TEKNIK PENGEMBANGAN GAHARU PADA HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, June 1, 2016

TEKNIK PENGEMBANGAN GAHARU PADA HUTAN RAKYAT

Oleh:
Encep Rachman
Staf Peneliti Kelti Silvikultur Loka Litbang Hutan Monsoon Ciamis


ABSTRAK


            Gaharu merupakan salah satu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yang bernilai ekonomi tinggi.
Substansi aromatik gaharu sering digunakan sebagai bahan parfum, pewangi ruangan, dupa, minyak dan obat tradisional. Tingginya permintaan gaharu  terutama dari luar negeri menyebabkan pengambilan komoditi tersebut semakin sering dilakukan. Eksplorasi dan eksplotasi besar-besaran tanpa memperhatikan kelestarian jenis ini mengakibatkan keberadaanya semakin terancam. Terdorong kondisi tersebut, perlu adanya upaya pelestarian jenis unggulan ini dengan membangun tanaman baru jenis pohon penghasil Gaharu. 
            Introduksi jenis gaharu dalam pengembangan hutan rakyat baik untuk ditanam secara monokultur maupun secara campuran merupakan salah satu alternatif strategis, bukan saja sebagai upaya penyelamatan terhadap pelestarian, tetapi merupakan angin segar yang diharapkan akan memberikan tambahan secara langsung bagi petani hutan rakyat. Tulisan ini bertujuan untuk menginformasikan tentang teknik budidaya gaharu, pengembangan produksi gaharu serta nilai ekonminya.

Kata kunci : Gaharu, , aquilaria malaccensis, inokulasi, mikroba gaharu


 I.  PENDAHULUAN
             Pengembangan produk-produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) sebagai salah satu dasar pengelolaan hutan lestari yang berbasis pada penguatan ekonomi petani hutan rakyat akan membuka cakrawala baru untuk pengembangan HHBK secara profesional.   Dilain pihak beberapa komoditi penting HHBK yang bernilai ekonomi tinggi sedang mengarah pada fase kelangkaan, sehingga dikhawatirkan akan mengancam pelestarian.  Salah satu komoditi HHBK yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan telah mengalami kelangkaan di habitat alamnya adalah Gaharu.
                       Tingginya nilai ekonomi dan ditunjang dengan  terkenalnya di pasar global menyebabkan pemungutan gaharu semakin  gencar dan tidak terkontrol.  Bahkan di hutan-hutan alam seperti daerah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua para pemburu gaharu dengan pengetahuan yang sangat minim terus melakukan penebangan  secara serampangan, tanpa memperhatikan ciri-ciri  pohon mana yang telah berisi gaharu.  Padahal tidak semua pohon atau inang gaharu menghasilkan gubal gaharu.  Akibatnya populasi gaharu di hutan alam menurun drastis (2.5 pohon per hektar) yang kemudian diikuti dengan penurunan  produksi yang semakin menurun dari tahun ketahun.
            Menurunnya populasi gaharu di hutan alam akibat eksploitasi yang tidak terkontrol dan tanpa diimbangi dengan upaya budidaya,  mengakibatkan Gaharu dimasukan dalam daftar Appendix II CITES (Convention on International Tarade In Endangered Species of Wild Fauna and Flora) pada tahun 1994 sebagai jenis pohon terancam punah. (Paimin, Fendy R 2003 dalam Henti, H.R dan A. Hidayat, 2005).   Dengan adanya peringatan dari CITES tersebut berdampak pada pembatasan quota ekspor yang terus menurun setiap tahunnya. Pada tahun 1995 quota ekspor masih tercatat sebesar 400 ton,  pada tahun 2001 mengalami penurunan menjadi 200 ton dan pada tahun 2003 quota hanya tinggal 175 ton saja. Jumlah quota ini menjadikan posisi Indonesia berada di bawah negara eksportir gaharu lainnya sperti Kamboja, Vietnam dan Tahailand, padahal sebelumnya Indonesia bersama Malaysia merupakan  eksportir utama.  Perdagangan Gaharu di Indonesia sudah berkembang pada masa penduduk Belanda pada 18 dan permulaan abad ke – 19, terutama yang berasal dari Kalimantan dan Sumatera ( Wiradinata, 2003 ).
            Kekhawatiran punahnya jenis pohon penghasil gaharu telah ditanggapi serius oleh berbagai pihak, baik pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan maupun pihak swasta, yaitu dengan melakukan budidaya secara luas dalam bentuk kebun gaharu. Upaya ini dilakukan untuk memulihkan dan meningkatkan kembali produksi ekspor gaharu tanpa merusak hutan alam.
            Introduksi jenis gaharu dalam pengembangan hutan rakyat baik untuk ditanam secara monokultur maupun secara campuran merupakan salah satu alternatif strategis, bukan saja sebagai upaya penyelamatan terhadap pelestarian, tetapi merupakan angin segar yang diharapkan akan memberikan tambahan secara langsung bagi petani hutan rakyat.  Dengan luas kepemilikan  hutan rakyat yang relatif sempit, pada umumnya petani memanfaatkan lahannya secara efektif dan efisien agar menghasilkan output (produksi) bernilai ekonomi tinggi.


