AGROFORESTRI BERBASIS MANGLID (Manglieta glauca Bl) PADA DAERAH HULU DAS CITANDUY - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Monday, November 21, 2016

AGROFORESTRI BERBASIS MANGLID (Manglieta glauca Bl) PADA DAERAH HULU DAS CITANDUY

Oleh :
Aditya Hani, Sri Purwaningsih dan Dilla Swestiani
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry
Email: adityahani@gmail.com
(MAKALAH INI TELAH DI TERBITKAN PADA Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Teknologi Agroforestry, 2014)


ABSTRAK

DAS Citanduy merupakan merupakan salah satu DAS prioritas di Indonesia yang kondisinya mengalami degradasi lahan dengan intensitas yang cukup tinggi. Praktek pengelolaan yang umum dilakukan berupa pengelolaan yang mengabaikan aspek konservasi. Pengembangan agroforestry merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan sebagai upaya peningkatan produktivitas lahan dan upaya mempertahankan kualitas lahan di Sub DAS Citanduy Hulu. Manglid merupakan jenis kayu pertukangan unggulan yang banyak dikembangkan di hutan rakyat Jawa Barat terutama pada dataran tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa pola tanam agroforestry terhadap pertumbuhan tanaman manglid. Penanaman manglid di lahan petani pada umumnya masih belum intensif serta ditanam secara monokultur. Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak berblok (RCBD) dengan.  Setiap perlakuan terdiri dari 36 tanaman berbentuk square dengan jarak tanam 2 m x 3 m, sebanyak 3 ulangan. Perlakuan pola tanam terdiri atas: Manglid + Tanaman jahe (A1), Agroforestry Manglid + kacang tanah (A2), c. Agroforestry Manglid + cabai rawit A3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas lahan pada areal penanaman agroforestry manglid memiliki kesuburan kimia yang rendah. Budidaya pertanian yang diterapkan perlu menerapkan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis. Pertumbuhan tanaman manglid paling baik ditunjukkan pada pola tanam manglid dan jahe.

Kata kunci: agroforestry, manglid, jahe


I.    PENDAHULUAN

Ekosistem hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan bagian yang penting karena mempunyai fungsi perlindungan terhadap seluruh bagian DAS baik dari segi fungsi tata air, tata guna lahan maupun konservasi (Asdak, 2007). Oleh karena itu, penggunaan lahan di daerah hulu DAS hendaknya memperhatikan aspek perlindungan bagi lingkungan. Berdasarkan SK. No. 328/ Menhut-II/ 2009, DAS Citanduy merupakan DAS Prioritas, dimana DAS tersebut diutamakan dalam upaya penetapan skala prioritas kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan, termasuk di dalamnya upaya penyelenggaraan reboisasi, penghijauan dan konservasi tanah dan air, baik vegetatif, agronomis, struktural maupun manajemen.
DAS Citanduy merupakan merupakan salah satu DAS prioritas di Indonesia yang kondisinya mengalami degradasi lahan dengan intensitas yang cukup tinggi (Astuti, dkk., 2008).  Degradasi lahan ini diakibatkan oleh penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya serta pengelolaan yang mengabaikan aspek konservasi (Soewandita dan Sudianana, 2011). Begitu pula dengan kondisi di Sub DAS Citanduy Hulu yang merupakan bagian dari hulu DAS Citanduy. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian petani yang mengelola lahan untuk budidaya pertanian.
Praktek pengelolaan yang umum dilakukan berupa pengelolaan yang mengabaikan aspek konservasi, seperti: pengolahan tanah full tillage,  penanaman memotong kontur, penanaman monokultur pertanian, dan tidak menggunakan terasering. Pengembangan agroforestry merupakan salah satu pilihan yang menjanjikan sebagai upaya peningkatan produktivitas lahan dan upaya mempertahankan kualitas lahan di Sub DAS Citanduy Hulu. Agroforestry memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan (Hairiah dkk., 2003).
Manglid merupakan jenis kayu pertukangan unggulan yang banyak dikembangkan di hutan rakyat Jawa Barat terutama pada dataran tinggi. Penanaman manglid di lahan petani pada umumnya masih belum intensif serta ditanam secara monokultur. Padahal penanaman secara agroforestri mempunyai keuntungan dapat memberikan hasil sampingan bagi petani serta kemungkinan untuk dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh beberapa pola tanam agroforestry terhadap pertumbuhan tanaman manglid.

