ANGKA BENTUK MAHONI (Swietenia macrophylla) DI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, April 19, 2016

ANGKA BENTUK MAHONI (Swietenia macrophylla) DI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS

ANGKA BENTUK MAHONI (Swietenia macrophylla) DI HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN CIAMIS

Oleh :
Suyarno

  
ABSTRAK

Mahoni adalah salah satu komoditi pengisi hutan rakyat yang popular dibudidayakan oleh masyarakat selain jati dan sengon. Perkembangan dan keberadaan mahoni di hutan rakyat semakin penting seiiring dengan peran pentingnya hutan rakyat dalam memenuhi kebutuhan kayu. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka bentuk pohon mahoni di hutan rakyat. Penelitian dilakukan di dua lokasi yaitu Desa Bangun Harja dan Desa Karya Mukti di Kabupaten Ciamis. Penelitian dilakukan pada tahun 2014 terhadap 23 sampel pohon mahoni yang dipilih secara sengaja. Angka bentuk dihitung dengan membandingkan antara volume kayu pada diameter dbh (setinggi dada/130 cm) dengan volume kayu hasil penjumlahan dari volume semua seksi/bagian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka bentuk terbesar 0,87 dan yang terkecil 0,39, rata-rata angka bentuk pohon mahoni sebesar 0,70. Hasil penelitian angka bentuk mahoni rata-rata sebesar 0,70 dapat dijadikan sebagai salah satu faktor dalam penghitungan volume kayu pada tegakan mahoni di hutan rakyat yang berdiameter  < 30 cm, dengan harapan dapat membantu proses jual beli kayu sehingga tidak merugikan petani sebagai penjual kayu.

Kata kunci : Hutan rakyat, Mahoni (Swietenia macrophylla) dan Angka Bentuk


I.PENDAHULUAN
Secara regional dalam skala provinsi keberadaan hutan rakyat dengan segala komoditinya mempunyai peranan yang penting dalam memenuhi kebutuhan kayu. Di Jawa Barat potensi hutan rakyat pada tahun 2012 seluas 271.802,83 ha terutama berada di Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis dan Sukabumi dengan jenis tanaman yang dominan adalah sengon, jati, mahoni dan suren (Dishut Provinsi Jawa Barat, 2012). Produksi kayu yang dihasilkan dari hutan rakyat di Jawa Barat sangat fluktuatif baik dari segi luas maupun produksi kayu. Produksi kayu dari hutan rakyat di Jawa Barat pada tahun 2012 sebesar 2.642.497,70 m3 yang tersebar di seluruh wilayah administrasi di Provinsi Jawa Barat. Produksi kayu hutan rakyat di Jawa Barat yang menempati urutan 4 besar yaitu Kabupaten Tasikmalaya sebesar 386.440,17 m3, Kabupaten Sukabumi sebesar 385.194,48 m3, Kabupaten Cianjur sebesar 348.853,22 m3  dan Kabupaten Ciamis sebesar 276.476,36 m3   (Dishut Provinsi Jawa Barat, 2012).
Mahoni sebagai salah satu komoditi pengisi hutan rakyat yang popular dibudidayakan oleh masyarakat selain jati dan sengon. Mahoni sebagai tanaman pengisi hutan rakyat dibudidayakan secara campuran oleh masyarakat pada umumnya dan monokultur oleh sebagian kecil masyarakat petani. Perkembangan dan keberadaan mahoni di hutan rakyat semakin penting seiiring dengan peran pentingnya hutan rakyat dalam memenuhi kebutuhan kayu. Hutan rakyat di Jawa seluas 2.799.184 ha memasok 40% dari kebutuhan nasional, dimana kebutuhan nasional bahan baku mencapai 43 juta m3/th (Antara News, dalam D. Mulyana et al., 2010).
            Saat ini prospek pengembangan dan budidaya hutan rakyat masih sangat terbuka dan sangat potensial. Kondisi ini digambarkan oleh pertumbuhan jumlah unit usaha penggergajian rata-rata 20%/tahun. Sementara hal ini tidak diikuti oleh perkembangan hutan rakyat. Kondisi ini mengakibatkan banyak pengusaha penggergajian semakin pro aktif memenuhi kebutuhan kayunya dari masyarakat, yang menyebabkan terjadinya perubahan perilaku pasar, dimana pada awalnya saat akan menjual kayu petani mendatangi perusahaan penggergajian, saat ini pengusaha penggergajian yang mendatangi pemilik atau penjual kayu. Fenomena ini sangat menguntungkan di tingkat petani penjual kayu. Akan tetapi karena keterbatasan informasi pasar dan pengetahuan petani mengenai penghitungan volume kayu, menyebabkan kerugian petani pemilik kayu pada saat penjualan kayu. Penghitungan volume kayu yang umum dilaksanakan adalah melalui perkalian antara luas bidang dasar (diameter setinggi dada/tinggi batang 130 cm) dengan tinggi pohon, tetapi bandar pembeli biasanya penghitungan volume kayu dengan melakukan pengukuran keliling setinggi mungkin dari pangkal pohon. Pengukuran keliling pohon setinggi mungkin dari pangkal pohon diterapkan oleh bandar pembeli dengan tujuan untuk mengurangi tingkat kerugian bandar dalam penghitungan volume kayu. Kondisi ini terjadi karena penghitungan volume tersebut bukan merupakan volume riil dari batang kayu karena secara umum pertumbuhan batang itu semakin mengicil ke ujung atas (taper). Sementara kondisi tanaman pada hutan rakyat biasanya memiliki keadaan tegakan menurut jenis, tempat tumbuh dan lingkungan yang beragam. Hal ini menyebabkan bentuk batang setiap jenis pohon juga akan berbeda menurut jenis dan lokasinya. Oleh karena itu penghitungan angka bentuk mahoni di Kabupaten Ciamis sangat diperlukan untuk mengetahui dan membantu petani dan bandar dalam penghitungan taksiran volume kayu pada saat akan dilaksanakan penjualan, sehingga dapat mengurangi kerugian di tingkat petani.