 II.  JENIS – JENIS POHON PENGHASIL GAHARU
             Gaharu merupakan substansi berupa gumpalan atau padatan berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman yang terbentuk pada lapisan dalam kayu.  Substansi aromatik yang terkandung dalam gubal gaharu ini memiliki struktur kimia yang spesifik sehingga sampai saat ini belum bisa dibuat secara sintetis.   Gaharu sering digunakan sebagai bahan parfum, pewangi ruangan, dupa, minyak dan obat tradisional. 
            Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 17 jenis tumbuhan penghasil gaharu yang dikelompokan dalam 8 marga dan 3 famili. Daerah penyebaran pohon gaharu di Indonesia  meliputi kawasan hutan Sumatera (10 jenis), Pulau Jawa (2 jenis), Kalimantan (12 jenis),  Sulawesi (2 jenis), Maluku (2 jenis),  Nusa Tenggara (3 jenis) dan Papua (2 jenis). 
Jenis-jenis pohon penghasil gaharu berdasarkan genus/marga dapat diuraikan sebagai berikut :
1.       Aquilaria malaccensis, A. becariana, A. hirta, A. microcarpa, A. Filaria , dan A. crassna
2.       Gonystylus bancanus, Gonystylus macrophylla
3.       Glaoxylon malaccensis
4.       Enkleia malaccensis
5.       Wikstroemia polyantha ,  Wikstroemia  tenuiramis
6.       Grynops verstigil
7.       Exoecaria agallocha
8.       Dalbergia parvifolia

            Dari jenis-jenis tersebut diatas, Aquilaria mallacensis merupakan salah satu jenis penghasil Gaharu dengan kualitas paling baik dan dapat dijadikan sebagai jenis unggulan Namun terdapat juga jenis  Aquilaria yang tidak menghasilkan Gaharu antara lain adalah A. brachyantha, A. udanetensis, A. citrinaecarpa, dan A. apicuata ( Surata dan Widnyana, 2001 ). 

III.  TEKNIK BUDIDAYA GAHARU
             Tingginya permintaan gaharu  terutama dari luar negeri menyebabkan pengambilan komoditi tersebut semakin sering dilakukan. Eksplorasi dan eksplotasi besar-besaran tanpa memperhatikan kelestaria jenis ini mengakibatkan keberadanya semakin terancam. Terdorong kondisi tersebut, perlu adanya upaya pelestarian jenis unggulan ini dengan membangun tanaman baru jenis pohon penghasil Gaharu.
            Untuk mendukung suksesnya penanaman jenis tersebut dibutuhkan ketersediaan benih/bibit yang bermutu. Informasi mengenai pembuatan bibit tanaman jenis unggulan khususnya A. malaccesis sangat diperlukan untuk membantu masyarakat umum lebih mengetahui dan memahami cara-cara pembuatan bibit tanaman tersebut.

