PERANAN HUTAN RAKYAT BAGI PELESTARIAN LINGKUNGAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, June 1, 2016

PERANAN HUTAN RAKYAT BAGI PELESTARIAN LINGKUNGAN

Oleh:
Nandy Haryadi


Abstrak

            Hutan rakyat mulai dikembangkan oleh pemerintah pada tahun 1997.  Pembangunan hutan rakyat dipicu oleh adanya produktivitas hutan tanaman dan hutan alam yang semakin menurun sehingga berdampak pada menurunnya pasokan hasil hutan berupa kayu dan non kayu.   Untuk memperlancar program tersebut, melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 49/Kpts-II/1997, Pemerintah menyediakan kredit bunga lunak kepada masyarakat yang lebih dikenal dengan istilah Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR).  Hutan rakyat memiliki beragam model, yakni model hutan rakyat yang berbasis pada komoditas kayu (monokultur); hutan rakyat yang berkomoditas campuran (kayu dan non kayu); dan hutan rakyat yang berkomoditas jasa rekreasi.  Model campuran merupakan model yang paling banyak dijumpai di lapangan.  Penggunaan model campuran memiliki banyak keuntungan.  Selain keuntungan ekonomi dan sosial, model ini memiliki keuntungan bagi lingkungan dan konservasi, seperti mampu menyediakan habitat baru bagi satwaliar, menjaga kesuburan tanah, mengurangi polutan dan laju pemanasan global, dan mampu menahan erosi.

Kata Kunci: Hutan Rakyat, Campuran, Konservasi, dan Lingkungan.


I. Pendahuluan
            Masyarakat awam sering menyamakan istilah hutan rakyat dengan hutan kemasyarakatan. Padahal, kedua istilah ini memiliki definisi yang berbeda, terutama kepemilikannya. Hutan Rakyat adalah hutan yang dimiliki oleh rakyat dengan luas minimal 0,25 ha, penutupan tajuk tanaman kayu-kayuan dan/atau jenis tanaman lainnya lebih dari 50% dan/atau pada tanaman tahun pertama minimal memiliki 500 tanaman per hektar (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 49/Kpts-II/1997). Hutan Kemasyarakatan adalah hutan negara yang sistem pengelolaannya bertujuan memberdayakan masyarakat setempat tanpa mengganggu fungsi pokoknya (Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 31/Kpts-II/2001). Ringkasnya, hutan rakyat adalah hutan yang berada pada tanah milik; sedangkan hutan kemasyarakatan adalah hutan yang berada pada tanah negara.  Terlepas dari kedua definisi tersebut, makalah ini hanya akan menyajikan uraian hutan rakyat.
             Pada mulanya, pemerintah kurang memperhatikan keberadaan hutan rakyat. Guna memenuhi kebutuhan kayu dan non kayu (sebagai penghasil devisa negara), pemerintah lebih berkonsentrasi pada pemanfaatan Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hutan Alam (dalam bentuk hak pengusahaan hutan/HPH).  Barangkali pada saat itu, pemerintah menganggap bahwa pembangunan HTI dan HPH lebih menguntungkan dibanding pengembangan hutan rakyat.  Anggapan ini memang ada benarnya.  Melalui pembangunan HTI dan HPH, Indonesia telah menjadi pemasok kayu terbesar di dunia.  Tidaklah heran bila ketika itu, kehutanan telah menjadi salah satu penghasil devisa negara terbesar pada sektor non migas.
            Namun, pada perkembangan selanjutnya, pembangunan HTI dan HPH mengalami keterpurukan.  Pembangunan HTI dan HPH telah menyisakan masalah lingkungan hidup.   Banjir, longsor, dan kekeringan pun tidak dapat dihindari.  Selain itu, pemanfaatan yang kurang bijaksana juga telah menurunkan keanekaragaman jenis dan memusnahkan spesies tertentu.  Dari sisi ekonomi, rusaknya kawasan hutan juga telah menurunkan produktivitas ekosistem hutan.  Alhasil, pasokan kayu dan non kayu yang merupakan andalan penghasil devisa negara menjadi berkurang.
            Untuk mengatasinya, pemerintah telah melakukan berbagai upaya.  Salah satunya merehabilitasi kawasan hutan.  Namun, merehabilitasi saja tidaklah cukup.  Apalagi pohon memiliki masa panen yang lama sehingga harus menunggu dalam waktu yang cukup lama.  Selanjutnya, pemerintah melirik kawasan hutan yang dimiliki rakyat.  Oleh karena itu, pada tahun 1997, pemerintah mulai mengembangkan hutan rakyat.
            Untuk memperlancar program tersebut, pemerintah memberikan banyak bantuan kepada masyarakat.  Melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 49/Kpts-II/1997, Pemerintah menyediakan kredit bunga lunak yang lebih dikenal dengan istilah Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR).  Besarnya kredit usaha pada waktu itu adalah Rp. 2.000.000,- per hektare, tingkat bunga sebesar 6% per tahun.
            Sejak tahun 1996/1997, dana kredit usaha hutan rakyat telah disalurkan sebesar Rp. 20.231.394.000,- dengan luas areal sekitar 10.565 Ha dan melibatkan 9.781 orang petani.  Selanjutnya, pemerintah juga memberikan subsidi bibit bagi pengembangan areal dampak hutan rakyat dan diperkirakan masyarakat telah mampu membangun hutan rakyat sekitar 1.328.358 ha yang tersebar di 22 propinsi.
            Hutan rakyat memiliki beragam model. Berdasarkan komoditasnya, hutan rakyat  dapat dibagi menjadi tiga kelompok.  Pertama, hutan rakyat yang berbasis pada komoditas kayu (monokultur).  Kedua, hutan rakyat yang berkomoditas campran (kayu dan non kayu).  Ketiga, hutan rakyat yang berkomoditas jasa rekreasi (Direktorat Jenderal Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, 2000).
            Dari ketiga model tersebut, yang paling banyak dijumpai di lapangan adalah model campuran/heterogen. Model heterogen memadukan berbagai jenis tanaman kayu keras, tanaman buah-buahan, dan tanaman semusim.  Model ini bisa juga disebut model agroforestry.  Dimaklumi, pemilihan model agroforestry dalam pembangunan hutan rakyat memiliki banyak keuntungan.  Selain keuntungan ekonomi dan sosial, model ini memiliki keuntungan bagi lingkungan dan konservasi.


