ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, May 27, 2016

ETOS KERJA PETANI DALAM PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KECAMATAN MAJENANG KABUPATEN CILACAP

Oleh :
Tri Sulistyati Widyaningsih dan Dian Diniyati


Abstrak

                Keberhasilan pengelolaan hutan rakyat (HR) selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan, bibit, penyuluhan, pengetahuan, juga ditentukan oleh etos kerja petani selaku pelaku utamanya, yang mana etos kerja tersebut akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang petani tentang hutan rakyat, keterlibatannya dalam mengelola HR, dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada di sekitarnya. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan perempuan dalam mengelola HR, yang terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural. Hal tersebut terlihat dari hasil kajian yang dilakukan di Desa Bener dan Desa Sepatnunggal, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah  pada bulan Juni – Agustus 2006, terhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive samplingterhadap 34 orang petani hutan rakyat yang diambil secara sengaja (metode purposive sampling). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, Focus Group Discussion (FGD),  dan dokumentasi yang kemudian diolah dan disajikan secara deskriptif. Hasil kajian menunjukkan bahwa di mana kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan, karena laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang bersifat produktif termasuk dalam mengelola hutan rakyat (rata-rata 45 jam seminggu) dibandingkan kaum perempuan (rata-rata 27 jam seminggu). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam pengelolaan hutan rakyat juga dipengaruhi oleh budaya patriarkhi yang masih melekat terutama dalam masyarakat Jawa, bahwa laki-laki lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan, sedangkan perempuan lebih banyak berperan di sektor domestik (pekerjaan rumah tangga).


Kata kunci : etos kerja, persepsi, pola aktivitas, hutan rakyat

I. PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
            Pengelolaan hutan rakyat (HR)  tidak terlepas dari petani HR selaku pelaku utamanya. Untuk menuju keberhasilan, maka pengelolaan HR selain ditunjang oleh sarana prasarana dan modal berupa lahan, bibit, penyuluhan, pengetahuan, juga ditentukan oleh etos kerja petaninya. Etos menurut Fran Magnis (1978: 22) dalam Salamun dkk, 1995: 43 merupakan sikap kehendak yang ada hubungan erat dengan tanggung jawab moralnya. Sehingga etos kerja dapat diartikan sebagai  sikap seseorang yang berhubungan dengan tanggung jawab moralnya dalam melakukan suatu pekerjaan atau mencari nafkah. Etos kerja seseorang akan dipengaruhi oleh persepsi atau sudut pandang orang tersebut tentang makna hal yang dilakukannya.
            Petani HR bekerja mengelola HR dalam rangka memenuhi kebutuhannya karena manusia termasuk homo economicus yang senantiasa melakukan aktivitas ekonomi agar bisa memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri dan tidak tergantung kepada orang lain. Petani yang memiliki persepsi positif akan apa yang dia kerjakan, maka etos kerjanya akan positif pula. Etos kerja di sini dapat dilihat dari keterlibatan yang bersangkutan dalam mengelola HR dan interaksinya dengan sumber daya alam yang ada di wilayah sekitarnya. Akan terdapat perbedaan etos kerja antara petani laki-laki dan  perempuan dalam mengelola HR. Hal tersebut terjadi karena adanya konsep gender yaitu suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural (Fakih, 1999: 8), terutama dalam masyarakat Jawa masih terdapat budaya patriarkhi, yang mana laki-laki  lebih berperan dalam sektor publik (pekerjaan di luar rumah) dan menjadi penentu kebijakan, sedangkan perempuan lebih banyak berperan di sektor domestik (pekerjaan rumah tangga) dan kurang didengar suaranya dalam setiap pengambilan kebijakan.  Perbedaan peran petani HR berdasarkan gender akan membawa dampak pada pembuatan kebijakan terkait dengan pengelolaan HR. Oleh karena itu kajian tentang Etos Kerja Petani dalam Pengelolaan HR berdasarkan gender ini perlu dilakukan.

B.     Tujuan
            Kajian ini bertujuan untuk mengetahui:
  1. Persepsi petani tentang hutan rakyat.
  2. Interaksi petani terhadap hutan rakyat dan sumber daya alam di sekitarnya.
  3. Etos kerja petani berdasarkan gender.
Hasil dari kajian ini diharapkan dapat menjadi masukan terkait upaya menggerakkan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.


