinggi dengan volume per pohon 0,0142 m3 dan riap volume 0,0057 m3/tahun. Penanaman sengon sampai umur 2,5 tahun mampu meningkatkan kesuburan lahan terutama karena meningkatnya bahan organik tanah.  

Kata kunci: agroforestri, monokultur, sengon


I. PENDAHULUAN

Luas lahan kritis di Indonesia sampai tahun 2011 masih sekitar 27 juta hektar sementara itu luas lahan kritis di Provinsi Jawa Barat mencapai 483.944 (Departemen Kehutanan, 2011). Lahan kritis berdampak pada kerusakan ekosistem yang dapat memicu terjadinya banjir  dan tanah longsor. Selain itu lahan yang telah berstatus kritis umumnya mempunyai kesuburan yang rendah baik kesuburan fisika, kimia maupun biologi. Akibatnya penanaman pada lahan kritis seringkali menemui kendala yaitu tingkat keberhasilan dan produktivitas yang lebih rendah dibandingkan dengan tanah yang subur. Upaya untuk merehabilitasi lahan yang kritis salah satunya melalui kegiatan penanaman pohon.
Keberhasilan pelaksanaan rehabilitasi lahan melalui kegiatan reboisasi selain dipengaruhi faktor teknis juga dipengaruhi oleh faktor sosial. Nugroho (2000) menyatakan bahwa usaha-usaha perbaikan lahan belum mampu mengatasi peningkatan lahan kritis dikarenakan pendekatan yang dilakukan lebih berorientasi pada penaganan fisik dan kurang memperhatikan masalah sosial, ekonomi dan budaya masyaraakt. Cahyono (2002) menyatakan bahwa petani mau mengadopsi suatu teknologi konservasi jika petani memperoleh manfaat secara ekonomi dari kegiatan tersebut. Salah satu teknik penanaman yang dianggap mampu mengakomodir kepentingan lingkungan dan sosial ekonomi adalah dengan mengembangkan teknik agroforestri.
Agroforestri selain mampu memberikan keuntungan secara ekonomi bagi petani  diharapkan akan meningkatkan keberhasilan dan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pola tanam terhadap keberhasilan dan produktivitas tanaman sengon. Jenis sengon (Falcataria mollucana) dipilih sebagai tanaman pokok karena merupakan salah satu jenis yang paling digemari di hutan rakyat Jawa Barat, selain itu sengon juga mempnyai kemampuan untuk meningkatkan kesuburan tanah karena termasuk kedalam famili legum. 

II. METODOLOGI

A. Lokasi dan waktu penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Sindangbarang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Desa ini merupakan salah satu bagian dari sub DAS Citanduy Hulu yang terletak pada hulu DAS Citanduy.Desa Sindangbarang secara biofisik merupakan bagian dari Kecamatan Panumbangan dimana mempunyai karakteristik lahan dengan tofografi bergelombang sampai berbukit (15 – 39%), jenis tanah latosol, drainase sedang dengan pH dari netral sampai basa. Tingkat kemiringan lahan antara 15 – 60 %, dan ketinggian tempat antara 450 – 750 m dari permukaan laut. Tipe iklim berdasarkan data curah hujan 10 tahun terakhir memiliki rata – rata  bulan basah 7 dan bulan kering 4,6 sehingga berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson termasuk tipe C (Agak Basah) .Penelitian dilaksanakan mulai Januari tahun 2011 sampai Desember 2013. 

B. Alat dan bahan
Bahan yang digunakan adalah bibit sengon yang diperoleh dari pembibitan persemaian Balai Penelitian Teknologi Agroforestry. Benih/bibit tanaman bawah: kacang tanah, jahe, cabai dan jagung, pupuk organik (pupuk kandang), pupuk anorganik (pupuk NPK dan pupuk cair), herbisida, dan fungisida. Alat yang digunakan adalah: cangkul, parang, roll meter, kaliper, galah ukur, dan sprayer.

