STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Thursday, June 2, 2016

STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT

STRATEGI PENGEMBANGAN KELOMPOK TANI HUTAN RAKYAT

Oleh:
Dian Diniyati dan Eva Fauziyah


ABSTRAK

Kelompok tani hutan rakyat merupakan perkumpulan para petani yang mengusahakan hutan rakyat, dalam perjalanannya banyak memiliki kelebihan dan kekurangan, hal ini sangat dipengaruhi faktor dari luar dan lingkungan kelompok itu sendiri.  Untuk mengembangkan kelompok tani perlu dicari strategi yang tepat, untuk itulah maka diperlukan kajian ini yang bertujuan untuk mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari kelompok tani sehingga dapat diramu strategi yang sesuai agar kelompok tani dapat mandiri dan berdayaguna bagi anggotanya.  Kegiatan ini dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka. Responden adalah para pakar yang memahami tentang kelompok tani.  Alat analisa yang digunakan yaitu analisis SWOT. Hasil pengolahan data diketahui kekuatan utama kelompok tani di Desa Cisitu adalah memiliki lahan garapan, sedangkan yang menjadi kelemahan utama tingkat pendidikan yang masih rendah, sedangkan peluang yang utama adanya dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung) dan ancaman yang utama yaitu kurangnya tenaga penyuluh di lapangan.  Hasi kajian untuk Desa Werasari adalah sebagai berikut, yang menjadi kekuatan utama yaitu memiliki lahan garapan, sedangkan kelemahan utamanya yaitu teknologi masih sangat tradisional, peluang utama yang dimiliki adalah adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan, dan terakhir yaitu ancaman utama kepemilikan lahan yang sempit.

Kata kunci: Strategi kelompok tani, Analisis SWOT


I.         PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dibentuknya kelompok tani hutan rakyat baik yang diprakarsai oleh pemerintah maupun karena swadaya memiliki tujuan utama yaitu untuk meningkatkan pendapatan serta adanya kelestarian sumber daya kayu rakyat.  Seperti dikemukakan oleh Diniyati (2004) kelompok tani merupakan suatu kelembagaan/organisasi yang beranggotakan para petani dalam satu wilayah kerja, yang berkelompok karena mempunyai tujuan dan misi yang sama.  Jenis keanggotaannya ada yang dimotori oleh proyek sehingga dapat dengan mudah tercipta kelompok tani namun ada juga yang murni swadaya masyarakat .
Terciptanya kelompok tani tersebut dapat dijadikan sebagai suatu tempat dimana akan terjadi pertukaran informasi baik yang dilakukan antara anggota kelompok maupun oleh fasilitator, sehingga akan terjadi peningkatan kualitas sumberdaya manusianya demikian juga hutan rakyat akan terus meningkat,  oleh karena itu peranan dari kelompok tani terhadap pengembang hutan rakyat sangat signifikan, akan tetapi sayangnya banyak kelompok tani sekarang ini sudah tidak aktif lagi karena pekerjaan yang paling sulit adalah memelihara kelompok tersebut supaya tetap stabil dan nyata manfaatnya bagi anggota (Diniyati. 2004). Pada saat sekarang ini peranan kelompok masih terbatas pada perkumpulan petani, dan bersama-sama menanam kayu-kayuan dilahan tidak termanfaat dengan teknologi yang dianjurkan (Diniyati, 2004) dan setelah kegiatan tersebut selesai maka kelompok tersebut kembali ”tidur”.
Padahal semakin banyaknya kegiatan yang dilakukan oleh para anggotanya akan menimbulkan interaksi, sehingga akan menciptakan kedinamisan kelompok tersebut.  Namun interaksi yang terjadi dapat bersifat positif  yang mengarah pada kerjasama dan bersifat negatif yang mengarah pada pertentangan atau bahkan tidak menghasilkan interaksi sosial (Diniyati, 2005).  Ini akan memperlihatkan kondisi dari kelompok tersebut sehingga akan diketahui apa yang menjadi kelemahan, kekuatan, ancaman dan peluang pengembangan kelompok tersebut. Menurut Purwanto dkk (2004).  Pengembangan kelembagaan hutan rakyat berbeda dengan kelembagaan dalam bisnis, industri dan perdagangan, dalam hutan rakyat cukup sulit mengingat kompleksnya permasalahan dan ciri hutan rakyat, seperti aspek teknologi, ekologi, sistem produksi pertanian, pengelolaan hutan, sosial dan ekonomi.  Hal ini sejalan seperti dikemukakan oleh Diniyati (2005) bahwa keberhasilan suatu kelompok tani tidak terlepas dari peranan kelembagaan lainnya seperti kelembagaan pemerintah, lembaga perekonomian desa dan lembaga masyarakat lainnya.
Dengan kondisi yang demikian maka perlu dilakukan kajian mengenai strategi pengembangan kelompok tani, karena akan memudahkan dalam hal pembinaan kelompok agar arah pengembangannya dapat jelas dan benar-benar diperlukan. Pada akhirnya dengan pembinaan yang sesuai diharapkan kelompok dapat ’diterima’ dengan baik oleh para petani karena mempunyai dampak yang positif bagi peningkatan kesejahteraan dan kelestarian sumberdaya hutan rakyat.