            Berikut ini diuraikan teknik pembibitan Gaharu dari jenis Aquilaria malacencis yang dikutip dari beberapa penulis hasil penelitian

A.      Benih gaharu
            Pohon Gaharu dapat menghasilkan benih setelah berumur 6 – 10 tahun. Pada umumnya buah Gaharu masak secara fisiologis pada bulan April-Mei. Buah Gaharu memilik kemasakan yang tidak seragam pada setiap pohon. Setiap buah mempunyai 4 kelopak biji tetapi biasanya hanya 2 – 3 kelopak yang ada bijinya (Surata dan Widyana, 2001). Buah berbentuk bundar telur lonjong, berbentuk seperti kacang tanah atau berlobus, berukuran ± 3 – 4 cm x 2,5 cm. Buah masak secara fisiologis ditandai dengan warna kulit buah kuning (Chung dan Purwaningsih,1999 ).

B.     Perlakuan Benih
            Ekstraksi benih dilakukan dengan mengering-anginkan buah selama 2 hari. Buah akan pecah dan melepaskan benihnya. Benih berukuran 1 cm x 0,6 cm dan memiliki diameter 0,4 cm   dipenuhi bulu merah.  Dalam 1 kg benih terdapat 1500 butir benih ( Surata dan Widnyana, 2001 ).
            Benih Gaharu termasuk benih rekalsitran sehingga tidak bisa di simpan lama pada kadar air yang rendah. Benih yang dikecambahkan sesaat setelah pengumpulan mempunyai daya berkecambah sekitar 65%. Benih yang disimpan selama 1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu, masing-masing mempunyai daya berkecambah 55%, 30% dan 8%  (Surata, 1998). Benih yang diunduh/dipanen sebaiknya segera dikecambahkan. Sebelum benih dikecambahkan sebaiknya direndam dulu dengan air dan aduk-aduk sehingga benih yang bernas dan tidak bernas dapat dipisahkan. Biasanya benih yang bernas akan tenggelam di dalam air dan benih yang mengambang harus di buang.


C.     Pengecambahan
1.       Persiapan Media Tabur
            Media tabur merupakan media yang digunakan untuk menumbuhkan benih menjadi kecambah siap sapih. Pengecambahan melalui penaburan merupakan metode yang memungkinkan adanya proses seleksi kecambah (normal dan tidak normal) sewaktu penyapihan yang akan mempengaruhi keberhasilan persemaian. Media tabur harus dipersiapkan dengan baik dan memenuhi persyaratan secara fisik seperti aerasi dan drainasenya baik sehingga pertumbuhan benih menjadi kecambah akan optimal.
            Media yang digunakan untuk penaburan benih Gaharu (A. malaccensis) adalah pasir halus : tanah ( 1 : 1 ) (Surata dan Widnyana, 2001). Pasir halus diperoleh dengan cara penyaringan pasir sungai dengan ayakan berdimeter lubang +  2 mm. Semua media tersebut harus disterilkan dengan cara  disanggrai selama 2 jam untuk menghindari serangan jamur terhadap benih sehingga dihasilkan kecambah yang sehat.

2.       Persiapan Bak Tabur
            Benih Gaharu dapat ditaburkan pada bak kecambah berukuran 40 x 25 x 10 cm. Bak tabur sebelumnya dilubangi bagian bawahnya dengan jarak 10 cm dan diameter 2 mm.  Bak tabur diletakan di bawah naungan sungkup kayu plastik atau rumah kaca. Penaburan juga dapat dilakukan pada bak tabur dari kayu berukuran 80 x 100 x 15 cm. Ukuran tersebut bisa dimodifikasi tergantung pada banyaknya benih yang akan dikecambahkan dan beberapa bedeng yang akan di buat .
            Setelah  bak atau bedeng tabur siap, media diisikan dengan ketebalan +  5 cm kemudian permukaannya diratakan dengan lempengan plat atau papan. Media dalam bak/bedeng tabur dibasahi dengan cara menyiramkan dengan butiran air halus sehingga air yang menimpa media berbentuk butiran halus dan media tetap rata dan tidak berubah.

