STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AREN DI JAWA BARAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, May 11, 2016

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA AREN DI JAWA BARAT

Oleh:
Budiman Achmad



ABSTRAK

                Aren merupakan salah satu jenis tegakan yang bersifat multiguna (MPTS) karena semua bagian dari tanaman bisa dimanfaatkan dan mempunyai nilai ekonomi.  Keunggulan sifat-sifat tersebut menjadikan aren sangat cocok dikembangkan untuk keperluan program pengentasan kemiskinan masyarakat sekitar hutan.  Beberapa faktor yang merupakan pendorong pengembangan pengusahaan aren dan produk turunannya antara lain :  pasar terbuka sangat lebar, teknologi pengolahan hasil cukup sederhana dan telah dikuasai masyarakat. Kendala utama pada pengembangan usaha aren terletak pada terus menurunnya populasi aren. Kondisi ini diperparah dengan sulitnya biji aren berkecambah karena biji aren mempunyai masa dormansi sangat lama (4 hingga 6 bulan), dan langkanya anakan alam karena sistem pemanenan biji untuk bahan kolang-kaling yang bersifat panen habis. Produk hilir dari tanaman aren sangatlah bervariasi, namun propuk yang  berkontribusi sangat besar pada laju penurunan potensi (populasi) aren adalah pengambilan tepung dari batang aren.  Produk hilir bentuk ini sangat mengancam kelestarian usaha dari produk yang lain seperti kolang-kaling, gula aren, tuak dll. Sebagaimana sifatnya yang sangat potensial diandalkan sebagai salah satu usaha meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, haruslah dicari jalan pemecahan yang bijaksana tanpa mengorbankan salah satu bentuk usaha yang bersumber dari tanaman aren.  Salah satu upaya yang penting dan mendesak dilakukan adalah mengatur waktu penebangan tegakan (produk tepung) dengan mempertimbangkan masa produktifitas hasil kolang-kaling.  Namun, tanpa dukungan penanaman kembali baik secara buatan maupun alamiah, upaya peningkatan potensi aren sulit diwujudkan.

Kata kunci :  aren, Jawa Barat, langka



I. PENDAHULUAN

            Kolang-kaling adalah nama makanan berupa daging buah yang dihasilkan dari tanaman aren.  Saat ini telah tercatat ada 4 jenis pohon yang termasuk kelompok aren yaitu Arenga pinnata (wurmb.) Merr. ; A. undulatitolia Becc., A. westerhoutii Griff, A. ambong Becc. Diantara keempat jenis tersebut yang sudah dikenal manfaatnya dalam perdagangan dan yang paling luas penyebarannya adalah Arenga pinnata yang sehari-hari dikenal dengan nama aren. Jenis lainnya kurang dikenal. A. undulatitolia hanya terdapat di Kalimantan, A. westerhoutii di Malaysia, A. ambong di Filipina.  Selain kolang-kaling, tanaman aren juga menghasilkan nira yang bisa diproses lagi menjadi : tuak, yakni minuman khas masyarakat Batak, dan gula aren (gula kawung).  Tanaman ini juga bisa menghasilkan tepung, yang diambil dari batangnya.   Keunggulan lain dari aren adalah daunnya bisa dijadikan atap dan lidinya dijadikan sapu, demikian halnya dengan ijuk serta berfungsi sebagai tanaman konservasi.   Luasnya manfaat dan tingginya nilai ekonomi pohon aren ternyata menjadi daya tarik banyak pihak untuk mengeksploitasi.  Harga kolang-kaling di tingkat penyalur (pasar Ciamis) bervariasi mulai dari Rp 3000 s/d Rp 6000, sementara di pasar Gunung Batu Bogor mencapai Rp 15.000,-/kg.  Usaha ini akhir-akhir ini terus mengalami ancaman kelangkaan bahan baku sebagaimana dialami oleh penyalur dari Tasikmalaya tersebut dengan mulai mencari bahan baku dari luar Jawa seperti Medan, Bengkulu dan Lampung. 
            Tangkai bunga yang keluar dari ketiak pelepah daun aren bisa dijadikan penghasil kolang-kaling atau dipotong untuk penghasil nira sebagai bahan baku tuak atau gula aren.  Pilihan tersebut dipengaruhi oleh : ketersediaan teknologi pengolahan, nilai ekonomi (pasar) dan kultur masyarakat.  Sebagai contoh, di Tapanuli Utara aren lebih menguntungkan dipanen niranya untuk tuak ketimbang dijadikan gula, karena budaya minum tuak dikalangan masyarakat Batak menjadi pasar yang sangat potensial. Sebaliknya di Tapanuli Selatan yang mayoritas masyarakatnya muslim, penjualan produk aren lebih banyak berbentuk gula. Kedua jenis end-product pilihan tersebut tergolong konservatif karena mempertimbangkan kelestarian produksi dengan tidak melakukan penebangan.  Meskipun demikian, pemanenan biji untuk kolang-kaling atau penyayatan batang tandan agar keluar niranya tanpa perencanaan yang matang bisa berakibat pada putusnya rantai regenerasi alamiah.  Pemanenan secara habis (clear cut) terus menerus terhadap biji bisa berakibat pohon aren tidak menghasilkan biji tua yang siap berkecambah pada musim penghujan untuk menggantikan pohon yang mati.