C. Rancangan percobaan
Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak berblok (RCBD) dengan.  Setiap perlakuan terdiri dari 36 tanaman berbentuk square dengan jarak tanam 2 m x 3 m, sebanyak 3 ulangan. Jumlah pohon yang digunakan dalam pengolahan data adalah nettplot trees sebanyak 25 pohon untuk mengurangi efek tepi dimana pohon menerima sinar matahari yang lebih banyak. Pola tanam yang diujicobakan adalah:
1. Agroforestry sengon 
2. Penanaman tanaman bawah dilakukan 2 x musim tanam dalam setahun musim pertama yaitu penanaman kacang tanah dan musim kedua penanaman jagung. 
3. Sengon monokultur
4. Sengon campuran dengan jenis manglid dan suren. 
Pengukuran tanaman pokok terdiri atas parameter daya hidup serta pertumbuhan tinggi dan diameter. Data tinggi dan diameter ini akan digunakan dalam perhitungan riap volume tahunan. Untuk mengetahui status kesuburan tanah dilakukan dengan melakukan analisa tanah. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalamanan 0-20 cm dan 20-40 cm. Setiap plot ulangan diambil dari beberapa titik untuk selanjutnya dikomposit menjadi 1 (satu) sampel. Analisa kimia tanah meliputi kadar C organik tanah yang diukur menggunakan metode Walkey dan Black, N total ditentukan dengan menggunakan metode semiautomatic kjedhal Digestion (AOAC), fosfor diukur menggunakan metode P Bray, dan pH tanah H2O ditentukan dengan perbandingan 1:2,5. 

D. Analisis Data
Data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung prediksi riap volume pohon per tahun dengan rumus sebagai berikut: 

Vol = (fk. ¼ π D². T)/umur pohon 
Ket: Vol = Volume pohon (cm³)
fk = bilangan bentuk = 0,7
Π = 3,14
D = Diameter (cm)
T = Tinggi (cm)

Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan sidik ragam untuk mengetahui pengaruh dari perlakuan terhadap pertumbuhan dan produktivitas tanaman pokok. Jika hasil analisis menunjukan pengaruh nyata, maka dilanjutkan dengan Duncan menggunakan α= 5% menggunakan bantuan software SPSS ver.16.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kesuburan Tanah
Kualitas lahan dapat dipengaruhi oleh sistem budidaya yang diterapkan. Pohon dapat mempunyai peranan untuk menjaga kesuburan tanah dan meningkatkan kesuburan tanah melalui peranannya dalam mengurangi erosi dan aliran permukaan serta adanya penambahan biomasa melalui jatuhan seresah yang selanjutnya dapat merelease sejumlah unsur hara. Hasil analisa kimia tanah sebelum dilakukan penanaman sengon disajikan pada Tabel 1. 

Tabel 1. Hasil analisa tanah sebelum penanaman sengon 
Parameter Sampel 1 Sampel 2 Sampel 3
Nitrogen total (%) 2,42 (sedang) 2,17 (sedang) 0,178 (sedang)
Karbon organik (%) 2,436 (sedang) 2,241 (sedang) 1,932 (sedang)
Bahan organik (%) 4,200 3,864 3,332 
P2O5 (ppm) 0,274 (sangat rendah) 0,809 (sangat rendah) 0,186 (sangat rendah)
K2O (me %) 0,123 (rendah) 0,159 (rendah) 0,133 (rendah)
pH H2O 4,65 (masam) 5,03 (masam) 4,88 (masam)
Sumber : Hasil analisa tanah di Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman

Tabel 1 menunjukkan bahwa kesuburan kimiawi tanah di lokasi penelitian masuk kategori rendah-sedang. Kandungan unsur hara nitrogen, karbon organik termasuk dalam kategori sedang, sedangkan kandungan unsur hara phospor dan kalium termasuk kategori sangat rendah dan rendah. pH tanah dilokasi penelitian termasuk kategori tanah masam. 
Kandungan nitrogen (N) dan karbon organik sama-sama dalam kondisi sedang. Hal ini disebabkan karena bahan organik merupakan sumber utama unsur N. Kecepatan dekomposisi dari bahan organik tersebut akan mempengaruhi siklus unsur N. Hardjowigeno (2003) menyatakan bahwa laju dekomposisi dipengaruhi oleh:
a. Suhu, suhu tinggi maka dekomposisi cepat. Lokasi penelitian dengan ketinggian 600 – 800 mdpl mempunyai suhu udara yang sejuk sehingga laju dekomposisi kemungkinan berlangsung dengan kecepatan sedang. 
b. Kelembaban: jika selalu basah maka dekomposisi berjalan lambat, jika lembab dekomposisi berjalan cepat.
c. Aerase tanah: aerase tanah yang baik akan mempercepat proses dekomposisi
d. Pengolahan: tanah yang diolah maka mempunyai aerase udara yang baik, sehingga dekomposisi berjalan cepat
e. pH: tanah dengan pH masam penghancuran bahan organik berjalan lambat
f. Jenis bahan organik: bahan organik yang berasal dari tanamans semusim lebih cepat terdekomposisi dibandingkan tanaman tahunan. 

