SUKUN : MENYIMPAN POTENSI YANG MENJANJIKAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, April 26, 2016

SUKUN : MENYIMPAN POTENSI YANG MENJANJIKAN

Oleh :
Anas Badrunasar
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis

ABSTRAK

Dinegeri ini banyak kearifan tradisional dalam pemanfaatan kekayaan alam untuk menyiasati mahalnya obat generik maupun paten dengan bahan-bahan dasar yang didapat dan tumbuh di alam, dengan mengingat alam Indonesia termasuk kaya dengan keanekaragaman hayatinya (megabiodiversitas) bahkan layak disebut sebagai apotek hidup. Sukun (Artocarpus altilis) adalah tanaman serba guna (JPSG) pada kelompok penggunaan sebagai tanaman pangan. Tanaman ini memenuhi kriteria sebagai komoditas ketahanan pangan nasional dari tanaman keras.
Selain mempunyai potensi sebagai tanaman penghasil karbohidrat, berdasarkan penulusuran ternyata sukun mempunyai potensi lain yang menjanjikan, selain buah.  Bagian-bagian tanaman lainnya mulai dari bunga, daun dan kulit bisa dijadikan salah satu obat alternatif yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kearifan tradisional. Demikian juga getahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk menjerat burung dan menambal perahu kayu yang bocor. Kayunya yang selama ini kurang mendapat perhatian, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi produk mebel kualitas ekspor.

Kata kunci : Sukun, tanaman pangan, tanaman serba guna


I.     PENDAHULUAN

Proyek Hutan Cadangan Pangan (HCP) digulirkan pada tahun 1999 bertujuan meningkatkan cadangan pangan nasional melalui upaya budidaya tanaman pangan di kawasan hutan dan tanah milik masyarakat, menciptakan diversifikasi tanaman  dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam penyediaan pangan secara interaktif dan swakarsa (Wayan, 2002). Sesuai dengan tujuannya, proyek ini memprioritaskan diversifikasi tanaman pangan  penghasil karbohidrat selain beras, jagung, ubi kayu, ubi jalar, kentang dan tanaman penghasil karbohidrat lainnya di dalam kawasan hutan dan tanah milik. Komposisi tanaman penghasil karbohidrat sebanyak 70% dan sisanya tanaman kayu-kayuan lainnya (MPTS).
Sukun (Artocarpus altilis) adalah tanaman serba guna (JPSG) pada kelompok penggunaan sebagai tanaman pangan. Tanaman ini memenuhi kriteria sebagai komoditas ketahanan pangan nasional dari tanaman keras selain aren (Arenga piƱata), nangka (Arthocarpus integra) dan melinjo (Gnetum gnemon). Oleh karena itu 3 tahun setelah digulirkannya HCP, terdapat tanaman sukun diantara 26.205.000 tanaman cadangan pangan yang telah ditanam pada 25 provinsi. Tanaman sukun dapat dikembangkan di dataran rendah hingga ketinggian 1200 m dpl dan yang optimum tumbuh baik di daerah kering pada ketinggian 700 m dpl, curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun. Pohon sukun tumbuh di tanah alluvial yang mengandung bahan organik dengan pH 6-7 dan pada umumnya toleran terhadap pH rendah, relatif tahan kekeringan dan tahan naungan. Pada tanah berbatu karang serta kadar garam agak tinggi serta sering tergenang air tanaman ini masih mampu tumbuh dan berbuah. Tanaman ini mulai berbuah biasanya setelah berumur 2-3 tahun dengan bobot buah rata-rata 1–2 kg (Setiadi, dkk., 2006). Buah yang berumur tiga minggu setelah berbunga sangat enak untuk dijadikan sayur. Sukun sama sekali tidak menghasilkan biji, kalaupun ada bijinya tidak berkecambah, dengan demikian cara budidayanya dilakukan secara vegetatif melalui stek akar.