  
3.       Teknik Penaburan
            Benih Gaharu di tabur dan dibenamkan didalam media tabur sedalam 0,5 cm dengan jarak 3 – 5 cm. Untuk meningkatkan perkecambahannya, benih dapat di celupkan terlebih dahulu ke dalam Rootone-F 400 ppm (Surata, 1998). Bak – bak yang sudah ditaburi benih disiram dengan air halus, kemudian ditempatkan dan disusun di ruang perkecambahan (sungkup plastik atau rumah kaca) untuk di pelihara. Penggunaan butiran air halus sewaktu penyiraman dimaksudkan untuk menghindari kerusakan semai atau benih terangkat. Pemeliharaan yang dilakukan adalah peyiraman setiap hari pada pagi dan sore hari. Pembersihan gulma dilakukan bila ada yang tumbuh pada media tabur. Bila proses sterilisasi baik akan sedikit sekali gulma yang bisa tumbuh.
            Benih Gaharu mulai berkecambahan pada hari ke 10 – 12 setelah penaburan. Penyapihan kecambah dilakukan setelah 40 – 45 hari benih berkecambah. Kecambah yang di sapih di pilih yang sehat, memiliki 3 – 4 daun dan tingginya telah mencapai 3 – 5 cm (Chung dan Purwaningsih, 1999 ).

D.     Penyapihan
1.       Persiapan Media Sapih
            Media sapih adalah media yang digunakan untuk menyapih kecambah menjadi bibit siap tanam. Pada prinsipnya media sapih harus mempunyai 4 pungsi pokok untuk memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman, yaitu mampu menyediakan tunjangan mekanik, menyediakan aerasi yang baik, mampu menyediakan air yang tersedia serta menyediakan hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman. Media yang dipergunakan dalam penyapihan bibit Gaharu adalah campuran tanah : kompos (4 : 1 ), Media tersebut diaduk sehingga campuran tanah dan komposnya merata.

2.       Persiapan Wadah Sapih
            Wadah (container) merupakan tempat media sapih dimana kecambah disapih dan di pelihara. Wadah sapih yang sering digunakan adalah kantong plastik (polybag) berukuran 15 x 20 cm. Bagian wadah sapih dilubangi sehingga air yang melebihi kapasitas lapang media dapat keluar melalui lubang tersebut. Setelah ditentukan wadah yang digunakan, media diisikan dengan cara menuangkan ke dalam wadah sampai penuh. Media tidak boleh di padatkan secara berlebihan karena bila terlalu padat akan berpengaruh terhadap aerasi dan drainase serta mempengaruhi pertumbuhan akar. Wadah – wadah yang sudah di isi disusun dan di atur letaknya di bawah areal naungan dengan instensitas 50% (Poniran, 1997 ; Sutara, 1998; Surata dan Widnyana, 2001). Media tersebut kemudian disiram agar lebih basah sewaktu ditanami kecambah.

3.       Teknik Penyapihan
            Penyapihan merupakan kegiatan pemindahan kecambah dari bak tabur ke dalam wadah sapih yang telah di isi media. Penyapihan harus dilakukan secara hati-hati agar akar dan daun yang telah  tumbuh tidak rusak. Kecambah yang terseleksi di cabut dan di pindahkan ke dalam wadah sementara (baskom) yang diisi air agar kecambah tidak kering. Selanjutnya disapih pada wadah yang telah di siapkan di areal persemaian naungan (shaded area. Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari di tempat yang yang teduh untuk menghindari kerusakan kecambah akibat perubahan suhu udara dari tempat pengecambahan ke tempat penyapihan.
            Kecambah yang sudah dicabut segera ditanam ke media sapih dan jangan di biarkan terlalu lama. Oleh karena itu banyaknya kecambah yang di cabut harus si sesuaikan dengan jumlah wadah yang sudah disiapkan. Penanaman kecambah dilakukan dengan cara melubangi bagian atas media dengan stik kecil  (sebesar pensil) sedalam mungkin agar akar tidak patah atau terlipat.  
Panjang yang merlebihi 3 cm harus dipotong sampai tersisa 2 – 3 cm. Selanjutnya kecambah ditanam tegak lurus pada lubang, kemudian ditutup dan dipadatkan ringan. Pada setiap bedeng sapih yang telah terisi bibit, harus diberi label yang berisi keterangan jenis tanaman, tanggal penyapihan, tanggal rencana aklimatisasi, rencana bibit siap tanam dan jumlah bibit dipersemaian.

