TEKNIK BUDIDAYA JATI PUTIH (Gmelina arborea Roxb) - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, May 11, 2016

TEKNIK BUDIDAYA JATI PUTIH (Gmelina arborea Roxb)


TEKNIK BUDIDAYA JATI PUTIH (Gmelina arborea Roxb)

Oleh :
Nana Sutrisna
(Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)
 

A.   GAMBARAN UMUM

Jati putih  (Gmelina arborea) termasuk dalam famili Verbenaceae merupakan salah satu jenis tanaman yang memiliki beberapa keunggulan  antara lain cepat tumbuh, tahan kebakaran, mudah dalam teknik budidaya, dan kualitas kayunya yang cukup baik untuk berbagai kegunaan seperti furniture, pertukangan, kerajian dan ukiran. Tumbuh secara alami di Asia Selatan (India, Banglades, Srilangka, dan daratan China bagian selatan), dan di sebagian Asia Tenggara. Sedangkan Jati Putih di Indonesia merupakan jenis eksotik yang utuk pertama kali didatangkan dari Pilipina.
Pada tempat tumbuh optimum, jenis ini pada umur 8 – 12 tahun dapat mencapai tinggi 30 meter dengan diameter lebih dari 60 cm (Budiman Achmad, 2001 ; Alrasyid dan Widiarti, 1992). Tumbuh baik pada ketinggian 0 – 800 m dpl. Curah hujan optimum berkisar antara 1800 – 2300 mm/tahun dengan bulan kering 3 - 5 bulan dan kelembaban minimum 40%, temperatur rata-rata 21-28ºC dengan suhu maksimum rata-rata bada bulan kering 24 -  35ºC, dan suhu minimum rata-rata pada bulan basah 18 - 24ºC
Jati Putih merupakan jenis pionir yang memerlukan cahaya langsung, sehingga tidak terlalu cocok jika ditanam secara sulaman. Disamping itu tanaman ini memiliki percabangan yang dominan terutama jika ditanam pada jarak yang lebar sehingga jika terlambat dilakukan pemangkasan/ prunning batang akan cenderung bengkok disebabkan beban cabang yang berat pada batang muda.
Untuk memperoleh  hasil dan kualitas produksi yang optimal dari tanaman Jati Putih diperlukan teknik budidaya yang lebih disesuaikan, antara lain  pola tanam yang serempak pada lahan yang sudah land clearing, dengan jarak tanam yang lebih rapat.

B.   BUDIDAYA

1.    Pengadaan Benih

Benih sebaiknya diperoleh dari sumber-sumber benih yang telah di-sertifikasi/ teridentifikasi, seperti Tegakan Benih, Areal Produksi Benih, atau Kebun Benih. Pelaksanaan pemanenan/ pengumpulan buah yang akan digunakan sebagai benih perlu memperhatikan saat yang tepat yaitu pada saat buah mencapai masak fisiologis yang dicirikan dengan kulit buah berwarna kekuningan.

2.    Penanganan Benih
Meliputi kegiatan pengunduhan, ekstraksi dan penyimpanan benih
-         Pengunduhan/ pengumpulan
Secara sederhana pengumpulan buah dilakukan terhadap buah yang sudah jatuh dan masih segar
-          Ekstrasi Benih
Untuk menjaga kualitas Benih maka terhadap buah yang telah dikumpulkan secepatnya dilakukan ekstrasi. Ekstrasi dapat dilakukan secara manual dengan diinjak-injak, setelah terlebih dahulu dihimpun dalam karung agar buah/ benih yang sedang diekstrasi tidak berhamburan. Ekstrasi dapat pula dilakukan  dengan menggunakan food prosesor seperti alat pengupas kopi yang telah dimodifikasi (Danu dan Zanzibar, 2000 dalam Aam Aminah dan Dede J.Sudrajat, 2004). Benih yang telah diekstrasi digosok/ diremas dengan pasir halus untuk menghilangkan sisa daging buah dan selanjutnya dicuci dengan air bersih yang mengalir.
-                       Penyimpanan Benih
Setelah proses ekstrasi selanjutnya benih dijemur ± 2 hari hinggga kadar air benih turun sampai  5 – 8%, selanjutnya benih disimpan dalam wadah yang kedap (plastik) dan diletakan di dalam ruangan.

