IDENTIFIKASI POTENSI, KERUGIAN EKONOMI, DAN STRATEGI PENGENDALIAN HAMA RAYAP PADA TANAMAN KEHUTANAN - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, April 12, 2016

IDENTIFIKASI POTENSI, KERUGIAN EKONOMI, DAN STRATEGI PENGENDALIAN HAMA RAYAP PADA TANAMAN KEHUTANAN

Oleh:
Devy Priambodo Kuswantoro



ABSTRAK

Lingkungan di Indonesia dan masih banyaknya pemanfaatan kayu sangat cocok bagi kehidupan rayap sehingga potensinya untuk menjadi hama cukup besar. Sebagai hama tanaman, baik jenis rayap pohon maupun rayap tanah menyerang tanaman tanpa diketahui terlebih dahulu gejala serangan awal. Serangan hama ini apabla tidak ditangani secara baik berpotensi untuk menimbulkan kerugian baik secara fisik maupun ekonomi. Bagi kebanyakan petani hutan rakyat, akibat serangan hama rayap dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang signifikan dibandingkan dengan skala usahanya. Karenanya strategi pengendalian hama rayap secara tepat  baik secara mekanik, biologi, maupun kimia akan membantu mengurangi kerugian pengusahaan hutan.

Kata kunci:  serangan hama, rayap pohon, rayap tanah, kerugian ekonomi



I. PENDAHULUAN

            Rayap termasuk dalam bangsa Isoptera kelas Insecta. Tiap-tiap jenis hidup dalam satu masyarakat besar yang disebut koloni dan setiap koloni terdiri dari kasta reproduktif yang bertugas untuk meneruskan keturunan, kasta prajurit, dan kasta pekerja. Rayap merupakan serangga pengurai yang memakan bahan berselulosa untuk didegradasikan dengan enzim yang ada di tubuhnya sehingga menjadi komponen gula sederhana yang dapat dicerna. Kondisi tanah dan iklim di Indonesia sangat cocok bagi kehidupan rayap. Tidak kurang dari 10% jenis rayap di dunia hidup di Indonesia. Keadaan ini didukung dengan pemanfaatan kayu yang masih sangat besar sehingga rayap tidak kesulitan dalam menemukan sumber makanannya.     
Permasalahan yang muncul adalah ternyata rayap tidak hanya menyerang bahan mati saja (kayu, buku, dll.) seperti yang lazim diketahui, tetapi juga mau menyerang bahan hidup yaitu tanaman/pohon. Serangan hama rayap tidak menimbulkan gejala-gejala serangan yang dapat merubah bentuk fisik tanaman ataupun dapat menimbulkan kematian secara cepat seperti halnya hama-hama lain yang sudah banyak dikenal. Namun apabila hal ini tidak disikapi dengan baik oleh para pengusaha hutan yang berskala besar (HTI) maupun oleh para petani hutan rakyat, keadaan ini dapat menjadi seperti musuh dalam selimut. Tulisan ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran mengenai hama rayap baik jenis, gejala serangan, gambaran kerugian ekonomi yang ditimbulkan, dan strategi pengendaliannya dengan tujuan agar para pengusaha hutan dapat secara jeli melihat keberadaan serangan ini dan secara cepat dan tepat menanggulanginya.


II. IDENTIFIKASI RAYAP DAN GEJALA SERANGANNYA

            Rayap perusak kayu di Indonesia termasuk dalam suku Kalotermitidae, Rhinotermitidae, dan Termitidae (Tarumingkeng, 1971). Berdasarkan habitat dan cara hidupnya, hama rayap pada tanaman di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua golongan yaitu rayap pohon dan rayap tanah.

A. Rayap Pohon (Suku Kalotermitidae)

Rayap pohon hidup dan bersarang dalam batang pohon. Neotermes tectonae merupakan hama rayap yang menyerang tanaman jati dan merupakan hama Jati yang penting di Jawa. Kenampakan serangan inger-inger ditandai dengan pembengkakan batang jati atau yang lebih dikenal dengan istilah ”jati gembol” yang apabila batang dibelah akan terlihat kerusakan dalam batang berupa rongga-rongga searah serat yang tidak beraturan sebagai rumah dan makanan rayap tersebut. Rayap pohon hanya menyerang tanaman dewasa dan tidak dilaporkan menyerang tanaman muda
Pohon jati yang terserang sulit terdeteksi pada awalnya dikarenakan waktu awal penyerangan dari masuknya laron/sulung sampai terlihat pembengkakan batang memerlukan waktu 3-4 tahun bahkan sampai 7 tahun (Sumardi dan Widyastuti, 2004). Jawa Tengah dan Jawa Timur sebagai sentra pengusahaan hutan tanaman jati di Jawa merupakan daerah potensial penyebaran hama rayap ini. Disamping N. terctonae, dikenal pula N. dalbergiae yang menyerang tanaman sonokeling.

