KAJIAN POTENSI USAHA SUKUN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, April 20, 2016

KAJIAN POTENSI USAHA SUKUN

KAJIAN POTENSI USAHA SUKUN

Oleh :
Budiman Achmad,  Devy P. Kuswantoro, dan Soleh Mulyana
Balai Penelitian Kehutanan Ciamis

ABSTRAK
Pengusahaan tanaman pangan yang dapat mensubstitusi beras perlu terus ditingkatkan, dan sukun merupakan salah satu jenis tanaman kehutanan multi-guna yang direkomendasikan untuk dikembangkan secara luas.  Salah satu keunggulan tanaman penghasil karbohidrat ini adalah sekali tanam, teapi panen sepanjang tahun, namun disinyalir usaha ini mulai kurang diminati masyarakat karena faktor sosial-ekonomi.  Sehubungan dengan hal tersebut, maka kajian-kajian mengenai potensi pengusahaan sukun bertujuan untuk mendapatkan informasi peluang  pengusahaan. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah pada tahun 2006 dengan mewawancarai pelaku usaha sukun.
 Hasil penelitian menunjukkan bahwa walaupun bertanam sukun menguntungkan,  namun sukun umumnya hanya dipandang sebagai tanaman pengisi pekarangan saja.  Rantai pemasaran buah sukun yang sederhana dan cukup tingginya posisi tawar petani seharusnya  menjadi peluang dan pendorong pengusahaan sukun.  Buah sukun, baik dari petani maupun pemetik,  untuk olahan criping dan cistik dipasarkan dengan harga Rp. 1.000,00 per buah. Usaha criping dan cistik, oleh-oleh khas Cilacap,  mampu menghasilkan keuntungan sampai Rp. 8.000,00/kg tergantung dari lama usaha, tingkat kepuasan pembeli dan kualitas olahan sukun yang dihasilkan.
Program pemerintah berupa penanaman sukun untuk membudayakan sukun yang sudah mulai berkurang merupakan langkah yang tepat, namun juga perlu dibarengi dengan strategi yang tepat pula agar minat menanam dan pendapatan dari usaha sukun bisa ditingkatkan.  Program tersebut bertujuan untuk turut menyuplai buah sukun sebagai bahan baku di sentra pengolahan keripik yang sudah menurun. Investasi di bidang olahan lain seperti tepung sukun yang amat berprospek sebagai bahan pangan fungsional (makanan anti diabetes dan bebas kolesterol) patut dipromosikan pengolahannya dengan skala industri sehingga potensi usaha dan penghasilan dari sukun makin meningkat.

Kata kunci : HHBK Prioritas, potensi usaha, pangan fungsional, Sukun


I. PENDAHULUAN

Salah satu jenis tanaman yang dapat dikembangkan sebagai substitusi beras adalah sukun. Sukun merupakan tanaman serbaguna yang buahnya dapat diolah menjadi sumber pangan yang mempunyai kandungan kalori dan gizi cukup tinggi.  Hasil penelitian Widowati dan Suyanti (2002) menunjukkan bahwa komposisi kimiawi buah sukun tidak kalah dengan bahan makanan lain. Hal ini dapat menjadi salah satu rekomendasi pemanfaatan buah sukun sebagai salah satu substitusi beras sebagai bahan makanan pokok di Indonesia.  Apabila olahan buah sukun sebagai sumber pangan dapat diterima secara luas oleh masyarakat, maka usaha tani sukun akan makin bergairah. Ditilik dari kandungan energi 100 gram buah sukun yang sekira sepertiga kandungan energi beras dan hampir sama dengan kandungan energi talas, dapat direkomendasikan pula penggunaan sukun sebagai bahan makanan kesehatan terutama bagi penderita penyakit diabetes.
Penanaman sukun telah diusahakan sejak lama di Indonesia. Selama ini, sukun lebih banyak ditanam sebagai tanaman pekarangan. Sukun sebagai tanaman serba guna (MPTS) dimanfaatkan pula oleh sektor kehutanan sebagai salah satu tanaman dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan. Penelitian dan pengembangan pemuliaan sukun juga telah dilaksanakan untuk mendukung pengembangan tanaman ini termasuk pengadaan bibit untuk rehabilitasi lahan. Penggunaan jenis sukun dimaksudkan agar masyarakat dapat memanfaatkan buahnya sehingga pohonnya tetap dapat berfungsi konservasi.
 Sebagai hasil hutan bukan kayu prioritas bioregion Jawa seperti yang ditetapkan dalam Rencana Litbang Integratif Badan Litbang Kehutanan, penelitian sukun dan permasalahannya terutama aspek sosial ekonominya perlu dilakukan. Pada era 1980-1995. Kabupaten Cilacap Jawa Tengah menjadi sentra sukun rakyat bahkan varietas buah sukun di berbagai daerah di Indonesia sebagian besar merupakan varietas Cilacap. Cilacap juga dikenal sebagai penghasil olahan sukun di Jawa Tengah. Namun saat ini mungkin karena krisis ekonomi menyebabkan keadaan itu tidak tercipta dan pemilihan jenis sukun sebagai tanaman konservasi dan tanaman pangan pendamping beras tidak berjalan dengan baik.  Hal ini dikarenakan penanaman sukun tidak didukung oleh peningkatan pemanfaatan hasil yang mampu meningkatkan pendapatan petani dan pengusaha sukun. Oleh karena itu, penelitian sosial ekonomi penggunaan sukun serta pemanfaatan dan pengolahan pasca panennya dalam rangka mendukung program rehabilitasi lahan, program tanaman pangan, dan penggalakan HHBK Prioritas perlu dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah : 1) mengetahui kondisi dan potensi ekonomi pengusahaan serta pengolahan sukun, 2) meningkatkan peluang pengusahaan sukun,  dalam rangka mendukung program rehabilitasi lahan, program tanaman pangan, dan penggalakan HHBK prioritas.


