BUDIDAYA TANAMAN LADA MELALUI AGROFORESTRY DI DAERAH PENYANGGA (Desa Kujangsari, Taman Nasional Gunung Halimun Salak) - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, May 31, 2016

BUDIDAYA TANAMAN LADA MELALUI AGROFORESTRY DI DAERAH PENYANGGA (Desa Kujangsari, Taman Nasional Gunung Halimun Salak)

Oleh :
Aditya Hani  dan Endah Suhaendah


ABSTRAK

            Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) merupakan salah satu taman nasioanal yang ada di Pulau Jawa. Kawasan ini mengalami ancaman yang berasal dari aktivitas penduduk yang memanfaatkan sumberdaya hutan baik mengambil langsung hasil-hasil hutan maupun dengan memanfaatkan lahan untuk pertanian. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih sangat rendah menyebabkan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan TNGHS masih sangat tinggi. Pihak pengelola TNGHS saat ini berupaya megembangakan ekonomi alternatif melalui program usaha pedesaan (USPED). Salah satu komoditas yang dikembangkan melalui program ini adalah tanaman lada. Tanaman ini dianggap mempunyai nilai ekonomi yang tinggi serta dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan kaidah-kaidah konservasi.

Kata kunci : Taman Naisonal Gunung Halimun-Salak,Ketergantungan masyarakat, 
                     Program Usaha Pedesaan


I. Pendahuluan

            Taman Nasional Gunung Halimun ditetapkan sebagai taman nasional berdasarkan SK Menteri Kehutanan Nomor 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 februari 1992 dengan luas 40.000 Ha, dan berdasarkan SK Menteri Kehutanan No 175/Kpts-II/2003 tanggal 10 Juni 2003 ditunjuk menjadi Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNGHS) dengan luas 113.357 Ha, meliputi Kabupaten Sukabumi, Bogor dan Lebak. Saat ini kondisi hutan di TNGHS sebagian mengalami kerusakan akibat adanya penebangan dan pembukaan lahan. Rusaknya hutan berakibat menurunnya daya dukung ekosistem terutama sebagai habitat flora dan fauna terutama yang dilindungi seperti elang jawa, macan tutul dll., serta sebagai penyangga kehidupan seperti untuk penyedia air dan oksigen.
             Keberadaan masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan taman nasional sudah seharusnya dijadikan salah satu dasar dari penyusunan perencanaan pengelolaan kawasan. Masyarakat di sekitar taman nasional harus diikutsertakan dalam usaha pelestarian sehingga memiliki rasa tanggung jawab akan keberadaan kawasan konservasi tersebut. Kondisi ekonomi masyarakat sekitar taman nasional pada umumnya masih sangat rendah. Pengelolaan dan pengembangan daerah penyangga bertujuan untuk menjamin keutuhan kawasan taman nasional serta secara simultan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat.
            Bentuk perhatian pihak pengelola terhadap masyarakat sekitar kawasan taman nasional dengan membuat usaha-usaha ekonomi untuk mrmrnuhi kebutuhan hidup masyarakat dengan tetap mengacu pada aturan mengenai kawasan pelestarian alam sehingga tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah konservasi. Usaha ekonomi alternatif diharapkan mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap hutan sehingga secara langsung dapat mengurangi  kerusakan hutan.

A. Kondisi Umum Taman Nasional Gunung Halimun-Salak

1. Letak dan Luas
            Secara geografis TNGHS terletak di antara 106”21’ BT dan 106”38’ BT, dan di antara 6”31’ dan 6”37’ LS. Berdasarkan administrasi pemerintahan, TNGHS terletak di dalam 3 kabupaten yaitu Bogor, Sukabumi, dan Lebak

