KAJIAN TEKNIS – EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU RAKYAT UNTUK MEBEL DAN KERAJINAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, May 31, 2016

KAJIAN TEKNIS – EKONOMIS PEMANFAATAN KAYU RAKYAT UNTUK MEBEL DAN KERAJINAN

Oleh:
Devy Priambodo Kuswantoro


ABSTRAK

            Penggunaan kayu dari hutan rakyat saat ini selain sebagai bahan konstruksi dan pertukangan sebagai substitusi kayu dari hutan negara (Perum Perhutani) dan kayu dari luar Jawa juga telah menjadi bahan baku usaha mebel dan kerajinan yang semakin berprospek sejak terjadi krisis moneter. Akan tetapi pemanfaatan berbagai jenis kayu rakyat sebagai bahan baku mebel dan kerajinan apabila tidak diikuti dengan pengetahuan akan sifat-sifat kayu yang sesuai dikahawatirkan akan menurunkan kualitas produk itu sendiri yang lebih jauh akan berdampak pada hilangnya kepercayaan konsumen. Sifat kayu untuk mebel dan kerajinan mulai dari sifat fisika, mekanika, keawetan, pengeringan, kenampakan makro, dan pengerjaan kayu menjadi penting dalam rangka pemilihan jenis kayu  rakyat yang cocok dan juga lebih jauh dikarenakan usaha mebel dan kerajinan dari kayu rakyat telah menjadi peluang usaha yang bernilai ekonomi untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kata kunci: kayu rakyat, mebel, kerajinan, sifat kayu


I. PENDAHULUAN

Perhatian multipihak terhadap perkembangan hutan rakyat sangat tinggi. Hutan rakyat telah menjadi bagian penting dalam kegiatan kehutanan. Saat ini produksi kehutanan sangat tergantung dari hutan tanaman industri dan hutan rakyat karena produksi dari hutan alam tidak bisa diharapkan lagi. Menurut data Departemen Kehutanan, perkembangan hutan rakyat sudah mencapai 1.265.460,26 hektar dengan sekira 91% merupakan hutan rakyat swadaya dan sisanya merupakan hutan rakyat yang dibangun dengan pendekatan proyek pemerintah (Awang, 2005). Fungsi ekonomi pengusahaan hutan rakyat telah dirasakan oleh masyarakat khususnya petani dan pelaku usaha perkayuan. Adanya nilai ekonomi dan pasar yang jelas membuat pengusahaan hutan rakyat direspon secara positif oleh masyarakat. Walaupun potensinya sampai saat ini masih belum banyak dketahui karena belum adanya inventarisasi, namun secara riil di lapangan bisa dilihat bahwa di banyak industri pengolahan kayu dijumpai dan diolah kayu-kayu milik rakyat.
      Di Jawa pada umumnya, kayu-kayu rakyat telah menjadi substitusi kayu hutan negara (Perum Perhutani) dan kayu-kayu luar Jawa. Penggunaan kayu rakyat tidak terbatas untuk konstruksi bangunan dan pertukangan saja namun juga untuk produk-produk mebel dan aneka produk kerajinan dengan kualitas yang memuaskan. Industri-industri mebel skala kecil dan menengah saat ini semakin marak berkembang. Perkembangan industri ini terjadi saat krisis moneter yang berpengaruh pada meningkatnya permintaan mebel Jati dan Mahoni yang selama ini bahan bakunya dipasok dari Perum Perhutani. Kurang responsifnya Perhutani dalam menyikapi hal ini menyebabkan kekurangan bahan baku dipasok dari hutan rakyat. Disamping itu, kebutuhan masyarakat akan peralatan rumah tangga yang murah semakin meningkatkan peluang usaha di bidang ini. Hal yang sama terjadi juga di bidang industri kerajinan kayu. Ketertarikan konsumen luar negeri akan produk-produk kerajinan kayu sangat tinggi. Kayu-kayu yang dahulu kurang dikenal saat ini digunakan untuk kerajinan.
Pengetahuan mengenai sifat-sifat kayu untuk bahan baku mebel dan kerajinan dirasa penting karena tidak semua jenis kayu cocok untuk keperluan tersebut. Sudah umum diketahui bahwa hutan rakyat paling banyak diusahakan dengan pola campuran yang terdiri dari tanaman kehutanan sebagai tanaman pokok, tanaman buah-buahan, dan tanaman semusim di bawah tegakan. Saat ini semua jenis kayu baik itu yang dari tanaman kehutanan maupun buah-buahan laku dijual di pasaran. Apabila tidak diketahui sifat-sifatnya, kemungkinan besar mebel dan kerajinan yang dihasilkan tidak akan memuaskan. Hal ini selain akan berdampak pada mutu produk juga lebih jauh sampai pada hilangnya kepercayaan konsumen. Tulisan ini akan menyajikan beberapa sifat kayu untuk bahan mebel dan kerajinan sebagai salah satu pedoman dalam pemilihan jenis kayu rakyat yang cocok untuk mebel dan kerajinan. Diharapkan kajian ini dapat menjadi tambahan pengetahuan terutama bagi para pengusaha mebel dan kerajinan untuk memilih dan mempergunakan hasil hutan rakyat. Kajian potensi ekonomi usaha mebel dan kerajinan kayu rakyat juga akan diulas sebagai  untuk dapat memperlihatkan tingginya peluang ekonomi di bidang ini.