II. METODOLOGI

A. Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan pada Bulan Agustus sampai dengan November 2006 dengan lokasi di wilayah Kabupaten Cilacap. Kabupaten Cilacap dipilih secara sengaja karena tanaman sukun dan olahannya merupakan salah satu potensi andalan daerah tersebut.  Disamping itu, bibit sukun asal Cilacap telah menjadi bibit utama yang banyak dikembangkan di daerah-daerah lain di Indonesia. Kecamatan yang dipilih sebagai lokasi pengambilan data penelitian hasil koordinasi dengan Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Cilacap adalah Kecamatan Cilacap Utara dan Kecamatan Kesugihan di wilayah unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Pertanian dan Peternakan Jeruklegi.

B. Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan teknik wawancara terhadap responden menggunakan alat bantu kuisioner. Pemilihan responden dilakukan secara sengaja (purposive sampling method). Adapun responden yang dipilih merupakan representasi dari instansi pemerintah, petani sukun, pelaku usaha sukun, baik pelaku pemasaran maupun pelaku usaha olahan sukun.  Data dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif.


III. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Kabupaten Cilacap menurut data BPS Kabupaten Cilacap (2004a) merupakan kabupaten terluas di Propinsi Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai 225.360,84 hektar. yang terdiri atas 213.850,288 hektar daratan yang tergabung dengan daratan Pulau Jawa dan Pulau Nusakambangan seluas 11.510,552 hektar. Kabupaten Cilacap terletak pada ketinggian 6 s.d. 198 m dpl dengan rata-rata mempunyai ketinggian sekira 75 m dpl. Secara administratif, Kabupaten Cilacap terbagi menjadi 24 kecamatan dengan 269 desa dan 15 kelurahan.
Penduduk Kabupaten Cilacap berdasar data terakhir (2004) sebanyak 1.709.888 jiwa dengan pertumbuhan penduduk 0,31% pada tahun yang sama. Sebagian besar penduduk Cilacap bermata pencaharian di bidang pertanian sesuai dengan dominasi peruntukan lahan untuk sawah, kebun, dan hutan. Adapun pembagian luasan lahan Cilacap untuk keperluan usaha tersebut dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Penggunaan lahan di Kabupaten Cilacap

