investasi pohon

investasi pohon

Blog investasi pohon - Blog yang menguraikan mengenai pohon/kayu dalam kerangka hutan rakyat dengan berbagai hal mulai dari investasi, produksi dan pemasaran serta kelembagaannya

Post Top Ad

Post Top Ad

Wednesday, October 18, 2017

TEHNIK PENYADAPAN AREN

2:44:00 PM


Kegiatan penyadapan aren secara umum di berbagai daerah mempunyai kesamaan baik peralatan maupun tata cara dan tehnik penyadapan aren. Secara garis besar beberapa hal yang berkaitan dengan penyadapan aren diuraikan sebagai berikut.

1. Peralatan;
Peralatan dalam penyadapan aren biasanya dibuat sendiri oleh petani pemilik aren yaitu diantaranya :
- Lodong dibuat dari bambu biasanya berukuran 1 m dan diameter 9 cm.
- Bambu untuk majat aren 1 lonjor

2. Hasil
Hasil dari penyadapan pohon aren menghasilkan cairan yang disebut dengan istilah legen/wedang

3. Kegiatan rutin yang harus dilaksanakan sebelum pemanenan/penyadapan nira;
- Setelah tangkai aren sudah mengeluarkan kembang, maka pohon aren ditempelin bambu (singgai) ditali ke aren untuk alat manjat.
- Pohon aren dibersihkan dulu dari injuk-injuknya sampe bunganya.
- Tangkai kawungnya dipukul-pukul dan digoyang-goyang biasanya 1 kali pukul-pukul dan goyang-goyang selama ¼ jam dan ini dilaksanakan selama 1 bulan
- Kemudian dipangkas/dipotong ujungnya dan dibiarin selama 3-4 hari setelah keluar air/nira baru dipasang lodong.

4. Waktu Pengambilan Nira
- Ada dua waktu/periode menyimpan dan mgambil lodong yaitu pada waktu pagi mengambil nira yang terkumpul semalam dan menyimpan lodong lagi yang akan diambil sore.

5. Periode panan nira :
- Biasanya 1 pohon dalam waktu 1 th biasa disadap selama 1 bulan tergantung jumlah airnya karena ada  yang hanya; 10 hr, 20 hr dan 30 hr.

6. Tahapan/Proses Pengolahan Nira menjadi Gula Kawung :
- Nira hasil pengambilan sore dan pagi hari dikumpulkan dan direbus
- Perebusan dengan kayu bakar dari pagi (06.00) s/d siang (11.00 – 12.00)
- Perebusan sampe menggolak dan akhirnya membeku/ketal
- Setelah beku baru proses pencetakan dengan alat cetak yang terbuat dari bambu menjadi gula kawung.

Hitungan Biaya Pembuatan Gula Kawung :
Dihitung dalam 1 kali proses pembuatan dari nira hasil pengambilan pagi dan sore yaitu;
‘- kayu bakar : Rp. 4.000,-
 - hasilnya : 2 -3 gandu gula kawung dengan harga jual 3000 – 3500/gandu

Bagi hasil penyadap dan pemilik aren
- Jika pengambilan nira sudah lancar maka 1 hari 1 malam menjadi milik penyadap dan 1 hari 1 malam menjadi milik pemilik aren.

Read More

Tuesday, October 3, 2017

KAJIAN SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAKYAT

7:40:00 AM
Oleh :
Aris Sudomo
(Makalah ini telah di terbitkan di Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan, Ciamis)


ABSTRAK
Kontribusi hutan rakyat dalam pembangunan kehutanan tidak bisa dikesampingkan terlepas dari permasalahan produktivitasnya yang masih rendah sehingga belum bisa secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Keterbatasan pengetahuan petani dalam Sistem dan teknik silvikultur hutan rakyat menyebabkan pengelolaan hutan rakyat belum terencana dan dilaksanakan secara profesional. Sistem silvikultur hutan rakyat yang merupakan Satandard Operational Procedure (SOP) dari awal penanaman sampai pemanenan diperlukan agar produktivitas hutan rakyat dapat optimal. Satandard Operational Procedure yang diberikan hendaknya murah dan mudah diaplikasikan oleh petani hutan rakyat tetapi tetap dapat meningkatkan produktifitas hutan rakyat secara signifikan. Sistem silvikultur Tebang Pilih Permudaan Campuran (TPPC) merupakan alternatif yang dapat diaplikasikan dalam kondisi hutan rakyat campuran yang spesifik pada setiap daerah. Penebangan hendaknya merupakan bagian dari Sistem silvikultur yang memperhatikan aspek ekonomi, ekologi dan teknik permudaaan. Permudaan campuran merupakan metode memanfaatkan anakan alam dengan pendistribusian secara merata diperkaya dengan permudaan buatan dengan benih unggul yang diikuti dengan pemeliharaan terhadap permudaan alam dan buatan tersebut.

Kata kunci : Hutan rakyat, Sistem silvikultur, Tebang Pilih Permudaan Campuran.

I. PENDAHULUAN
Pembangunan hutan rakyat dan rehabilitasi lahan terdegradasi  mempunyai beberapa aspek tujuan yaitu aspek peningkatan ekonomi, ekologi dan sosial. Aspek ekonomi diharapkan dapat membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sedangkan aspek ekologi diharapkan dengan terbangunnya hutan rakyat dapat meningkatkan kelestarian lingkungan. Ketertarikan masyarakat terhadap usaha hutan rakyat yang dapat memberi keuntungan ekonomi dan ekologi tersebut di harapkan dapat menimbulkan tindakan sosial untuk membangun hutan rakyat.
Keberadaan hutan rakyat pada lahan terdegradasi selama ini kebanyakan dibiarkan saja tanpa pengelolaan intensif atau kaidah-kaidah silvikultur sehingga produktivitasnya masih rendah. Dengan tanpa penerapan kaidah-kaidah silvikultur mengakibatkan kualitas kayu yang dihasilkan lebih rendah bila dibandingkan kayu dari perum perhutani atau hutan tanaman Indonesia. Hal ini berujung pada nilai jual kayu lebih rendah dibandingkan kayu dari hutan tanaman perhutani. Kurangnya penguasaan teknologi oleh petani menjadikan salah satu sebab Sistem pengelolaan hutan rakyat lestari dengan produk berkualitas belum berjalan dengan baik.
Sistem dan teknik silvikultur yang mencakup cara-cara permudaan, pemeliharaan dan pemanenan sangat diperlukan untuk mewujudkan hutan rakyat lestari. Sistem silvikultur yang banyak diaplikasikan di hutan alam, perhutani dan HTI dapat diadopsi dengan melakukan beberapa modifikasi menyesuaikan dengan struktur dan komposisi hutan rakyat yang spesifik. Pola tanam hutan rakyat campuran hampir sama dengan hutan alam tetapi mempunyai beberapa perbedaan dalam hal  kerapatan tegakan, jumlah anakan alamnya, luasan, struktur dan komposisi tegakan dan pola tanam tumpangsari. Begitu pula dengan pola tanam hutan rakyat murni mirip dengan HTI tetapi mempunyai perbedaan dalam hal pola tumpangsari dengan tanaman semusim dan kerapatan tegakan.
Teknologi alternatif ini tentunya menyesuaikan dengan kondisi hutan rakyat dan kearifan lokal masing-masing daerah dan merupakan usaha perbaikan dari teknologi yang telah ada dengan cara mengkombinasikannya. Sistem silvikultur dirancang sejak awal pembangunan sampai pemanenan sehingga merupakan suatu satandard operational procedure untuk mewujudkan produksi hutan rakyat yang berkelanjutan. Untuk menjamin kelestarian hutan, harus ditentukan Sistem silvikultur yang mengatur cara menebang dan permudaan yang tepat untuk setiap areal berdasarkan pertimbangan ekonomis dan ekologis yang seimbang.
Pemanenan hasil hutan rakyat berupa kayu selama ini dilakukan berdasarkan tebang butuh yang merupakan kegiatan berdasarkan kebutuhan ekonomi pada suatu waktu dan belum merupakan kegiatan atas pertimbangan keseluruhan Sistem silvikultur hutan rakyat. Perencanaan serta pelaksanaan pemanenan kayu belum dipergunakan dengan baik dan benar mengakibatkan belum terintegasinya antara kegiatan pemanenan kayu dengan Sistem silvikutur secara keseluruhan. Pengelolaan hutan rakyat belum dilakukan secara professional dengan belum diaplikasikannya kaidah-kaidah silvikultur secara baik dan benar sehingga Sistem silvikultur pada hutan rakyat belum menghasilkan produktivitas yang optimal.  Menurut Mindawati dkk (2007) produktivitas hutan rakyat yang masih rendah atau belum optimal salah satunya disebabkan oleh keterbatasan masyarakat dalam pengetahuan teknik silvikultur seperti pemilihan jenis pohon, penggunaan bibit unggul, pengaturan jarak tanam dan pemeliharaan tanaman, sehingga pertumbuhan pohon dan mutu tegakan yang dihasilkan kurang baik serta luas pemilikan lahan yang relative sempit dan lokasi yang  terpencar menyulitkan pengelolaan dalam satu kesatuan manajemen.
Semakin marjinal suatu lahan maka semakin berpeluang dijadikan lokasi pengembangan hutan rakyat. Dengan lokasi lahan yang kebanyakan telah terdegradasi maka pada areal tersebut kurang terdapat permudaan oleh karena itu diperlukan tindakan silvikultur untuk rehabilitasi berupa penanaman pengkayaan (enrichment planting). Tujuan tanam pengkayaan hutan rakyat yang kebanyakan terdapat di lahan terdegradasi adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan nilai produksi kayu komersial, produksi non kayu, fungsi hutan, kesuburan tanah dan lain-lain.
Meskipun demikian tidak semua hutan rakyat tidak terdapat anakan alam berdasarkan pengamatan di Hutan rakyat Manonjaya Kabupaten Ciamis ditemukan sebaran anakan alam melimpah dengan distribusi tidak merata sehingga tidak semua areal tercover oleh tanaman. Pada hutan rakyat dengan keberadaan anakan alam melimpah tumbuh tersebar di bawah tegakan tentunya potensi bagi pembangunan hutan rakyat dengan teknik cabutan sebagai materi pengkayaan untuk mengoptimalkan penggunaan lahan yang masih kosong. Jika materi pengkayaan dari anakan alam kurang atau tidak ada maka dapat menggunakan permudaan buatan dengan mendatangkan benih unggul.
Pengaturan anakan alam dan permudaan buatan tersebut dapat mengoptimalkan areal hutan rakyat yang rata-rata sempit yaitu kurang dari 1 ha sehingga dapat tercapai tegakan yang relatif teratur. Pemeliharaan terhadap permudaan alam tersebut dapat dilakukan petani agar anakan alam dapat tumbuh dengan baik. Sistem silvikultur hutan rakyat dengan memanfaatkan anakan alam yang telah tumbuh di sekitar lokasi pengembangan merupakan metode yang murah  dan relatif mudah diaplikasikan oleh petani.
Teknik cabutan untuk pengkayaan dan diikuti dengan pemeliharaan permudaan alam merupakan teknologi alternatif bagi pembangunan hutan rakyat, khususnya daerah yang penyebaran anakan alamnya melimpah. Kajian Sistem silvikultur hutan rakyat campuran ini bertujuan untuk mendapatkan teknologi pengelolaan yang murah dan mudah menyesuaikan dengan setiap kondisi hutan rakyat, sehingga dapat meningkatkan produktivitas hutan rakyat.