4.       Pemeliharaan Sapihan
            Pemeliharaan sapihan bertujuan untuk mendapatkan kualitas bibit yang baik di persemaian. Keggiatan ini meliputi penyiraman, penyulaman, pemupukan dan pembersihan gulma. Penyiraman dilakukan setiap hari, yaitu pagi ( 07.00 – 09.00 ) dan sore ( 15.00 – 17.00 ), kecuali bila hari hujan, maka penyiraman tidak usah dilakukan. Penyiraman di lakukan sampai media sapih mencapai kapasitas lapang. Pada kondisi udara sangat kering dapat dilakukan penyiraman lebih dari 2 kali.
            Penyulaman pertujuan untuk mengganti kecambah yang mati atau kecambah yang tumbuh merana dengan kecambah baru dari sapihan. Penyulaman dilakukan pada bibit yang tidak tumbuh yang dilakukan sampai umur 2 bulan. Kecambah yang disulamkan harus kecambah yang sehat dan memenuhi kriteria kecambah normal ( batang lurus, berdaun 3 – 4 lembar, tinggi 3 – 4 cm dan bervigor tegar).  Kecambah yang akan di sulam di cabut terlebih dahulu , kemudian bekas cabutan pada media sapih dilubangi lagi. Kecambah di sulamkan, ditutup dan media dipadatkan ringan untuk selanjutnya dipelihara bersama – sama bibit lainnya.
            Pemupukan di butuhkan di persemaian jika pertumbuhan bibit kurang optimal. Pupuk yang di gunakan adalah urea 2 gram/bibit atau NPK 3 gram/bibit. Pemupukan dilakukan pada saat umur bibit mencapai 3 bulan. Penyiangan dilakukan secara periodik terhadap gulma yang mengganggu pertumbuhan bibit di persemaian.
            Untuk pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan pencegahan dengan cara penyemprotan secara periodik. Pencegahan hama dan pnyakit di lakukan dengan cara penyemprotan insektisida dan fungisida setiap 1 bulan sekali di mulai bibit umur 1 bulan. Jenis insektisida yang biasa di gunakan antara lain Tamaron, Dursdan 480, Tokution, Regent 50 SC atau Lannate 2. Sementara itu fungisida yang dapat di gunakan seperi Benlate untuk mencegah dumping off pada awal pertumbuhan bibit dan Dithane M-45 untuk mencegah jamur daun.

E.      Aklimatisasi ( Hardening )
            Aklimatisasi bertujuan untuk mempersiapkan bibit agar dapat beradaptasi pada kondisi lapangan penanaman. Untuk bibit yang telah dipelihara selama 6-7 bulan di bawah naungan (shaded area ), Dilakukan peningkatan cahaya yang diterima oleh bibit dan mengurangi penyiraman (hardening off). Pada  saat hardening off, bibit masih berada di bawah naungan namun intensitas cahaya ditingkatkan dengan membuka sebagian shading net  sehingga cahaya yang diterima bibit meningkat. Dalam kondisi demikian, bibit mengalami proses pengayunan (lignifikasi) sehingga lebih kuat. Gaharu merupakan jenis toleran yang pertumbuhannya lebih baik bila berada di bawah naungan, sehingga bila bibit dipindahkan langsung ke areal persemaian terbuka kemungkinan pertumbuhannya kurang optimal.
            Pada saat aklimatisasi dapat dilakukan juga pemotongan akar bila ada yang tembus tanah untuk mengurangi kerusakan bibit dan menjaga kesehatannya saat dipindahkan ke lapangan. Polibag disusun kembali dengan kerapatan 100 bibit/m2. Penyusunan bibit dilakukan dengan cara menempatkan bibit yang berukuran lebih pendek di pinggir sedangkan yang tinggi di tengah. Hal ini dimaksudkan aga bibit yang tadinya tertekan mendapatkan ruang tumbuh yang lebih besar sehingga pertumbuhannya segera menyelesuaikan diri dengan yang lainnya.