Pengusahaan pertanian didominasi oleh pertanian sawah diikuti oleh usaha tani di kebun/ladang yang mengusahakan tanaman pertanian, buah-buahan, obat, perkebunan, dan kehutanan (BPS Kabupaten Cilacap, 2004b). Usaha pertanian tersebut meliputi pertanian tanaman pangan seperti padi dan palawija. Usaha sayur-mayur meliputi kacang panjang, cabai, kangkung, terong, ketimun, bayam, dan tomat. Adapun usaha buah-buahan meliputi pisang, rambutan, sukun, jambu biji, dan salak.
Kabupaten Cilacap merupakan daerah sentra produksi sukun di Jawa Tengah. Sukun Cilacap bahkan jauh lebih terkenal daripada sukun asal sentra-sentra lain di Pulau Jawa seperti di Yogyakarta (DIY) dan Banyuwangi (Jawa Timur). Bahkan sukun Cilacap sempat terkenal dengan nama "Sukun Pitojo" dikarenakan usaha Bapak Setijo Pitojo dari Dinas Pertanian kala itu yang mengkampanyekan penanaman dan usaha sukun ini, bahkan menyalurkan bibit sukun asal Cilacap ke luar daerah terutama ke Pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sayangnya, keberhasilan usaha perluasan pengembangan tanaman sukun masih rendah yang disinyalir karena berbagai faktor antara lain masalah kesesuaian tempat tumbuh dan terutama masalah sosial ekonominya belum teratasi dengan baik.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Model Usaha Tani Sukun
Rata-rata kepemilikan lahan petani adalah 3.326 m2 yang didominasi oleh areal persawahan.  Luas kepemilikan lahan ini dipengaruhi juga oleh kondisi lahan yang makin sempit dan berubah menjadi pemukiman. Lahan petani untuk bertanam sukun kebanyakan di pekarangan rumah dan di kebun. Sukun ditanam sendiri atau secara campuran dengan tanaman buah-buahan lain seperti pisang, pepaya, mangga, melinjo, sawo, dan nangka. Apabila ditanam bersama-sama dengan tanaman lain, maka jarak tanam sukun dengan tanaman lain berjauhan. Hal ini disebabkan oleh besarnya ruang tumbuh yang dibutuhkan tanaman sukun.  Menurut petani, apabila tanaman sukun sudah dewasa, maka lahan di bawah tegakan sudah tidak bisa ditanami lagi karena struktur perakarannya yang kompak dan luas, dan rendahnya sinar matahari yang sampai ke permukaan tanah. Hal ini menyebabkan beberapa responden yang mempunyai lahan pekarangan relatif sempit memilih hanya menanam sukun saja sebanyak 1 hingga 4 pohon.
Analisis persepsi petani terhadap pertanian sukun menghasilkan dua tipe petani sukun. Petani tipe pertama memandang sukun sebagai tanaman pengisi pekarangan saja. Alasan petani ini adalah secara tradisional mereka telah mengenal dan menanam sukun. Sukun adalah tanaman yang biasa ada di pekarangan rumah di Cilacap. Petani seperti ini biasanya hanya mempunyai tidak lebih dari tiga batang pohon sukun di pekarangan rumah atau lahannya. Tipe petani pertama bukan berorientasi bisnis karena hanya dengan mempunyai sedikit tanaman sukun, maka hanya sedikit pula keuntungan yang didapatnya. Jumlah petani tipe pertama ini disinyalir akan terus berkurang karena makin sempitnya pekarangan rumah petani dan keterbatasan kepemilikan kebun.
Petani tipe kedua adalah yang mengusahakan sukun secara lebih banyak dan tidak terbatas di lahan pekarangannya saja namun diusahakan di ladang/kebunnya. Petani yang demikian lebih berorientasi bisnis karena usaha sukun dianggap mudah dan mampu menghasilkan dengan kontinuitas tinggi tanpa perlu pemeliharaan yang intensif. Jumlah petani yang mempunyai pola pikir seperti ini lebih sedikit. Rata-rata mereka adalah petani yang mempunyai kelebihan lahan dan dana. Penanaman sukun memerlukan lahan yang cukup luas dikarenakan sukun memerlukan ruang tumbuh yang luas untuk dapat berproduksi secara optimal. Petani tipe ini berpandangan bahwa bertani sukun lebih menguntungkan daripada bertani pisang dan tanaman buah lainnya karena harga buah sukun yang cukup stabil dan sekali panen dalam satu tanaman mampu menghasilkan buah dengan jumlah yang cukup banyak.
Kemudahan dalam bertanam sukun membawa pada bentuk kearifan masyarakat untuk mencintai sukun sehingga tidaklah heran apabila hampir di setiap rumah tangga di Cilacap dapat ditemui pohon sukun terutama di wilayah Cilacap kota. Tetapi amat disayangkan bahwa di Kabupaten Cilacap, khususnya wilayah Cilacap kota saat ini tidak banyak lagi petani yang memelihara sukun dengan berorientasi bisnis. Dikarenakan banyak petani berusia tua dengan tingkat pendidikan rendah, maka amat wajar jika bentuk usaha tani sukun kurang berorientasi bisnis. Rasa "nrimo" atas pendapatan yang diperoleh dan merasa sudah mencukupi kebutuhan membuat kurangnya minat untuk lebih meningkatkan usaha. Sikap petani seperti  ini amat lazim ditemui pada petani-petani di Jawa baik pertanian sawah, kebun, bahkan di hutan rakyat.
Hasil wawancara menyebutkan bahwa rata-rata tanaman sukun mulai berbuah pada umur empat sampai lima tahun. Jumlah produksi buah per tahun mampu mencapai ratusan butir dalam satu pohon. Perbedaan jumlah buah ini tergantung dari  1) umur tanaman;  2) kesehatan dan pemeliharaan tanaman; dan 3) musim. Hasil penelitian di Kediri Jawa Timur oleh Kartono dkk. (2006) menunjukkan bahwa umur tanaman sangat berpengaruh pada produksi buah sekali panen. Tanaman dengan umur kurang dari 5 tahun mampu memproduksi sampai 60 buah sukun per tahun, sedangkan saat berumur 15 tahun mampu menghasilkan 300 sampai 400 buah sukun. Apabila sudah berumur lebih dari 25 tahun mampu menghasilkan lebih dari 500 buah per tahun.  Tanaman sukun yang subur dan terpelihara akan menghasilkan buah yang lebih banyak daripada tanaman yang kurus. Ciri sukun kurus menurut petani adalah daunnya yang tidak lebat dan sering rontok bunga dan bakal buahnya sewaktu masih muda.  
Menurut petani, panen sukun saat ini di Cilacap sudah tidak dapat diprediksi berdasarkan musim panen. Hal ini terjadi karena waktu musim penghujan dan kemarau yang tidak menentu. Pada saat musim kemarau, produksi buah sukun menurun dan akan melimpah di saat musim penghujan. Keadaan ini terutama berpengaruh bagi kontinuitas usaha olahan sukun. Walaupun demikian, usaha tani sukun masih merupakan usaha favorit di bidang pertanian buah-buahan di Cilacap. Data Profil Daerah Kabupaten Cilacap (BPS Kabupaten Cilacap, 2004b) menyebutkan bahwa sukun merupakan usaha tanaman buah-buahan ketiga terbesar andalan Cilacap, setelah pisang dan rambutan. Tabel 1 menyajikan daftar produksi buah-buahan di  Cilacap.

