TEKNIK CABUTAN : ALTERNATIF PERBANYAKAN BIBIT UNTUK HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, May 3, 2016

TEKNIK CABUTAN : ALTERNATIF PERBANYAKAN BIBIT UNTUK HUTAN RAKYAT

TEKNIK CABUTAN  ALTERNATIF PERBANYAKAN BIBIT UNTUK HUTAN RAKYAT

Oleh :
Encep Rachman
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis

ABSTRAK
            Perbanyakan bibit umumnya dapat dilakukan dengan dua cara,  yaitu cara generatif dan vegetatif.   Sebagian besar jenis-jenis pohon hutan memperbanyak diri secara alami melalui biji (generatif), namun ada juga jenis tertentu yang memperbanyak diri  dengan menumbuhkan tunas baru dari sistem perakarannya. Secara teknis silvikultur, perbanyakan generatif adalah perbanyakan tanaman yang berasal dari biji, sedangkan perbanyakan vegetatif adalah perbanyakan yang diperoleh dari organ vegetatif tanaman seperti batang dan tunas pucuk.  Teknik vegetatif yang umum digunakan  untuk pembibitan antara lain pencangkokan, stek dan kultur jaringan. 
            Keuntungan yang diperoleh dari pembibitan dengan cara cabutan, yaitu : (1).  Bibit sudah tersedia secara gratis di hutan dan tidak memerlukan proses perkecambahan (2). Waktu di pembibitan menjadi lebih singkat sehingga harga  per satuan bibit menjadi lebih murah. (3). Bibit yang dicabut sudah tertulari cendawan/ektomikoriza dari pohon induk sehingga  dapat menjamin pertumbuhan yang baik.
Dalam mengumpulkan bibit hal penting yang diperhatikan adalah mengenal jenis bibit yang akan diambil, pemilihan pohon induk, serta waktu pengambilan bibit. Sedangkan teknik pengambilan bibit yang perlu diperhatikan adalah ukuran bibit, cara mencabut, pengangkutan bibit, pengguntingan, penyapihan dan pemeliharaan sapih.

Kata kunci : Anakan alam, cabutan, perbanyakan bibit


I.  PENDAHULUAN


            Pembibitan tanaman merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam upaya penyediaan bibit tanaman untuk berbagai kepentingan, seperti penghijauan, reboisasi, restorasi maupun untuk kepentingan penanaman pada hutan tanaman industri dan hutan rakyat.  Pekerjaan ini menjadi  penting karena  untuk menunjang kepentingan-kepentingan tersebut  dituntut ketersediaan bibit dengan jumlah dan kualitas yang memadai.         Perbanyakan bibit umumnya dapat dilakukan dengan dua cara,  yaitu cara generatif dan vegetatif.   Sebagian besar jenis-jenis pohon hutan memperbanyak diri secara alami melalui biji (generatif), namun ada juga jenis tertentu yang memperbanyak diri  dengan menumbuhkan tunas baru dari sistem perakarannya.
            Pemilihan cara perbanyakan yang akan digunakan  untuk program pengadaan bibit pohon hutan skala besar, tergantung antara lain dari tujuan penanaman, kualitas genetik bibit yang diinginkan, tingkat penguasaan teknologi perbanyakan, serta periodisitas masa berbuah setiap jenis pohon.  Perbanyakan bibit dengan cara generatif yang mengandalkan biji sebagai sumber benihnya memerlukan  proses  panjang, karena sangat tergantung pada ketersediaan buah matang.  Di hutan,  tidak semua pohon dapat berbuah sepanjang tahun, bahkan pada jenis-jenis tertentu tidak berbuah pada saat musim buah matang.  Selain itu dalam penanganan benih  sangat ditentukan oleh karakteristik fisiologis biji dari setiap jenis pohon
            Alternatif lain dari perbanyakan secara generatif adalah dengan cara cabutan, yaitu dengan mencabut anakan tanaman yang tumbuh di bawah tegakan/pohon induk  Ada beberapa keuntungan yang diperoleh dari pembibitan dengan cara cabutan, yaitu : (1). bibit sudah di lantai hutan (2). waktu di pembibitan menjadi lebih singkat sehingga harga  per satuan bibit menjadi lebih murah. (3). bibit sudah tertulari cendawan/ektomikoriza dari pohon induk sehingga  dapat menjamin pertumbuhan yang baik.   Pembibitan dengan cara cabutan memerlukan kecermatan tertentu, baik dalam memilih anakan untuk dijadikan bibit maupun dalam penanganan dan pemeliharaan bibit.  Tulisan ini secara singkat menyampaikan teknik pembibitan dengan cara cabutan yang berasal dari hutan rakyat.


