EKOLOGI RESTORASI SEBAGAI DASAR PERBAIKAN EKOSISTEM PADA KAWASAN KONSERVASI DI INDONESIA - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Friday, April 15, 2016

EKOLOGI RESTORASI SEBAGAI DASAR PERBAIKAN EKOSISTEM PADA KAWASAN KONSERVASI DI INDONESIA

EKOLOGI RESTORASI SEBAGAI DASAR PERBAIKAN EKOSISTEM PADA KAWASAN KONSERVASI DI INDONESIA
Oleh:
Aditya Hani

ABSTRAK

  Pemanfaatan hutan yang tidak memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan dan konservasi berakibat pada kerusakan hutan dan lebih besar lagi adalah hilangnya keanekaragaman hayati. Penanganan kerusakan hutan harus segera dilakukan terutama pada areal konservasi, karena merupakan benteng terakhir keanekaragaman hayati dan sumber plasma nutfah. Restorasi hutan merupakan pemulihan melalui suatu reintroduksi secara aktif dengan spesies yang semula ada, sehingga mencapai struktur dan komposisi spesies seperti semula. Hilangnya keanekaragaman hayati dan plasma nutfah dapat berakibat munculnya berbagai bencana alam bahkan dapat merugikan manusia karena dengan munculnya berbagai hama dan penyakit tanaman budidaya manusia apalagi banyak keanekaragaman hayati yang belum dipelajari dan diketahui manfaatnya. Restorasi hutan masih menghadapi kendala yaitu tingginya biaya restorasi dan tingkat keberhasilan restorassi yang masih rendah. Oleh karena itu perlu penelitian dan pengembangan mengenai restorasi yang berprinsip pada adanya keterkaitan antar komponen dalam ekosistem, karena prinsip restorasi adalah mengembalikan kondisi ekosistem terutama komponen penyusun seperti pada kondisi awal sebelum terjadinya kerusakan, oleh karena itu tidak boleh menggunakan jenis-jenis dari luar yang akan diintroduksi.