II. SIFAT KAYU UNTUK MEBEL DAN KERAJINAN

Kajian teknis mengenai sifat kayu perlu diketahui agar peluang pemanfaatan suatu kayu mendekati kenyataan (telah diketahui kesesuaiannya). Hasil akhir suatu produk kayu sangat ditentukan oleh kesesuaian jenis produk dengan sifat kayunya. Spesifikasi suatu produk mempunyai persyaratan sifat kayu sebagai rekomendasi awal bahan baku. Kasmudjo (2005) menekankan bahwa kajian mengenai sifat fisika, sifat mekanika, keawetan dan pengeringan, sifat fisik/kenampakan makro, dan sifat pengerjaannya penting untuk diketahui. Makin lengkap dan memadai persyaratan tersebut, peluang pemanfaatan suatu kayu sebagai bahan mebel dan kerajinan semakin besar pula. Dalam hal penggunaan kayu rakyat, pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa pengetahuan produsen mengenai sifat kayu ini pada umumnya masih kurang sehingga mutu produk terutama mebel masih rendah. Berikut akan diuraikan secara singkat sifat-sifat kayu untuk mebel dan kerajinan.



1. Sifat Fisika Kayu
a. Kadar air kayu, - Kadar air kayu merupakan satuan besarnya kandungan air dalam kayu. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perubahan dimensi kayu, cacat kayu akibat serangan organisme perusak kayu, dan penggunaan produk kayu tersebut di suatu lingkungan. Pengolahan kayu saat berada dalam kondisi kering udara atau kandungan airnya seimbang dengan kandungan air di udara sekitar merupakan cara terbaik untuk menghindari penurunan kualitas mebel dan kerajinan yang dihasilkan. Memang dalam beberapa hal, pengolahan kayu dalam kondisi setengah kering lebih mdah dan banyak dilakukan oleh para pengrajin, namun tetap harus diingat bahwa pengeringan sampai kondisi kering udara setelah selesai dikerjakan adalah sangat penting. Pengetahuan mengenai kondisi kering udara suatu tempat juga penting karena adanya sifat kayu yang higroskopis (menyesuaikan dengan kondisi udara sekitar). Mebel dan  kerajinan yang diekspor banyak yang ditolak konsumen karena terjadi cacat setelah tiba di luar negeri akibat kondisi udaranya berbeda.
b. Berat jenis kayu, - Berat jenis (BJ) kayu atau saat ini didekati dengan berat kayu saja berhubungan erat dengan kekuatan kayu. Kayu dengan berat jenis tinggi akan semakin kuat. Untuk produk mebel dan beberapa kerajinan seperti bubutan dan patung yang memerlukan kekuatan biasanya memakai kayu dengan BJ menengah ke atas atau sekira 0,4 ke atas karena lebih keras dan kuat, sementara kayu dengan BJ kecil sampai menengah biasanya dipakai untuk kerajinan yang tidak memerlukan kekuatan seperti topeng dan wayang ataupun mebel ringan.