Tabel 1. Produksi buah-buahan di Kabupaten Cilacap
No
Jenis buah
Jumlah pohon
Produksi (kwintal)
%
1
Pisang
7.996.667
1.802.642
88,39
2
Rambutan
155.264
122.717
6,02
3
Sukun
76.322
52.696
2,58
4
Jambu biji
63.788
31.861
1,56
5
Salak
96.274
29.421
1,44
Sumber: BPS Kabupaten Cilacap (2004)
Analisis data menunjukkan bahwa walaupun nilai produksi sukun hanya 2,58% dari total produksi buah-buahan di Cilacap, namun per satuan pohon sukun lebih tinggi dari komoditas buah-buahan yang lain. Hal inilah yang menyebabkan usaha tani sukun masih diusahakan oleh masyarakat. Apabila dicermati dari data Tabel 1, maka dari satu pohon sukun akan menghasilkan sekira 0,69 kwintal buah sukun per tahun, sehingga walaupun produksi pisang sangat banyak (88,39%) namun dibutuhkan tanaman yang memproduksi dengan jumlah banyak pula karena dari satu tanaman hanya mampu memproduksi sekira 0,23 kwintal setahun. Jelas dengan hanya memelihara satu pohon sukun saja, masyarakat akan mendapat hasil yang besar. Apabila diambil rata-rata satu buah sukun mempunyai berat 2,5 kilogram, maka dalam setahun satu pohon sukun mampu memproduksi 276 buah.  Oleh karena itu, selayaknya sukun mendapat perhatian lebih dikarenakan besarnya manfaat yang didapat. 

B. Model- model Usaha Sukun
Tanaman sukun diusahakan terutama untuk diambil buahnya. Sampai saat ini tidak ditemui kendala berarti dalam hal pemanenan dan pemasaran buah sukun atau dengan kata lain buah sukun mudah dijual dan dipasarkan. Para pedagang pengumpul sudah berkeliling dari rumah ke rumah ketika buah sukun menjelang dipanen sehingga petani yang memiliki buah sukun amat jarang yang menjual buah sukunnya langsung ke pasar.  Buah sukun dijual bukan dengan ukuran bobot buah melainkan dalam ukuran jumlah buah (bijian). Adapun alur pemasaran buah sukun baik, yang masih dalam bentuk buah maupun telah berubah menjadi produk olahan sukun di Kabupaten Cilacap secara skematik tersaji pada Gambar 2.
 





















Gambar 2. Alur pemasaran sukun di Kabupaten Cilacap
Gambar 2 dengan jelas memperlihatkan bahwa potensi usaha sukun di Cilacap adalah potensi usaha barang mentah yaitu masih dalam bentuk buah dan potensi usaha barang jadi atau setengah jadi yaitu produk-produk olahan buah sukun. Telah disebutkan bahwa buah sukun dijual dalam satuan butir, suatu bentuk penjualan yang spesifik dan jarang bagi produk buah-buahan yang pada umumnya dijual dalam satuan berat. Hal ini berarti bahwa terdapat ciri spesifik sukun yang berhubungan dengan kualitas buah yang berpengaruh pada harga dan produk akhirnya.

C. Potensi Usaha Buah Sukun
Hasil wawancara dengan petani sebagai produsen buah menyebutkan bahwa petani memiliki pilihan untuk menjual buah sukunnya kepada pedagang pemetik atau kepada industri pengolahan sukun. Pilihan ini tergantung dari umur buah sukunnya. Biasanya buah sukun yang disukai oleh pedagang pengumpul adalah buah sukun yang masih muda dan mengkal dengan alasan lebih tahan lama mengingat rantai pemasaran buah masih panjang bahkan sampai ke luar kota. Hal ini terkait dengan waktu simpan buah yang terbatas apalagi bila dalam keadaan sudah masak. Di lain pihak, industri pengolahan buah sukun menginginkan buah dalam kondisi sudah tua yang memang merupakan syarat buah yang baik untuk diolah lebih lanjut. Sebagai kompensasi, harga buah tua lebih mahal dibanding dengan harga buah yang lebih muda.
Selanjutnya, dari wawancara dihasilkan juga bahwa harga buah sukun per biji di tingkat petani apabila dijual ke pedagang pengumpul saat masih muda adalah Rp. 600,00 s.d. Rp. 700,00 per buah, dan apabila dijual ke industri pengolahan adalah  Rp. 1.000,00 per buah. Biasanya pilihan dalam menjual buah juga dipengaruhi oleh perlunya dana untuk suatu kebutuhan hidup. Bahkan lebih jauh, pilihan untuk menjual buah ke pedagang pengumpul terkadang dipengaruhi juga oleh desakan dari pedagang yang bersangkutan yang selalu mengunjungi petani sehingga secara psikologis petani akhirnya terpaksa menjual ke pedagang tersebut.  Dalam transaksi, pedagang ataupun pihak industri olahanlah yang memanen sendiri buah sukun dari pohon petani. Petani tidak mau mengambil resiko disamping kecelakaan kerja juga resiko buah rusak akibat terjatuh yang berakibat tidak dibelinya buah tersebut.  Petani hanya tahu jumlah uang yang diterima adalah harga sebuah sukun dikalikan sebanyak butiran sukun dari pohonnya yang dapat dipanen dengan sistem pembayaran antara petani dengan pedagang pengumpul dilakukan secara langsung/kontan dan apabila tertunda hanya berjangka waktu tidak lebih dari tiga hari.
Apabila ditinjau dari model usaha tani sukun, petani tidak mengeluarkan biaya banyak, sehingga besarnya nilai tambah dari hasil penjualan buah sukun sangat signifikan. Hal ini makin nyata apabila dilihat dari tipe petani sukun yang  sebagian besar tidak berorientasi bisnis sehingga pendapatan dari menjual buah sangat besar dibandingkan dengan biaya pengusahaannnya.
Pedagang pengumpul, baik tingkat I (pemetik) maupun tingkat II merupakan orang-orang yang juga turut menikmati potensi usaha buah sukun. Di Kabupaten Cilacap, pedagang pengumpul tingkat I biasa berkeliling dengan becak atau dengan mobil pick up. Adapun modal usaha biasanya selain dari modal sendiri juga mendapat pinjaman dari pedagang pengumpul buah sukun tingkat II sebagai pedagang besar dalam kota. Pedagang pengumpul tingkat I menjual buah sukun kepada pedagang besar dalam kota dan industri pengolahan. Dalam bertransaksi dengan industri pengolahan, pedagang pengumpul menyeleksi buah sukun terlebih dahulu sesuai dengan prasyarat kriteria industri pengolahan, sedangkan untuk penjualan kepada pedagang besar tidak dilakukan pemilihan buah sukun. Sistem pembayaran dengan industri pengolahan dilakukan secara kontan, lain halnya dengan pembayaran pedagang besar kepada pedagang pengumpul yang menggunakan sistem panjar/porsekot dan kekurangannya dibayar oleh pedagang besar pada hari berikutnya dengan berjangka 1 hingga 2 hari setelah transaksi terjadi. Pemetik sebetulnya merupakan rantai yang aman dari resiko harga karena bergerak di wilayah kecil dan buah cepat berpindah tangan sehingga tidak menanggung resiko kerusakan buah. Hanya saja resiko kecelakaan kerja tinggi karena pemetikan yang dilakukan sendiri menghadapi konsekuensi jatuh. Kehati-hatian dalam bekerja sangat dituntut dalam profesi pemetik ini. Buah sukun yang cacat karena jatuh cepat rusak dan tidak laku dijual.
Pedagang besar dalam kota sebagai pedagang pengumpul tingkat II membeli buah sukun dari pedagang pengumpul buah tingkat I (pemetik). Biasanya pedagang pengumpul tingkat I merupakan anak buah dari pedagang besar.  Adapun waktu penyetoran buah sukun adalah di siang hingga sore hari sehingga dapat langsung diangkut dan dikirim ke luar kota. Harga beli dari pengumpul tingkat I (pemetik buah) adalah Rp. 1.000,00 per biji untuk ukuran besar atau Rp. 2.000,00 untuk 3 buah sukun ukuran sedang. Pedagang besar dalam kota ini memasarkan buah sukunnya kepada pedagang buah sukun di luar kota untuk dijual lagi di luar kota Cilacap. Harga jual yang ditetapkan oleh pedagang besar dalam kota bervariasi mulai Rp. 1.200,00 sampai dengan Rp. 2.000,00 per buah tergantung jarak pengiriman. Tujuan pengiriman buah sukun hasil inventarisasi dari pedagang besar dalam kota tersaji pada Tabel 2.  
 Tabel 2. Daerah tujuaan pemasaran buah sukun dari Cilacap
Propinsi
Kota
Lokasi
Kedudukan
Jawa Tengah
Ajibarang
Pasar Ajibarang
Agen penjualan
Tegal
Pasar pagi Tegal
Agen penjualan
Jawa Barat
Bekasi
Pasar Bekasi
Agen penjualan
Cirebon
Pasar Cirebon
Agen penjualan
Majalengka
Pasar Godogan
Agen penjualan
DKI Jakarta
Jakarta
Pasar Induk Kramat Jati
Agen penjualan
Sumber: data penelitian (diolah)