Kata kunci : restorasi, ekologi restorasi, keanekaragaman hayati, ekosistem



I. PENDAHULUAN

Taman nasional sebagai salah satu bentuk kawasan pelestarian alam menurut peraturan perundang-undangan mengenai perlindungan hutan dan konservasi alam ditetapkan kerena memiliki sumber daya alam yang khas dan unik baik berupa jenis tumbuhan maupun satwa dan ekosistemnya serta ejala alam yang masih utuh dan alami serta mampu mendukung kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidkan, kegiatan penunjang budidaya maupun kegiatan pariwisata alam. Taman nasional juga seringkali setelah sebagian besar hutan tropis mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan hutan melalui praktek HPH, penebangan liar maupun adanya kebakaran hutan, perambahan hutan sehingga laju kerusakan hutan hampir 3 juta ha/th. Sampai dengan tahun 2004, kawasan hutan yang terdegradasi telah mencapai luas 59,17 juta hektar (Badan Planologi Kehutanan, 2006). Kondisi ini juga dialami oleh kawasan taman nasional yang merupakan  benteng terakhir keanekaragaman hayati.
Kondisi hutan yang sudah terdegradasi serta mengalami deforestasi menuntut segera dilakukan upaya pemulihan sehingga kawasan hutan dapat kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Beberapa pilihan tindakan untuk mengembalikan komunitas hayati dan ekosistem ke fungsi semula melalui :
1.       Tanpa tindakan, karena upaya pemulihan terlalu mahal dan selalu gagal, pengalaman menunjukan bahwa ekosistem alami dapat pulih dengan sedirinya.
2.       Restorasi, merupakan pemulihan melalui suatu reintroduksi secara aktif dengan spesies yang semula ada, sehingga mencapai struktur dan komposisi spesies seperti semula.
3.       Rehabilitasi, merupakan pemulihan dari sebagian fungsi-fungsi ekosistem dan spesies asli, seperti memperbaiki hutan yang terdegradasi melalui penanaman, sulaman dan pengkayaan jenis.
4.       Penggantian, merupakan upaya penggantian suatu ekosistem terdegradasi dengan ekosistem lain yang lebih produktif, seperti mengganti hutan yang terdegradasi dengan padang rumput, dimana ekosistem tersebut telah ada sebelumnya.
Tindakan pemulihan kondisi hutan dengan waktu yang diharapkan lebih cepat adalah dengan adanya kegiatan restorasi. Kegiatan restorasi merupakan tindakan yang harus segera dilakukan khususnya pada kawasan konservasi. Hanya saja kendala yang masih dihadapai dalam melaksanakan kegiatan restorasi adalah biaya restorasi yang tinggi serta belum sepenuhnya silvikultur jenis-jenis yang akan digunakan untuk kegiatan restorasi sudah dikuasai. Karena dalam kegiatan restroasi syarat utama pemilihan jenis yaitu merupakan jenis asli (endemik) kawasan tersebut, sementara itu kawasan konservasi yang tersebar di seluruh Indonesia mempunyai kekhasan jenis sesuai dengan kekhasan ekosistemnya. Kehati-hatian dalam pemilihan jenis untuk menghindari adanya dampak negatif seperti pada kasus di Taman nasional Gunung Gede Pangrango yang menghadapi masalah adanya jenis eksotik yang bersifat invasiv yaitu buah konyal. Tanaman ini sebelumnya ditanam di Kebun Raya Cibodas pada tahun 1930 kemudian meluas terbawa oleh satwa maupun manusia kedalam taman nasional gunung Gede pangrango dan mulai menurunkan nilai konservasi dan meningkatkan kelangkaan pohon endemik karena kemampuan berkembangbiaknya sangat tinggi (Heriyanto dan Reny, 2006).
Penelitian mengenai silvikultur jenis-jenis lokal dalam kawasan konservasi masih sangat terbatas. Kegiatan restorasi agar mencapai keberhasilan perlu didukung bebarapa komponen antara lain : 
1.       Identifikasi luas areal dan pemetaan atas kerusakan ekosistem dan/atau penurunan populasi flora dan fauna, serta penyebabnya di kawasan konservasi.
2.       Teknis restorasi dan rehabilitasi yang digunakan dalam rangka pemulihan ekosistem dan/atau populasi dan jenis dari flora dan fauna, serta pemantauan dan evaluasinya.
3.       Adanya peran serta dan keterlibatan masyarakat setempat di dalam kegiatan restorasi.
Kondisi hutan yang sudah terlanjut rusak berakibat seringkali kegiatan restorasi  kurang berhasil . Untuk meningkatkan keberhasilan restorasi maka diperlukan teknologi restorasi yang benar. Keterkaitan antara komposisi, distribusi, struktur, dan fungsi penyusun ekosistem hutan. Memahami  dan fungsi spesies dan ekosistem; memahami hubungan yang kompleks diantara sistem yang bersifat alami dan yang telah dimodifikasi; dan memanfaatkan pengetahuan ini untuk mendukung keberhasilan restorasi hutan.


II. METODOLOGI RESTORASI

Kegiatan restorasi kawasan konservasi dilakukan pada areal yang telah mengalami kerusakan atau penurunan kualitas sumberdaya hutan. Untuk menjaga kenekaragaman hayati pada kawasan tersebut maka perlu diupayakan agar kegiatan restorasi memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati yang ada di dalam kawasan konservasi tersebut. Pendekatan  metodologi restorasi pada kawasan mangrove menurut Basyuni (2002), dapat diterapkan pada kawasan hutan konservasi sebagai berikut :

A. Mengumpulkan Informasi Mengenai Sejarah Kerusakan Lahan yang Akan Direstorasi

            Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengetahui penyebab dari kerusakan hutan berasal dari perbuatan manusia seperti pembukaan areal perladangan, kebakaran hutan atau karena adanya faktor alam. Pengumpulan data dilakukan melalui kegiatan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait serta melakukan survey lapangan untuk mengetahui luas dan lokasi yang rusak ,selanjutnya data yang terkumpul dikelompokkan sesuai dengan tujuan penelitian an dianalisa secara diskriptif dan  statistik sederhana.

B. Mengidentifikasi Aspek Ekologi Vegetasi

Untuk mendapatkan data mengenai komposisi dan struktur serta distribusi vegetasi yang ada pada lokasi dapat dilakukan dengan cara membuat Plot Sampling Permanen atau lebih dikenal dengan istilah PSP (Permanent Sampling Plot). Permanent Sampling Plot (PSP) adalah alat atau tool yang sangat penting di dalam memonitor perubahan-perubahan dan struktur dinamika hutan, pertumbuhan jangka panjang, yield dan data-data penting lainnya dalam mengevaluasi model-model ekologi. Sedangkan dari aspek silvikultur PSP akan memberikan data mengenai diameter dan riap volume juga dinamika struktur hutan. Hasil-hasil tersebut merupakan informasi yang crucial bagi rencana restorasi atau pemulihan suatu habitat. Setelah pembangunan plot sampling permanen ini selesai, akan didapatkan data yang bermanfaat untuk memonitor dinamika vegetasi di kawasan yang dipelajari. Data- data tersebut seperti ; topografi plot, distribusi pohon di dalam plot, luas bidang dasar serta jumlah tiap jenis pohon, indeks keanekaragaman, profil hutan, distribusi dbh, serta informasi tentang tumbuhan bawahnya  (Suzuki et.al., 1997). 