II.  TEKNIK PENGUMPULAN BIBIT

2.1.   Mengenal Jenis  Bibit
            Salah satu syarat dalam kegiatan pengumpulan bibit dengan cara cabutan adalah harus mengenal nama jenis bibit tersebut.  Untuk itu diperlukan pengenal jenis pohon yang berasal dari daerah setempat.  Apabila tidak terdpat pengenal jenis pohon maka terhadap bibit harus dibuatkan spesimen guna identifikasi jenis di lembaga yang berwenang. Pekerjaan ini penting untuk menghindari kesalahan dalam menentukan jenis bibit.  Kesalahan ini bisa terjadi karena tidak semua buah yang jatuh dan tumbuh langsung dibawah pohon/tegakannya sendiri, bisa saja jatuh dan tumbuh bercampur di bawah tegakan lainnya.
            Mengenal jenis bibit pada tingkat semai (anakan) biasanya lebih sulit dibandingkan pohon dewasa.  Umumnya yang digunakan untuk mengenal anakan ini adalah bentuk dan ukuran daun, disamping adanya kulit biji yang masih melekat atau berserakan disekitar anakan tersebut.  Jadi pengenalan jenis ini diperlukan agar bibit yang akan dikumpulkan benar-benar jenis yang diinginkan.  Bila sudah diketahui jenisnya maka akan diketahui cara penanganan dan pemeliharaan bibitnya

2.2.   Pemilihan Pohon Induk
            Pohon induk  yang dimaksudkan disini adalah tegakan pohon yang memiliki penampakan baik.  Ciri-ciri pohon dimaksud antara lain :
·   ukuran pohon besar
·   batang lurus
·   percabangan normal
·   bentuk tajuk normal
·   sehat , tidak  cacat.
            Dari pohon seperti ini diharapkan dapat diperoleh bibit dengan kualitas baik (bibit unggul).  Untuk kepentingan pengambilan bibit di bawah tegakan secara terus menerus, maka pada tegakan  ini harus diberi tanda, misalnya dengan memberi nomor urut.  Bahkan untuk  pendataan yang lengkap,  terhadap pohon ini dicatat nomor, nama pohon, diameter, tinggi, keadaan pohon dan ditentukan posisi pohonnya, dicatat masa berbunga, berbuah dan waktu buah matang serta dilakukan pemeliharaan.  Hal ini diperlukan  bila memungkinkan  di waktu mendatang pohon-pohon tersebut dapat dijadikan sebagai pohon induk yang sesungguhnya sebagai sumber benih.

2.3.  Waktu Pengumpulan Bibit
            Tidak semua anakan yang tumbuh dibawah pohon induk  perlu langsung dicabut untuk dijadikan bibit, karena  sebagian anakan  di bawah tegakan hutan   dapat bertahan cukup lama.   Setelah satu tahun sebagian besar dari  anakan-anakan itu  masih tetap hidup dan masih dapat dicabut pada periode pengumpulan bibit berikutnya.  Waktu pengumpulan bibit sebaiknya dilakukan setelah terjadi hujan lebat atau pada saat kondisi tanah dihutan telah benar-benar basah.  Gunanya adalah:
a.       Pencabutan bibit dengan cara puteran (cangkokan) pada  kondisi tanah yang basah sangat kecil kemungkinan   terjadinya kerusakan pada akar
b.      Ektomikoriza dari bibit tidak rusak dan Lumpur yang menempel disekeliling akar bisa mencegah akar tidak cepat  kering, sehingga bisa tumbuh baik setelah disapih atau ditanam di tempat lain.
c.       Setelah hujan udara menjadi lembab, kondisi ini sangat menguntungkan bagi bibit, karena tidak terjadi kekeringan yang dapat menimbulkan kematian bibit pada waktu pengangkutan


I.       TEKNIK PEMBIBITAN

3.1.   Ukuran Bibit
            Karakteristik pertumbuhan tingkat semai setiap jenis berbeda  satu dengan linnnya.  Oleh karena itu ukuran bibit yang akan dipilih sangat tergantung pada  karakteristik  dan penampakan pertumbuhan anakan tersebut.  Umumnya yang dijadikan ukuran dalam pemilihan bibit yang akan dicabut adalah jumlah daun dan tinggi anakan.   Setiap jenis anakan cenderung  berbeda dalam menghasilkan jumlah daun dan pertumbuhan tinggi.  Ada jenis dengan jumlah daun sedikit namun tingginya cukup,  sebaliknya terdapat jenis-jenis yang masih pendek dengan jumlah daun yang banyak.  Bibit yang  terlampau besar akan merepotkan dalam pencabutan, pengangkutan serta pengguntingan tunas dan akar, sehingga biayanya menjadi mahal.  Bibit yang akan dicabut idealnya adalah bibit dengan jumlah  6 – 8 daun, termasuk  pasangan daun pertama.  Tinggi masksimal bibit yang masih dapat dijadikan cabutan sebaiknya tidak melebihi tinggi 60 cm.