II. Manfaat Hutan Rakyat

A. Menyimpan Keanekaragaman Jenis
            Sesuai dengan namanya, model agroforestry tidak hanya menanam satu jenis tanaman saja. Atau, tidak hanya menanam pepohonan saja. Model agroforestry telah memadukan tanaman kayu keras, buah-buahan, dengan tanaman semusim.  Jenis-jenis tanaman kayu keras yang sering menjadi komoditas hutan rakyat ialah sengon (Paraserianthes falcataria), mahoni (Switenia macrophylla), dan jati (Tectona grandis).  Jenis tanaman buah-buahan diantaranya mangga (Mangifera indica), pakel (Mangifera feotida), nangka (Artocarpus heterophylus), rambutan (Nephelium mutabile), durian (Durio zibethinus), melinjo (Gnetum gnemon), petai (Parkia speciosa), dan pisang (Musa sp.).  Tanaman semusim ialah padi huma, kacang-kacangan, jagung, umbi, cabe, dan lain-lainnya.
            Dengan komposisi seperti ini, hutan rakyat bukanlah sebuah pemandangan yang monoton dan statis. Sebaliknya, hutan rakyat telah menyajikan pemandangan yang dinamis dan kompleks.  Model agroforestry telah menciptakan hamparan hutan yang terdiri dari berbagai jenis kayu keras dan tanaman pangan serta buah-buahan.  Lebih dari itu, model agroforestry juga telah menciptakan strata tajuk yang bervariasi sesuai dengan karakteristik tanamannya. Dengan demikian, hutan rakyat dengan model ini dapat menyimpan keanekaragaman hayati yang lebih tinggi dibanding model hutan rakyat homogen.