            Kegiatan aklimatisasi berlangsung selama 4 – 5 bulan dan pemeliharaan yang di lakukan terdiri dari penyiraman, penyiangan, pengendalian hama dan penyakit. Kegiatan ini dilakukan sama seperti pemeliharaan sapihan di bawah areal naungan.

F.      Seleksi dan Pengangkutan Bibit
            Seleksi bibit dilakukan setelah bibit berumur 10 -12 bulan. Kegiatan ini bertujuan untuk mendapatkan bibit siap tanam yang berkualitas. Bibit dipilih yang berbatang tunggal, sehat, lurus, perakaran kompak, batang berkayu 20% dari seluruh tinggi bibit dengan tinggi 30 -35 cm.  Bibit yang berkualitas baik akan relative tahan menghadap perubahan kondisi kering di lapangan dan akan meningkat kemampuan pertumbuhan tanaman.
            Pengangkutan bibit dari persemaian ke lapangan dilakukan pada pagi hari dan sore dan terlebih dahulu dilakukan penyiraman terutama bagi bibit yang memerlukan jarak angkut yang memakan waktu lama. Untuk menjaga agar bibit tidak rusak sewaktu pengangkutan, digunakan wadah bibit berupa peti kayu berukuran 60 cm x 50 cm, dan tinggi 40 cm.


IV.  TEKNIK PENGEMBANGAN PRODUKSI GAHARU

A.  Mikrba Pembentuk Gubal Gaharu
            Jenis mikroba penyakit yang sementara ini diketahui sebagai pembentuk gubal gaharu dari berbagai wilaya sentra produksi gaharu antara lain, yaitu :
-          Fusarium sp
-          Phytium sp
-          Botrydiplodia sp
-          Cystophaerah sp
-          Thielaviopsis sp
-          Libertella sp
-          Trichoderma sp
-          Scytalidium sp

            Jenis mikroba pembentuk gaharu di berbagai daerah penyebabnya diduga berbeda beda.  Agar proses produksi gaharu menjadi tepat, efektif dan efisien maka sebaiknya secara dini perlu diketahui jenis mikroba yang menginfeksi tumbuhan penghasil gaharu.  Dengan diketahuinya jenis mikroba pembentuk gaharu maka diharapkan pengembangan budidaya tanaman penghasil gaharu akan dapat dicapai secara optimal. Dari jenis mikroba yang telah diketahui, Fusarium sp merupakan jenis mikroba yang lebih dikenal dan telah dikembangkan dalam bentuk cair dan padat secara komersial.

B.  Teknik Inokulasi
            Di Riau budidaya gaharu telah dikembangkan melalui teknik inokulasi cendawan mikoriza pada areal seluas 15 ha dan beberapa diantaranya kini sudah berproduksi.  Di Mataram, Nusa Tenggara Barat sebagai pusat pengembangan gaharu, terdapat 150 pohon induk yang ditanam sejak 1995-1997 dan 50 pohon diantaranya telah berdiameter 25-50 cm (Susilo K. Atmojo, 2003).
            Penelitian pembentukan gaharu dengan cara inokulasi telah dlakukan di Kalimantan Barat, dengan menginokulasikan 3 jenis Fusarium spp (Fusarium oxysporium, F. Bulbigenium dan F. Lateritium).   Enam bulan setelah  diinokulasi pada pohon Aquilaria microcarpa terjadi pembentukan gaharu dengan panjang berkisar 3 -5.5 cm  dan lebar 1 – 4.5 cm.    Hasil penelitian lainnya dengan menggunakan inokulan cair setelah 4 bulan pada pohon A. Beccariana diperoleh pembentukan gaharu dengan panjang 2.8 – 8.7 cm dan lebar 0.99 – 2.2 cm.  Sedangkan dengan menggunakan inokulan padat pembentukan gaharu panjangnya berkisar 2.2 – 5.3 cm dan lebar 1.3 – 2.1 cm (Badan Litbang Kehutanan, 2004)

Berikut ini diuraikan secara singkat salah satu teknik inokulasi pada pohon gaharu

