KEBERADAAN CACING TANAH SEBAGAI INDIKATOR KESUBURAN TANAH PADA AGROFORESTRY UMBI-UMBIAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Monday, October 3, 2016

KEBERADAAN CACING TANAH SEBAGAI INDIKATOR KESUBURAN TANAH PADA AGROFORESTRY UMBI-UMBIAN

Aris Sudomo dan Wuri Handayani
Balai Penelitian Teknologi Agroforestry Ciamis
email : arisbpkc@yahoo.com.
(Makalah ini Telah Di Terbitkan pada Prosiding Seminar Nasional Agroforestri ke-5, Balai Penelitian Teknologi Agroforestry)


ABSTRAK

Budidaya tanaman pangan umbi-umbian diantara tegakan pohon telah diaplikasikan masyarakat pada lahan hutan rakyat dengan sistem agroforestry. Keberadaan pohon potensial memberikan efek positif bagi lingkungan dan aspek konservasi tanah. Indikator kestabilan ekosistem dan terjaganya kesuburan tanah dalam pola agroforestry dapat diketahui dari keberadaan fauna cacing tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pola tanam agroforestry terhadap keberadaan fauna cacing tanah sebagai indikator kesuburan tanah. Penelitian dilakukan di lahan hutan rakyat Desa Tenggerraharja, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Metode yang digunakan adalah observasi pada keempat pola tanam yaitu (1) monokultur pohon manglid, (2) agroforestry manglid+suweg, (3) agroforestry manglid+talas dan (4) monokultur suweg sebagai pembanding. Penghitungan cacing tanah dilakukan dengan pembuatan lubang pada tanah  berukuran 40 cm x 40 cm sedalam 30 cm. Total lubang tanah untuk menghitung jumlah cacing per luasan 0,16 m2 adalah 4 pola tanam X 3 blok X 3 lubang tanam = 36 lubang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh pola tanam berbeda nyata terhadap keberadaan jumlah cacing tanah. Jumlah cacing terbanyak pada pola tanam monokultur tegakan pohon manglid (6,56 ekor/0,16 m2), agrofrestry suweg (4,08 ekor/0,16 m2), agroforestry talas (2,7 ekor/0,16 m2) dan monokultur suweg  (3,5 ekor/0,16 m2). Berdasarkan penelitian ini menunjukkan bahwa pola tanam agroforestry relatif  lebih berefek positif bagi lingkungan sebagai habitat dan positif bagi kesinambungan tanah sebagai tempat hidup tanaman yang diindikasikan oleh keberadaan cacing tanah.

