PERANAN STATUS SOSIAL MASYARAKAT PEDESAAN DALAM MEMOTIVASI PERKEMBANGAN HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Saturday, May 7, 2016

PERANAN STATUS SOSIAL MASYARAKAT PEDESAAN DALAM MEMOTIVASI PERKEMBANGAN HUTAN RAKYAT

Oleh:
Soleh Mulyana
                                                                Balai Penelitian Teknologi Agroforestri             
Jl. Raya Ciamis-Banjar Km 4 Ciamis 46201 Tlp. (0265)771352 Fax (0265) 775866
e-mail: solehmulyana@yahoo.co.id


RINGKASAN

Masyarakat di pedesaan masih menerapkan adanya kelas sosial meskipungaris keturunan tidak lagi menjadi ukuran, sesuai dengan perkembangan jaman sistem stratifikasi sosial terbuka yang berlaku di masyarakat. Tulisan ini bertujuan untuk menggambarkan adanya pengakuan status sosial bagi masyarakat pedesaan dan peranannya dalam memotivasi perkembangan hutan rakyat. Metode yang digunakan adalah observasi dan wawancara terhadap 20 orang responden petani pengelola hutan rakyat di Desa Cimanggu Kecamatan Langkaplancar Ciamis. Data primer dan sekunder yang dikumpulkan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil kegiatan penelitian memberikan gambaran bahwa kelas sosial masih berlaku bagi masyarakat pedesaan, namun sesuai dengan perubahan jaman sistem strafikasi sosial terbuka, tidak lagi melihat dari garis keturunan tetapi apabila seseorang sekalipun berasal dari lapisan masyarakat terbawah akan mendapatkan pengakuan status soial karena prestasi. Sehingga adanya pengakuan status sosial secara terbuka menjadi salah satu indikator menuju kepada perubahan. Keinginan adanya pengakuan status sosial bagi masyarakat pedesaan tentunya menjadi motivasi terhadap perkembangan hutan rakyat pola agroforestri di Desa Cimanggu.

Kata Kunci : Peran Status Sosial, Motivasi, Perkembangan  Hutan  Rakyat


I.      PENDAHULUAN

Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa atau ethnis. Setiap daerah mempunyai status  kelas sosial dalam kehidupan sehari-hari, begitu juga yang berlaku pada etnis Sunda yang diterapkan oleh bangsa Belanda yang disebut raden. Kelas sosial yang berlaku untuk membedakan garis keturunan terutama adanya campuran darah belanda dengan bangsa pribumi umumnya dari perempuan. Hasil keturunannya (indo) umumnya diberi kekuasan sebagai pengawas di perkebunan milik pemerintahan Belanda. Terlepas dari garis keturunan (indo), bangsa pribumi juga bisa menyandang gelar status kelas sosial tersebut yang berasal dari raja-raja, kesultanan yang merupakan kepercayaan (kroni) bangsa Belanda, selain itu masyarakat biasa juga bisa dengan cara membeli gelar tersebut kepada pihak Belanda  saat itu. Menyandang gelar raden merupakan kebanggaan dan umumnya dihormati dan disegani oleh masyarakat, sehingga keturunannya nanti akan mewariskan status kelas sosialnya. Seiring dengan perubahan jaman kelas sosial tersebut tidak lagi menjadi kebanggaan, karena saat ini masyarakat lebih memandang kelas sosial dari segi keberhasilan perekonomian seseorang.
Sebagaimana diungkapkan Alwis (2010) status lapisan sosial dikategorikan dalam dua bagian status, yaitu karena seseorang mewarisi dari keturunannya (ascribed status), dan status sosial yang digenggam sebab prestasi yang diperoleh (achieved status). Kelas sosial garis keturunan penyandang gelar raden secara pelan-pelan mulai enggan dicantumkan. Bagi masyarakat di pedesaan saat ini yang menjadi kebanggaan adalah “pengakuan status sosial” dan berlaku bagi semua lapisan masyarakat. 
Masayarakat pedesaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta penunjang perekonomian umumnya dari kegiatan bercocok tanam dan kegiatan ini merupakan warisan secara turun temurun. Sebagaimana ungkapan Darjanto (1967) dalam Koentjaraningrat (2004), bahwa kehidupan perekonomian masyarakat di Jawa Barat awalnya dari hasil perkebunan, pertanian (sawah) dan ladang. Kegiatan bercocok tanam masih dilakukan oleh masyarakat pedesaan di Kabupaten Ciamis, namun cenderung pada penggarapan lahan ke sektor kehutanan dengan pola agroforestri. Keadaan ini sesuai dengan ungkapan Darusman  dan Hardjanto (2006) bahwa hutan rakyat sampai saat ini diusahakan oleh masyarakat di pedesaan, sehingga kontribusi manfaat hutan rakyat akan berdampak pada perekonomian desa. Sebagai ilustrasi memang pertumbuhan perekonomian masyarakat pedesaan di Kabupaten Ciamis saat ini tergantung kepada komoditi hasil hutan rakyat pola agroforestri.
Seiring keberhasilan dalam pengelolaan hutan rakyat pola agroforestri di Kabupaten Ciamis berdampak terhadap adanya pengakuan status sosial secara terbuka bagi para petani. Hal ini sesuai ungkapan Godam (2008) bahwa stratifikasi sosial terbuka adalah sistem stratifikasi dimana setiap anggota masyarakatnya dapat berpindah-pindah dari satu strata/tingkatan yang satu ke tingkatan yang lain. Kajian ini bertujuan untuk memberi gambaran sejauh mana pengakuan status sosial bagi masyarakat pedesaan peranan dalam pengembangan hutan rakyat pola agroforestry di Kabupaten Ciamis.