II.    METODOLOGI

A.    Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Desa Sindangbarang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis. Desa ini merupakan salah satu bagian dari sub DAS Citanduy Hulu yang terletak pada hulu DAS Citanduy. Desa Sindangbarang secara biofisik merupakan bagian dari Kecamatan Panumbangan dimana mempunyai karakteristik lahan dengan tofografi bergelombang sampai berbukit (15 – 39%), jenis tanah latosol, drainase sedang dengan pH dari netral sampai basa. Tingkat kemiringan lahan antara 15 – 60 %, dan ketinggian tempat antara 450 – 750 m dari permukaan laut. Tipe iklim berdasarkan data curah hujan 10 tahun terakhir memiliki rata – rata  bulan basah 7 dan bulan kering 4,6 sehingga berdasarkan klasifikasi Schmidt-Ferguson termasuk tipe C (Agak Basah). Penelitian dilaksanakan mulai Januari tahun 2011 sampai Desember 2013.

B.    Alat dan Bahan
Bahan yang digunakan adalah bibit manglid,benih/bibit tanaman bawah: kacang tanah, jahe, cabai dan jagung, pupuk organik (pupuk kandang), pupuk anorganik (pupuk NPK dan pupuk cair), herbisida, dan fungisida. Alat yang digunakan adalah: cangkul, parang, roll meter, kaliper, galah ukur, dan sprayer.

C.    Rancangan Percobaan
Rancangan penelitian menggunakan rancangan acak berblok (RCBD) dengan.  Setiap perlakuan terdiri dari 36 tanaman berbentuk square dengan jarak tanam 2 m x 3 m, sebanyak 3 ulangan. Jumlah pohon yang digunakan dalam pengolahan data adalah nettplot trees sebanyak 25 pohon untuk mengurangi efek tepi dimana pohon menerima sinar matahari yang lebih banyak.  Perlakuan penelitian terdiri atas:
a. Agroforestry Manglid + Tanaman jahe
b. Agroforestry Manglid + Tanaman kacang
c. Agroforestry Manglid + Tanaman cabai rawit
Pengukuran tanaman pokok terdiri atas daya hidup, serta pertumbuhan tinggi dan diameter. Data tinggi dan diameter digunakan untuk menghitung riap volume tahunan yang merupakan indikator produktivitas lahan.
Status kesuburan tanah diketahui melalui analisa tanah. Pengambilan sampel tanah dilakukan pada kedalamanan 0-20 cm dan 20-40 cm. Setiap plot ulangan diambil dari beberapa titik untuk selanjutnya dikomposit menjadi 1 (satu) sampel. Analisa kimia tanah meliputi kadar C organik tanah yang diukur menggunakan metode Walkey dan Black, N total ditentukan dengan menggunakan metode semiautomatic kjedhal Digestion (AOAC), fosfor diukur menggunakan metode P Bray, dan pH tanah H2O ditentukan dengan perbandingan 1:2,5.

D.    Analisa Data
Analisa data dilakukan dengan menggunakan analisa sidik ragam untuk mengetahui  ada tidaknya perbedaan antar perlakuan, jika terdapat perbedaan yang nyata, maka dilanjutkan dengan uji lanjut Duncan. Analisa dibantu dengan program SPSS 16.


III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

A.    Status Kesuburan Lahan
Status kesuburan lahan sangat penting sebagai bahan dalam pengeloan budidaya tanaman baik kayu maupun tanaman semusim. Hasil analisa kesuburan tanah dilokasi penelitian disajikan pada tabel berikut ini.

Tabel 1. Hasil analisa kesuburan tanah dilokasi penelitian
Parameter     Kedalaman 0-20 cm     Kedalaman 20-40 cm
Nitogen total (%)
Karbon organik (%)
Bahan organik (%)
P2O5 tersedia (ppm)
K2O tersedia (me%)
pH H2O    2,210 (sedang)
3,810
0,217 (sedang)
1,528 (sangat rendah)
0,286 (rendah)
5,48 (masam)    1,630 (sedang)
2,810
0,147 (sedang)
1,249 (sangat rendah)
0,293 (rendah)
5,43 (masam)
Sumber: Hasil analisa sampel tanah di Laboratorium Universitas Jenderal Soedirman.
   
