MUSUH ALAMI HAMA PADA AGROFORESTRY MANGLID (Manglieta glauca Bl) - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, November 25, 2016

MUSUH ALAMI HAMA PADA AGROFORESTRY MANGLID (Manglieta glauca Bl)

MUSUH ALAMI HAMA PADA AGROFORESTRY MANGLID (Manglieta glauca Bl)

Oleh :
Endah Suhaendah
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
e-mail: endah_ah@yahoo.com
(MAKALAH INI TELAH DI TERBITKAN PADA PROSIDING Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)


ABSTRAK

Serangga merupakan organisme yang potensial dan eksplosif menimbulkan kerugian pada tanaman hutan. Jenis hama yang menyerang tanaman manglid adalah kutu putih Hamamelistes sp dan kumbang Sastra sp. Musuh alami dapat berperan positif sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman, salah satunya hama.  Penelitian terhadap musuh alami hama pada agroforestry manglid masih sangat terbatas, sehingga diperlukan informasi mengenai jenis-jenis musuh alami hama pada agroforestry manglid, supaya manipulasi lingkungan melalui konservasi musuh alami dapat dilakukan untuk mengantisipasi ledakan hama. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui jenis-jenis musuh alami hama pada agroforestry manglid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa jenis musuh alami hama yaitu belalang sembah (Hierodula sp), semut (Polyrhachis spp), capung (Orthetrum sabina) dan Capung Jarum (Vestalis luctuosa), tawon (Parischnogaster sp), tawon (Polytes sp), lalat (Chrysosoma sp)  dan laba-laba (Oxyopes sp). Jumlah musuh alami hama pada agroforestry manglid campuran lebih tinggi dibandingkan agroforestry manglid monokultur.

Kata kunci: Agroforestry, hama, manglid, musuh alami.


I.    PENDAHULUAN

Hama hutan merupakan semua binatang yang menimbulkan kerugian pada pohon dan hasil hutan. Jenis serangga merupakan organisme yang potensial dan eksplosif menimbulkan kerugian pada tanaman hutan (Anggraeni et al., 2006; Anggraeni et al., 2010). Jenis hama yang menyerang tanaman manglid adalah kutu putih Hamamelistes sp dan kumbang Sastra sp (Suhaendah, 2012; Suhaendah, 2013).
Kutu putih merupakan hama penghisap dari ordo Hemiptera, famili Aphididae. Ciri khas dari hama ini adalah tubuhnya ditutupi malam atau lapisan lilin berwarna putih yang berfungsi sebagai pelindung (Kalshoven, 1981; Borror et. al., 1996). Kutu putih bersifat partenogenesis sehingga dapat menghasilkan keturunan yang banyak dalam waktu singkat. Hal ini menyebabkan populasi hama dalam satu pohon manglid sangat banyak sehingga pohon menjadi merana bahkan mati. Hama kumbang termasuk kedalam ordo Coleoptera, famili Chrysomelidae. Hama ini merupakan hama pemakan daun. Ciri khas dari hama ini adalah meninggalkan bekas gigitan berupa lubang-lubang di daun seperti jala, namun tidak menimbulkan kematian pada tanaman manglid.
Musuh alami merupakan salah satu komponen penyusun keanekaragaman hayati dalam suatu ekosistem. Musuh alami dapat berperan positif sebagai pengendali organisme pengganggu tanaman, salah satunya adalah hama (Aminatun, 2009).  Setiap jenis hama secara alami dikendalikan oleh kompleks musuh alami meliputi predator, parasitoid dan patogen hama. Penggunaan musuh alami sebagai pengendali hama bersifat alami, efektif, murah dan tidak menimbulkan dampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan hidup (Untung, 2006).
Penelitian terhadap musuh alami hama pada agroforestry manglid masih sangat terbatas, kenyataannya di lapangan ditemukan jenis-jenis serangga pada agroforestry manglid yang berpotensi sebagai musuh alami. Kondisi hutan rakyat dengan pola tanam agroforestry yang relatif heterogen semestinya lebih tahan terhadap serangan hama. Apabila dalam kondisi ekosistem yang stabil, dengan susunan rantai makanan yang lengkap, kehadiran jenis-jenis serangga yang berpotensi sebagai hama dapat ditekan dengan adanya musuh alami. Oleh karena itu, upaya identifikasi jenis-jenis musuh alami perlu dilakukan sejak dini supaya manipulasi lingkungan melalui konservasi musuh alami dapat dilakukan untuk mengantisipasi ledakan hama.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis musuh alami pada dua pola agroforestry manglid yaitu agroforestry manglid monokultur serta agroforestry manglid campuran.