c. Penyusutan kayu, - Penyusutan kayu adalah salah satu sifat perubahan dimensi kayu yang sangat sering dijumpai dalam produk mebel dan kerajinan kayu, contohnya almari kayu yang saat dibeli dalam kondisi baik, pada saat musim kemarau terjadi penyusutan pada pintu-pintunya. Setiap jenis kayu tidak sama nilai perubahan dimensinya. Kayu dengan persentase perubahan dimensi yang rendah menandakan bahwa kayu tersebut mempunyai tingkat kestabilan yang tinggi yang baik sebagai bahan baku mebel dan kerajinan. Kayu dengan tingkat kestabilan yang rendah pun masih dapat diterima sebagai bahan mebel dan kerajinan asalkan diperlakukan terlebih dahulu dengan bahan penstabil seperti Poly Ethylene Glycol (PEG) 1000. Listyanto dkk. (2005) meneliti bahwa PEG 1000 dengan konsentrasi 30 – 60% baik digunakan pada kayu rakyat Jati yang rata-rata ditebang pada umur muda untuk memperbaiki stabilitas dimensinya.

2. Sifat Mekanika Kayu
            Sifat mekanika kayu adalah gambaran kekuatan kayu untuk menahan beban yang diberikan. Produk mebel seperti almari, meja, dan kursi dan kerajinan seperti ukiran dan bubutan yang sering dipadukan sebagai ornamen konstruksi sangat memerlukan pengetahuan akan sifat mekanika kayu ini. Oey (1990) telah membagi kelas kuat kayu menjadi 5 kelas berdasar berat jenis dan kekuatan lengkung dan tekan mutlaknya. Semakin kuat kayu, semakin baik digunakan untuk produk yang memerlukan kekuatan. Hasil kajian Kasmudjo (2000) menyebutkan bahwa biasanya kayu yang berwarna kuning coklat sampai coklat kehitaman mempunyai kekuatan yang memadai dan sebaliknya untuk kayu yang berwarna putih biasanya juga lunak dengan kekuatan yang rendah pula. Sifat mekanika lainnya seperti sifat belah dan kekerasan berpengaruh pada saat pengerjaan.
3. Keawetan dan Pengeringan Kayu
            Kayu-kayu rakyat yang beredar saat ini secara umum termasuk dalam kategori agak awet sampai sangat tidak awet dan hanya sedikit yang termasuk awet alami dari serangan perusak kayu (Kuswantoro, 2005). Lebih lanjut disebutkan bahwa jenis-jenis primadona hutan rakyat lemah dalam hal keawetannya. Sebagai bahan mebel dan kerajinan yang sangat mementingkan keindahan, adanya serangan perusak kayu dipastikan akan mengurangi mutu. Hasil serangan jamur kayu susah dihilangkan apabila hifanya sudah menembus ke dalam kayu dan akan terus terlihat sampai akhir. Oleh karena itu perlakuan pengawetan yang tepat diperlukan untuk kayu-kayu rakyat ini.
            Pengeringan kayu sangat mempengaruhi sifat-sifat kayu yang lain. Hal ini berhubngan dengan kadar air kayu dan cacat akibat pengaruh suhu dan kelembaban. Pengeringan alami di bawah sinar matahari sampai saat ini palng banyak dilakukan oleh industri kecil dan menengah. Pada dasarnya produk yang kering udara lebih tahan lama.