II. DESKRIPSI HUTAN RAKYAT
Pola tanam hutan rakyat dapat digolongkan kedalam tiga bentuk yaitu : Pola tanam hutan rakyat murni, pola tanam campuran dan pola tanam dengan Sistem agroforestry. Pada pola tanam hutan rakyat murni lahan hanya ditanami dengan satu jenis tanaman berkayu (monokultur). Pola tanam monokultur mempunyai keuntungan dalam hal pengelolaannya lebih mudah  karena homogen dan setiap individu pohon  perlakuannya relative sama. Menurut Suryo (1999) keuntungan tegakan murni adalah bahwa keseluruhan kawasan hutan dapat diperuntukan bagi jenis yang paling bernilai sesuai dengan kondisi tempat tumbuh, pengelolaannya relative sederhana dan murah, biaya pemanenan hasil dan pemasarannya juga lebih murah dan cara pemeliharaan juga lebih sederhana. Sedangkan kelemahannya antara lain adalah bahwa tegakan murni kurang fleksibel dalam memenuhi perubahan permintaan pasar, nilai estetis dan rekreasi umumnya kurang menarik, kurang mendukung kehidupan satwa liar yang beragam, dan peka terhadap berbagai jenis gangguan seperti hama dan penyakit (Suryo, 1999). Pola tanam monokultur juga menyebabkan terjadinya degradasi status hara yang terlalu ekstrim akibat penggunaan salah satu unsure lebih tinggi oleh tanaman yang sejenis. Monokultur juga menghasilkan produk tunggal sehingga mengakibatkan tidak ada diversifikasi produk. Hal ini dapat diatasi dengan pemilihan satu komoditi yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai produk akhir, misalnya pemilihan jenis dengan produk kayu yang dihasilkan bisa digunakan untuk kayu pertukangan dan kayu sebagai bahan baku pulp. Tegakan hutan rakyat ada yang seumur dan tidak seumur, keuntungan tegakan seumur adalah dalam pelaksanaan kegiatan penanaman, pemeliharaan dan pemungutan hasilnya yang sederhana, sehingga memungkinkan untuk penggunaan alat-alat besar dengan tingkat efisiensi yang lebih tinggi dan biaya yang lebih murah, pemendekan daur dengan melalui pemeliharaan yang intensif dan penggunaan jenis unggul, tingkat pertumbuhannya lebih seragam, dan tebang antara lebih mudah dilaksanakan. Beberapa kelemahan tegakan seumur antara lain adalah perlunya dilakukan tebangan antara/ penjarangan dan pemeliharaan yang terus menerus untuk mendapatkan tegakan ahkir yang baik, sehingga perlu ada pengeluaran dana yang kontinyu, serta nilai estetis dan rekreasi yang umumnya lebih rendah (Suryo, 1999).  
Hutan tanaman campuran adalah suatu tegakan hutan tanaman dimana tanaman pokoknya terdiri dari dua atau lebih jenis pohon komersial baik berdaur sama maupun beda daur yang ditanam pada satu hamparan dengan luasan tertentu berfungsi sebagai hutan produksi (Kosasih, 2007). Hutan campuran dengan keanekaragaman genetik yang lebih tinggi menyebabkan tanaman relatif lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Pertimbangan ekonomis hutan rakyat campuran mempunyai ketahanan dan kelenturan lebih tinggi terhadap pasar karena adanya diversifikasi komoditi dan hasil bertahap yang berkesinambungan (Mindawati dkk, 2007). Pola tanam hutan rakyat di kabupaten Ciamis kebanyakan campuran, hal ini tentunya memerlukan Sistem silvikultur khusus agar dapat terjaga kelestariannya. Optimalisasi lahan untuk mendatangkan keuntungan secara ekologi dan ekonomi dapat dilakukan petani dengan pola tanam agroforestry. Pola tanam ini sangat cocok untuk wilayah-wilayah berpenduduk padat, baik ditinjau dari fungsi ekonomi (pendapatan masyarakat), fungsi sosial maupun fungsi lingkungan (Mindawati dkk,  2007).  
Setiap pola tanam tentunya mempunyai Sistem silvikulur yang berbeda, beberapa hasil penelitian (Widiarti, 2000; Prabowo, 2000; Attar 2000; Suryandari dkk.,2003 dalam Mindawati 2007) praktek Sistem silvikultur yang dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia dalam rangka pengelolaan hutan rakyat adalah : Sistem Tebang Habis Trubusan (THT), Sistem Tebang Habis Permudaan Buatan (THPB), Sistem Tebang Pilih dengan Permudaan Alam (TPPA) dan Sistem Tebang Pilih dengan Permudaan Buatan (TPPB).
Penelitian Prabowo (2000) Sistem silvikultur hutan rakyat di Desa Sumberejo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah dikategorikan ke dalam Sistem Tebang Pilih Permudaan Alam (TPPA). Petani hutan rakyat hanya akan menebang tanaman di lahan hutannya bila tanaman benar-benar telah siap tebang dengan beberapa kriteria (tebang pilih) , antara lain adalah pohon yang akan ditebang batangnya diperkirakan diameternya sekitar 30 cm. Setelah penebangan petani hutan rakyat tidak melakukan penanaman dengan bibit buatan melainkan dengan permudaan alam yang jumlahnya cukup melimpah (Prabowo, 2000). Penelitian Waskito (2000) Sistem silvikultur hutan rakyat di Desa Gunungsari, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah adalah Sistem Tebang Pilih Permudaan Alam (TPPA). Masyarakat membiarkan areal bekas tebangan dengan harapan akan tumbuh anakan secara alami dan trubusan yang muncul dari tunggak bekas tebangan (Mindawati dkk, 2007)

III. SISTEM SILVIKULTUR HUTAN RAKYAT LESTARI
Permudaan merupakan suatu proses peremajaan kembali dari pohon-pohon penyusun tegakan yang telah mati secara alami atau dipanen oleh manusia. Ada dua jenis permudaan yaitu permudaan alam dan permudaan buatan. Jenis permudaan pada hutan rakyat campuran merupakan perpaduan dari permudaan alami dan buatan atau permudaan campuran. Permudaan alam adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan hutan yang terjadi secara alami. Sedangkan permudaan buatan adalah suatu proses peremajaan kembali dari suatu tegakan yang dilakukan oleh manusia. Keuntungan dari permudaan buatan adalah kemungkinan untuk mengatur kerapatan, jarak tanam komposisi jenis dan penggunaan bibit unggul secara lebih tepat dibandingkan dengan metode permudaan lain (Suryo, 1999). Daniel dkk (1992) mengemukakan bahwa dalam setiap kasus maka strategi penghutanan kembali mencakup 4 unsur, yaitu : identifikasi tujuan pengelolaan, identifikasi kendala umum, analisis kondisi tegakan dan pengaturan perlakuan.
Sistem silvikultur semestinya telah direncanakan sebelum pembangunan hutan rakyat terwujud sehingga merupakan rejim sejak penanaman, pemeliharaan dan pemanenan. Kenyataannya dengan  kondisi hutan rakyat yang spesifik maka penentuan Sistem silvikultur ditentukan pada saat hutan rakyat telah terbangun dan akan menyesuaikan dengan kondisi hutan rakyat di masing-masing daerah. Oleh karena itu diperlukan analisis  komprehensif terhadap kondisi hutan rakyat yang ada sebelum keputusan Sistem silvikultur ditentukan. Kesalahan dalam penentuan Sistem silvikultur akan mengakibatkan kegagalan dalam pembangunan hutan rakyat lestari. Diperlukan beberapa pertimbangan yang dapat diambil untuk menentukan Sistem silvikultur yang tepat pada setiap usaha pembangunan hutan rakyat sehingga produktivitas dapat berkelanjutan. Beberapa pertimbangan dalam penentuan Sistem silvikultur dalam pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah (a) Pola tanam hutan rakyat, (b) Jumlah sebaran anakan alam di bawah tegakan dan kemampuan membentuk trubusan, (c) Struktur dan komposisi tegakan, (d) Kerapatan tegakan hutan rakyat.
A. Hutan Rakyat Monokultur
Pada hutan rakyat monokultur seumur dapat diaplikasikan Sistem tebang habis permudaan buatan dan bila anakan alam cukup melimpah dapat dimanfaatkan dengan teknik cabutan dan pemeliharaan permudaan alam. Anakan alam tidak semuanya dalam keadaan yang baik karena rusak pada saat penebangan induknya dan anakan alam kebanyakan mengumpul rapat dengan distribusi tidak merata, oleh karena itu cabutan terhadap anakan alam tersebut dilakukan sebelum penebangan agar dapat digunakan sebagai materi permudaan setelah penebangan. Pemeliharaan permudaan alam dilakukan agar pertumbuhan lebih cepat dan biaya yang dikeluarkan dari Sistem permudaan ini lebih murah dan relative lebih aplikatif. Keberadaan anakan alam tergantung pada kerapatan tegakan dan jenis tanaman, bila kerapatan tegakan tidak memungkinkan masuknya cahaya ke lantai hutan maka kemungkinan tidak terdapat banyak anakan alam yang tumbuh kecuali beberapa jenis pohon yang tolerant dan semi tolerant sehingga dapat tumbuh dibawah tegakan. Oleh karena itu dalam pembangunan hutan rakyat semestinya sudah direncanakan sejak awal dalam pemilihan jenis, pengaturan jarak tanam/ kerapatan tegakan, pemeliharaan dan Sistem silvikultur yang akan diaplikasikan. Sistem permudaan campuran yang merupakan perpaduaan permudaan alam dan permudaan buatan dapat dilakukan jika anakan alam yang ada tidak mencukupi sehingga diperlukan tanam pengkayaan dengan bibit unggul dari luar.
Pada hutan rakyat monokultur yang tidak seumur dapat diaplikasikan tebang pilih dengan permudaan alam, buatan atau campuran menyesuaikan dengan jumlah anakan alam dan kerapatan tegakan. Penebangan dilakukan terhadap pohon berdiameter minimal 30 cm sehingga telah mempunyai nilai ekonomi tinggi. Kerusakan terhadap pohon-pohon dan permukaan sekitarnya dapat dihindarkan, meskipun bila dilakukan dengan hati-hati dapat diperkecil. Permudaan campuran adalah memadukan permudaan alam dan pengkayaan areal kosong dengan materi  permudaan buatan. Anakan alam yang melimpah dan tidak terdistribusi merata dapat diatur dengan teknik cabutan lalu di kembalikan keareal sebagai materi pengkayaan. Apabila jumlah anakan alam tidak cukup untuk materi permudaan, dapat diperkaya dari permudaan buatan dengan mendatangkan bibit unggul dari luar. Kerapatan tegakan juga mempengaruhi untuk menentukan perlunya materi pengkayaan bibit dari luar, apabila tegakan sudah cukup rapat dengan jumlah anakan cukup banyak maka diperlukan penjarangan dan pengaturan ruang, sehingga memungkinkan untuk pertumbuhan anakan alam. Penjarangan diterapkan pada pohon yang telah bernilai ekonomi minimal kayu bakar atau pohon yang secara fisiologi tidak bisa tumbuh dengan baik kedepannya.
B. Hutan Rakyat Campuran
Pola tanam hutan rakyat campuran dengan beberapa kelas umur merupakan tipe yang paling sering ditemui, terutama di daerah Kab. Ciamis. Pertimbangan jumlah anakan dan kerapatan tegakan yang berbeda-beda menyebabkan Sistem silvikultur juga berbeda. Sistem silvikultur tebang pilih dengan permudaan buatan, permudaan alam atau permudaan campuran merupakan alternatif yang sesuai untuk diterapkan. Permudaan buatan diaplikasikan apabila jumlah anakan alam terbatas sehingga diperlukan pembuatan bibit unggul dari luar. Penanaman dapat dilakukan pada spot-spot yang masih kosong dan memungkinkan bibit dapat tumbuh dengan baik. Pemeliharaan terhadap permudaan buatan ini diperlukan agar pertumbuhan tidak terhambat. Pembebasan cabang-cabang pohon disekitarnya yang menaungi dapat dilakukan dengan tanpa mengganggu pertumbuhan tegakan yang telah ada. Pertimbangan untuk menentukan Sistem permudaan berdasarkan ketersediaan anakan alam dan kerapatan tegakan tinggal. Areal yang masih kosong dengan keterbatasan anakan alam maka perlu tanam pengkayaan dengan permudaan buatan. Jika terdapat anakan alam yang banyak maka dapat dilakukan pengaturan kerapatan anakan alam dengan teknik cabutan untuk tanam pengkayaan pada spot-spot yang masih kosong sehingga dapat mengoptimalkan lahan hutan rakyat. Permudaan campuran merupakan perpaduan dari permudaan alam dan permudaan buatan sehingga terdapat tegakan yang dapat mengoptimalkan lahan hutan rakyat yang relative sempit (kurang dari 1 Ha) 
Pada hutan alam bekas tebangan Sistem silvikultur dilakukan dengan tanaman pengkayaan teknik tanam jalur dengan lebar 3 m dan jarak antar jalur 25 m (Setiadi, 2003). Hal ini tentunya tidak dapat sepenuhnya diterapkan pada hutan rakyat karena kerapatan dan luasan yang berbeda. Modifikasi terhadap teknik pengkayaan tanam jalur dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi hutan rakyat campuran yang akan ditentukan Sistem silvikulturnya. Pembuatan jalur menyesuiakan dengan kerapatan tegakan yang ada sehingga hanya pada areal-areal yang memang kerapatan rendah dapat dibuat jalur untuk tanam pengkayaan. Pembuatan jalur pada areal yang kerapatan tegakannnya tinggi akan merusak pohon-pohon yang telah survive sehingga banyak merugikan karena tegakan yang hilang. Pembuatan jalur untuk tanam pengkayaan juga tidak harus lurus tetapi bisa menyesuaikan dengan kerapatan tegakan tersebut. Pembuatan jalur berbelok tentunya lebih menyulitkan, oleh karena itu pembukaan lahan pada spot-spot yang kosong untuk tanam pengkayaan akan lebih efektif dan dapat dilakukan karena luasan hutan rakyat yang rata-rata kurang dari 1 ha. Pembukaan lahan secara melingkar pada spot-spot yang relative terbuka dapat dilakukan untuk lokasi tanam pengkayaan. Lebar jalur untuk penanaman yang paling sesuai untuk hutan rakyat juga menyesuaikan dengan kerapatan tegakan hutan rakyat dan perlu dilakukan penelitian tentang lebar jalur optimal dalam pengkayaan teknik tanam jalur. Oleh karena itu diperlukan lebar jalur optimal bagi tanam pengkayaan Sistem jalur. Pada hutan alam/ hutan produksi terbatas menurut Mohtaruddin dkk (2001) menemukan bahwa tanaman Diterocarp yang ditanam pada jalur tanam selebar 3 m lebih baik dibandingkan dengan jalur tanam selebar 5 dan 10 m dan line planting respon tanamannya lebih baik dibandingkan dengan gap planting. Berdasarkan hasil pengukuran produktivitas dan tingkat survival tanaman sampai umur 1 tahun, Maswar dkk (2001) menyimpulkan bahwa tanaman yang ditanam dengan teknik line planting memberikan respon lebih baik dibandingan dengan gap planting. Adjers dkk (1995) menemukan respon tanaman terbaik pada lebar jalur tanam 2 m, dibandingkan dengan 0, 1 dan 3 m yang dilanjutkan dengan pemeliharaan horizontal dan mengabaikan pemeliharaan vertical. Kondisi hutan rakyat yang spesifik memang mengakibatkan metodenya bersifat spesifik pula, tetapi paling tidak ada pendekatan terhadap suatu model hutan rakyat tertentu dengan pendekatan sistem silvikultur yang aplikatif, murah dan mudah dilakukan oleh masyarakat petani hutan rakyat.
Beberapa jenis pohon seperti sengon, jati dan suren mempunyai kemampuan membentuk materi trubusan dari tunggul sisa tebangan, hal ini dapat dijadikan materi permudaan. Oleh karena itu pada jenis-jenis yang bisa menghasilkan trubusan tersebut Sistem silvikultur tebang habis permudaan trubusan dapat diaplikasikan. Hasil penelitian di Desa Pabentengan Kec. Banteng Sulawesi Selatan , tunggul tanaman jati cukup baik untuk menghasilkan trubusan sampai 2-4 kali dengan riap 168,53 m3/ha. Sistem silvikultur Tebang Habis Permudaan Trubusan Penelitian di Desa Peloso, Kabupaten Klaten dan Desa Puncuk, Kabupaten Kediri tanaman sengon monokultur telah dikembangkan dengan pola kemitraan (Mindawati dkk, 2007).