II. METODOLOGI
A.     Kerangka Analisa
            Pembangunan hutan rakyat dipengaruh oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal, dimana faktor internal berhubungan dengan pemilik hutan rakyatnya sehingga dapat dipengaruhi dan dirubah sedangkan faktor eksternal adalah di luar kewenangan pemiliknya sehingga sulit untuk dipengaruhi.   Salah satu faktor internal yang dimiliki petani adalah persepsi dari petani mengenai pandangannya tentang hutan rakyat, persepsi ini sangat diperlukan dan berpengaruh terhadap perkembangan hutan rakyat.  Adakalanya ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan mengenai persepsi,  namun demikian persepsi ini akan membentuk partisipasi/keterlibatan petani pada pembangunan hutan rakyat.
            Bentuk partsipasi akan terlihat di lapangan dengan adanya kegiatan petani baik itu laki-laki maupun perempuan di lokasi hutan rakyatnya, apakah kegiatan itu dilakukan secara terus menerus atau hanya sekali-kali, sehingga tercipta interaksi yang positif terhadap hutan rakyat atau sumber daya alam lainnya. Selanjutnya interaksi yang terjadi akan mempengaruhi etos kerja petani, apakah curahan tenaga kerja yang dimiliki oleh petani seluruhnya untuk pengelolaan hutan rakyat atau sebaliknya.  Dari etos kerja ini akan tercipta bentuk hutan rakyat yang sesuai dengan karakteristik pemiliknya

 







Gambar 1. Alur Pikir Etos Kerja Petani di Hutan Rakyat

Penelitian ini dilakukan di Desa Bener dan Desa Sepatnunggal, Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap, Propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni - Agustus 2006. Sampel dalam penelitian ini adalah petani hutan rakyat yang dipilih secara sengaja menggunakan metode purposive sampling (pengambilan sampel bertujuan) terhadap responden yang memenuhi kriteria mengusahakan dan memiliki lahan yang digunakan untuk hutan rakyat. Sampel yang diambil sebanyak 34 orang (17 orang responden laki-laki dan 17 orang responden perempuan). 
C.  Metode Pengumpulan Data
            Untuk memperoleh data yang diinginkan dilakukan beberapa metode sebagai berikut:
a.   Interview (Wawancara)
Wawancara adalah pengumpulan data dengan cara bertanya secara langsung terhadap responden terpilih terkait dengan masalah penelitian. Wawancara dilakukan menggunakan panduan wawancara yang sudah dipersiapkan sebelumnya.
b.   Focus Group Discussion (FGD)
FGD atau diskusi kelompok secara terarah dilakukan untuk menggali informasi tentang penelitian, yang mana responden terpilih dikumpulkan dalam satu tempat untuk membahas suatu masalah dan melakukan tukar pendapat secara partisipatif.
c.   Dokumentasi
Metode pengumpulan data dengan dokumentasi yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen-dokumen yang merupakan data sekunder dalam bentuk tertulis dan foto, seperti monografi desa dan kecamatan dalam angka.

D. Metode Pengolahan dan Analisa Data
            Data yang terkumpul diolah menggunakan statistik deskriptif berupa distribusi frekuensi yang kemudian disajikan secara deskriptif kualitatif komparatif berupa perbandingan antara satu kelompok responden dengan satu kelompok responden lainnya.

III.  HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Karakteristik Responden
            Karakteristik responden yang diuraikan berikut ini meliputi jenis kelamin, usia, tingkat pendidikan, dan pekerjaan responden. Deskripsi tentang karakteristik responden dikemukakan untuk mengetahui latar belakang responden yang diteliti. Adapun karakteristik responden penelitian ini dapat dilihat dalam tabel 1 di bawah ini.