B. Rayap Tanah (Suku Rhinotermitidae dan Termitidae)

Rayap tanah atau rayap subteran menyerang kayu dan pohon baik bagian yang berada di atas maupun di dalam tanah dan merupakan jenis rayap hama tanaman utama yang sampai saat ini masih terus menyerang baik tanaman muda maupun dewasa. Jenis-jenis hama rayap tanah yang paling banyak menyerang adalah Coptotermes spp dari suku Rhinotermitidae dan dari suku Termitidae adalah jenis Macrotermes spp, Odontotermes spp, dan Microtermes spp.
Coptotermes curvignathus merupakan hama utama bagi perkebunan sawit dan karet serta hama tanaman Pinus caribaea dan P. Merkusii di Indonesia dan Malaysia. Serangan rayap ini dilaporkan pertama kali di perkebunan sawit Torgamba dan walaupun intensitas serangan cukup kecil hanya 1,08% atau sebanyak 10.674 pohon dari 983.740 pohon sawit yang terserang rayap, namun serangan tersebut juga membawa patogen pembusuk yang menyebabkan kematian tanaman (Sudartho dan de Chenon, 1990 dalam Nandika dkk., 2003).
Macrotermes gilvus dan Odontotermes javanicus telah diidentifikasi menyerang tanaman-tanaman suku Myrtaceae seperti tanaman kayu putih dan Eucalyptus alba dengan intensitas serangan lebih dari 50% di wilayah Tasikmalaya, Cikampek, dan Gunung Kidul. Microtermes insperatus yang merupakan rayap tingkat tinggi yang mempunyai ukuran kecil ditemukan menyerang tegakan suren rakyat di Ciamis dengan persentase serangan adalah 68,29% pada pohon induk, 87,50% pada trubusan dan total serangan Microtermes insperatus pada seluruh tanaman suren adalah 75,38% (Kuswantoro dan Suhaendah, 2005).
Koloni rayap tanah dapat menyerang jauh dari pusat sarang yang biasanya berada di dalam tanah dengan berjalan dalam terowongan/liang kembara berupa tanah yang menempel pada kayu/pohon sebagai ciri khas serangannya. Umumnya rayap ini menyukai jenis tanah dengan tekstur liat karena kandungan bahan organiknya tinggi dan dapat menahan air. Nandika dkk. (2003) menjelaskan bahwa serangan rayap tanah pada tanaman dapat melalui: 1) akar dan batang yang tertutupi oleh tanah, 2) dasar tanaman sepanjang penutupan permukaan tanah, 3) akar tanaman, umbi, dan polong tanaman semusim yang biasa ditanam sebagai tanaman tumpang sari. Terowongan biasanya berada di pangkal pohon yang terkadang susah dilihat apabila banyak tanaman bawah di sekeliling tanaman pokok. Dimungkinkan rayap telah menyerang sistem perakaran maupun batang yang tertutup tanah dahulu baru kemudian merembet naik ke batang atas dan lebih mudah masuk apabila ada lubang/luka bekas gerekan hama lain. Apabila fisik tanaman telah menunjukkan kemunduran seperti perubahan warna daun, pertumbuhan tajuk yang tidak sehat/normal karena terganggunya suplai air dan mineral ditambah dengan terowongan kembara yang tidak saja hanya berjumlah satu atau dua tetapi seluruh bagian pangkal batang sudah tertutup tanah dan apabila diperiksa terdapat tanah di bawah lapisan kulit kayu menunjukkan bahwa serangan rayap sudah sedemikian parahnya. Pohon dapat dipastikan telah digerogoti oleh rayap tanah.