C. Hutan Rakyat Agroforestry 
 Pola tanam agroforestry yang merupakan perpaduan penanaman pepohonan dan tanaman semusim mengakibatkan Sistem silvikultur menyesuaikan dengan keberadaan tanaman semusim. Pada Sistem agroforestry sebenarnya merupakan pola tanam yang lebih terencana, oleh karena itu Sistem silvikulturnya dapat direncanakan sebelum pola tanam hutan rakyat agroforestry terbentuk. Pemanenan dan permudaan tanaman kayu dilakukan setelah pemanenan tanaman pertanian sehingga dapat dilakukan leluasa tanpa menimbulkan kerugian. Pada kasus agroforestry sengon dan nilam, tanaman pertanian/nilam hanya bisa ditanam sampai umur 2 tahun dikarenakan tajuk tanaman sengon telah rapat dengan jarak tanam 3 x 3 m (Sudomo dkk, 2007). Pengaturan jarak tanam yang lebih lebar diperlukan agar tanaman pertanian dapat ditanam sampai akhir daur pohon. Pemilihan jenis pohon yang bertajuk ramping juga diperlukan agar tetap memberikan ruang tumbuh bagi tanaman pertanian. Manglid dan afrika  dapat dijadikan alternatif komoditi agroforestry sebagai jenis pohon yang bertajuk ramping dan kayunya bernilai ekonomi tinggi. 

IV. PARAMETER KEBERHASILAN SISTEM SILVIKULTUR
Parameter tingkat keberhasilan suatu Sistem pengelolaan hutan rakyat adalah dilihat dari tujuan yang ingin dicapai yaitu peningkatan nilai ekonomi, ekologis dan sosial budaya. Sesuai dengan strategi manajemen untuk hutan sekunder dan terdegradasi yakni harus mencakup aspek ekologi, aspek sosial budaya dan aspek ekonomi kelembagaan (ITTO, 2000). Menurut Muhdi (2005) tujuan dari Sistem silvikultur adalah mengatur pemanfatan hutan serta meningkatkan nilai hutan baik kualitas maupun kuantitas untuk rotasi tebang berikutnya agar terbentuk tegakan hutan yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu dan pemasok industri secara lestari. Untuk mencapai tujuan ini,  maka tindakan silvikultur dalam hal permudaan hutannya diarahkan pada :
1.    Pengaruh komposisi jenis pohon dalam hutan diharapkan dapat lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekonomi dan ekologi
2.    Pengaturan silvikultur atau kerapatan tegakan yang optimal diharapkan dapat memberikan peningkatan potensi produksi kayu bulat dari keadaan sebelumnya
3.    Terjaminnya fungsi hutan dalam pengawetan tanah dan air
4.    Terjaminnya fungsi perlindungan hutan
Sistem silvikultur hutan rakyat yang tepat adalah bagaimana meminimalkan biaya yang keluar dari kegiatan penanaman, pemeliharaan  tetapi didapatkan produktivitas hasil yang maksimal tanpa mengurangi fungsi ekologis dari hutan tersebut. Aplikasi Sistem silvikultur minimal dapat meningkatkan keuntungan ekonomi jika dibandingkan tidak dilakukan pengkayaan, dan terdapat batas minimal nilai keuntungan ekonomi harus dicapai sebagai satandard kelayakan usaha. Beberapa hasil dari kegiatan silvikultur dapat dilihat dari variable pertumbuhan riap (tinggi, diameter dan volume), ketahanan terhadap hama dan penyakit dan kualitas kayu yang dihasilkan.
Tujuan kelestarian lingkungan/ekologi tercapai dapat dilihat dari perkembangan hutan tersebut mengarah pada kondisi yang lebih baik dibanding semula sehingga dapat berfungsi ekologis secara optimal. Parameter yang dapat diamati adalah kondisi tegakan, tanah, satwa, ikim mikro dan lain-lain sehingga perkembangannya bisa diketahui dan dinilai (Onrizal, 2005). Aspek sosial budaya dapat tercapai dilihat dari sejuah mana kontribusi kegiatan rehabilitasi terhadap kesejahteraan masyarakat lokal dan sejauh mana peningkatan akses mereka terhadap sumberdaya hutan (Onrizal, 2005).

V.    PENUTUP
Keberadaan hutan rakyat di setiap daerah  mempunyai karakteristik yang spesifik, oleh karena itu Sistem silvikultur yang diterapkan juga menyesuaikan karakteristik setiap hutan rakyat. Meskipun demikian dalam  rangka mewujudkan hutan rakyat lestari diperlukan pendekatan Sistem silvikultur yang murah dan mudah diaplikasikan petani dalam berbagai type hutan rakyat yang spesifik dengan pertimbangan ekonomis dan ekologis yang seimbang. Sistem silvikultur diharapkan dapat menjadi satandard operational procedure yang mudah dipahami bagi petani hutan rakyat sehingga dapat meningkatkan nilai hutan secara ekonomi, ekologi dan sosial. Penelitian lebih lanjut tentang Sistem silvikultur yang sesuai pada berbagai type hutan rakyat diperlukan untuk dapat membentuk SOP yang lebih akurat. Beberapa Sistem silvikultur pada HTI, Perhutani dan Hutan alam dapat dimodifikasi menyesuaikan karakteristik hutan rakyat. Teknik dan Sistem silvikultur baru semestinya tidak bertentangan dengan kearifan lokal di masing-masing daerah dan merupakan perpaduan yang sinergi saling melengkapi untuk mewujudkan hutan rakyat lestari. Usaha penyuluhan terhadap teknik dan Sistem silvikultur baru hendaknya terus dilakukan sehingga masyarakat petani hutan rakyat mempunyai respon untuk mengaplikasikannya di lapangan.  


DAFTAR PUSTAKA

Daniel, T.W., J.A. Helms dan F.S Baker, 1992. Prinsip-prinsip Silvikultur . Terjemahan Joko Marsono dan Oemi Hani’in. Edisi Kedua. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

ITTO, 2000. Management Strategis For Degraded and secondary Forest. Di dalam Guidelines For The Restoration Management and Rehabilitation Of Degraded and SecondaryTropical Forest.

Maswar, A.M. Mokhtaruddin, N.M. Majid, I.F. Hanum, M.K Yusoff, A.M. Azani, dan S. Kobayashi. 2001. Evaluation on Methods For Rehabilitation Of Logged-Over Lowland Forest in Pasoh, Negeri Sembilan, Malaysia. Di Dalam: Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara

Mindawati, N. Asmanah Widiarti dan Budi Rustaman 2007. Review Hasil Penelitian Hutan Rakyat. Depatemen Kehutanan, Badan Penelitian Dan Pengembangan Hutan Tanaman, Puslit Hutan Tanaman. Bogor.

Mokhtarudin, A.M., Maswar, N.M Majid,M.K Yusoff, I.F.Hanum, A.M.Azani dan S.Kobayashi.2001. Soil Factors Affecting Growth Of Seedling In Logged-Over Tropical Lowland Forest In Pasoh, Negeri Sembilan, Malaysia. Di Dalam :  Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara.

Onrizal, 2005. Tanam Pengkayaan Untuk Rehabilitasi Hutan Bekas Tebangan Dengan Teknik Tanam Jalur (Rehabilitation of Logged Over Forest by Enrichment Line Planting). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatra Utara.

Prabowo, S.A. 2000. Hutan Rakyat: Sistem Pengelolaan Dan Manfaat Ekonomi Kasus di Desa Sumberejo, Kabupaten Wonogiri, JawaTengah. Perannya Dalam Perekonomian Desa. P3KM. Hal 13-30. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor.

Suryo, H 1999. Permudaan Hutan. Bahan Ajar Kuliah Silvikultur Hutan Tanaman. Fakultas Kehutanan. Universitas Gadjah Mada.

Sudomo, A. dan M. Y. Mile. 2007. Pengaruh Teknik Pemanenan Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Nilam Dalam Sistem Agroforestry Sengon +Nilam. Info Hutan. Pusat Penelitian Dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor

Kosasih. S.A, B. Rina Bogidarmanti, Budi Rustaman 2007. Silvikultur Hutan Tanaman Campuran. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor.