Tabel 1 menunjukkan bahwa kandungan unsur nitrogen dan kandungan bahan organik termasuk kategori sedang, unsur hara pospor sangat rendah, unsur kalium rendah dan pH asam. Kesuburan yang rendah disebabkan karena pola penggunaan lahan yang kurang tepat. Petani banyak membuka lahan untuk menanam tanaman semusim tanpa memperhatikan aspek konservasi. Lokasi penelitian merupakan daerah pegunungan dengan kelerengan antara 15-25 % dengan, sehingga sangat rentan terhadap erosi dan aliran permukaan. Untuk dapat meningkatkan produktivitas tanaman, maka perlu upaya perbaikan kesuburan melalui penerapan teknik usaha tani konservasi.
Teknik pertanian yang palig tepat dikembangakan di daerah pegunungan adalah dengan sistem agroforestri baik dalam bentuk penanaman sistem lorong (kayu dan semusim), tanaman penghasil kayu sebagai pagar hidup, dan silvopastur. Agroforestry akan mengurangi aliran permukaan sebesar 9,2% serta mengurangi kehilangan NO3-N menjadi 16-48 kg ha-1 a-1 dibandingkan dengan sistem monokultur yang mempuyai kehilangan NO3-N sebesar 45-64 kg ha-1 a-1 (Wang et al., 2011).  Upaya perbaikan kesuburan tanah latosol dapat dilakukan dengan cara penambahan bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Pengelolaan bahan organik dapat dilakukan dengan pemanfaatan tanaman cover crop maupun pengelolaan limbah tanaman semusim. Keberadaan seresah yang berasal dari tanaman perennial merupakan sumber nitrogen yang penting bagi tanaman pertanian yang tidak dipupuk (Nair, 1992).

B.    Pertumbuhan Tanaman
Tanaman manglid merupakan jenis yang mempunyai pertumbuhan yang sedang  (rotasi 10-15 tahun). Pertumbuhan tanaman manglid pada umur 15 bulan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil analisa pengaruh pola tanam agroforestry terhadap pertumbuhan manglid umur 15 bulan
Sumber Variasi    Parameter    Jumlah Kuadrat    Derajat Bebas    Kuadrat Tengah    F hit.
    Sig.
Pola tanam    Tinggi    20130,027    2    10065,013    4,307    0,014*
    Diameter    877,989    2    438,994    4,853    0,008*
Keterangan :   *  Berbeda nyata  pada tingkat  95 %

    Hasil analisa varian menunjukkan bahwa pola tanam manglid memberi pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan manglid pada parameter tinggi dan diameter. Untuk mengetahui pola tanam yang terbaik maka dilanjutkan dengan uji Lanjut Duncan. Hasil uji lanjut Duncan disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Uji Lanjut Duncan pengaruh pola tanam terhadap pertumbuhan manglid
Perlakuan
    Tinggi
(cm)    Diameter
(cm)
Manglid+jahe
Manglid+kacang
Manglid+Cabai  rawit    148 a
137   ab    
129      b    2,30 a              
2,11 ab   
1,89   b
Keterangan: Angka–angka yang diikuti dengan huruf yang  sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95%.

