KAJIAN KUNCI KEBERHASILAN AGROFORESTRY SENGON + NILAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Wednesday, April 13, 2016

KAJIAN KUNCI KEBERHASILAN AGROFORESTRY SENGON + NILAM UNTUK MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT

Oleh :
Aris Sudomo dan M Yamin Mile



ABSTRAK

Pola tanam Agroforestry akan mengakibatkan adanya interaksi antara tanaman tahunan dan tanaman semusim sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut. Pohon dan tanaman pertanian yang ditanam dalam tempat dan waktu yang sama akan saling berinteraksi baik positif, netral atau negatif. Pertumbuhan nilam dalam pola tanam agroforestry sengon+nilam memperlihatkan sedikit penurunan baik pertumbuhan vegetatif seperti tinggi dan jumlah cabang maupun produksi yang dihasilkan, hal ini bukan hanya disebabkan oleh efek naungan melainkan efek kompetisi unsur hara antara sengon dan nilam sehingga penurunan nilai pertumbuhan dan produksi tersebut dapat diatasi dengan pemenuhan unsur hara yang berkurang dengan pemupukan tanaman nilam dan penurunan nilai pertumbuhan tersebut dapat dikompensasi dengan hasil produksi tanaman sengon.
 Kunci keberhasilan agroforestry sengon+nilam dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan interaksi positif dan meminimalkan interaksi negatif antara nilam dan sengon yang meliputi pengaturan jarak tanam yang optimal, pemanfaatan ketersediaan unsur hara dari jatuhan seresah sengon dan kemampuan sengon mengikat N bebas, pengaturan pruning sengon untuk mengatur antara kebutuhan cahaya dengan  besarnya penguapan pada tanaman bawah sehingga tercapai intensitas cahaya optimal bagi nilam dan pemupukan nilam yang berimbas pada tanaman tahunan.. Pola tanam Agroforestry sengon+nilam memberikan hasil berupa sengon dan tetap memberikan produksi nilam  sehingga dapat diterapkan dalam usaha pengembangan social forestry.