Kata kunci : Agroforestry, hutan rakyat, cacing tanah dan umbi-umbian 


I.    PENDAHULUAN

Praktik agroforestry adalah mengkombinasikan tanaman pohon dengan tanaman bawah pertanian telah banyak dilakukan masyarakat di lahan hutan rakyat. Praktik ini berupaya mengoptimalkan lahan agar lebih efisien sehingga tercapai peningkatan produktivitas lahan. Selain itu keberadaan pohon dalam agroforestry merupakan usaha mempertahankan kesuburan tanah. Hal ini dapat terjadi dengan pengurangan run-off, jatuhan bahan organik serasah, dan menjaga kondisi lingkungan yang kondusif untuk kehidupan mikroorganisme dan makroorganisme. Jenis cacing tanah dan interaksi jenis-jenis cacing dalam sistem mempengaruhi mineralisasi nitrogen dan produksi tanaman. Cacing dapat secara spesifik berpangaruh terhadap kesubruan tanah sehingga berperan besar dalam kelestarian penggunaan lahan yang telah terdegradsi secara alami sebagai agroekosistem. Selanjutnya Cacing tanah dapat meningkatkan ketersediaan hara dalam sistem sehingga mengurangi  peran manusia manusia dalam meminimalisir pengolahan tanah, mengurangi penggunaan pupuk mineral dan kandungan bahan organik (low input) ( Bhadauria and Saxena, 2010).
Tanah sebagai media pertumbuhan tanaman tak lepas sebagai habitat makluh hidup fauna cacing. Papendick et al, 1992 menyatakan bahwa keanekaragaman dan keberadaan makrofuana cacing yang relatif peka terhadap perubahan lingkungan, praktek pengolahan tanah dan bentuk pola tanam dapat digunakan sebagai petunjuk terjadinya proses degradasi atau rehabilitasi tanah serta kesuburan tanah. Cacing tanah dapat dipertimbangkan sebagai indikator yang tepat bagi penggunaan lahan dan kesuburan tanah, serta indikator kualitas hutan (Muy dan Granval., 1997). Tanaman dan cacing tanah terkait erat dalam pembentukan agregat tanah  sehingga kedua organisme perlu dipertimbangkan secara bersamaan untuk pengelolaan tanah (Fonte., et.al. (2012)).
Keberadaan pohon menyebabkan kesuburan tanah terjaga dan kondisi biofisik relatif stabil. Iklim mikro seperti suhu, kelembaban, kandungan air dan keberadan bahan organik berpengaruh terhadap kehidupan hewan di dalamnya. Terlebih umbi-umbian seperti talas dan suweg adalah umbi-umbian yang bisa hidup dibawah tegakan. Tanah disekitar umbi talas biasanya dengan mudah kita temukan keberadaan cacing. Hal ini dikarenakan relatif lembab dan sesuai untuk kehidupan cacing tanah. Agroforestry menyebabkan perubahan iklim mikro sehingga mempengaruhi kehidupan cacing tanah. Salah satu parameter yang menentukan indikator kesuburan tanah adalah cacing tanah (Kartasapoetra dkk., 1991). Sistem Penggunaan lahan berpengaruh signifikan terhadap kepadatan cacing tanah dan perbedaan eksistensi cacing tanah pada berbagai system budidaya tanaman dilahan berkapur disebabkan oleh perbedaan iklim mikro dan kualitas seresah. (Dwiastuti dan Suntoro, 2011)
Parameter keberlanjutan dalam budidaya agroforestry adalah stabilas kesuburan tanah. Cacing tanah dapat dijadikan paramater keberlanjutan fungsi tanah. Dengan keberadaan cacing berarti tanah tersebut subur dan produktivitas terjaga. Cacing sebagai indikator bahwa tersedia makanan berupa bahan organik tanah. Bahan oragnik tanah akan tedekomposisi menjadi humus dengan bantuan fauna cacing. Lubang atau ruang yang dibuat oleh cacing tanah merupakan pori makro yang berkontribusi positif bagi perakaran tanaman. Hal ini mempengaruhi produktivitas tanaman diatasnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh budidaya agroforestry umbi-umbian terhadap keberadaan cacing tanah sebagai parameter kesinambungan tanah. Dengan pengetahuan ini bisa menjadi tambahan informasi tentang tingkat kesinambungan tanah pasca agroforestry manglid+umbi-umbian.

II.    METODOLOGI

A.    Waktu dan Lokasi
Penelitian dilakukan pada Bulan April 2014 pada hutan rakyat di wilayah Desa Tenggerraharja, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat. Curah hujan Desa Tenggerraharja, Kecamatan Sukamantri adalah 2.071 mm/tahun dan berdasarkan Schmith Ferguson, termasuk tipe C (agak basah) (BP3K, 2012). 

Tabel 1. Karakteristik Biofisik Lokasi di Desa Tenggerraharja, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat
No.    Karakteristik Lahan    Nilai
1.    Drainase (w)   
    - Drainase tanah    Cepat - agak terhambat
2.    Retensi Hara (a)   
    - pH tanah    4,42-5,58
3.    Media perakaran (s)   
    - Tekstur    Sedang- berat / Liat (C)
    - Lereng %    15% - 60%
4.    Kedalaman tanah (sd)   
    - Kedalaman tanah (cm)    > 90
5.    Ketersediaan air ( c)   
    - Bulan kering (<75 mm)    4
    -Curah hujan/tahun (mm)    1.144 - 2.906 (rata-rata 2.071)
    -    Tipe Iklim    (Schmidt-Ferguson) C
6.    Erosi   
    - Tingkat Bahaya Erosi    Ringan
7.    Jenis tanah    Latosol
8.    Elevasi (m)    894
9.    Temperatur (oC)    20,4 0C- 31 0C
Sumber : analisis data primer dan data sekunder (BP3K, 2012).

B.    Bahan dan Alat Penelitian
Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data tanah, data iklim, data pendukung/ literatur terkait dan lain-lain. Alat yang diperlukan dalam penelitian ini adalah cangkul, sabit, tambang, termohygrometer, GPS,  alat tulis dan lain-lain.