II.  CARA BUDIDAYA SUKUN

Cara perbanyakan sukun di Philipina dilakukan dengan cara memotong akar sukun sepanjang 20-25 cm dengan diameter akar antara 1,5 – 5 cm. Potongan akar tersebut ditanam di bedengan dengan media pasir yang menggunakan naungan dengan kemiringan atap 45o. Setelah tumbuh/keluar akar 3-5 bulan kemudian dipindahkan ke polybag berisi media tanah subur (di bedeng sapih). Jika tanaman sudah bertunas dan mencapai tinggi 60 cm, maka cabang-cabang muda serta ¾ dari daun dipangkas kemudian dipindah ke lapangan.
Beberapa percobaan teknik budidaya tanaman sukun secara vegetatif menggunakan stek akar dan stek pucuk telah dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman, dengan prosedur sebagai berikut :

A. Stek Akar
Bahan dan alat yang diperlukan untuk pembuatan stek akar adalah pohon sukun dewasa berumur minimal 10 tahun yang bebas dari serangan hama-penyakit dan kerusakan, pasir kali halus yang telah disterilkan, gunting  stek, polybag  ukuran  8 cm x 10 cm dan 20 cm x 25 cm, top soil, pupuk kandang, Zat Pengatur Tumbuh (Rhizatun dan Rootone F), plastik bening, sarlon (shading-net), bambu, dan lain-lain. Setelah bahan dan alat tersedia maka langkah selanjutnya adalah sebagai berikut :
1.   Penyiapan media stek akar berupa pasir sungai halus yang disterilkan dengan cara pemanasan di bawah sinar matahari selama 1 minggu atau dengan cara penggorengan. Media tersebut kemudian dimasukkan kedalam polybag berukuran 8 cm x 10 cm, kemudian disusun dalam bedengan persemaian yang ditutup plastik bening untuk memelihara kelembaban udara lebih dari 80%. Untuk mengurangi intensitas cahaya kedalam bedengan maka pemasangan naungan/sarlon diperlukan dengan intensitas 65%.
2.   Penyiapan bahan stek akar. Akar yang dipilih berukuran diameter 2 cm - 3 cm dengan panjang 15 cm.
3.   Penyiapan larutan zat pengatur tumbuh (ZPT) untuk merangsang pertumbuhan akar stek. Hormon yang umum dan mudah didapatkan dipasaran adalah Rhizatun dan Rootone F. Konsentrasi hormon yang dibuat 50%. Sebelum ditanam bagian pangkal stek akar dicelupkan kedalam larutan selama 5 menit.
4.   Penanaman stek dilakukan dengan posisi tegak pada media yang telah disiapkan dan sebelumnya telah dibuat lubang tanam untuk memudahkan penanaman stek dan tidak merusak jaringan stek. Kedalaman penanaman antara 2-5 cm dari total panjang stek.
5.   Setelah semua stek ditanam, selanjutnya dilakukan penyiraman dan bedengan ditutup sungkup plastik transparan. Penyiraman dilakukan 2 kali, pagi dan sore (jam 08.00 dan 15.00 WIB) dan dilakukan pembersihan bedengan dari hama dan penyakit.
6.   Pada bulan kedua stek sudah berakar, maka secara perlahan-lahan naungan pada bedengan dikurangi dan sungkup sering dibuka secara periodik agar bibit dapat menyesuaikan dengan kondisi lingkungan (aklimatisasi).
7.   Pada   bulan   ketiga   bibit   sudah  dapat  disapih   kedalam    polybag   ukuran  20 cm x 25 cm. Media yang digunakan campuran antara top soil, kompos atau pupuk kandang.
8.   Pemupukan dilakukan setelah 1 bulan penyapihan. Pupuk yang diberikan berupa NPK dengan dosis 1 gr/polybag. Pemupukan diulang lagi 3 bulan kemudian dengan dosis yang sama.
9.   Seleksi bibit siap tanam dilakukan pada waktu bibit telah berumur lebih dari 6 bulan. Umumnya bibit siap tanam setelah berumur 8 bulan.