D. Potensi Usaha Olahan Buah Sukun
Buah sukun secara sederhana dapat diolah menjadi makanan ringan. Masyarakat biasa mengkonsumsi buah sukun dengan cara buah sukun segar dikukus atau digoreng biasa sebagai pendamping minum teh atau kopi. Olahan buah sukun seperti ini tentu bukan merupakan olahan yang menarik dan bernilai ekonomi tinggi apabila akan diusahakan sebagai usaha bisnis, selain alasan utama yaitu tidak tahan lama. Olahan buah sukun merupakan produk usaha yang secara tradisional telah menjadi trade mark Kabupaten Cilacap. Pemerintah daerah telah manginventarisasi bentuk-bentuk olahan buah sukun yang berpotensi sebagai makanan tradisional khas Cilacap. Hasil penelusuran dan wawancara didapatkan bahwa usaha criping sukun dengan berbagai variasinya merupakan satu-satunya usaha olahan sukun di kabupaten Cilacap yang berkembang hingga saat ini.
Usaha criping sukun dapat dikelompokkan menjadi usaha kecil menengah (UKM) yang dapat dikatakan mampu bertahan sampai saat ini. Menurut responden pengusaha menyebutkan bahwa usaha ini mampu melewati krisis ekonomi moneter dikarenakan tidak adanya komponen impor maupun komponen usaha yang memerlukan investasi tinggi. Seluruh komponen usaha merupakan produk lokal termasuk dengan bahan baku dan tenaga kerja.
Criping sukun yang dibuat pada saat ini telah mengalami berbagai inovasi untuk meningkatkan nilai jualnya. Pada awalnya, criping hanya mempunyai satu macam bentuk saja yaitu setengah buah sukun. Akan tetapi pada saat ini terdapat produk criping dengan bentuk bundaran utuh buah sukun dan dengan tambahan berbagai macam bumbu. Model selanjutnya yang juga merupakan inovasi produk adalah bentuk stick sukun yang dikenal dengan nama dagang "cistik". Apabila criping sukun berupa lembaran-lembaran tipis buah sukun, maka cistik berbentuk kotak persegi sehingga serupa balok. Kedua jenis produk ini sama-sama merupakan olahan buah sukun dengan cara digoreng.
Industri olahan sukun biasanya membuat secara bersama-sama, baik criping maupun cistik sukun. Namun ada juga yang hanya memproduksi satu jenis saja. Hal ini tergantung dari banyaknya buah sukun yang mampu didapat dan diolah serta bentuk olahan yang banyak diminati. Hasil wawancara dengan pengusaha menyebutkan bahwa selain mengandalkan pasokan buah sukun dari sekitar wilayah Cilacap kota hasil mencari sendiri atau dari pengumpul buah sukun tingkat I (pemetik), juga didatangkan buah sukun asal Kroya bahkan sampai ke Kota Purwokerto. Pengusaha yang sudah berskala besar dalam arti kontinuitas pemasaran dan kuantitasnya besar rata-rata tidak lagi mengandalkan pasokan buah dari Cilacap kota saja. Perdagangan buah sukun ke luar kota oleh pedagang pengumpul dirasakan cukup signifikan menjadi pesaing dalam perolehan buah sukun. Seperti diutarakan bahwa produk criping dan cistik memerlukan buah yang tua dan cukup besarnya bertolak belakang dengan buah sukun yang dijual pedagang karena masih muda sudah dipanen. Hal ini memaksa pengusaha olahan membeli buah dalam harga yang lebih mahal sebanding dengan kualitas yang diminta. Harga buah sukun apabila dibeli dari petani Rp. 1.000,00 per biji dan apabila dibeli dari pemetik dapat mencapai Rp. 1.500,00 per bijinya.
Sebagai bentuk usaha kecil dan menengah (UKM), usaha criping dan cistik sukun dikerjakan sendiri atau bersama-sama dengan tetangga yang dalam hal ini adalah ibu-ibu. Ibu-ibu ini bekerja sebagai tukang potong buah dengan upah Rp. 10.000,00 per hari. Dalam pemasaran suatu usaha, faktor pengalaman dan langganan menjadi salah satu hal penting yang mempengaruhi keberhasilan dan kontinuitas usaha. Demikian pula yang terjadi dalam usaha criping dan cistik sukun. Lamanya pengalaman dan komitment terhadap kualitas,  sangat menentukan omzet penjualan dan besarnya keuntungan. Tabel 3 memperlihatkan taksiran biaya dan keuntungan dalam pembuatan dan penjualan produk olahan buah sukun.