Muhdi. 2005. Pemanenan Kayu Dalam Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Medan

Waskito.B 2000. Studi Kemungkinan Pengembangan Kasus di Desa Gunungsari Kabupaten Boyolali Jawa Tengah. P3KM. Hal 67-83. Fakultas Kehutanan IPB. Bogor


Read More

Friday, September 29, 2017

MENJAGA KEANEKARAGAMAN JENIS HUTAN RAKYAT : MENJAGA KELESTARIAN HUTAN RAKYAT

8:48:00 AM
Oleh:
Aditya Hani
(Makalah ini telah di terbitkan pada Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)


ABSTRAK
Besarnya kebutuhan kayu bagi industri di Jawa Barat ini merupakan peluang bagi masyarakat yang mempunyai tanaman kayu-kayuan maupun untuk memulai menanamnya. Kondisi ini juga dapat menjadi ancaman bagi kelestarian hutan rakyat. Hal ini dapat dibuktikan dengan 1) semakin tingginya tingkat penebangan dihutan rakyat 2) semakin kecilnya ukuran diameter pohon yang ditebang, 3) jenis-jenis yang sebelumnya tidak dimanfaatkan oleh industri kayu, saat ini sudah mulai banyak dimanfaatkan seperti jenis kayu randu, jenis buah-buahan (rambutan, mangga dan nangka).  Ancaman terhadap keanekaragman jenis maupun beberapa jenis di hutan rayat terjadi karena beberapa sebab antara lain 1) kebutuhan akan satu jenis kayu tertentu yang tidak diimbangi dengan upaya penanaman kembali. 2) teknik budidaya belum dikuasai dengan baik. Peluang menjaga keanekaragaman hutan rakyat saat ini cukup terbuka karena semakin besarnya peluang setiap jenis penyusun hutan rakyat menjadi jenis yang bernilai ekonomi tinggi. Apabila ditunjang dengan penelitian mengenai teknik budidaya dan pemuliaan maka diharapkan kendala dari jenis-jenis lokal yang sebelumnya mempunyai umur panjang dapat diperpendek daurnya, sehingga masyarakat semakin ternarik untuk membudidayakan

Kata kunci : Hutan rakyat, kelestarian, jenis-jenis lokal

PENDAHULUAN
Hutan rakyat saat ini sudah menjadi primadona bagi pemenuhan kebutuhan kayu nasional khususnya di Jawa Barat. Produksi kayu yang berasal dari kawasan hutan produksi yang dikelola oleh Perum Perhutani baru memnuhi kebutuhan kayu sebesar 250.000 m3/tahun. Sementara itu kebutuhan industri kayu di Jawa Barat mencapai 5,3 juta m3/tahun. Untuk memenuhi kekurangan tersebut maka dipasok kayu yang berasal dari hutan milik/hutan rakyat sebesar 3 juta m3/tahun, sedangkan sisa kekurangannya berasal dari luar Jawa (Sudarna, 2007). Besarnya kebutuhan kayu bagi industri di Jawa Barat ini merupakan peluang bagi masyarakat yang mempunyai tanaman kayu-kayuan maupun untuk memulai menanamnya. Kondisi ini juga dapat menjadi ancaman bagi kelestarian hutan rakyat. Hal ini dapat dibuktikan dengan 1) semakin tingginya tingkat penebangan dihutan rakyat 2) semakin kecilnya ukuran diameter pohon yang ditebang, 3) jenis-jenis yang sebelumnya tidak dimanfaatkan oleh industri kayu, saat ini sudah mulai banyak dimanfaatkan seperti jenis kayu randu, jenis buah-buahan (rambutan, mangga dan nangka).  Sementara itu luasan hutan rakyat di Jawa Barat semakin tahun semakin berkurang karena dialih fungsikan untuk kepentingan lain seperti untuk industri, perumahan, pertanian dan sarana umum. 
Ancaman kelestarian pada hutan rakyat tidak hanya pada luasan lahan dan tegakan pohonnya tetapi sudah mengarah pada kelestarian jenis-jenis pohon yang tentu saja merupakan ancaman kepada sumberdaya genetik hutan. Cepatnya laju penebangan hutan telah berakibat pada kerusakan sumber daya hutan baik dihutan negara maupun di hutan rakyat. kerusakan terbesar tidak hanya pada hilangnya tegakan pohon tapi yang lebih penting adalah hilangnya sumberdaya genetik karena tak ternilai harganya (hadiyan, 2005). Degradasi potensi hutan ini mengganggu program pemuliaan pohon untuk menghasilkan bibit unggul dengan sifat yang diinginkan sulit dicapai apabila variasi genetik yang luas tidak tersedia, atau bahkan jenis target telah punah (Hakim, Lukman, 2006). 
Ancaman terhadap keanekaragman jenis maupun beberapa jenis di hutan rayat terjadi karena beberapa sebab antara lain 1) kebutuhan akan satu jenis kayu tertentu yang tidak diimbangi dengan upaya penanaman kembali. Pada umumnya masyarakat masih mengandalkan permudaan alam sementara itu  permudaan alam sudah tidak mampu lagi mengimbangi kecepatan penebangan serta perubahan kondisi lingkungan tempat tumbuh sehingga permudaan alam mulai menuru. Di Sukabumi jenis surian (Toona sinensis), merupakan jenis yang mulai sulit dicari. Padahal sebelumnya Sukabumi diketahui mempunyai potensi pohon surian yang baik. Adanya perusahaan kayu di daerah Bogor yang mengkhususkan pada jenis surian sebagai bahan bakunya menyebabkan penebangan jenis surian semakin cepat. Sementara itu masyarakat belum banyak melakukan usaha penanaman surian secara swadaya. Pada umumnya masyarakat lebih menyukai menanam kembali dengan jenis-jenis yang cepat tumbuh seperti sengon (Paraserianthes falcataria) yang dapat dipanen pada umur 4 tahun sementara surian mencapai 30 tahun. Bibit surian biasaya diperoleh dari bantuan kegiatan gerakan rehabilitasi lahan (Gerhan) maupun dari anakan alam yang dibiarkan tumbuh maupun dicabut untuk dipindahkan. Demikian juga dengan tanaman sungkai (Peronema canescens) yang merupakan salah satu jenis kayu indah yang mulai sulit diperoleh karena adanya eksploitasi yang berlebihan serta keengganan masyarakat menanam secara swadaya karena alasan waktu tunggu untuk memanen. 2) teknik budidaya belum dikuasai dengan baik. Pohon  Ganitri (Elaeocarpus sphaericarpus dan E. ganitri) merupakan jenis yang kayunya dimanfaatkan untuk pembuatan gitar dan piano, sementara bijinya mempunyai harga yang cukup mahal untuk perlengkapan ibadah di India saat ini mulai sulit dicari. Sehingga industri gitar dan piano mulai mencari alternatif bahan pengganti ganitri. Mulai langkanya ganitri salah satunya disebabkan teknik pembibitan belum berkembang dengan baik. Selama ini kegiatan pengadaan bibit masih mengandalakan dari anakan alam karena pembibitan dengan menggunakan biji masih belum memberikan hasil yang memuaskan. Kosasih dan S. Bustomi melaporkan bahwa perkecambahan biji secara konvensional baru menunjukkan tingkat keberhasilan 30%-40% dalam waktu 8-12 bulan. 3) sulitnya mendapatkan bibit jenis-jenis tanaman lokal. Berbeda dengan tanaman sengon yang mudah diperoleh bibitnya serta dengan harga yang terjangkau (Rp 250,00 – Rp 500,00). Hampir setiap persemaian pengusaha bibit tanaman kehutanan menyediakan jenis sengon karena kemudahan dalam memperoleh benih maupun pembibitannya. Sehingga dapat dikatakan jenis sengon merupakan jenis yang mulai menginvansi jenis-jenis lain di hutan rakyat Jawa barat.
Kepunahan suatu spesies juga merupakan suatu proses alami, karena sebagai sebuah proses alami, kepunahan berada dibelakang evolusi. Dengan kata lain : evolusi menghasilkan lebih banyak bentuk-bentuk baru dari pada bentuk-bentuk lama yang punah. Dan seluruh proses itu berlangsung lambat, sehingga cukup waktu untuk keseimbangan alam menyesuaikan diri setahap demi setahap. Manusia telah mempercapat kepunahan berbagai spesies tanpa mampu mempercepat evolusi (C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006).

KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI PADA HUTAN RAKYAT

Hasil inventarisasi pada hutan rakyat di daerah Rancah kabupaten Ciamis yang dilaksanakan tahun 2007, mencatat jenis-jenis antara lain: heras (Vitex sp.), kihauan, cangcaratan, tisuk, rasamala, kanyere, ganitri, brenuk, kibesi, cisegel, kihujan, putat, kicengkeh, pulai, simpur, waru, disamping juga tanaman penghasil buah-buahan (duku, petai, rambutan, mangga, manggis, langsat, kokosan dan lain-lain). Kecamatan Panawangan Kabupaten Ciamis, diketahui jenis kayu perdagangan hutan rakyat yang utama ditanam di adalah sengon, mahoni, puspa dan huru. Sedangkan jenis perkebunan dan buah-buahan yang banyak ditanam adalah kelapa, cengkeh, pete dan jengkol. Sedangkan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) yaitu bambu dan jenis empon-emponan (Rachman et. al, 2007). 
Adanya berbagai jenis di hutan rakyat menunjukkan bahwa hutan rakyat seringkali lebih mirip kondisi suatu hutan dibandingkan dengan hutan produksi yang dikelola secara monokultur. Keanekaragaman tersebut tentu saja perlu dilindungi agar hutan rakyat tetap dapat berfungsi baik secara ekologis, ekonomis dan lingkungan. (Noerdjianto et all., 2005), bentuk pelestarian yang harus dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat  mencakup :
a. Melindungi setiap jenis hayati supaya tidak punah sehingga tetap daat mendukung kehidupan manusia.
b. Melindungi setiap jenis hayati supaya tidak punah dan tetap dapat hidup di alam sebagaimana mestinya.
c. Melindungi seluruh jenis hayati supaya tetap dapat berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan dan kelestaria ekosistem.
d. Melindungi jenis hayati yang memiliki potensi menghasilkan devisa yang dapat meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat.
e. Mengatur supaya setiap jenis hayati yang langsung dimanfaatkan oleh masyarakt dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan melalui pemanenan secara lestari dan berkelanjutan. 
f. Melindungi setiap jeis hayati supaya tidak punah mengingat setiap jenis hayati memiliki kemungkinan untuk dapat dimanfaatkan kemudian hari.

Kelestarian keanekaragaman jenis merupakan salah satu sarat bagi kelestarian jenis. Karena dalam satu ekosistem hutan terjadi hubungan saling terkait dan ketergantungan baik langsung maupun tidak langsug. Bentuk interaksi langsung misalnya jenis-jenis tanaman toleran membutuhkan jenis tanaman intoleran karena jenis tanaman toleran tidak tahan terhadap sinar matahari langsung atau dengan intensitas tinggi terutama pada saat permudaannya. Bentuk interaksi tidak langsung dapat berupa adanya  serangga penyerbuk salah satu tanaman tersebut bersarang pada jenis tanaman yang satunya. Keanekaragaman jenis bermanfaat pada terciptanya kondisi hutan yang sehat. Menurut Soekotjo (2004) hutan yang sehat memiliki ciri-ciri dari sudut pandang lingkungan adalah 1) hutan dalam kondisi puncak suksesi (climaks), 2) tajuknya berstrata banyak, memiliki gap yang relatif luas, dan berkelas umur tidak sama, 3) jenis langka dan specialist merupakan indikator bagi hutan yang sehat. 
Penanaman hutan rakyat yang mulai mengarah kondisi monokultur mulai dirasakan dampaknya yaitu munculnya hama dan penyakit yang telah menimbulkan kerugian secara ekonomis disamping juga mengancam kelestarian hutan rakyat tersebut. Berkurangnya jenis-jenis penyusung hutan rakyat dapat berakibat sebagai berikut : 1) hilangnya diversitas genetik pada level populasi maupun spesies sehingga semakin rentan jenis tersebut terhadap perubahan gradien ekologi yang tajam. 2) berubahnya struktur genetik intra-interpopulasi yang berdampak kepada keberadaan atau eksistensi populasi atau jenis tersebut. 3) meningkatnya kawin kerabat (inbreeding) yang menghasilkan keturunan yang relatif lebih lemah (Anonim, 2007). 
Pada jenis primadona hutan rakyat di Jawa Barat yaitu sengon dan jati, Mile et al. (2006) melaporkan bahwa Sengon di wilayah Ciamis dan Banjar ada serangan hama sengon seperti Eurema (Eurema spp.), Ulat kantong (Pterome plagiophelps), Penggerek pucuk (Zeuzera coffeae), Kutu dompol (Ferisia firgata). Tingkat serangan akan semakin meningkat pada saat musim kemarau dan telah menimbulkan kerugian berupa terhambatnya pertumbuhan tanaman sengon muda serta penurunan kualitas tegakan karena bentuk batang yang tidak baik. di Kediri dan sebagian besar Jawa Timur dan Jawa Tengah dilaporkan tanaman sengon telah diserang upas kayu yang menimbulkan kematian dalam jumlah sangat besar. Penanganan dari masalah tersebut untuk wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah disarankan untuk moratorium penanaman sengon. Pada tanaman jati sudah mulai mengalami masalah yang cukup serius dengan adanya serangan hama dan penyakit salah satunya yang paling menonjol di wilayah Jawa Barat adalah hama daun dari jenis Pyrausta machaeralis (Lepidoptera, Pyralidae) dan Hyblaea puera (Lepidoptera, Hyblaedae) (T.W. Teguh Hardi, 2004).
Peluang menjaga keanekaragaman hutan rakyat saat ini cukup terbuka karena semakin besarnya peluang setiap jenis penyusun hutan rakyat menjadi jenis yang bernilai ekonomi tinggi. Apabila ditunjang dengan penelitian mengenai teknik budidaya dan pemuliaan maka diharapkan kendala dari jenis-jenis lokal yang sebelumnya mempunyai umur panjang dapat diperpendek daurnya, sehingga masyarakat semakin ternarik untuk membudidayakan. 