3.    Pembibitan
Pertumbuhan bibit Jati Putih di persemaian umumnya sangat pesat - hanya dalam waktu 2 – 3 bulan bibit sudah siap tanam - oleh karena itu pelaksanaan pembibitan harus disesuaikan  dengan waktu tanam yaitu ± 3 bulan sebelumnya  (sekitar bulan Agustus)
-          Penaburan Benih
Meskipun ukuran benih jati putih relatif besar tetapi karena setiap benih umumnya memiliki lembaga/ bakal tanaman lebih dari satu – disamping waktu perkecambahan yang relatif tidak seragam – maka sebaiknya proses pengecambahan dilakukan dalam bedeng tabur. Penggunaan bedeng tabur terutama dimaksudkan agar proses seleksi bibit – ukuran maupun mutu bibit – lebih mudah dilakukan pada saat penyapihan sehingga dihasilkan bibit yang seragam dalam bedeng persemaian.
Untuk memudahkan penanganan dan pemeliharaan disarankan menggunakan ukuran  bedeng tabur 5 x 1 meter. Media  yang digunakan adalah  campuran tanah dan pasir (1:1). Penaburan benih dilakukan setelah media disiram air secara merata, cara penaburan  benih dilakukan satu persatu dengan posisi benih yang berlubang menghadap ke atas, dan benih tidak sepenuhnya terbenam (lubang benih dibiarkan tampak). Benih di bedeng tabur memerlukan penyinaran  matahari secara penuh dan perlu dilakukan penyiraman setiap pagi.

-          Penyapihan Bibit dan Pemeliharaan Persemaian
Setelah 2 – 3 minggu atau setelah memiliki sepasang daun,  bibit yang sehat dan normal dipindahkan ke polybag di persemaian. Media semai yang digunakan adalah campuran tanah gembur (top soil) dengan kompos (1:1), ukuran polybag yang tepat adalah 12 x 20 cm atau 13 x 17 cm.  Pemeliharaan bibit dipersemaian meliputi penyiraman, pembersihan gulma,  pemberantasan hama/penyakit dan perenggangan/ penggeseran (setelah pertumbuhan bibit cukup rapat). Disamping itu perlu dilakukan pengurangan intensitas cahaya 50% terutama pada waktu bibit baru disapih dengan memasang naungan (shadding net).
Perenggangan perlu dilakukan agar batang menjadi kokoh dan pertumbuhan bibit normal, karena itu diperlukan lahan persemaian sedikitnya 2 kali luas bedeng persemaian. Penggeseran polybag pada saat perenggangan juga berguna  untuk memutus akar yang sudah menembus tanah (akar yang keluar sebaiknya dipotong agar pertumbuhan akar terkonsentrasi dalam polybag) sehingga kekompakan media dengan akar tetap terjaga dengan demikian bibit tidak mengalami stress (layu) pada saat pengangkutan ke lokasi penanaman.
Yang perlu diperhatikan setelah perenggangan biasanya bibit mudah rebah sehingga perlu penanganan lebih intensif sebab keterlambatan 1 hari saja dalam mengembalikan posisi bibit  akan membuat bibit menjadi bengkok dan mutu bibit menjadi rendah.
Penurunan mutu bibit juga sering terjadi setelah bibit tiba di lokasi penanaman dan bibit tidak segera ditanam. Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya pengangkutan bibit dilakukan setelah lokasi penanaman betul-betul siap dan pelaksanaan penanaman sudah dijadualkan.
Pemupukan dengan NPK (5 gram/liter air) dilakukan hanya jika dianggap perlu, karena dengan menggunakan media campuran tanah dan kompos pertumbuhan bibit di persemaian pada umumnya cukup normal. Sesaat setelah pemupukan dengan NPK yang dilarutkan, daun/ pucuk yang terkena larutan agar dibilas dengan air bersih untuk menghindari kerusakan.