B. Perumusan Masalah
Permasalahan pada pengembangan kelompok tani, diantaranya yaitu:
-          Pada saat sekarang ini kelompok tani sudah tidak aktif lagi, nama perkumpulannya tetap ada akan tetapi kegiatannya sudah jarang dilakukan.
-          Ketua kelompok mulai merasakan adanya kesulitan untuk mengadakan pertemuan dengan para anggotanya disebabkan banyaknya kegiatan ekonomi yang dilakukan, sehingga banyak anggota tidak menyadari lagi keanggotaannya
-          Kebutuhan ekonomi yang terus meningkat sehingga anggota kelompok tani lebih memilih menanam tanaman yang komersial dan berdaur ekonomi pendek dibandingkan dengan tanaman kayu, akibatnya kelompok tani tidak mampu lagi untuk memotivasi anggotanya supaya tetap menanam tanaman kehutanan.


C.  Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang merupakan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dalam pengembangan kelompok tani hutan rakyat sehingga dapat dirumuskan strategi pengembangan kelompok tani.  Diharapkan hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu bahan kebijakan pembinaan supaya tercipta kelompok yang dinamis dengan sumberdaya manusia dan alam yang berkualitas baik.

  1. METODOLOGI PENELITIAN

A.      Kerangka Analisis
Petani-petani yang bertindak sebagai pelaksana kegiatan hutan rakyat biasanya tergabung dalam satu organisasi yaitu kelompok tani hutan rakyat, yang diprakasai oleh pemerintah untuk melancarkan suatu program pembangunan maupun inisiatif petani itu sendiri. Selanjutnya dalam kegiatannya banyak mendapat intervensi dari pemerintah berupa stimulus, lingkungan pemberi pengaruh seperti  ketua kelompok, penyuluh dan lain-lain. Serta pengaruh dari dalam kelompok tani itu sendiri berupa tingkat pengetahuan, sikap dan persepsi dari para anggotanya.
Dengan adanya intervensi maka terjadi interaksi antara anggota kelompok tani, baik itu yang menimbulkan interaksi positif maupun negatif, terjadinya interaksi mencirikan bahwa pada kelompok tani tersebut terjadi kegiatan yang dinamis untuk mencapai tujuan dari kelompok.  Adanya kedinamisan dari suatu kelompok tani dapat memunculkan kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunities) dan ancaman (Threats).  Sehingga dengan terdektesinya hal-hal tersebut lebih memudahkan dalam hal pembinaannya, karena strategi pembinaan yang dapat diterapkan pada kelompok tani akan lebih diterima atau mengena pada sasarannya. Ilustrasi kerangka analisis kajian penelitian ini seperti disajikan pada Gambar 1 di bawah ini.

 



















Gambar 1. Alur pemikiran strategi pengembangan kelompok tani

B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut dan Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg Kabupaten Majalengka.  Pemilihan dilakukan secara sengaja dengan kriteria terdapat kelompok tani yang masih berjalan/aktif.  Pengambilan data dilakukan bulan Agustus - September 2005. 

C.  Metode Pengumpulan dan Analisa Data
Data diperoleh dengan metode survey, menggunakan kuisioner dan wawancara mendalam (in depth interview) terhadap para pakar yang menjadi unit analisa penelitian (responden), diantaranya petani yang berpengalaman atau terlibat aktif dalam kegiatan kelompok tani, ketua kelompok tani serta para penyuluh yang mendampingi kelompok tani tersebut, sebanyak 7 responden. Menurut David (1997), dalam analisis SWOT untuk menentukan responden tidak ada jumlah minimal yang diperlukan, sepanjang responden yang dipilih merupakan ahli (expert) pada bidangnya. 
             Analisis data menggunakan analisis SWOT, dengan perangkat analisis data yang digunakan adalah Internal Factor Evaluation Matrix (IFE) dan External Factor Evaluation Matrix (EFE), Diagram SWOT dan  Matriks SWOT.

