PENGEMBANGAN AGROFORESTRY DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Monday, June 6, 2016

PENGEMBANGAN AGROFORESTRY DI DAERAH PENYANGGA TAMAN NASIONAL GUNUNG GEDE PANGRANGO

Oleh:
Aris Sudomo, Aditya Hani, dan M. Yamin Mile
Staf Peneliti Kelti Silvikultur Loka Litbang Hutan Monsoon Ciamis

ABSTRAK

            Dalam rangka mencari alternatif pemecahan masalah terhadap pengambilan kayu dan  tumbuhan hutan
oleh masyarakat di sekitar kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) maka perlu usaha pemenuhan kebutuhan kayu bagi masyarakat di  daerah penyangga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya potensi dan prospek pengembangan agroforestry sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat daerah penyangga. Jenis-jenis pengambilan kayu hutan yang terjadi di SKW II TNGP terdiri dari pengambilan kayu bakar, bambu, pakis, tanaman hias dan kayu pertukangan. Pekerjaan Penduduk yang melakukan aktivitas pengambilan tumbuhan hutan sebagian besar adalah buruh dan petani yang berpendidikan Sekolah Dasar dan berpenghasilan dibawah Rp. 100.000,00 perbulan. Adanya potensi dan prospek pengembangan agroforestry jenis-jenis pohon yang mempunyai nilai kalor tinggi, pengembangan budidaya bambu, buah konyal dan tanaman pakis. Masyarakat mempunyai ketertarikan untuk mengembangkan jenis-jenis tersebut di daerah panyangga dengan sistem agroforestry.

Kata Kunci : Agroforestry, Taman Nasional, Daerah Penyangga, Nilai Kalor.


I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
            Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) salah satu dari lima taman nasional yang paling awal dibentuk di Indonesia. Tujuan dari dibentuknya taman nasional  untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, sehingga dapat tetap mempunyai fungsi sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Keberadaan taman nasional tidak pernah terlepas dari keberadaan masyarakat, karena selalu ada interaksi antar masyarakat dengan taman nasional. Keberadaan masyarakat seringkali lebih dahulu ada dari pada penetapan sebagai taman nasional. Oleh karena itu dalam sistem pengelolaannya harus tetap memperhatikan aspek-aspek kepentingan masyarakat.
       Untuk mengakomodir adanya kepentingan masyarakat terhadap kawasan taman nasional maka telah dicoba dengan menerapakan sistem zonasi kawasan. Sistem zonasi taman nasional adalah pembagian wilayah didalam kawasan taman nasional menjadi zona-zona guna menentukan kegiatan-kegiatan pengelolahan yang diperlukan secara tepat dalam rangka mencapai tujuan-tujuan taman nasional sesuai dengan fungsinya. Zonasi yang telah ditetapkan yaitu zona inti, zona pemanfaatan, zona lain sesuai dengan fungsi dan kondisinya. Zona lain adalah zona diluar kedua zona tersebut yang karena fungsi dan kondisinya ditetapkan sebagai zona tertentu seperti zona rimba, zona pemanfaatan tradisional, dan zona rehabilitasi (Departemen Kehutanan, 1993)
            Keberadaan daerah penyangga menjadi sangat penting karena berkaitan dengan keberadaan masyarakat yang seringkali memiliki kepentingan terhadap kawasan taman nasional. Kepentingan masyarakat terhadap kawasan taman nasional baik dapat berupa pemenuhan kebutuhan kayu, lahan, daun-daunan, tanaman obat dll. Daerah taman nasional seringkali berupa daerah yang masih tertinggal dalam bidang sosial ekonominya karena keterbatasan sarana dan prasarana sosial sehingga berakibat tingkat ekonomi masyarakatnya pada umumnya rendah. Tingkat ekonomi yang masih rendah ini mengakibatkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap kawasan taman nasional masih sangat tinggi sehingga mengakibatkan tekanan terhadap hutannya. Oleh karena itu perlu usaha untuk mengurangi tekanan masyarakat terhadap kawasan taman nasional sehingga dapat menjaga kelestarian hutan. Bentuk usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat. oleh karena itu perlu adanya pengembangan model-model agroforestry yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di daerah penyangga yang terprogram serta sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakatnya.