3.2.  Cara Mencabut Bibit
            Bibit yang baik  adalah bibit yang tumbuh  di bawah  pohon induk dan berada di dalam proyeksi tajuk.  Oleh karena itu anakan  yang letaknya  jauh dari proyeksi tajuk pohon induk (+ 10 m) sebaiknya tidak dipilih untuk dijadikan bbit   Untuk memperoleh bibit dengan kualitas baik,  berikut ini beberapa petunjuk  cara mencabut bibit  yang berasal dari hutan alam, sebagai berikut :
a.   Bibit dipegang pada  bagian batang bawah sedekat mungkin dengan tanah.
b.  Dibantu dengan alat pencongkel tanah bibit bersama tanah ditarik lurus searah batangnya dengan perlahan
c.   Tidak boleh mencabut dengan cepat dan paksa
d.                          Pencabutan harus hati-hati sampai terasa bibit mulai lepas dari tanah
e.       Perhatikan  agar akar  samping yang halus  tidak terputus
f.       Pencabutan  bibit dilakukan satu persatu
g.      Bibit setelah dicabut harus dijaga agar tidak kena sinar matahari langsung dan jangan dibiarkan terlalu lama dalam tempat bibit
h.      Bibit disusun dalam tempat bibit (karung, kardus, keranjang, ember, dll) dan diatur dengan akar ke bawah dan daun keatas.  Pengaturan ini dilakukan untuk menghindari daun-daun bibit menjadi kotor dan mengakibatkan munculnya jamur yang merusak bibit. 

3 3.  Pengangkutan Bibit
            Pengangkutan bibit cabutan dari tempat pengumpulan ke tempat pembibitan dapat dilakukan dengan menggunakan karung, kantong plastik, keranjang atau ember.  Dalam pengangkutan perlu diperhatikan agar bibit dijaga kelembabannya.  Apabila menggunakan karung sebaiknya karung tersebut  dalam keadaan basah.  Hindari bibit dari penyinaran matahari langsung agar tidak terjadi kenaikan suhu diantara bibit yang berakibat daun menjadi layu atau mati.

3.4.   Pengguntingan bibit
            Bibit yang berasal dari cabutan sebenarnya sudah dapat langsung disapih di areal pembibitan atau penyapihan.  Akan tetapi seringkali  bibit yang sudah terlanjur dicabut tidak sesuai dengan yang diharapkan, seperti batang dan perakaran yang bengkok, jumlah daun yang terlampau banyak, atau pertumbuhan akar yang tidak seimbang dengan jumlah daun.  Terhadap bibit dengan kondisi tersebut maka kita harus melakukan perlakuan pengguntingan
            Pengguntingan dilakukan terhadap akar pena yang bengkok agar memperoleh sapihan yang lurus dalam polybag.  Apabila akar samping tertinggal hanya sedikit maka perlu pengguntingan bagian tunas atau daun.  Pengguntingan daun dilakukan setengahnya dari panjang daun.  Pengguntingan batang atau cabang perlu dilakukan juga apabila akar bibit yang tertinggal hanya sedikit.  Hal ini diperlukan untuk  menjamin kelangsungan pertumbuhan bibit, karena fungsi akar dalam menyerap dan mensuply makanan tidak terlalu berat. 