UPAYA MENGKONSERVASI POHON INDUK

Berdasar hasil pengamatan di Desa Pasir Batang, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, diketahui bahwa pada masa pemerintahan Belanda sampai dengan tahun 1942 ketika jepang masuk ke Indonesia, di daerah tersebut diberlakukan aturan mengenai larangan menebang pohon induk. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan. Sehingga pada saat itu sangat mudah dijumpai pohon-pohon dengan diameter yang sangat besar. Selain bertujuan menjaga kelestarian hutannya perlindungan terhadap pohon induk juga bertujan menjaga kelestarian jenis dari kepunahan. Harapannya dengan adanya pohon induk maka nantinya secara alami hutan akan mampu melakukan permudaan sendiri. Anakan alam dari pohon induk tidak hanya dijumpai disekitar pohon induknya tetapi seringkali dijumpai dalam jarak yang cukup jauh tergantung pada jenis buah/biji serta media pemencarannya. Sementara anakan alam yang ada dipohon induk selain dimanfaatkan oleh pemilik lahan juga oleh orang lain dengan cara dicabut ataupun biji dari pohon induk tersebut yang menyebar terbawa angin atau hewan dan tumbuh secara alami diluar batas kepemilikan lahan dimana pohon induk tersebut berada. 
Namun saat ini untuk menemukan pohon dengan ukuran besar sangat sulit, dari hasil inventarisasi hutan rakyat yang dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan ciamis tahun 2007, ditemukan pohon induk sengon yang berdiameter lebih dari 1 m, yang hanya dapat dipeluk oleh tiga orang dan dapat diperkirakan usia pohon tersebut sudah cukup tua. Disekitar pohon tersebut kita dapat dengan mudah menemukan anakan alam sengon sampai radius beberapa ratus meter. Hanya dengan membiarkan anakan alam dapat tumbuh dengan baik maka daerah tersebut banyak dijumpai pohon sengon yang tumbuh secara alami. perlakuan yang diberikan oleh masyarkaat juga cukup sederhana yaitu dengan menjarangi jumlah anakan dengan cara dicabut kemudian ditanam di lahan yang masih kosong. Di Desa Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ditemukan 2 pohon surian berukuran diameter diatas 65 cm, yang merupakan pohon induk. Di sekitar pohon induk tersebut dengan mudah kita menemukan anakan alamnya dari mulai tingkat semai sampai pohon. Masyarakat di sekitar desa tersebut terdapat kelompok tani hutan rakyat yang mengusahakan bibit tanaman kehutanan sehingga setiap tahunnya memanfaatkan biji dari pohon tersebut untuk disemaikan. Namun saat ini keberadaan pohon induk tersebut terancam karena pemiliknya mempunyai maksud untuk menebangnya untuk membangun rumah. Bentuk ancaman lain yaitu berasal dari para pengusaha kayu yang selalu datang kepemili pohon induk agar pohonnya dapat dibeli untuk ditebang. Bagi pemilik yang mempunyai kebutuhan mendesak tawaran tersebut tentu saja dengan mudah diterima, namun bagi pemilik yang walaupun tidak mendesak kebutuhannya seringkali pada akhirnya memilih menujual pohon tersebut karena sudah bosan didatangai para pengusaha kayu. Oleh karena itu upaya konservasi jenis melalui kegiatan konservasi ohon induk mutlak harus dilakukan. 
Kriteria seleksi pohon induk untuk sumber benih mengecu cara simpson (1998) dalam Jayusman & W.S. Manik (2005), yaitu memilih pohon dengan fenotipe baik, memiliki tinggi total dan tinggi bebas cabang optimal, batang lurus-silindris dengan diameter besar, pohon sehat (tidak terserang hama penyakit). Keberadaan pohon induk dari setiap jenis khususnya jenis endemik perlu mendapat perhatian khusus. Bentuk perhatian tersebut dapat dilakukan dengan membuat sebuah aturan mengenai perlindungan pohon induk. Perlindungan tersebut dapat berisi larangan menebang, aturan mengenai pengambilan buah/biji atau anakannya, penerapan teknik silvikultur dengan cara pemeliharaan, serta adanya insentif bagi pemilik pohon induk tersebut sehingga dapat memperoleh manfaat materi tanpa harus menebang. 
Keberadaan pohon induk selain berfungsi menjaga kelestarian hutan rakyat juga untuk menjaga kualitas anakan pohon yang dihasilkan. Karena masyarakat menjadi tahu asal-usul anakan yang digunakan serta kualitas dari pohon induknya. Menanam pohon dengan menggunakan benih yang tidak jelas asal-usulnya akan memiliki resiko tinggi terhadap kegagalan tanaman. Benih dengan sifat yang kurang baik walaupun ditanam dilahan yang baik dengan teknik penanaman yang tepat, pemeliharaan dan perlindungan yang cukup, biasanya akan selalu menghasilkan pertanaman hutan yang kurang memuaskan (Naiem, 1996 dalam Hadiyan 2005).
Untuk lebih menjaga kelestarian hutan rakyat maka jumlah pohon induk dapat disesuaikan dengan jenis dan luasan hutannya. Kesesuaian jenis dikaitkan dengan karakter buah/biji jenis tersebut apakah dapat berpindah jauh karena ukurannya yang kecil maupun bersayap sehingga mudah dibawa angin atau jenis-jenis yang karena ukuran buah/bijinya tidak dapat berpindah ketempat yang jauh. Apabila pada hutan alam maka jumlah pohon induk yang harus ditingalkan minimal 25 pohon, sebagai usaha menjamin keberhasilan permudaan alamnya karena campur tangan manusia sangat kecil. Untuk hutan rakyat jumlah pohon induk dapat lebih sedikit dari pada hutan alam karena di hutan rakyat campur tangan manusia sangat tinggi. Seperti halnya pada hutan alaminya antara individu dari spesies yang sama selalu ada jarak. Salah satu alasannya adalah kesempatan yang memungkinkan biji dapat berkecambah serta adanya tempat tumbuh yang cocok. Jarak tiap individu dikaitkan dengan masing-masing jenis sesuai dengan tipe buah dan sarana untuk memencarkan buah/bijinya (C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006).
Penunjukkan pohon induk tidak hanya terhadap jenis-jenis komersial padaa saat ini, namun terhadap semua jenis yang ada terutama jenis-jenis lokal/endemik. Setelah dilakukan penunjukkan terhadap pohon induk tersebut maka selanjutnya dilakukan kegiatan pemeliharaaan. Bentuk kegiatan pemeliharaan pohon induk dapat dilakukan sebagaimana pemeliharaan sumber benih pada umumnya meliputi (Leksono, 2003) : 
1. Pemeliharaan dilakukan untuk memacu pertumbuhan pohon, bunga dan buah serta menjaga kesehatan tegakan dari serangan hama dan penyakit. Pemeliharaan meliputi : penyiangan, pemupukan, penaggulangan hama penyakit serta stimulais pembungaan.
2. Penyiangan dilakukan secara teratur dengan membersihkan semak dan belukar untuk mengurangi persaingan hara dan air.
3. Pemupukan dilakuakn dengan pemberian pupuk sesuai dengan kebutuhan nutrisi bagi pohon dimana tumbuh. 
4. Stimulasi pembungaan jga dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti : pemberian hormon, pelukaan dan pemangkasan cabang.
5. Pengendalian hama dan penyakit harus dilakukan pada saat terjadi tanda-tanda serangan hama penyakit.
6. Pencegahan terhadap bahaya kebakaran. 

\
PENUTUP
Pembangunan hutan rakyat tidak hanya pada peningkatan produktivitas namun juga upaya konservasi pada tingkat populasi maupun tingkat jenis sehingga sumberdaya genetik hutan dapat terjaga. Karena pada dasarnya nilai ekonomi suatu jenis pohon yang pada saat ini belum diketahu dimungkinkan suatu saat dapat bernilai ekonomi tinggi. Aturan mengenai perlindungan terhadap kelestarian tersebut sebaiknya berasal dari pemerintah terutama pada tingkat desa karena yang lebih mengetahui mengenai potensi sumberdaya hutannya.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2007. Degradasi Sumberdaya Genetik Jenis Ramin dan Upaya Penyelamatannya. NewsLetter APFORGEN. Edisi 4 Tahun 2007. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor.

C.G.G.F. van Steenis, 1972 terjemahan J.A. Kartawinata, 2006. Flora Pegunungan Jawa. Puslit Biologi LIPI. Bogor. 

Sudarna, Anang. 2007. Membangun Kehutanan Jawa Barat Untuk Kemakmuran dan Penyangga Kehidupan. Makalah Disampaikan dalam Pekan Hutan Rakyat II Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Ciamis.

Hadiyan, Yayan. 2005. Sumber Benih Milik Masyarakat : Perlukah Kita Pikirkan?. Warta P3BPTH. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta. 

Hakim, lukman. 2006. Pembangunan Plot konservasi In-Situ Shorea penghasil Tengkawang Kerjasama Puslitbang Hutan Tanaman dan PT. Suka jawa Makmur, kalimantan Barat. Warta P3HT. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor. 

Jayusman & W.S. Manik. 2005. Pengujian Nilai Perkecambahan Surian Berdasarkan Daerah Sumber Benih. Wana Benih. Puslitbang Hutan Tanaman. Bogor. 

Kosasih, A., Syaffari & S. Bustomi. 2004. Ganitri. Elaecocarpus sphaericarpus Schum & E. Ganitri. Warta Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Puslitbang Hutan dan Konservasi Alam. Bogor.

Leksono, Budi. 2003. Teknik Penunjukan dan Pembangunan Sumber Benih. Informasi Teknis. Puslitbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan. Yogyakarta.

Mile, Y., A. Hani, E. Suhaendah dan B. Dendang. 2006. Laporan Penelitian Pengembangan Pengendalian Hama Penyakit Sengon. Tidak Dipublikasikan. Loka Litbang Hutan Monsoon. Ciamis.

Noerdjito, Mas, I. Maryanto, S.N. Prijono, E.B. Waluyo, R. Ubaidillah, Mumpuni, A.H. Tjakrawidjaja, R.M.Marwoto, Heryanto, W. A. Noerdjto, H. Wiriadinata. 2005. Kriteria Jenis Hayati Yang Harus Dilindungi Oleh dan Untuk Masyarakat Indonesia. Pusat Penelitian Biologi LIPI & World Agroforestry Centre-ICRAF. Bogor. 

Rachman, Encep, A. Hani, A. Sudomo, B. Dendang dan Rusdy. 2007. Teknik Inventarisasi Jenis Kayu  Pada Hutan Rakyat. Makalah Disampaikan pada Seminar Pekan Hutan Rakyat II. Balai Penelitian Kehutanan Ciamis. Tanggal 30-31 Oktober 2007. Ciamis.

T.W, Hardi Teguh. 2004. Hama dan Penyakit Tanaman jati. Buletin Surili. Volume 30. Halaman 67. Dinas Kehutanan Propinsi Jawa Barat. Bandung.



Read More

Wednesday, September 27, 2017

HUTAN RAKYAT YANG TERUS MERAKYAT

3:30:00 PM
Oleh:
Dian Diniyati
(Makalah ini telah di terbitkan pada Albasia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan, Ciamis)


ABSTRAK
Permintaan kayu rakyat yang semakin meningkat tidak berbanding lurus  dengan kesejahteraan petaninya, banyak hal yang menyebabkan kondisi ini terjadi, diantaranya yaitu tehnik budidaya yang dilakukan oleh petani merupakan teknologi warisan, pemanenan dan penjualan dilakukan karena adanya kebutuhan sehingga di isitilahkan dengan daur butuh. Hal ini tercermin dari alur pemasaran kayu rakyat sangat sederhana, akan tetapi keuntungan yang diperoleh petani sangat kecil dibandingkan lembaga-lembaga pemasaran lainnya. Dengan demikian nilai ekonomi yang dihasilkan dari hutan rakyat belum dapat dijadikan sebagai mata pencaharian utama bagi pemiliknya.