B. Tujuan Penelitian
            Untuk mengetahui adanya potensi dan prospek pengembangan agroforestry sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat daerah penyangga


II. METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian
            Penelitian dilaksanakan di Seksi Konservasi Wilayah II Taman Nasional  Gunung Gede Pangrango yang meliputi 4 Resort yaitu : Resort Bodogol, Resort Cimande, Resort  Cisarua dan Resort  Bojong Murni. Penelitian dilakukan pada Bulan Desember 2005 sampai  Februari 2006.

B.  Metode Pengumpulan Data dan Informasi.
            Pengumpulan data dilakukan dengan jalan :
1.       Pengamatan langsung di lapangan
2.       Wawancara dengan petani responden, petugas lapangan dan pejabat pemerintahan  desa
3.       Pengumpulan data sekunder.


E.  Metode analisis dan Pengolahan Data.
            Data yang terkumpul akan diolah dan dianalisa menggunakan analisis deskriptif yang kemudian disajikan secara kualitatif dan kuantitatif.


III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Interaksi Masyarakat Dengan Taman Nasional Dan Permasalahannya.
            Selama ini istilah tentang Taman Nasional masih menjadi sesuatu yang baru bagi masyarakat lokal. Keberadaan masyarakat seringkali lebih dahulu ada dari pada penetapan sebagai taman nasional. Keberadaan Taman Nasional ini tidak merupakan masalah bagi masyarakat yang penting adalah bagaimana aktivitas keseharian mereka dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang berasal dari dalam hutan tidak terganggu. Namun demikian  perbedaan dari sudut cara pandang dan macam kepentingan menyebabkan sering terjadi konflik antara pihak pemerintah dalam hal ini pengelola taman nasional dengan masyarakat.      Menurut Taudin 2000, Taman Nasional sebagai sumber daya alam menyediakan kelimpahan yang memikat banyak pelaku dengan berbagai kepentingan yang sering berseberangan sehingga sering terpetakan banyak aneka konflik. Konflik berapapun manusianya yang terlibat sangat tidak sehat apabila tidak dikelola dengan baik. Oleh karena itu perlu upaya membangun kesepahaman bersama antara masyarakat dan pihak pengelola. Karena dari hasil kuisioner untuk mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman  masyarakat tentang keberadaan TNGP dapat diketahui masih rendahnya tingkat pemahaman masyarakat tentang kawasan taman nasional ini dapat dilihat pada tabel 3.

Tabel 1. Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat Tentang Keberadaan TNGP
Jawaban Responden
Resort
Bdgl
Csra
Cmnd
B Mrn
Prosentase (%)
*)YA,TAHU
64,44
40,00
38,46
17,65
    Tempat wisata
17,24
83,33
10,00
0,00
    Perlindungan dan pelestarian    
82,76
16,67
90,00
100,00
*)TIDAK TAHU
35,56
60,00
61,54
82,35
           