C. Seleksi Jenis dan Species Kunci

Jenis yang dipilih merupakan jenis-jenis asli (endemik) yang terdiri dari beberapa spesies untuk menghindari terjadinya monokultur. Jenis yang terpilih hendaknya memiliki permudaan alam yang melimpah atau ketersediaan buah yang cukup banyak untuk dijadikan bahan tanaman. Informasi mengenai jenis yang harus diketahui antara lain: 1) Termasuk jenis toleran atau intoleran; 2) tipe perakaran dalam atau dangkal; dan 3) tipe pertajukan.
Ketiga informasi tersebut sangat penting untuk mencegah adanya persaingan antar jenis yang merugikan, setiap jenis mempunyai potensi pertumbuhan yang berbeda sehingga perlu adanya pengaturan ruang tumbuh (jarak tanam) kaitannya dengan intensitas cahaya matahari (dominasi, toleransi). Pengaturan percampuran jenis yang tidak tepat akan merugikan bagi perkembangan masing-masing tanaman. Spesies kunci merupakan suatu spesies yang kehilangannya dari suatu ekosistem akan menyebababkan perubahan yang lebih besar dari rata-rata terhadap populasi spesies lain atau proses-proses ekosistem.

D. Kondisi Tapak Penanaman

Keadaan tapak yang telah terbuka atau mengalami kerusakan menyebabkan perubahan keadaan tanah sehingga perlu adanya perlakuan atau teknologi untuk menumbuhkan tanaman pada kondisi tanah yang berbeda dengan aslinya. Oleh karena itu perlu diketahu informasi kondisi tapak penanaman yang meliputi tingkat kesuburan dan kelimpahan mikroorganisme yang menguntungkan.

E. Pendekatan Regenerasi

            Pendekatan regenerasi buatan termasuk dengan penanaman benih, sumber benih, seedling di areal bila regenerasi alami tidak cukup, dengan memindahkan seedling ke lokasi yang baru, dan mengumpulkan benih yang masak/sumber benih dan menanam langsung di tempat atau dimasukkan ke kebun benih dulu baru dipindahkan ke lapangan. Keutungannya teknik ini adalah komposisi spesies dan penyebaran seedling dapat dikontrol, secara genetik persediaan dapat ditingkatkan, dan hama di tapak lebih mudah dipulihkan




F. Seleksi Spesies dan Koleksi Biji

Seleksi pohon untuk penanaman biasanya ditentukan oleh tiga factor, yaitu: (1) kepentingan spesies yang terjadi secara alami di lokasi tapak restorasi, (2) ketersediaan biji atau bahan perbanyakan, dan (3) objek dari program restorasi yang akan dilakukan. Koleksi benih atau bahan perbanyakan tergantung pada tingkat kematangan pohon. Idealnya, pohon-pohon darimana biji atau bahan perbanyakan diperoleh harus sehat dan berkembang secara baik, dengan karakteristik tinggi, diameter dan tajuk. Sangat penting untuk mengetahui waktu berbunga dan berbuah dari setiap spesies penyusun untuk memastikan kapan waktu pengumpulan biji terbaik.
Biji-biji atau bahan perbanyakan dapat dikumpulkan dari pohon-pohon atau dari jatuhan di bawah pohon. Jika biji dikumpulkan dari pohon langsung maka dapat dikoleksi langsung sebagai benih. Akan tetapi jika biji berasal dari jatuhan di bawah pohon, penting untuk dipastikan bahwa biji mempunyai bentuk radikel yang baik dan tidak terserang oleh insek atau hama. Biji yang berasal dari jatuhan berpeluang untuk diserang oleh hama atau jamur penyakit. Bahan perbanyakan yang akan diangkut ke jarak yang relatif jauh perlu diperhatikan tingkat viabilitasnya.