Kata kunci: kayu rakyat, kesejahteraan, petani.

I. PENDAHULUAN
Pembangunan hutan rakyat dewasa ini semakin berkembang, ini terbukti dengan banyaknya program pembangunan hutan rakyat yang melibatkan banyak pihak, seperti pembangunan hutan rakyat bekerja sama dengan Perum Perhutani, Kodim, pemerintah dll (Anonim, 8 November 2003). Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan kayu yang berasal dari hutan rakyat sangat signifikan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi kayu, seperti diketahui kebutuhan kayu untuk industri meubel dan kayu saat ini sekitar 4,5 juta meter kubik, sedangkan bahan baku yang tersedia hanya sekitar 2,5 juta meter kubik. ( Anonim,  16 Maret 2005).
Namun sayangnya hingar bingar tentang kayu rakyat ini belum dapat mendongkrak kesejahteraan petaninya, masih banyak petani yang belum dapat menikmati keuntungan dari hasil hutan rakyatnya.  Ini disebabkan karena petani umumnya berada pada posisi yang lemah, karena keterbatasan modal, teknologi, sumberdaya manusia dan informasi pasar tentang kayu rakyat, akhirnya keuntungan dinikmati oleh pihak lain, dan petani tetap berada pada pihak yang tidak diuntungkan. Dengan situasi yang demikian maka tidaklah heran kalau banyak hutan rakyat yang berubah fungsinya menjadi tanaman yang jauh lebih komersial, untuk mencegah hal ini terjadi maka perlu adanya kebijakan dari pemerintah yang mendukung posisi petani.  Tulisan ini tidak membahas tentang kebijakan yang bagaimana  dapat meningkatkan kesejahteraan petani hutan rakyat, akan tetapi memberikan gambaran tentang kondisi hutan rakyat  yang dikelola oleh rakyat dengan tujuan agar kebijakan yang akan dihasilkan nantinya benar-benar dibutuhkan oleh rakyat. 


II. KONDISI HUTAN RAKYAT
1. Budidaya  yang masih merakyat.
Budidaya hutan rakyat yang dilaksanakan masih dalam taraf sederhana yaitu  secara tradisional menurut teknologi yang diketahuinya secara turun temurun. Sehingga tidaklah mengherankan kalau hasilnya belum mencapai maksimal, ini terbukti dengan diameter dan umur tanaman hutan sangat bervariasi dan rendah. Kondisi ini terjadi karena petani melalukan perkembangbiakan tanaman kehutanan seperti : sengon, mahoni, afrika masih secara sederhana  dengan menggunakan  trubusan, bibit dan anakan. Perkembangbiakan tanaman ini biasanya berasal dari tanaman induk yang ada di lahannya, dimana tanaman induk ini tidak melewati seleksi kualitas, sehingga tanaman yang dihasilkannya pun tidak jelas kualitasnya. Seperti perkembangan biakan tanaman sengon yaitu melalui biji, yang berterbangan dari pohon induknya kemudian tumbuh menjadi bibit, selanjutnya karena seleksi alam akan menjadi tanaman sengon, adakalanya proses tersebut berlangsung secara natural tanpa adanya bantuan dari petani. Perkembanganbiakan tanaman sengon yang berasal dari biji yang dilakukan oleh petani seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini: 
Demiki juga dari segi penanaman tidak dilakukan serentak sehingga umur tanaman sangat bervariasi. Petani sangat jarang sekali melakukan perawatan baik itu pemupukan, penjarangan dan pemeliharaan lainnya, kalaupun tanaman akan dijarangkan yaitu tanaman yang sudah besar diameternya karena untuk dijual. Pola tanaman yang dilakukan umumnya adalah campuran: tanaman pangan, buah, obat dengan jenis tanaman lokal spesifik.  Selain itu jenis tanaman yang ditanaman sangat tergantung kepada informasi pasar yang diterima oleh petani, sehingga tidaklah heran apabila dalam satu hamparan terdapat beberapa jenis tanaman kayunya.

2. Pemanenan dan Penjualan yang dilakukan oleh Rakyat
Kegiatan pemanenan pada kayu rakyat diistilah dengan daur butuh, ini terjadi karena kayu-kayu tersebut diperlakukan oleh petani sebagai tabungan, yang dapat dipergunakan bilamana dibutuhkan dan  jarang sekali kayu rakyat dipanen karena  masa tebangnya.  Selain itu banyak juga kayu rakyat yang ditebang karena diserang hama penyakit, pada kondisi ini biasanya petani tidak merasa sayang terhadap tanamannya apabila terserang maka akan ditebang seluruhnya. Sistem penebangan yang biasa dilakukan oleh petani terbagi atas: (1). Sistem tebang habis, yaitu semua jenis dan diameter tanaman kayu ditebang habis. (2) Sistem seleksi, yaitu hanya tanaman yang berdiameter besar yang ditebang. Sedangkan sistem penjualannya yaitu: (1).  Petani yang melakukan penebangan kayu lalu diangkut ke pinggir jalan dan siap untuk dijual. (2). Pembeli yang melakukan penebangan terhadap kayu-kayu yang dijual. 
Sedangkan sistem pembayaran yang sering dilakukan diantaranya (1).  dibayar secara kontan, yaitu petani menjual kayunya dan langsung dibayar pada saat dilakukan transaksi; dan (2). Meminjam uang dahulu (dibayar terlebih dahulu), yaitu pembeli membayar terlebih dahulu kepada petani sedangkan kayunya belum ditebang.  Petani menjual hasil hutan rakyat kepada pedang yang ada di desa yang sudah dikenalnya, sehingga memudahkan untuk bertransaksi, adakalanya sistem penjualan yang dilakukan karena ada ikatan persaudaraan.

3. Pemasaran yang merakyat
Alur pemasaran kayu rakyat pada umumnya cukup sederhana yaitu dimulai dari tingkat petani sebagai produsen selanjutnya ditampung oleh pengepul tingkat desa yang kemudian dijual ke industri (meubel) dan terakhir yaitu konsumen. Dari hasil penelitian Achmad B di Kab Garut (2005) membuktikan bahwa margin keuntungan terbesar bukan dimiliki petani tetapi oleh pengepul, penggergajian dan industri (meubel).  Hasil kajian tsb mengindikasikan bahwa penerimaan margin keuntungan terbesar diperoleh industri (meubel) yakni antara 20 – 30 %, sedangkan petani hanya menerima 6 – 12 %. Selanjutnya, dari sistem tataniaga yang berjalan industri memperoleh bagian terbesar dari harga yakni 37.5 % untuk jati dan 57.33 % untuk sengon.  Dari alur pemasaran tersebut ternyata petani tidak mendapat keuntungan yang paling banyak dan ini tidak sebanding dengan waktu yang dikorbankan oleh petani, dimana untuk mendapatkan keuntungan tersebut petani harus menunggu 4 – 6 tahun sedangkan pengumpul dalam hitungan hari bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Dengan kondisi yang demikian maka perlu adanya intervensi dari pemerintah untuk memperbaiki alur pemasaran ini, yang dapat meningkatkan posisi petani sehingga sejajar dengan para pengepul.

4. Nilai ekonomi yang benar-benar rakyat
Pola tanaman hutan rakyat yang dilakukan oleh petani adalah pola campuran, dengan harapan perolehan hasilnya dapat disesuaikan dengan kebutuhan seperti pendapatan mingguan, bulanan dan tahunan.  Walaupun dengan kondisi yang demikian hasilnya  belum dapat dijadikan sebagai pendapatan yang utama bagi perekonomian keluarga petani. Dari beberapa hasil kajian Diniyati D, dkk (2003 dan 2004) diketahui kontribusi pendapatan hasil hutan rakyat untuk Kabupaten Cilacap di Desa Boja Rp. 273.400/bln (28,88%) dengan total pengeluarannya sebesar Rp. 550.530/bln., sedangkan di Desa Hanum sebesar Rp. 232.020/bln (39,91%) dengan total pengeluaran sebanyak Rp. 472.560/bln. Kontribusi ekonomi hasil hutan rakyat di Kabupaten Kuningan adalah sebagai berikut: di Desa Dukuh Dalam sebesar 37,0 % (Rp. 301.000) sisanya berasal dari sumber pendapatan lain sebesar 63% dengan total pengeluaran Rp. 599.035 dan di Desa Sukarasa sebesar 44 % (Rp. 163.700) dan sisanya berasal dari sumber pendapatan lain sebesar 56% dan total pengeluarannya Rp. 372.030. 
Walaupun sumbangan ekonomi dari kegiatan hutan rakyat cukup tinggi akan tetapi masih belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan petani.  Namun demikian kegiatan ini masih menjadi pilihan utama petani subsisten, karena kegiatan ini memiliki beberapa keuntungan diantaranya: dapat dijadikan sebagai tabungan yang sewaktu-waktu dapat dipergunakan jika diperlukan.

III. PENUTUP

Petani dan hutan rakyat dapat diibaratkan sebagai satu buah uang logam yang memiliki dua sisi berlainan, akan tetapi saling berhubungan dan membutuhkan sehingga uang logam tersebut bernilai. Demikian juga dengan kondisi petani dan hutan rakyat, kedua aspek tersebut saling berhubungan dan membutuhkan (simbiosis mutualisme). Apabila yang diperhatikan hanya sisi kesejahteraan petani maka kemungkinan besar lahan-lahan hutan rakyat yang ada akan lambat laut menjadi punah dan sebaliknya jika yang diperhatikan hanya perkembangan hutan rakyat maka pemiliknya (rakyat) akan merana. Untuk itulah biar selaras maka perhatian harus ditujukan kepada dua sisi tersebut, diharapkan kesejahteraan rakyat dapat tercapai dan hutan rakyat tetap hijau.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.  2003.  Bukti TNI Peduli Terhadap Penghijauan.  Kodam Dirikan PT. BSL Garap Pohon Albasia.  Harian Pikiran Rakyat. Tanggal 8 November 2003. 

Anonim.  2005.  Pemerintah Harus Beri Insentif Hutan Rakyat.  Harian Kompas, tanggal 16 Maret 2005, Hlm. 13.  PT Kompas Media Nusantara.  Jakarta. 

Achmad Budiman.  2006.  Adakah Perda yang berpihak pada petani ?.  Belum diterbitkan.

Diniyati D, Srie Ely Yuliani dan Budiman Achmad.  2003.  Pola Tanam Hutan Rakyat Di Desa Dukuh Dalam, Kecamatan Japara, kuningan.  Hlm 133-145.  Prosiding Ekspose Terpadu hasil penelitian.  Menuju Pembangunan Hutan Tanaman Produkivitas Tinggi dan Ramah lingkungan.  Departemen Kehutanan Badan Penelitian Dan Pengembangan Kahutanan.  Yogyakarta. 

Diniyati D, Sri Eli Yuliani, Tjetjep Sutisna, Anas Badrunasar dan Suyarno.  2004.  Kajian Sosial Ekonomi Hutan Rakyat Di Jawa (Lanjutan).  Laporan Akhir Hasil Penelitian.  Loka Penelitian dan Pengembangan Hutan Monsoon.  Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan.  Departemen Kehutanan.  Belum diterbitkan.


Read More

Monday, September 25, 2017

Si “BAU MISTIS“ KEMENYAN : SEBAGAI TANAMAN ALTERNATIF DALAM PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI JAWA

8:46:00 AM
Oleh :
Anas Badrunasar
(Makalah ini telah di terbitkan pada Al basia Volume 4 No. 1 Desember 2007, Balai Penelitian Kehutanan Ciamis)

ABSTRAK

Kemenyan merupakan hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang berasal dari proses patogenis pada kegiatan penyadapan pohon dari keluarga  Styracaceae. Getah kemenyan sudah dimanfaatkan sejak abad ke 18 untuk keperluan kegiatan ritual keagamaan. Dalam perkembangannya ekstrasi dari getah kemenyai dapat juga dimanfaatkan untuk kegunaan lain, seperti untuk obat-obatan, bahan pengawet makanan, parfum, dan lain-lain. Kayu dari pohon kemenyan yang sudah tidak produktif lagi dapat juga dimanfaatkan sebagai bahan mebel maupun konstruksi bangunan. Pohon kemenyan ini dapat juga dimasukkan sebagai salah satu jenis tanaman konservasi di tanah masyarakat yang merupakan hutan hak yang terletak di daerah penyangga, karena produk utamanya bukan kayu tapi HHBK nya.