B. Habitat Satwaliar
            Sudah dimaklumi, hutan alam memiliki ekosistem yang lebih baik dibanding dengan hutan tanaman industri.  Hutan alam yang terdiri dari berbagai macam flora dan fauna akan membentuk ekosistem yang stabil.  Berbeda dengan hutan tanaman industri yang homogen.  Hutan ini akan memiliki ekosistem yang labil lagi rentan.  Demikian juga dengan hutan rakyat.  Hutan rakyat yang memadukan berbagai jenis tanaman akan lebih baik dibanding hutan rakyat yang hanya terdiri satu jenis tanaman saja.  Hutan rakyat campuran akan menyajikan banyak sumberdaya yang dibutuhkan satwaliar.  Kawasan hutan yang ditumbuhi bermacam-macam tanaman akan menyediakan banyak pilihan kepada satwaliar untuk berlindung dari bahaya, mencari makan, membangun sarang, berkembangbiak, dan berteduh.  Kondisi seperti ini sangat disukai oleh satwaliar.
            Pohon-pohon penghasil bunga akan banyak dikunjungi burung madu dan lebah.  Lalu pada saat berbuah, pohon-pohon tersebut akan banyak dikunjungi satwa pemakan buah, seperti mamalia dan burung.  Dalam sistem ekologi, kedua kelompok satwa tersebut merupakan makanan bagi satwa yang berada pada level atasnya.  Tidak menutup kemungkinan pada kondisi ini, semua satwa yang terdiri dari berbagai tropik level akan hadir dan berkumpul pada hutan rakyat campuran membentuk jaring-jaring makanan – meskipun tidak selengkap hutan alam.
            Tidaklah heran, bila hutan rakyat campuran telah menjadi habitat yang sangat berharga bagi satwaliar.  Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, banyak kawasan hutan yang mengalami kerusakan.  Kawasan hutan yang masih alami semakin menipis dan terancam musnah.  Padahal, hutan alam tersebut merupakan habitat asli satwaliar.  Dengan demikian, hadirnya hutan rakyat campuran merupakan oasis bagi satwaliar yang terancam punah.

C. Mempertahankan Kesuburan Tanah
            Hutan rakyat dengan campuran dapat membantu menjaga kesuburan tanah.  Paling tidak, ada tiga faktor yang mempengaruhi kondisi ini. Pertama, komposisi jenis tanaman.  Pada umumnya, semua jenis tanaman membutuhkan unsur hara yang sama, seperti nitrogen (N), pospor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S).  Akan tetapi, setiap jenis tanaman membutuhkan kadar unsur hara tertenu.  Dengan kata lain, penggunaan kadar unsur hara sangat beragam untuk setiap tanaman.
            Mengingat ragam dan tingkat pertumbuhan tanaman di hutan rakyat campuran relatif tinggi dibanding hutan homogen, maka ragam dan kadar hara yang dibutuhkannya juga tinggi.  Namun, hutan yang heterogen akan membangun mekanisme pemanfaatan yang cukup efektif dan efisien.  Karenanya, kebutuhan hara tanaman selalu terpenuhi, meskipun tumbuh di tanah-tanah kurang subur.  Sebab, kadar unsur hara yang terbatas jumlahnya digunakan secara selektif dan silih berganti mendekati daur hara tertutup.
            Daur hara tertutup inilah yang dapat menjaga kesuburan tanah.  Dalam kawasan hutan, unsur-unsur hara akan banyak disimpan di dalam tanaman untuk jangka waktu tertentu.  Kemudian, unsur hara tersebut dilepaskan lagi ke dalam tanah setelah proses penguraian.  Dalam waktu yang singkat, zat yang dibutuhkan tanaman ini diserap kembali oleh tanaman.  Mekanisme seperti itu terjadi berulang-ulang.  Semakin banyak dan beragam tanaman dalam hutan, semakin banyak dan beragam pula kadar dan jumlah unsur hara yang simpan dalam tanaman.  Dengan demikian, hutan yang memiliki banyak jenis tanaman (termasuk hutan rakyat campuran) akan terhindar dari proses pencucian unsur hara.
   Kedua, adanya tanaman yang mampu mengikat nitrogen dari udara.  Dalam hutan rakyat campuran, banyak jenis tanaman yang mampu mempertahankan kesuburan tanah.  Untuk kayu keras, terdapat jenis sengon.  Untuk semak belukar dan tanaman pagar, terdapat jenis kaliandra dan kemlandingan.  Dan untuk tanaman semusim, penggarap juga sering menanam jenis kacang-kacangan.  Semua jenis tanaman ini memiliki kemampuan mengikat nitrogen dari udara, sehigga sangat membantu dalam meningkatkan dan menjaga kesuburan tanah.
            Ketiga, pemupukan.  Dengan adanya tanaman semusim/pertanian pada hutan rakyat, pengelola sering menambahkan pupuk (baik pupuk organik maupun anorganik) guna meningkatkan produksinya.  Melalui kegiatan ini, tanah hutan akan mendapatkan tambahan unsur hara dari luar, sehingga kesuburannya meningkat.  Akan tetapi, tidak selamanya pemberian pupuk dapat meningkatan kesuburan tanah.  Adakalanya, pemupukan juga dapat mengganggu kesuburan tanah bahkan menjadi racun bagi tanaman, yakni pada saat penambahan pupuk buatan secara berlebihan.