2. Bentang Alam
            TNGHS memiliki bentang alam bervariasi dari dataran ke pegunungan. Ketinggiannya bervariasi dari 500 meter dari permukaan laut (m dpl) sampai dengan 1929 m dpl, dengan Gunung Halimun yang berada di tengah Taman Nasional merupakan puncak tertinggi. Sebagian besar berada pada ketinggian di bawah 1000 m dpl – 1400 m dpl dengan kemiringan di atas 45% dengan luasan 75,7 % dari seluruh kawasan.
3. Tanah
            Terdapat 12 tipe tanah di kawasan TNGH dan dapat digolongkan menjadi 2 (dua) kelompok, yaitu andosol dan latosol. Untuk pertanian, tanah di kawasan TNGH memiliki kesuburan kimiawi yang miskin sampai cukup, namun sifat-sifat fisikanya cukup bagus.
4. Iklim
            Gunung Halimun merupakan salah satu daerah paling basah di Jawa. Menurut klasifikasi iklim Schmit dan Ferguson, TNGH termasuk ke dalam golongan iklim “A” dengan nilai “Q” antara 5-9%.
5. Hidrologi
            Pegunungan Halimun merupakan daerah tangkapan air yang penting, merupakan sumber lebih dari 50 sungai dan anak sungai yang mengalir dari TNGH ke Laut Jawa maupun ke Samudra Hindia. Terdapat 11 anak sungai utama yang mengalir dari TNGH yang selalu berair meskipun pada musim kering.

B. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat Desa Kujangsari

            Masyarakat di desa ini secara adat terhimpun dalam adat kasepuhan Cisitu.  Kasepuhan Cisitu merupakan himpunan dari 3 pemuka adat yaitu Olot Marja, Olot Ata, dan Olot Enjam.  Ketiga pemuka adat menyerahkan urusan koordinasi kasepuhan kepada Olot Okri yang berdomisili di Desa Kujang Sari.  Tabel 1 dan 2 menampilkan kondisi umum Desa Kujangsari berdasarkan data potensi atau monografi desa. 

Tabel 1. Keadaan Wilayah Desa Kujangsari
Nama desa
Desa Kujang Sari
Luas desa
1.800
Ha
Batas desa
utara     
selatan 
timur   
barat
:  hutan taman nasional
:  Desa Cisungsang
:  Desa Situmulya
:  Desa Kujang Jaya
Jarak tempuh ke kota kecamatan
22
Km
Jarak tempuh ke kota kabupaten
187
Km
Pembagian wilayah desa
Rukun Tetangga
Rukun Warga    
:  8
:  4
Penggunaan tanah
a.
Tanah sawah
1200
ha

Irigasi ½ teknis
Irigasi sederhana
Tadah hujan
Sawah pasang surut          
400
360
240
200 
ha
ha
ha
ha
b.
Tanah darat/kering
300
ha

Pekarangan         
Perladangan       
Tegalan
Perkebunan rakyat
Kehutanan           
 20
40
10
220
20
ha
ha
ha
ha
ha

Tabel 2.  Data kondisi umum  Desa Kujang Sari
Penduduk
Jumlah penduduk
Jumlah laki-laki            
Jumlah perempuan          
Jumlah kepala keluarga
2009
1004
1005
600
orang
orang
orang
KK
Mata pencaharian
Petani
Wiraswasta
Buruh
Tukang/jasa
Buruh tani
Pedagang
Pegawai negeri
Karyawan swasta
300
300
70
40
40
33
9
2
orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang
orang
Sumber : Data Potensi Desa (Desember 2003)

C. Pola Penggunaan Lahan

            Dari hasil kegiatan tim survey sosial ekonomi yang dilakukan oleh pihak taman nasional dan JICA pada tahun 2004 mengidentifikasikan bahwa masyarakat Desa Kujangsari memanfaatkan lahan, digunakan untuk pekarangan, sawah, dan kebun/dukuh.  Lahan untuk areal pertanian biasanya digarap sendiri.  Jika digarap orang lain, digunakan sistem maro, yaitu hasil panen dibagi dua setelah dipotong modal. Dari sawah, mereka dapat memperoleh penghasilan padi 70-200 ikat. Pemanfaatan lahan selanjutnya adalah dalam bentuk kebun, ada dua jenis kebun: kebun dan dukuh. Yang pertama disebut juga ladang. Masyarakat mengelola kebun mereka pada awalnya dengan sistem ladang berpindah.  Tanaman utamanya adalah tanaman semusim.  Dukuh merupakan areal tempat tanaman keras seperti pohon jengjeng, cengkeh, dan beberapa tanaman keras lainnya. Hasil bumi yang banyak dihasilkan oleh masyarakat adalah atap kirey, cengkeh, kopi, padi (sawah dan huma) dan pisang, singkong. Seperti halnya tradisi masyarakat adat di sekitar TNGHS memiliki aturan mengenai pemanfaatan lahan yaitu:

  1. Leuweung (hutan) titipan : bagian paling atas yang di jaga keutahannya sebagai daerah konservasi mutlak yang tidak boleh di ganggu gugat.
  2. Leuweung (hutan) tutupan : bagian yang ada di tengah, yang dicadangkan untuk dikelola secara terbatas. Kebun musiman dan ladang penggembalaan biasanya berada di daerah ini.
  3. Teneuh (tanah) garapan  atau lahan garapan. Sedangkan, bagian sisayang paling bawah digunakan sebagai lahan garapan. Didalam lahan garapan terdapat perkampungan, persawahan, dan kolam

            Dalam buku Sosial Forestry, HKm dan Pemberdayaan Masyarakat disebutkan bahwa tata guna lahan merupakan indikator sederhana untuk memastikan model praktek indegenous community forestry di lapangan. Tata guna lahan bervariasi dan semakin kompleks berdasarkan sejarah interaksi dan pengelolaan hutan namun pada umumnya tata guna lahan mempunyai tiga fungsi pokok:

  1. Lahan untuk fungi konservasi, biasanya masyarakat memanfaatkan lahan ini untuk tujuan-tujuan religi. Bentuk-bentuk dapat berupa hutan keramat, hutan larangan atau situs-situs yang dikeramatkan.
  2. Lahan untuk fungsi konservasi dan produksi, biasanya berbentuk kebun campuran atau wanatani/agroforestry.
  3. Lahan untuk fungsi produksi, biasanya lahan ini ditanam dengan tanaman jangka pendek seperti padi, palawija dsb.

D. Interaksi  Masyarakat
            Mata pencaharian masyarakat umumnya bertani/buruh tani (38,74%), kepadatan agraris 16,6 jiwa/Ha, pemilik lahan rata-rata 0,219 Ha/KK, dan usia produktif 63,8%. Pendapatan rata-rata penduduk dari bertani dan berternak rata-rata sebesar Rp 250 ribu – Rp 300 ribu/bulan. Kondisi sosial ekonomi yang rendah serta tingkat pendidikan yang masih minim menyebabkan alternatif pekerjaan bagi mereka sangat terbatas. Oleh karena itu masyarakat memanfaatkan hutan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik dalam bentuk hasil hutan maupun lahan  sebagai tempat pertanian mereka. Pola interaksi masyarakat ditandai oleh 2 model pemanfaatan yaitu: (I) pemanfaatan hasil hutan berupa kayu, daun atau tanaman bawah untuk pakan ternak, dan (2) pemanfaatan lahan taman nasional oleh masyarakat untuk dijadikan sebagai lahan garapan. Lahan tersebut digunakan untuk sawah atau kebun. Beberapa masyarakat menganggap bahwa tanah yang mereka garap di lahan yang termasuk dalam taman nasional merupakan tanah mereka yang digarap secara turun-temurun (JICA & TNGHS, 2004)

E. Pengembangan Daerah Penyangga
            Pengelolaan dan pengembangan daerah penyangga secara umum bertujuan untuk menjamin keutuhan kawasan taman nasional serta secara simultan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sekitarnya. Pengelolaan TNGHS sekarang ini sudah saatnya lebih dikonsentrasikan pada kawasan zona rehabilitasi dan pemanfaatan didalam kawasan serta daerah penyangga diluar kawasan taman nasional. Hal ini perlu dilakukan sebagai upaya penanggulangan dan pencegahan gangguan terhadap zona rimba dan zona inti. Faktor bio-fisik (biotik dan abiotik) dan sosial ekonomi masyarakat sekitar TNGHS tidak saja digunakan dalam memformulasikan kriteria dan indikator zonasi tetapi juga dimanfaatkan langsung sebagai basis operasional pengelolaan TNGHS.
            Prinsip dasar pemberdayaan masyarakat setempat menurut peraturan Menhut tersebut diatur sebagai berikut:
1.       Penciptaan suasana atau iklim yang memungkinkan berkembangnya potensi dan daya yang dimiliki oleh masyarakat.
2.       Memperkuat potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat.
3.       Melindungi masyarakat melalui keberpihakan kepada masyarakat untuk mencegah dampak persaingan yang tidak sehat.