III.   PEMBAHASAN

A. Kondisi Kelompok Tani

1. Kelompok Tani Walahir Lestari, Desa Werasari

Pada tahun 1984/1987, Desa Werasari mendapat bantuan kegiatan penghijauan berupa Dam Pengendali dan UP UPSA (Unit Percontohan Usaha Pelestarian Sumberdaya Alam) tetapi dalam jangka waktu satu musim dam tersebut sudah penuh dengan Lumpur dan  berubah menjadi sawah. Sedangkan UPSA menjadi terlantar serta dijadikan sebagai tempat penggembalaan kerbau dan kambing. Kondisi ini menggugah beberapa tokoh masyarakat di blok Walahir membuat kesepakatan yaitu: (1). Para pemilik hewan ternak seperti kerbau, harus mengkandangkan dan dilarang mengembala di lahan pengembalaan. (2).  Selanjutnya lahan pengembalaan tersebut atas persetujuan pemerintahan desa dibagikan untuk digarap oleh masyarakat Walahir.
Pada tahun 1997, mendapat bantuan bibit sengon sebanyak 20.000 pohon,  untuk mengelolanya terbentuk kelompok tani “Walahir Lestari”. Bantuan bibit tersebut dianggap kurang untuk menanami lahan seluas 56 ha sehingga secara swadaya ditambah yakni bibit sengon 100.000 batang dan 20.000 batang jenis lain sehingga rata-rata per ha 2.500 batang.   Upaya penanaman tersebut telah memberikan manfaat seperti kebutuhan kayu pertukangan,  adanya iklim mikro/rasa sejuk, terpenuhinya kebutuhan kayu bakar, tingginya serapan air tanah dengan keberadaan mata air, mata air sudah menampakkan peningkatan debit airnya, dan sebagainya. Kelompok tani ini mempunyai prestasi yang menggembirakan dengan diraihnya beberapa perhargaan seperti Juara I kegiatan hutan rakyat tanaman kayu tingkat kabupaten, Juara II lomba hutan rakyat swadaya tingkat propinsi, juara I pembuatan hutan rakyat swadaya tingkat kabupaten.
2. Kelompok Tani Buana Sakti, Desa Cisitu
Kelompok tani sudah berdiri sejak tahun 1968 dengan nama kelompok tani Windu Sakti selanjutnya tahun 1998  mengalami perubahan nama serta struktur organisasinya menjadi Buana Sakti.   Semboyan yang diusung kelompok tani ini adalah ”Jangan warisi anak cucu kita dengan air mata, tapi warisilah anak cucu kita dengan mata air, yaitu dengan cara melestarikan SDA”.
Sebagian petani sudah mengusahakan hutan rakyat secara swadaya namun pengelolaannya belum terkoordinasi dengan baik.  Tingkat kesadaran masyarakat sudah tinggi terutama mengenai manfaat hutan rakyat, terutama jenis kayu albasia sebagai bahan bangunan rumah, masjid, dapat menambah penghasilan, dapat menunjang kegiatan kelompok, dan sebagainya.  Kelompok tani mempunyai rencana jangka panjang seperti melindungi dan memelihara pohon-pohon yang ada, memberi semangat pada petani lain, peningkatan mutu pertanian selain pohon-pohonan, membuka lahan baru, membentuk kelompok baru selain kelompok yang sudah ada dan berjalan (cara pengembangan kelompok), dan permintaan bimbingan/ajaran pada PKL yang ada di kecamatan. Sedangkan rencana jangka pendek berupa : pengukuran lokasi PLBTH, penggarapan semua lokasi lahan petani, penyiangan/pelubangan, distribusi pupuk dan bibit, penanaman /pemeliharaan, menugaskan pengontrakan lahan PLBTH, rapat bulanan dan tahunan, serta mengaktifkan anggota kelompok.

B. Analisis SWOT Terhadap Kelompok Tani
Analisis SWOT menghasilkan dua hal yaitu : 1) peubah bersifat strategis unsur internal (kekuatan dan kelemahan) dan eksternal (peluang dan ancaman) yang berpengaruh terhadap kelompok tani; 2) nilai pengaruh peubah-peubah bersifat strategis terhadap kelompok tani.  Selanjutnya analisis terhadap peubah-peubah bersifat strategis dan nilai pengaruhnya, dengan menggunakan diagram dan matriks SWOT menghasilkan arah strategi pengembangan kelompok tani.  Strategi-strategi yang dimiliki oleh kelompok tani seperti diuraikan dibawah ini:
1. Kekuatan (Strength)
Peubah-peubah bersifat strategis unsur kekuatan yang berpengaruh terhadap kelompok tani dan nilai pengaruhnya disajikan pada Tabel 1 dibawah ini . 

Tabel 1.  Peubah-peubah unsur kekuatan dan nilai pengaruhnya
No.
Peubah
Nilai Pengaruh
Desa Cisitu
Desa  Werasari
1.
Memiliki lahan garapan
0.829
0.271
2.
SDM/tenaga kerja banyak
0.796
0.200
3.
Pengalaman usaha tani cukup lama
0.793
0.257
4.
Memiliki motivasi, waktu dan tenaga untuk mengolah lahan garapan
0.614
0.157
5.
Sifat kekeluargaan yang kuat
0.543
0.204