Tabel 1. Karakteristik responden
No.
Karakteristik
Desa Bener
Desa Sepatnunggal
Total
n
(%)
n
(%)
n
%
1.
Jenis kelamin







a.       Laki-laki
10
59
7
41
17
100

b.       Perempuan
10
59
7
41
17
100
2.
Usia (tahun)







Laki-laki







a.       < 15 tahun
0
0
0
0
0
0

b.       15 – 54 tahun
5
29,41
5
29,41
10
58,82

c.       >  54 tahun
5
29,41
2
11,77
7
41,18


10
58,82
7
41,18
17
100

Perempuan







a.    < 15  tahun
0
0
0
0
0
0

b.    15 – 54 tahun
10
59
7
41
17
100

c.     >  54 tahun
0
0
0
0
0
0


10
59
7
41
17
100
3.
Tingkat Pendidikan







Laki-laki







a.       Tidak sekolah
0
0
1
6
1
6

b.       Tidak tamat/Tamat SD
9
53
4
24
13
76

c.       Tamat SLTP/SLTA
1
6
2
12
3
18

d.       Tamat Akademi/PT
0
0
0
0
0
0


10
59
7
41
17
100

Perempuan







a.          Tidak sekolah
1
6
0
0
1
6

b.          Tidak tamat/Tamat SD
8
47
5
29
13
76

c.           Tamat SLTP/SLTA
1
6
1
6
2
12

d.          Tamat Akademi/PT
0
0
1
6
1
6


10
59
7
41
17
100
4.
Pekerjaan Utama







Laki-laki







a.       Tani/Buruh
10
59
5
29
15
88

b.       PNS
0
0
1
6
1
6

c.       Wiraswasta
0
0
0
0
0
0

d.       Aparat Desa
0
0
1
6
1
6


10
59
7
41
17
100

Perempuan







a.  Tani/Buruh
4
24
5
29
9
53

b.  PNS
0
0
0
0
0
0

c.  Wiraswasta
0
0
0
0
0
0

d.  Ibu Rumah Tangga
6
35
2
12
8
47


10
59
7
41
17
100
5.
Pekerjaan Sampingan







Laki-laki







a.        Tidak punya
2
12
1
6
3
18

b.        Tani/Buruh
4
24
5
29
9
53

c.         PNS
0
0
0
0
0
0

d.        Wiraswasta
3
18
1
6
4
23

e.        Aparat Desa
1
6
0
0
1
6


10
59
7
41
17
100

Perempuan







a.        Ibu Rumah Tangga
4
24
5
29
9
53

b.        Tani/Buruh
5
29
2
12
7
41

c.         PNS
0
0
0
0
0
0

d.        Wiraswasta
1
6
0
0
1
6

e.        Aparat Desa
0
0
0
0
0
0


10
59
7
41
17
100

            Dari karakteristik responden di atas terlihat bahwa perbandingan jumlah responden laki-laki dan perempuan seimbang sebanyak 17 orang, sedangkan dari sebaran usia mayoritas responden baik laki-laki maupun perempuan termasuk dalam kategori berusia produktif  (15 – 54 tahun) sebesar 58,82 % pada responden laki-laki dan 100 % pada responden perempuan. Dengan kondisi tersebut diharapkan pengelolaan hutan rakyat dapat berjalan lebih optimal karena dilakukan oleh petani yang dari tingkatan usia, masih mempunyai banyak tenaga untuk mengelola dan mengembangkan hutan rakyat. Meskipun mayoritas responden berusia produktif, tetapi dari segi pendidikan, mayoritas berpendidikan rendah karena hanya menempuh pendidikan di tingkat SD baik tamat maupun tidak, sehingga harus banyak ditunjang oleh pengalaman dan pemberian pelatihan agar hutan rakyat tidak dikelola secara tradisional, tanpa pemeliharaan. Kemudian dari segi pekerjaan, mayoritas responden memang bekerja sebagai petani/ buruh dalam hal ini termasuk mengelola hutan rakyat, yaitu sebesar 88% pada responden laki-laki untuk pekerjaan utamanya dan 53% pada responden perempuan untuk pekerjaan utamanya.  Lebih sedikitnya responden perempuan yang bekerja menjadi petani hutan rakyat dibandingkan responden laki-laki, karena beberapa responden perempuan merasa pekerjaan utamanya sebagai ibu rumah tangga, sedangkan bekerja di sektor hutan rakyat atau pertanian lebih bersifat sebagai sampingan untuk membantu suami.
B. Hutan Rakyat di Kabupaten Cilacap
            Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap pada bulan Juni 2006, diketahui bahwa pembangunan hutan rakyat di wilayah Kabupaten Cilacap ditekankan di sebelah utara yang memiliki ketinggian 100 meter dpl termasuk di dalamnya Kecamatan Majenang yang menjadi lokasi penelitian ini, yang mana Desa Bener terletak pada ketinggian 100 mdpl dan Desa Sepatnunggal pada ketinggian 600 mdpl. Hutan rakyat di Kabupaten Cilacap seluas 8.475 ha dengan komoditi yang dikembangkan antara lain sengon, mahoni, jati, pinus, akasia, jati, bambu, sonokeling, suren, cemara, cempaka, rasamala, eucalyptus, johar, dan maja.

