MODEL PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN RAKYAT KEMITRAAN BERBASIS IPTEK - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Thursday, April 21, 2016

MODEL PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN HUTAN TANAMAN RAKYAT KEMITRAAN BERBASIS IPTEK

Oleh :
M.Yamin Mile
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis


                                                                                                                                                      I.      PENDAHULUAN

Dalam memenuhi kebutuhan kayu untuk jangka waktu sepuluh atau dua puluh tahun kedepan, perlu dilakukan usaha pembanguan hutan tanaman, karena kebutuhan tersebut tidak dapat diharapkan lagi dari hutan alam. Oleh karena itu pembangunan hutan tanaman merupakan hal yang cukup strategis untuk terus di kembangkan dalam memenuhi kebutuhan akan kayu yang makin meningkat.
 Dalam pembangunan  Kehutanan tahun 2007, yang dituangkan dalam rencana kerja kementrian lembaga department kehutanan tahun 2007 pengembangan hutan tanaman ditempatkan sebagai  salah satu kegiatan pokok. Sasaran strategisnya adalah terwujudnya hutan tanaman yang produktif dan berkesinambungan. Sehubungan dengan hal tersebut, kegiatan yang diprioritaskan tahun 2007 dalam mendorong pembangunan hutan tanaman, antara lain adalah:
a.       Deregulasi alokasi lahan untuk pembangunan hutan tanaman
b.      Penyusunan investasi pembangunan dan pengembangan hutan tanaman
c.       Promosi investasi hutan tanaman
d.      Penelitian dan Pengembangan  hutan tanaman
 Sebagai indikator capaian dalam kegiatan perioritas di atas adalah: terwujudnya pengembangan dan desain lokasi hutan tanaman rakyat murni seluas 500 ribu ha dan hutan tanaman rakyat kemitraan seluas 125 ribu ha (Rencana Kerja Kementrian/Lembaga (Renja-KL) Departemen Kehutanan tahun 2007, Departemen Kehutanan, 2006, Jakarta September 2006). Pembangunan hutan rakyat kemitraan seperti yan tertuang dalam Renja-KL Departemen Kehutanan tersebut di atas masih merupakan hal yang baru  dan memerlukan dukungan dalam bentuk desain dan model yang sesuai serta penerapan teknologi hasil penelitian agar dapat menghasilkan produk yang memenuhi standar kebutuhan pasar baik domestik maupun internasional. Mutu dan harga dari suatu produk di pasar global ditentukan oleh teknologi yang digunakan.
Penelitian berbagai komponen teknologi dalam pengembangan hutan rakyat sudah dirintis sejak beberapa waktu yang lalu oleh Balai Penelitian Kehutanan Ciamis (BPK Ciamis). Sesuai mandat yang diemban yakni penelitian dan pengembangan di bidang hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan, BPK Ciamis telah menghasilkan  beberapa komponen teknologi tepat guna dalam meningkatkan produktifitas hutan rakyat dan hutan kemasyarakatan. Pengujian lebih lanjut mengenai efektifitasnya teknologi yang dikembangkan terus-menerus dilakukan  seiring dengan berjalannya waktu. Hasil-hasil penelitian yang menyangkut silvikultur intensif dan manipulasi lingkungan untuk mempercepat pertumbuhan beberapa jenis tanaman hutan rakyat seperti sengon, gemelina, suren dan manglid walaupun masih bersifat serpihan namun  memperlihatkan prospek yang baik untuk diterapkan.
Berbagai informasi teknis yang telah dihasilkan tersebut dapat dijadikan modal dasar dalam mengembangkan hutan rakyat kemitraan berbasis iptek baik di kawasan hutan maupun di lahan milik. Dalam penerapan HTR berbasis iptek tersebut diperlukan strategi khusus melalui pendekatan pilot proyek dalam bentuk model percontohan.