Kata kunci : Agroforestry sengon+nilam, monokultur nilam, pola tanam



I. MANFAAT AGROFORESTRY SENGON DAN NILAM

Pola tanam Agroforestry adalah sistem penggunaan lahan terpadu, yang memiliki aspek sosial dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti berkesinambungan (Nair, 1987). Agroforestry saat ini merupakan salah satu alternatif penggunaan lahan yang dianggap sesuai dalam mengatasi perluasan degradasi lahan, meningkatkan produktivitas hutan rakyat persatuan luas sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di pedesaan dan disekitar kawasan hutan. Pola ini dapat dijadikan alternatif pilihan dalam pengembangan social forestry karena memberikan manfaat ganda apabila dikelola secara skala usaha. Manfaat tersebut antara lain sebagai sumber pendapatan petani, memenuhi kebutuhan industri perkayuan baik untuk kosumsi dalam negeri maupun eksport, membuka lapangan kerja dan mempertahankan kelestarian lingkungan (Mile, 2006). Dalam rangka  mengembangkan progam agroforestry yang bisa menyatukan progam kehutanan (reboisasi, rehabilitasi atau penghijauan) dan pertanian (tanaman pangan, hortikultura) maka perlu diketahui pertumbuhan  tanaman kehutanan dan tanaman pertanian yang ditanam dalam tempat dan waktu yang sama. Pola tanam Agroforestry akan mengakibatkan adanya interaksi antara tanaman tahunan dan tanaman semusim sehingga berpengaruh terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman tersebut. Pohon dan tanaman pertanian yang ditanam dalam tempat dan waktu yang sama akan saling berinteraksi baik positif, netral atau negatif. Sedangkan pada pola monocultur pertumbuhan tanaman tidak dipengaruhi tanaman lain.
Pada sistem agroforestry pemilihan jenis pohon dan tanaman pertanian berdasarkan prospek pasar, aspek sosial keinginan masyarakat dan aspek ekologis. Sengon merupakan jenis pohon yang banyak disukai masyarakat karena cepat tumbuh, pemeliharaan mudah dan kayunya dapat digunakan untuk beragam manfaat seperti kayu perkakas, kayu bakar serta daunnya dapat untuk pakan ternak disamping juga untuk pembuatan kompos. Menurut Heyne (1987) sengon merupakan salah satu tumbuhan yang memperbaiki tanah, tiap tanaman yang dibudidayakan di bawahnya tumbuh dengan baik Tanaman agribisnis yang mempunyai prospek kedepan adalah tanaman nilam (Pogostemom cablin benth) yakni tanaman penghasil minyak atsiri yang dibutuhkan sebagai bahan baku industri kosmetik. Minyak atsiri mempunyai nilai pasar  tinggi dalam perdagangan internasional. Oleh karena itu sistem agroforestry yang mengkombinasikan sengon dengan tanaman bawah nilam memperlihatkan prospek yang cukup baik. Kelayakan Finansial agroforestry Sengon berpotensi untuk dipertahankan dan dikembangkan dengan cara meningkatkan teknologi pengusahaan secara intensif (Handayani  2005).
Setiap tanaman memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menerima cahaya. Beberapa jenis tanaman mampu tumbuh dan menghasilkan bila ternaungi hingga batas tertentu. Menurut Rosman, setyono dan suhaeni (2004) naungan atau intensitas cahaya 50% memberikan hasil yang nyata lebih baik terhadap pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun, lebar tajuk, lingkar batang, berat basah dan berat kering nilam dibanding yang tidak dinaungi (intensitas cahaya 100%). Tanaman nilam merupakan tanaman yang mampu tumbuh baik ternaungi maupun tidak ternaungi namun sampai sejauh mana kemampuannya tumbuh dalam kondisi ternaungi di dalam pola tanam agroforestry sengon+nilam  perlu dipelajari. Naungan berfungsi mengurangi radiasi yang diterima daun dan mengurangi kehilangan air sehingga dehidrasi dapat dihindari (Edmond et al.,1979).Dalam pola tanam agroforestry sengon+nilam selain efek naungan juga terdapat interaksi dalam ketersediaan unsur hara dan air. Kompetisi dalam pemenuhan unsur hara dan air akan terjadi dalam sistem agroforestry selain ada efek ketersedian hara bagi tanaman pertanian dengan adanya seresah pohon yang telah terdekomposisi.
Menurut Hairiah, van noordkwijk dan Suprayogo (1998) dalam pola tanam agroforestry terdapat hubungan interaksi yang sifatnya positif,netral dan negatif. Diantara ketiga jenis hubugan tersebut pembangunan sistem agroforestry diharapkan terdapat hubungan positif, yaitu interaksi saling menguntungkan yaitu bila peningkatan produksi satu tanaman diikuti produksi tanaman lainnya.  Interaksi antara tanaman tahunan (pohon) dan tanaman semusim yang ditanam dalam tempat dan waktu yang sama tidak hanya ditinjau dari penggunaan cahaya tetapi juga unsur hara dan air. Mengingat tanaman nilam merupakan tanaman penghasil minyak yang dapat di eksport dan menghasilkan devisa bagi negara maka diperlukan dukungan teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam upaya mendukung pengembangannya, terlebih bila tanaman nilam akan  dikembangkan dengan sistem agroforestry yang tentunya akan berpengaruh terhadap kebutuhan cahaya, unsur hara dan air bagi tanaman nilam .