C. Persepsi Responden tentang Hutan Rakyat
            Persepsi merupakan proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated dalam diri individu (Walgito, 1991: 54). Melalui persepsi ini, individu dapat mengerti keadaan lingkungan yang ada di sekitarnya dan juga tentang keadaan diri individu yang bersangkutan (Davidoff 1981 dalam Walgito, 1991: 54).
            Persepsi orang akan berbeda-beda tergantung pengalaman, kemampuan berpikir, pengaruh lingkungan, serta kerangka acuannya, begitu pula persepsi tentang hutan rakyat. Hutan rakyat menurut UU no. 41/ 1999 adalah hutan yang tumbuh di atas tanah yang dibebani hak milik (Suhardjito, 2000: 1). Meskipun sudah banyak orang yang menuliskan makna tentang hutan rakyat, petani selaku pengelola mempunyai persepsi tersendiri tentang hutan rakyat dan bagaimana pengelolaannya. Hutan rakyat menurut responden laki-laki dari Desa Bener dan Sepatnunggal yang diwawancarai adalah tanaman yang cocok ditanam, hasilnya mudah dijual, dalam jangka panjang dapat menambah pendapatan jika dikelola dengan baik dan dapat dijadikan tabungan di kala membutuhkan biaya misalnya untuk membangun rumah, hajatan, biaya sekolah, dan berobat, selain itu serasahnya dapat menyuburkan lahan/ memperbaiki lahan, menyegarkan udara, menambah mata air, serta menahan longsor. Sedangkan pandangan responden perempuan tentang hutan rakyat lebih bersifat umum, bahwa hutan rakyat cocok untuk dikembangkan, dapat menyuburkan tanah, dan menahan longsor.
            Dari hasil wawancara tersebut diketahui bahwa pandangan responden tentang hutan rakyat sangat positif, apalagi jika hutan rakyat tersebut dikelola dengan baik, mereka berpendapat bahwa HR dapat menjadi tabungan di saat membutuhkan banyak biaya. Persepsi atau sudut pandang responden tentang hutan rakyat tersebut akan mempengaruhi pola aktivitas dan interaksinya dengan hutan rakyat dan sumber daya alam.

D. Pola Aktivitas dan Interaksi Petani dengan Hutan Rakyat
            Pola aktivitas adalah siklus kegiatan petani terkait dengan pekerjaannya sehari-hari baik dalam mengelola HR dan bekerja di sektor lain. Berdasarkan hasil Focus Group Discussion (FGD) yang telah dilakukan terhadap responden terpilih di kedua desa diperoleh hasil sebagai berikut:
Pola Aktivitas Responden Laki-laki di Desa Bener
No.
Jenis Aktivitas
Alokasi waktu
Sifat pekerjaan
1.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di pagi hari:
Bangun tidur, mandi, beribadah, makan pagi, menonton berita pagi, mengantar anak sekolah
2 jam
Rutin, harian
2.
Aktivitas terkait Pekerjaan:
a.     Di pekarangan: memberi makan ayam
b.     Di hutan rakyat: mencangkul, membersihkan lahan, menanam, menyemprot, memupuk, mencari kayu bakar, mencari pakan ternak
c.      Di sawah: mencangkul, menanam, memupuk, kontrol air, dan lain-lain
d.     Di sektor lain: mengajar, menyadap pinus, menjadi perangkat desa, dan lain-lain
7,5 jam
Rutin, harian
3.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di siang – malam hari:
Beristirahat, beribadah, mandi,  mengobrol dengan tetangga, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, menonton TV, mengajar anak membuat PR sekolah, istirahat malam hari
14,5 jam
Rutin, harian
4.
Aktivitas sosial: pengajian, arisan, ronda, kerja bakti, kegiatan organisasi sosial
2 – 6 jam
Rutin, 1 bulan sekali
Keterangan:
Aktivitas terkait pekerjaan dalam 1 minggu dilakukan selama 5 hari = 7,5 jam x 5 hari = 37,5 jam