Unsur P pada tanah masam pada umumnya akan diikat oleh unsur-unsur penyebab asam seperti Al, Fe dan Mn, sehingga unsur tersebut menjadi tidak tersedia bagi tanaman. Pertumbuhan akar sengon dapat terhambat karena rendahnya ketersediaan unsur phospor (P) terutama di tanah yang masam (Hairiah et al, 2004). Faktor lain yang mempengaruhi kesuburan tanah adalah faktor curah hujan. Jumlah hari hujan pada tahun 2011-2012 sebanyak 179 dengan curah hujan sebesar 34.062 mm (BPS Kab. Ciamis, 2013). Hal ini menunjukkan bahwa curah hujan di lokasi penelitian sangat tinggi. Daerah tropika mempunyai karakter suhu tinggi dan curah hujan tinggi. Kondisi tersebut menyebabkan kerentanan terhadap kualitas tanah. Karena pada tanah yang terbuka akan mudah mengalami erosi dan hilangnya unsur hara karena terbawa aliran air hujan. 
Keberadaan tanaman parennial pada daerah tropik diperlukan sebagai sumber bahan baku bahan organik selain juga untuk melindungi permukaan tanah dari jatuhan air hujan. Keberadaan seresah yang berasal dari tanaman perennial merupakan sumber nitrogen yang penting bagi tanaman pertanian yang tidak dipupuk (Nair, 1992). Dart (1972) dalam Sanchez (1992) menyebutkan bahwa keberadaan bahan organik yang berasal dari  biomassa tanaman memberi keuntungan pada sistem pertanian tanpa pemupukan antara lain: a) menyediakan sebagian besar nitrogen (N) dan belerang (Cu) serta setengah dari fosfor (P) untuk dapat diserap oleh tanaman, b) Meningkatkan nilai tukar kation tanah (KTK), c)Membantu agregat tanah sehingga memperbaiki sifat fisik tanah dan mengurangi kerentanan terhadap pencucian pada tanah pasir, d) Meningkatkan kemampuan mengikat air terutama pada tanah pasiran, e) Mengikat unsur hara mikro sehingga mencegah pencucian unsur hara tersebut. 
Sengon merupakan jenis legum yang mempunyai kemampuan untuk mengikat N di udara. Akumulasi N dalam biomassa sengon selanjutnya dapat memberi manfaat terhadap kesuburan tanah disekitarnya melalui peluruhan biomasa bagian atas maupun akar tanaman yang mati. Peningkatan kesuburan tanah dapat disebabkan karena:
a. Jatuhan seresah dari tanaman sengon dan biomasa tanaman semusim 
Seresah yang berasal dari pohon sengon maupun limbah dari tanaman semusim sebaiknya tetap dipertahankan keberadaannya. Seresah berfungsi sebagai seumber bahan organik serta dapat melindungi tanah dari kerusakan mekanis akibat jatuhan air hujan. Keberadaan seresah akan meningkatkan kesuburan fisik dan kimia tanah. Hilangnya seresah pada saat pemanenan akan berdampak pada peningkatan suhu tanah sebesar 2,5 ºC serta akan menurunkan kelembaban tanah akibatnya evaporasi semakin meningkat dan tanah mudah kering dan kehilangan air dalam tanah (Goncalves et al, 1998). 