II.    METODE PENELITIAN

A.   Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purpossive) yaitu Desa Cimangggu, Kecamatan Langkap Lancar, Kabupaten Ciamis. Lokasi ini dipilih berdasarkan informasi yang didapat dari petugas penyuluh lapangan kehutanan karena keberhasilannya dalam pengelolaan hutan rakyat pola agroforestri. Kegiatan penelitian dilakukan mulai dari bulan April sampai dengan bulan Desember 2014.

B.   Penentuan  Responden
Responden ditentukan secara sengaja (Purpossive sampling) yaitu para petani sebanyak 20 orang, merupakan anggota dan pengurus lembaga kelompok tani “Taruna Tani Karya” sebagai pengelola hutan rakyat pola agroforestry.

C.   Jenis dan Teknik Pengumpulan Data
 Data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari hasil wawancara bersama dengan responden dengan menggunakan daftar pertanyaan atau kuisioner. Data sekunder diperoleh melalui studi pustaka dari berbagai sumber dan laporan dari instansi terkait.

D.   Analisis Data
Data yang terkumpul berupa data primer dan sekunder dianalisis secara deskriptif kualitatif. Pendekatannya mendeskripsikan pengaruh pengakuan status sosial terhadap perkembangan hutan rakyat.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

A.   Keadaan Status Sosial
Mata pencaharian masyarakat Desa Cimanggu secara umum adalah sebagai petani dalam tatanan kehidupan sehari-hari masih menerapkan adanya perbedaan dalam kelas sosial. Penempatan kelas sosial disebut dengan istilah golongan berdasarkan : 1) kekayaan, 2) statusnya aparat pemerintah, 3) statusnya tokoh masyarakat dan pemuka agama. Bagi orang-orang yang masuk kriteria golongan tersebut umumnya disegani dan dihormati dan sebenarnya tidak ada gap diantara mereka, namun kultur masyarakat itu sendiri yang menjadikan adanya perbedaan. Para petani akan merasa risi secara nalurinya masuk bergaul lebih akrab bersama kelas sosial golongan karena dianggap lebih terhormat.
Pada tahun 2005 mulai terjadi perubahan dengan adanya pengakuan status sosial (prestise) bagi para petani pengelolaan hutan rakyat. Sebagai ilustrasi keberhasilan para petani dalam pengelolaan hutan rakyat menjadi bahan pembicaraan bahkan kabar dan pengaruhnya sampai ke daerah lainnya. Para petani pengelola hutan rakyat yang semula tidak termasuk golongan yang disegani atau dihormati namun dengan keberhasilan mengelola hutan rakyat serta dibarengi peningkatan perekonomian secara singkat merubah status sosial. Perubahan status sosial termasuk dalam kategori stratifikasi terbuka sebagaimana di katakan Alwis (2010). Keadaan ini menjadi motivasi bagi para petani lainnya dengan mengelola hutan rakyat yang bertujuan ingin adanya pengakuan status sosial dilingkungannya serta meningkatkan perekonomian.