II.    METODE PENELITIAN

A.    Tempat dan Waktu
    Penelitian dilaksanakan pada Bulan April sampai Mei 2012 di Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya. Secara geografis lokasi penelitian terletak pada 108020’65,0” - 108020’66,7” Bujur Timur dan 07011’17,3” - 07011’18,7” Lintang Selatan.

B.    Bahan dan Alat
    Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: alkohol 70%, ethyl acetat, gabus, air dan detergen. Alat yang digunakan antara lain: pinset, kuas, light trap, pit fall trap, killing bottle, perangkap kuning berperekat, botol koleksi, kantong plastik dan alat-alat tulis.

C.    Metode Penelitian
    Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode pengkoleksian data di lapangan serta observasi di lapangan yang dilanjutkan dengan identifikasi serangga di laboratorium.

D.    Cara Kerja
    Pada setiap lokasi pengamatan dibuat plot-plot pengamatan dengan pengambilan sampel sebesar 10 persen dari luas pengamatan. Pada tiap petak pengamatan menggunakan, jaring serangga, perangkap kuning berperekat, pit fall trap dan light trap.
Penangkapan dengan jaring serangga dilakukan pada tiga rentang waktu yang berbeda yakni dari pukul 07.00 s/d 09.00 WIB , pukul 10.00 s/d 12.00 kemudian dilanjutkan kembali pada pukul 16.00 s/d 18.00 WIB. Penangkapan dengan menggunakan perangkap kuning berperekat dan pit fall trap dilakukan dari jam 07.00 s/d 18.00 WIB. Penangkapan pada malam hari dengan light trap dilakukan pada pukul 18.00 s/d 21.00 WIB. Serangga – serangga yang berhasil ditangkap dimasukkan ke dalam killing bottle. Selanjutnya dilakukan pemilahan koleksi dan identifikasi.

III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil inventarisasi jenis-jenis musuh alami hama pada dua pola agroforestry manglid disajikan pada Tabel 1 dan Tabel 2. Jumlah musuh alami pada agroforestry manglid campuran lebih tinggi dibandingkan agroforestry manglid monokultur.

Tabel 1. Jenis musuh alami pada agroforestry manglid monokultur
No    Ordo    Famili    Jenis    Jumlah    Peran
1    Orthoptera    Mantidae    Hierodula sp    6    Predator
2    Hymenoptera    Vespidae    Polystes sp    1    Predator
3    Hymenoptera    Vespidae    Parischnogaster sp    8    Predator
4    Hymenoptera    Formicidae    Polyrhachis spp    50    Predator
5    Arachnida    Oxyopidae    Oxyopes sp    6    Predator
6    Arachnida    Araneidae    -    22    Predator
7    Diptera    Dolichopodidae    Chrysosoma sp    4    Predator
8    Odonata    Libellulidae    Orthetrum sabina    3    Predator





Tabel 2. Jenis musuh alami pada agroforestry manglid campuran
No    Orthoptera    Mantidae    Hierodula sp    8    Predator
1    Hymenoptera    Formicidae    Polyrhachis spp    60    Predator
2    Hymenoptera    Vespidae    Parischnogaster sp    15    Predator
3    Arachnida    Araneidae    -    10    Predator
4    Arachnida    Oxyopidae    Oxyopes sp    30    Predator
5    Odonata    Libellulidae    Orthetrum sabina    10    Predator
6    Odonata    Calopterygidae    Vestalis luctuosa    6    Predator
7    Diptera    Dolichopodidae    Chrysosoma sp    8    Predator