II. MENGENAL POHON AREN

            Aren (Arenga pinnata. Merr) adalah tumbuhan yang termasuk ke dalam famili Palmae dan genus Arenga. Batangnya tidak berduri, tidak bercabang, tinggi dapat mencapai 25 meter dan diameter pohon dapat mencapai 65 cm.  Batang terbalut oleh ijuk sehingga pelepah daun yang sudah tua sulit lepas dari batang.  Oleh karena itu batang pohon sering ditumbuhi oleh banyak tanaman jenis paku-pakuan.  Panjang tangkai daun dapat mencapai 1.5 m, helaian daun mencapai 1.4 m dengan lebar daun 7 cm dan bagian bawah daun memiliki lapisan lilin.
            Pohon aren berumah satu dengan panjang tongkol betina dan jantan sekitar 2.5 m.  Pohon mulai berbuah pada umur 6-12 tahun.  Masa berbuah (masa produktif) umumnya berlangsung 2-5 tahun sampai pohon mati, lebih dari 50 tahun.  Aren termasuk tumbuhan berbiji tertutup (Angiospermae) yaitu biji buahnya terbungkus daging buah (Sunanto, 1993).  Buah aren berbentuk bulat, berdiameter 5-4 cm, di dalamnya berisi 3 biji buah yang berbentuk satu siung bawang putih.  Kulit buah pada waktu muda berwarna hijau dan setelah tua berwarna kekuning-kuningan, lunak dan dapat menyebabkan gatal pada kulit.
            Tumbuhan aren menyebar secara alami di Jawa, Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Jaya.  Pohon aren tumbuh baik pada ketinggian antara 0–1400 meter di atas permukaan laut dengan curah hujan minimum 1200 mm setahun.  Pada daerah yang mempunyai ketinggian kurang dari 500 m dan lebih dari 800 m, tanaman aren masih dapat tumbuh namun produksi buahnya kurang memuaskan.
            Biji aren dikenal sebagai biji yang cukup sulit untuk dikecambahkan.  Berdasarkan kondisi fisik benih aren dikelompokkan benih ortodoks karena memiliki fase dorman yang panjang hingga lebih dari 4-6 bulan sebelum berkecambah. Karakter kulit benih yang keras diyakini sebagai pembatas proses perkecambahan meskipun kondisi lingkungan di sekitarnya sudah mendukung.  Beberapa percobaan dengan menggunakan asam keras (H2SO4 atau H202) maupun fermentasi telah berhasil mempercepat  perkecambahan menjadi hanya 2 atau 3 minggu saja.