Pola Aktivitas Responden Laki-laki di Desa Sepatnunggal
No.
Jenis Aktivitas
Alokasi waktu
Sifat pekerjaan
1.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di pagi hari:
Bangun tidur, mandi, beribadah, membersihkan rumah, menyiram tanaman, makan pagi, menonton TV
2 jam
Rutin, harian
2.
Aktivitas terkait Pekerjaan:
a.      Di pekarangan: mengurus ternak ayam, ikan, menyiram bibit, menyiram tanaman
b.      Di hutan rakyat: menanam kayu, menyiangi tanaman, menyulam, memupuk, mencari kayu bakar
c.      Di sawah: mencangkul, menanam, memupuk, kontrol air, dan lain-lain
d.      Di sektor lain: mengajar, menyadap pinus, menjadi perangkat desa, menjaga warung, dan lain-lain
11,5 jam
Rutin, harian
3.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di sore – malam hari:
Beristirahat, beribadah, mandi,  bertukar informasi dengan tetangga, berolahraga, berkumpul bersama keluarga, menonton TV, membaca buku/ koran, mengajar anak membuat PR sekolah, istirahat malam hari
10,5 jam
Rutin, harian
4.
Aktivitas sosial: pengajian, arisan, ronda, kerja bakti, kegiatan organisasi sosial
2 – 6 jam
Rutin,           1 minggu – 1 bulan sekali
Keterangan:
Aktivitas terkait pekerjaan dalam 1 minggu dilakukan selama 5 hari = 11,5 jam x 5 hari = 67,5 jam

Pola Aktivitas Responden Perempuan di Desa Bener
No.
Jenis Aktivitas
Alokasi waktu
Sifat pekerjaan
1.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di pagi hari:
Bangun tidur, beribadah, memasak, mencuci piring, mencuci baju, mempersiapkan anak sekolah, makan pagi
3 jam
Rutin, harian
2.
Aktivitas terkait Pekerjaan:
Perjalanan ke kebun, aktivitas di hutan rakyat (membersihkan lahan, mencari kayu bakar), perjalanan pulang ke rumah
5 jam
Rutin, harian
3.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di siang – malam hari:
Ibadah, mandi, memasak, membersihkan rumah, bermain ke tetangga, menonton TV, mengajar anak membuat PR sekolah, istirahat malam hari
16 jam
Rutin, harian
4.
Aktivitas sosial: pengajian dan arisan
2 jam
Rutin,           2 minggu – 1 bulan sekali
Keterangan:
Aktivitas terkait pekerjaan dalam 1 minggu dilakukan selama 5 hari = 5 jam x 5 hari = 25 jam

Pola Aktivitas Responden Perempuan di Desa Sepatnunggal
No.
Jenis Aktivitas
Alokasi waktu
Sifat pekerjaan
1.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di pagi hari:
Bangun tidur, beribadah, memasak, mencuci piring, mencuci baju, mempersiapkan anak sekolah, makan pagi
2 jam
Rutin, harian
2.
Aktivitas terkait Pekerjaan:
Perjalanan ke kebun, aktivitas di hutan rakyat (membersihkan lahan, mencari kayu bakar), perjalanan pulang ke rumah
6 jam
Rutin, harian
3.
Aktivitas pribadi dan Rumah Tangga di siang – malam hari:
Ibadah, mandi, memasak, membersihkan rumah, bermain ke tetangga, menonton TV, mengajar anak membuat PR sekolah, istirahat malam hari
16 jam
Rutin, harian
4.
Aktivitas sosial: pengajian
2 jam
Rutin, seminggu sekali
Keterangan:
Aktivitas terkait pekerjaan dalam 1 minggu dilakukan selama 5 hari = 6 jam x 5 hari = 30 jam