Berdasarkan Tabel 1 dan Tabel 2 tersebut, musuh alami hama pada dua pola agroforestry termasuk ke dalam golongan predator, dengan uraian sebagai berikut:

a.    Belalang sembah (Hierodula sp)
Belalang sembah memiliki ukuran 8 – 11 cm dengan warna coklat krem atau kehijauan. Habitat dari belalang sembah biasanya pada vegetasi yang rapat di hutan, juga menyukai tempat yang terkena cahaya matahari di hutan, di tepi hutan dan di jalan setapak. Belalang ini memakan banyak jenis serangga.

b.    Semut (Polyrhachis spp)
Semut berukuran sedang, dengan warna bervariasi abu-abu gelap hitam, beberapa berwarna merah kecokelatan. Semut ini membuat sarang di antara dedaunan atau dalam lubang di pohon dan bambu, ada juga yang bersarang di tanah. Semut memangsa larva lepidoptera juga kepik sebagai mangsanya.

c.    Capung (Orthetrum sabina) dan Capung Jarum (Vestalis luctuosa)
Capung memiliki panjang antara 2 - 13,5 cm. Mangsa capung antara lain kutu, nyamuk, kepik, kupu-kupu. Serangga dewasa capung merupakan predator yang rakus.

d.    Tawon (Parischnogaster sp)
Tawon berukuran kecil dengan panjang 11-12 mm. Umumnya terdapat pada hutan dengan lingkungan yang ternaungi. Membuat sarang pada perakaran pohon kecil. Jenis ini merupakan predator yang memangsa tempayak, ulat dan serangga kecil lainnya.

e.    Tawon (Polytes sp)
Tawon berukuran besar dengan panjang 25-30 mm. Berwarna keemasan dengan beberapa tanda yang lebih gelap pada abdomen dan antena. Hidup di hutan dan jalan setapak. Jenis ini memangsa ulat dan serangga kecil lainnya.

f.    Lalat (Chrysosoma sp)
Lalat berukuran 1 – 10 mm. Berwarna hijau metalik, biru atau perak. Ditemukan di tempat terbuka di hutan, pada pohon atau bebatuan dan kadang-kadang di dekat perairan. Lalat dewasa merupakan predator bagi invertebrata bertubuh lunak seperti rayap atau larva serangga lain.

g.    Laba-laba
 disajikan pada Gambar 1.                                                           
Laba-laba tidak termasuk golongan serangga. Semua serangga mempunyai 6 kaki, tetapi laba-laba berkaki 8. Laba-laba tidak mengalami metamorfosa. Laba-laba merupakan spesies yang umum ditemukan di manapun, baik di hutan, sepanjang jalan setapak, pada tumbuhan di dekat tanah atau di atas kanopi pohon atau bangunan. Ukuran tubuh laba-laba bervariasi dari 2-3 mm sampai 25-35 mm. Laba-laba memangsa kumbang, kepik, ulat, ngengat dan serangga lain.
Berdasarkan jenis-jenis musuh alami tersebut, jenis musuh alami dari golongan capung, tawon dan belalang sembah dapat mengendalikan hama kutu putih Hamamelistes sp, sedangkan jenis musuh alami laba-laba dan belalang sembah dapat mengendalikan hama kumbang Sastra sp.
Pada saat invesntarisai, jenis serangga lain yang berperan sebagai herbivor juga dikoleksi. Persentase jumlah predator dengan serangga herbivor pada dua pola agroforestry manglid