B.   Karakteristik Para Petani
Hasil wawancara bersama para petani sebagai responden yang terpilih sebanyak 20 orang Desa Cimanggu, Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Ciamis disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1.  Karakteristik Responden Berdasarkan Usia, Pengalaman Usaha Hutan Rakyat, Luas Lahan Garapandan Tingkat Pendidikan
No.
Umur (Th)
Jmlh (Org)
Pengalaman Usaha HR (Th)
Jmlh (Org)
Luas HR (Bata)*
Jmlh (Org)
Pendi-dikan
Jmlh (Org)
1
30-35
-
0-5
-
100-250
1
-
3
2
36-40
1
6-10
2
251-300
4
SD
10
3
41-45
-
11-15
1
301- 350
6
SMP
4
4
46-50
1
16-20
2
351-400
2
SLTA
2
5
51-55
3
21-25
3
401-450
2
Sarjana
1
6
56-60
2
26-30
3
451-500
1


7
61-65
6
31-35
3
501-550
1


8
66-70
3
36-40
3
551-600
-


9
71-75
3
41-45
2
601-650
2


10
76-80
1
46-50
1
651 > Up
1




20

20
352,90
20

20
*) Keterangan 1 Bata = 14 m2
Sumber : hasil olah data primer (2014).

Tabel 1 menunjukan usia para pengelola hutan rakyat didominasi > 50 th keatas dan tingkat pendidikan 65% sederajat SD. Keadaan ini tentu berpengaruh terhadap terbatasnya tingkat pengetahuan. Sedangkan generasi penerus dengan usia produktif  banyak bekerja disektor lain di perkotaan.
Karakteristik petani responden berdasarkan pekerjaan atau mata pencaharian serta pemasaran produk hasil hutan rakyat Desa Cimanggu  Kecamatan Langkaplancar Kabupaten Ciamis disajikan pada Tabel 2. 
Tabel 2. Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan dan Bentuk Produk di Pasarkan .
No.
Jumlah Responden
Pekerjaan
Bentuk Produk Komoditi di Pasarkan
Utama
Sampingan
Kayu
Kapulaga
1
14
Tani
Tani
Pohon masih berdiri di kebun secara perorangan
Buah basah melalui  ke lembaga KTn yang telah terbentuk
2
5
Tani
Buruh tani
3
1
PNS
Tani
Jml
20 Org




Sumber : hasil olah data primer (2014)

Tabel 2 menunjukan status pekerjaan responden sebanyak 95 % adalah sebagai petani dan buruh tani.  Keadaan ini menggambarkan bahwa tingkat pendidikan yang rendah sangat sulit secara teoritis merubah karakter para petani sekalipun dalam kelompoknya terdapat motivator yang berpendidikan cukup tinggi.
Karakteristik para petani dalam memilih jenis tanaman yang dibudidayakan sebagai vegetasi hutan rakyat pola agroforestri disajikan pada Tabel 3.

Tabel 3. Karakteristik Responden dalam Memilih Jenis Tanaman dan Alasan.
No.
Jumlah Responden
Pemilihan Jenis Tanaman Kayu
Alasan Pemilihan
1
2
3
4
1
20
Sengon
Cepat Tumbuh,  Melihat Petani Lain telah berhasil, bibit mudah di dapat dari penjual bibit keliling dan pembagian, mudah Pemasaran, harga tinggi, jenis populer dimasayarakat
2
15
Mahoni
 Lambat pertumbuhan Bibit mudah didapat dan tumbuh dengan sendirinya sebaran dari hutan negara dan pembagian, sulit pemasaran, harga tinggi
3
12
Manglid
Lambat pertumbuhan Tumbuh secara alami, mudah pemasaran,harga tinggi
4
16
Jati
Bibit mudah didapat dari dari hutan negara dan pembagian, sulit  pemasaran, harga tinggi
5
20
Jabon
Cepat tumbuh bibit mudah didapat dari penjual bibit keliling, jenis populer di masyarakat disebut jati kalimantan
6
20
Mahoni Afrika
Bibit mudah didapat dari penjual bibit keliling, jenis populer di masyarakat disebut merbau
7
20
Gmelina
Cepat pertumbuhan , bibit mudah didapat dari penjual bibit keliling, pembagian, jenis populer di masyarakat disebut kamper
8
20
Tisuk
Lambat pertumbuhan Bibit  tumbuh dengan sendirinya, mudah pemasaran, harga sedang
9
20
Afrika/Sobsis
Lambat pertumbuhan Bibit  tumbuh dengan sendirinya, mudah pemasaran, harga murah