B. Stek Pucuk
Bahan dan peralatan yang dibutuhkan hampir sama dengan bahan dan peralatan pada stek akar, yang membedakan adalah materi steknya. Materi stek diambil dari stek pucuk tunas-tunas yang tumbuh dari stek akar tanaman sukun yang berumur 3-4 bulan di persemaian. Biasanya pada stek akar akan  tumbuh 4-5 tunas baru yang selanjutnya satu tunas saja yang dibiarkan tumbuh, sedangkan yang 4 tunas lagi dimanfaatkan sebagai bahan bibit sukun asal tunas. Metode dan pelaksanaan pembuatan bibit sukun dari stek pucuk langkah dan prosedurnya sama seperti pembuatan bibit dengan pembuatan stek akar.

C. Menanam Sukun di Halaman Rumah
Sampai saat ini, masih banyak orang yang takut bertanam sukun di halaman rumah, karena adanya anggapan sifat akar pohon sukun yang menjalar ke mana-mana. Akar pohon dapat mendongkrak bangunan di atasnya, menjebol pondasi, dan membuat bangunan di sekitarnya tak aman. Namun ada  cara penanggulangan agar kondisi bangunan di sekitar pohon sukun tetap aman. Caranya adalah dengan merekayasa teknik bertanamnya. Sejak awal, buat lubang tanam cukup besar dan dalam. Panjang dan lebar lubang tanam masing-masing 1 meter dengan kedalaman 2 meter. Lubang tersebut dibiarkan 2 minggu dalam kondisi terbuka, setelah itu dimasukkan pupuk kandang sampai separuh volume lubang dan dibiarkan selama 2 minggu, barulah bibit sukun ditanam. Tinggi bibit yang hanya 30 - 50 cm dan dimasukkan ke dalam lubang sedalam itu, tentu membuatnya tak tampak dari luar, rawat terus tanaman hingga tumbuh membesar. Pada umur 6 bulan, pangkas batang pokok sukun, sisakan batangnya sekitar 60 - 75 cm di atas permukaan tanah. Pertumbuhan pohon sukun akan menjadi pendek dan rimbun, bahkan dapat menjadi tanaman hias peneduh. Apalagi jika rajin melakukan pemangkasan rutin, sekurang-kurangnya 4 bulan sekali, pohon sukun pun akan bercabang makin banyak dan rimbun. Buah-buah sukun akan terus bergelantungan tanpa kenal musim dan memetiknya dapat dilakukan hampir tanpa alat bantu.
III.             KANDUNGAN GIZI

Hasil analisis perbandingan gizi antara buah sukun, tepung sukun, tepung terigu dan beras giling, menunjukkan bahwa nilai gizi tepung sukun mempunyai kelebihan dalam hal kandungan karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin B1 dan C jika dibandingkan dengan buah sukun tua ataupun dengan tepung terigu. Perbandingan dengan beras giling, tepung sukun mempunyai kelebihan dalam hal kandungan Fosfor dan Vitamin C (lihat Tabel 1).
Keunggulan kandungan giji tepung sukun dapat diuraikan sebagai berikut : Peranan fosfor misalnya, antara lain berfungsi untuk membangun dan memelihara gigi dan tulang. Fosfor bersama-sama dengan zat belerang dan chlor dalam tubuh membentuk unsur asam. Setiap harinya kebutuhan fosfor bagi orang dewasa sekitar 0,9-1,3 gram, hal itu biasa dicukupi dengan mengkonsumsi makanan berbahan dasar seperti tepung sukun ini. Peranan kalsium antara lain membantu mengumpulkan atau mengentalkan darah, serta menetralisir keasaman darah. Orang desawa membutuhkan kalsium sekitar 0,5 - 1 mg per hari, sedangkan bagi wanita hamil atau menyusui sekurang-kurangnya 750 gram per hari. Untuk memenuhi asupan kalsium ini maka tepung sukun sangat layak dijadikan pilihan, mengingat cukup tingginya kalsium yang dikandung dalam tepung sukun tersebut. Mengonsumsi tepung sukun yang mengandung vitamin B1 dapat memelihara kesehatan kornea mata, jaringan urat saraf, jaringan pelapis, jaringan kulit dan menurunkan kadar asam lemak. Vitamin B1 adalah vitamin yang mengandung unsur Belerang setelah diserap oleh dinding usus di dalam hati dan diikat oleh zat fosfor. Vitamin B 1 ini memang tidak banyak disimpan dalam tubuh, tapi tetap diperlukan, sehingga setiap hari perlu mendapat asupan langsung. Jadi, seandainya setiap hari mengonsumsi makanan olahan tepung sukun, jelas kebutuhan tubuh akan vitamin B1 terpenuhi.