                                                                                                       II.      POLA TANAM YANG DIKEMBANGKAN

                        Hutan Tanaman Rakyat  Kemitraan berbasis Iptek yang dikembngkan disini merupakan modifikasi dari berbagai pola kemitraan hutan rakyat yang berkembang  saat  ini, dan didasarkan pada penerapan  teknologi tepat guna hasil pelitian mencakup antara lain hasil penelitian teknologi rekayasa genetik, teknologi silvikultur intensif dan teknologi manipulasi lingkungan. Beberapa jenis tanaman pohon yang bernilai ekonomi seperti sengon, gmelina, mahoni, suren, jati  unggul dan sebagainya telah diperoleh tehnik pembibitannya untuk menghasilkan bibit yang berkualitas. Jenis unggul hasil seleksi yang telah tersedia baru terbatas pada tanaman jati sementara jenis-jenis lainnya masih terus dalam proses pemuliaan. Jenis-jenis tersebut disamping bernilai ekonomis juga tumbuh cepat  dan diinginkan oleh masyarakat serta mudah dipasarkan.
Beberapa informasi teknis hasil penelitian dalam penerapan silvikultur intensif untuk jenis-jenis tanaman di atas telah tersedia. Disamping itu dalam rangka manipulasi lingkungan  saat ini, BPK Ciamis telah memproduksi pupuk organik dengan formula khusus melalui pengayaan dengan unsur hara yang diperlukan tanaman.Pengujian mengenai efektifitas pupuk dengan formula khusus ini pada beberapa jenis tanaman seperti sengon, gmelina, akasia telah memperlhatkan peningkatan pertumbuhan yang nyata baik dipesemaian maupun di lapangan.  Disamping itu telah diuji dan dikembangkan pula beberapa  komponen teknologi pengelolaan kesuburan tanah untuk memaksimumkan pertumbuhan tanaman, antara lain teknologi mulsa vertical dengan  pengomposan mulsa yang dipercepat, penggunaan mikorizha dan cuka kayu serta teknik pengendalian hama dan penyakit tanaman
            Dengan memanfaatkan teknologi hasil-hasil penelitian tersebut dan  di kombinasikan dengan penggunaan bibit yang berkualitas serta penerapan teknik silvikltur intensif untuk  setiap pohon (tree management), diharapkan pertumbuhan tanaman dapat dioptimumkan untuk mencapai diameter minimal 30 cm untuk jenis tanaman tumbuh cepat dalam waktu 5 tahun sebagai patokan waktu untuk pemanenan.

                                                                                         III.      POLA KEMITRAAN YANG DIKEMBANGKAN

Pola kemitraan yang dikembangkan dalam  hutan tanaman rakyat kemitraan yang di ulas disini adalah pola bagi hasil dengan mitra sejajar sesuai dengan besarnya kontribusi dari masing-masing pihak secara proporsional yang ditetapkan dan disepakati bersama. Hutan tanaman rakyat kemitraan dikembangkan dengan melibatkan beberapa pihak yang menjadi mitra usaha, yaitu: Investor, Fasilitator/Administrator, Pemilik Lahan dan Petani Penggarap

Investor
Investor adalah pihak yang menanamkan modal untuk pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan dengan pola bagi hasil pada waktu panen berdasarkan pengaturan yang disepakati bersama. Investor dapat terdiri dari berbagai pihak baik perorangan maupun instansi  pemerintah atau swasta, LSM, Koperasi, BUMN,BUMD, industri terkait, lembaga keuangan dan lembaga donor lainnya.

Fasilitator/Administrator
Fasilitator adalah pihak yang menyediakan paket teknologi dan bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan. Fasilitator juga bertindak sebagai pengelolaan dana dari investor dan  sebagai pendamping lapangan serta bertanggung jawab terhadap pencapaian standar hasil yang disepakati.  Fasilitator membentuk kelompok kerja yang pada tahap awal terdiri dari para peneliti dari Litbang Kehutanan. Pada tahap selanjutnya lembaga fasilitator dapat diperluas dengan melibatkan berbagai instansi terkait seperti instansi vertikal maupun horizontal di daerah, LSM dan sebagainya.

Pemilik lahan
Pemilik lahan adalah pihak yang menyediakan lahan untuk dibangun hutan tanaman rakyat kemitraan. Lahan tersebut dapat berupa lahan milik maupun tanah negara. Dengan demikian pemilik lahan bisa perorangan, organisasi staupun  pemerintah yang menguasakan lahan yang dimiliki untuk dibangun hutan tanaman rakyat kemitraan dengan pola bagi hasil pada waktu panen berdasarkan pengaturan yang disepakati bersama

Petani Penggarap
                        Petani penggarap adalah pihak yang bertanggung jawab dalam melaksanakan kegiatan penanaman dan pemeliharaan pohon di lapangan berdasarkan arahan teknis dari fasilitator dan pendamping lapangan. Petani mendapat upah untuk kegiatan di lapangan disamping bagi hasil berdasarkan pengaturan yang disepakati bersama .

                                                                                                                           IV.      STRATEGI PELAKSANAAN

A.          Kelembagaan yang Perlu Dibangun
Untuk melaksanakan pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan yang lebih terarah diperlukan kelembagaan yang mengikat berdasarkan arahan dari pemerintah dan dukungan penuh dari Lembaga Penelitian. Tahap pertama pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan dilaksanakan melalui model percontohan ataupun pilot proyek secara terbatas.Model kelembagaan dalam pembangunan pilot proyek/model percontohan dapat digambarkan sebagai berikut :

