    Tabel 3 menunjukkan bahwa pola tanam manglid+jahe memberikan pertumbuhan tinggi dan diameter tertinggi (148 cm dan 2,3 cm), selanjutnya diikuti oleh pola tanam manglid+kacang (137 cm dan 21,11 cm) dan manglid+ cabai rawit (148 cm dan 2,3 cm). Agroforestry manglid dan jahe memberikan pertumbuhan paling baik bagi manglid dikarenakan pada budidaya jahe pengolahan lahan lebih intensif dibandingkan dengan penanaman kacang dan cabe.
Pengolahan lahan menjadi faktor utama untuk dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman. Sebagian besar lahan yang sudah lama tidak dimanfaatkan sehingga mengalami pemadatan tanah. Kayombo and Lai (1993) menyatakan bahwa pemadatan tanah dapat terjadi karena pertanian secara mekanis secara terus menerus, maupun terjadi karena proses alami. Akibat pemadatan tanah berdampak pada pengurangan kualitas pertumbuhan tanaman. Namun karena daerah penelitian merupakan daerah hulu DAS maka pengolahan lahan dilakukan seminimal mungkin, sehingga dengan adanya budidaya jahe dibawah manglid maka penggemburan tanah hanya dilakukan pada sekitar tanaman jahe. Jahe membutuhkan tanah yang gembur sehingga petani lebih sering melakukan penggemburan tanah (pembumbunan) pada penanaman jahe, sedangkan pada penanaman kacang dan cabe rawit, petani menggunakan sistem tugal, sehingga pengolahan lahan tidak intensif. Pembumbunan berfungsi untuk memperbaiki sifat fisik tanah, sehingga perakaran dapat berkembang lebih baik. Penggemburan juga terjadi pada saat panen jahe karena umbi jahe harus diambil dengan cara menggali tanah, sehingga tanah yang ditinggalkan nampak seperti bekas galian. 
Penggemburan tanah pada pola agroforesti manglid dan jahe juga berfungsi untuk mengurangi kompetisi antara perakaran jahe dan perakaran manglid. Scroth et al (1995) menyatakan bahwa pembumbunan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karena dapat mengurangi kompetisi antara perakaran pohon dan tanaman semusim, namun jika dilakukan di dataran tinggi untuk mengurangi resiko adanya aliran permukaan akibat pembumbunan sebaiknya ditambahkan dengan mulsa organik berupa pupuk hijau.  Penerapan teknik pengolahan tersebut disebut sebagai olah tanah konservasi. Olah tanah konservasi dalam sistem agroforestry dapat meningkatkan kualitas kesuburan tanah karena adanya peningkatan penambahan bahan organik ke dalam tanah serta mengurangi terjadinya kerusakan tanah (Ketema and Yimer, 2014).

IV.    KESIMPULAN DAN SARAN

A.    Kesimpulan
1.    Kualitas lahan pada areal penanaman agroforestry manglid memiliki kesuburan kimia yang rendah. Budidaya pertanian yang diterapkan perlu menerapkan teknik konservasi tanah secara vegetatif dan mekanis.
2.    Pertumbuhan tanaman manglid paling baik ditunjukkan pada pola tanam manglid dan jahe.



B.    Saran
    Pengukuran aspek kualitas lahan pada masing-masing pola tanam dapat dilengkali dengan pengukuran tingkat erosi  dan aliran permukaan secar berkesinambungan.
       
DAFTAR PUSTAKA

Asdak. 2007. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Astuti Y.A, A.H Dharmawan, E.I.K Putri, dan A. Indrawan. 2008. Struktur Nafkah Rumahtangga dan Pengaruhnya terhdapa Kondisi Ekosistem Su DAS Citanduy Hulu. Jurnal Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi Manusia Vol 02 No 1.

Hairiah, K., Sardjono, M. A. dan Sabarnurdin,M. S. 2003. Pengantar Agroforestri. Indonesia. World Agroforestry Centre (ICRAF), Southeast Asia Regional Office. Bogor.

Kayombo, B. And R. Lai. Tillage systems and soil compaction in Africa. Soil and Tillage Research 27: 35-72.

Ketema, H. And F. Yimer. 2014. Soil property variation under agroforestry based conservation tillage and maize based conventional tillage in Southern Ethiopia. Soil & Tillage Research 141: 25-31.

Nair, P.K.R. 1992. An Introduction to Agroforestry. Kluwer Academic Publishers, International Centre for Research in Agroforestry. Dordrecht, Netherlands.

Prasetyo, B.H. dan D.A. Suriadikarta. 2006. Pengelolaan Tanah Ultiso Untuk Pengembangan Pertanian Lahan Kering di Indonesia.  Jurnal litbang pertanian 25 (2), 39-47.

Scroth, G., N. Poidy, T. Morshauser dan Wolfgang Zech. 1995. Effect of different methods of soil tillage and biomass application on crop yield and soil properties in agroforestry with high tree competition. Agriculture, Ecosystems & Environment 52: 129-140.

Soewandita, H dan N. Sudianana. 2011. Aplikasi Teknologi Bioengineering Jebakan Sedimen di Sub DAS Citanduy Hulu. Diakses dari hhtp://www.ejurnal.bppt.go.id pada tanggal 31 Januari 2012.

Wang, Y., Zhang, B., Ling, L., Zepp, H. 2011. Agroforestry System Reduces Subsurface Lateral Flow and Nitrate Loss in Jiangxi Province, China. Agriculture, Ecosystem and Environment 140: 441-453.

Post Top Ad

Your Ad Spot