II. INTERAKSI SENGON DAN NILAM DALAM POLA AGROFORESTRY SENGON+NILAM

            Menurut Sudomo dan Mile (2007) bahwa perlakuan pola tanam monokultur nilam memberikan pertumbuhan tinggi nilam lebih baik daripada pola tanam agroforestry sengon+nilam. Sedangkan hasil penelitian Rosman dkk (2004) menyatakan bahwa perlakuan naungan memberikan pertumbuhan tinggi tanaman nilam lebih baik daripada tanpa naungan karena tanaman nilam dalam kondisi ternaungi selalu berusaha mencari cahaya, sehingga batang menjadi panjang karena cahaya sangat diperlukan untuk fotosintesis. Dalam pola tanam  agroforestry sengon+nilam selain pengaruh naungan terjadi juga pengaruh ketersedian unsur hara dan air  terhadap pertumbuhan nilam. Hal ini menunjukan bahwa pertumbuhan tinggi nilam yang lebih rendah pada pola tanam agroforestry sengon+nilam bukan akibat pengaruh naungan, tetapi pengaruh ketersediaan unsur hara dan air. Kompetisi unsur hara dan air antara sengon dan nilam berpengaruh terhadap pertumbuhan tinggi nilam.Walaupun tanaman nilam dalam kondisi ternaungi selalu berusaha mencari cahaya, sehingga batang menjadi panjang karena cahaya sangat diperlukan untuk fotosintesis tetapi harus didukung dengan ketersediaan unsur hara dan air sehingga pertumbuhannya tidak terganggu. Besarnya unsur hara yang hilang bersama panenan membuat nilam sangat responsif terhadap input unsur hara. Jadi tanaman nilam didalam pola agroforestry sengon + nilam memerlukan input unsur hara dengan pemupukan yang intensif untuk menanggulangi kekurangan unsur hara akibat kompetisi dengan tegakan sengon dan unsur hara yang hilang bersama panenan.  Penelitian Djazuli dan Trisilawati (2004) menyatakan bahwa tanaman nilam sangat rakus dengan unsur hara N, P dan K maka aplikasi pemupukan baik organik maupun anorganik sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kesuburan lahan.
            Menurut Sudomo dan Mile (2007) pengamatan jumlah cabang menunjukan bahwa perlakuan  pola tanam monokultur nilam memberikan pertumbuhan jumlah cabang nilam lebih baik daripada pola tanam agroforestry sengon+nilam. Sedangkan menurut Rosman dkk (2004) tanaman nilam di dalam naungan (intensitas cahaya 50%) memberikan pertumbuhan lebih baik daripada tanpa naungan (intensitas cahaya 100 %). Kompetisi unsur hara dan air antara nilam dan sengon di dalam pola agroforestry mempengaruhi pertumbuhan jumlah cabang nilam. Sehinga untuk meningkatkan pertumbumbuhan nilam diperlukan pemupukan untuk pemenuhan unsur hara akibat kompetisi dengan sengon.
            Menurut Sudomo dan Mile (2007) Produktivitas nilam pada pola tanam monokultur nilam lebih baik daripada pola tanam agroforestry sengon+nilam. Menurut hasil penelitian Rosman dkk (2004) naungan atau intensitas cahaya 50% memberikan hasil yang nyata lebih baik terhadap berat basah  nilam dibanding yang tidak dinaungi (intensitas cahaya 100%). Hal ini menunjukan bahwa produksi berat basah nilam yang lebih rendah pada pola tanam agroforestry sengon+nilam bukan akibat pengaruh naungan tetapi pengaruh terjadinya kompetisi unsur hara dan air antara sengon dan nilam. Menurut Hairiah dkk, 1998 interaksi antara tanaman tahunan (pohon) dan tanaman semusim yang ditanam dalam tempat dan waktu yang sama tidak hanya ditinjau dari penggunaan cahaya tetapi juga unsur hara dan air. Maka dalam usaha meningkatkan produktivitas nilam di dalam pola agroforestry diperlukan pemupukan untuk menanggulangi kekurangan unsur hara.  Djazuli dan Trisilawati (2004) menyatakan bahwa aplikasi pemupukan baik organik maupun anorganik sangat dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas lahan dan tanaman nilam.


III. MENINGKATKAN PRODUKTIVITAS HUTAN RAKYAT DENGAN
     AGROFORESTRY SENGON+NILAM

            Salah satu jenis pohon yang dapat dikombinasikan dengan tanaman nilam adalah sengon ( Paraserianthes  falcataria). Produk utama jangka panjang dalam pola agroforestry nilam adalah kayu sengon yang  dapat dikelola bersama dalam pola yang saling berinteraksi dengan tanaman nilam. Interaksi sengon dan nilam dalam pola tanam agroforestry sengon+nilam menunjukan hasil yang positif bagi pertumbuhan sengon. Menurut Mile (2006) dalam mengembangkan pola agroforestry nilam secara agrobisnis perlu dilakukan penanganan yang intensif dengan tetap memperhatikan faktor kelestarian lingkungan.  Untuk itu diperlukan berbagai inovasi dan penerapan teknologi tepat guna dalam meningkatkan pertumbuhan dan produksi baik tanaman nilam maupun tanaman pohon yang dipilih.