Tabel 3. Perbandingan biaya dan pendapatan olahan buah sukun
Komponen Usaha
Jenis olahan buah sukun
Criping
Cistik
Kapasitas produksi /hari
50 kg
40 kg
Pembelian buah  @ Rp. 1.000,-/biji
100.000
100.000
Pembelian minyak @ Rp. 5.400,-/kg
135.000
135.000
Pembelian bumbu (bawang, kemiri, santan, dll)
16.000
16.000
Pembelian kayu bakar
15.000
15.000
Tenaga kerja
30.000
30.000
JUMLAH BIAYA
296.000
296.000
Biaya/kg olahan
5.920
7.400
Harga jual/kg olahan
14.000
16.000
Keuntungan/kg olahan
8.080
8.600
Pemasaran
Eceran, Toko oleh-oleh besar, pasar
Sumber: data penelitian (diolah)
Bentuk olahan buah sukun sampai saat ini masih terbatas hanya dalam bentuk snack yang statis dari waktu ke waktu. Walaupun telah ada perubahan bentuk untuk menjadikan olahan ini makin menarik, akan tetapi disadari belum ada langkah signifikan dalam diversifikasi produk olahan buah. Hasil wawancara dengan responden pengusaha criping sukun, didapat informasi bahwa telah juga dijajaki kemungkinan pengolahan buah sukun menjadi tepung sukun.
Tepung merupakan salah satu bentuk alternatif produk setengah jadi yang dianjurkan, karena lebih tahan disimpan, mudah dicampur (dibuat komposit), diperkaya  zat gizi (difortifikasi), dibentuk, dan lebih cepat dimasak sesuai tuntutan kehidupan modern yang serba praktis (Winarno, 2000). Hasil wawancara menyatakan bahwa usaha ini kurang lancar disebabkan oleh beberapa hal yaitu:
  1. Proses produksi memakan waktu lama dan riskan gagal karena tanpa perlakuan yang tepat tepung mudah terserang jamur.
  2. Rendemen tepung rendah dan harga jual belum menarik.
  3. Ketersediaan buah tidak mencukupi untuk kontinuitas usaha pengolahan tepung sukun.
Pengolahan buah sukun menjadi tepung sukun sebenarnya merupakan cara tepat untuk dapat menyimpan sukun dalam bentuk aslinya tanpa ada penambahan bahan lain. Tepung sukun mempunyai kandungan protein dan karbohidrat yang lebih baik daripada tepung ubi kayu yang sudah dikomersialisasikan sejak lama. Tabel 4 memperlihatkan perbandingan komposisi kimia beberapa jenis tepung.