4.    Pembiakan Vegetatif
Pembiakan vegetatif hanya merupakan alternatif jika persediaan benih (generatif) terbatas, atau untuk memanfaatkan sisa bibit dari tahun semai sebelumnya.Pembiakan vegetatif  dilakukan dengan menggunakan stek batang yang berasal dari bibit  umur 1 tahun (diameter batang ≤ 1 cm). Secara manual (tanpa perlakukan khusus) cara ini lebih mudah dilakukan dengan tingkat keberhasilan tumbuh yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan stek pucuk. Disamping itu ketersediaan bahan stek batang umumnya lebih banyak jika dibandingkan dengan bahan stek pucuk. Untuk menghasilkan kualitas batang bibit yang tegak/ lurus sebaiknya  ujung stek yang muncul dipermukaan media tidak terlalu tinggi (± 2 cm). Pelaksanaan pembiakan vegetatif dapat dilakukan langsung di dalam polybag  dengan menggunakan media yang sama dengan pembiakan generatif (benih), tetapi kelembabannya harus lebih terjaga.


C.   PENANAMAN

Penanaman dilakukan pada saat curah hujan sudah merata atau sekitar Bulan Nopember- Desember. Kegiatan penanaman didahului dengan persiapan dan pembersihan lahan  (land clearing), pengukuran dan pemasangan ajir, dan pembuatan lubang tanam dengan ukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm. Pemberian pupuk kandang dilakukan 1 - 2 minggu sebelum penanaman.  Sedangkan jarak tanam terbaik adalah 2 x 2 meter. Jarak tanam yang rapat ini dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tinggi dan mengurangi pengembangan cabang yang dominan, sehingga diharapkan pertumbuhan batang menjadi lurus.

Dalam penanaman jati putih dapat dilakukan pola tumpangsari dengan tanaman palawija atau jenis lainnya, tetapi karena jarak tanam yang relatif rapat maka tumpangsari dengan palawija hanya dapat  dilakukan pada tahun pertama. Untuk tumpangsari dengan tanaman tahunan disarankan menggunakan tanaman rempah yang mempunyai sifat toleran terhadap sinar matahari seperti Kapol (jarak tanam kapol 2 x 2 meter), tetapi penggunaan jenis tanaman tumpangsari ini pada tahun-tahun berikutnya perlu diperhatikan persaingan kebutuhan unsur hara tanah dengan tanaman pokok.











Gambar 1.  Tanaman Jati Putih umur 90 hari, Jarak tanam 2 x 2 meter
 Di Kompleks Universitas Galuh Ciamis


D.   PEMELIHARAAN DAN PEMANENAN

Kegiatan pemeliharaan meliputi, penyiangan, pemupukan, pemangkasan cabang, pemberantasan hama/penyakit, dan penjarangan. 

-          Penyiangan, Pemupukan dan Pemangkasan Cabang,
Kegiatan ini dilaksanakan pada tahun pertama dan tahun kedua. Penyiangan (pendangiran dan penggemburan tanah) dilaksanakan sedikitnya 3 kali dalam setahun,  sedangkan pemangkasan cabang – semakin cepat dan semakin sering dilakukan akan semakin baik untuk pertumbuhan dan kualitas batang disamping pelaksanaannya lebih mudah karena cabang masih kecil dan lunak.
Pemangkasan yang terlambat sebaiknya dihindari sebab disamping pohon cenderung bengkok karena beban cabang yang berat pada batang muda, juga pelaksanaan pemangkasan lebih memerlukan waktu dan tenaga – lebih dari itu dampak/ bekas yang ditimbulkan juga kurang bagus, walaupun teknik pemangkasan dilakukan tepat pada pangkal cabang dan bekas cabang dapat tertutup oleh jaringan kulit baru – dan ini diharapkan berfungsi menghindari serangan hama/penyakit (secara teori) – tetapi pada bekas-bekas cabang tersebut akan timbul benjolan –benjolan besar karena jaringan cabang di dalam batang terus berkembang/ tumbuh, kondisi ini berdampak terhadap turunnya kualitas kayu (logs).  