-          Inokulasi/penyuntikan dalakukan pada  pohon yang berumur 4– 5 tahun atau pohon yang berdiameter 10 – 15 cm, lebih baik lagi pada pohon yang berdiameter 20 cm.
-          Buat lubang pada pohon dengan menggunakan bor untuk memasukan inokulan/mikroba. Panajang lubang bor 1/3 dari diameter.  Selain menggunakan bor,  dapat bisa juga menggunakan digergaji dengan panjang dan kedalaman 1/3 dari diameter pohon
-          Batas bawah pembuatan lubang + ½ meter dari pangkal pohon.  Lubang dibuat tegak lurus sumbu batang.  Jarak  satu lubang dengan lainnya 10 – 20 cm.  Atau bisa dibuat dalam bentuk spiral dengan jarak 20 cm.  Lubang diupayakan menghadap kearah bawah untuk menghindari tumpahnya inokulan.
-          Untuk inokulan cair jumlahnya memenuhi panjang lubang, sedangkan untuk inoklan padat bisa 2 cm dari panjang lubang.
-          Setelah dilakukan penyuntikan maka semua lubang ditutup dengan menggunakan lilin malam.
-          Dalam waktu 4 bulan sudah terlihat gejala penyakit, dengan diciikan batang berubah menjadi hitam.  Pemanenen sudah dapat dilakukan dengan mengorek, lalu menjemur.  Bila tercium harum maka dipastikan sudah terbentuk gubal gaharu
-          Dalam waktu 11 bulan antara lubang yang satu dengan lainnya sudah bersambung, tetapi pohon belum mati.  Pemanenan dapat dlakukan selama 4 tahun terus menerus.  Panen dapat dlakukan dalam skala kecil (beberapa gram) sesuai dengan kebutuhan.
-          Apabila daun-daun sudah gugur berarti gubal gaharu sudah banyak terbentuk.

C.  Produksi dan Nilai Ekonomi Gaharu
            Hasil penelitian sementara yang pernah dilakukan di Kalimantan setelah 6 bulan diperoleh gaharu antara 4 – 26 gram berat basah tiap lubang.  Menurut Susilo K. Atmojo (2003) dalam Henti, R dan A.Hidayat (2005) gubal gaharu kelas super mampu bernilai 30 juta per kg.  Harga pada tingkat pembeli atau pengguna akhir untuk gaharu kelas super ini (top grade) bisa mencapai US $ 10.000.
            Kualitas gaharu dikelompokan dalam berbagai kelas (A,B,C,D).  Gaharu dengan kualitas kemedangan merupakan jenis yang terendah.  Meski kualitas gaharu jenis kemedangan masih rendah, namun pasarnya tetap menjanjikan.  Jika satu pohon  dapat menghasilkan 5 kg gaharu kemedangan kelas A saja maka harga jual per kg bisa mencapai Rp. 200 – 250 ribu.  Jika  hanya diperoleh kemedangan kelas BC saja diperoleh harga 45 ribu/kg. 
            Peningkatan bahan baku kemedangan kelas BC dapat dilakukan melalui pengolahan hasil lebh lanjut berupa penyulingan.  Dari bahan baku kemedangan kelas BC sebanyak 10-12 kg dapat dihasilkan 12 ml minyak gaharu berharga US $ 100 ( Paimin, Fendy R, 2003).
            Biaya investasi penyulingan minyak gaharu dan perkiraan keuntungan nilai tambah dari hasil penelitian produktivitas penyulingan gaharu dapat diuraikan sebagai berikut:
            Gaharu yang biasa disuling adalah mutu kemedangan dan teri.  Lama proses penyulingan maksimal 5 hari.  Hasil minyak gaharu yang diperoleh sekitar 2 cc per kg partikel gaharu kering.
            Investasi yang dibutuhkan untuk membangun satu unit industri penyulingan minyak gaharu  dengan 20 ketel sebesar Rp. 128.000.000,- dengan rincian pada tabel 1.