D. Menjaga Kestabilan Suhu Tanah dan Organisme Penghuninya
            Secara horisontal, hutan rakyat campuran akan terlihat memiliki lapisan tajuk yang lebih rapat dibanding hutan rakyat homogen.  Secara vertikal, hutan rakyat campuran juga akan membentuk lapisan tajuk yang beranekaragam.  Lapisan-lapisan tajuk yang terbentuk sangat mempengaruhi banyaknya sinar matahari yang lolos ke lantai hutan.  Semakin rapat tajuk, semakin sedikit sinar matahari yang lolos ke lantai hutan.  Alhasil, lantai hutan rakyat campuran akan mendapat sinar matahari lebih sedikit dibanding lantai hutan rakyat homogen.  Akibatnya, hutan rakyat campuran memiliki lantai tanah yang lebih sejuk.
            Rapatnya tajuk dan tumbuhan menjadikan panas yang menerobos tubuh hutan tidak cepat hilang.  Pada saat gelombang matahari yang lolos ke lantai hutan dipantulkan, tajuk yang rapat akan menahannya dan memantulkan kembali ke lantai hutan.  Keadaan ini menyebabkan suhu tanahnya relatif stabil.
            Suhu tanah yang tidak terlalu tinggi tetapi relatif stabil dan ditambah kelembaban yang tinggi sangat menguntungkan bagi perkembangan akar tanaman dan aktivits organisme tanah.  Pada suhu yang stabil, aktivitas organisme akan berlangsung stabil pula, dan peruraian bahan organik dan penyerapan hara oleh akar berlangsung cukup baik dan stabil.
            Berbeda dengan hutan homogen.  Hutan rakyat homogen mempunyai tajuk lebih sedikit, sehingga banyak memberikan kesempatan cahaya matahari langsung mencapai lantai hutan.  Keadaan ini menyebabkan suhu tanah tidak stabil dan tinggi.  Peruraian bahan organik berlangsung pada laju lebih tinggi yang menjadikan banyak unsur hara dalam bentuk bebas yang sangat rentan terhadap pencucian.

E. Mengurangi Karbon Dioksida (CO2) dan Pemanasan Global
            Hutan rakyat campuran sangat membantu dalam mengurangi karbon dioksida di udara.  Sebagaimana telah disebutkan di awal, hutan rakyat campuran memiliki strata tajuk yang beragam.  Dengan adanya pencampuran tanaman kayu keras, buah-buahan, dan tanaman semusim, setiap titik ketinggian kawasan ini akan memiliki naungan.  Karbon dioksida yang diserap juga akan merata mulai lapisan tajuk yang paling atas hingga lapisan paling bawah, lantai hutan.  Semakin banyak lapisan tajuk, semakin banyak pula karbon dioksida yang diserap.
            Berbeda dengan hutan rakyat homogen.  Penyerapan karbon dioksida tidak merata.  Hutan rakyat homogen hanya memiliki tajuk satu lapis.  Karbondioksida yang banyak diserap hanya yang berada dibagian atas saja, sedangkan dibagian bawahnya hanya sedikit.  Ringkasnya, hutan rakyat campuran lebih banyak membantu mengurangi karbondioksida dibanding hutan rakyat homogen.
            Tidak hanya karbon dioksida yang diserap oleh tanaman.  Tanaman juga mampu menyerap beberapa poluttan di udara yang dikeluarkan oleh berbagai sumber seperti kendaraan bermotor dan industri.  Oleh karena itu, hutan rakyat sangat berguna dalam mengurangi pencemaran udara.
            Keberadaan karbon dioksida dan pollutan lainnya berkaitan erat dengan pemanasan global.  Dengan tingginya kemampuan mengikat karbondioksida dari udara, hutan rakyat campuran memiliki peranan yang cukup besar dalam mengurangi laju pemanasan global.  Peranan ini akan bertambah besar lagi mengingat kawasan berhutan (maksudnya hutan alam dan hutan tanaman) semakin menipis.  Kita tahu bahwa, karbon dioksida merupakan salah satu gas rumah kaca yang berperan pemanasan global.  Semakin luas pembangunan hutan rakyat campuran, maka semakin banyak pula karbon dioksida yang diserap, sehingga semakin besar pula peranannya dalam mengurangi laju pemanasan global.
            Selain itu, hutan rakyat juga sangat membantu dalam kaitannya dengan pernapafasan mahluk hidup.  Pada saat potosintesis, selain karbohidrat, tanaman juga akan menghasilkan oksigen.  Zat inilah yang sangat dibutuhkan mahluk hidup untuk proses pernafasan dan pembakaran.