II.METODOLOGI
A.Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian angka bentuk mahoni dilakukan di dua desa yang dipilih secara sengaja yakni di Desa Bangun Harja Kecamatan Cisaga dan Desa Karya Mukti Kecamatan Banjarsari Kab. Ciamis. 
Pemilihan lokasi penelitian didasarkan pada ketinggian tempat yaitu dataran rendah (Desa Bangun Harja) dan dataran tinggi (Desa Karya Mukti).
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2014, dengan mengambil sampel tegakan mahoni yang dibudidayakan secara tumpangsari dengan tanaman palawija.

B.Bahan dan Alat Penelitian
            Bahan dan peralatan untuk kegiatan penelitian adalah tegakan hutan rakyat mahoni, pitameter untuk mengukur keliling pohon/batang, meteran untuk mengukur panjang batang, parang dan sabit untuk membersihkan lahan, chain show untuk menebang pohon dan memotong batang, kamera untuk dokumentasi, tallysheet sebagai blangko pencatatan dan alat tulis menulis.

C.Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilaksanakan terhadap 23 pohon mahoni yang dipilih secara sengaja,  meliputi 3 komponen/unsur yaitu;
1.      Diameter pohon berdiri.
Penghitungan diameter pohon berdiri dilaksanakan dengan cara mengukur keliling batang pohon setinggi 130 cm dari permukaan tanah (dbh).
2.      Diameter batang per seksi
Pengukuran diameter batang per seksi dilaksanakan setelah pohon ditebang, yaitu dengan cara mengukur keliling batang pangkal dan ujung dirata-ratakan pada setiap seksinya. Panjang setiap seksi antara 0,5 s/d 2 m.






Gambar 1.  Pembagian seksi batang
3.      Pengukuran panjang batang
Pengkuran pangjang batang dilakukan dengan cara mengukur dengan meteran pada batang bebas cabang pada saat pohon sudah rebah.

D.Analisa Data
1.      Diameter pohon berdiri :
Diameter = keliling (dbh) /π
2.      Diameter batang per seksi :
 Diameter Pangkal (keliling pangkal /π) + Diameter Ujung (keliling ujung /π)
                                                2
3.      Volume Batang (Silinder)
Penghitungan volume silinder kayu yang digunakan adalah :
V = B X H
B = ¼ π D2 (D: diameter setinggi dada/130 cm)
H = panjang bebas cabang
4.      Volume batang per seksi (volume riil seluruh batang)
Penghitungan volume batang perseksi dilakukan dengan menggunakan rumus Brereton yaitu menggunakan diameter yang merupakan rata-rata diameter pangkal dan ujung untuk menghitung LBDS.
Volume Total : Volume seksi 1 + Vol seksi 2 + Vol seksi 3 dst
V seksi 1 = (1/4 π)((b+s)/2)2) L
b : diameter pangkal log (cm/100)
s : diameter ujung log (cm/100)
L : panjang log
5.      Penghitungan Angka Bentuk :
f = Jumlah Volume Batang per seksi
       Volume silender batang