Tabel 1.          Kandungan gizi buah sukun, tepung sukun, tepung terigu dan beras (dalam 100 gr bahan)  
NO
UNSUR GIZI
BUAH
SUKUN
TEPUNG
SUKUN
TEPUNG
TERIGU
BERAS
GILING
1.
Energi (cal.)
108,00
302,00
365,00
360
2.
Protein (gr)
1,30
3,60
8,90
6,80
3.
Lemak (gr)
0,30
0,80
1,30

4.
Karbohidrat (gr)
28,20
78,90
77,30
78,90
5.
Kalsium (mg)
21,00
58,80
16,00
6
6.
Fosfor (mg)
59,00
165,20
106,00
140
7.
Zat besi (mg)
0,40
1,10
1,20
0,80
8.
Vitamin B1 (mg)
0,12
0,34
0,12
0,12
9.
Vitamin C (mg)
17,00
47,60
0,00
0,0
Sumber: Direktorat Gizi Depkes RI (1981)





IV. MANFAAT SUKUN

            Hampir semua bagian tanaman dari pohon sukun dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pengobatan tradisional, mulai dari bunga, daun, getah dan kayunya mempunyai nilai ekonomi cukup menjanjikan.

A.    Manfaat Daun
1. Batu Ginjal
Bagi mereka yang sering mengeluh dengan masalah gangguan ginjal, salah satunya adalah batu ginjal, maka sukun bisa dijadikan salah satu obat alternatif untuk mengatasi keluhan tersebut. Bagian tanaman sukun yang dijadikan obat alternatif ini adalah daunnya. Berdasarkan analisis, daun sukun mengandung zat seperti Asam Hidrosianat, Asetilcolin, Tannin, Riboflavin dan sebagainya. Zat-zat tersebut diduga mampu mengatasi peradangan, salah satunya peradangan pada ginjal. Terapi penyembuhan keluhan batu ginjal menggunakan daun sukun adalah sebagai berikut :
-      ambil 3 lembar daun sukun berwarna hijau tua yang masih menempel di dahannya,
-      cuci dengan air bersih pada air mengalir
-      rajang halus menggunakan pisau
-      jemur sampai kering
-      rebus dengan air sebanyak 2 liter (usahakan tempat merebusnya menggunakan gerabah tanah atau panci stainless steel). Setelah mendidih dan airnya tinggal separuh, tambahkan lagi 1 liter air dan didihkan kembali hingga air tinggal separuh, kemudian saring.
Warna air rebusan daun sukun adalah merah, mirip teh, rasanya agak pahit. Air rebusan tadi harus habis dalam satu hari itu juga. Minum air rebusan ini harus diulang beberapa kali sampai keluhan sakitnya hilang. Meskipun air rebusan tidak dapat disimpan lebih dari satu hari, namun stok rajangan daun sukun kering untuk rebusan dapat bertahan untuk seminggu. Caranya siapkan daun sukun hijau tua sebanyak 21 lembar, rajang halus kemudian jemur sampai kering sama seperti cara diatas, kemudian dibungkus menjadi 7 bungkusan. Tiap hari ambil sebungkus, rebus, saring dan minum. Jika tidak tahan dengan rasa pahitnya maka dapat ditambahkan sedikit madu setiap kali minum.

