TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Monday, May 30, 2016

TINJAUAN EMPIRIK TENTANG EKONOMI DAN MANAJEMEN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT

Oleh:
Dedi Sufyadi
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Siliwangi Tasikmalaya

ABSTRAK

                Hutan pegang peranan penting, terutama bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini. Berbagai kegiatan telah diikhtiarkan oleh pemerintah melalui beberapa kegiatan, seperti Proyek MA-LU; kegiatan penghijauan; dan kegiatan agribisnis perhutanan. Studi ini merupakan tinjauan empirik terhadap beberapa kegiatan tersebut di atas, yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Proyek MA-LU dapat menggerakkan pusat kekuasaan di desa sekitar hutan dalam menyelamatkan hutan. Kegiatan penghijauan dapat menggerakkan aparatur pemerintah, LSM dan masyarakat akan pentingnya kelestarian hutan. Kegiatan agribisnis perhutanan dapat menggerakkan
            Berbagai komponen masyarakat dalam pengelolaan hasil hutan. Disimpulkan, bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Pengelolalaan hutan memerlukan adanya peran serta aktif dari berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga, pemerintah hingga perusahaan baik usaha besar maupun usaha koperasi dan UKM. Disarankan, bahwa seluruh komponen masarakat apa pun statusnya perlu memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita.


I. PENDAHULUAN

            Hutan merupakan sumberdaya terpenting Negeri kita. Tidak hanya diperebutkan oleh orang-orang bermodal di dalam negeri, tetapi juga dilirik oleh Negara lain.
            Betapa pentingnya peran hutan bagi kehidupan manusia. Tak diragukan lagi sungguh besar sekali baik peran ekonomi maupun peran ekologinya. Berapa devisa yang hilang akibat adanya pembalakan liar ?. Berapa kerugian masyarakat akibat bencana alam seperti banjir, longsor dan kekeringan ?.
            Saking pentingnya kedudukan dan peranan hutan ini, Indonesia yang dianugerahi seluas 139.429.694 hektar sering disebut sebagai paru-paru dunia. Hanya sayang, Negeri yang punya paru-paru ini penduduknya kurus-kurus bahkan ironisnya sering dituding sebagai perusak hutan.
             Hutan memiliki fungsi yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, mulai dari fungsi sosial; fungsi ekonomi hingga fungsi hidroorologis; bahkan fungsi wisata. Hutan dapat mendatangkan devisa dan menciptakan kesejahteraan rakyat, disini lah peran hutan rakyat.
            Persoalan perhutanan di negeri ini yang paling menonjol terletak pada adanya penyerobotan lahan hutan dan adanya pencurian kayu. Menghadapi persoalan ini, Departemen Kehutanan tidak diam, telah berikhtiar dengan berbagai cara. Di tahun 2001 saja, Departemen Kehutanan telah melaksanakan sedikitnya 16 program pengelolaan sumberdaya hutan, diantaranya : program pengembangan perhutanan sosial, pogram partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan kehutanan; program memerangi penebangan liar; dan program peningkatan kemampuan dan penguatan kelembagaan.
            Dalam kaitan dengan tulisan tentang tinjauan empirik ekonomi dan manajemen pengelolaan hutan rakyat ini akan diulas antara lain tentang proyek MA-LU, kegiatan penghijauan : kegiatan agribisnis perhutanan; yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Untuk itu lah tulisan ini bertujuan untuk mengulas beberapa ikhtiar di atas, agar ditemukan alternatif baru guna penajaman program selanjutnya.
            Tinjauan empirik dapat diartikan sebagai ulasan yang didasarkan pada pengamatan di lapangan baik melalui hasil pengabdian atau pun hasil penelitian. Sedangkan hutan rakyat memiliki arti kawasan hutan yang diusahakan oleh penduduk untuk menghasilkan pendapatan, melalui penanaman tanaman pangan, sutera alam dan lebah madu.