Jumlah
3.543
1.089

a. Memiliki lahan garapan, – Masyarakat di pedesaan umumnya menggantungkan hidup pada sektor pertanian sehingga hampir sebagian besar memiliki lahan garapan.  Rata-rata kepemilikan lahan garapan di kedua desa antara 0,1 - 1,3 ha, luasan ini dilihat dari segi ekonomis kurang menguntungkan namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri (subsisten).  Peubah ini baik di Desa Cisitu maupun Werasari merupakan kekuatan utama dalam pengembangan kelompok tani.
b.  SDM/tenaga kerja banyak, – Tingkat tenaga kerja di pedesaan cukup tinggi, seperti Desa Cisitu jumlah angkatan kerja (usia 15-55 tahun) ada 3.386 orang (Anonim, 2005) dan Desa Werasari ada 3.334 orang (Anonim, 2002), jumlah tenaga kerja yang banyak ini merupakan sumber daya bagi berbagai sektor, namun lapangan kerja yang paling potensial di pedesaaan hanyalah sektor pertanian.  Meskipun ada sebagian tenaga kerja di pedesaan yang pergi ke kota untuk urbanisasi tapi tetap sektor pertanian lebih banyak menyerap tenaga kerja.

c.  Pengalaman usaha tani cukup lama, – Pada umumnya masyarakat pedesaan menjadikan sektor pertanian sebagai basis perekonomiannya.  Sehingga sektor pertanian ini cukup identik dengan masyarakat pedesaan dimana kegiatan tersebut telah turun menurun dilakukan,  dan menghasilkan pengalaman berusaha tani yang cukup lama.  Pengalaman tersebut diwariskan secara tradisional, selain itu petani juga  mempunyai kekayaan dalam hal pengetahuan dan kearifan lokal (local knowledge).   Berdasarkan data potensi desa diketahui pekerjaan utama di Desa Cisitu yaitu buruh tani (Anonim, 2005) dan Desa Werasari adalah sektor pertanian tanaman pangan (Anonim, 2002).

d. Memiliki motivasi, waktu dan tenaga untuk mengolah lahan garapan, – Keterbatasan pada kegiatan pertanian yang dimiliki petani yaitu modal, luas lahan garapan yang terbatas, tingkat pendidikan yang berimplikasi terhadap terbatasnya ragam sumber pencaharian yang bisa dilakukan, dan kondisi ini menjadi motivasi untuk terus melakukan pengolahan di lahan garapan baik itu milik sendiri ataupun menyewa. Ini semua terjadi karena adanya faktor produksi yang tidak terbatas yang dimiliki yaitu waktu dan tenaga (tenaga kerja yang tersedia dari Bapak, Ibu dan anak-anak). Motivasi ini sebenarnya bukan hanya timbul karena keterbatasan-keterbatasan diatas tetapi lebih kepada identitas  sebagai masyarakat pedesaan.
e. Sifat kekeluargaan yang masih erat, – Sifat kekeluargaan yang masih erat menjadi ciri masyarakat pedesaan, seperti kegiatan gotong royong, sifat saling menolong, saling percaya dan sebagainya merupakan modal sosial (social capital) dan aktualisasi diri dari masyarakat pedesaan yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Bentuk kegiatan gotong royong yang masing sering dilakukan adalah pembuatan dan pembersihan jalan, bersih desa .  

2. Kelemahan

Peubah-peubah bersifat strategis unsur kelemahan yang berpengaruh terhadap kelompok tani disajikan lengkap pada Tabel 2. 

Tabel  2.  Peubah-peubah Unsur Kelemahan dan Nilai Pengaruhnya
No.
Peubah
Nilai pengaruh
Desa Cisitu
Desa Werasari
1.
Tingkat pendidikan yang masih rendah
0.633
0.143
2.
Keterbatasan modal dan aksesnya
0.544
0.184
3.
Teknologi masih sangat tradisional
0.520
0.218
4.
Pengalaman organisasi masih rendah
0.504
0.112
5.
Kelangkaan pemimpin petani yang berkualitas
0.463
0.083
6.
Orientasi proyek
0.444
0.122
7.
Keterbatasan informasi dan aksesnya
0.434
0.095

Jumlah
3.542
0.957

 

a. Tingkat pendidikan yang masih rendah, – Tingkat pendidikan di Desa Cisitu paling banyak adalah tamat SD/sederajat, dan Desa Werasari yaitu tamat SD/sederajat. Ini berpengaruh terhadap pengetahuan maupun teknis dalam pengelolaan lahan garapannya. Selain itu tingkat pendidikan yang rendah tercermin dalam sikap dan perilaku yang cenderung hanya mengikuti pihak lain.  Artinya perubahan-perubahan yang akan dilakukan harus dimulai oleh pihak lain misalnya melalui penyuluhan/sosialisasi yang memerlukan waktu yang lama.  Keterbatasan pendidikan dan  pengetahuan menyebabkan inovasi/penemuan baru yang dihasilkan oleh petani sangat sedikit.  Kalaupun ada yang memiliki pengetahuan luas, jumlahnya sedikit dan umumnya  tidak bekerja di sektor pertanian tetapi bekerja di sektor lain.  Seperti dikemukakan oleh Diniyati dkk (2005) bahwa di Desa Cisitu faktor pendidikan tingkat korelasinya adalah negatif sebesar 53,91%, artinya semakin tinggi pendidikannya maka tingkat partisipasinya pada kegiatan hutan rakyat akan semakin rendah. Selain itu juga diketahui dari hasil perhitungan hubungan korelasi bahwa tingkat pendidikan dipengaruhi oleh umur tetapi hubungannya terbalik artinya semakin tua umurnya maka tingkat pendidikannya rendah, sedangkan untuk Desa Werasari yaitu tingkat pendidikan hubungannya terbalik, yaitu sebesar 11,77% artinya semakin tinggi tingkat pedidikannya maka semakin rendah tingkat partisipasinya terhadap kegiatan hutan rakyat. Seperti diketahui di Desa Cisitu terdapat kelompok tani Buana Sakti yang terbentuk karena motivasi dari masyarakat yang sebagian besar adalah petani.  Namun tidak dapat dipungkiri pendidikan yang rendah menyebabkan kelompok tani ini tidak dapat berkembang sesuai dengan harapan.  Dengan demikian maka tingkat pendidikan yang masih rendah merupakan kelemahan utama dalam pengembangan kelompok tani di Desa Cisitu dan Desa Werasari.

