ARTI PENTING EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP PELESTARIAN KAWASAN PESISIR - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, June 10, 2016

ARTI PENTING EKOSISTEM MANGROVE TERHADAP PELESTARIAN KAWASAN PESISIR

Oleh:
Dila Swestiani

ABSTRAK


Alih fungsi lahan mangrove menjadi tambak, pemukiman, kawasan industri serta penebangan oleh masyarakat
untuk berbagai keperluan mengakibatkan rusaknya ekosistem mangrove hingga berkurangnya luasan hutan mangrove. Dampak ekologis yang mungkin terjadi adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang ada dan berasosiasi dengan ekosistem mangrove, apabila hal ini dibiarkan dalam jangka panjang akan mengganggu ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya, sedangkan dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat adalah perembesan (intrusi) air asin ke dalam sumur-sumur air tawar, erosi garis pantai, pendangkalan muara sungai, hingga produktivitas tambak yang terus menurun. Dampak kegiatan manusia terhadap pelestarian ekoistem mangrove perlu diketahui supaya kita dapat memanfaatkan kawasan mangrove dengan tetap meminimalisir kerusakan lingkungan.

Kata Kunci: mangrove, pengelolaan ekosistem


  1. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan jumlah pulau sekitar 17.508 pulau dan panjang pantai kurang lebih 81.000 km, memiliki sumberdaya pesisir yang sangat besar, baik hayati maupun non hayati. Pesisir merupakan wilayah perbatasan antara daratan dan laut, oleh karena itu wilayah ini dipengaruhi oleh proses-proses yang ada di darat maupun di laut. Wilayah demikian disebut ekoton yaitu daerah transisi yang sangat tajam antara dua atau lebih komunitas (Odum, 1983 dalam Kaswadji, 2001). Sebagai daerah transisi, ekoton dihuni oleh organisme yang berasal dari kedua komunitas tersebut, yang secara berangsur-angsur menghilang dan diganti oleh spesies lain yang merupakan ciri ekoton, dimana seringkali kelimpahannya lebih besar dari komunitas yang mengapitnya.
Sebagai salah satu ekosistem pesisir, hutan mangrove merupakan ekosistem yang unik dan rawan. Ekosistem ini mempunyai fungsi ekologis dan ekonomis. Fungsi ekologis hutan mangrove antara lain: pelindung garis pantai, mencegah intrusi air laut, habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi aneka biota perairan, serta sebagai pengatur iklim mikro. Sedangkan fungsi ekonominya antara lain: penghasil keperluan rumah tangga, penghasil keperluan industri dan penghasil bibit.
Sebagian manusia dalam memenuhi keperluan hidupnya dengan mengintervensi ekosistem mangrove. Hal ini dapat dilihat dari adanya alih fungsi lahan (mangrove) menjadi tambak, pemukiman, industri dan sebagainya maupun penebangan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Dampak dari kegiatan manusia terhadap ekosistem mangrove, menyebabkan luasan hutan mangrove turun cukup mengkhawatirkan. Luas hutan mangrove di Indonesia turun dari 5,21 juta hektar antara tahun 1982-1987, menjadi 3,24 hektar, dan makin menyusut menjadi 2,5 juta hektar pada tahun 1993 (Widigdo, 2000). Bergantung cara pengukurannya, memang angka-angka di atas tidak sama antar peneliti. Khazali (1999) menyebut angka 3,5 juta hektar sedangkan Lawrence (1998), menyebut kisaran antara 3,24-3,73 juta hektar.
Dampak ekologis akibat berkurang dan rusaknya ekosistem mangrove adalah hilangnya berbagai spesies flora dan fauna yang berasosiasi dengan ekosistem mangrove, yang dalam jangka panjang akan mengganggu keseimbangan ekosistem mangrove khususnya dan ekosistem pesisir umumnya.