II. PEMBAHASAN

            Beberapa kegiatan yang akan diulas berdasarkan hasil penelitian dan hasil pengabdian di lapangan diantaranya :

A. Proyek MA-LU
            Proyek MA-LU merupakan poyek kerjasama antara Mantri Hutan dan Lurah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa khususnya yang bertempat tinggal berbatasan dengan kawasan hutan.
            Berdasarkan hasil pengamatan di desa Pasirgeulis Kecamatan Padaherang Kabupaten Ciamis (Dedi Sufyadi, 1980) ditunjukkan bahwa adanya tanggapan positif dari masyarakat tani terhadap Proyek MA-LU adalah berkat adanya intensitas penyuluhan, penerangan yang kena dan dapat ditangkap serta dicerna dalam pemikiran mereka. 87,5 persen petani responden yang menyatakan tahu tentang adanya Proiyek MA-LU, tidak ada yang nyata-nyata menolak terhadap kehadiran Proyek ini.
            Proyek MA-LU yang merupakan konsep tepat dalam menunjang kegiatan prosperity approach perlu ditingkatkan pelaksanaannya.


B. Kegiatan Penghijauan
            Kegiatan penghijauan dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan dan tanggung jawab masyarakat serta Pemerintah Daerah dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta konservasi tanah dan air melalui peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat untuk secara swakarsa dan swadaya melaksanakan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah yang dikuasai.
            Kegiatan penghijauan memiliki dua tujuan, yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang adalah menjamin terciptanya fungsi hidroorologis DAS melalui rehabilitasi hutan dan lahan kritis serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut. Tujuan jangka pendek adalah berkembangnya kemampuan kelembagaan masyarakat, dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan kritis.
            Di Kabupaten Tasikmalaya, kegiatan penghijauan pernah dilaksanakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat yang bekerjasama dengan Penyuluh Kehutanan Lapangan membina kelompok-kelompok binaan yang tersebar di berbagai Kecamatan. Perlu kiranya di evaluasi kinerjanya saat ini.
            Dari hasil penelitian kerjasama antar UNSIL dengan Departemen Kehutanan tentang dampak manfaat kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis pada tahun 1998/1999 (Dedi Sufyadi, 2000), ditemukan beberapa data dan fakta.
            Dampak manfaat kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis berdasarkan aspek ekonomi dapat direkomendasikan sebagai baik. Hal ini dapat ditafsirkan lebih jauh, pertama kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis telah meningkatkan pendapatan petani secara nyata. Kedua, kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis dapat dikatakan bukan merupakan beban petani. Kondisi demikian merupakan modal bagi Kelompok Tani Penghijauan (KTP), karena menurut Maslow (1954) motif orang untuk berkelompok terdorong oleh maksud untuk memenuhi berbagai kebutuhan seperti kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan pokok sehari-hari, kebutuhan sosial untuk memperoleh kehormatan.
            Dampak manfaat sosial kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis dapat direkomendasikan sebagai baik. Hal ini dapat ditafsirkan lebih jauh, pertama tingkat pemahaman petani KTP terhadap manfaat penghijauan telah sangat baik. Kedua, tingkat motivasi petani KTP untuk melakukan penghijauan dapat dikatakan tinggi. Ke tiga, petani KTP telah memanfaatkan waktu dengan baik untuk kegiatan penghijauan. Ke empat, telah banyak lembaga formal maupun non formal yang memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam kegiatan penghijauan ini. Menurt Mosher, A.T. (1966) dorongan dan bantuan yang sistematis kepada kegiatan berkelompok dapat merupakan faktor pelancar penting bagi pembangunan pertanian.
            Dampak manfaat lingkungan kegiatan penghijauan di Kabupaten Ciamis dapat direkomendasikan sebagai baik. Hal ini dapat ditafsirkan lebih jauh, pertama petani KTP telah mengetahui dengan baik tentang kaitan antara penghijauan dengan lingkungan hidup. Ke dua, petani KTP telah mampu meluangkan waktunya dengan baik untuk memelihara tanaman penghijauan. Hal ini sangat menggembirakan, karena menurut Dirjen Pertanian Tanaman Pangan (1977) sebagai subjek petani merupakan pemimpin sekaligus pelaksana utama dalam mengembangkan usahataninya.
C. Agribisnis Perhutanan
            Strategi pengembangan sektor kehutanan harus memperhatikan segi pelestarian melalui upaya rehabilitasi pada kawasan-kawasann hutan yang telah mengalami kerusakan; serta mengamankan agar kawasan yang masih utuh tidak mengalami proses degradasi. Namun demikian khusus untuk hutan rakyat menurut Bappeda Kabupaten Tasikmalaya & Faperta UNSIL (2003) usaha-usaha ekonomi rakyat di sekitar hutan masih perlu ditingkatkan, terutama dalam segi pemasaran.
            Kelemahan aktual pengelolaan kehutanan di Kabupaten Tasikmalaya terletak pada pemasaran, sebagai contoh usaha lebah madu baru sampai pada pendekatan kelompok belum sampai pada pengembangan jalinan kemitraan. Rincian kelemahan lainnya dalam pemasaran hasil hutan diantaranya : biaya pemasaran tinggi, akibat skala usaha kecil-kecil; petani belum mampu meraih nilai tambah dalam menjual produk kayu dan sutera alam; petani memiliki bargaining position yang lemah akibat terbentuknya oligopsoni.
            Oleh karena itu petani di kawasan hutan perlu membangun koperasi yang dapat meningkatkan daya tawar dan kekuatan ekonominya. Jalinan kemitraan perlu dibangun dengan pengelola hutan Negara, agar dapat lebih memudahkan dalam pemasaran hasil.
            Dengan meningkatnya daya beli petani di kawasan hutan diharapkan dapat mengurangi kerusakan hutan, sehingga pada gilirannya hutan lestari dapat tercipta; diharapkan pula dengan meningkatnya daya beli petani, kelompok beruang mengalami hambatan dalam menggoda petani untuk bersama-sama mengeksploitasi sumberdaya hutan.
            Dengan bersatunya petani di kawasan hutan dalam wadah koperasi diharapkan dapat melawan ulah kelompok perampok yang suka mencaplok kawasan hutan dengan kemampuan modalnya semata-mata hanya untuk kepentingan dirinya.
            Demikian lah ulasan singkat perihal ke tiga kegiatan di atas berdasarkan kajian ilmiah yang mana penulis pernah terlibat didalamnya. Selamat pembela hutan, enyah lah perusak hutan.