Berdasarkan Gambar 1, persentase predator pada agroforestry manglid campuran lebih tinggi dibandingkan pada agroforestry manglid monokultur. Ekosistem agroforestry manglid campuran yang terdiri dari berbagai jenis pohon membentuk struktur agroforestry yang lebih kompleks daripada ekosistem agroforestry manglid monokultur. Ekosistem yang lebih kompleks tersebut  menyediakan berbagai sumberdaya seperti tempat berlindung, kontinuitas ketersediaan makanan dan iklim mikro yang sesuai bagi kelangsungan hidup dan keanekaragaman predator.
Altieri (2007) menyatakan bahwa dasar pengelolaan hama secara ekologis adalah peningkatan keanekaragaman hayati. Hal ini merupakan dasar untuk membentuk interaksi-interaksi menguntungkan yang akan mendorong terjadinya proses-proses ekologis yang diperlukan untuk pengendalian hama. Menciptakan keragaman tumbuhan penting untuk mendapatkan jumlah dan komposisi optimal  musuh alami.
Berdasarkan uraian di atas, musuh alami memiliki peran penting dalam mengendalikan hama. Oleh karena itu, diperlukan upaya konservasi musuh alami, agar musuh alami dapat berperan secara optimal dalam mengendalikan hama. Menurut Aminatun (2009) terdapat beberapa cara konservasi musuh alami, antara lain:
1.    Mengurangi frekuensi pestisida
2.    Menggunakan pestisida yang yang ramah lingkungan
3.    Menanam bunga sebagai sumber nektar
4.    Penyemprotan air gula atau protein untuk menarik musuh alami
5.    Tidak merusak sarang lebah
6.    Menanam tanaman alternatif sebagai tempat bagi serangga (non hama) mangsa
7.    Budidaya dengan pola tumpangsari atau tumpang gilir
8.    Penggunaan tanaman penutup tanah sebagai tempat berlindung musuh alami

IV.    KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
Jenis-jenis musuh alami yang terdapat pada agroforestry manglid antara lain, belalang sembah (Hierodula sp), semut (Polyrhachis spp), capung (Orthetrum sabina) dan Capung Jarum (Vestalis luctuosa), tawon (Parischnogaster sp), tawon (Polytes sp), lalat (Chrysosoma sp)  dan laba-laba (Oxyopes sp). Jumlah musuh alami hama pada agroforestry manglid campuran lebih tinggi dibandingkan agroforestry manglid monokultur.

B.    Saran
Diperlukan upaya konservasi musuh alami hama supaya musuh alami dapat berperan secara optimal dalam mengendalikan hama.

DAFTAR PUSTAKA
Altieri, M. A., L. Ponti dan C. I. Nicholls. Mengendalikan Hama dengan Diversifikasi Tanaman. SALAM 18 Maret 2007: 10-13.

Aminatun, T. 2009. Teknik Konservasi Musuh Alami untuk Pengendalian Hayati. W UNY edisi Mei 2009: 61-69.

Anggraeni, I., N. E. Lelana dan W. Darwiati. 2010. Hama, Penyakit dan Gulma Hutan Tanaman. Sintesa Hasil Penelitian Hama, Penyakit dan Gula Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas Hutan.

Anggraeni, I., S. E. Intari dan W. Darwiati. 2006. Hama & Penyakit Hutan Tanaman. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman.

Borror D. J., C. A. Triplehorn and N. F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Edisi Keenam. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Kalshoven L. G. E. 1981. Pests of Crops in Indonesia. Pt. Ichtiar Baru. Jakarta.

Suhaendah, E. 2012. Serangan Kutu Putih pada Manglid (Manglieta glauca Bl.) dengan Pola Monokultur dan Campuran. Prosiding Seminar Nasional Kesehatan Hutan dan Kesehatan Pengusahaan Hutan untuk Produktivitas Hutan, Bogor, 14 Juni 2012.

Suhaendah, E. 2013. Hama Kumbang Sastra sp pada Agroforestry Manglid. Prosiding Seminar Nasional Agroforestry 2013, Malang 21 Mei 2013.

Untung K. 2006. Pengantar Pengelolaan Hama Terpadu edisi revisi (2006). Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Post Top Ad

Your Ad Spot