                                                                II.            HUBUNGAN EKOSISTEM MANGROVE DENGAN EKOSISTEM LAINNYA
2.1 Hutan Mangrove sebagai Ekosistem
Hutan mangrove adalah hutan yang terdapat di daerah pantai yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh pasang surut air laut tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Sedangkan daerah pantai adalah daratan yang terletak di bagian hilir Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbatasan dengan laut dan masih dipengaruhi oleh pasang surut, dengan kelerengan kurang dari 8% (Departemen Kehutanan, 1994 dalam Santoso, 2000).
Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies (Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000). Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau (Santoso, 2000).
Ekosistem utama di daerah pesisir adalah ekosistem mangrove, ekosistem lamun dan ekosistem terumbu karang. Menurut Kaswadji (2001), tidak selalu ketiga ekosistem tersebut dijumpai, namun demikian apabila ketiganya dijumpai maka terdapat keterkaitan antara ketiganya. Masing-masing ekosistem memiliki fungsi sendiri-sendiri.
Ekosistem mangrove merupakan penghasil detritus, sumber nutrien dan bahan organik yang dibawa ke ekosistem padang lamun oleh arus laut. Sedangkan ekosistem lamun berfungsi sebagai penghasil bahan organik dan nutrien yang akan dibawa ke ekosistem terumbu karang. Selain itu, ekosistem lamun juga berfungsi sebagai penjebak sedimen (sedimen trap) sehingga sedimen tersebut tidak mengganggu kehidupan terumbu karang. Selanjutnya ekosistem terumbu karang dapat berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak (gelombang) dan arus laut. Ekosistem mangrove juga berperan sebagai habitat (tempat tinggal), tempat mencari makan (feeding ground), tempat asuhan dan pembesaran (nursery ground), tempat pemijahan (spawning ground) bagi organisme yang hidup di padang lamun maupun di terumbu karang.
Di samping hal-hal tersebut di atas, ketiga ekosistem tersebut juga menjadi tempat migrasi atau sekedar berkelana organisme-organismee perairan, dari hutan mangrove ke padang lamun kemudian ke terumbu karang atau sebaliknya (Kaswadji, 2001).
2.2 Zonasi Hutan Mangrove
Menurut Bengen (2001), penyebaran dan zonasi hutan mangrove tergantung oleh berbagai faktor lingkungan. Berikut salah satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia:
1.       Daerah yang paling dekat dengan laut, dengan subtrat agak berpasir, sering ditumbuhi oleh: Avicennia spp. Pada zona ini biasa berasosiasi Sonneratia spp. Yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang kaya bahan organik.
2.       Lebih ke arah darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di zona ini juga dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.
3.       Zona berikutnya didominasi oleh  Bruguiera spp.
4.       Zona transisi antara hutan mangrove dengan hutan dataran rendah biasa ditumbuhi oleh Nypa fruticans,  dan beberapa spesies palem lainnya.




Berikut adalah sebaran jenis-jenis mangrove berdasarkan kelas penggenangan:
Tabel 1. Sebaran Jenis-jenis mangrove berdasarkan kelas penggenangan.
Tipe Pasang/Kelas Penggenangan (Watson, 1928)
Kelas penggenangan /salinitas dan frekuensi pasang (De Haan, 1931)
Frekuensi penggenangan (Chapman,1944)
Jenis pohon dominan
All high tides
Salinitas 10-25‰
Selalu tergenang,
1–2 x/hari, minimal 20 hari/bulan
530 – 700 kali/tahun
Avicennia, sp
Sonneratia, sp
Medium high tides
10-19 hari/ bulan
400-530 kali/tahun
Rhizophora, sp
Bruguiera sp
Normal high tides
9 hari / bulan

Xylocarpus sp
Heretiera sp
Spring tides only
Beberapa hari/bulan
150-250 kali/tahun
Lumnitzera sp
Bruguiera sp
Storm high tides only
Air tawar sampai payau
4-100 kali/tahun
Jenis-jenis marginal halofit
Jarang tergenang pasang

Nypa fruticans, Oncosperma, Cerbera
Sumber: Poedjirahajoe, 2005


            Daya Adaptasi Mangrove terhadap Lingkungan
Tumbuhan mangrove mempunyai daya adaptasi yang khas terhadap lingkungan. Bengen (2001), menguraikan adaptasi tersebut dalam bentuk:
1.       Adaptasi terhadap kadar oksigen rendah, menyebabkan mangrove memiliki bentuk perakaran yang khas: (1) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya: Avicennia spp., Xylocarpus, dan Sonneratia spp.) untuk mengambil oksigen dari udara; dan (2) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya: Rhizophora spp.).
2.       Adaptasi terhadap kadar garam yang tinggi:
a.       Memiliki sel-sel khusus dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan garam.
b.       Berdaun kuat dan tebal yang banyak mengandung air untuk mengatur keseimbangan garam
c.       Daunnya memiliki struktur stomata khusus untuk mengurangi penguapan.
3.       Adaptasi terhadap tanah yang kurang stabil dan adanya pasang surut, dengan cara mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horizontal yang lebar. Di samping untuk memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan menahan sedimen.
2.4 Manfaat Ekosistem Hutan Mangrove
Fungsi ekologis dan ekonomis hutan mangrove adalah (Santoso dan H.W. Arifin, 1998):
1.       Fungsi Ekologis:
a.       Pelindung garis pantai dari abrasi
b.       Mempercepat perluasan pantai melalui pengendapan
c.       Mencegah intrusi air laut ke daratan
d.       Tempat berpijah aneka biota laut
e.       Tempat berlindung dan berkembangbiak berbagai jenis burung, mamalia, reptil, dan serangga
f.        Sebagai pengatur iklim mikro
2.       Fungsi Ekonomis:
a.       Penghasil keperluan rumah tangga (kayu bakar, arang, bahan bangunan, bahan makanan, obat-obatan)
b.       Penghasil keperluan industri (bahan baku kertas, tekstil, kosmetik, penyamak kulit, pewarna)
c.       Penghasil bibit ikan, nener, udang, kepiting, kerang, madu, dan telur burung
d.       Pariwisata, penelitian, dan pendidikan