Kata kunci : Si bau mistik, keluarga Styracaceae, patogenis

I.  LATAR BELAKANG

Penanaman pohon kayu-kayuan ditanah milik oleh masyarakat merupakan penomena yang menarik karena jangka waktu yang diperlukan sampai memperoleh hasil terhitung lama dengan resiko kegagalan sangat besar namun tidak menyurutkan petani untuk menanam pohon kayu-kayuan ditanah miliknya. Di berbagai daerah terdapat sentra-sentra hutan rakyat yang spesifik, seperti kulit manis (Cinnamomum sp.) di Kerinci Jambi, kemenyan (Styrax spp.) di Sumatera Utara, damar mata kucing (Shorea spp) di Krui Lampung (Anonim, 2006) dan tanaman Mangrove di Sinjai Sulawesi selatan. Sentra-sentra hutan rakyat tersebut produk utamanya adalah berupa hasil hutan bukan kayu (HHBK), seperti kulit (Cinnamomum sp.), getah (Styrax spp. dan Shorea spp.) dan juga berfungsi sebagai penahan angin (wind-break), abrasi seperti tanaman mangrove. 
Kemenyan adalah termasuk HHBK dari hutan rakyat yang tidak kalah pentingnya sejak jaman dahulu kala dan banyak beredar di Pulau Jawa sejak abad ke 18 (Prosea, 2001). Menurut catatan Korders dan Valeton (1894-1914) dalam Heyne (1987) kemenyan pernah ditemukan juga di Pulau Jawa, tepatnya di daerah Banten (Provinsi Banten), tumbuh pada ketinggian 200-300 m dari permukaan laut walau jarang ditemukan. Umumnya kemenyan tumbuh di Pulau Sumatera, yaitu di daerah Palembang dan Tapanuli (Sumatera Utara).
Berdasarkan catatan sejarah tersebut maka tujuan dari tulisan ini memberikan alternatif mengenai kemungkinan tanaman kemenyan dapat ditanam secara massal di tanah milik rakyat di Pulau Jawa. Hal ini dimungkinkan karena tanaman kemenyan dapat tumbuh hampir disetiap assosiasi  jenis tanah. Terlebih lagi, nilai yang dihasilkan cukup menjanjikan, baik dari segi finansial maupun nilai jasa lingkungan, karena produk utamanya bukan kayu tapi getahnya.

II.  KEMENYAN YANG BEREDAR DI INDONESIA
Di Indonesia telah teridentifikasi paling tidak ada 3 jenis kemenyan asli, yaitu kemenyan bulu (Styrax benzoine var hiliferum), durame (Styrax benzoin Dryan) dan toba (Styrax sumatrana JJSM atau Styrax paralleloerum Perk). Ketiga jenis kemenyan ini tumbuh secara alami di sepanjang Bukit Barisan mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara sampai dengan Lampung. Dua jenis kemenyan yang disebut terakhir adalah kemenyan yang sudah dikenal di pasaran. Propinsi Sumatera Utara merupakan sentra produksi kemenyan sekaligus daerah penyebaran tertinggi dan terluas dalam pengelolaan kedua jenis kemenyan tersebut (Sasmuko, 2001). Budidaya kemenyan di Sumatera Utara khususnya di Tapanuli sudah cukup lama berlangsung, yaitu sekitar tahun 1800 an (Waluyo, dkk., 2001).
Hampir 100 % kemenyan yang beredar di Pulau Jawa di pasok dari Pulau Sumatera, 80% diantaranya di pasok oleh Sumatera Utara, khususnya dari daerah Tapanuli (Sasmuko, 2001). Di Pulau Jawa getah kemenyan tersebut beredar dipasaran, khususnya pasar-pasar tradisional sudah dalam bentuk bongkahan berbentuk dadu, ataupun serbuk dalam kemasan. Produk ini biasa dijumpai ditukang “rampe” (jual bunga-bungaan khusus untuk ziarah kuburan atau acara ritual lainnya). 

III. MANFAAT KEMENYAN
Selama ini masyarakat hanya mengetahui bahwa kemenyan penggunaannya  sebatas hanya untuk kegiatan ritual, praktek perdukunan atau kegiatan lainnya yang berbau mistis, padahal berdasarkan penelitian getah kemenyan itu mengandung senyawa yang disebut dengan benzoin. Selain itu ekstraksi kemenyan menghasilkan juga asam sinamat tidak kurang dari 36,5%.  Senyawa ini merupakan bahan baku utama industri parfum, farmasi dan kosmetika. Dengan kehadiran asam sinamat dalam parfum dapat membuat aroma asli dari parfum tersebut lebih tahan lama, lembut dan tidak berisiko terhadap kesehatan (Jayusman,1998 dan Sasmuko, 2001). Bahkan turunan lainnya seperti asam benzoin merupakan bahan pengawet untuk makanan. Di daerah Jawa Tengah (Banyumas dan sekitarnya) kemenyan merupakan bahan racikan tembakau yang dimasukkan kedalam rokok kelembak sebagai penambah aroma yang khas.
Di negeri ini juga ada kearifan tradisonal yang memanfaatkan bagian pohon maupun getah pohon kemenyan sebagai ramuan obat tradisional secara tunggal maupun campuran berbagai jenis tumbuhan lainnya, seperti etnis suku anak dalam atau yang lebih dikenal orang rimbo di Jambi, memanfaatkan getah kemenyan sebagai obat untuk cacingan pada anaknya. Demikian halnya pada etnis Bolaanmongondow Gorontolo memanfatkan daun kemenyan sebagai obat berak darah (Harini, dkk. 2000) 
Beberapa industri farmasi nasional secara khusus menggunakan kemenyan asal Sumatera dan Laos dalam larutan obat untuk mengurangi rasa sakit radang selaput lendir di dalam hidung, radang tenggorokan, radang cabang tenggorokan (bronchitis), sesak napas (asma), mengobati kutil (dalam bentuk balsam, salep), menjaga kelembaban kulit agar tidak kering dan mengobati alergi pada kulit, bahkan di daerah Barat digunakan juga sebagai bahan aroma terapi (Prosea, 1999)
Berdasarkan hasil penelitian Waluyo, dkk (2001) selain getah, kayunya juga memungkinkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan konstruksi bangunan maupun furniture. Kayu kemenyan dari pohon yang disadap mempunyai corak dekoratif tinggi yang ditimbulkan oleh kegiatan penyadapan. Di Vietnam kemenyan (Styrax torkinensis) dikembangkan untuk program reboisasi dan kayunya sebagai bahan baku industri pulp (Pinyopusarerk. 1994 dalam Jayusman 1998). Lebih lanjut dalam buku Prosea dijelaskan bahwa kayu S. torkinensis dimanfaatkan juga sebagai bahan baku industri  korek api dan sumber bahan baku bangunan karena tahan terhadap serangga.

IV. PENYEBARAN TEMPAT TUMBUH
Pohon kemenyan menyebar pada berbagai negara meliputi Malaysia, Thailand, Indonesia dan Laos. Jenis ini menyebar pada elevasi 60 – 1200 m dpl. Pohon kemenyan tidak memerlukan persyaratan yang istimewa terhadap jenis tanah dan mampu tumbuh pada Andosol, Podsolik, Latosol, Regosol dan berbagai asosiasi jenis tanah mulai tanah betekstur berat sampai ringan, serta tanah subur hingga kurang subur. Secara umum pohon kemenyan menghendaki tanah yang memiliki kesuburan yang baik. Pohon kemenyan tidak tahan terhadap genangan air, sehingga untuk pertumbuhannya membutuhkan tanah yang porositasnya tinggi (mudah meneruskan/meresapkan air). Tumbuh baik pada solum tanah yang dalam dengan pH tanah berkisar 4-7, menghendaki bulan basah tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B (Schmidt & Ferguson).
Pohon kemenyan dapat mencapai tinggi 40 m dan diameter 100 cm (Waluyo, dkk, 2001). Batang lurus dengan percabangan sedikit, dengan warna kulit merah anggur. Daun kemenyan awal bulat hingga bulat memanjang (ellips). Buah berbentuk bulat gepeng dan lonjong, diameter buah berukuran 2,5-3 cm dan diameter biji berukuran 15-21,5 cm. Rupa daun, bunga dan buah kemenyan disajikan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Rupa daun, bunga dan buah kemenyan (Sumber : Indonesian Heritage, 2002)

Di Palembang pohon kemenyan terdapat diberbagai tipe tapak hutan mulai dari hulu dan hilir sungai Musi hingga pada ketinggian ± 200 m dari permukaan laut. Sementara untuk budidaya kemenyan itu sendiri yang ideal hanya pada dataran tinggi dengan tanah berpasir, ditanah berlempung bisa tumbuh tapi pertumbuhannya tidak optimal. Jenis kemenyan yang tumbuh paling dominan di Palembang adalah kemenyan durame (Styrax benzoin Dryan).
Pada waktu itu petani Palembang sudah mengenal pola bercocok tanam secara tumpangsari. Penanaman kemenyan dilakukan bersamaan dengan penanaman padi gogo (huma). Ada dua pola penanaman kemenyan, yang pertama biji kemenyan yang sudah dipisahkah dari kulitnya ditugal (ditanam) sebelum padi, hal ini mengingat awal pertumbuhan kemenyan memerlukan naungan dan untuk itu tanaman padilah yang mengambil peran sebagai naungan.  Pola tanam kedua ketika padi berumur 1-2 bulan baru kemenyan ditanam. Pada pola tanam kedua ini biji disemaikan terlebih dahulu dipersemaian. Jarak tanam yang digunakan 3 x 4 m.
Pola bercocok tanam padi hanya berlangsung satu kali, sehingga setelah padi dipanen, maka fungsi naungan digantikan oleh semak-belukar atau bahkan alang-alang yang tumbuh dengan cepat. Karena tidak ada pemeliharaan lanjutan yang intensif maka pertumbuhan diserahkan pada alam, jadi wajar kalau tinggkat keberhasilannya kecil.
Lain Palembang lain Tapanuli. Di daerah Tapanuli kemenyan tidak ditemukan tumbuh di bawah 300 m dari permukaan laut, kalaupun tumbuh maka tidak akan menghasilkan getah. Pohon kemenyan yang pertumbuhannya bagus dengan produksi getah yang banyak tumbuh antara 600 – 1000 m dari permukaan laut, itu yang banyak ditemukan di daerah Tapanuli, seperti daerah Silindung, Naipospos, dataran tinggi Toba sebelah Utara.
Budidaya kemenyan di daerah Tapanuli memang merupakan tujuan utama,  maka persiapan lahannya betul-betul diperhatikan, petani biasanya memilih tapak yang memang masih ada hutannya (hutan sekunder). Hutan sekuder tersebut kemudian dibabat sampai bersih. Pertama kali yang ditanam adalah  tebu dan ubi jalar dan setelah itu seluruh areal ditanami padi. Sementara itu biji kemenyan sudah dipersiapkan hasil pungutan dari pohon kemenyan yang tumbuh disekitar areal yang akan digarap. Biasanya biji kemenyan sebelum ditanam direndam dulu dengan air panas sampai dingin, setelah itu di tabur di persemaian. Bibit kemenyan yang sudah berumur 6-12 bulan sudah siap tanam di lapangan. Kadang petani menanam langsung biji tersebut  di lahan yang sudah dipersiapkan dengan jarak tanam 2 x 2 m dan sebagai tanda maka pemasangan ajir dilakukan. Setelah panen padi huma maka tampaklah anakan kemenyan, yang mati biasanya dilakukan penyulaman dengan bibit yang berasal dari persemaian. Jika lahannya subur maka selain jagung dan ubi jalar tahun berikutnya penanaman padi dilakukan. Setelah panen kedua anakan kemenyan sudah mencapai tinggi antara 50 – 180 cm. Setiap dua tahun sekali petani mengadakan perawatan berupa pembebasan dari pohon atau semak yang terlalu menaungi tanaman kemenyan. Pada umur 5 tahun tanaman kemenyan tersebut sudah mencapai tinggi 10 m dengan diameter setinggi dada (130 cm) sebesar 12 cm.