b. Keterbatasan modal dan  aksesnya, Salah satu kelemahan dalam pengembangan hutan rakyat adalah kekuatan dana (modal usaha).  Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah ini merupakan kelemahan yang paling dominan dalam pengembangan hutan rakyat, karena pemilik kayu rakyat pada umunya merupakan petani miskin, dengan modal terbatas.  Dari hasil wawancara diketahui, sebagian besar biaya pengelolaan hutan rakyat hampir tidak ada dan tenaga kerja adalah anggota keluarga sehingga diabaikan pemberian upahnya.  Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap keberadaan kelompok tani, karena dengan keterbatasan modal yang dimiliki, maka petani sebagai anggota kelompok tidak bisa membantu permodalan organisasi, misalnya dalam pengumpulan iuran kas anggota.  Bila kelompok tani memiliki modal, akan dapat membantu para anggotanya misalnya dalam permodalan untuk pengembangan hutan rakyat dan kegiatan pemasaran kayu, dimana kayu-kayu rakyat tersebut akan dibeli oleh kelompok selanjutnya akan dijual dengan harga yang sesuai, selisih keuntungan yang diperoleh nantinya akan masuk kepada dana kas dan dana yang terkumpul dapat digunakan untuk kesejahteraan para anggotanya.

c. Teknologi masih sangat tradisional, –  Tingkat serapan teknologi dalam pengembangan hutan rakyat masih sangat rendah mulai dari persiapan lahan, penyediaan bibit sampai teknologi pemanenannya.  Dalam hal penyediaan bibit, yang digunakan berasal dari biji pohon/anakan alami.  Sistem pemanenan dilakukan mengikuti pendekatan tree modal, artinya pohon ditebang sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan ukuran diameter tertentu.

Sistem yang digunakan dalam kegiatan menanam dilaksanakan dengan menanam biji langsung di lapangan dan anakan yang tumbuh alami melalui sistem putaran/cabutan kemudian dipindahkan begitu saja ke lapangan.  Pemeliharaan tanaman tidak dilakukan secara khusus tetapi dilakukan secara sambilan pada saat memelihara tanaman perkebunan, tanaman palawija atau lainnya.

d. Pengalaman organisasi masih rendah,  –  Organisasi yang ada di petani masih sangat sulit dijumpai, kalaupun ada karena adanya kegiatan proyek namun ada juga secara swadaya atas dasar kebutuhan bersama.  Meski demikian masih banyak dijumpai organisasi yang hanya tinggal nama dimana partisipasi anggotanya masih sangat rendah.  Hal ini disebabkan karena organisasi masih dikelola secara tradisional dan belum menerapkan teori manajemen modern, ditambah lagi dengan minimnya pengalaman anggota dalam mengelola sebuah organisasi telah menyebabkan organisasi kurang berkembang.

e. Kelangkaan pemimpin petani yang berkualitas , – Kelompok tani yang ada biasanya seringkali tidak ada secara de facto, karena pada awal pembentukanya sering dipaksakan untuk kepentingan keproyekan saja.  Kelompok tani yang ada di Desa Cisitu ini agak berbeda karena terbentuk atas dasar keinginan bersama dari para petani untuk membentuk organisasi.  Namun diakui bahwa kelangkaan pemimpin yang berkualitas dan pengurus-pengurusnya sangat mempengaruhi perkembangan kelompok tani. Tingkat pendidikan masyarakat yang rendah sebenarnya bukan satu-satunya faktor penentu terhadap keberadaan pemimpin yang berkualitas, karena dipengaruhi juga  oleh faktor kemampuan dalam mengelola orang, berwibawa, dan sebagainya.  Kelangkaan pemimpin petani yang berkualitas yang mampu memimpin dan harus mempunyai rasa solidaritas serta tanpa pamrih diperlukan dalam kepemimpinan suatu organisasi. 