C.    Prosedur Penelitian
    Penelitian dilakukan pada 4 pola tanam yaitu monokultur manglid, agroforestry manglid+suweg dan agroforestry manglid+talas serta sebagai pembanding adalah monokultur suweg. Setiap pola tanam teradapat pada 3 blok.
    Penghitungan jumlah cacing dilakukan dengan menggali/membuat lubang tanah panjang 40 cm lebar 40 cm dan dalam 30 cm. Keberadaan  cacing tanah adalah pada top soil yang mengandung bahan organik/serasah/humus sehingga diambil pada kedalaman 30 cm. Jumlah lubang untuk mengidentifikasi jumlah cacing tanah adalah 4 pola tanam x 3 blok x 3 lubang tanam = 36 lubang. Cacing dihitung jumlahnya secara manual dengan mengambil satu per satu.
    Sample tanah komposit diambil pada kedalaman 0-30 cm pada tiga titik setiap pola tanam sehingga terdapat 4 pola tanam x 3 titik x 3 blok = 36 sampel tanah. Kemudian sampel tanah tersebut di komposit sehingga setiap pola tanam tinggal 1 sampel untuk dianalisis di laboratorium tanah. Parameter analisis tanah adalah kandungan bahan organik, N, P, K dan pH. Pengambilan data biofisik meliputi ketinggian tempat, suhu,  kelembaban, pengamatan kelerengan dan curah hujan Desa Tenggerraharja, Kecamatan Sukamantri, Kabupaten Ciamis.

D.    Analisis Data
Sampel tanah dianalisis di laboratorium ilmu tanah, Fakultas Pertanian UGM kemudian dikelompokkan berdasarkan kriteria penilaian tanah (Pusat Penelitian Tanah, 1988 dalam Hardjowigeno, 2003). Data karakteristik tanah dianalisis secara deskrifitif untuk mengetahui perubahan unsur hara antar tipe agroforestri. Pengaruh pola tanam terhadap jumlah cacing dianalisis dengan anlaisi varians (Uji-F) dan bila berbeda nyata dilanjutkan uji Lanjut Duncan dengan taraft uji 95%.

III.    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Berdasarkan analisis varians menujukkan bahwa pola tanam agroforestry berpengaruh nyata terhadap jumlah cacing di dalam tanah. Hal ini kemudian dilakukan uji Lanjut Duncan untuk mengetahui pola tanam terbaik yang ditunjukan oleh jumlah cacing tanah yang dihasilkan sebagaimana disajikan pada Tabel 3.

Tabel 2. Analisis Varians Pengaruh Pola Tanam Agroforestry Terhadap Jumlah Koloni Cacing tanah.

Keterangan  (remark) : * berbedanyata pada taraf uji 5% (significantly different at 5% level).

Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan menunjukkan bahwa monokultur tegakan manglid menghasilkan jumlah cacing (6,56 ekor) lebih banyak dibandingkan pola tanam agroforestry  talas (2,7 ekor) , agroforestry suweg (4,08 ekor) maupun monokultur suweg (3,5 ekor). Hal ini disebabkan oleh kondisi tanah yang relatif tidak terganggu karena tidak ada pengelolaan tanah untuk  tanaman bawah. Kondisi iklim mikro pada tegakan monokultur manglid relatif lebih terjaga kelembaban dan suhu yang kondusif bagi kehidupan fauna cacing. Jumlah cacing pada tempat terbuka seperti monokultur suweg relatif lebih sedikit disebabkan oleh kondisi lingkungan iklim mikro yang relatif lebih panas dan kelembaban kurang akibat sinar matahari langsung sampai permukaan tanah. Intensitas cahaya matahari yang langsung masuk kepermukaan tanah membuat permukaan tanah relatif lebih panas sehingga kurang kondusif untuk kehidupan cacing. Hal ini sesuai dengan penelitian Sugiyarto et. al., 2007 dalam intensitas cahaya yang tinggi population cacing berkurang. Temperatur merupakan faktor penting terhadap produktivitas cacing tanah; kemudian proses biologis seperti pernapasan, perkembangbiakan dan metabolisme sangat dipengaruhi oleh suhu media. Suhu terbaik untuk cacing tanah adalah pada kisaran 20°C-25°C, suhu yang terlalu tinggi cacing tanah akan berhenti makan untuk mengurangi pengeluaran air tubuh dan kelembaban yang optimum adalah 50% (Catalan, 1981 dalam Dwiastuti Dan Suntoro, 2011)
Secara keseluruhan hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pola tanam agroforestry atau monokultur tegakan manglid relatif lebih kondusif menghasilkan habitat untuk kehidupan cacing. Selain itu adanya serasah dari tegakan manglid merupakan bahan organik yang menjadi sumber makanan cacing. Cacing tanah memakan bahan organik serasah yang dihasilkan oleh pohon sehingga bersifat dekomposer. Pada kelembaban yang terjaga maka bahan organik serasah akan mudah terdekomposisi oleh cacing menjadi kotoran cacing, biomassa yang positif untuk struktur dan aerasi serta kesuburan tanah. Kelimpahan cacing tanah dipengaruhi oleh bahan organik dengan meningkatnya bahan organik maka meningkat pula populasi cacing tanah (Minnich, 1977). Kalaupun di agroforestry talas menghasilkan cacing lebih sedikit disebabkan oleh relatif baru 2 bulan tanah tersebut diolah sehingga kehidupan cacing terganggu. Pengolahan tanah sebelum penanam talas adalah menggali tanah sedalam 30-40 cm kemudian membalikkan tanah pemberian pupuk kandang diberikan pada setiap lubang tanaman talas (800 gram/lubang). Sebelum ditanam talas, tanaman bawah yang ditanam adalah ganyong. Pembongkaran sewaktu pemanenan ganyong menyebabkan tanah terusik sehingga kehidupan cacing terganggu. Semakin lama tanah tidak terolah oleh penggalian /pengolahan tanah menunjukkan kehidupan cacing tidak terganggu sehingga jumlahnya lebih banyak. Hal ini sesuai dengan penelitian Nuril dkk, (1999) bahwa keberadaan cacing akan bisa tetap berperan dalam proses siklus hara secara terus menerus pada lahan tanah yang tidak terganggu. Pada lahan yang sering terganggu misal lahan pertanian oleh budidaya intensif maka populasi caing tanah akan mengalami penurunan populasi. Hal ini disebabkan oleh hilangnya sejumlah spesies tumbuhan, penurunan produksi serasah, perubahan sifat biologis, fisik dan kimia tanah, penurunan populasi fauna lain dan mikroorganisme tanah, dan perubahan iklim mikro yang tidak kondusif bagi kehidupan mikroorganisme (Nuril dkk.1999). Lahan yang sering diolah secara intensif berpengaruh terhadap keberadaan cacing tanah dengan sering melakukan pemupukan organik dan penyiraman air menyebabkan adanya kondisi yang berhubungan dengan kelembaban dan suhu sebagai faktor iklim mikro (Dwiastuti Dan Suntoro, 2011). Lahan yang sering diolah seperti pada budidaya kacang tanah dengan sering melakukan pemupukan organik dan penyiraman air menyebabkan adanya kondisi yang berhubungan dengan kelembaban dan suhu sebagai faktor iklim mikro yang menyebabkan poulasi cacing tanah relatif lebih banyak dibanding hutan (jati, mahoni dan acacia).  (Dwiastuti dan Suntoro, 2011). Pemberian serasah sengon menghasilkan populasi cacing tanah lebih banyak dibanding serasah jagung,pepaya, rumput gajah dan ubi jalar disebabkan realtif lambat terdekomposisi (Sugiyarto. et. al., 2007)




Tabel 3. Uji lanjut Duncan Pengaruh Pola Tanam Agroforestry Terhadap Jumlah Cacing Tanah
No    Pola Tanam
(Planting Pattern)    Jumlah Cacing /Number Of Cacing (ekor/0,16 m2 )    Uji Duncan (Duncan Test)    Umur
1    Monokultur Manglid (Monoculture)    6,56    a    Manglid  37 bulan
2    Agroforestry Suweg    4,08    ab    Suweg  15 bulan
3    Agroforestry Talas    2,70    b    Talas 2 bulan
4    Monokultur  Suweg    3,50    ab    15 bulan
Keterangan (Remarks) : Nilai yang diikuti dengan huruf yang sama dalam suatu kolom menunjukkan tidak berbeda nyata pada tingkat kepercayaan 95% (Value followed by same letter on column indicated not different at level 95% on Duncan Test)

Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah (kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara), dan vegetasi (hutan, padang rumput) serta cahaya matahari ( Hakim dkk (1986) dan Makalew (2001) dalam Sugiyarto .et.al., (2007)). Menurut Dwiastuti Dan Suntoro, (2011) keberadaan tegakan yang lebih rapat akan lebih mempengaruhi kondisi iklim mikro dan bahan organik yang dihasilkan. Bahan organik merupakan makanan bagi cacing sehingga kondusif untuk kehidupan cacing. Semakin rapat tanaman maka kondisi iklim mikro yang lebih lembab dan temperatur yang terjaga kondusif bagi kehidupan cacing.Tanaman memberikan masukan bahan organik melalui serasah yang tertimbun di permukaan tanah berupa daun dan ranting serta cabang yang rontok. Bahan organik yang ada dipermukaan tanah ini dan bahan organik yang telah ada di dalam tanah selanjutnya akan mengalami dekomposisi dan mineralisasi dan melepaskan hara tersedia ke dalam tanah (Dwiastuti dan Suntoro, 2011). Cacing tanah mempunyai peranan penting dalam dekomposisi bahan organik tanah dalam penyediaan unsur hara. Cacing tanah akan meremah-remah substansi nabati yang mati, kemudian bahan tersebut akan dikeluarkan dalam bentuk kotoran (Rahmawaty, 2004).

   
Gambar 1. Cacing tanah pada agroforestry umbi (lubang 40 cm x 40 cm sedalam 30 cm)
   
Berdasarkan pengamatan terhadap Gambar 1 menunjukkan bahwa jenis cacing tanah adalah cacing kalung yang ditandai dengan terdapatnya warna lebih merah melingkar di sekitar leher atau dekat mulut cacing. Cacing jenis ini merupakan cacing tanah yang bisa menjadi dekomposer bahan organik serasah sehingga terdekomposisi menjadi kotoran cacing dan biomassa yang dapat menyuburkan tanah. Selain itu cacing ini biasanya digunakan masyarakat untuk penyembuh obat tipes sehingga bisa dijadikan kapsul cacing pada dunia pengobatan. Kelompok cacing yang dapat mempertahankan porositas tanah adalah cacing dari kelompok “soil engineers” atau “ecosystem engineer” yang tinggal dan aktif di dalam tanah tetapi mengkonsumsi seresah yang ada di dalam tanah maupun di permukaan tanah (Hairiah et.al.,2004).
Monokultur manglid potensial memberikan serasah dan tutupan tajuk yang lebih banyak serta lapisan tanah yang tidak terganggu oleh pengolahan tanaman bawah. Pada agroforestry juga poetensial memberikan serasah dan tutupan tajuk tetapi tanah sedikit terganggu pada saat pengeolahan tanaman bawah. Populasi cacing dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu (1) ketebalan bahan organik serasah, (2) penutupan kanopi sehingga suhu dan kelambaban terjaga;  dan (3) tanah relatif bebas gangguan dari intensifikasi pengolahan tanah. Ketebalan serasah dipermukaan tanah tentunya tergantung produksi serasah pohon dan kualitasnya. Keberadaan serasah, kanopi dan tanaman bawah akan mempengaruhi habitat kehidupan fauna cacing. Meskipun demikian tidak selalu berbanding lurus antara daya infiltrasi tanah dan makroporositas tanah dengan jumlah cacing tanah. Karena ada faktor lain yang mempengaruhi daya infiltarsi dan makroporositas tanah yaitu kedalam perakaran tanah dan keberadaan vegetasi, serasah dan keberadaan tanamn bawah. Menurut Hairiah et.al.,2004 makroporositas tanah dan daya infiltrasi tanah akan dipengaruhi oleh rapatnya penutupan permukaan tanah oleh kanopi pohon, basal area, tanaman bawah dan lapisan seresah  serta kapasitas perakaran dari tegakan. Perubahan penggunaan lahan dari hutan alam menjadi agroforestry akan mempengaruhi ketebalan serasah, mengurangi makroporositas  tanah tetapi tidak berkaitan dengan penurunan populasi cacing (Hairiah et.al.,2004).