            Pola aktivitas di atas menunjukkan bahwa alokasi waktu yang digunakan oleh responden untuk mengelola hutan rakyatnya sebesar 7,5 jam pada kaum laki-laki di Desa Bener (31% dari  waktu  sehari 24 jam),  11,5  jam  pada kaum laki-laki di  Desa  Sepatnunggal (48%), 5 jam (21 %) pada kaum perempuan di Desa Bener dan 6 jam (25%) pada kaum perempuan di Desa Sepatnunggal. Lebih banyaknya waktu yang dialokasikan untuk mengelola hutan rakyat oleh kaum laki-laki daripada kaum perempuan, menunjukkan adanya interaksi yang lebih banyak terhadap hutan rakyat pada kaum laki-laki daripada kaum perempuan. Interaksi yang terjadi dengan hutan rakyat pada responden laki-laki meliputi segala aspek pengelolaan hutan rakyat seperti mencangkul, membersihkan lahan, menanam, menyemprot, memupuk, mencari kayu bakar, dan mencari pakan ternak. Sedangkan responden perempuan hanya membersihkan lahan dan mencari kayu bakar untuk membantu suami dalam mengelola hutan rakyat. Interaksi yang terjadi terhadap hutan rakyat pada responden laki-laki lebih besar dibanding interaksi terhadap hutan rakyat yang terjadi pada responden perempuan, maka kontrol terhadap hutan rakyat dan sumber daya alam yang ada di sekitarnya juga lebih banyak dilakukan oleh laki-laki. Laki-laki melakukan kontrol atau pengendalian terhadap hutan rakyat dan sumber daya alam yang ada di sekitarnya dengan cara menanam tanaman kembali setelah melakukan penebangan, penebangan dilakukan hanya jika ada kebutuhan mendesak, mencegah penebangan liar baik di lahan milik maupun di lahan negara, pengambilan batu di sungai hanya sesuai kebutuhan saja tidak untuk diperjual belikan, membuat terasering di sawah, dan tidak melakukan penggundulan hutan agar  pasokan air tetap terjaga. Sedangkan kaum perempuan tidak melakukan aktivitas kontrol atau pengendalian terhadap keberadaan hutan rakyat serta sumber daya alam yang ada di sekitarnya.