Seresah merupakan sumber unsur hara utama setelah mengalami proses dekomposisi. Chintu et al (2004) menyatakan bahwa daun sengon mengandung N sebesar 35 g kg-1, sedangkan akar sengon mengandung N sebesar 13 g kg-1, selain itu seresah sengon juga dapat digunakan sebagai upaya untuk mengatasi masalah pada lahan dengan pH asam. Perakaran sengon memiliki nodul akar sebagai hasil simbiosis dengan bakteri rhizbium, menguntungkan bagi tanah disekitarnya karena membantu penyediaan nitrogen dalam tanah (Hardiatmi, 2010). 
b. Adanya pemupukan tananama sengon dan tanaman semusim 
Pupuk yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kombinasi pupuk organik dan pupuk kimia. Sifat biologi tanah yang menggunakan pupuk organik pada umumnya lebih baik karena keberadaan bahan organik menyebabkan naiknya jumlah dan jenis mikroba tanah yang menguntungkan bagi tanaman untuk dapat berkembang dengan baik, karena tersedianya makanan tersebut bagi mikroba serta kelembaban yang lebih baik untuk hidupnya mikroba (Metting and Blaine, 1992). Keberadaan bahan organik dan mikroba tanah dapat meningkatkan kandungan asam-asam organik yang berfungsi untuk mengikat unsur hara di dalam tanah sehingga tidak mudah hilang terbawa aliran permukaan. Untuk meningkatkan efektifitas, pemupukan dilakukan dengan cara dibenamkan atau dicampur dengan tanah agar pada saat musim hujan tidak terbawa aliran air serta pada musim kemarau tidak kering (Hardjowigeno, 2003). 
c. Adanya pengolahan tanah 
Pengolahan tanah dilakukan pada saat penanaman tanaman sengon dan tanaman semusim. Pengolahan tanah akan memperbaiki sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah yang baik memiliki aerase dan draenase yang baik. Lokasi penelitian berada di daerah tangkapan air maka sistem pengolahan tanah juga perlu mendapat perhatian utama. Untuk melindungi tanah dari erosi dapat metode pencangkulan lebih baik bila dibandingkan dengan cara pembajakan serta ditambah dengan pemulsaan menggunakan pupuk hijau (Scroth et al., 1994). Tanah yang padat akan berpengaruh terhadap pertumbuhan akar tanaman sengon. Rusdiana et al (2000) menyatakan bahwa peningkatan kepadatan tanah akan menurunkan pertumbuhan panjang akar sengon baik akar primer, sekunder maupun tersier. Akar halus sengon sekitar 38-47% terkonsentrasi di lapisan atas (0-10 cm) dan akar kasar (sekitar 51%) terkonsentrasi di lapisan tanah 10-20 cm, serta mempunyai pertumbuhan horisontal sebesar 54% (Dhyani dan Tripathi, 2000 dalam Hairiah, 2004). 