Tabel 1. Investasi peralatan dan bangunan penyulingan gaharu
No
Rincian Biaya
Harga (Rp)
1
20 ketel penyulingan (@ Rp. 5.000.000,-)
100.000.000
2
Bangunan unit pengolahan (gedung, lantai jemur dan kolam pendingin)
25.000
3
Mesin giling
3.000

Jumlah
128,000.000
Sumber : Badan litbang Kehutanan, 2004. Semua mesin dan bangunan diasumsikan dapat digunakan selama 5 tahun

            Biaya penyulingan minyak gaharu terdiri dari semua biaya yang dikeluarkan untuk mengolah gaharu sampai menghasilkan minyak gaharu sebesar Rp. 65.997.000. 
            Harga jual minyak gaharu basah di pasaran Rp. 70.000/cc.  Sedangkan harga limbah gaharu Rp. 10.000/kg.  Berdasarkan hal tersebut, untuk memperkirakan besarnya keuntungan yang akan diperoleh dari kegiatan penyulingan gaharu digunakan perbandingan nilai produkasi minyak gaharu dengan biaya penyulingan.  Keuntungan yang akan diperoleh dari usaha penyulingan gaharu dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2.  Perhitungan untung rugi unit penyulingan gaharu
No
Rincian Biaya
Jumlah (Rp)
1
Biaya penyulingan/bulan
65.997.000
2
Harga ual minak gaharu @ Rp.70.000/cc
1600 cc / bulan
112.000.000
3
Harga limbah gaharu @ Rp. 10.000/kg
800 kg/
8.000.000

Keuntungan/bulan
54.003.000
Sumber : Badan Litbang Kehutanan, 2004


V.  KESIMPULAN

1.       Popularitas dan nilai ekonomi dari jenis gaharu yang disertai dengan permintaan pasar internasional yang tinggi terhadap gaharu menyebabkan perburuan gaharu semakin meningkat. Akibat dari hal tersebut populasi pohon  gaharu di hutan alam menurun drastis dari tahun ke tahun, yang diikuti dengan penurunan produksi gaharu. 
2.       Meskipun upaya budidaya gaharu telah dilakukan sejak lama, namun produksi bibit tanaman untuk pengembangannya masih belum banyak memadai.  Kondisi ini memberi peluang yang sangat strategis untuk pengembangan hutan rakyat dengan menggunakan komoditi HHBK gaharu.
3.       Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 17 jenis tumbuhan penghasil gaharu yang dikelompokan dalam 8 marga dan 3 famili. Dari jenis-jenis tersebut diatas, Aquilaria mallacensis merupakan salah satu jenis penghasil Gaharu dengan kualitas paling baik dan dapat dijadikan sebagai jenis unggulan
4.       Jenis mikroba pembentuk gaharu di berbagai daerah penyebabnya diduga berbeda beda.  Agar proses produksi gaharu menjadi tepat, efektif dan efisien maka sebaiknya secara dini perlu diketahui jenis mikroba yang menginfeksi tumbuhan penghasil gaharu.
5.       Kualitas gaharu dikelompokan dalam berbagai kelas (A,B,C,D).  Gaharu dengan kualitas kemedangan merupakan jenis yang terendah.






DAFTAR PUSTAKA

Badan Litbang Kehutanan. Laporan Hasil-Hasil Penelitian 2004. Buku 2 Departemen Kehutanan jakarta. (Tidak diterbitkan)

Henti, H.R dan A. Hidayat. 2005.  Peluang Pengembangan Hasil Hutan Bukan Kayu. Silvika, edisi 45/IX/2005. Pusdiklat Kehutanan, Bogor

Sidiyasa, K. 1986. Jenis-jenis tumbuhan penghasil gaharu. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan , Bogor. 2 (1):7-16

Sudrajat, D.J. 2003. Teknik pembibitan gaharu. Info benih.  Puslitbang B ioteknologi dan Pemuliaan Tanaman hutan.  Vol 8 No.2  Desember 2003

Sumarna, Y.  2002.  Budidaya Gaharu.  Seri Agribusines.  Penebar Swadaya.  Jakarta

Surata, I.K. dan I.M. Widnyana. 2001. Teknik Budidaya gaharu ( Aquilaria malaccensis Lamk). Aisuli No. 14. Balai Penelitian Kehutanan Kupang.

Wiriadinata, H. 2003. Plasma Nutfah Gaharu. Kertas Kerja disampaikan dalam Training Course in Conservation of Forest Genetic Resources 2 – 6 Juni 2003 Jambi




Post Top Ad

Your Ad Spot