3..5 .  Penyapihan
            Penyapihan yang dimaksudkan disini adalah  penanaman bibit  cabutan ke dalam media sapih (polybag)   Bibit yang telah terseleksi atau telah melalui pengguntingan pada bagian tanaman harus segera  ditanam ke media sapih.  Pada prinsipnya media sapih harus mempunyai empat fungsi pokok untuk memberikan pertumbuhan yang baik bagi tanaman, yaitu mampu menyediakan tunjangan mekanik, menyediakan aerasi yang baik, mampu menyediakan air yang tersedia serta menyediakan hara yang diperlukan bagi pertumbuhan tanaman.
            Wadah (Kontainer) merupakan tempat media sapih dimana bibit disapih dan di pelihara. Wadah sapih yang sering digunakan adalah kantong plastik (polybag) berukuran 15 cm x 20 cm. Bagian bawah dan samping wadah sapih dilubangi sehingga air yang melebihi kapasitas lapang media dapat keluar melalui lubang tersebut. Penamanan bibit harus dilakukan secara hati-hati agar akar dan daun yang telah telah tumbuh tidak rusak.  Penanaman bibit dilakukan tegak lurus  dengan cara melubangi bagian atas media dengan stik kecil  ( sebesar pensil ) sedalam mungkin agar akar tidak patah atau terlipat.
            Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari di tempat yang  teduh  atau di areal pesemaian naungan (shaded area) untuk menghindari kerusakan bibit akibat perubahan suhu udara dari tempat pengumpulan bibit ke tempat penyapihan.  Pada setiap bedeng sapih yang telah terisi bibit, harus diberi label yang berisi keterangan jenis tanaman , tanggal penyapihan, tanggal rencana bibit siap tanam dan jumlah bibit dipersemaian.


3.6.  Pemeliharaan Sapihan
      Pemeliharaan sapihan bertujuan untuk mendapatkan kualitas bibit yang baik di persemaian. Kegiatan ini meliputi penyiraman, penyulaman, pemupukan dan pembersihan gulma. Penyiraman dilakukan setiap hari, yaitu pagi ( 07.00 – 09.00 ) dan sore ( 15.00 – 17.00 ), kecuali bila hari hujan, maka penyiraman tidak usah dilakukan. Pada kondisi udara sangat kering dapat dilakukan penyiraman lebih dari 2 kali.
            Penyulaman pertujuan untuk memgganti bibit yang mati atau bibit yang tumbuh merana dengan bibit baru. Penyulaman dilakukan pada bibit yang tidak tumbuh yang dilkaukan sampai umur 2 bulan. Pemupukan di butuhkan di persemaian jika pertumbuhan bibit kurang optimal. Pupuk yang di gunakan adalah urea 2 gram/bibit atau NPK 3 gram/bibit. Pemupukan dilakukan pada saat umur bibit mencapai 3 bulan. Penyiangan dilakukan secara periodik terhadap gulma yang mengganggu pertumbuhan bibit di persemaian.
            Untuk pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan pencegahan dengan cara penyemprotan secara periodik. Pencegahan hama dan pnyakit di lakukan dengan cara penyemprotan inssektisida dan fungisida setiap 1 bulan sekali di mulai bibit umur 1 bulan. Jenis insektisida yang biasa di gunakan tergantung dari hama yang ditemukan.   Selain itu digunakan fungisida untuk mencegah dumping off pada awal pertumbuhan bibit dan untuk mencegah jamur daun.


II.    PENUTUP

            Isi tulisan  teknik pembibitan dengan cara cabutan  dari hutan rakyat ini  berlaku umum  untuk semua jenis pohon, belum difokuskan pada satu  atau beberapa jenis pohon.  Oleh karena itu  untuk memperoleh data dan informasi yang lebih akurat tentang teknik pembibitan dengan cara cabutan  setiap jenis pohon yang berasal dari hutan rakyat perlu dilakukan penelitian   Namun demikian, untuk penggunaan yang mendesak dalam hal pembibitan dengan cara cabutan  tulisan ini dapat menjadi acuan, karena uraian dan penjelasan yang disampaikan adalah mengacu pada referensi dan pengalaman lapangan yang telah dilakukan.


DAFTAR PUSTAKA

Leksono, B.  2003.  Teknik Penunjukan dan Pembangunan Kebun Benih.  Info Teknis Vol.1 No.1.Tahun 2003.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta.
Puti, K.P. dan Y. Bramasto. 2003.  Pemilihan Jenis Eksotik sebagai alternatif dalam Pembangunan Hutan Tanaman.  Info Benih. Vol.8. No.2. Desember 2003.  Pusat Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman. Yogyakarta.

Schmidt L. 2004.  Petunjuk Benih Bermutu Kerjasama Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan dengan Denish International Development Assistance (DANIDA) dan Indonesia Forest Seed Project. Jakarta

Smith. W.T.M.  1990.  Pedoman Sistim Cabutan Bibit Dipterocarpaceae.  Editors : Soetarso  P dan J. Tangketasik.  Asosiasi Panel Kayu Indonesia. Jakarta

Tata M.H. L., R. Bogigdarmanti dan Y. Lisnawati. 2003.  Teknik Pembibitan Beberapa Jenis Pohon Hutan.  Paket Teknologi Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor




Post Top Ad

Your Ad Spot