f. Orientasi proyek, – Beberapa upaya yang telah dilakukan untuk pengembangan hutan rakyat yaitu melalui penghijauan, pola kemitraan maupun program swadaya.  Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa diantara upaya-upaya tersebut, program swadaya lebih berhasil hal ini disebabkan karena rasa memiliki dari petani lebih tinggi sehingga dalam merawat tanamannya menjadi lebih baik, lain halnya dengan kegiatan yang bersifat keproyekan cenderung tidak langgeng  disebabkan partisipasi masyarakat hanya pada saat proyek berlangsung, biasanya petani tidak merasa memiliki tanaman tersebut akhirnya merawatnya tidak sepenuh hati, sehingga keberhasilannya tidak 100 %.
g. Keterbatasan informasi dan aksesnya, – Petani dalam mengembangkan usaha kususnya hutan rakyat sangat memerlukan informasi mengenai pasar dan pelatihan yang dapat membantu kemampuan petani dalam pengelolaan hutan rakyat maupun dalam penguatan kelembagaan kelompok tani.  Namun tidak semua informasi tersebut dapat diperoleh oleh anggota kelompok tani melainkan oleh orang-orang tertentu saja, selain itu aksesibilitas juga rendah,  maka perhatian dari pemerintah sangat diperlukan  guna memberikan informasi yang cepat dan lengkap atau memfasilitasinya agar informasi dapat sampai ke petani. Sudah merupakan masalah klasik jika akses terhadap informasi oleh masyarakat terutama petani cukup terbatas,  hal ini salah satunya disebabkan oleh ketidakefektifan kegiatan penyuluhan yang dilakukan para penyuluh dengan segala permasalahan yang dihadapinya.

3. Peluang

Peubah-peubah bersifat strategis unsur peluang dan nilai pengaruhnya seperti disajikan pada Tabel 3 dan penjelasan lengkap terhadap setiap peubah strategis peluang tersebut disajikan berikut ini.

Tabel 3.  Peubah-peubah Unsur Peluang dan Nilai Pengaruhnya
No.
Peubah
Nilai Pengaruh
Desa Cisitu
Desa Werasari
1.
Dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung)
0.857
0.268
2.
Adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan
0.714
0.304
3.
Kebutuhan kayu rakyat semakin meningkat
0.678
0.232
4.
Adanya mitra kerja petani (LSM/Swasta)
0.405
0.161

Jumlah
2.655
0.964

a. Dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung), –  Dalam pengembangan hutan rakyat, pemerintah dalam hal ini Departemen Kehutanan  dan instansi terkait lainnya telah memberikan dukungan untuk mengatasi permasalahan yang terkait dengan permodalan, misalnya melalui pemberian bibit melalui pogram PLBTH (penanaman lahan bawah tegakan hutan), pemilihan kelompok tani berprestasi, dan sebagainya ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan untuk mengembangkan hutan rakyat. Program bantuan dari pemerintah yang sedang digalakan/populer  pada saat sekarang ini adalah Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dilakukan oleh pemerintah pusat maupun tingkat propinsi.  Peubah ini di Desa Cisitu merupakan peluang utama dalam pengembangan kelompok tani hutan rakyat.
b. Adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan, – Usaha yang dilakukan pemerintah untuk meningkatkan  kapasitas petani per individu atau kelompok, yaitu mengadakan bimbingan teknis/ pelatihan misalnya pelatihan tentang hutan rakyat maupun studi banding ke daerah yang berhasil dalam pengembangan hutan rakyatnya. Sehingga petani yang ikut pelatihan mampu menyerap ilmu pengatahuan/teknis dan diharapkan dapat diaplikasikan ditempat asalnya. Peubah ini merupakan peluang utama yang diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kelompok tani di Desa Werasari.  

c. Kebutuhan kayu rakyat yang semakin meningkat, – Dalam konteks pembangunan kehutanan di Indonesia, kondisi kebutuhan kayu bulat yang defisit untuk memenuhi industri pengolahan kayu memberikan peluang bagi pengembangan hutan rakyat dalam memasok kebutuhan bahan baku kayu.  Dengan kondisi yang demikian maka tidaklah mengherankan permintaan akan semua jenis kayu rakyat terus meningkat, ditambah lagi harganya semakin meningkat pula. Ini merupakan peluang yang harus dimanfaatkan oleh para petani, untuk meningkatkan produksi kayu rakyatnya sehingga dapat berimplikasi terhadap peningkatan kesejahteraan.

            d. Adanya mitra kerja petani (LSM/Swasta),  – Dukungan yang diberikan untuk pengembangan hutan rakyat juga datang dari pihak swasta maupun LSM, yaitu berupa pendampingan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan berorganisasi, teknis, bantuan bibit/modal dan sebagainya.  Terutama di Pulau Jawa banyak terjalin kerjasama seperti dengan LSM yang menjadikan hutan rakyat sebagai objek/subjek sehingga bisa terjadi transfer baik ilmu pengetahuan maupun teknis.  Kerjasama juga dilakukan dengan pihak BUMN seperti Perhutani melalui pemberian bantuan bibit maupun teknis dan sebagainya. Selain itu juga dengan pihak swasta seperti perusahaan kayu, yang memberikan bantuan bibit kepada para petani melalui kelompok.
4. Ancaman
Tabel 4.  Peubah-peubah Unsur Ancaman dan Nilai Pengaruhnya
No.
Peubah
Nilai Pengaruh
Desa Cisitu
Desa Werasari
1.
Kurangnya tenaga penyuluh di lapangan
0.666
0.101
2.
Kepemilikan lahan yang sempit
0.661
0.196
3.
Ketidakkontinyuan pendampingan dari pemerintah
0.607
0.095
4.
Banyaknya SDM usia produktif yang ber urbanisasi
0.595
0.137