4. Kenampakan Makro Kayu
            Kenampakan makro kayu merupakan sifat asli kayu sebelum dilakukan finishing. Banyak konsumen mebel dan kerajinan kayu masih menginginkan kenampakan asli kayu ini. Warna asli kayu adalah putih, kuning, coklat, merah, dan hitam serta perpaduan diantaranya. Perpaduan warna dan gambaran serat dan corak kayu seringkali menjadi daya tarik produk mebel dan kerajinan. Oleh karena itu, kayu-kayu dengan gambaran demikian merupakan primadona bahan baku mebel dan kerajinan. Namun perlu diingat bahwa tidak semua produk terutama kerajinan mensyaratkan warna dan serat kayu seperti kerajinan topeng dan wayang yang lebih mengutamakan kayu warna muda karena akan dimodifikasi warnanya untuk tujuan keartistikannya.

Tekstur dan kesan raba sifatnya relatif, namun ditambahkan oleh Kasmudjo (2000) bahwa produk mebel dan kerajinan sebaiknya mempunyai tekstur dan kesan raba yang halus atau agak halus karena tentu saja produk-produk ini mengutamakan keindahannya. Perbaikan sifat ini dapat dilakukan dengan cara pengetaman dan pengampelasan berulang dengan ampelas kasar dan halus berulang-ulang.

5. Sifat Pengerjaan Kayu
            Sifat pengerjaan kayu biasanya dirasakan oleh pengrajin yang membuat produk langsung dengan tangan. Sifat asli kayu, tingkat kekeringannya, ketajaman alat, dan ketrampilan pekerja amat menentukan keberhasilan pengerjaan kayu. Kasmudjo (2000) telah membagi kelas pengerjaan kayu menjadi 5 kelas berdasarkan cacat pengerjaan yang terlihat yaitu Kelas I dengan cacat kurang dari 20%, Kelas II dengan cacat 20 – 40%,   Kelas III dengan cacat 40 – 60%, Kelas IV dengan cacat 60 – 80%, dan Kelas V dengan cacat lebih dari 80%. Aapun bentuk-bentuk  pengerjaan yang dinilai adalah kemudahan dalam kegiatan pembelahan/penggergajian, pengetaman, pengampelasan, pengeboran, dan pembubutan. Kegiatan-kegiatan ini adalah proses yang lazim dilakukan untuk membuat suatu produk mebel dan kerajinan. Secara umum apabila dalam kelima proses tersebut suatu jenis kayu mempunyai persentase cacat yang kecil, maka kayu tersebut layak untuk menjadi bahan baku mebel dan kerajinan, namun apabila suatu kayu masuk dalam kategori kelas pengerjaan IV dan V maka hanya layak untuk aneka bubutan kecil dan souvenir saja.


