PERENCANAAN PARTISIPATIF DI DESA SUMURUGUL KECAMATAN WANAYASA KABUPATEN PURWAKARTA PROPINSI JAWA BARAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Saturday, May 7, 2016

PERENCANAAN PARTISIPATIF DI DESA SUMURUGUL KECAMATAN WANAYASA KABUPATEN PURWAKARTA PROPINSI JAWA BARAT

Oleh:
Maria Palmolina
(Balai Penelitian Teknologi Agroforestry, Ciamis)


ABSTRAK

Pelaksanaan pengelolaan hutan lestari yang melibatkan masyarakat memerlukan suatu teknik untuk memberdayakan masyarakat dengan keterlibatan penuh, diantaranya adalah  dengan teknik PRA, mulai dari identifikasi potensi dan masalah, analisis masalah dan pengambilan keputusan serta merencanakan penyelesaian masalah. Kajian dilaksanakan pada bulan Mei 2015 di Desa Sumurugul Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Dalam hal ini pelaksanaan PRA bertujuan sebagai salah satu alat untuk meningkatkan keberdayaan masyarakat Desa Sumurugul dalam proses pengelolaan pembangunan desa yang bertumpu pada kekuatan masyarakat (swadaya gotong royong). Teknik PRA yang digunakan adalah transek desa, diagram venn, sketsa desa, kalender musim, serta kegiatan sehari-hari pria dan wanita. Hasil Kajian menunjukkan bahwa: (1) Pelaksanaan perencanaan partisipatif (PRA) dapat membangkitkan semangat petani untuk mengetahui akan potensi permasalahan yang mereka hadapi selama ini, (2) PRA juga memberdayakan petani secara bersama-sama untuk cerdas berdiskusi mencari solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi serta menyusun rencana kedepan untuk membangun desanya lebih baik dan maju lagi, sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki, dan (3) PRA adalah suatu alat untuk mengindentifikasi masalah dan potensi yang ada di dalam masyarakat, sehingga masyarakat tidak hanya menjadi obyek tetapi menjadi subyek pembangunan.

Kata Kunci:     PRA (participatory rural appraisal), perencanaan partisipatif, pemberdayaan, Sumurugul


I.      PENDAHULUAN
Terdapat 3 (tiga) hal pokok yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan pengelolaan hutan lestari yang melibatkan masyarakat (Nasikh,2008), yaitu: a) Pengelolaan harus mengena pada sasarannya (targeted), artinya upaya yang dilakukan ditujukan secara langsung kepada yang memerlukan, yang dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai dengan kebutuhannya; b) Masyarakat terlibat langsung dalam pengelolaan hutan, dengan tujuan sesuai dengan kehendak dan mengenali kemampuan serta kebutuhan mereka; dengan terus meningkatkan keberdayaan (empowering) masyarakat dengan pengalaman merancang, melaksanakan pengelolaan hutan agar berkelanjutan, serta mempertanggungjawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya; c) Menggunakan pendekatan kelompok, karena apabila secara sendiri-sendiri masyarakat sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya. Berkaitan dengan hal tersebut, maka perlu dilakukan suatu teknik untuk memberdayakan masyarakat dengan ketelibatan penuh, yakni dengan teknik PRA, mulai dari identifikasi potensi dan masalah, analisis masalah dan pengambilan keputusan serta merencanakan penyelesaian masalah.
Tujuan dari pelaksanaan perencanaan partisipasif PRA antara lain: (1) Meningkatkan keberdayaan masyarakat agar seluruh warga desa berpartisipasi dalam proses pengelolaan pembangunan, (2) Meningkatkan kualitas perencanaan pembangunan masyarakat desa, (3) Mengembangkan swadaya gotong royong  masyarakat  menuju terciptanya pelaksanaan pembangunan yang bertumpu pada kekuatan masyarakat, (4)  Meningkatkan sIstem pelatihan pembangunan desa terpadu, dan (5) Meningkatkan peran dan fungsi Lembaga Pemberdayaan Masyarakat desa (LPMD).

II.    METODE

A.   Lokasi Kajian
            Lokasi kajian dipilih Desa Sumurugul Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat dengan alasan Desa Sumurugul lokasinya berdekatan dengan hutan negara dan memiliki lahan hutan rakyat yang relative luas (dua kali luas pemukiman). Berikut gambaran umum desa Sumurugul.