Jumlah
2.529
0.530
Penjelasan setiap peubah bersifat strategis unsur ancaman dipaparkan sebagai berikut.
            a. Kurangnya tenaga penyuluh di lapangan,  – Tenaga penyuluh sebagai perpanjangan informasi ke petani baik pengetahuan maupun teknis memegang peranan penting, sehingga keberadaan penyuluh baik dari segi kuantititas maupun kualitas sangat dibutuhkan.  Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa ketersediaan tenaga penyuluh masih kurang selain itu kondisi luas dan aksesibilitas menuju lokasi cukup sulit.  Ini berakibat banyaknya lokasi yang potensial untuk pengembangan hutan rakyat jarang atau bahkan tidak pernah didatangi oleh penyuluh kehutanan.

            b. Kepemilikan lahan yang sempit ,  – Petani menganggap bahwa  tanah adalah sumberdaya yang sangat vital.  Beberapa hasil penelitian menyebutkan bahwa pemilikan lahan petani yang kurang dari 0,5 ha dilihat dari sudut ekonomi tidak efisien terkait dengan skala ekonomi (economy of scale).  Kepemilikan lahan sempit dalam pengembangan hutan rakyat menyulitkan dalam pencapaian tujuan baik kelestarian hasil maupun usaha, jika semakin sempit lahan yang dimiliki petani maka perhatian terhadap kelompok tani akan semakin rendah, disebabkan petani tidak memiliki lahan garapan lagi (lahannya sempit) maka tidak mau bergabung lagi dengan kelompok tani.

            c. Ketidakkontinyuan pendampingan dari pemerintah,  – Penyuluh sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam penyebaran informasi pada kenyataaanya banyak dibatasi oleh beberapa kendala seperti ketidakkontinyuan pendampingan karena kurangnya sarana prasarana maupun bentuk insentif lainnya yang diberikan kepada penyuluh.

            d. Banyaknya SDM usia produktif yang berurbanisasi,  – Dalam konsep ekonomi, berpindahnya sumberdaya manusia yang produktif dari pedesaan ke kota disebabkan oleh kurang menariknya lapangan kerja yang ada di pedesaan dan tingginya laju pertumbuhan angkatan kerja.  Tentunya hal ini sangat merugikan bagi pedesaan dan fenomena ini disebut ”Backwash effect”.  Meskipun fenomena itu wajar namun sangat merugikan karena pedesaan akan kehilangan sumberdaya manusia yang diharapkan dapat membangun pedesaan.


C. Diagram dan Matriks SWOT
            Berdasarkan selisih total nilai pengaruh unsur internal (kekuatan dan kelemahan) dan selisih total nilai pengaruh unsur eksternal (peluang dan ancaman) maka dapat disusun diagram SWOT di Desa Cisitu dan Desa Werasari  seperti pada Gambar 1 berikut ini.






 

 








 


















 



 










 





Desa Werasari
 

Desa Cisitu
 

Sel 1
 

(0.132, 0.435)
 

(0.001, 0.125)
 

Sel 4
 

Sel 3
 

Sel 2
 

Sel 1
 

Kekuatan (S)
 

Kelemahan (W)
 

Ancaman (T)
 

Peluang (O)
 

- 0,4
 

- 0,3
 

- 0,2
 

0,4
 

0,3
 

0,2
 

0,1
 

- 0,4
 

- 0,3
 

- 0,2
 

- 0,1
 

0,4
 

0,3
 

0,2
 

0,1
 
 














































Gambar 1.  Diagram SWOT Desa Cisitu dan Desa Werasari

            Berdasarkan total skor faktor internal dan eksternal maka diperoleh posisi strategis kelompok tani terletak pada sel 1 yang merupakan strategi pertumbuhan cukup stabil karena nilai koordinat untuk Desa Werasari adalah (0.132, 0.435) dan nilai koordinat Desa Cisitu (0.001, 0.125). Berdasarkan skor pada matriks IE tersebut kemudian ditentukan posisi pengembangan kelompok tani saat ini yang akan digunakan untuk menentukan strategi yang dapat dikembangkan.  Matriks SWOT digunakan untuk menentukan strategi tersebut secara lebih detail, maka strategi yang sesuai dikembangkan berdasarkan matriks SWOT seperti tercantum pada Tabel 5 di bawah ini.