f : angka bentuk rata rata dari seluruh sampel penelitian


III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Angka bentuk adalah perbandingan atau rasio volume batang yang sebenarnya (riil) dengan volume silinder yang memiliki tinggi atau panjang sama. Bentuk batang adalah salah satu komponen penentu volume pohon. Bentuk batang diantaranya dapat digambarkan oleh angka bentuk dan taper. Berdasarkan diameter yang digunakan untuk menghitung volume silindernya, angka bentuk dibedakan atas (Muhdin, 2003 dalam Susila,  2009) :
1.      Angka bentuk mutlak adalah angka bentuk dimana volume silindernya menggunakan luas bidang dasar (lbds) berdasarkan diameter pada pangkal batang.
2.      Angka bentuk buatan adalah angka bentuk dimana volume silidernya menggunakan lbds berdasarkan dbh.
3.      Angka bentuk normal angka bentuk dimana volume silindernya menggunakan lbds berdasarkan diameter pada ketinggian 1/10 tinggi pohon.
https://i2.wp.com/1.bp.blogspot.com/_A-LrqKpZlVE/SszGDO6yDyI/AAAAAAAABF4/1N1rmN_ewkk/s200/Untitled-Scanned-11Press.jpg
Gambar 2.  Ilustrasi gambar angka bentuk
            Angka bentuk mahoni yang dilaksanakan dalam penelitian ini adalah angka bentuk buatan yaitu angka bentuk dimana volume silindernya menggunakan LBDS berdasarkan dbh (tinggi setinggi dada/130 cm). Hasil pengumpulan data yang dilaksanakan terhadap tegakan mahoni yang dipilih secara sengaja sebanyak 15 pohon di Desa Bangun Harja dan 8 pohon di Desa Karya Mukti,  besaran diameter pada dbh (setinggi dada/130 cm) disajikan dalam Tabel 1 berikut;
Tabel 1. Sebaran diameter dbh
No
Diameter (cm)
Jumlah Pohon
Keterangan
1.
5,0 – 10,0
2
A1
2.
10,1 – 15,0
4
A1
3.
15,1 – 20,0
6
A1
4.
20,1 – 25,0
9
A2
5.
25,1 – 30,0
2
A2

Berdasarkan Tabel 1 tersebut menunjukkan bahwa sampel pohon mahoni termasuk dalam katagori A1 (10-20 cm) sebanyak 12 pohon dan A2 (20,1 – 30 cm) sebanyak 11 pohon. Pemilihan kelas diameter pohon mahoni A1 dan A2 tersebut dilaksanakan dengan pendekatan bahwa secara umum petani menjual kayu mahoni dari hutan rakyat pada kisaran diameter < 30 cm. Potensi Pohon mahoni berdiameter besar > 30 cm di hutan rakyat populasinya sangat sedikit sehingga tidak menjadi pilihan dalam pelaksanaan kegiatan penelitian. Mahoni berdiameter besar (> 30 cm) pada umumnya berada di kawasan hutan Negara yang dikelola oleh Perum Perhutani.
Pembagian/pemotongan batang dari 23 pohon sampel dilaksanakan menjadi batang log yang pendek yang dalam penelitian ini disebut seksi. Pembagian seksi berdasarkan tingkat kelurusan batang yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan pasar terhadap kayu mahoni, karena pada umumnya bandar akan melaksanakan pemotongan batang mahoni disesuaikan dengan kebutuhan pasar yang ada. Sebaran pembagian jumlah seksi per pohon mahoni disajikan dalam Tabel 2 berikut.
Tabel 2. Sebaran pembagian jumlah seksi
No
Jumlah seksi dalam  satu batang pohon
Jumlah pohon
1
8
2
2
7
2
3
6
3
4
5
10
5
4
4
6
3
2
Pembagian seksi sebagaimana Tabel 2 tersebut menunjukkan bahwa jumlah pembagian seksi pada setiap batang tidak sama, berkisar paling sedikit 3 seksi dan paling banyak 8 seksi. Panjang setiap seksi disesuaikan dengan kondisi batang pohon itu sendiri yaitu pada saat batang lurus maka maksimal panjang seksinya 2 m dan pada saat batang itu bengkok maka dicari titik terlurusnya sehingga terdapat panjang seksi yang hanya 0,32 m. Panjang maksimal seksi 2 m itu disebabkan oleh faktor tingkat kebutuhan pasar dari kayu mahoni dan kemudahan dalam pengangkutan kayu terutama dari kebun ke pinggir jalan.
Dari 23 pohon sampel yang ditebang, sebaran panjang seksi dan jumlah batangnya disajikan dalam Tabel 3 berikut.
Tabel 3. Sebaran panjang seksi dan jumlah batangnya
No
Panjang Seksi (m)
Jumlah Batang
1
2,0
23
2
1,8
1
3
1,5
27
4
1,3
2
5
1,2
31
6
1,0
25
7
0,95
5
8
0,80
2
9
0,74
1
10
0,50
2
11
0,32
1