            Dari tabel 3 diatas dapat diketahui bahwa tingkat pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang keberadaan TNGP sebagai kawasan konservasi yang dijaga dan dilindungi kelestariannya berbeda untuk setiap resort. Secara keseluruhan di SKW II TNGP lebih banyak masyarakat belum tahu dan paham tentang keberadaan TNGP sebagai kawasan yang harus dijaga dan dilindungi. Tingkat Pengetahuan dan pemahaman masyarakat dari masing-masing resort tentang TNGP dari yang terbesar  adalah Resort Bodogol, Resort Cisarua, Resort Cimande, dan Resort Bojong Murni. Tingkat pengetahuan dan pemahaman Resort Bodogol tertinggi dibanding resort-resort lain. Hal ini disebabkan karena Resort  Bododol merupakan lokasi Pusat Pendidikan Konservasi Alam yang kegiatannya memberikan penerangan pada masyarakat tentang pentingnya kawasan konservasi sehingga dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperan serta aktif menjaga dan melindungi kawasan TNGP. Masyarakat Resort Cisarua yang menjawab tahu tentang keberadaan TNGP 40% responden, tetapi dari yang mengaku tahu itu hanya 16.67% yang menjawab sebagai kawasan perlindungan dan pelestarian alam sedangkan 83,33% menjawab TNGP sebagai kawasan tempat wisata. Hal ini disebabkan karena di Resort Cisarua berdekatan dengan kawasan TNGP yang difungsikan sebagai tempat camping dan adanya tempat rekreasi di dekat resort tersebut, sehingga persepsi mereka tentang kawasan TNGP hanya sebatas sebagai tempat wisata. Pemahaman mereka tentang TNGP sebagai kawasan pelestarian alam yang harus dijaga dan dilindungi masih kurang dan hal ini berdampak pada aktivitas mereka dalam melakukan pengambilan  tumbuhan hutan.
            Masyarakat Resort Cimande yang menjawab tahu tentang keberadaan TNGP hanya 38% , dan dari yang mengaku tahu itu  90% yang menjawab sebagai kawasan perlindungan dan pelestarian alam sedangkan 10% menjawab sebagai tempat wisata. Tingkat pengetahuan yang masih rendah tentang keberadaan TNGP di Resort Cimande disebabkan karena belum banyaknya penerangan kepada masyarakat tentang kawasan konservasi TNGP seperti yang dilakukan di Resort Bodogol. Masyarakat Resort Bojong Murni yang menjawab tahu tentang keberadaan TNGP hanya 17.65% ,dan semuanya menjawab sebagai kawasan perlindungan dan pelestarian alam. Tingkat pengetahuan yang masih rendah tentang keberadaan TNGP di Resort Bojong Murni disebabkan karena belum banyaknya penerangan kepada masyarakat tentang kawasan konservasi TNGP seperti yang dilakukan di Resort Bodogol.
            Interaksi masyarakat terhadap taman nasional masih cukup tinggi. Salah satu bentuk interaksi tersebut adalah dalam bentuk pengambilan tanaman atau bagian tanaman yang berada dalam kawasan taman nasional. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel 4. yang menggambarkan pengambilan tumbuhan hutan oleh masyarakat selama tahun 2005.

Tabel 2. Intensitas Pengambilan Tumbuhan Hutan Tahun 2005
Jenis Tanaman hutan
Tahun

Satuan
Resort
Jml

Bdgl
Csra
Cmnd
B Mrn
Kayu Pertukangan


2003
m3
17
5,5
2,5
3,5
28,5
2004
 m3
2,146
1,16
1,098
1,037
5,41
2005
btg 
11
7
2
2
22
Kayu Bakar


2003
Pikul
1
-
2
13
16
2004
 Pikul
2
4
19
7
32
2005
Pikul
19

63
11
93
Bambu


2003
Bt
236
50
-
-
286
2004
 Bt
23
5
16
15
59
2005
Bt 
40
3
-
7
50
Pakis


2003
Bt
-
10
-
-
10
2004
 Bt
-
-
-
31
31
2005
Karung


3
1000
1003
Tanaman Hias


2003
Bt
-
-
-
-
-
2004
Bt 
26
-
-
-
26
2005
 Bt





Sumber. Laporan Tahunan Seksi Konservasi Wilayah II Bogor
            Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa pengambilan  tumbuhan hutan jenis kayu bakar dan kayu pertukangan merupakan gangguan yang dominan di SKW II TNGP, karena terjadi di hampir semua resort dan mempunyai jumlah kasus paling banyak. Selanjutnya kasus pengambilan tumbuhan hutan paling banyak terjadi adalah pengambilan  bambu dan pakis. Tujuan masyarakat mengambil tanaman hutan pada umumnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri belum mengarah pada tujuan komersial untuk dijual ke luar daerahnya. Berdasar hasil kuisioner kepada masyarakat penjualan ke orang lain masih sangat rendah itu pun sebatas hanya ketetangga. Hal ini dapat kita lihat pada Tabel 5.

Tabel 3. Tujuan Penggunaan Pengambilan  Tumbuhan Hutan
Tujuan pengambilan kayu/bambu
Resort
Bdgl
Csra
Cmnd
B Mrn
Prosentase (%)
Memenuhi kebutuhan sehari-hari
17,8
73,3
38,5
52,9
Membuat  kandang ternak atau rumah.
82,2
26,7
30,8
47,1
Dijual ke orang lain
0,0
0,0
3,8
0,0
Tidak tahu
0,0
0,0
26,9
0,0
           