III. POTENSI EKONOMI USAHA MEBEL DAN KERAJINAN DARI KAYU RAKYAT

            Usaha mebel dan kerajinan dari kayu rakyat sebagai bentuk diversifikasi pengolahan kayu rakyat nyata-nyata mempunyai peluang ekonomi yang mampu membantu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lapangan kerja baru. Kasus di daerah penyangga Taman Nasional Ujung Kulon bahkan memperlihatkan bahwa usaha kerajinan dari kayu rakyat tidak saja memberikan kontribusi ekonomi namun juga bernilai konservasi karena turut membantu meminimalkan kegiatan interaksi penduduk dengan kawasan seperti pengambilan kayu dan satwa serta eksplorasi kawasan lainnya (Kurnia, 2004). Usaha kerajinan skala kecil di Desa Ujungjaya, Citangkil, dan Cibadak dengan produk souvenir patung badak dari jenis kayu Lame dan Sengon menjadi salah satu alternatif usaha ekonomi penduduk saat tidak melaut atau di luar musim tanam dan panen di sawah.
            Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa industri mebel dan kerajinan dari kayu rakyat ini kebanyakan masih berskala home industry. Hal ini terlhat dari besarnya modal yang dikeluarkan, jumlah produksi yang tidak kontinu karena masih berdasarkan pesanan dan bukan bertujuan mencukupi kebutuhan pasar secara umum, pasar produk yang masih dalam lingkup lokal. Mutu produk bervariasi dari rendah sampai bagus. Hal ini dipengaruhi oleh ketrampilan pekerja dan konsumen produk tersebut. Sebagai contoh, produk mebel sederhana berupa meja dan almari dari kayu Sengon dikerjakan tanpa prinsip dekoratif karena hanya untuk tujuan lokal pedesaan saja. Dengan demikian harganya pun juga rendah sekira Rp. 20.000,00 – Rp. 30.000,00. Padahal apabila dikerjakan dengan pengawasan mutu dan perlakuan finishing yang memadai, hasilnya bisa lebih baik dengan harga jual yang lebih tingi pula. Produsen mebel dan kerajinan dengan konsumen kota dan desa ternyata turut mempengaruhi model dan kualitas produk yang dihasilkan. Produk untuk konsumen pedesaan cenderung kurang diperhatikan mutu kayu dan produknya dikarenakan kecenderungan karakteristik konsumen pedesaan yang kurang mempedulikan hal-hal tersebut yang amat berbeda dengan konsumen kota.
            Kayu-kayu rakyat yang dipakai sebagai bahan mebel dan kerajinan masih didominasi oleh kayu Jati, Mahoni, dan Sengon sebagai tanaman paling populer untuk hutan rakyat. Jenis kayu lain yang juga dipakai diantaranya adalah kayu Bayur, Tisuk, Mindi, dan kayu buah-buahan tergantung dari suplai yang tersedia di penggergajian setempat. Suplai kayu didapat dari membeli di pengergajian atau membeli langsung di petani. Kebanyakan pelaku industri mebel juga merangkap sebagai pengusaha penggergajian. Produk-produk mebel rakyat ini berupa almari, bufet, meja – kursi tamu, meja rias, meja makan, dan bangku sekolah selain kusen dan pintu. Sedangkan produk kerajinan yang masih dominan adalah produk ukiran dan souvenir.
            Prospek ekonomi usaha mebel dan kerajinan dengan bahan kayu rakyat terbukti dari harga jual produk tetap bahkan cenderung naik seiring dengan semakin tingginya permintaan mebel murah berkualitas. Beberapa konsumen lokal tetap memilih mebel dari kayu solid dibandingkan dengan mebel dari papan partikel dan MDF yang banyak diusahakan oleh pabrikan besar disebabkan kurang tahannya produk perekatan tersebut terhadap jamur dan kelembaban. Tabel 1 menggambarkan harga-harga di pasar untuk produk mebel dari kayu rakyat tersebut. Harga-harga tersebut adalah harga minimal yang biasa ditawarkan oleh produsen dengan mengambil keuntungan minimal 20 – 30% dari harga produksi. Standar harga tidak sama tergantung dari pasaran kayu di setiap kabupaten/daerah, upah kerja karyawan, dan biaya transportasi. Dari harga jual dapat dilihat bahwa dengan rata-rata karyawan berjumlah 2 – 4 orang, usaha mebel kayu rakyat ini mampu meningkatkan perekonomian masyarakat. Diversifikasi produk olahan kayu mampu mengubah harga kayu rakyat yang murah menjadi bernilai jual.