F. Penahan Erosi
            Hutan rakyat campuran sangat penting dalam mencegah laju erosi.  Setidaknya ada tiga faktor, mengapa hutan rakyat campuran sangat membantu dalam mencegah erosi.  Pertama, kerapatan dan lapisan tajuk.  Kondisi tajuk memiliki pengaruh terhadap besarnya energi potensial dan kesempatan air hujan meresap kedalam tanah.  Tajuk yang rapat dan berlapis dapat mengurangi energi potensial dan energi kinetik air hujan.  Air hujan yang tertahan oleh tajuk pepohonan masih memiliki energi potensial, meskipun energinya sudah berkurang.  Dengan adanya lapisan tajuk yang berada bawahnya, air hujan tersebut akan ditahan kembali dan energinya menjadi berkurang.  Kejadian tersebut akan terus berulang hingga lapisan tajuk paling bawah. Pada saat air hujan menyentuh lantai hutan, maka kemampuannya memecahkan lapisan tanah sudah mengecil bahkan tidak ada.  Jadi, semakin rapat dan banyak lapisan tajuk suatu tanaman, maka semakin besar kemampuannya mengurangi energi potensial air hujan.
            Selain itu, tajuk yang rapat juga memberikan kesempatan lebih lama kepada air hujan untuk menyerap ke dalam tanah. Akhirnya, air yang masuk ke dalam tanah lebih besar dibanding air yang mengalir melalui permukaan tanah.  Dengan demikian, erosi dan banjir dapat dihindari.
            Kedua, perakaran tanaman. Tanaman yang berjejal dalam kawasan hutan akan diikuti pula oleh berjejalnya perakaran dalam tanah.  Akar sangat berguna dalam mengikat dan menahan lapisan tanah terutama pada lahan yang miring.  Pada saat hujan turun, lapisan tanah yang terikat diikat oleh akar tidak mudah pecah dan terangkut arus air.
            Ketiga, pengolahan tanah.  Pengolahan tanah yang baik sangat membantu dalam mengurangi laju erosi.  Pengolahan tanah sering dilakukan dalam hutan rakyat campuran (yang menerapkan model agroforestry).  Dalam pengolahan tanah di lahan yang miring, penggarap sering membuat teras dan sengkedan.  Pembuatan teras dan sengkedan ini dapat mencegah terjadinya erosi di kawasan hutan rakyat.


III. Kesimpulan

            Uraian di atas hanyalah gambaran kecil saja mengenai manfaat konservasi dari hutan rakyat, khususnya hutan rakyat campuran.  Sebab, masih banyak manfaat konservasi lainnya dari hutan rakyat.  Meskipun demikian, melalui uraian di atas setidaknya telah diperoleh gambaran bagaimana manfaat hutan rakyat bagi konservasi.  

            Pembangunan hutan rakyat (terutama sistem campuran) telah memberikan banyak manfaat bagi lingkungan.  Pembangunan hutan rakyat telah menyediakan habitat baru bagi satwaliar, mampu menjaga kesuburan tanah, mengurangi kadar karbon dioksida dan laju pemanasan global, dan mampu menahan erosi. Ringkasnya, pembangunan hutan rakyat campuran sangat berjasa dalam menjaga kestabilan lingkungan hidup.

Post Top Ad

Your Ad Spot