Peluang Bisnis Kayu Sengon - investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Tuesday, April 21, 2015

Peluang Bisnis Kayu Sengon

Seiring dengan pesatnya laju pembangunan ekonomi dan pertumbuhan penduduk menimbulkan dampak baik positif maupun negatif terhadap hutan. Kebutuhan terhadap lahan untuk pemukiman, industri, pertanian, perkebunan dan pengalihan kawasan hutan untuk peruntukan lainnya telah menyebabkan hutan negara cenderung semakin menyempit. Pengurangan dan kerusakan hutan sampai saat ini sudah mencapai angka 1,6 juta ha setiap tahun (Abdul Fatah, 2002), sehingga saat ini kayu yang dihasilkan dari kawasan hutan sangat terbatas, disisi lain kebutuhan kayu terus meningkat. Hasil taksiran konsumsi kayu di Jawa pada tahun 1995 sebesar 0,15 m3/kapita/tahun. Kira-kira 30 % diantaranya berupa kayu sengon sehingga menjelang tahun 1995 di Jawa diperlukan kurang lebih 5 juta m3 per tahun kayu sengon siap pakai atau setara dengan 15 juta m3 log/tahun. Kebutuhan kayu tersebut tidak dapat dipenuhi oleh Perum Perhutani karena sampai saat ini hanya mampu melayani 5 % dari seluruh kebutuhan kayu di Jawa  (Atmosuseno, B.S. 1999).
Fenomena tersebut mengindikasikan bahwa hutan negara dewasa ini sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dan permintaan kayu. Guna pemenuhan kebutuhan kayu tersebut, hutan rakyat dianggap sebagai alternatif unggulan sebagai solusi untuk menyuplai kebutuhan kayu. Perum Perhutani (1995) menyatakan bahwa di Pulau Jawa sebanyak 70 – 90 % kebutuhan kayu pertukangan dan kayu bakar dipenuhi dari hasil hutan rakyat. Khususnya di Kabupaten Ciamis sampai dengan tahun 2002 produksi kayu yang tercatat melalui Surat Ijin Tebang (SIT) pada tahun 2002 adalah sekitar 79.000 m3, jauh lebih besar dari kemampuan produksi hutan Negara yang dikelola oleh Perum Perhutani yang mencapai rata-rata sekitar 30.000 m3 per tahun (Dinas Kehutanan Ciamis, 2002).
Usahatani hutan rakyat dalam pelaksanaannya seringkali terbentur pada sempitnya lahan garapan/milik. Bagi petani yang hanya menggantungkan hidupnya dari pertanian lebih cenderung membudidayakan komoditi yang berumur pendek (palawija) daripada membudidayakan tanaman kayu-kayuan. Namun demikian sedikit tidaknya mereka sudah tersentuh dengan pola usahatani hutan rakyat dengan mengupayakan tanaman kayu-kayuan pada batas pemilikan lahan. Bentuk lain dari pola usahatani hutan rakyat yang umum dilaksanakan guna menghadapi tantangan sempitnya lahan garapan yaitu dengan mengkombinasikan (sistem tumpangsari) antara tanaman tahunan (kayu-kayuan, perkebunan, buah-buahan), dengan tanaman semusim (pangan, palawija dan holtikultur). Meskipun dilaksanakan secara tumpangsari/multiplecropping tidak ada yang menyangkal bahwa kendatipun hutan rakyat itu tidak dalam skala ekonomi tetapi hutan rakyat dengan segala komoditasnya telah membantu memenuhi ragam kebutuhan pemiliknya, baik untuk tambahan pendapatan, untuk pendidikan anak dan sumber bahan bangunan perumahan dan meubeler.
Pelaksanaan usahatani hutan rakyat dengan sistem tumpangsari biasanya upaya yang dilaksanakan terhadap tanaman kayu-kayuan tidak dilaksanakan secara khusus tetapi lebih cenderung hanya sebagai sambilan disaat mengerjakan tanaman semusim, sehingga secara umum besarnya biaya yang dikeluarkan didalam pengusahaan usahatani hutan rakyat tidak dihitung secara khusus kedalam biaya produksi usahatani hutan rakyat

Post Top Ad

Your Ad Spot