III. Kesimpulan dan Saran.
            Disimpulkan, bahwa diperlukan adanya keseimbangan antara usaha ekonomi dan usaha ekologi dalam pengelolaan hutan. Pengelolaan hutan membutuhkan adanya peran serta berbagai komponen masyarakat mulai dari satuan rumah tangga, pemerintah hingga perusahan baik usaha besar maupun usaha koperasi.
            Disarankan, seluruh komponen masyarakat, apa pun statusnya memiliki kesadaran dan pemahaman yang sama, bahwa hutan lestari dapat menyelamatkan kehidupan kita.



DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Kabupaten Tasikmalaya & Faperta UNSIL. 2003. Master Plan Pengembangan Agribisnis Kabupaten Tasikmalaya.
Dedi Sufyadi B. 1980. Tanggapan Masyarakat Tani Terhadap Proyek MA-LU di Desa Pasirgeulis Kecamatan Padaherang Kabupaten Ciamis. Skripsi. Unpblished.
Dedi Sufyadi. 2000. Dampak Manfaat Kegiatan Penghijauan di Kabupaten Ciamis Pada Tahun 1998/1999. Faperta UNSIL. Tasikmalaya.
Direktorat Jenderal Pertanian Tanaman Pangan. 1977. Vademekum Bimas. Volume III. Badan Pengendali BIMAS. Jakarta.
Maslow, A.H. 1954. Motivation and Personality. New York. Harper.

Mosher, A.T. 1966. Getting Agricultural Moving. Disarikan oleh S. Krisnadi dan Bahrin Samad. Yasaguna. Jakarta.

Post Top Ad

Your Ad Spot