III. TEPUNG SAGU DAN KOLANG-KALING

            Fungsi produksi dari pohon aren dapat diperoleh dari akar, batang, daun, bunga dan buah. Batang yang keras dapat digunakan untuk berbagai macam peralatan dan bangunan. Batang bagian dalam dapat menghasilkan sagu yang digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan roti, soun, mie dan campuran pembuatan lem.  Pemanfaatan aren dengan cara ini bisa mengancam kelestarian pohon aren karena untuk mengambil sagunya, pohon aren harus ditebang.  Penebangan terus-menerus dilakukan masyarakat untuk diambil sagunya sementara upaya penanaman kembali saat ini belum banyak dilakukan. Kondisi tersebut bisa dipastikan akan semakin mempercepat terjadinya kelangkaan aren.  Batang aren sisa pengambilan sagu dapat dilihat setiap harinya dijadikan sebagai kayu bakar pada industri tahu.  Jika setiap harinya ditebang sebanyak 5 pohon aren saja, maka laju kepunahan pohon aren sebulan mencapai 150 pohon.  Adakah penanaman kembali sudah dilakukan dan bisa menutupi laju penebangan ?.  Jika jawabnya tidak, maka kelangkaan aren hanya menunggu waktu.
            Menaruh harapan yang tinggi terhadap nilai ekonomi aren dengan hanya menyerahkan pada proses alam yang kerap terganggu oleh ulah manusia adalah suatu keputusan yang kurang bijaksana.  Langkah antisipatif dengan melakukan kegiatan nyata berupa penanaman kembali aren baik melalui pembagian bibit ke masyarakat oleh dinas terkait atau bentuk bantuan lain merupakan kebutuhan yang mendesak kalau masih ingin menikmati kolang-kaling pada Ramadhan yang akan datang.  Penanaman aren pada lokasi yang tepat dan dikelola oleh masyarakat yang tepat akan mampu memunculkan fungsinya (ekonomi dan konservasi) secara optimal. Beberapa tempat yang cukup ideal dijadikan lokasi pengembangan aren adalah sekitar Gunung Sawal, Ciamis karena selain dapat meningkatkan fungsi konservasi pada kawasan tersebut juga masyarakat sudah menguasai teknologi pemanfaatan aren alam sebagai  penghasil gula.

Gambar 1.  Waktu panen teoritis antara kelas perusahaan tepung dari batang
                     aren dengan buah kolang kaling

            Kolang kaling dari pohon aren bisa dipanen mulai umur 6 th dengan masa produktif 5 tahun atau hingga umur 11 th.  Satu pohon aren yang subur (produktif) bisa menghasilkan lebih dari 15 tandan dengan berat rata-rata 50 kg/tandan atau 750 kg kolang-kaling dalam waktu 1,5 s/d 2 th, sehingga jika rata-rata harga Rp 3500/kg, satu pohon bisa menghasilkan Rp 2.625.000 per 1,5 th atau  Rp 1.750.000,-/pohon/th.  Selama daur finansial tanaman aren (5 th) akan diperoleh Rp 8.750.000,-/pohon.  Omset industri kolang-kaling di Tasikmalaya antara 60 ton (sepi order) s/d 600 ton (bulan ramadhan) per bulan, atau setara dengan  Rp 210 jt s/d Rp 2,1 milliar.  Usaha sebesar ini tentu mampu menimbulkan multiplyer effect cukup luas.  Buah kolang-kaling saat ini didatangkan dari Garut dan Ciamis, bahkan sampai Medan, Bengkulu dan Lampung.  Berdasarkan mutunya, buah kolang-kaling paling bagus berasal dari Medan, diikuti Bengkulu, Dago (Bandung)  dan Lampung.  Harga per kg buah dari Bengkulu berkisar Rp 2000 s/d Rp 3000/kg sedangkan yang dari Medan Rp 4000 s/d Rp 5000/kg.  Pasar kolang-kaling saat ini yang potensial adalah Jawa Tengah dan Jawa Timur.  Sedangkan industri yang berorientasi ekspor (kolang-kaling kaleng)  saat ini berkedudukan di Cirebon.  Pengepul kolang-kaling yang besar saat ini menyebar di Tasikmalaya, Ciamis dan Banjarsari. 
            Jika petani memanen pohon aren dengan melakukan penebangan karena diambil patinya, pati basah yang dihasilkan tidak akan melebihi 200 kg/pohon dan dengan rendemen 65 % akan dihasilkan 130 kg pati kering. Jika harga pati per kg Rp 3000 akan diperoleh Rp 390.000,-/pohon.  Tetapi jika petani menjual pohon dan patinya diolah oleh pembeli, maka petani hanya mendapat Rp 75000 s/d Rp 150.000,-/pohon tergantung jaraknya dari jalan.