Gambar 1. Model kelembagaan hutan rakyat kemitraan
B.  Deskripsi Kegiatan
Untuk melaksanaan kegiatan ini diperlukan kordinasi antara BPK Ciamis dengan dinas kehutanan setempat. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut dibentuk Tim Fasilitator yang terdiri dari para peneliti/teknsi dan penyuluh kehutanan.. Tim Fasilitator ini disamping menyediakan bibit tanaman yang berkualitas juga menyiapkan paket teknologi tepat guna yang akan diterapkan. Kegiatan yang dilakukan pada tahap awal adalah :
  1. menginventarisir pemilik lahan yang mengizinkan  tanahnya untuk digunakan dalam pengembangan hutan tanaman rakyat kemitraan dengan perjanjian kontrak minimal selama 10 tahun.
  2. Menginventarisir pemilik modal/investor yang bersedia menanamkan modalnya untuk jangka waktu 5 tahun dengan pola bagi hasil
  3. Menginventarisir petani  baik petani penggarap maupun petani pemilik lahan yang bersedia berpartisipasi dalam pengembangan hutan tanaman rakyat  kemitraan
  4. Mengelola dana yang diperoleh dari investor untuk digunakan dalam  pembangunan hutan tanaman kemitraan
Untuk menunjang tugas para peneliti sebagai fasilitator   diperlukan dukungan pemerintah dalam bentuk modal awal pelaksanaan pilot proyek. Untuk melaksanakan kegiatan ini diperlukan areal yang  yang kompak seluas 10 ha

C. Penerapan Teknologi Tepat guna
Teknologi tepat guna yang dicobakan dalam pilot proyek ini antara lain :
  1. Pemilihan jenis tanaman yang sesuai
  2. Standardisasi bibit yang akan digunakan
  3. Penerapan tehnik silvikultur intensif
    • persiapan lahan
    • Pembuatan lobang sesuai standard
    • penanaman sesuai dengan kondisi iklim
    • Pemeliharaan dan perawatan tanaman secara intensif
    • Pengendalian hama da penyakit
  1. Pengelolaa kesuburan tanah dan teknik konservasi tanah da air
    • Penggunaan pupuk organik formula khusus
    • Penggunaan kompos sisa tanaman melalui dekomposisi yang dipercepat
    • Peneraapan teknologi mulsa vertikal
    • Penggunaan kompos sisa tanaman dan pupuk hjau melalui dekomposis  yang   dipercepat
    • Penerapan teknologi teras kredit
    • Penanaman tanaman pengikat N/pupuk hijau
  1. Pemanfaatan bidang lahan antar tegakan pokok dengan pola tanam agroforestry yang sesuai antara lain :tanaman pangan (wanatani),  rumput makanan ternak (silvopastur), tanaman obat obatan (Wanafarma),  MPTS dan sebagainya
  

                                                                                      V.      PROSPEK DAN MANFAAT YANG DIHARAPKAN

Pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan  yang diuraikan dalam tulisan ini apabila dilaksanakan secara benar dapat mencapai standar yang disepakati. Pencaian standar produksi sesua dengan teknologi yang digunakan diharapkan dapat memberikan keuntungan financial  bagi para pihak yang berkontribusi Keuntungan financial yang memadai merupakan factor yang menentukan kegiatan tersebut menarik untuk dibiayai oleh investor dan pemilik lahan. Disamping itu bagi petani penggarap yang tidak memiliki lahan,  kegiatan ini dapat memberikan jaminan hidup jang panjang  yang memadai dan  membuka lapangan dan kesempatan kerja  baru


                                                                                                                   VI.      KESIMPULAN/ REKOMONDASI

1.    Pembangunan hutan tanaman rakyat merupakan kegiatan baru sehingga belum berkembang sebagaimana yang diharapkan
2.    Untuk lebih menyukseskan pembangunan hutan tanaman rakyat kemitraan diperlukan dukungan teknologi hasil penelitian
3.    Dalam pelaksanaannya pada tahap awal perlu dilakukan melali model percontohan pada setiap daerah pengembangan
4.    Model percontohan yang dibangun perlu didasarkan pada penerapan pola tanam berbasis penerapan iptek hasil penelitian yang telah tersedia serta rekomendasi kelembagaan dengan memanfaatkan jalur resmi  organisasi pemerintahan yang ada melalui usulan/proposal dari lembaga penelitian selaku fasilitator yang bertanggung jawab dalam pencapaian standar produksi yang diharapkan


DAFTAR PUSTAKA

Departemen  Kehutanan, 2007. Rencana Kerja Kementrian Lembaga, Departemen  Kehutan 2007,  Departemen Kehutanan Republik  Indonesia.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Lahan Dan Perhutanan Sosial,  2004. Pedomaan Umum Pembuatan Rencana Tehnik Sosial Forestry. T, Forestry  Departemen Kehutanan.

Mile, M. Y., 2007. Prinsip-Prinsip Dasar dalam Pemilihan Jenis, Pola Tanam dan Teknik Produksi Agribisnis Hutan Rakyat.Informasi Teknis Vol. 1 No: 2   Balai Besar Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yokyakarta.


Soeroso, H.D., dan Poedjowadi, 2006. Pengembangan Usahatani Jati Unggul Pola Bagi  Hasil,  Kopersi Perumahan Wanabakti Nusantara,  Jakarta

Post Top Ad

Your Ad Spot