Oval: a Oval: b
 



Gambar 2.   Tanaman Jatiputih umur 16 bulan di Loka Litbang Hutan Monsoon Ciamis, dengan perlakukan pemangkasan yang berbeda :
a. Pemangkasan sejak awal/teratur,  menghasilkan batang yang lurus
b. Pemangkasan yang terlambat,  menghasilkan batang bengkok

Berbeda dengan dahan yang mati (baik secara alami atau karena pemangkasan), jaringan cabang pada bagian pangkal (batang induk) juga turut mati dan bekas dahan tersebut akan hilang diisi oleh pertumbuhan batang.   Walaupun (secara teori) dalam proses pembusukan dahan – terhadap bekas dahan yang tidak segera tertutup jaringan kulit baru - beresiko masuknya hama/penyakit, tetapi belum pernah dilaporkan terjadi kasus serangan fatal dengan modus seperti itu.
Pemupukan pertama dengan NPK tablet sebanyak 4 tablet per-pohon diberikan 2 atau 3 bulan setelah penanaman dan dilaksanakan setelah penyiangan pertama, sedangkan pemupukan tahun kedua diberikan pada awal musim hujan. Jika pola tanam tumpangsari menggunakan  tanaman tahunan seperti ‘kapol’ disarankan kegiatan penggemburan tanah dan pemberian pupuk kandang dapat dilakukan pada tahun-tahun berikutnya secara merata, hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dan memenuhi ketersediaan hara untuk semua tanaman.

-          Pemberantasan Hama dan Penyakit,
Pemberantasan hama dan penyakit disesuaikan dengan jenis serangan, dapat menggunakan insektisida, fungisida, atau  dapat pula dengan pemusnahan (dibakar) secara fisik terhadap pohon/ bagian pohon yang diserang.
Hama/penyakit yang dilaporkan pernah menyerang antara lain larva Pryonoxsystus sp., Calapepla leayana, dan jamur Sclerotium rolfsii.


-          Penjarangan,
Penjarangan dimaksudkan untuk memberi ruang tumbuh yang lebih ideal dan mengurangi persaingan kebutuhan hara tanah guna menjaga dan meningkatkan kualitas produksi. Sasaran penjarangan adalah pohon yang tertekan (inferior) – baik pertumbuhan maupun bentuk batang – sehingga dipandang tidak ekonomis untuk dipertahankan. Disamping itu dalam pelaksanaan penjarangan juga perlu memperhatikan  letak dan sebaran pohon.
Penjarangan I dilaksanakan pada akhir tahun ketiga sebanyak ± 30% dan penjarangan II dilaksanakan pada akhir tahun kelima sebanyak 30% (jika daur produksi 10 tahun)  dan 50% (jika daur produksi 7 tahun). Jika daur produksi yang dikehendaki 10 tahun dapat dilakukan penjarangan III pada tahun ke-tujuh sebanyak ± 30%.
Penjarangan secara berlebihan pada daur pendek (7 - 10 tahun) dan penetapan daur itu sendiri – harus dikaji dengan mempertimbangkan aspek ekonomis pengusahaan, aspek kemampuan lahan (bonita), aspek lingkungan/topografi dan konservasi  dan pola permudaan yang dikehendaki
Secara teknis dan didukung prospek pasar kayu rakyat saat ini tanaman jati putih pada umur 7 – 10 tahun sudah dapat dipanen untuk untuk kepentingan kayu pertukangan, bahan baku industri dan lain-lain.


E.   PERMUDAAN TANAMAN

Tanaman Jati Putih  memiliki kemampuan menumbuhkan tunas/ trubusan secara dominan apabila batang utama tidak berfungsi/ terganggu – baik disebabkan oleh serangan hama, kebakaran maupun ditebang.