Tabel 1. Gambaran Umum Desa Sumurugul
Parameter
Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta Propinsi Jawa Barat
Luas (ha)
242 ha
Batas wilayah
Utara: Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa
Selatan: Desa Gunung Burangrang Kecamatan Burangrang
Timur:  Desa Wanayasa Kecamatan Wanayasa
Barat: Desa Cibuntu Kecamatan Wanayasa
Jenis tanah
Lempung berpasir (alluvial)
Temperatur
25 – 32oC
Ketinggian
700 – 800 mdpl
Topografi
Datar sampai dengan bergelombang
Kemiringan
0 – 20%
Jumlah bulan hujan
4 bulan
Sumber: Monografi Desa Sumurugul 2014

B.   Metode dan Waktu Kajian
Kajian ini menggunakan teknik Participatory Rural Appraisal (PRA), yaitu metode yang mendorong masyarakat pedesaan untuk turut serta meningkatkan pengetahuan dan menganalisa kondisi mereka sendiri, wilayahnya sendiri yang berhubungan dengan hidup mereka sehari-hari agar dapat membuat rencana dan tindakan yang harus dilakukan, dengan cara pendekatan berkumpul bersama (Chambers, 1996).  Kajian dilaksanakan pada bulan Mei 2015.
C.   Teknik dan Penerapan PRA
Dalam pelaksanaan perencanaan partisipatif di desa Sumurugul digunakan beberapa teknik dari PRA, yaitu: (1) Diagram Venn, yakni teknik mengkaji hubungan antara masyarakat dengan lembaga-lembaga yang ada di lingkungannya. (2) Teknik wawancara terstruktur, yakni teknik pengkajian informasi kehidupan keluarga petani yang disusun dalam pedoman wawancara. (3) Transek, yakni teknik pengamatan langsung atas lingkungan dan sumber daya masyarakat dengan cara berjalan menelusuri wilayah desa mengikuti suatu lintasan tertentu yang disepakati. (4) Sketsa kebun, yakni teknik pengkajian berbagai aspek pengelolaan suatu kebun di wilayah bersangkutan. (5) Kalender Musim, yakni teknik pengkajian keadaan yang terjadi berulang dalam suatu kurun waktu tertentu. (6) Jadwal sehari-hari, yakni teknik untuk memperlihatkan pola umum kegiatan yang biasanya dilakukan oleh keluarga selama 24 jam.
Pelaksanaan perencanaan partisipatif di desa Sumurugul dihadiri oleh 12 (dua belas) orang warga desa Sumurugul yang merupakan petani/informan, 4 (empat) orang aparat desa,dan tim pelaksana PRA. Tempat pelaksanaannya di Balai Desa Sumurugul. Diskusi dilaksanakan di malam hari setelah sholat Isya hingga pukul 23.00 WIB.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

A.     Kondisi Umum Masyarakat Desa Sumurugul
Jumlah penduduk Desa Sumurugul adalah 2.788 jiwa. Jumlah penduduk laki-laki terbilang lebih sedikit dibanding dengan wanita, dengan tingkat pendidikan mayoritas SD/sederajat (54%). Mayoritas penduduk bermata pencaharian di sektor pertanian (63%). Profil penduduk/masyarakat Desa Sumurugul tertera pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Profil Masyarakat Desa Sumurugul
Uraian
Jumlah
%
Jumlah penduduk


a. laki-laki
1380
49
b. perempuan
1408
51
Tingkat pendidikan


a. SD/sederajat
686
54
b. SLTP/sederajat
396
31
c. SLTA/sederajat
172
14
d. Diploma (D1/D2/D3)
3
0.4
e. D4/S1
3
0.4
f.  Pasca Sarjana
2
0.2

Mata Pencaharian


a.    Petani
258
47
b.    Buruh Tani
87
16
c.    PNS lainya
9
1
d.    TNI / POLRI
-
0
e.    Dagang / jasa
79
14
f.      Pensiunan
8
1
g.    Lainnya (tukang kayu,batu bata, buruh serabutan, supir, dll.)
116
21
Sumber: Monografi Desa Sumurugul 2014

B.   Kajian Sumberdaya dan Sosial Ekonomi Budaya Masyarakat Desa Sumurugul
Tim PRA bersama-sama dengan peserta mendiskusikan berbagai hasil pelaksanaan teknik PRA yang telah dilakukan bersama mereka. Kemudian bersama-sama pula mengelompokkan berbagai permaslahan dan potensi yang ada di dalam masyarakat. Berikut hasil dari diskusi:



Tabel 3. Kajian Informasi Masalah dan Potensi Sumberdaya Alam, Sosial, dan Ekonomi Desa Sumurugul
TEKNIK PRA
MASALAH YANG MUNCUL
POTENSI YANG MUNCUL
MODAL
KELEMBAGAAN
PEMASARAN
TEKNOLOGI
ALAM
Transek Desa
(gambar 1.)
Tidak ada kios pupuk/obat.
-
Transportasi umum belum ada.
1.    Penyakit karat puru pada sengon dan penggerek batang pada cengkeh.
2.    Teras belum ada

Pelaksanaan konservasi kurang.