            Pengambilan tumbuhan hutan dalam bentuk kayu/bambu untuk memenuhi kebutuhan sendiri oleh masyarakat di setiap resort pada umumnya untuk digunakan sebagai kayu bakar. Pada umumnya masyarakat masih menggunakan tungku berbahan bakar kayu untuk aktivitas memasak di rumah tangga, berdasar pengamatan masih sangat jarang masyarakat yang memanfaatkan kompor minyak tanah. Penggunaan tungku berbahan kayu bakar dikarenakan masyarakat lebih menyukai mencari kayu bakar tanpa mengeluarkan ongkos sehingga dapat meringankan beban perekonomian mereka. Apabila menggunakan kompor minyak maka berarti bagi mereka ada tambahan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari apalagi kondisi sarana dan prasarana transportasi masih banyak yang belum memadai sehingga semakin meningkatkan harga barang-barang yang berasal dari luar daerah mereka. Pemanfaatan kayu/bambu lainnya yaitu untuk pembuatan kandang ternak atau pembuatan/perbaikan rumah. Tetapi kebutuhan kayu/bambu untuk kegiatan ini tidak terlalu besar karena hanya dilakukan beberapa tahun sekali ketika rumah/kandang ternak mereka rusak atau membikin rumah baru yang jarang terjadi.
            Kayu/bambu yang dijadikan kayu bakar oleh masyarakat tidak semuanya berasal dari hutan, tetapi sebagian lagi berasal dari pekarangan atau kebun yang merupakan lahan bekas HGU yang terlantar/ditinggalkan oleh pengelola sebelumnya yang selanjutnya dimanfaatkan oleh masyarakat untuk ditanami tanaman semusim serta tanaman kayu-kayuan. Jumlah penduduk yang memanfaatkan kayu/bambu dari hutan dapat dilihat pada tabel 5.

Tabel 4. Jumlah Penduduk Menggunakan Bambu dan Kayu Bakar dari Hutan
Jawaban Responden
RESORT
Bdgl
Cmnd
B.mrn
Csra
Prosentase (%)
Kurang dari 20 Orang
100
33,3
65,4
100,0
20 - 50 Orang
0
36,7
7,7
0
50-100 Orang
0
30,0
0
0
Tidak Tahu
0
0
26,9
0
           
            Penduduk yang menggunakan kayu bakar dari hutan biasanya membawanya dengan berjalan kaki. Dan rata-rata kemampuan membawa kayu bakar setiap orang berkisar 1- 4 pikul. Mereka akan kembali lagi ke hutan setelah kayu bakar tersebut habis. Berdasarkan informasi dari beberapa responden 1 pikul kayu bakar tersebut akan habis dalam jangka waktu sekitar 3 hari-1 minggu. Jadi dapat diperkirakan rata-rata  1 minggu-1 bulan sekali mereka  masuk ke hutan. Sedangkan penduduk yang menggunakan bambu rata-rata mereka masuk ke hutan jika memerlukan untuk pembuatan kandang ternak, rumah atau ajir tanaman jadi intensitasnya bersifat temporer. Kayu bakar yang diambilpun biasanya berupa ranting-ranting atau cabang pohon. Apabila kondisi ini tetap dibiarkan maka dapat menjadi sumber gangguan yang cukup serius terhadap kelestarian hutan. Karena dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk maka kebutuhan akan kayu bakar menjadi semakin meningkat apabila tidak diimbangi oleh pengembangan bahan bakar alternatif atau penyediaan bahan bakar yang berasal dari luar hutan. Berdasar penelitian yang dilakukan oleh Tjutju Nurhayati dalam anonim (1995), Untuk memasak hidangan 5 anggota keluarga terdiri 3 liter beras, 350 gram daging, 425 gram tempe, 650 gram sayur dan 7,5 liter air, diperlukan kayu bakar dari kayu kemlandingan sekitar 4,2 kg. Dari penelitian juga diperoleh data konsumsi kayu bakar pada tingkat gizi sehat adalah 0,56 m3/kapita/tahun