            Guna mengurangi resiko kegagalan panen dan fluktuasi harga, serta untuk meningkatkan produktivitas lahan, sebaiknya pengembangan nilam dilakukan dengan pola tanam, baik tumpangsari maupun sebagai tanaman sela. Dalam pola tanam ini yang perlu diperhatikan antara lain, waktu tanam dan jarak tanam, baik antar tanaman pokok maupun antara tanaman pokok dengan tanaman sela (Emmyzar dan  Ferry, 2004). Selanjutnya Rachman dan  Mile (2006) menyatakan bahwa pola Agropforestry sengon + nilam memperlihatkan prospek yang cukup baik untuk meningkatkan pendapatan petani secara nyata karena kebutuhan kayu untuk bahan baku industri kayu serta minyak nilam sebagai bahan baku industri kosmetik dunia semakin meningkat. Jadi agroforestry sengon + nilam tetap diperlukan untuk optimalisasi penggunaan lahan dengan inovasi teknologi dan penanganan yang intensif.    



IV. PENUTUP

            Kunci keberhasilan agroforestry sengon+nilam dapat dilakukan dengan cara memaksimalkan interaksi positif dan meminimalkan interaksi negatif antara nilam dan sengon yang meliputi pengaturan jarak tanam yang optimal, pemanfaatan ketersediaan unsur hara dari jatuhan seresah sengon dan kemampuan sengon mengikat N bebas, pengaturan pruning sengon untuk mengatur antara kebutuhan cahaya dengan  besarnya penguapan pada tanaman bawah sehingga tercapai intensitas cahaya optimal bagi nilam dan pemupukan nilam yang berimbas pada tanaman tahunan. Pertumbuhan dan produksi nilam yang berkurang dalam pola tanam agroforestry disebabkan oleh efek kompetisi unsur hara antara sengon dan nilam sehingga penurunan nilai pertumbuhan dan produksi tersebut dapat diatasi dengan pemupukan tanaman nilam. Pola tanam Agroforestry sengon+nilam memberikan hasil berupa sengon dan tetap memberikan produksi nilam  sehingga dapat diterapkan dalam usaha pengembangan social forestry.



DAFTAR PUSTAKA

Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hutan Dan Konservasi Alam (P3HKA) dan Asia –Pasifik Agroforestry Network (APAN). 1994. Prosiding Lokakarya Nasional Agroforestry. Bogor.

Rosman, Setyono dan Suhaeni 2004. Pengaruh Naungan dan Pupuk Fosfor Terhadap   Pertumbuhan dan Produksi Nilam.Buletin TRO VO. XV No 1. Balai Penelitian Tanaman Obat Dan Rempah . Bogor

Nair PKR. 1987. Agroforestry Systems Inventory. Agroforestry System 5: 25-42.

Djazuli, Trisilawati 2004. Pemupukan, Pemulsaan dan Pemulsaan Limbah Nilam Untuk Peningkatan Produktivitas Nilam. Buletin TRO VO. XVI No 2004. Balai Penelitian Tanaman Obat Dan Rempah . Bogor.

Hairiah, Van Noordkwijk dan Suprayogo 1998. Pohon, Tanah dan Tanaman Semusim : Kunci Keberhasilan Atau Kegagalan. Bahan Ajar 2 Agroforestry. 1998.

Hairiah K, Mustofa Agung Sardjono dan Sambar Sabarudin. 2003. Bahan Ajaran Agroforestry. Pengantar Agroforestry. World agroforestry Centre (ICRAF). Bogor.

K. Heyne T 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Badan Penelitian Dan Pengembangan Departemen Kehutanan.

Rachman, E dan Mile, M Yamin 2005. Peningkatan Produktivitas Hutan Rakyat dengan pola Agroforestry Nilam. Prosiding Seminar Sehari Optimalisasi Peran Litbang Dalam Mendukung Ragam Pemanfaatan Hutan Rakyat Dan Hutan Kemasyarakatan. Loka Penelitian Dan Pengembangan Hutan Monsoon. ISBN : 979-25-6560-4. Ciamis.

Steel, R.G.D. dan J.H.Torrie.1995. Prinsip dan prosedur statistik, suatu pendekatan biometrik (terjemahan). PT.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.


Sudomo, A dan Mile, M Yamin 2007. Info Hutan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor (Dalam Proses Publikasi)

Post Top Ad

Your Ad Spot