III. KERUGIAN EKONOMI

            Serangan hama dan penyakit, seberapa pun besar intensitas serangannya, sangat merugikan tanaman. Akibat serangan tersebut, dipastikan struktur tanaman mengalami perubahan yang akan menjadikan kemunduran pertumbuhannya. Suatu serangan dapat dikatakan membahayakan apabila intensitas serangannya sudah melebihi batas toleransi. Demikian pula secara ekonomi, suatu serangan dapat dikatakan merugikan apabila melampaui batas ambang ekonomi dan petani/pengusaha merugi secara finansial. Ambang ekonomi menurut Untung (1984) digunakan untuk memutuskan penggunaan pestisida dalam kerangka pengendalian hama terpadu. Batas ambang ekonomi dapat berbeda-beda tergantung persepsi petani sendiri. Bagi pengusaha hutan skala besar seperti HTI tentu saja batas ambang ekonomi ditetapkan dengan nilai yang besar, akan tetapi bagi petani hutan rakyat yang kebanyakan mengusahakan tanaman dengan luasan skala kecil, serangan hama sangat berpengaruh secara ekonomi pada usahanya.
            Pada dasarnya, kerugian ekonomi merupakan kerugian ikutan sebagai imbas dari kegagalan penanaman. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan karena serangan hama rayap dapat dikelompokkan sebagai berikut:
  1. Kerugian ekonomi akibat kematian bibit tanaman yang terserang rayap. Pengamatan di Ciamis menunjukkan bahwa rayap tanah menyerang bibit tanaman. Kematian bibit disebabkan perakarannya habis dimakan rayap. Hal ini menyebabkan biaya penyulaman tanaman yang biasanya dianggarkan sekira 10% meningkat untuk menutupi kegagalan tanaman akibat kematian bukan karena kualitas bibitnya.
  2. Kerugian ekonomi akibat terganggunya pertumbuhan tanaman. Secara ekonomis, pengusaha/petani hutan telah menetapkan daur pengusahaan hutannya. Tanaman yang terserang rayap tanah akan mengalami keterlambatan pertumbuhan disebabkan terganggunya suplai hara dan mineral. Apabila tanaman dipanen sebelum daur ekonomisnya, harga yang diterima akan jauh lebih rendah.
  3. Kerugian ekonomi akibat menurunnya kualitas kayu hasil panen. Kerugian ini terjadi karena kayu berlubang akibat gerekan rayap. Sebesar apapun diameter kayu, apabila di dalamnya sudah berlubang akan menjatuhkan kualitasnya. Banyak pedagang kayu yang akhirnya menurunkan kualitas kayu menjadi setara kayu bakar. Kasus Perum Perhutani Unit II Jawa Timur pada tahun 1989 seperti dilaporkan Nandika dkk (2003) yang mengalami kerugian akibat serangan Inger-inger sekira 3,3 juta rupiah per hektar akibat serangan pada tanaman jati umur 30 dan 40 tahun yang mencapai lebih dari 60% dalam luasan 30,3 ha dan 19,2 ha merupakan contoh nyata kerugian ekonomi akibat turunnya kualitas kayu.


IV. STRATEGI PENGENDALIAN

            Strategi pengendalian hama dan penyakit tanaman mencakup kegiatan deteksi serangan, identifikasi hama penyebab, penafsiran hubungan antara hama dan tanaman, serta langkah pengendaliannya. Pengendalian serangan hama pada dasarnya merupakan usaha untuk menekan populasi hama agar tidak mengakibatkan kerusakan yang berarti secara ekonomis. Pemusnahan hama tidak disarankan dan bukan merupakan pekerjaan yang mudah serta banyak membutuhkan biaya. Kegiatan pemusnahan justru dapat mengganggu keseimbangan alam yang pada akhirnya mungkin saja dapat menimbulkan bahaya yang lebih besar. Pengendalian hama rayap merupakan usaha yang cukup memerlukan kecermatan tersendiri disebabkan deteksi serangan yang tidak dapat secara cepat terlihat. Berdasarkan penelitian dan pengalaman di lapangan, dapat disarankan beberapa usaha pengendalian hama rayap sebagai berikut:

A. Pengendalian Mekanik

Pengendalian mekanik ditujukan untuk mematikan hama secara langsung baik dengan tangan maupun bantuan alat. Hal  ini dapat dilakukan dengan cara merusak sarang rayap dan terowongan kembara yang ada, mematikan rayap yang nampak, membongkar tunggak kayu yang ada maupun menghilangkan kayu/ranting lapuk yang terdapat di lantai hutan. Pembongkaran tanaman yang telah parah terserang hingga mati perlu juga dilakukan untuk memusnahkan sarang rayap. Cara ini memang sangat sederhana dan dapat dilkukan oleh setiap orang namun tidak efektif untuk serangan yang cukup luas misalnya di hutan tanaman. Petani hutan rakyat dapat menggunakan cara ini di sela-sela kegiatan pemeliharaan tanamannya.