E. Etos Kerja Petani berdasarkan Gender
            Salah satu masalah SDM di Indonesia saat ini adalah rendahnya produktivitas kerja karena masih rendahnya kualitas SDM yang ada. Untuk mengukur produktivitas kerja salah satunya ditentukan oleh jumlah jam kerja yang ditempuh oleh pekerja. Makin panjang waktu yang digunakan untuk bekerja, diharapkan hasil yang diperoleh semakin besar. Standar jam kerja normal tenaga kerja di Indonesia menurut Badan Pusat Statistik sebesar 35 – 44 jam seminggu. Dari alokasi waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas terkait dengan pekerjaan di atas, terlihat bahwa kaum laki-laki di kedua desa bekerja pada jam kerja normal (sebesar 37,5 jam di Desa Bener) dan di atas jam kerja normal (sebesar 52,5 jam di Desa Sepatnunggal). Sedangkan untuk kaum perempuan, masih di bawah jam kerja normal, yaitu sebesar 25 jam di Desa Bener dan 30 jam di Desa Sepatnunggal. Waktu yang digunakan oleh kaum laki-laki di atas termasuk ke dalam waktu produktif yaitu waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan yang banyak mendatangkan hasil. Hasil disini lebih bersifat ekonomi, yang mana biasanya terkait dengan pekerjaan yang mendatangkan pendapatan. Kaum laki-laki lebih banyak mengalokasikan waktunya untuk kegiatan yang produktif jika dibandingkan  dengan kaum perempuan. Hal tersebut menunjukkan bahwa laki-laki memang mempunyai peran yang lebih banyak  di sektor publik daripada perempuan yang lebih banyak berperan di sektor domestik (rumah tangga) yang terbentuk secara sosial dan budaya karena adanya perbedaan gender. Sedangkan kaum perempuan lebih banyak terserap waktunya untuk kegiatan yang tidak produktif atau kegiatan yang tidak berhubungan dengan usaha untuk menambah pendapatan, misalnya kegiatan terkait aktivitas pribadi dan aktivitas di rumah tangga.
            Adanya perbedaan alokasi waktu untuk melakukan aktivitas produktif yang salah satunya berupa pengelolaan hutan rakyat tersebut menunjukkan bahwa kaum laki-laki memiliki etos kerja yang lebih tinggi dalam mengelola hutan rakyat dibandingkan kaum perempuan. Etos kerja tersebut terlihat dari waktu yang dialokasikan kaum laki-laki dalam mengelola hutan rakyat lebih besar daripada perempuan, yang mana hal tersebut menunjukkan etos kerja bersungguh-sungguh, rajin, dan ulet pada petani laki-laki dalam mengelola hutan rakyatnya. Keterlibatan dalam mengelola hutan rakyat lebih besar dilakukan oleh kaum laki-laki karena laki-laki mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, sedangkan perempuan dalam mengelola hutan rakyat lebih bersifat sampingan untuk membantu suami saja. Adanya peran publik yang lebih besar dilakukan oleh kaum laki-laki tersebut maka ketika melakukan penyuluhan terkait pengelolaan hutan rakyat harus lebih banyak melibatkan kaum laki-laki, yang mana waktu yang digunakan harus mengambil alokasi waktu yang selama ini digunakan untuk melakukan kegiatan yang kurang produktif. Dengan cara ini, petani akan semakin mampu untuk menggunakan waktu yang dimilikinya seoptimal mungkin. Sedangkan untuk meningkatkan keterlibatan perempuan dalam pengelolaan hutan rakyat, maka kaum perempuan harus diberi akses yang lebih luas agar dapat terlibat dalam segala kegiatan di sektor publik dan diberikan pengetahuan tentang pemanfaatan waktu yang selama ini kurang produktif untuk melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan perekonomian keluarga, misalnya membuka warung, membuat kerajinan dari hasil hutan rakyat, dan lain-lain. Sehingga waktu yang  digunakan untuk kegiatan pribadi dan rumah tangga, bisa berkurang untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1.       Persepsi petani hutan rakyat di Desa Bener dan Desa Sepatnunggal sangat positif, yang mana mereka berpandangan bahwa hutan rakyat cocok untuk dikembangkan di daerahnya, menyuburkan tanah, menahan longsor, dan jika dikelola dengan sungguh-sungguh dapat menambah pendapatan serta dapat dijadikan sebagai tabungan dalam jangka panjang.
2.       Interaksi terhadap hutan rakyat dan sumber daya alam baik di Desa Bener dan Desa Sepatnunggal lebih banyak dilakukan oleh kaum laki-laki daripada kaum perempuan.
3.       Kaum laki-laki mempunyai etos kerja yang lebih tinggi dengan bersungguh-sungguh, ulet, dan rajin mengelola hutan rakyat daripada kaum perempuan, terlihat dari alokasi waktu yang digunakan sebesar rata-rata 45 jam seminggu pada kaum laki-laki, sedangkan kaum perempuan hanya 27 jam seminggu. Hal tersebut terjadi karena kaum laki-laki memiliki peran yang lebih besar di sektor publik, sedangkan kaum perempuan lebih berperan di sektor domestik.

B.   Saran
1.       Program penyuluhan terkait pengelolaan hutan rakyat harus ditujukan untuk kaum laki-laki yang lebih banyak berinteraksi dengan hutan rakyat.
2.       Perlu adanya program pemberdayaan kaum perempuan petani hutan rakyat agar mampu memanfaatkan waktu yang dimiliki terutama untuk melakukan aktivitas produktif, seperti industri rumah tangga yang memanfaatkan sumberdaya yang tersedia.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Data Monografi Desa dan Kelurahan Bener, Cilacap, Pemerintah Desa Bener, 2006
Anonim, Data Monografi Desa dan Kelurahan Sepatnunggal, Cilacap, Pemerintah Desa Sepatnunggal, 2005
Bappeda Kabupaten Cilacap dan BPS Kabupaten Cilacap, Profil Daerah Kabupaten Cilacap Tahun 2004, Cilacap, Pemerintah Kabupaten Cilacap, 2005
Fakih, Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, cetakan ketiga 1999
Salamun, dkk, Persepsi tentang Etos Kerja kaitannya dengan Nilai Budaya Masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta, Jakarta, Direktorat Jenderal Kebudayaan Depdikbud RI, edisi I 1995
Suharjito, Didik, Hutan Rakyat di Jawa: Perannya dalam Perekonomian Desa, Bogor, Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat (P3KM), 2000
Walgito, Bimo, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar), Yogyakarta, Andi Offset, 1991


Post Top Ad

Your Ad Spot