10
20
Kapol
Sangat mudah mendapat bibit Dapat tumbuh di bawah tegakan pohon , cepat berproduksi, , jenis populer di masyarakat mudah pemasaran dalam jumlah sedikit baik masih basah apalagi keadaan kering
11
20
Jahe Paris
 Bibit dan pupuk disiapkan ketua kelompok tani, dapat tumbuh di bawah tegakan pohon , pemasaran sangat menjanjikan, , jenis mulai populer di masyarakat
Sumber : hasil olah data primer (2014)

Tabel 3 menunjukan alasan memilih jenis-jenis tanaman yang dibudidayakan oleh para petani, secara umum  memilih tanaman yang dibudidayakan atas dasar kepopuleran suatu jenis tanaman di masyarakat.
Sebagaimana karakteristik para petani pada Tabel 1 dan 2  berdasarkan usia, tingkat pendidikan dan pekerjaan yang digeluti, sulit secara teoritis merubah kebiasaan yang biasa dilakukan oleh para petani. Selain itu mereka merasa kelas sosial berada di tingkat paling bawah dibandingkan dengan orang yang masuk kelas sosial ”golongan”. Adanya perbedaan status sosial dapat memotivasi para petani apabila telah melihat dan mendengar informasi keberhasilan petani dengan pekerjaan yang sama digeluti. Keberhasilan dan suksesnya petani lain tentu menjadi bahan  pembicaraan di semua kalangan baik di lingkungannya maupun di daerah lain. Tanpa disadari keadaan petani yang telah berhasil mendapat pengakuan status sosial tersebut tentu meningkatkan kelas sosialnya. Selain itu para petani dalam menentukan atau memilih suatu jenis tanaman untuk dibudidayakan cenderung ikut-ikutan solah-olah latah. Sebagai ilustrasi suatu jenis tanaman belum tentu sesuai dengan keadaan tempat tumbuh pada lahan mereka yang miliki dan hanya tumbuh baik di daerah tertentu. Namun dengan populernya jenis tanaman tersebut, para petani seolah-olah berlomba membudidayakan atau cukup memiliki beberapa jenis tanaman yang sedang populer di masyarakat. Hal ini sangat berhubungan dengan adanya pengakuan status sosial di lingkungannya, apabila belum memiliki jenis tanaman yang sedang populer akan merasa tersisihkan atau tidak akan berkembang manakala terjadi pembicaraan  di lingkungannya.

C.   Perkembangan Hutan Rakyat
            Perkembangan hutan rakyat pola agroforestri di Kabupaten Ciamis cukup signifikan, bukan terjadi di pedesaan saja bahkan merambah ke perkotaan. Sebenarnya para petani belum mengusai dan mengetahui teknik budidaya, namun salah satu yang mendorong perkembangan hutan rakyat cenderung adanya pengakuan status sosial di lingkungannya. Para petani dengan memiliki hutan rakyat merasa bangga menjadi topik pembicaraan dan terlebih apabila lahan mereka dijadikan sebagai tempat kajian atau riset bagi pihak institusi kehutanan. Dampak dari adanya pengkuan status sosial tersebut masyarakat merubah halaman rumah, areal persawahan dan lain-lain berubah menjadi hutan rakyat sebagaimana  dokumentasi pada Gambar 1 dan 2.

sawah100_1936
Gambar 1. Lahan sawah produktif ditanam
  sengon
Gambar 2. Pola agroforestri sengon dan kacang tanah di pekarangan rumah