IV.    KESIMPULAN

1.    Keberadaan tegakan pohon pada pola tanam agroforestry berpengaruh nyata terhadap jumlah cacing tanah yang dihasilkan sebagai indikator kesinambungan tanah .
2.    Pola tanam agroforestry dengan keberadaan tegakan yang ada potensial memberikan habitat yang kondusif bagi kehidupan  fauna cacing baik secara iklim mikro dan keberadaan bahan organik serasah.
3.    Pola tanam monokutur tegakan menghasilkan jumlah cacing (6,56 ekor/0,16 m2) yang signifikan  lebih banyak dibandingkan agroforestry talas (2,7 ekor/0,16 m2), agrofrestry suweg (4,08 ekor/0,16 m2),  dan monokultur suweg (3,5 ekor/0,16 m2    ).

DAFTAR PUSTAKA

Dwiastuti. S. Dan Suntoro, 2011. Eksistensi Cacing Tanah Pada Lingkungan Berbagai Sistem Budidaya     Tanaman Di Lahan Berkapur Dan Suntoro Universitas Sebelas Maret, Jl. Ir. Sutami No. 36a, Seminar Nasional Viii Pendidikan Biologi. Biologi, Sains, Lingkungan, Dan Pembelajarannya Menuju Pembangunan Karakter. Solo.
Dwiastuti S. Sajidan, Suntoro, Prabang Setyono Pengaruh Kepadatan Cacing Tanah Terhadap Emisi Co2 Mesocosm Pada Konversi Lahan Hutan Ke Pertanian. Universitas Sebelas Maret. 2011.
Hairiah K., D. Suprayogo1, Widianto, Berlian, Erwin Suhara, Aris Mardiastuning, Rudy Harto Widodo, Cahyo Prayogo, dan Subekti Rahayu, 2004. Alih Guna Lahan Hutan Menjadi Lahan Agroforestry Berbasis Kopi: Ketebalan Seresah, Populasi Cacing Tanah Dan Makroporositas Tanah. Jurnal Agrivita  Volume 26 (1) P. 68-80. UNIBRAW. Malang.
G. Kartasapoetra., A.G.Kartasapoetra., Mulyani Sutedjo.. 1987. Teknologi Konservasi Tanah dan Air. Cetakan kedua. Bina Aksara. Jakarta.
Muys, B. and P.H. Granval. 1997. Earthworms as bio-indicators of forest site quality. Journal of soil Biol. Biochem. 29:323-328.
Nuril, H, B. Paul Naiola, E. Sambas, F.Syarif, M. sudiana, J.S. Rahajoe, Suciatmih, T.Juhaeti & Y. Suhardjono.1999.Perubahan Bioekofisik Lahan Bekas Penambangan Emas di Jampang dan Metoda Pendekatannya untuk upaya reklamasi. Laporan teknik Proyek Penelitian Pengembangan dan Pendayagunaan Potensi Wilayah, tahun 1998/1999. Puslitbang Biologi LIPI.
Rahmawaty 2004. Studi Keanekaragaman Mesofauna Tanah Di Kawasan Hutan Wisata Alam Sibolangit (Desa Sibolangit, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Daerah Tingkat II Deli Serdang, Propinsi Sumatera Utara). Jurusan Kehutanan Program Studi Manajemen Hutan Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.
Tunira Bhadauria1 and Krishan Gopal Saxena, 2010. Role of Earthworms in Soil FertilityMaintenance   through the Production of Biogenic Structures. Hindawi Publishing Corporation Applied and Environmental Soil Science. Volume 2010.
Fonte. Steven J. & D. Carolina Quintero & Elena Velásquez & Patrick Lavelle, 2012. Interactive Effects Of Plants And Earthworms On The Physical Stabilization Of Soil Organic Matter In Aggregates Plant Soil (2012) 359:205–214. DOI 10.1007/s11104-012-1199-2.
Sugiyarto, , Manan Efendi, Edwl Mahajoeno, Yogi Sugito, Eko Handayanto, Lily Agustina2 , 2007. Preferensi Berbagai Jenis Makrofauna Tanah Terhadap Sisa Bahan Organik Tanaman Pada Intensitas Cahaya Berbeda. B I O D I V E R S I T A S Issn: 1412-033x. Volume 7, Nomor 4 April 2007.

Post Top Ad

Your Ad Spot