B.  Pengembangan Agroforestry Sebagai Alternatif Pemecahan Masalah.
            Apabila selama ini masyarakat sebagian masih mencari kayu bakar dari dalam hutan, maka sebagai bentuk antisipasi terhadap ancaman kerusakan hutan perlu diupayakan kegiatan penyediaan bahan bakar yang dapat diperoleh disekitar pemukiaman masyarakat sendiri atau diluar kawasan taman nasional. Bentuk penyediaan bahan bakar kayu bagi masyarakat dapat diupayakan dalam bentuk pembangunan hutan rakyat. Karena masyarakat masih mengutamakan pekerjaan pertanian untuk menghasilkan produk-produk pertanian maka perlu mengkombinasikan antara kepentingan pertanian dan penyediaan bahan bakar kayu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menerapkan pola tanam campuran atau agroforestry. Dari bebebrapa laporan penelitian di TNGP disarankan dalam pengelolaan kawasan, khususnya pada daerah penyangga TNGP, disarankan melalui sistem agroforestry dengan pengambangan jenis-jenis kayu yang sering diambil penduduk (bahan bakar, industri kerajinan kecil, kayu bakar dll.), dan sesuai dengan lingkungan setempat  (Setio dan Mukhtar, 2005).
            Pemilihan jenis tanaman kayu bakar yang akan ditanam oleh masyarakat hendaknya jenis tanaman yang mempunyai sifat-sifat cocok untuk kayu bakar yaitu : 1) mudah ditanam dan dipelihara, 2) dapat tumbuh dilingkungan yang kurang baik, 3) cepat tumbuh, 4) riap tinggi, 5) menghasilkan tunas setelah dipangkas, 6) mempunyai nilai kalor tinggi, 7) tidak mengeluarkan asap/gas jika dibakar. Kayu yang mempunyai nilai kalor tinggi menghasilkan energi panas yang tinggi, sehingga ditinjau dari pemanfaatan kayu sebagai kayu bakar akan semakin efesien. Sedangkan kayu yang tidak mengeluarkan asap/gas jika dibakar, baik untuk kayu bakar karena tidak menimbulkan polusi udara yang lebih tinggi daripada jenis kayu yang mengeluarkan gas/asap jika dibakar (Baskorowati, 2001). Pada Tabel 7. dicontohkan jenis-jenis kayu yang memiliki nilai kalor tinggi, sebagai berikut : 

Tabel 5. Contoh Jenis-Jenis Tanaman Yang Mempunyai Nilai Kalor Tinggi
No
Jenis (Famili)
Nama daerah
Asal/sebaran
Berat jenis
Nilai kalor
(Cal/g)
1
Azadirachta indica (Meliaceae)
Mimba
Jawa-Bali
0,82
4771,36
2
Adenanthera pavonina
Saga utan, segawe, sabrang
Seluruh Indonesia
0,93
4952,64
3
Celtis wightii (umaceae)
Ki howe, kayu bras, riwat
Jawa, Aceh
0,86
4837,28
4
Dillenia excelsa (dilleniaceae)
Sempur, simpur, talang
Sumsel, Lampung, Jawa
0,84
4804,32
5
Fraxinus griffithii (Oleacaeae)
Jamblang, juwet
Sumatra,  Jawa, Bali
0,8
4738,4
6
Garcinia celebica
(Guttiferae)
Baros, manggu, leweung
Seluruh Indonesia
0,94
4969,12
7
Memecylon costatum (Melastomataceae)
Kayu tulang, ki jambe
0,89
0,89
4886,72
8
Zyzyphus celtidifolia (Rhamnaceae)
Asinan, roti
Jawa, Sulawesi, Maluku
0,97
5018,56
Sumber: Syachari dalam Rostiwati (2006)

1. Agroforestry Dengan Komoditas Unggulan
a.                   Budidaya Bambu
            Pengembangan hutan rakyat atau agroforestry diharapakan tidak hanya untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari, namun diharapkan diarahkan pada pengembangan komoditas unggulan. Dari hasil penelitian disimpulkan adanya penggunaan bahan baku bambu bagi kegiatan kerajinan rakyat yang diambil dari taman nasional TNGP (Mukhtar dan Pratiwi dalam Setio dan Mukhtar, 2005). Oleh karena itu perlu usaha pembudidayaan bambu rakyat untuk memenuhi kebutuhan industri kerajianan rumah tangga maupun untuk keperluan lain. Menurut Verhoef dalam Sutiyono et.al. (1992), berbagai keadaan dapat ditumbuhi berbagai macam bambu mulai dari tanah berat sampai ringan, tanah kering sampai becek, dan tanah subur sampai kurang subur. Disamping itu bambu merupakan jenis yang sudah ada ditaman nasional sehingga bukan tanaman eksotik yang merugikan spesies asli.
            Teknik budidaya tanaman bambu relatif mudah bagi masyarakat dapat menggunakan stek batang ataupun menggunakan stek rhizoma. Berdasar penelitian Widiarti (2003) stek  rhizobium persen jadinya cukup tinggi dan pertumbuhannya juga cukup baik dibandingkan dengan tanaman yang berasal dari stek batang. Keuntungan menggunakan stek rhizobium (calon batang muda) adalah tingkat keberhasilan relatif sangat tinggi dan pertumbuhannya dapat mencapai perumpunan normal relatif cepat (3-5 tahun) (Sutiyono et. el. dalam Widiarti, 2003). Dari hasil penelitian Widiarti juga disebutkan pola tanam yang sering digunakan umumnya ditumpangsarikan dengan tanaman pangan, berupa palawija.  
                                                                          