B. Pengendalian Kimiawi

Pengendalian rayap menggunakan bahan kimia (termitisida) hingga saat ini merupakan alternatif yang paling sering digunakan namun penggunaan termitisida golongan organoklorin telah dilarang karena berdampak negatif. Nandika dkk. (2003) mengemukakan bahwa termitisida yang dianjurkan saat ini seperti chlorpyrifos telah digunakan secara luas untuk perlindungan tanaman. Jenis termitisida baru seperti fipronil dan imidaklorpid telah dilaporkan mampu menunjukkan hasil yang cukup baik. Penggunaannya dapat diaplikasikan melalui penyemprotan pada batang dan terowongan kembara, penyuntikan ke tanaman, penaburan dalam bentuk serbuk dengan tanah, maupun penyiraman pada sistem perakaran.

C. Pengendalian Biologi

Pengendalian non kimiawi merupakan usaha untuk mengurangi dampak buruk bahan kimia pada tanah, tanaman, dan manusia/hewan.  Penegendalian ini dilakukan dengan cara mendatangkan musuh alami, penularan patogen, dan penggunaan insektisida nabati. Musuh alami rayap yang umum ditemukan adalah nematoda, jamur, semut, dan serangga pemakan laron. Umumnya penggunaan musuh alami kurang berhasil secepat penggunaan bahan kimia dikarenakan sifat kealamiahannya dalam penyerangannya. Penggunaan insektisida nabati yang berbahan dasar jamur patogen rayap maupun ekstrak tumbuhan yang menjadi tren dalam pengendalian hama masih terbatas dalam skala penelitian dan belum banyak diketahui. Suharti (2002) mengemukakan bahwa penggunaan jamur patogen Beauveria bassiana dalam bentuk larutan suspensi sebanyak 25 g/l yang disemprotkan pada pangkal batang dapat menginfeksi rayap. Penggunaan jamur yang sama dengan cara dicampur dengan tepung kanji dan ditaburkan pada sekeliling sistem perakaran dapat dengan cepat mematikan rayap yang menyerang. Sementara penelitian penggunaan ekstrak sereh wangi (Cymbopogon nardus) konsentrasi sampai 2% cukup efektif untuk menanggulangi serangan Macrotermes gilvus pada tanaman kayu putih di Cikampek (Kurniawan, 2001).


V. PENUTUP

            Serangan hama dan penyakit tidak akan mengganas apabila tidak lalai dalam usaha pemeliharaan tanaman. Pepatah ”kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan” sungguh pas bagi rayap yang aslinya adalah serangga dekomposer. Hingga saat ini, banyak petani hutan yang kurang menyadari betapa aspek pemeliharaan tanaman merupakan bagian yang memberikan kontribusi yang cukup signifikan bagi peningkatan produktivitas hutan karena selama ini lebih terfokus pada usaha tanaman semusimnya. Pemeliharaan tidak saja berupa kegiatan pemupukan dan penyiangan gulma seperti yang selama ini lazim terlihat, namun juga usaha perlindungan hutan terhadap serangan hama dan penyakit. Dalam menanggulangi serangan hama rayap ini, mutlak diperlukan kecermatan serta penyediaan waktu dan tenaga untuk pemeliharaan tanaman agar dapat meminimalkan kerugian waktu, tenaga, juga biaya serta harapan akan kualitas hasil panenan yang lebih baik.



DAFTAR PUSTAKA

Kurniawan, R. 2001. Aplikasi Insektisida Nabati Ekstrak Sereh Wangi Terhadap Rayap Tanah (Macrotermes gilvus Hagen) Pada Tanaman Kayu Putih. Skripsi S1 UNB. Bogor. (tidak diterbitkan)

Kuswantoro, D.P. dan E. Suhaendah. 2005. Serangan Hama Rayap pada Tanaman Suren. Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman hal 171-174. Pusat Litbang Hutan Tanaman. Yogyakarta.

Nandika, D, Y. Rismayadi, dan F. Diba. 2003. Rayap Biologi dan Pengendaliannya. Muhammadiyah University Press. Surakarta.

Suharti, M. 2002. Beberapa Hama dan Penyakit Penting Pada Sengon (Paraserianthes falcataria) dan Teknik Pengendaliannya. Buletin Penelitian Hutan 632: 27-46. Bogor.

Sumardi dan SM. Widyastuti. 2004. Dasar-dasar Perlindungan Hutan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Tarumingkeng, RC. 1971. Biologi dan Pengenalan Rayap Perusak Kayu di Indonesia. Laporan LPHH No. 138. Bogor.

Untung, K. 1984. Pengantar Analisis Ekonomi Pengendalian Hama Terpadu. Andi Offset. Yogyakarta.


Post Top Ad

Your Ad Spot