IV. UPAYA MEMPERTAHANKAN KELESTARIAN AREN

            Tanaman aren dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan potensi yang diindikasikan dengan besarnya produksi kolang-kaling dari Salopa tahun lalu bisa mencapai 30 ton per bulan, tetapi saat ini maksimum hanya 1 ton saja.  Beberapa penyebab semakin menurunnya populasi tanaman aren di Jawa Barat saat ini diduga karena : a) musang sebagai binatang yang membantu mempercepat pengecambahan bibit aren juga semakin langka karena terus diburu, b) pohon aren terus ditebang tanpa diimbangi dengan upaya kongkrit penanaman,  c) cara pemamenan buah untuk bahan kolang-kaling dilakukan secara panen habis (clear harvest) sehingga tidak memungkinkan terjadinya anakan alamiah dibawah tegakan induk aren.
            Memperhatikan kondisi tegakan aren di Jawa Barat yang saat ini terus menurun, perlu dilakukan upaya-upaya rehabilitasi jenis agar fungsi ekonomi dan ekologinya menjadi pulih kembali.  Mutu kolang-kaling yang baik dan potensial dikembangkan teridentifikasi dari Medan dan Dago (Bandung).   
            Rehabilitasi lahan dengan aren sangat strategis untuk pengentasan kemiskinan karena seluruh bagian pohon bisa menghasilkan finansial bernilai tinggi jika dikelola dengan baik.  Beberapa upaya yang patut dilakukan untuk meningkatkan kembali populasi aren antara lain :
  1. Tidak memanen buah aren secara total (clear cut), tetapi selektif agar masih tersedia buah aren sebagai bahan anakan alam,
  2. Penebangan pohon aren untuk produksi tepung sebaiknya dilakukan pada umur 11 s/d 13 th dimana produksi buah kolang-kaling mulai menurun secara nyata, tetapi penurunan produksi tepung tidak terlalu nyata (diilustrasikan pada Gambar 1),
  3. Sosialisasi ke petani aren perihal pemilihan end product yang lestari dan paling menguntungkan secara ekonomi,
  4. Meningkatkan kesadaran kalangan pengusaha hasil hutan non-kayu yang bersumber dari pohon aren akan pentingnya ikut menjaga kelestarian tegakan aren sebagai upaya untuk mempertahankan kelestarian usaha mereka melalui pola kemitraan dengan petani aren.
  5. Pemerintah memberi bantuan berupa penyuluhan dan bibit aren ke petani



DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 1995.  Budidaya Aren. Pusat Penyuluhan Kehutanan, Departemen Kehutanan, Jakarta.
Anonim, 2001.  Pembinaan kelompok tani hutan di propinsi Sumatera Utara. Belantara, Dirjen Bina Hutan Kemasyarakatan. Dephut. Jakarta Pusat.

Dachlan, M.A. 1984.  Proses pembuatan gula merah.  Balai Besar Industri Hasil Pertanian Bogor. Bogor. Pp.1-21.

Heyne, K. 1987.  Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid I. Badan Litbang Kehutanan, Jakarta

Manik, S. 2002.  Potensi dan pemanfaatan aren (Arenga pinnata) di kawasan hutan diklat  Pondok Bulu Kabupaten Simalungun.  Skripsi, Universitas Simalungun. Simalungun.

Sastrapraja, S. 1980.  Palem Indonesia.  Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.

Sawitri, S. 1991.  Pengeruh Penanganan dan Perlakuan Nira Aren Terhadap Mutunya Sebagai Bahan Baku Gula.  Skripsi Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sunanto, H. 1993.  Aren Budidaya dan Multigunanya. Kanisius. Anggota IKAPL. Yogyakarta.

Sapulete, E. 1989.  Pengaruh perendaman dengan asam sulfat terhadap perkecambahan benih Arenga pinnata Merr.  Bulletin Penelitian Kehutanan 5(1) : 93-100.


Whitmore, T.C. 1975.  Tropical Rain Forests of the Far East.  Clarendon Press, Oxford.

Post Top Ad

Your Ad Spot