1.    Sumber air cukup.
2.    Akses jalan mudah.
3.    Potensi MPTS dan tanaman keras.
4.    Persemaian MPTS.
5.    Adanya peternakan ayam ras dan kambing.
6.    Penyulingan daun cengkeh.
Diagram Venn
(gambar 2.)
Regenerasi SDM kurang.

1.    Tidak ada KUD
2.    Pertemuan kelompok tidak rutin
3.    SPKP tidak jalan
Pemasaran dengan system ijon.

-
-
1.    Sudah ada PKSM (Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat).
2.    Penyuluh kehutanan aktif mendampingi.
3.    Sudah ada SPKP.
Sketsa Kebun
(gambar 3)
1.    Modal usaha kurang.
2.    Pestisida mahal
Tenaga kerja susah
-
1.    Pemupukan hanya dilakukan sekali pada awal tanam.
2.    Penyiangan dan pemangkasan kurang.
3.    Pola pertanaman kurang teratur.
Hama ulat
1.    Tanah relatif subur.
Kalender Musim
(gambar 4)
-
KUD lebah madu macet
1.    Pemasaran Sistem ijon.
2.    Harga jual turun


-
1.    Variasi vegetasi beragam.

Kegiatan Sehari
(gambar 5)
-
-
-
-
-
1.       Tersedia waktu luang
2.       Ada pemberdayaan wanita.
Sumber: Data Primer 2015



Selanjutnya berbagai permasalahan yang ditemukan, diisusun dalam bagan  sebab akibat dan kemudian dirangking prioritas permasalahan yang ada, sebagai berikut:
Gambar 1. Bagan Sebab Akibat Permasalahan di Desa Sumurugul
 (Sumber: Data Primer 2015)

 
 









Pada gambar 1, terlihat bahwa permasalahan utama yang dihadapi pada masyarakat Desa Sumurugul adalah SDM/tenaga kerja minim sekali dikarenakan kurangnya kemauan generasi muda untuk bekerja di bidang pertanian/perkebuanan, akibatnya banyak tanaman yang tidak terawat dengan baik. Sementara itu konsep pengembangan ekonomi lokal menyatakan bahwa pengembangan ekonomi lokal tidak hanya semata bergantung pada karakter sumber daya alam lokal, melainkan juga diperlukan kemampuan SDM lokal (Febrian et all, 2014). Maka dengan perkataan lain kemampuan dan kemauan individu SDM petani sebenarnya yang menjadi kunci untuk mengembangkan ekonomi lokal.
Selain itu petani juga mengalami permasalahan di bidang pemasaran. Mereka sering kali mengalami kerugian, disebabkan antara lain: adanya sistem ijon yang seringkali memberi harga jauh dibawah harga pasaran. Hal ini selaras dengan yang dijelaskan oleh Asmara, et all (2011) bahwa terdapat perbedaan antara pendapatan usahatani dengan pemasaran sistem langsung dengan pemasaran sistem ijon, yakni rata-rata pendapatan usahatani dengan sistem ijon jauh lebih rendah (0,5 kali) dari pemasaran sistem langsung. Namun tak dipungkiri oleh petani bahwa sistem ijon bagi mereka terkadang membantu sekali dikala mereka membutuhkan dana dengan cepat.
Hasil akhir dari diskusi partisipatif peserta sebagai wakil dari masyarakat Desa Sumurugul didapatlah bahwa prioritas masalah yang mereka hadapi; 1) Tenaga kerja/SDM, 2) Perawatan Tanaman, 3) Pemasaran, dan 4) Regenerasi (Tabel 4).



Tabel 4. Matrik Ranking Prioritas Masalah
Penyebab masalah
Akibat
Penilaian Masalah (Skoring)
Biaya
Mende-sak /
Penting
Kepen-tingan umum
Keterse-diaan bahan
Mudah tidak
nya
Jum-lah Nilai
Rang-king
1. Tenaga Kerja Kurang / SDM
Tidak ada regenerasi
Lahan  tidak terurus
1
1
3
1
1
7
I
2. Pema-saran
Hasil tani kurang bagus
Harga murah
3
3
2
4
3
15
III
3. Regene-rasi kurang
Tidak ada kemauan
Enggan bertani/ malas
4
4
1
3
4
16
IV
4. Pera-watan tanaman kurang
Informasi dan modal
Tanaman tak terawat
2
2
4
2
2
12
II
Sumber: Data primer 2015

Langkah akhir tim PRA bersama masyarakat peserta PRA mencari alternatif dan rencana kegiatan yang dapat dilaksanakan kedepannya, sebagaimana dalam tabel 5 dan 6 berikut:

Tabel 5. Bagan Alternatif Pemecahan Masalah
No.
Masalah Utama
Penyebab
Alternatif Pemecahan Masalah
1.
Tenaga Kerja (SDM) Kurang
-    Tidak ada Regenerasi
-    Informasi dan semangat kepada anak muda
-    Member pemahaman bertani kepada anak muda
-    Pelatihan yang rutin
2.
Perawatan Tanaman Kurang
-    Kurang informasi dan modal
-    Penambahan informasi teknologi
-    Pengenalan teknologi (teknologi modern)
-    Pelatihan dan penyuluhan
3.
Pemasaran
-    Hasil pertanian kurang bagus
-    Perawatan yang optimal dan kontinyu
-    Peningkatan kualitas
-    Kemitraan dalam pemasaran
4.
Regenerasi Kurang
-    Tidak ada kemauan dari generasi muda
-    Pelatihan dan penyuluhan
-    Pendampingan dalam pertanian
Sumber: Data Primer 2015


Tabel 6. Rencana Kegiatan
No
Masalah Utama
Kegiatan
Pelaksana
Penanggung Jawab
Pendukung
Waktu
Bahan
Ket
1.
Tenaga Kerja (SDM) Kurang
-   Informasi dan semangat kepda anak muda
-   Member pemahaman bertani pada anak muda
-   Pelatihan yang rutin
-    Masyarakat
-    Penyuluh

-    Kades
-    Ketua Kelompok Tani
Dinas Tanhutbun
Juni – Juli
ATK & Modul
satu ming-gu sekali
2.
Pemasaran
-   Perawatan yang optimal dan kontinyu
-   Peningkatan kualitas
-   Kemitraan dalam pemasaran

-    Kelompok Tani sesuai Bidag

-    Ketua Kelompok Tani
Penyuluh
Setiap saat
Alat Pertanian
Sesuai Kebutuhan
3.
Regenerasi Kurang
-   Pelatihan dan penyuluhan
-   Pendampingan pertanian
-    Masyarakat
-    Penyuluh

-    Kades

Camat
Juni – Juli
ATK & Modul
Satu Ming-gu Sekali
4.
Perawatan Tanaman Kurang
-   Penambahan informasi teknologi
-   Pengenalan teknologi modern
-   Pelatihan dan penyuluhan
-    Masyarakat
-    Penyuluh

-    Kades

Dinas Tanhutbun
Juli - Agustus
Modul & Alat Praktek
Satu Ming-gu Sekali
Sumber: Data Primer 2015


IV.  KESIMPULAN


1.    Pelaksanaan perencanaan partisipatif dengan menggunakan teknik PRA (Participatory Rural Appraisal) ternyata dapat membangkitkan semangat petani untuk mengetahui akan potensi yang mereka miliki dan juga mengetahui serta meruntut berbagai permasalahan yang mereka hadapi selama ini.
2.    PRA juga memberdayakan petani secara bersama-sama untuk cerdas berdiskusi mencari solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi serta menyusun rencana kedepan untuk membangun desanya lebih baik dan maju lagi, sesuai dengan kemampuan dan potensi yang mereka miliki.
3.    PRA adalah suatu alat untuk menggali masalah dan potensi yang ada di dalam masyarakat, sehingga potensial meningkatkan kapasitas masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2014. Buku Profil Desa Sumurugul Kecamatan Wanayasa Kabupaten Purwakarta. Tidak diterbitkan.

Asmara, Rosihan, Nuhfil Hanani, Risma Suryaningtyas.  2011. Analisis  Usahatani Manggis Dan Faktor-Faktor Sosial Ekonomi Yang Mempengaruhi Keputusan Petani Memasarkan Hasil Usahatani Manggis Dengan Sistem Ijon (The Analysis Of Mangosteen Farming And Social Economy Factors Influence Farmers’ Decision To Sold Their Harvest By Ijon Marketing System) AGRISE Volume XI No. 2 Bulan Mei 2011. http://agrise.ub.ac.id/index.php/agrise/article/view/64/91. Tanggal akses 06 Oktober 2015.

Chambers, R. 1996 P.R.A.Participatory Rural Appraisal, Memahami Desa Secara Partisipatif. Yogyakarta: Kanisius, Oxfam dan Yayasan Mitra Tani.

Febrian, Billal M dan Dewi Sawitri Tjokropandojo. M.T . 2014. SDM Manusia dan Kinerja Petani Sebagai Basis Pengembangan Ekonomi Lokal (Studi Kasus: Desa Tegallega, Kecamatan Warungkondang Kabupaten Cianjur).  http://sappk.itb.ac.id/jpwk1/wp-content/uploads/2014/04/V1N2517-526.pdf . Tanggal akses: 06 Oktober 2015.

Nasikh. 2008. Partisipasi Masyarakat pada Pengelolaan Hutan di Kawasan Gerakan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) Pasuruan Jawa Timur. http://journal.unair.ac.id/filerPDF/08-NASIKH_FE_UM_MALANG.pdf. Tanggal akses: 01 Oktober 2015.





Post Top Ad

Your Ad Spot