b. Budidaya Tanaman Pakis
            Selain pengambilan kayu bakar penduduk sebelumnya banyak mengambil tanaman pakis. Berdasarkan data pada tahun 2003 terdapat kasus pengambilan tanaman hias di Resort Bodogol sebanyak 26 batang. Masyarakat mengambil pakis untuk dijual kepihak luar yang banyak dimanfaatkan sebagai media tanaman hias (anggrek). Batang pakis yang mereka peroleh kemudian mereka potong-potong sesuai dengan ukuran berdasar kebutuhan pasar. Adanya kebutuhan akan pakis dan prospek bisnis pakis menjadi satu alternatif bagi kemungkinan pengembangan tanaman pakis melalui budidaya pakis oleh masyarakat. Tanaman   pakis merupakan jenis asli dari dalam hutan sehingga secara persyaratan tempat tumbuh cocok untuk dikembangkan. Hanya saja perlu dilakukan penelitian mengenai  teknik budidayanya yang tepat.

c. Budidaya Buah Konyal
            Konyal (Passiflora suberosa) atau dikenal sebagai markisa merupakan salah satu tumbuhan eksotik di TNGP yang mampu berkembang pesat dan menginvasi daerah yang cukup luas bahkan menekan pertumbuhan jenis-jenis asli disekitarnya. Jenis ini dapat dijumpai di Resort Cibodas, Gunung Putri, dan Cisarua sampai pada ketinggian 1600 m dpl. buah konyal sangat menarik minat  masyarakat untuk memungut dan menjualnya. Karena konyal hidup sebagai liana dan memanjat pohon asli, tidak jarang masyarakat mengambil buah konyal dengan cara menebang pohon “inang”nya. Oleh karena itu perlu usaha untuk meminimalisir dampak negatif dari keberadaan buah konyal baik terhadap spesies asli maupun terhadap pohon tempat memanjatnya. Usaha yang mungkin dilakukan adalah dengan membudidayakan tanaman konyal oleh masyarakat diluar kawasan taman nasioal serta adanya pengolahan produk sehingga nantinya keuntungan terbesar dapat diperoleh oleh masyarakat. Karena buah konyal memerlukan tanaman inang sebagai tempat merambat selama dia hidup dan berbuah sehingga sangat cocok apabila penanamannya dikombinasikan dengan penanaman tanaman berkayu lainnya yang secara ekologis sangat menguntungkan. 

2. Tingkat  Ketertarikan Masyarakat Terhadap Model Agroforestry
            Istilah agroforestry merupakan istilah baru bagi masyarakat. Walaupun masyarakat sudah melakukan praktek-praktek agroforestry seperti di Resort Cisarua yang sebagian petani telah menerapkan model ini yaitu dengan menanam Gmelina arborea dikombinasikan dengan tanaman ketela pohon atau jagung.
  
Tabel 6.  Tingkat  Ketertarikan Masyarakat Terhadap Sistem Agroforestry
Resort
Ukuran Parameter
ST
T
KT
TT
Prosentase
Bodogol
33,3
37,8
15,6
13,3
Cisarua
50,0
6,7
36,7
6,7
Cimande
42,3
50,0
7,7
0,0
Bojongmurni
23,5
52,9
17,6
5,9
Ket. ST = Sangat Tertarik   KT= Kurang Tertarik
          T = Tertarik                       TT=Tidak Tertarik       
           