Agar pertumbuhannya optimum, maka penanaman kemenyan sebaiknya dilakukan pada ketinggian diatas 600 m dpl., pH tanah berkisar antara 4-7, bulan basah tersebar merata sepanjang tahun dengan tipe curah hujan A-B menurut klasifikasi Schmidt dan Ferguson. Lahan milik rakyat yang berada diketinggian dan persyaratan tersebut banyak tersebar di Pulau Jawa dan pada umumnya berbatasan langsung dengan kawasan hutan, seperti daerah penyangga Suaka Marga Satwa Gunung Sawal di Ciamis, Gunung Papandayan di Garut, Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (Sukabumi, Bogor dan Banten), Taman Nasional Gunung Pangrango (Cianjur, Sukabumi dan Bogor), Dieng (Wonosobo), Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (Jawa Timur), Taman Nasional Merapi-Merbabu (Daerah Istimewa Yogyakarta).

V. TEKNIK SILVIKULTUR DAN NILAI EKONOMI
Teknik silvikultur tanaman kemenyan hampir sama dengan tanaman kehutanan lainnya, berikut ini cara penyemaian tanaman kemenyan yang telah dilakukan oleh Balai Penelitian Kehutanan Sumatera (Jayusman, dkk. 2006)

A. Perkecambahan
1. Seleksi benih
Dilakukan dengan terlebih dahulu merendam dalam air dingin, benih yang terapung dibuang. Benih kemenyan memiliki karakter dormansi benih (2-3 bulan). Pengaruh kulit biji yang keras menjadi pembatas dalam kecepatan perkecambahan sehingga memerlukan praperlakuan awal benih sebelum disemai. Teknik skarifikasi dengan menipiskan sebagian kulit benih (dikikir-diamplas dengan batu asahan) maupun stratifikasi dengan perendaman dan pemanasan benih pada berbagai suhu tertentu dapat memecahkan dormansi benih. Kombinasi stratifikasi dan skarifikasi di atas mampu menghasilkan persen kecambah 50-75%.
2. Tahapan perkecambahan
a. Menyiapkan bedeng semai atau bak kecambah dengan media pasir halus setebal 25-30 cm. Sebelum digunakan media disterilisasi dengan fungisida Benlate 2 gram/liter. 
b. Benih hasil seleksi diskarifikasi cara di atas dan strafikasi dengan perendaman air panas (100˚C) hingga dingin dan dilanjutkan perendaman air dingin selama 24 jam
c. Benih disemai sedalam 2-3 cm dengan jarak 5 x 5 cm, didalam media kecambah kemudian ditimbun dengan pasir halus 1-2 cm. 
Cara lain benih disemai langsung kedalam polybag yang telah diisi media campuran tanah dan kompos (7:3). Bak kecambah dan polybag tersebut diletakkan di bawah naungan yang sebelumnya telah disiapkan. Lakukan penyiraman 2 kali sehari (pagi-sore) dan proteksi hama penyakit dengan penyemprotan insektisida dan fungisida sekali dalam seminggu. Benih berkecambah pada minggu ketiga setelah penyemaian.

B. Penyiapan Lahan
1. Lahan bervegetasi dibabat secara jalur. Jika menggunakan pola tanam monokultur dengan jarak tanam 4m (antar jalur) x 3 m (dalam jalur), maka dibutuhkan 833 bibit kemenyan/ha. Pada pola tanam campuran, tanaman kemenyan dapat dikombinasikan dengan kopi, kulit manis dan beberapa jenis buah-buahan, sehingga kerapatannya harus disesuaikan.
2.. Pada lokasi terbuka sebaiknya prakondisi dengan didahului penanaman pohon naungan seperti jenis kaliandra atau berbagai jenis cepat tumbuh lainnya.
3.. Tanah diolah secara cemplongan dengan membuat lubang tanam (berukuran lebar 40 cm x panjang 40 cm x kedalaman 50 cm) dan penggemburan tanah disekitar lubang tanam.
4.. Pemberian pupuk kandang/kompos 1-2 kg setiap lubang tanam. Jika pH terlalu masam tambahkan kapur dolomit 100 gram/lubang tanam.
5.. Untuk tanah yang kurang subur dapat ditambahkan pupuk NPK 20 gram/lubang tanam. Penyiapan lubang tanam dan pemberian  pupuk maupun dolomit tersebut diberikan 2-3 minggu sebelum tanam.

C. Penanaman dan Pemeliharaan

Plastik polybag dipisahkan dari media secara hati-hati agar media tidak pecah. Selanjutnya bibit dimasukkan ke dalam lubang tanam dengan pangkal batangnya sejajar permukaan tanah. Tekan secara perlahan tanah timbunan agar bibit dapat berdiri tegak dan kuat.
1. Pemeliharaan tanaman tahun pertama
a. Pembersihan tumbuhan bawah (gulma alang-alang, rumput), mencabut dan membuang serta membakar tanaman yang sakit maupun yang tumbuh terlalu kerdil dan merana).
b. Pendangiran-penggemburan serta pembumbunan tanah di sekitar lubang tanam (0.5-1 meter disekeliling batang tanaman).
c. Untuk mendapatkan keseragaman pertumbuhan maka penyulaman tanaman mati maupun tanaman yang merana pertumbuhannya karena hama-penyakit maupun sebab lain maka harus dilakukan dengan menanam bibit dengan kriteria dan umur yang sama dengan bibit yang telah ditanam.
d. Apabila terdapat indikasi serangan hama ulat daun maupun ulat penggerek batang maka dilakukan pengendalian dengan pestisida Thiodan 2,5%. Untuk serangan jamur atau cendawan maka dilakukan pengendalian dengan fungisida Benlate 2% atau disesuaikan dosis anjuran. Untuk pengendalian skala kecil akibat serangan hama penyakit tertentu dapat dilakukan dengan memotong dan membuang bagian tanaman (cabang, ranting atau daun yang terserang). Pengendalian secara preventif sangat dianjurkan.
e. Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik sebaiknya dilakukan pemupukan NPK 150 gram/lubang tanam serta penambahan pupuk kandang 1-2 kg/lubang tanam yang pemberiannya disesuaikan jadwal waktu penggemburan-pembumbunan tanaman.

2. Pemeliharaan lanjutan
a. Penyiangan gulma, penggemburan-pembumbunan, proteksi hama dan penyakit dilakukan sebagaimana pemeliharaan pertama
b. Pemupukan lanjutan dosisnya dapat ditingkatkan. Idealnya pemupukan harus disesuaikan dengan kondisi penampakan tanaman di lapangan dan hasil analisis tanah sebelum penanaman. Pemupukan tanaman dewasa dilakukan dengan membuat parit selebar mata cangkul disekeliling tajuk tanaman, pupuk diberikan merata dan ditimbun ulang dengan tanah.
c. Pemberantasan gulma benalu harus rutin dilakukan untuk menghindari kerusakan pohon kemenyan di lapangan.
d. Pengaturan naungan dilakukan bertahap, sehingga tajuk tanaman dewasa optimal mendapatkan cahaya penuh sedangkan bagian batang kemenyan relatif lebih sedikit.

D. Penyadapan dan Pemanenan Getah
Pohon kemenyan sudah bisa disadap pada umur 7 Tahun dan dalam satu tahun bisa dilakukan penyadapan 1 sampai 2 kali, yaitu di bulan Juni sampai September, menurut pengalaman petani kemenyan di Tapanuli (Sumatera Utara) ciri-ciri pohon kemenyan yang sudah siap disadap adalah ketika mencukil kulit batangnya akan terbuka dengan mudah dan sebaliknya. Hal ini diduga berkaitan erat dengan musim berbuah dari pohon kemenyan. Proses penyadapan dan pemanenan getah sebagai berikut :

1. Penggurisan
Sebelum dilakukan penyadapan kulit batang pohon dibersihkan dari kotoran lumut atau kulit tua yang mengelupas menggunakan pisau khusus yang dinamakan pengguris (Tapanuli).

2. Pencungkilan Kulit
Pembuatan takik sadap tidak sama seperti pada kegiatan penyadapan Pinus, Damar Mata Kucing ataupun Karet, maka pada kegiatan penyadapan kemenyan disebutnya ”pencungkilan kulit”. Hal ini didasarkan pada proses terbentuknya ”getah kemenyan” bukan pada jaringan kayu (Xylem) melainkan antara kulit dan xylem. Kegiatan pencungkilan ini menggunakan ”panukul” (pisau mirip obeng). Ukuran kulit yang dicungkil lebar 2 cm dan panjang 2-4 cm. Setelah kulit terkuak kemudian ditutupkan kembali dengan cara dipukul-pukul menggunakan panukul.

3. Pemanenan Getah.
Dalam satu kali musim penyadapan dapat dilakukan minimal 2 kali pemanenan getah. Getah sudah dapat dipanen setelah 3 bulan dari pencungkilan kulit dengan cara mengerat (mencungkil) kulit dari batang pohon. Getah hasil proses patogenis ini berada dibagian dalam kulit berbentuk lempengan berwarna putih. Proses terbentuknya getah yang tidak terekspos ke udara (di balik kulit) ini akan menghasilkan getah kemenyan kualitas I (komoditi ekspor). Menurut laporan Edison dkk. (1983) dalam Totok Kartono Waluyo, dkk. (2006) kemenyan seperti itu di eksport ke Prancis, Taiwan, Jepang dan Singapura. Pemanenan berikutnya dilakukan 3 bulan setelah pemanenan pertama, yaitu mengumpulan sisa-sisa getah yang meleleh sepanjang batang pohon ataupun dibekas kowakan yang telah diambil getahnya 3 bulan sebelumnya. Tentunya kemenyan yang dihasilkan dari pemanenan kedua ini kualitasnya lebih rendah dari kemenyan pemanenan pertama, karena baik besaran lempengan maupun warnanya sudah berubah karena terjadi interaksi dengan udara bebas. Untuk lebih jelasnya mengenai kualitas, karakteristik dan harga kemenyan ditingkat eksportir di Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel berikut:


VI. PENUTUP

1. Kemenyan ternyata penggunaannya tidak hanya sebatas untuk kegiatan ritual keagamaan, perdukunan  atau  yang berbau mistis lainnya, tapi juga bisa untuk kepentingan yang lebih luas lagi seperti untuk bahan baku obat-obatan, bahan pengawet makanan sampai untuk bahan kosmetika dan harganya cukup menjanjikan.
 2. Melihat nilai ekonomi yang dihasilkan dan kesesuaian tempat tumbuh, kemenyan bisa dijadikan sebagai salah satu tanaman alternatif pengembangan hutan rakyat di Pulau Jawa.
3. Mengingat banyaknya lokasi hutan rakyat, tanaman kemenyan sesuai untuk ditanam di daerah penyangga yang merupakan daerah tangkapan air, maka tanaman ini selain dapat berfungsi sebagai tanaman produksi hutan rakyat yang lestari sekaligus juga sebagai tanaman konservasi.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2006. Mata Kucing yang Diekspor. Forest Culture. Vol. 1. Nomor 3. Oktober 2006.

Anonim, 2002. Indonesian Heritage. Tetumbuhan. p. 70-71

Hoesen DSH. 2001. PROSEA. Plant Resources of South-East Asia 18. Plants Producing Exudates. P. 113-119.

Jayusman, 2006. Peran Media Dasar dan Konsentrasi Hormon Pertumbuhan Terhadap Induksi dan Multiplikasi Tunas Pucuk Kemenyan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman. Vol.3. No. 1. Maret 2006 p.1-10. 

Jayusman, S. Hidayat. dan IGN.O. Suparta. 2006. Mengenal dan Membudidayakan Pohon Kemenyan (Styrax  spp.). Leaflet Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Sumatera.

Sangat.MH, EAM. Zuhud dan EK. Damayanti. 2000. Kamus Penyakit dan Tumbuhan Obat Indonesia (Etnofitomedika). Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Waluyo TK., A. Badrunasar dan Nuryana. 2001. Kemungkinan Pemanfaatan Kayu Kemenyan Sadapan. Prosiding Optimalisasi Nilai Sumberdaya Hutan untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat.

Waluyo TK., P.Hastoeti dan T. Prihatingsih,2006. Karakteristik Dan Sifat Fisiko-Kimia Berbagai Kualitas Kemenyan di Sumatera Utara. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. Vol 24 No. 1, Februari 2006.

Read More

Post Top Ad

Your Ad Spot