Tabel 5. Matriks SWOT Kelompok tani di Desa Cisitu dan Desa Werasari




                  Unsur Internal






Unsur Eksternal
KEKUATAN (S)

S1. Memiliki lahan garapan
S2. SDM/tenaga kerja banyak
S3. Pengalaman usaha tani
       cukup lama
S4. Memiliki motivasi, waktu
       dan tenaga untuk
       mengolah lahan garapan
S5. Sifat kekeluargaan yang
       kuat

KELEMAHAN (W)

W1. Tingkat pendidikan yang
        masih rendah
W2. Keterbatasan modal dan
        aksesnya
W3. Teknologi masih sangat
        tradisional
W4. Pengalaman organisasi
        masih rendah
W5. Kelangkaan pemimpin
        petani yang berkualitas
W6. Mental proyek
W7. Keterbatasan informasi
        dan aksesnya
PELUANG (O)

O1. Dukungan dari pemerintah (adanya program yang mendukung))
O2. Adanya bimbingan teknis/pelatihan-pelatihan
O3. Kebutuhan kayu rakyat yang semakin meningkat
O4. Adanya mitra kerja petani (LSM/Swasta)
STRATEGI SO

1.       Memanfaatkan dukungan pemerintah, LSM, dan swasta
2.       Meningkatkan kualitas SDM melalui bimbingan teknis/pelatihan

STRATEGI WO

1.        Memanfaatkan akses terhadap permodalan, teknologi dan informasi.
2.        Meningkatkan kapasitas kelembagaan kelompok tani

ANCAMAN (T)

T1. Kurangnya tenaga penyuluh di lapangan.
T2. Kepemilikan lahan yang sempit
T3 . Ketidakkontinyuan pendampingan dari pemerintah
T4.  Banyaknya SDM  usia  
       produktif yang
       berurbanisasi
STRATEGI ST

1.       Mengoptimalkan lahan garapan yang sempit
2.       Mempertahankan ciri khas masyarakat pedesaan dalam mengembangkan kelompok tani hutan rakyat

STRATEGI WT

1.       Meningkatan jumlah dan kualitas penyuluhan/pelatihan
2.       Memanfaatkan akses terhadap modal



IV.    KESIMPULAN

1.   Kelompok tani terbentuk karena adanya kebutuhan bersama yang dirasakan oleh kelompoknya, selanjutnya untuk mempertahankan kelompok tersebut perlu adanya stimulus yang berasal dari dalam kelompok maupun dari luar kelompok. Namun stimulus harus sesuai dengan kebutuhan dan keinginan kelompok tani, untuk itulah diperlukan strategi pengembangan kelompok tani.
2.   Strategi yang dikembangkan disesuaikan dengan faktor-faktor dari kekuatan (S), kelemahan (W), peluang (O) dan ancaman (T) yang dimiliki oleh kelompok tani. Berdasarkan faktor-faktor tersebut diketahui bahwa kedua kelompok tani termasuk pada strategi pertumbuhan cukup stabil.

DAFTAR PUSTAKA


Anonim.  2002.  Daftar Isian Data Dasar Profil Desa Werasari Kecamatan Bantarujeg.

Anonim.  2005.  Daftar Isian Potensi Desa Cisitu Kecamatan Malangbong Kabupaten Garut Propinsi Jawa Barat.  Departemen Dalam Negeri.  Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa. 

David, Fred R. 1997.  Strategic Management.  Prentice Hall International, Inc.  Canada

Diniyati D, Budiman Achmad dan Tri Sulistyati W.  2005.  Analisa Partisipasi Petani Terhadap Kegiatan Hutan Rakyat.  Proceeding Abstrak.  Seminar Nasional.  Pengembangan Pengelolaan Dan Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat Di Indonesia.  Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada.  Yogyakarta

Diniyati D.  2004.  Kajian Kelembagaan Hutan Rakyat. Kelembagaan Untuk Mendukung Pengembangan Hutan Rakyat Produktivitas Tinggi.  Prosiding Ekspose Terpadu Hasil Penelitian.  Menuju Pembangunan Hutan Tanaman Produktivitas Tinggi dan Ramah Lingkungan.  Hal. 227-237.  Departemen Kehutanan.  Badan Penelitian dan Pengembangan kehutanan. Yogyakarta.

Diniyati D.  2005.  Dinamika Kelompok Tani Hutan Rakyat: Studi Kasus Di desa Kertayasa, Boja dan Sukorejo. Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan. Volume 2 Nomor 4 Desember tahun 2005.  Hal 333-347.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Budaya Dan Ekonomi Kehutanan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.  Departemen Kehutanan.  Bogor Indonesia.

Purwanto, Sulistya Eka Wati dan S. Andy Cahyono.  2004.  Kelembagaan Untuk Mendukung Pengembangan Hutan Rakyat Produktivitas Tinggi.  Prosiding Ekspose Terpadu Hasil Penelitian.  Menuju Pembangunan Hutan Tanaman Produktivitas Tinggi dan Ramah Lingkungan.  Hal. 53-56.  Departemen Kehutanan.  Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Yogyakarta





Post Top Ad

Your Ad Spot