G. Praktek Pembibitan

Pembibitan diperlukan apabila regenerasi dengan system penanaman langsung sulit dilakukan, atau jika bibit yang dihasilkan perlu dipersiapkan perkembangannya sebelum dilakukan penanaman. Pada saat pembibitan sangat dimungkinkan untuk melakukan perlakuan inokulasi dengan mikoriza yang diperoleh dari perbanyakan inokulum yang diambil dari daerah disekitar kawasan yang akan direstorasi atau dari dalam hutan.

H. Penanaman

Penanaman menggunakan seedling yang dikembangkan dari kebun bibit maupun bagian dari tanaman (propagule). Proses penanaman propagule yang dikoleksi dari hutan ataupun dari koleksi kebun benih

I. Pemeliharaan

Restorasi hutan yang rusak memerlukan pemeliharan yang tepat setelah dilakukan penanaman. Aktivitas pemeliharaan yang wajar adalah pembebasan, penyiangan, penjarangan, penggantian tanaman (penyulaman). Diperlukan juga pengendalian terhadap hama dan penyakit. Pencegahan dilakukan terhadap binatang yang dapat mengaganggu tanaman.



J. Pemantauan

            Tujuan daripada kegiatan ini adalah untuk : 1) mengetahui perubahan tingkat keanekaragaman spesies tumbuhan; 2) mengetahui perubahan dan dinamika ekosistem hutan, dan 3) mengetahui pola regenerasi spesies tumbuhan dari segi ekologi.


III. PENUTUP

            Kegiatan Restorasi dapat berhasil apabila didikung oleh pengetahuan mengenai adanya suatu sistem terturup yang terdapat dalam hutan tersebut. Interaksi antar komponen ekosistem yang saling terkait dan adanya ketergantungan maupun adanya persaingan  antar individu. Ekologi restorasi sebagai dasar penentuan sistem silvikultur dari masing-masing jenis yang akan digunakan untuk restorasi.



DAFTAR  PUSTAKA

Anwar, J., S.J. Damanik, N. Hisyam & A.J. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Universitas Gadjah Mada Press. Yogyakarta.

Badan Planologi Kehutanan. 2006. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Kehutnaan Tahun 2006-2005. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Basyuni, mohammad. 2002. Panduan Restorasi Hutan Mangrove Yang Rusak (Degrated). Fakultas Pertanian, Program Ilmu Kehutanan, Universitas Sumatera Utara. Internet.

Bismark,M. 2002. Integrasi Kepentingan Konservasi Dan Kebutuhan Sumber Penghasilan Masyarakat Dalam Pengelolaan Kawasan Konservasi. Makalah Seminar. Prosiding Diskusi Hasil-Hasil Litbang dengan Tema Rehabilitasi dan Konservasi Sumberdaya Lahan. Pusat Penelitaian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Dirjen PHKA. 2004 Peraturan Perundang-Undangan Bidang Perlindungan Hutan Dan Konservasi Alam. Departemen Kehutanan. Jakarta.

Heriyanto, N.M. dan reny Sawitri. 2006. Potensi Jenis Konyal (Passiflora edulis Sims.) Sebagai jenis Invasif di Taman Nasional Gunung gede Pangrango Kabupaten Cianjur, jawa Barat. Info Hutan. Puslitbang HKA. Bogor

Kahono, S., T. Okamaya, A. J. Arief dan K. Mori..2003. Hasil-Hasil Penelitian Konservasi Keanekaragaman Hayati; The Biodiversity Conservation Project (BCP). Makalah Seminar dan Lokakarya Pengembangan Model Pengelolaan Taman Nasional Gunung Halimun. Biodiversity Conservation. Bogor

Primack, R.B., J. Supriatna, M. Indrawan& P.Kramadibrata. 1998. Biologi Konservasi. Yayasan Obor. Jakarta

Siddiqi, N.A., M.R. Islam, M.A.S. Khan, dan M. Shahidullah. 1993. Mangrove Nurseries in Bangladesh. ISME Occasional Papers N.o. 1 ISME. Japan.

Soerianegara, I. & A. Indrawan. 1982. Ekologi Hutan. Departemen Manajemen Hutan. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Suzuki, et. al. (1997). “Establishment of two 1 ha permanent plots in Gunung Halimun National Park for study of vegetation structure and forest dynamics.” Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia Vol. II : The Inventory of Natural Resources in Gunung Halimun National Park. Bogor. Indonesian Institute of Science (LIPI)-JICA-PHPA.


WRI, IUCN, UNEP. 1995. Strategi Keanekaragaman Hayati Global. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Post Top Ad

Your Ad Spot