Tabel 1. Harga jual produk mebel kayu rakyat
No.
Jenis kayu
Jenis produk
Harga minimal (Rp)
Lokasi
1.
Jati
Almari sederhana
700.000
Cianjur
2.
Jati
Almari besar
1.500.000
Garut
3.
Jati
Bufet sederhana
750.000
Garut
4.
Mahoni
Almari sederhana
400.000
Cianjur
5.
Mahoni
Ranjang
400.000
Cianjur
6.
Mahoni
Meja makan
1.125.000
Cianjur
7.
Sengon
Almari besar
400.000
Cianjur
8.
Sengon
Bufet besar
350.000
Cianjur
9.
Sengon
Ranjang besar
300.000
Cianjur
10.
Sengon
Bangku sekolah
750.000
Cianjur
11.
Mindi
Almari besar
650.000
Subang
12.
Mindi
Almari anak
250.000
Subang
13.
Mindi
Bufet besar
1.300.000
Subang
14.
Mindi
Set tamu
1.500.000
Subang
15.
Mindi
Meja rias
500.000
Subang
16.
Mindi
Meja tulis
400.000
Subang
17.
Mindi
Set meja makan
1.000.000
Subang
18.
Mindi
Bangku sekolah
200.000
Subang
Sumber: pengolahan data penelitian (2005, 2006)

            Kendala usaha mebel dan kerajinan dari kayu rakyat yang masih berskala kecil sampai saat ini adalah modal usaha yang kurang sehingga pengembangannya menjadi unit usaha lestari masih belum maksimal. Bantuan modal dan kredit lunak dari pemerintah maupun lembaga keuangan mikro sangat diharapkan. Disinilah analisa usaha diperlukan sebagai gambaran kelayakan ekonomi sebagai bahan pengajuan kredit. Hasil pengamatan selama ini, para pengusaha jarang yang melakukan analisa sehingga tidak tahu persis ekonomi perusahaannya. Peran pemerintah diharapkan juga dalam usaha promosi terutama untuk mendukung usaha mebel kerajinan sebagai salah satu kebanggaan daerah dan mendukung pendapatan asli daerah.

  

IV. PENUTUP

            Diversifikasi pengolahan kayu rakyat menjadi produk mebel dan kerajinan dengan dukungan pengetahuan sifat-sifat kayunya diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan berbagai jenis kayu rakyat yang ada dan sebagai pengendali mutu produk mebel dan kerajinan. Peluang ekonomi usaha mebel dan kerajinan serta nilai ikutannya diharapkan dapat semakin meningkatkan gairah usaha di bidang perkayuan yang pada akhirnya akan tetap menggairahkan usaha hutan rakyat. Pengelolaan hutan rakyat secara lestari akan menghasilkan kayu yang berkualitas yang tentu saja akan menguntungkan bagi pemanfaannya.



DAFTAR PUSTAKA
Awang, S.A. 2005. Konstruksi Pengembangan Hutan Rakyat di Indonesia. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat di Indonesia halaman 11-24. Kerjasama Antara Jurusan Teknologi Hasil Hutan dan Pusat Kajian Hutan Rakyat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kasmudjo. 2000. Pengenalan Jenis dan Sifat-sifat Kayu Untuk Kerajinan. Bagian Penerbitan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

-----------. 2005. Peluang Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat di Indonesia halaman 25-30. Kerjasama Antara Jurusan Teknologi Hasil Hutan dan Pusat Kajian Hutan Rakyat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Kurnia, L. 2004. Badak Untuk Rakyat. Kompas Minggu, 8 April 2004. Website: http://www.kompas.com. Diakses tanggal 19 gustus 2006.    

Kuswantoro, D.P. 2005. Keawetan, Deteriorasi, dan Pengawetan Kayu Rakyat. al – Basia 2 (1): 48-56. Loka Penelitian dan Pengembangan Hutan Monsoon. Ciamis.


Listyanto, T., S.A. Hadikusumo, dan M.N. Rofii. 2005. Pengaruh Konsentrasi Larutan PEG 1000 dan Posisi Radial Pohon Pada Usaha Peningkatan Kualitas Kayu Jati Umur Muda dari Hutan rakyat di Gunungkidul. Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Pengelolaan dan Pemanfaatan Hasil Hutan Rakyat di Indonesia halaman 214-222. Kerjasama Antara Jurusan Teknologi Hasil Hutan dan Pusat Kajian Hutan Rakyat Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Post Top Ad

Your Ad Spot