2. Penyakit Kulit
Orang Ambon mengobati penyakit kulit (gumutu mengate) menggunakan abu hasil bakaran dari daun yang dicampur dengan minyak kelapa dan kunyit. Selain itu daun sukun tua yang dipanggang di atas api kemudian diremas-remas dengan air dapat digunakan sebagai obat luar pada sakit pembesaran limpa.

3. Tekanan Darah Tinggi
Daun sukun selain untuk pakan ternak, juga dapat diramu menjadi obat. Di India bagian barat, ramuan daunnya dipercaya dapat menurunkan tekanan darah dan meringankan asma. Daun yang dihancurkan diletakkan di lidah untuk mengobati sariawan. Juice daun digunakan untuk obat tetes telinga. Abu daun digunakan untuk infeksi kulit. Bubuk dari daun yang dipanggang digunakan untuk mengobati limpa yang membengkak (http://www.irwantoshut.com)

B. Manfaat Kulit
1. Mencairkan Darah
Minuman ekstrak kulit kayu sukun tak berbiji di Ambon diberikan kepada wanita setelah melahirkan, diberikan selama 8-10 hari, kegunaannya untuk membantu mencairkan darah.

2. Bahan tekstil
Serat kulit kayu bagian dalam dari tanaman muda dan ranting dapat digunakan sebagai material serat pakaian. Di Malaysia digunakan sebagai mode pakaian (http://www.irwantoshut.com).

C. Manfaat Bunga
Bunga sukun yang dibakar sampai menjadi arang dapat digunakan untuk sakit gigi. Arang bunga tersebut dioleskan pada gusi yang sakit.

D. Manfaat Getah
Getahnya dapat digunakan untuk menjerat burung dengan cara dicampur dengan santan kemudian dimasak. Orang ambon memanfaatkan getah sukun sebagai perekat bejana yang bocor dengan cara mencampur dengan tepung sagu, gula hitam dan putih telur. Cara menyadap getah sukun cukup membuat goresan pada kulit batang pohon, maka dengan sendirinya getah akan keluar dengan derasnya.

E. Manfaat Kayu
Kayunya mempunyai berat jenis 0,43 kelas awet IV-V dan kelas kuat III-IV (Seng O.J, 1990). Kayunya dapat digunakan sebagai bahan bangunan pada umur pohon masak tebang (cukup tua) yang dicirikan oleh daunnya yang sudah mulai gugur, kayu teras berwarna kuning dan mempunyai nilai dekoratif. Kayu sukun dari Madura digunakan untuk alat rumah tangga. Sumber lain mengatakan bahwa kayu sukun tidak terlalu keras tapi kuat, elastis dan tahan rayap, digunakan sebagai bahan bangunan antara lain mebel, partisi interior, papan selancar dan peralatan rumah tangga lainnya (http://www.irwantoshut.com).
Dari hasil penelitian Abdurrohim, dkk (2003) mengatakan bahwa kayu sukun dapat ditingkatkan keawetannya dengan perlakuan pengawetan CCB (tembaga-khrom-boron) dan bahan pengawet boron dengan proses cell penuh dengan tingkat konsentrasi 2 dan 4% pada tekanan 4 dan 8 atm  untuk CCB sedangkan pengawet boron pada tingkat konsentrasi 2 dan 4% dengan tekanan 4 atm. Dengan perlakuan ini kayu tersebut disarankan penggunaan akhirnya untuk produk dibawah atap tanpa kontak langsung dengan tanah.
Selama ini kayu sukun masih dilihat sebelah mata oleh masyarakat, karena dipandang sifat dan karakteristiknya tidak layak untuk bahan bangunan, mebel atau kayu bakar sekalipun, tapi di Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur) kayu sukun sudah laku dijual dengan harga yang cukup menjanjikan. Kayu sukun berumur 7 tahun sudah dapat ditebang dan dihargai sesuai dengan klasifikasinya. Harga kayu gelondongan ditingkat pedagang pengumpul untuk klasifikasi A1 dihargai Rp.400.000/m3, A2 dihargai Rp. 600.000/m3 dan A3 Rp. 750.000/m3 sedangkan kayu gergajian dihargai Rp. 1.700.000/m3. Di daerah Pasuruan sudah ada industri mebel yang siap menampung dan memanfaatkan kayu sukun berapapun banyaknya. Hasil olahan produk mebel dari kayu sukun ini  ditujukan untuk komoditi ekspor (Anonim, 2007).