            Dari hasil kuisioner dapat diketahui bahwa pada umumnya penduduk dikeempat resort yaitu Bodogol, Cisarua, Cimande dan Bojongmurni mempunyai kemauan untuk menerapkan praktek-praktek agroforestry. Bentuk kemauan tersebut pada tingkat sangat tertarik dan tertarik yang mempunyai prosentase yang cukup signifikan dibandingkan ketidaktertarikan penduduk.  Penduduk yang memiliki ketertarikan terhadap penerapan praktek agroforestry pada umumnya dikarenakan alasan ekonomi. Penduduk sudah mengetahui bahwa hasil yang dapat mereka peroleh dari lahan agroforestry akan menghasilkan  dua hasil yang didapatkan yaitu hasil tanaman semusim, kayu bakar, pakan ternak untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta tanaman kayu yang dapat mereka jadikan tabungan untuk digunakan sewaktu-waktu jika ada keperluan mendesak. Penduduk yang tidak tertarik dan kurang tertarik rata-rata dengan alasan sulitnya model agroforestry tersebut diterapkan. Hal ini mungkin disebabkan karena belum dipahami secara benar mengenai teknik-teknik agroforestry. Istilah agroforestry bagi masyarakat sendiri masih asing walaupun masyarakat sudah ada yang mempraktekannya. Maka dari itu diperlukannya penyuluhan bahwa menanam pohon dan tanaman pertanian dalam satu lokasi dapat dilakukan dengan baik. Hal ini menunjukan tingkat penerimaan masyarakat jika model agroforestry diimplementasikan sebagai upaya konservasi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah penyangga Peluang ini tentunya sangat menunjang bagi penjagaan dan perlindungan kawasan sebab model agroforestry disamping dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat bertujuan  juga sebagai usaha koservasi di dalam zona penyangga. Hal ini tentunya dibarengi dengan program pelatihan dan penyuluhan kepada para petani tentang teknik-teknik agroforestry.



IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN
1.       Jenis-jenis pengambilan tumbuhan hutan yang terjadi di SKW II TNGP terdiri dari pengambilan kayu bakar, bambu, pakis, tanaman hias dan kayu pertukangan. Pelaku pengambilan tumbuhan hutan berasal dari masyarakat sekitar hutan dan oknum masyarakat di luar kawasan.
  1. Adanya potensi dan prospek pengembangan agroforestry jenis-jenis pohon yang mempunyai nilai kalor tinggi, pengembangan budidaya bambu, buah konyal dan tanaman pakis
  2. Masyarakat mempunyai ketertarikan untuk mengembangkan jenis-jenis yang dapat dikembangkan di kawasan panyangga dengan sistem agroforestry.

B. SARAN
  1. Perlu adanya penelitian teknologi (model agroforestry) yang sesuai dikembangkan di sekitar kawasan TNGP untuk usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  2. Penelitian dan Pengembangan model wanatsiri, wanaserat dan wanafarma di daerah penyangga
  3. Evaluasi bentuk-bentuk usaha agrobisnis yang telah dikembangkan sehingga dapat mengetahui efektivitasnya dalam usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat dan pengembangan sistem agroforestry



DAFTAR PUSTAKA

Anonim.1995. Tungku Hemat Energi. Pusat Penyuluhan Kehutanan. Departemen  Kehutanan. Jakarta

Baskorowati, Liliana. 2001. Variasi Pertumbuhan dan Nilai Kalor Pada Uji Spesies Kayu Bakar di Sukobubuk, Pati, Jawa Tengah. Buletin Penelitian Pemuliaan Pohon. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Rostiwati, Tati. 2006. Usulan Kegiatan Penelitian Silvikultur Hutan Tanaman Kayu Energi). Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.

Setio, Pujo dan Mukhtar, S. Abdulah. 2005. Review Hasil-Hasil Litbang : Pengelolaan Taman Nasional di Indonesia.Pusat Litbang Hutan Dan Konservasi Alam. Departemen Kehutanan. Bogor.

TN Gunung Gede Pangrango.2003. Laporan Tahunan Seksi Konservasi Wilayah II Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. TN Gunung Gede Pangrango. Cibodas  2004.
Laporan Tahunan Seksi Konservasi Wilayah II Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. TN Gunung Gede Pangrango. Cibodas

Widiarti, Asmanah. 2003. Kajian Kredit Usaha Hutan Rakyat Dengan Pola Kemitraan Di Jawa Barat. Buletin Penelitian Hutan. P3H & KA. Bogor.


Post Top Ad

Your Ad Spot