Jumlah
128
Tabel 3 tersebut memperlihatkan bahwa jumlah seksi yang panjangnya < 1 m sangat sedikit, hal ini menunjukkan bahwa  pohon sampel secara umum batangnya lurus. Panjang seksi dibuat pendek karena faktor batang kayu yang bengkok diambil titik lurusnya untuk mengurangi bias pada saat pengukuran panjang dari batang tersebut.
Berdasarkan hasil pengolahan data terhadap 23 pohon sampel mahoni terhadap volume silinder (lbds pada dbh) dan volume total setiap batang berdasarkan penjumlahan dari seksi maka diperoleh angka bentuk mahoni pada hutan rakyat dari setiap pohon sampel. Hasil pengolahan data angka bentuk pada setiap pohon disajikan dalam Tabel 4 berikut.
Tabel 4. Angka bentuk 23 sampel pohon mahoni
NO
Volume Berdiri/Silinder
Volume Total Seksi/Bagian
Angka
Pohon
Diameter
Panjang
Volume
Jmlh Seksi
Rata-Rata
Panjang
Volume Riil
Bentuk

dbh  (m)
(m)
(m3)
/Bagian
Diameter (m)
(m)
(m3)

1.
0,213
8,1
0,2895
6
0,163
8,1
0,2012
0,69
2.
0,182
8,0
0,2069
5
0,144
8,0
0,1344
0,65
3.
0,283
7,4
0,4667
5
0,231
7,4
0,3467
0,74
4.
0,245
5,9
0,2785
4
0,209
5,9
0,2204
0,79
5.
0,217
6,9
0,2522
5
0,175
6,9
0,1853
0,73
6.
0,197
6,5
0,1989
5
0,171
6,5
0,1685
0,85
7.
0,169
7,4
0,1651
6
0,137
7,4
0,1188
0,72
8.
0,220
6,0
0,2274
4
0,175
6,0
0,1666
0,73
9.
0,131
4,3
0,0581
4
0,117
4,3
0,0505
0,87
10.
0,105
5,7
0,0492
5
0,078
5,7
0,0297
0,60
11.
0,127
5,7
0,0724
7
0,062
5,7
0,0340
0,47
12.
0,086
5,6
0,0322
5
0,077
5,6
0,0274
0,85
13.
0,153
4,5
0,0829
8
0,060
4,5
0,0321
0,39
14.
0,076
5,0
0,0228
5
0,064
5,0
0,0171
0,75
15.
0,239
5,7
0,2557
7
0,110
5,7
0,1111
0,43
16.
0,226
6,5
0,2609
6
0,153
6,5
0,1756
0,67
17.
0,191
4,5
0,1290
3
0,175
4,5
0,1103
0,86
18.
0,150
5,8
0,1020
3
0,132
5,8
0,0817
0,80
19.
0,252
6,5
0,3230
4
0,225
6,5
0,2694
0,83
20.
0,239
6,5
0,2911
8
0,096
6,5
0,1288
0,44
21.
0,239
8,5
0,3807
5
0,180
8,5
0,2491
0,65
22.
0,217
7,5
0,2761
5
0,178
7,5
0,2052
0,74
23.
0,170
7,6
0,1732
5
0,146
7,6
0,1389
0,80
Jml
4,326