B. Pertumbuhan Tanaman
Petumbuhan tanaman sengon sampai umur 30 bulan menunjukkan perbedaan antar perlakuan. Hasil uji lanjut Duncan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Uji Lanjut Duncan pengaruh pola tanam terhadap pertumbuhan sengon
Perlakuan
(Treatment)
Tinggi
(Height)
(m) Diameter
(Diameter)
(cm)
Agroforestry sengon
Sengon monokultur
Sengon campuran (manglid+suren) 5,6 a
3,72 ab
3,64 b 6,26 a
4,10 ab
3,75 b
Keterangan: Angka–angka yang diikuti dengan huruf yang  sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%.

Tabel 2 menunjukkan bahwa pola tanam agroforestri sengon memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter paling baik (5,6 m dan 2,3 cm), selanjutnya diikuti pola tanam sengon monokultur (3,72 m dan 21,11 cm). Hasil tersebut menunjukkan bahwa penanaman sengon secara agroforestri akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Volume pohon pada masing-masing pola tanam disajikan pada Tabel 4.

Tabel 3. Volume pohon sengon umur 2,5 tahun
Perlakuan Rata-rata volume umur 1,5 tahun
(m3/pohon) Rata-rata volume umur 2,5 tahun
(m3/pohon) Riap volume

(m3/pohon)
Agroforestri sengon 0,0074 0,0142 0,0057
Sengon monokultur 0,012 0,0058 0,0023
Sengon campuran (manglid+suren) 0,0024 0,0051 0,0020

Menurut Riyanto dan Pamungkas (2010) volume pohon sengon monokultur disalah satu KPH Perhutani di Jawa pada umur 2 tahun adalah 18 m3/ha atau 0,016 m3/pohon dan pada umur 3 tahun mempunyai volume 64 m3/ha atau 0,016 m3/pohon. Apabila dibandingkan dengan hasil penelitian maka pohon sengon dilokasi penelitian memiliki riap volume yang hampir sama yaitu pada umur 2,5 tahun memiliki volume 0,0142 m3/pohon.
Pemilihan jenis tanaman bawah dapat dilakukan berdasarkan nilai ekonomi yang paling besar. Analisa ekonomi agroforestry sengon dengan beberapa jenis tanaman semusim telah dilakukan oleh Nurfatriani dan Puspitojati (2002), seperti disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Hasil analisa ekonomi beberapa pola agroforestri sengon 
Pola tanam PV cost
(Rp) PV Inccome 
(Rp) NPV
(Rp) B/C ratio
Sengon+nanas 12.002.158 81.147.700 69.145.542 6,76
Sengon+pepaya 10.613.082 70.389.806 59.776.724 6,63
Sengon+jagung 14.993.826 66.790.938 51.797.112 4,45
Sengon+cabai 202.667.261 350.258.927 147.591.666 1,73
Sengon campuran 5.960.471 21.512.025 15.551.554 3,61
Sumber: Nurfatriani dan Puspitojati (2002) 



IV. KESIMPULAN

1. Penanaman jenis sengon mampu meningkatkan kesuburan tanah 
2. Pola tanam agroforestri memberikan produktivitas tanaman sengon paling besar dibandingkan pola tanam monokultur maupun campuran. 

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, S.A. 2002. Konservasi tanah dalam konteks kebijakan. Info DAS 13: 14-26. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor.

Chintu, R., A.R. Zaharah and A.K.W. Rasidah. 2004. Decomposition and Nitrogen Release Pattern of Paraserianthes falcataria Tree Residues Under Controlled Incubation. Agroforestry System 63: 45-52.

Departemen Kehutanan. 2011. Statistik kehutanan. Jakarta.

Goncalves, J.L.M., F. Poggiani, J.L. Stape, M.I.P. Serano, S.L.M. Mello, K.C.F.S. Mendes, J.L. Gava and V. Benedetti. 1998. Eucalypt Plantation in The Humid Tropics: Sao Paolo, Brazil. Site Management and Productivity in The Tropical Plantation Forest. Workshop Proceedings. Cifor.

Hairiah, K., C. Subagyo, S. R. Utami, P. Purnomosidhi dan J. M. Roshetko. 2004. Diagnosis Faktor Penghambat Pertumbuhan Akar Sengon Pada Tanah Ultisol di Lampung Utara. Agrivita 89-98.

Hardiatmi, J.M.S. 2010. Investasi Tanaman Kayu Sengon Dalam Wanatani Cukup Menjanjikan. Innofarm 9 (2): 17-21.

Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah. Akapres. Bogor.

Metting and Blaine, 1992.Soil Microbiology and Biotechnology. Technomic Publishing Co. Inc.

Nair, P.K.R. 1992. An Introduction to Agroforestry. Kluwer Academic Publishers, International Centre for Research in Agroforestry. Dordrecht, Netherlands.

Nugroho, S.P. 2000. Minimalisasi lahan kritis melalui pengelolaan sumberdaya lahan dan konservasi tanah dan air secara terpadu. Jurnal Teknologi Lingkungan 1 (1): 73-82.

Nurfatrii, F. dan T. Puspitojati. 2002. Manfaat Ekonomi Pengelolaan Hutan Rakyat di Jawa. Jurnal Sosial Ekonomi 3 (1): 35-45.

Rusdiana, O., Y. Fakuara, C. Kusmana, dan Y. Hidayat. 2000. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 6 (2): 43-53.

Sanchez, P.A. 1992. Sifat dan Pengelolaan Tanah Tropika.Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Schroth, G. , Poidy, N., Morshauser T., and Zech W. 1994. Effect of Different Metods of Soil Tillage and Biomass Aplicatioan on Crop Yield and Soil Properties in Agroforestry With High Tree Competition. Agriculture, Ecosystems and Environment 52:129-140.

Post Top Ad

Your Ad Spot