Tabel 4. Komposisi kimia beberapa jenis tepung
Komoditas
Kadar (%)
Air
Abu
Protein
Lemak
Karbohidrat
Pisang
Sukun
Labu kuning
Haddise
Ubi kayu
Ubi jalar
10,11
9,09
11,14
9,32
7,80
7,80
2,66
2,83
5,89
6,62
2,22
2,16
3,05
3,64
5,04
2,67
1,60
2,16
0,28
0,41
0,08
0,08
0,51
0,83
84,01
84,03
77,65
81,32
87,87
86,95
 Sumber: Widowati dan Suyanti (2001)
            Tepung sukun sebetulnya dapat menjadi salah satu bahan pangan fungsional. Pangan fungsional ialah suatu bahan pangan yang apabila dikonsumsi akan menyehatkan badan karena mengandung zat gizi atau bioaktif, baik adanya secara alami maupun ditambahkan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya banyak sekali potensi pangan alami kita yang perlu digali pemanfaatan dan fungsinya secara lebih mendalam.  Buah-buahan dan sayuran merupakan bahan pangan yang mempunyai indeks glikemik (IG)  rendah, yaitu 23-70 (Marsono dkk. 2002). Bahan pangan yang mempunyai IG rendah berpotensi sebagai penurun gula darah. Buah-buahan diketahui mengandung komponen bioaktif yang dapat digunakan untuk berbagai pencegahan dan pengobatan penyakit kronis, termasuk Diabetes Mellitus. Oleh karena itu, sukun pun dapat dikembangkan menjadi salah satu bahan pangan yang bernilai fungsional dan dapat menjadi potensi usaha olahan buah sukun yang menjanjikan.
E. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Usaha Sukun
1. Faktor Penghambat
            Faktor-faktor yang dapat menjadi penghambat usaha sukun dapat diidentifikasi sebagai berikut:
  1. Paradigma berpikir petani
Masih sedikitnya petani berpikir agribisnis sukun dan ditambah dengan usia tua serta pendidikan petani sukun yang kebanyakan rendah membuat kurangnya gairah usaha tani sukun.
  1. Keterbatasan lahan
Pengurangan lahan untuk pemukiman membawa konsekuensi pengurangan tanaman sukun. Apalagi sistem perakaran sukun yang dapat merusak bangunan membuat banyak petani menebang tanaman sukunnya.
  1. Lemahnya dukungan investasi
Usaha olahan sukun masih berupa unit usaha kecil dan menengah (UKM) yang amat jarang mampu mengembangkan diri apabila tidak ada uluran investasi. Walaupun UKM terbukti mampu bertahan melewati krisis ekonomi, akan tetapi tanpa bantuan modal tidak bisa meningkatkan produksinya serta memperluas pangsa pasarnya. Langkanya investor yang tertarik untuk menangani usaha olahan sukun skala industri seperti tepung sukun menyebabkan tidak berkembangnya diversifikasi usaha olahan sukun.

2. Faktor pendukung
            Faktor-faktor yang merupakan pendukung keberlanjutan usaha sukun dapat diidentifikasi sebagai berikut:
  1. Kemudahan dalam bertani sukun
Tanpa perlakuan khusus, sukun dapat tumbuh dan berbuah dengan baik. Hal ini sudah menjadi modal pertama dalam pengusahaan sukun yang murah.
  1. Harga buah sukun yang stabil
Harga buah yang lebih tinggi dari komoditi buah-buahan lokal lain, hitungan satuan harga, dan posisi tawar petani sukun yang tinggi membuat petani tetap mempertahankan keberadaan tanaman sukunnya sebagai sumber pendapatan.

  1. Pemasaran buah yang mudah dan luas
Rantai pemasaran buah sukun yang pendek dengan biaya pemasaran yang wajar serta terbukanya pasar buah dengan kestabilan permintaan menunjukkan bahwa konsumsi buah sukun sebenarnya sangat tinggi sehingga peluang usaha sukun tetap terbuka lebar.
  1. Kebijakan dan program pemerintah
Pemerintah Kabupaten Cilacap sadar bahwa sukun merupakan salah satu asset Kabupaten Cilacap. Sukun berkembang sampai saat ini di Cilacap dikarenakan campur tangan kebijakan dan program pemerintah seperti ”sukunisasi”. Selama ini, dikarenakan kecocokan akan iklim dan lahan, sukun banyak ditanam dan diusahakan di wilayah Cilacap kota. Namun dengan perkembangan kota yang kian padat harus diusahakan juga pembinaan usaha tani sukun di daerah lain. Dinas Pertanian dan Peternakan telah melaksanakan program pengembangan sukun di luar Cilacap kota yaitu di wilayah UPT Dinas Pertanian dan Peternakan Kroya.
  1. Dukungan informasi dan iptek hasil-hasil penelitian
Badan Litbang Kehutanan telah memprioritaskan penelitian dan pengembangan sukun untuk memperoleh bibit sukun yang berkualitas dan mampu tumbuh baik di berbagai kondisi lahan dan penelitian sosial ekonomi untuk mendukung pengusahaan sukun. Hasilnya diharapkan agar tanaman sukun dapat dikembangkan lebih luas untuk mendukung ekonomi masyarakat dan konservasi lahan. Dukungan litbang dari bidang lain seperti dari Badan Litbang Pertanian mengenai teknologi olahan sukun diharapkan mampu mendukung diversifikasi produk olahan sukun.
  1. Dukungan Lembaga Ekonomi
Akhir-akhir ini cukup banyak lembaga ekonomi seperti perbankan yang mulai berorientasi pada penyaluran kredit untuk usaha kecil menengah dengan mempermudah persyaratan dan prosedur.  Berkaitan dengan hal tersebut, peran pemerintah untuk menfasilitasi hubungan pengusaha dengan lembaga ekonomi sangat diperlukan.
  1. Potensi Produk non-buah
Selain buah, ternyata sukun juga mempunyai potensi manfaat lain karena keunggulannya.  Kayu sukun bisa dipergunakan untuk bahan bangunan tahan rayap, (Ragone, 2006) dan pucuk daun sukun berpotensi sebagai tanaman obat untuk penyakit batu ginjal (Worrell, et al. 2002)