Gambar 1 dan 2 menampilkan dokumentasi perkembangan penanaman kayu atau dikenal dengan hutan rakyat pola agroforestri sebagai akibat pengaruh pengakuan status sosial di masyarakat. Gambar 1 membuktikan sawah produktif dijadikan hutan rakyat karena  jenis tanaman kayu dengan hutan rakyatnya mulai popular sebagai indikator status sosial yang lebih tinggi. Sebelumnya seseorang miliki status sosial yang diperhitungkan dilingkungannya apabila memiliki sawah karena tidak akan kesulitan atau harus membeli beras. Sedangkan Gambar 2 menunjukan hutan rakyat pola agroforestri dengan kacang tanah yang dari segi pemanfaatan lahan sangat kreatif, namun pemilik lahan tidak memperhitungkan keselamatan apabila pohon-pohon tersebut tumbuh besar. Hal ini merupakan dampak dari perubahan stratifikasi sosial terbuka dimana keinginan adanya pengakuan status sosial menyebabkan masyarakat menanam pohon, bahkan mengabaikan keselamatan serta kerugian yang akan dihadapi.





D.   PENUTUP
Kelas sosial masih berlaku di masyarakat pedesaan, namun sesuai dengan perubahan jaman sistem strafikasi sosial terbuka, tidak lagi melihat dari garis keturunan melainkan lebih karena prestasi.
Karakteristik para petani hutan rakyat berdasarkan usia dan tingkat pendidikan yang rendah akan sulit merubah kebiasan yang dilakukan secara turun temurun. Namun dengan adanya pengakuan status sosial secara terbuka melalui peranan pohon / hutan rakyat menjadi salah satu motivasi menuju kepada perubahan status sosial.
Keinginan adanya pengakuan status sosial bagi masyarakat pedesaan tentu menjadi motivasi terhadap perkembangan hutan rakyat pola agroforestri. Hal ini berdampak pula terhadap pemanfaatan lahan secara optimal serta tidak sedikit adanya perubahan fungsi lahan. Kegiatan pengelolaan serta produk yang dihasilkan hutan rakyat pola agroforestri sangat memberikan kontrbusi terhadap pemerintah, pertumbuhan perekonomian dipedesaan dan peningkatan status sosial petani.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim 2008. Menggagas Pengukuran Konsep Status Sosial dan Ekonomi. Research Digest. http://researchexpert.wordpress.com/2007/08/16/menggagas-pengukuran-konsep-status-sosial-dan-ekonomi disunting  Oktober 2014.

----------- 2008. Arti Definisi/Pengertian Status Sosial & Kelas Sosial - Stratifikasi/Diferensiasi Dalam Masyarakat . http://organisasi.org/arti-definisi-pengertian-status-sosial-kelas-sosial-stratifikasi-diferensiasi-dalam-masyarakat, Sun, 05/10/2008 - 2:26am — godam64 disunting Agustus 2015

Alwi 2010. Korelasi tatus Sosial. http://id.shvoong.com/humanities/1969964-korelasi-status-sosial. Disunting  Desember 2014

Alhumami A. 2010. Dimensi Sosial-Ekonomi Pendidikan. MEDIA INDONESIA. mirror.unpad.ac.id/koran/.../2010.../mediaindonesia_2010-09-06_026.pdf, mediaindonesia_2010-09-06_026 disunting Deseember 2010

Darusman D. dan Hardjanto 2006. Tinjauan Ekonomi Hutan Rakyat. PROSIDING Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan 2006 4-13 disunting 15 desember 2014


Koentjaraningrat. 2004. Manusia Dan Kebudayan di Indonesia. Djambatan.

Sihombing UH. (050309008), Peranan Kelompok Tani Dalam Peningkatan Status Sosial Ekonomi Petani Padi Sawah (Studi Kasus Desa Rumah Pilpil, Keca. Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang” (Sekripsi S1). Universitas Sumatra Utara. repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/16348/7/Cover.pdf  .disunting Desember 2010.

Zulkarnain E. 2008. Analisis Tingkat Keberhasilan Hutan Rakyat dan Strategi Pembangunan Hutan Rakyat di Kabupaten Purwakarta. Disertasi Sekolah Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor 2008. disunting September 2013.



Post Top Ad

Your Ad Spot