V. PENUTUP
Sukun adalah tanaman serba guna (JPSG) pada kelompok penggunaan sebagai tanaman pangan. Tanaman ini memenuhi kriteria sebagai komoditas ketahanan pangan nasional dari tanaman keras. Selain mempunyai potensi sebagai tanaman penghasil karbohidrat, berdasarkan penulusuran ternyata sukun mempunyai potensi lain yang menjanjikan, selain buah.  Bagian-bagian tanaman lainnya mulai dari bunga, daun dan kulit bisa dijadikan salah satu obat alternatif yang sudah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai kearifan tradisional. Demikian juga getahnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk menjerat burung dan menambal perahu kayu yang bocor. Terakhir kayunya yang selama ini kurang mendapat perhatian, ternyata bisa dimanfaatkan menjadi produk mebel kualitas ekspor.


DAFTAR PUSTAKA

Abdurrohim, S. Jusup, N., dan Hadiane A. 2003. Pengawetan Kayu Tisuk (Hibiscus macrophyllus Roxb) dan Sukun (Artocarpus horridus Jarret) dengan Bahan Pengawet  CCB dan Boron melalui Proses Cell Penuh. Buletin Penelitian Hasil Hutan   (Vol. 21) (No. 1).

Anonim, 2007. Sukun, Rimbun dan Kaya Gizi. Didownload dari : http//www.tabloidnova.com pada tanggal 20 Agustus 2007.

Anonim, 2007. Diklat Pembinaan Pengelolaan Hutan Rakyat. Balai Diklat Kehutanan Kadipaten. 2 s/d 16 Mei 2007.

Ratnawati, A. 1992. Prospek Pengembangan Sukun (Artocarpus altilis) dalam Upaya Penyediaan Pangan, Peningkatan Pendapatan dan Pelestarian Lingkungan. Prosiding Seminar Nasional : Penelitian dan Pengembangan Jenis-Jenis Pohon Serbaguna. Cisarua, Bogor 16-17 Juni 1992.

Irwanto, 2007. Pengembangan Tanaman Sukun. Didownload dari : http//www.irwantoshut.com pada tanggal 20 Agustus 2007.

Setiadi D., Adinugraha, HA., dan Prastyono. 2006. Produktivitas Trubusan Stek Akar Sukun dari Beberapa Populasi di Jawa dan Madura. Warna Benih. Vol.7 No. 1, Juli 2006. pp29-36.

Wayan NSA. 2002. Perilaku Petani terhadap Gerakan Pengembangan Hutan Cadangan Pangan di Desa Pipid, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. Didownload dari : http//www.emlit.unud.ac.id. pada tanggal 6 Juni 2007.

 Seng, O.J., 1990. Pengumuman Nr.13 Berat Jenis dari Jenis-jenis Kayu Indonesia dan Pengertian Beratnya Kayu untuk Keperluan Praktek. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan Bogor.



Post Top Ad

Your Ad Spot