 4,594

3,2580

3,202 
16,08
Rata2
0,188106

 0,19976

0,1417

0,13924 
0,70

Hasil pengolahan data sebagaimana Tabel 4 tersebut diperoleh hasil angka bentuk terbesar dari diameter pohon silinder sebesar 13,1 cm dan rata – rata diameter dari seksi sebesar 11,7 cm. Faktor perbedaan besarnya diameter ini sebagai bukti bahwa secara umum pertumbuhan batang itu semakin mengecil ke ujung atas (taper). Faktor bentuk terkecil diperoleh dari diameter dbh sebesar 15,3 cm dan rata – rata diameter seksi sebesar 6,0 cm. Perbedaan perbandingan diameter dari setiap pohon pada 23 pohon sampel menunjukkan bahwa tingkat kesilinderan pohon itu sangat berbeda satu dengan yang lainnya pada jenis pohon yang sama, sehingga dari sebuah pohon  dapat diperoleh angka bentuk dan diameter yang bervariasi. Berdasarkan data tersebut maka ditetapkan diameter setinggi dada atau dbh sebagai standar pengukuran diameter batang. Terdapat tiga alasan mengapa dimeter diukur pada ketinggian setinggi dada yaitu (1) alasan kepraktisan dan kenyamanan saat mengukur, (2) rata-rata bebas dari pengaruh banir, (3). dbh pada umumnya memiliki hubungan yang cukup erat dengan perubah-peubah (dimensi) pohon lainnya (Susila, 2009).
Angka bentuk mahoni sebagaimana Tabel 4 mempunyai nilai terbesar adalah 0,87 dan yang terkecil adalah 0,39. Dari 23 pohon sampel mohoni jika dirata –ratakan maka angka bentuk pohon mahoni di hutan rakyat di Kab. Ciamis sebesar. 0,70 yang dapat dijadikan sebagai salah satu faktor dalam penghitungan volume pohon mahoni. Siswanto dan Suyat 2006 dalam Susila,  2009) menyebutkan bahwa banyak hasil penelitian menunjukkan angka bentuk batang berkisar antara 0,50 – 0,60.
            Hasil penelitian yang menunjukan bahwa angka bentuk mahoni di hutan rakyat di Kabupaten Ciamis rata-rata sebesar 0,70, diharapkan dapat membantu proses jual beli kayu sehingga tidak merugikan petani sebagai penjual kayu.

IV. PENUTUP
A.Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Angka bentuk mahoni yang dihasilkan dalam penelitian ini berlaku untuk pohon mahoni berdiameter < 30 cm, sesuai dengan potensi secara umum mahoni di hutan rakyat di Kab. Ciamis, karena untuk mahoni berdiameter besar (> 30 cm) potensinya sedikit dan biasanya hanya terdapat dalam kawasan hutan.
2.      Pembagian seksi dalam satu batang pohon tergantung dari tingkat kelurusan batang, semakin lurus suatu batang jumlah seksinya semakin sedikit.
3.      Angka bentuk mahoni dari 23 sampel mempunyai nilai terbesar 0,87 dan terkecil 0,39 ini menggambarkan bahwa dalam satu jenis tanaman mempunyai tingkat kesilindrisan yang beragam.
4.      Angka bentuk yang diambil datanya dari 2 desa yang berbeda menggambarkan bahwa faktor tempat kurang mempengaruhi terhadap besar kecilnya angka bentuk.
5.      Rata-rata angka bentuk yang dihasilkan dari 23 pohon mahoni pada 2 desa mempunyai nilai 0,70, kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu faktor dalam penghitungan volume kayu mahoni di hutan rakyat di Kab. Ciamis baik oleh petani sebagai penjual maupun bandar kayu sebagai pembeli.

B.Saran
1.    Angka bentuk mahoni di hutan rakyat di Kabupaten Ciamis sebesar 0,70 kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu faktor dalam penghitungan volume kayu pada semua tegakan mahoni di hutan rakyat yang berdiameter  < 30 cm.
2.    Angka bentuk mahoni sebesar 0,70 dapat digunakan oleh bandar sebagai pembeli dan oleh petani  sebagai penjual kayu dengan harapan dapat mengurangi tingkat kerugian pada saat proses jual beli kayu.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2016. Yang Dimaksud Angka Bentuk Mahoni. http://vansaka.blogspot.co.id/2010/03/yang-dimaksud-dengan-angka-bentuk-pada.html, diakses tgl. 26 Februari 2016
Anonim. 2016. Bentuk Batang. http://srimuliyani.blogspot.co.id/2014/04/bentuk-batang.html, diakses tgl 26 Februari 2016
Dinas Kehutanan Prov. Jawa Barat. 2012 Profil Kehutanan Provinsi Jawa Barat. Bandung

Karim AA. 2016. Kajian Faktor Bentuk Pohon Lima Jenis Rimba Campuran di HPH PT. Aya Yayang Indonesia, Kalimatan Selatan. Tesis. Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. https://a2karim99.wordpress.com/k-a-r-y-a/karya-ilmiah/kajian-faktor-bantuk/, diakses tgl. 26 Februari 2016
Mulyana D. dan Ceng Asmarahmah. 2010. Satu Menanam Kayu Investasi Jangka Panjang. PT. AgroMedia Pustaka. Jakarta. http://books.google.co.id, diakses tgl 26 Februari 2016

Susila, IWW. 2009. Pendugaan Volume Pohon Berdiri Jenis Sengon (Parasireanthes falcataria) Pada Hutan Rakyat di Suter Kintamani, Tesis. Universitas Udayana. Bali

Post Top Ad

Your Ad Spot