F. Program Usaha Pedesaan
            Salah satu upaya yang dilakukan TNGHS untuk mengalihkan ketergantungan masyarakat secara langsung terhadap sumber daya alam  melalui kegiatan Usaha Pedesaan (USPED). Usaha peningkatan pendapatan masyarakat dilakukan dengan tetap berbasis pada kegiatan pertanian yang merupakan mata pencaharian utama tetapi dengan menggunakan komoditas yang lebih bernilai ekonomis dan dengan dikelola secara intensif.
            Tujuan pelaksanaan program USPED (Usaha Pedesaan) untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui terciptanya sumber penghidupan baru bagi mastyarakat sebagai pengganti sumber daya alam yang digunakan masyarakat dari kawasan taman nasional. Dengan demikian diharapkan gangguan terhadap kawasan TNGHS berkurang.
Prioritas pengembangan daerah penyangga didasarkan atas 3 kriteria yaitu :

1.       Daerah penyangga yang termasuk dalam daftar desa tertinggal, tingkat ketergantungan terhadap kawasan konservasi sangat tinggi, berpotensi untuk pengembangan, masyarakat mempunyai minat yang tinggi terhadap kegiatan yang akan dikembangkan dan lokasi kegiatan mudah dijangkau.
2.       Daerah penyangga yang berbatasan dengan kawasan konservasi dengan kondisi hutannya yang rusak akibat banyaknya tekanan dari masyarakat sekitarnya serta kawasan konservasi yang berbatasan dengan daerah-daerah dengan laju perkembangan yang pesat.
3.       Daerah pernyangga yang bersambungan atau berbatasan dengan kawasan konservasi yang memiliki nilai-nilai keanekaragaman hayati dan hutan alami yang tinggi.


II. BUDIDAYA LADA

A. Syarat Tumbuh
            Menurut Dr. A.A.L.Rutgers lada dapat tumbuh dan berproduksi dapat baik di kawasan Indonesia bagian barat. Dengan iklim bertipe A dan B dengan curah hujan antara 2.000-3000 mm/th atau rata-rata 2300 mm/th. Suhu udara minimum 20oC dan maksimum 34oC. Apabila dicocokkan dengan kondisi di halimun persyaratan tumbuh dari iklim sangat cocok sekali karena daerah TNGHS mempunyai tipe iklim A dengan nilai “Q” antara 5-9%.

B. Pengembangan Lada Dengan Agroforestry 
            Multipurpose forest tree production system, yaitu sistem dimana berbagai jenis kayu ditanamkan dan dikelola, tidak saja untuk menghasilkan kayu, tetapi juga daun-daunan dan buah-buahan yang dapat digunakan sebagai bahan bahan makanan anusia maupun dijadikan makanan ternak (Andayani, 2005). Untuk pertumbuhannya tanaman lada membutuhkan panjatan baik dari panjatan hidup (pohon) atau panjatan mati. Tinggi tanaman hidup yang digunakan sebagai panjatan sekitar 60-75 cm. Jenis tanaman yang digunakan diantaranya dadap, lamtoro, kapok dan kalikira juga buah-buahan. Masing-masing panjatan hidup atau mati mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut :
Ø  Keuntungan penggunaan panjatan hidup :
a.       Kadar N meningkat
b.       Dedaunan dari hasil pemangkasan dapat digunakan sebagai mulsa
c.       Proses peremajaan cepat
d.       Harga lebih murah
e.       Tanaman mudah dibentuk menjadi pohon berbatang pokok tunggal atau sentral dengan tinggi hingga 6-7 m.
f.        Dari aspek konservasi penggunaan panjatan hidup dapat mendukung iklim  mikro serta lebih sesuai dengan kaidah konservasi tanah dan air.
Ø  Kekurangan panjatan hidup :
a.       Perakaran lateral tanaman lada dan tanaman panjatan berada dalam satu lingkungan sehingga dapat menyebabkan persaingan akar.
b.       Pemangkasan pohon panjatan harus dilakukan secara rutin agar kondisi kebun tetap baik
c.       Keterlembatan pemangkasan pohon panjatan menjelang musim berbunga dapat mengakibatkan kemunduran produksi
d.       Cabutan atau stump yang sama besar tidak mudah dikumpulkan sehingga dapat menunda penanaman
e.       Tanaman panjatan dapat diserang hama atau penyakit
f.        Penggantian pohon panjatan yang rusak atau mati tidak mudah bila tanaman lada sudah berumur .
            Adanya penggunaan pohon untuk budidaya lada sangat mnguntunkan dari aspek konservasil. Menurut Andayani (2005) Perkembangan selanjutnya lebih kearah pasar yaitu melalui intensifikasi penggunaan input untuk mendapatkan out put yang optimal. Pada tingkat selanjutnya disamping manfaat ekonomis yang dirasakan, petani makin sadar akan usaha-usaha pengawetan tanah dan konservasinya. Oleh Sanches dalam Hartono S. (1983) bentuk pola pertanaman campuran dipisahkan menjadi dua macam yaitu:


  1. Sequential croping
Merupakan intensifikasi dalam dimensi waktu, sekaligus dalam dimensi ruang. Oleh sebab itu sistem tersebut berupa+ mixed intercropping, row intercroping, strip intercroping, dan relay intercroping.  
  1. Intercroping

C. Manfaat Budaya Lada

            Kegiatan USPED yang telah dilaksanakan di desa Kujangsari berupa budidaya lada. Pihak taman nasional telah memberikan bantuan bibit sebanyak 3.608 batang. Tanaman lada di tanam di lahan masyarakat dengan jarak tanam 2x2,5 m dengan menggunakan tajar hidup dari dadap atau tajar mati. Selain ditanam di lahan peserta, bagi yang memiliki lahan sempit bisa menanam di pekarangan rumah. Dengan penggunaan tajar hidup diharapkan masyarakat selain memperoleh hasil lada juga dapat mendapatkan kayu bakar dari hasil pangkasan tajar hidup. Dengan semakin tersedianya kayu bakar disekitar pemukiman masyarakat yang dibudidayakan sendiri maka diharapkan dapat mengurangi ketrgantungan masyarakat mencari kayu bakar dikawasan hutan taman nasional. Manfaat lada yang lain adalah sebagai berikut :

a.       Lada sebagai pestidsida nabati
            Daun lada mengandung zat beracun. Oleh karena itu, daun lada dapat digunakan sebagai insektisida pembunuh serangga. Ekstrak kasar lada hitam juga sangat toksik terhadap hama kapas (Rismunandar dan Riski, 2003). Bahan aktif insektisida dalam biji lada ialah pipersida, dihidropipersida, dan guininsin (golongan isobutil). Isobutilamida bersifat sebagai racun perut dan racun kontak, dan bekerja sebagai racun syaraf. Ekstrak biji lada aktif terhadap serangga mengigit-mengunyah maupun menusuk menghisap. Ekstrak biji lada yang aktif dapat disiapkan dengan menggunakan pelarut organik maupun air (ditambah ditergen atau pengemulsi) (Priyono, 2003).

b.       Lada untuk kesehatan
            Biji lada banyak dimanfaatkan untuk obat-obat tradisional maupun modern. Khasiatnya sebagai stimulan pengeluaran keringat             (diaphoretic), pengeluaran angin (caminativ), peluruh air kencing (diuretic), peningkatan nafsu makan dll.

c.       Lada sebagai penyedap makanan
Bubuk lada dimanfaatkan sebagai penyedap makanan Eropa maupun Asia.


D. Prospek bisnis lada
            Bisnis lada dianggap memiliki prospek yang baik karena cukup bernilai ekonomis dan didukung oleh faktor-faktor berikut :

a.       Bisnis lada memiliki peran yang sangat baik dibidang perekonomian negara secara umum karena komoditas ini merupakan salah satu sumber devisa. Berikut ini beberapa alasan yang mendukung prospek bisnis lada :
b.       Konsumsi lada cenderung meningkat akibat pertambahan penduduk, perkembangan industri makanan dan obat-oatan, serta peningkatan konsumsi per kapita.
c.       Lada merupakan komoditas pertanian yang banyak menyerap tenaga kerja, baik petani,pekerja maupun pedagang.
d.       Teknik budidaya yang diterapkan Indonesia sangat baik dan terbukti tidak banyak memerlukan perlakuan mekanis sehingga besar peranannya dalam pemanfaatan tenaga kerja.
e.       Wilayah pengembangannya masih tersedia sangat luas.
            Produsen terbesar yang mampu menghasilkan sekitar 90% kebutuhan lada dunia, yaitu Brazil, India, Indonesia, dan Malaysia. Dari laporan perdagangan lada di tahun 2001 menyebutkan bahwa volume ekspor lada dunia mencapai 1999.515 ton. Hasil diperoleh setelah tanaman lada berumur 1 tahun dengan harga jual per kilo sebesar Rp 25.000 sampai Rp 40.000. Sementara perkembangan harga lada didalam negeri adalah sebagai berikut:

Tabel 3. Perkembangan harga lada selama tiga tahun
Tahun
Harga per kg (Rp)
Lada putih
Lada hitam
2001
38.664
33.362
2002
24.667
21.648
2003
22.000
18.000
Sumber Rismunandar dan M.H. Riski (2003)

E. Membangun Kemandirian Masyarakat
            Menurut Sepsiaji dan fuadi (2004) Yang selalu menjadi masalah pengembangan kewirausaha masyarakat petani adalah:

1.       Tidak memiliki mentalitas sebagai pengusaha yang suka bermain-main dengan resiko lebih menerima keadaan
2.       Permasalah modal dan pemasaran karena petani masih punya anggapan bahwa modal selalu dalam bentuk uang belum menganggap ketersediaan bahan baku, ketrampilan pribadi dan waktu sebagai modal.

            Melihat permasalahan tersebut diperlukan peranan berbagai pihak dalam rangka membangun kemandirian masyarakat. Baik melalui proses pendampingan, peningkatan kapasitas masyarakat melalui pendidikan dan pelatiahn, penguatan kelembagaan maupun membuka akses terhadap dunia luar. Oleh karena itu perlu dukungan sikap dari lingkup birokrasi pemerintah sebagai berikut (Philipus Budiono, dkk. 2003):

1.       Mekanisme dan proses komunikasi yang terbuka dan berlangsung secara terus menerus
2.       Kepekaan aparatur pemerintah terhadap persoalan dan kebutuhan yang berkembang dilapangan dan inisiatif untuk turun kebawah dan bekerja bersama masyarakat dilapangan.
3.       Kesukarelaan untuk bekerja diluar kerangka kerja normatif dan sistem insentif yang berlaku

            Apabila proses pemberdayaan masyarakat yang dilakukan melalui budaya lada ini dapat berlangsung secara berkesinambungan tidak berorientasi keproyekan maka tidak mustahil perekonomian masyarakat menjadi lebih baik dan tentu saja tekanan terhadap hutan taman nasional menjadi berkurang sehingga dapat lestari.


iii. Kesimpulan

  1. Adanya tekanan terhadap kawasan taman nasional disebabkan karena masih minimnya alternatif pekerjaan bagi masyarakat selain bergantung pada sumber daya alam yang ada.
  2. Program usaha pedesaan (USPED)  merupakan usaha pihak taman nasional untuk lebih meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta megurangi ketergantungan terhadapsumber daya hutan.



Daftar Pustaka

Andayani, Wahyu. 2005. Ekonomi Agroforestry.Debut press. Yogyakarta.
Anonim. 2006.Kajian Hukum Hutan Kemasyarakatan dalam Pembangunan Kawasan Konservasi. Artikel. Internet.
Anonim. Sosial Forestry, HKm dan Pemberdayaan Masyarakat
Awang, San Afri, DR. 2006. Taman Nasional Sebangau Mengelola Bersama.        Artikel. Internet.
JICA & Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. 2004. Laporan Survey Sosial      Ekonomi.
Priyono, Joko. 2003. Teknik Ekstraksi, Uji Hayati,, dan Aplikasi Senyawa Bioaktif   Tumbuhan. Bogor. Fakultas Pertania. IPB
Sepsiaji, Dhonawan dan Firman fuadi. 2004. HKM Meretas Jalan. Pustaka pelajar, KPHKm, yogyakarta
Rismunandar dan M.H. Riski. 2003. Lada Budidaya & Tata Niaga. Jakarta. Penebar          Swadaya

Philipus Budiono, dkk. 2003. Proses belajar interaktif multipihak (pelatihan fasilitator social forestry).P3AE-UI, Pokja SF Dephut, MFP DFID Dephut.

Post Top Ad

Your Ad Spot