V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
  1. Tanaman sukun masih dipandang sebagai tanaman pengisi pekarangan saja oleh petani, namun dirasakan membawa keuntungan yang lebih besar daripada tanaman hortikultura lain. Kemudahan dan keuntungan usaha tani sukun dirasakan karena bibit mudah diperoleh, tanaman sukun tidak memerlukan peliharaan intensif, dan setelah berbuah dapat menghasilkan buah secara terus-menerus dengan jumlah dan harga yang stabil.
  2. Rantai pemasaran buah sukun dari Cilacap dimulai dari penjualan buah sukun oleh petani kepada pengumpul buah sukun tingkat I (pemetik) dengan harga Rp. 700,00 per buah. Pengumpul buah tingkat I menjual kepada pedagang besar dalam kota dengan harga Rp. 1.000,00 per buah yang kemudian dijual lagi kepada pedagang besar luar kota seperti Jakarata, Bekasi, Cirebon, Majalengka, Ajibarang, Tegal dan sekitarnya. Sederhananya rantai pemasaran dan cukup tingginya posisi tawar petani sukun merupakan faktor pendukung usaha tani sukun.
  3. Buah sukun untuk olahan criping dan cistik memiliki spesifikasi yang berbeda dengan buah sukun yang dijual di pasar, yaitu menginginkan buah yang masak. Adapun pengusaha membeli dengan harga Rp. 1.000,00 per buah baik dari petani maupun pemetik. Usaha criping dan cistik mampu menghasilkan keuntungan sampai Rp. 8.000,00/kg tergantung dari lama usaha, tingkat kepuasan pembeli dan kualitas olahan sukun yang dihasilkan. Selama ini olahan sukun berupa criping dan cistik dipasarkan di Cilacap dan sekitarnya dan diangkat menjadi salah satu oleh-oleh khas Cilacap.

B. Saran
  1. Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian dan Peternakan maupun Dinas Kehutanan dan Perkebunan seyogyanya lebih peka dan responsif terhadap permasalahan yang berkembang. Usaha penanaman sukun di tempat lain adalah salah satu langkah yang tepat, namun juga perlu dibarengi dengan strategi yang tepat misalnya dengan pengembangan pola insentif bagi masyarakat agar mau menanam sukun tidak saja di pekarangan tetapi juga dengan skala lebih luas. Penanaman ini dimaksud untuk turut menyuplai buah sukun sebagai bahan baku olahan keripik yang dapat dijadikan oleh-oleh khas Cilacap
  2. Perlunya usaha investasi di bidang olahan sukun lain seperti tepung sukun yang amat berprospek untuk dijadikan makanan anti diabetes dan kolesterol yang dapat dipromosikan pada perusahaan besar untuk mengolahnya lebih lanjut sehingga peluang usaha dan pasar buah sukun makin meningkat.
  3. Hasil-hasil litbang mengenai pemuliaan, potensi, dan pengolahan hasil sukun sebagai masukan bagi pembuat kebijakan seyogyanya dapat ditindaklanjuti dengan realisasi program-program sehingga pengembangan sukun terarah dengan dukungan iptek.
  4. Net-working pengusahaan sukun seperti asosiasi pengusaha sukun, petani sukun maupun antar institusi terkait perlu dibangun agar demand dan suplay sukun sebagai bahan baku industri bisa terpenuhi.
  5. Lembaga ekonomi yang komit mendukung pengembangan usaha mikro maupun usaha kecil menengah perlu lebih ekpansif dan proaktif dengan menggandeng lembaga teknis untuk menjadikan kemitraan antara pengusaha dengan perbankan menjadi suatu kenyataan.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Kabupaten Cilacap. 2004a. Cilacap Dalam Angka 2004. Badan Pusat Statistik Kabupaten Cilacap. Cilacap.

--------. 2004b. Profil Daerah Kabupaten Cilacap Tahun 2004. Kerjasama Badan Perencanaan Pembangunan Daerah dengan BPS Kabupaten Cilacap. Cilacap.

Kartono, G, Harwanto, Suhardjo, dan T. Purbiati. 2006. Keragaman Kultivar Sukun dan Pemanfaatannya di Jawa Timur (Studi Kasus Kab Kediri dan Banyuwangi). Website: http://www.bptp-jatim-deptan.go.id.htm. Diakses tanggal 25 Nopember 2006.

Marsono, Y., P. Wiyono, and Z. Noor. 2002. Indeks Glikemik Kacang-kacangan. Jurnal Teknologi dan Industri Pangan 12: 211-216.

Ragone, D. 2006.  Species profiles for Pacific Island Agroforestry :  Artocarpus altilis (breadfruit). www. traditionaltree.org

Widowati, S dan Suyanti. 2002. Prospek dan Permasalahan Tepung Sukun Untuk Berbagai Produk Makanan Olahan. Lokakarya Nasional Pengembangan Sukun, Surabaya 31 Juli 2002.

Winarno, F.G., 2000. Potensi dan Peran Tepung-tepungan Bagi Industri Pangan dan Program Perbaikan Gizi.  Makalah pada Seminar Nasional Interaktif: Penganekaragaman Makanan untuk Memantapkan Ketersediaan Pangan.

Worrell D.B, C.M.S Carrington, and DJ. Huber, 2002.  The use of low temperature and coatinga to maintain storage quality of breadfruit, A. Altilis.  Postharvest Biology and Technology.  Elsevier Science. US

Post Top Ad

Your Ad Spot