  1. DAMPAK KEGIATAN MANUSIA TERHADAP EKOSISTEM MANGROVE
Kegiatan manusia baik sengaja maupun tidak sengaja telah menimbulkan dampak terhadap ekosistem mangrove. Dapat disebutkan di sini beberapa aktivitas manusia terhadap ekosistem mangrove beserta dampaknya


PENUTUP
1.       Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem pesisir yang unik dan khas yang bernilai ekologis dan ekonomis
2.       Sebagai suatu ekosistem yang terbagi dalam berbagai tipe zonasi, hutan mangrove memiliki daya adaptasi yang bebas terhadap lingkungan, antara lain adaptasi terhadap kadar oksigen yang rendah, kadar garam yang tinggidan terhadap tanah yang labil dan adanya pasang surut.
3.       Dalam mempertahankan pelestarian kawasan pesisir, ekosistem mangrove berperan penting terhadap ekosistem lamun dan terumbu karang. Ketiga ekosistem pesisir ini memiliki ketergantungan satu sama lain, sehingga pengelolaannya tak bisa dipisahkan satu sama lain.
DAFTAR PUSTAKA
Bengen, D.G. 2000. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Bengen, D.G. 2001. Pedoman Teknis Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Dahuri, M., J. Rais., S.P. Ginting., dan M.J. Sitepu. 1996. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir secara Terpadu. PT. Pradnya Paramita. Jakarta.
Idawaty. 1999. Evaluasi Kesesuaian Lahan dan Perencanaan Lansekap Hutan Mangrove di Muara Sungai Cisadane, Kecamatan Teluk Naga, Jawa Barat. Tesis Magister. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
IUCN – The World Conservation Union. 1993. Oil ang Gas Exploration and Production in Mangrove Areas. IUCN. Gland, Switzerland.
Kaswadji, R. 2001. Keterkaitan Ekosistem di dalam Wilayah Pesisir. Sebagian bahan kuliah SPI 727 (Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut). Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB. Bogor.
Khazali, M. 1999. Panduan Teknis Penanaman Mangrove Bersama Masyarakat. Wetland International – Indonesia Programme. Bogor.
Lawrence, D. 1998. Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan secara Terpadu. The Great Barrier Reef Marine Park Authority. Townsville, Australia.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut suatu Pendekatan Ekologis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Poedjirahajoe, E. 2005. Ekologi Mangrove. Makalah disampaikan dalam Seminar Mangrove oleh Jurusan Budidaya Hutan UGM pada 20 Februari 2005. UGM. Yogyakarta.
Santoso, N., H.W. Arifin. 1998. Rehabilitasi Hutan Mangrove pada Jalur Hijau Di Indonesia. Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Mangrove (LPP Mangrove). Jakarta.
Santoso, N. 2000. Pola Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Makalah disampaikan pada Lokakarya Nasional Pengembangan Sistem Pengawasam Ekosistem Laut Tahun 2000. Jakarta.
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan Sumberdaya Alam I Wilayah Pesisir Tropis. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Widigdo, B. 2000. Diperlukan Pembakuan Kriteria Eko-Biologis untuk Menentukan “Potensi Alami” Kawasan Pesisir untuk Budidaya Udang. Prosiding Pelatihan untuk Pelatih Pengelolaan Wilayah Pesisir terpadu. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – IPB dan Proyek Pesisir dan Coastal Resources Center – University of Rhode Island. Bogor.
Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan – IPB dan Proyek Pesisir dan Coastal Resources Center – University of Rhode Island. Bogor.

Yahya, R.P. 1999. Zonasi Pengembangan Ekotourisme Kawasan Mangrove yang Berkelanjutan di Laguna Segara Anakan, Cilacap, Jawa Tengah. Tesis Magister. Program Studi Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Lautan – Program Pascasarjana IPB. Bogor.  

Post Top Ad

Your Ad Spot