Karena itu untuk rotasi/ daur selanjutnya permudaan tanaman jati putih cukup dilakukan dengan memelihara trubusan yang tumbuh dari setiap tunggak yang sudah ditebang.
Biasanya trubusan yang tumbuh pada setiap tunggak sangat banyak, untuk keperluan  permudaan dilakukan seleksi terhadap ± 4 batang trubusan terbaik yang akan dipertahankan. Selanjutnya  dilakukan seleksi lagi sampai tersisa  1 – 2 batang setiap tunggak. Permudaan model ini sangat ekonomis karena tidak diperlukan biaya yang besar untuk pengadaan bibit, penanaman dan persiapan lapangan, sedangkan biaya pemeliharaan dan pemupukan tanaman lebih sederhana dan murah. Untuk memperbaiki struktrur tanah dapat dilakukan pengolahan tanah melalui pola tumpangsari.


F.    SIFAT KAYU

Dalam klasifikasi warna secara umum kayu jati putih berwarna relatif putih, permukaan kayu mengkilap. Bobot kayu ringan tetapi keras, kelas kuat III dengan kerapatan 400-580 kg/m3 pada kadar air 15%.Balfas (1995) dalam Budiman Achmad, 2002 telah membandingkan sifat penggergajian dan pengerjaan jati putih dengan 3 jenis lain (sengon, leda dan mangium) dengan ringkasan hasil sebagai berikut :
-          Tingkat kekerasan jati putih menempati urutan ketiga setelah mangium dan leda,
-          Kayu jati putih mudah digergaji dengan kualitas permukaan halus baik pada kondisi kering maupun basah,
-          Sifat pemesinan kayu jati putih justru menempati urutan pertama dari ketiga jenis yang dibandingkan,
-          Sifat penyerutan dan pengampelasan digolongkan sebagai istimewa, dan

-          Sifat pembentukannya tergolong baik   

       Gambar 3.  Product Kerajinan dari bahan kayu jati putih

G.   PENUTUP

Pola pengusahaan hutan rakyat ”jati putih” saat ini sedang dirintis pengembangannya di wilayah Priangan Timur khususnya di Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar. Pembangunan ini dilaksanakan melalui pola kerjasama antara Forum Hutan Rakyat (biNAwaNA Enterprise) dengan masyarakat pemilik lahan. Pada tahun tanam 2005 telah diuji coba penanaman jati putih seluas ± 5 Ha, sebagai berikut :
1.    Kabupaten Ciamis,
-          Kecamatan Cisaga    seluas ±  4,00 Ha (desa Bangunharja)
-          Kecamatan Ciamis    seluas ±  0,35 Ha (Lahan milik UNIGAL)
2.    Kota Banjar,
-           Kecamatan Pataruman       seluas ±  0,65 Ha

Pada tahun tanam 2006 direncanakan akan dilaksanakan penanaman seluas ± 24 Ha, dan pada tahun tanam 2007 seluas ± 25 Ha. 
Pengadaan bibit disamping untuk kepentingan penanaman pada areal kerjasama, “Forum Hutan Rakyat biNAwaNA Enterprise’’ pada tahun 2006 ini juga menyiapkan bibit jati putih untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di luar areal kerjasama. Total bibit jati putih yang disiapkan sebanyak 100.000 batang.
Pengusahaan jati putih disamping secara teknis memiliki keunggulan sehingga cenderung lebih menguntungkan, juga di wilayah Priangan Timur terdukung oleh adanya beberapa industri besar pengolahan kayu (untuk tujuan eksport) yang selama ini menggunakan bahan baku kayu dengan spesipikasi kayu ringan dengan warna dasar putih, karena itu  jati putih memiliki prospek pasar yang baik.


Bahan Bacaan :
Aam Aminah dan Dede J. Sudrajat, 2004. Jati Putih (Gmelina arborea) : Jenis Potensial untuk Hutan Rakyat, Surili Vol.32 No.3
Budiman Achmad, 2002. Jati Putih Mania (bagian 2), Warta Nauli Vol.2 No.1
Nurhasybi dan Hero Dien P.Kartiko, 2003, Kiat Membangun Hutan Tanaman Jati Putih (Gmelina arborea Linn), Info Benih Vol.8 No.1
Nana Sutrisna, 2006. Proposal (Analisis Usaha)  Rencana Pembangunan Hutan Rakyat di Wilayah Kabupaten Ciamis dan Kota Banjar, Forum Hutan Rakyat (biNawaNa Enterprise)





Post Top Ad

Your Ad Spot